Tampilkan postingan dengan label Manusia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manusia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Februari 2016

Penyair Lugu

Bertalu langkah arungi waktu,
Mengalun realita hapuskan semu...
Dinamika mengundang hati berlabuh,
Merekam elegi tentang jalan yg di tempuh...

Apalah daya penyair lugu,
Tangannya masih kaku mengukir dan ambigu...
Bertabur debu berlumur peluh,
Lama waktu tubuhnya tak terbasuh...

Oleh Air yg menyegarkan,
Oleh Air yg melegakan,
Oleh Air yg membersihkan,
Oleh Air yg mensucikan,
Dan oleh Air yg menghidupkan...

Ia bernafas sesenggukkan,
Seolah kepedihan tak lagi tertahan...
Ia berjalan terseok mengarungi rerumputan,
Nampaknya lemah dan rapuh tanpa pegangan...

Bukan...
Bukan itu...

Ia mendapatkan udara segar tiap hari,
Ia dapatkan air yang jernih di sungai-sungai,
Ia juga mereguk hikmah dari berbagai fenomena yang memuai...

Lalu...?
Lihat kaki dan tanganya yang rapuh,
Bibirnya yang bergetar angkuh...

Ia seorang penyair dengan suara yang lantang,
Tiap kata terlontar bak hunusan pedang yang menantang...
Apapun mampu ia uraikan,
Segala siap ia tumpahkan...

Sayangnya...
Ia tak buta,
Tapi terbata...
Ia tak tuli,
Tapi tak mendengar seruan hati...

Tentang relita yg di tuntut hidup ini,
Juga tentang pembuktian segala potensi diri...

Bertemu sungai namun enggan untuk mandi,
Menghirup udara tapi menolak untuk bersyukur lewat bakti,
Dan meraih hikmah akhirnya ia tak pernah menguji diri lewat abdi...

Mihrabnya tercemari oleh sepi...
Mihrabnya di kotori nafsu diri...
Mihrabnya kosong dari Cinta dan Kelembutan hati...

Penyair lugu...
Menghunus Pedang kepada lawan,
tak berperisai dalam peperangan...
Mengungkap tabir tentang kehidupan,
Tapi tak menyelami tiap-tiap jalan dari kecintaan...

Rabu, 13 Januari 2016

Pengembara Pemikiran [1]

Kita mampu memenjara atau menghukum seseorang, tetapi kita tidak bisa melakukan hal itu terhadap pemikirannya (akal). Bahkan dengan membunuh orang tersebut.

Karena Pemikiran adalah hasil karya akal, buah rasa hati dan estetika murni dari manusia. Manusia bisa lumpuh, hilang akal akibat tekanan psikologis bahkan mati. Tetapi selama terus ada manusia-manusia baru yang lahir, bertumbuh, berkembang dan hidup. Maka selama itu pula Pemikiran akan terus tercipta. Tanpa di duga, tanpa dapat di pahami. Karena sesuatu yang murni lahir begitu saja, seperti bakat alami, atau sama seperti mukjizat Ilaahi. Atau seperti proses terciptanya Alam Semesta ini, yang ada karena pergerakan dan perjalanan atom-atom yang mandiri. Meski hal itu bisa di pahami melalui ilmu pengetahuan yang cukup hebat menjelaskan dan cukup rumit menjabarkan. Tapi pada hakikatnya, bagaimana Atom itu bisa mandiri...?? (Memuai, memecah diri dan kandungan, mereaksi percampuran kandungan, dan menghasilkan berbagai Materi lainnya). Itu adalah suatu hal Yang Murni. Kita tidak akan membahas mengenai Sang Maha Pencipta Atom itu dalam Penjabaran ini, karena tentu Allah Tuhan YME adalah Maha Berkuasa atas Segala Sesuatu.

Semakin berkembang Kehidupan Manusia, maka semakin berkembang pula Pemikirannya. Meskipun dalam beberapa kasus ada Negara-negara atau wilayah atau kelompok atau individu yang pemikirannya malah cenderung melemah. Dalam bahasa ilmiahnya ini disebut dengan Istilah Lemah Akal, atau dalam bahasa SosMed ini disebut dengan #GagalPaham.

Ada dua penyebab, Melemahnya Pemikiran Manusia. Selain Lemah Akal, sebab kedua adalah Pengingkaran terhadap Potensi Akal yang telah di Karuniakan kepada Manusia. Pelemahan Akal, dapat terjadi oleh pengaruh dari luar. Semisal, tekanan dan doktrin. Pengingkaran Potensi Akal sendiri adalah wujud dari ketidakpercayaan diri dalam menggunakan Potensi Akal yang sedemikian canggih dan luarbiasa. Sehingga egonya menuntut akalnya untuk mendustai atau mengingkari dirinya sendiri.

Doktrin pun memiliki banyak macam, ada yang berupa ajaran dalam sebuah keyakinan tertentu (agama atau aliran) adapula yang berupa gaya hidup yang mampu mempengaruhi diri atau jiwa seseorang sehingga meninggalkan akalnya (Doktrin). Versi kedua ini berlaku sesuai perkembangan zaman, tren dan segala hal dapat memalingkan perhatian manusia dari menggunakan pemikirannya untuk hal-hal yang berguna dan positif.

Bersambung.....

Sabtu, 30 Mei 2015

Mengenali Batas

Nampaknya setiap dari kita sudah jauh berjalan, melaju, meluncur bahkan sedemikian hebatnya kita berkembang melampaui potensi diri kita yg dahulu kita kenal sebagai seorang yg sama-sama belajar menjadi petualang. Menjelajahi mahligai hayati yg begitu kompleks dengan berbagai pemikiran(analisa dan pengamatan non-formal), perenungan atau yg sering kita sebut dengan pengkajian.

Betapa dahulu kita selalu bergelut dgn dinamika emosional yg terjadi lantaran sedikit sentuhan dari satu sama lain yg menimbulkan efek denyut di kepala, ya..! Terlepas dalam topik apapun itu, kita pernah mengalami dan melaluinya. Dan beginilah kita.

Analoginya seperti sebuah lintasan hutan yg sering di pijak oleh kaki para pendaki untuk dapat mencapai puncak. Semakin sering siklus lalu lalang, maka semakin jelas jejak-jejak yg tertinggal. Bahkan secara tidak sadar langkah para pendaki itu menciptakan batas-batas antara jalur menuju puncak dengan sedemikian luas membentang hamparan hutan, aliran sungai, deruan air terjun, curamnya jurang, gelapnya gua dan sunyinya lembah sepi yg penuh misteri. Kita terhanyut dalam langkah dan jejak-jejak tersebut hingga kita hanya terpaku pada satu ruang pandang, bahwa puncak adalah keindahan sejati.

Mungkin sebagian dari kita tidak menyadari ini, namun harusnya dalam setiap perjalanan kita selalu dapat meraih pelajaran yg tersingkap di dalamnya. Ya, begitu bersemangatnya kita dan tenggelam dalam khayalan betapa indahnya pemandang sejati di puncak tertinggi. Terlepas dari berbagai motivasi dan inovasi apapun yg berada di dalam hasrat dan naluri pencapaian itu. Aku hendak bertanya kepada kita, kepada diri-diri kami, kepada jiwa muda-mudi, kepada setiap hati yg juga berusaha menjawab panggilan diri untuk mengenali eksistensi diri.

Apa yg terlihat dari atas sana....?

Penuh Cinta dan Harapan.
Ridhwan Endri Yapan (al-Kulani).

Mengetahui Batas

Tulisan ini bukan untuk menggurui, atau mungkin merasa paling memiliki eksistensi dan potensi. Ini hanya seruan kerinduan yang terungkap dari hati.

Kita memahami, bahwa kita adalah corak keberagaman. Kita adalah bentuk dari keajaiban dan kita adalah wujud dari berbagai perbedaan. Tak pernah ada yang secara riil menyatukan kita dalam berbagai aspek, kecuali setelah mengalami perdebatan, atau bahkan benturan yang akhirnya melahirkan satu perbedaan lagi. Beginilah kita...?

Mungkin kita ingin langsung menjawab pertanyaan ini, atau bahkan sambil membacanya gumam hati dan bibir kita menyimpan semua jawabnya.

Satu-satunya yang sama dari diri kita yang menyatukan kira adalah bahwa kita manusia. Manusia yang memiliki harapan, manusia yang memiliki impian, manusia yang memiliki tujuan. Dan setiap dari kita kembali memiliki harapan yang berbeda dan impian yang tak sama, mesku tujuannya bisa jadi serupa.

Terserah bagaimana menyebut tujuan itu apa, namun yang pasti. Tujuan bukanlah sebuah pencapaian yang kecil meski sederhana, bukan juga sebuah tujuan yang luarbiasa meski istimewa.

Kembali dalam analogi, jika dalam suatu negara setiap rakyatnya memiliki satu potensi yg sama (dalam hal ini militer, misal) juga memiliki kualitas yang sama, satu impian yang sama, sehingga seolah-olah tidak ada perbedaan di dalamnya. Lalu mungkinkah dengan semua kesamaan itu, negara tersebut dapat maju dan berkembang di dunia global pada saat ini. Tanpa adanya peran bidang perekonomian, dalam hal ini sandang dan pangan. Juga tanpa adanya peran bidang pendidikan, dalam hal ini ilmu pengatahuan, teknologi dan lingkungan hidup. Apakah bisa negara itu berkembang di dalam persaingan dunia global saat ini...?
Jawabannya sudah tentu sulit untuk di bayangkan, dan mustahil bisa tercapai.

Sampai disini, kita serahkan semua goresan pena elektronik ini kepada khalayak. Khususnya penafsiran dan pemahamanya pada diri kita sendiri. Karena mungkin ini hanya sekedar frasa tak bermakna di kalangan pemuda, meski besar harapan kita bahwa ada makna dan guna yang dapat di gali oleh manusia. Ada tujuan besar yang bisa sama-sama kita perjuangkan, kita raih dan kita tebarkan.

Penuh Cinta dan Harapan.
Ridhwan Endri Yapan (al-Kulani).