Tampilkan postingan dengan label Pendaki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendaki. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Mei 2015

Mengenali Batas

Nampaknya setiap dari kita sudah jauh berjalan, melaju, meluncur bahkan sedemikian hebatnya kita berkembang melampaui potensi diri kita yg dahulu kita kenal sebagai seorang yg sama-sama belajar menjadi petualang. Menjelajahi mahligai hayati yg begitu kompleks dengan berbagai pemikiran(analisa dan pengamatan non-formal), perenungan atau yg sering kita sebut dengan pengkajian.

Betapa dahulu kita selalu bergelut dgn dinamika emosional yg terjadi lantaran sedikit sentuhan dari satu sama lain yg menimbulkan efek denyut di kepala, ya..! Terlepas dalam topik apapun itu, kita pernah mengalami dan melaluinya. Dan beginilah kita.

Analoginya seperti sebuah lintasan hutan yg sering di pijak oleh kaki para pendaki untuk dapat mencapai puncak. Semakin sering siklus lalu lalang, maka semakin jelas jejak-jejak yg tertinggal. Bahkan secara tidak sadar langkah para pendaki itu menciptakan batas-batas antara jalur menuju puncak dengan sedemikian luas membentang hamparan hutan, aliran sungai, deruan air terjun, curamnya jurang, gelapnya gua dan sunyinya lembah sepi yg penuh misteri. Kita terhanyut dalam langkah dan jejak-jejak tersebut hingga kita hanya terpaku pada satu ruang pandang, bahwa puncak adalah keindahan sejati.

Mungkin sebagian dari kita tidak menyadari ini, namun harusnya dalam setiap perjalanan kita selalu dapat meraih pelajaran yg tersingkap di dalamnya. Ya, begitu bersemangatnya kita dan tenggelam dalam khayalan betapa indahnya pemandang sejati di puncak tertinggi. Terlepas dari berbagai motivasi dan inovasi apapun yg berada di dalam hasrat dan naluri pencapaian itu. Aku hendak bertanya kepada kita, kepada diri-diri kami, kepada jiwa muda-mudi, kepada setiap hati yg juga berusaha menjawab panggilan diri untuk mengenali eksistensi diri.

Apa yg terlihat dari atas sana....?

Penuh Cinta dan Harapan.
Ridhwan Endri Yapan (al-Kulani).

Jumat, 14 November 2014

Pesan Terakhir Seorang Pendaki

(Catatan ini saya buat, sebelum saya mengetahui Soundtrack lagu di film Gie, karya Erros SO7)

Katakan Pada Orang Tuaku, aku akan pulang agak terlambat. Karena Jiwaku amat merindukan Sentuhan Rimba, Kesunyian dan mengharapkan sebuah kebanggaan dalam diri. Jika aku tak jua kembali, katakan pada mereka, bahwa aku sangat menyayangi mereka, sungguh tak ingin jauh dari dekap dan pelukkannya. Pinta untuk tersenyum menyambut pesanku, karena aku pergi di atas jalanku, jalan yang telah aku pilih.
Katakan Pada Dunia, bahwa Alam mulai menghentak, memberontak, meminta pertanggung jawaban atas ulah Manusia. Katakan bahwa sebenarnya Alam sangat bersahabat sebagaimana yang kau lihat, kau rasa dan kau alami, sangat ramah akan adanya Manusia di Semesta. Jangan hanya menikmati, tapi tak mau mengobati. Jadilah Pecinta Sejati, maka Semesta akan berikan apapun yang kau pinta dan kau harapkan, akan sajikan lebih banyak manfaat untukmu.
Seorang Pendaki Sejati yang s'lalu merindukan Belantara untuk mencari Jati Dirinya, bukan untuk menaklukkan atau di taklukkan Alam Semesta, melainkan untuk mengalahkan Ego, Emosi dan Dirinya Sendiri. Alam hanyalah tempat yang mengandung banyak arti, tantangan Jiwa, Pelajaran, Cerita, Kesedihan, Kesenangan, Kesulitan, Kemudahan, Kasih Sayang, Menjaga, Melindungi, Perjuangan, Persahabatan, Kebersamaan, Saling Menghargai, Kepedulian, Kesadaran, Kesetiaan, Ketulusan, Kesabaran, Keakraban, Persaudaraan, Kedewasaan, Kekuatan, Kelemahan, Jati Diri dan semua Tentang Kehidupan dengan Makhluk Hidup.