Jumat, 14 November 2014

Pesan Terakhir Seorang Pendaki

(Catatan ini saya buat, sebelum saya mengetahui Soundtrack lagu di film Gie, karya Erros SO7)

Katakan Pada Orang Tuaku, aku akan pulang agak terlambat. Karena Jiwaku amat merindukan Sentuhan Rimba, Kesunyian dan mengharapkan sebuah kebanggaan dalam diri. Jika aku tak jua kembali, katakan pada mereka, bahwa aku sangat menyayangi mereka, sungguh tak ingin jauh dari dekap dan pelukkannya. Pinta untuk tersenyum menyambut pesanku, karena aku pergi di atas jalanku, jalan yang telah aku pilih.
Katakan Pada Dunia, bahwa Alam mulai menghentak, memberontak, meminta pertanggung jawaban atas ulah Manusia. Katakan bahwa sebenarnya Alam sangat bersahabat sebagaimana yang kau lihat, kau rasa dan kau alami, sangat ramah akan adanya Manusia di Semesta. Jangan hanya menikmati, tapi tak mau mengobati. Jadilah Pecinta Sejati, maka Semesta akan berikan apapun yang kau pinta dan kau harapkan, akan sajikan lebih banyak manfaat untukmu.
Seorang Pendaki Sejati yang s'lalu merindukan Belantara untuk mencari Jati Dirinya, bukan untuk menaklukkan atau di taklukkan Alam Semesta, melainkan untuk mengalahkan Ego, Emosi dan Dirinya Sendiri. Alam hanyalah tempat yang mengandung banyak arti, tantangan Jiwa, Pelajaran, Cerita, Kesedihan, Kesenangan, Kesulitan, Kemudahan, Kasih Sayang, Menjaga, Melindungi, Perjuangan, Persahabatan, Kebersamaan, Saling Menghargai, Kepedulian, Kesadaran, Kesetiaan, Ketulusan, Kesabaran, Keakraban, Persaudaraan, Kedewasaan, Kekuatan, Kelemahan, Jati Diri dan semua Tentang Kehidupan dengan Makhluk Hidup.

Antara Berhalanya FPI dan Tuhannya Tionghoa

Waktu itu saya sedang bertugas di daerah Sleman, DIY. Mengevakuasi warga desa yang tertinggal, dari bahaya awan panas dan debu vulkanik. Maklumlah, kita tahu serutin apa Gn. Merapi memuntahkan isi perutnya. Pagi itu ketika bangun tidur, sekitar pukul 09.00. Saya di bangunkan oleh bising rolling door yang bergeser dan gemuruh suara mesin truk. Bantuan logistik yang ke sekian kalinya datang, terlihat 3 truk berjejer terparkir di bahu jalan.

Tanpa di komando dan mengetahui berasal dari mana bantuan itu, saya dan beberapa teman lain langsung menaiki truk dan membuka terpal yang menutupinya. Dengan cepat menurunkan berbagai logistik yang ada di atas truk. Mulai dari selimut, pakaian dan tikar, hingga gula, beras, mie dan logistik lainnya. Bahkan juga ada pampers, pembalut dan pakaian dalam.

Setelah semua bantuan di turunkan untuk di hitung dan di masukkan ke dalam pendataan guna memudahkan pendistribusian ke posko-posko nantinya. Beberapa logistik seperti beras dan gula di kemas ke dalam plastik-plastik berukuran kiloan agar memudahkan saat di bagikan. Ya kami mulai menjalankan tugas masing-masing, saya yang saat itu bertugas sebagai tim distribusi pun mulai menyiapkan barang-barang yang akan di drop ke posko bencana sore nanti.

Saat saya menaikkan kembali barang-barang ke dalam truk dan melintasi sisi kanan dan depan mobil. Ada sebuah banner/spanduk yang membuat saya agak terkejut. Spanduk itu bertuliskan "Bantuan Bencana Tionghoa Indonesia".  Saat itu berbagai alibi dan rasa kagum saya memutar di kepala. Memang tak terlalu aneh bagi saya memahai Kuatnya Toleransi beragama dan Kemanusiaan di Indonesia.

Hanya saja, saat ini ketika ormas-ormas Islam yang mengaku paling beragama ini tidak malu melakukan diskriminasi dan intimidasi atas nama Agama. Saya seolah terbakar dan menjadi korban dari sikap anarkis ormas ini. Saya mulai muak, bahkan rasanya ingin berontak dan teriak.

"KALIAN HARUSNYA MALU!!! KARENA KALIAN HANYA BISA BICARA TENTANG TUHAN DAN MEMBERHALAKAN AGAMA KALIAN, SEMENTARA RAS ATAU KEAGAMAAN ORANG YANG BERSANGKUTAN ITU, SEOLAH-OLAH BERSAKSI DI HADAPAN BERHALANYA. BAHWA TUHAN MENCINTAI SEBUAH KEBAIKKAN..!!"

Between The FPI Idols and The Tionghoa God.

At that time I was on duty in Sleman, Yogyakarta. Evacuating villagers who have not been in the evacuation, of the dangers of hot clouds and volcanic ash. It's known, what we know as routine The Mt.Merapi spewing his guts. That morning when I woke up, around 09.00. I was awakened by a noise in the rolling door shifted and the roar of the truck engine. Logistical support for the umpteen time to come, looks 3 trucks lined up parked on the shoulder of the road.

Without the command and know where it comes from such assistance, me and some other friends straight up the truck and opened the tarp covering it. Rapidly degrade various existing logistics on the truck. There are blankets, clothing and mats, until sugar, rice, noodles and other logistics. In fact, there are also diapers, sanitary napkins and underwear.

After all the stuff that was sent down for the count, and in order to enter into the data collection to facilitate distribution of posts later. Some logistics such as rice and sugar packed into plastics in order to make it easier when distributed. We carry out each task, I then served as the team began to prepare the distribution of goods to be distributed to the post disaster this afternoon.

When I raise the return of goods into the truck and crossed the right side and front of the car. There is a banner which makes me a bit surprised. The banner reads "RELIEF DISASTER FROM TIONGHOA INDONESIA". When the various alibi and admiration I twisted in the head. It's not too strange for me to understand the very strength tolerance of religious and humanity in Indonesia.

Only, this time when the Islamic organizations who claim to have no shame most religious discrimination and intimidation in the name of religion. I seemed on fire and became a victim of this mass anarchist attitude. I'm getting sick, I felt even want to rebel and cried.

"YOU SHOULD BE ASHAMED !!! BECAUSE YOU JUST CAN TALK ABOUT GOD AND MAKING RELIGION AS AN IDOLS, WHILE THEIR RACIAL AND RELIGION IS YOU TAUNT, AS IF TESTIFY IN FRONT OF THEIR IDOLS. THAT GOD LOVES A GOODNESS.. !!"