Tampilkan postingan dengan label Elegi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Elegi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Februari 2016

Hakimi Diri

Andai ini zaman Qais yang disebut Majnun,
Mungkin aku akan berlaku gila di tengah rumpun...
Sayangnya ini era modern yang penuh gengsi,
Membuat aku harus bergelut debu harta duniawi...

Seorang sufi yang kehilangan guru,
Meraba suluk tuk mencapai sumbu...
Sembunyikan harapan dan rindu,
Karena indahnya sering terbentur oleh kelabu...

Terhuyung menjejaki medan juang,
Berharap temukan pekerjaan tuk meraup uang...
Andalkan tubuh muda tuk melawan dunia,
Waktu berlalu tanpa bisa mengerti keadaannya...

Tanpa seperangkat perkakas kayu,
Atau mungkin kaca mata dan buku-buku tebal catatan ilmu...
Hanya seorang yang menggila tanya,
Dimana tempat ia bisa bernanung dari nestapa...

Lemah dirinya menggugat setiap problema,
Lambat langkahnya mengejar cita tuk menderma...
Terseok menyisir tanah yang becek dan kotor,
Berbekal pakaian lusuh yang kerahnya mulai molor...

Ingin ku tatap wajah malam sang Rembulan,
Tapi ku takut cahyanya pudar dalam lautan...
Ingin ku nikmati fajar di ufuk timur,
Namun aku kan terlihat dengan jari-jari kaki yang penuh jamur...

Rembulan dan Fajar tahu,
Bahkan Gemintang pun menguping kisah si pemuda pilu...
Cahaya itu hampir tiap hari melengkapi hari,
Tak ada terkecuali cela dan hinanya diri di temui...

Meringkuk di balik reruntuhan bangunan tak berpenghuni,
Siang masih memenjaraku dalam gemetarnya tubuh ini...
Tersungkur di tanah becek yang terus terhujani,
Aku memendam Cinta dengan ratapan pilu di tengah badai yang menghakimi...

Selasa, 16 Februari 2016

Penyair Lugu

Bertalu langkah arungi waktu,
Mengalun realita hapuskan semu...
Dinamika mengundang hati berlabuh,
Merekam elegi tentang jalan yg di tempuh...

Apalah daya penyair lugu,
Tangannya masih kaku mengukir dan ambigu...
Bertabur debu berlumur peluh,
Lama waktu tubuhnya tak terbasuh...

Oleh Air yg menyegarkan,
Oleh Air yg melegakan,
Oleh Air yg membersihkan,
Oleh Air yg mensucikan,
Dan oleh Air yg menghidupkan...

Ia bernafas sesenggukkan,
Seolah kepedihan tak lagi tertahan...
Ia berjalan terseok mengarungi rerumputan,
Nampaknya lemah dan rapuh tanpa pegangan...

Bukan...
Bukan itu...

Ia mendapatkan udara segar tiap hari,
Ia dapatkan air yang jernih di sungai-sungai,
Ia juga mereguk hikmah dari berbagai fenomena yang memuai...

Lalu...?
Lihat kaki dan tanganya yang rapuh,
Bibirnya yang bergetar angkuh...

Ia seorang penyair dengan suara yang lantang,
Tiap kata terlontar bak hunusan pedang yang menantang...
Apapun mampu ia uraikan,
Segala siap ia tumpahkan...

Sayangnya...
Ia tak buta,
Tapi terbata...
Ia tak tuli,
Tapi tak mendengar seruan hati...

Tentang relita yg di tuntut hidup ini,
Juga tentang pembuktian segala potensi diri...

Bertemu sungai namun enggan untuk mandi,
Menghirup udara tapi menolak untuk bersyukur lewat bakti,
Dan meraih hikmah akhirnya ia tak pernah menguji diri lewat abdi...

Mihrabnya tercemari oleh sepi...
Mihrabnya di kotori nafsu diri...
Mihrabnya kosong dari Cinta dan Kelembutan hati...

Penyair lugu...
Menghunus Pedang kepada lawan,
tak berperisai dalam peperangan...
Mengungkap tabir tentang kehidupan,
Tapi tak menyelami tiap-tiap jalan dari kecintaan...

Jumat, 07 Agustus 2015

Syair Dusta

Aku menyusun frasa untuk memukau semua dialektika, yaa!
Ku buat penuh hikmah dalam makna,
Meski nyatanya aku ini dilema...

Menyelam ke lautan bebas,
Gali tiap pengetahuan tanpa batas...
Bentangkan analisa dengan tangkas,
Meraup ibrah dari setiap problema yg ku retas...
Aku seolah bersembunyi dari kenyataan,
Dengan berbagai ucapan yg ku lontarkan...
Dialektika panjang menebarkan alasan,
Semakin menutupi serentet permasalahan yg ku rasa sengaja ku lupakan...

Dusta.....
Ku rasa aku tengah berdusta,
Menipu diriku sendiri dengan seutas cita...
Yg nyatanya bukan mengantarkan aku pada tahta,
Namun malah menyusun skenario untuk menjatuhkan diri sendiri dengan dusta...
Bernaung dalam perjalanan panjang ini,
Memang membangun utamanya satu hal yg pasti...

Bagaimana tidak,
Aku tak mungkin mengelak...

Kesadaran itu layaknya rumput di pinggir pesawahan,
Tumbuh subur seiring bulir padi berjatuhan...
Seperti halnya hujan dan basah,
Keniscayaan ini membuatku terperangah...
Tertunduk dan bungkam tanpa rasa,
Pejamkan mata tuk akui segala nista...

Tak ada air mata,
Seolah mata ini curiga hati sedang berdusta...
Dosa tak lagi menjadi tanya,
Bahkan tak khawatir akan datangnya siksa...
Bukan karena aku tak percaya pada semua,
Melainkan aku terjebak dalam dilema...

Betapa aku ingin mengatakan pada diriku sendiri,
Celakalah kau dengan kedustaan ini...

Musibah menjadi hal pasti dalam khayal,
Bencana akan menimpa tak henti oleh sesal...

Hancurlah aku...
Musnahlah aku...
Dan sirnalah perjalananku...

Jangan anggap ini sebuah pengakuan yg mengharukan,
Penyair ini akan celaka tanpa iman...
Bisa jadi ini bagian dari cara menarik simpati,
Maka pantaslah aku mendapat caci dan maki...

Lemparilah aku dengan teguran,
Karena itu mungkin menyegarkan...
Hantam aku dengan kritikan,
Semoga hatiku terbentur lalu hancur berceceran...

Jika sampai di satu masa dan aku masih berdiri di jurang kelam ini,
Maka lucuti jiwaku dengan kejujuran yg murni...
Hukum aku.....

Kamis, 04 Juni 2015

Nyanyian Malam

Apa yg tersisa di sepanjang jalan,
Ketika sepi berhembus temani kesepian.....
Bernyanyi dalam sunyi dan menyendiri.....

Apa yg bisa di lupakan,
Ketika semua berlandas pada harapan dan impian.....
Sementara imaji terendap di dasar hati.....

Apa yg patut di tinggalkan,
Ketika yg di harapkan hanya ketulusan.....
Ku kira Cinta telah membuat kita mengerti dan saling mengasihi.....

Tanya masih bersusun laksana ombak yg berderu,
Menginterogasi setiap alibi yg mencuat jadi ambigu.....
Selaksa realita tak mampu di sela,
Apalagi di hapus tuk menutupi fakta.....
Beginilah adanya,
Dimana kejadian tak bisa di terka.....
Dinamika selalu mengiringi setiap langkah kaki,
Halangan dan rintangan pun menjadi sesuatu yg mesti di hadapi.....
Di terima,
Dan di jalani.....

Lalu aku berlanjut menyelami kegelapan malam.....

Dalam keheningan yg ciptakan rentetan tuntutan dan keharusan,
Ku tuai jawaban dari surutnya kepastian.....
Tindakkan,
Kesusah payahan,
Dan sekelumit permasalahan yg mesti di selesaikan.....
Ini tentang tanggung jawab dalam kehidupan,
Dimana diam tak berarti bungkam.....
Dimana mengeluh bukan karena kelemahan,
Tetapi karena ingin dapatkan perhatian.....

Salahkah aku....?
Jika kisah di masa lalu yg kini membuatku merasa haus,
Haus akan perhatian dan pengertian yg khusus.....
Mungkin luput dari pandanganmu,
Atau bahkan tak sampai dalam imajimu.....
Karena kamu memiliki kebebasanmu sepenuhnya,
Meski pernah hampir kamu kehilangannya.....

Tapi aku....?
Huuhh.....
Rasanya tak ingin ku buka luka lama,
Namun perih dan cacatnya masih tersisa.....
Membekas di sanubari,
Menggores di lubuk nurani.....

Ini bukan luka hati yg tragis,
Tapi tekanan jiwa yg guncangkan psikologis.....

Rasanya mataku mulai perih dan berair,
Menelusuri lembaran kertas dan mata tinta yg bergulir.....
Sesal tak pernah terasa lagi,
Sesak di dada menepi dan bersembunyi.....
Bagaimana caraku lewati semua ini,
Adalah rahasia malam yg bernyanyi dalam sunyi.....
Dalam larutnya pekat malam,
Dan siksaan Insomnia yg seolah menghujam.....

Mata dan otakku.....
Kembali beralibi dalam Imaji.....

Oktober 2014

Rabu, 03 Juni 2015

Kamu

Perlahan ku urai satu persatu,
Berbagai gelisah yang selalu mengganggu...
Kan ku ungkap segala rancu,
Meski tiap wajah memandangku tabu...
Namun inilah massa dimana tiada lagi abu-abu,
Tiada hitam yang kan menutup cahya itu...

Masih tentang kegelisahan yang membuat semua seolah semu,
Semoga hadirmu jadi kelembutan yg luluhkan ragu...
Menjadi kepastian tentang adanya hari baru,
Dimana tiada lagi lara yang memecah asa jadi ambigu...

Kamu...
Seperti fajar yang selalu ku tunggu,
Lama ku terjaga menunggu waktu...
Membunuh malam ku duduk termangu,
Biasmu adalah sebersit harapan di langit biru...

Kelak di waktu yang kita tuju,
Kan terjawab tanyamu tentang sepi yg lama membiru...
Tentang gelisahku dan gelisahmu,
Yang kelak kan bertemu dan bertumpu...

Namun biarlah itu menjadi rahasia waktu,
Karena saat ini masih terasa tabu dan buntu...
Tinggal bagaimana kita mengolah dan meramu,
Biarkan rimba menuntun kita untuk menyatu...

Logika dan ritmenya kan menjadi bumbu,
Mengikat kasih cinta yang bersatu padu...
Saksinya adalah deru nafas yg menggebu,
Mungkin juga pijakkan langkah kita yang penuh debu...

Sejauh puncak-puncak yang kelak kan berlalu,
Terbentang juga dinamika yang berputar pada dinding rindu...
Coba pecahkan problema dalam bisu,
Bergantung pada sejauh mana kita memahami titik temu...

Biasa, seperti kisah-kisah lain yang juga pernah berlalu,
Kita kan alami masa-masa itu...
Jangan mencoba melawan waktu,
Biarkan kita bertemu dan berjalan di tepian dinding berbatu...
Menemui Cinta yang penuh haru,
Atau berujung dan kandas di jurang yang penuh dengan benalu...

Sejauh ini aku berharap mampu mengusir kelabu,
Dan mulai menjemput bahagia yang sering di dongengkan oleh Ibu...
Dan ku harap itu dirimu,
Yang kelak kan menunggu ku pulang di depan pintu...

Menyambut lelahku dengan senyum semanis madu,
Luluhkan lelah yang bertengger di bahu...
Menghapus penat dengan teduh tatapan sang ratu,
Yang malu-malu penuh rayu dan rindu...

Dalam syair ini ada harapan yang mengusik kalbu,
Dari sekian banyak yang datang dan berlalu hanya tinggalkan pilu...
Aku ingin berlabuh di relung jiwamu,
Menanam benih Cinta di dasar hati yang tlah lama semu...

Senin, 25 Mei 2015

Who is You...?

Jauh ku bentangi berbagai alibi,
Telusuri tiap tujuan yg ku miliki...
Dengan semua keindahannya yg tersendiri,
Harapan pencapaian yg membumi...

Kadang saking kuatnya emosi,
Persatu mimpi itu terlewati dari aksi...
Banyak yg berlalu tak terkendali,
Karena mustahil fokus ini tercabangi...

Bersama pancaran panas sang mentari,
Menyengat ubun-ubun dan memaksa ku untuk mengerti...
Bahwa sekalipun sketsaku mencapai tiap teori,
Namun tak cukup sepasang tungkai ini untuk menebus semua ambisi...

Setajam mataku memandang langit tak bertepi,
Seluas imaji mampu menangkap berbagai aksiden yg terjadi...
Ku dapati pudar menggarisi titik fokus mata ini,
Cermati dan pahami mengapa semua terasa sedilema ini...

Kalam Suci,
Petuah Ilahi yg tertuang dari jiwa suci...
Juga hikmah yg terkuak lewat setiap ilmu yg di pelajari,
Tentang diri... Ambisi, dan sebuah jalan yg jadi fokus untuk di geluti...

Inilah batas kesempurnaan makhluk bermateri,
Puncaknya adalah mencapai kesadaran diri...
Menembus ilusi dan raih berbagai potensi,
Lewat imaji, alibi dan berbagai pemikiran yg menguji naluri...

Sampailah dimana manusia mengenali potensi diri,
Tetapkan hati pada ruang yg ia kuasai...

#QueenBee

Shake Spirit

Pagi ini terasa tak biasa,
bercampur imajiku memicu nuansa...
Bersama embun di dedaunan yg bermahkota,
coba ku hisap teduhnya dgn jiwa yg dahaga...

Menebal pupil mataku mengoyak retina,
isyarat dari jiwa untuk fokus menyusun aksara...
Kiranya ada sesuatu yg berbeda,
itu hanya waktu yg seolah sesakkan dada...

Menghimpit senda gurau yg sia-sia,
memeras teori tuk capai puncak dinamika...
Massa tak pernah bisa di tunda,
namun imaji harus bisa meraih cahaya...

Hari esok kan datang bersama realita,
kejarlah asa dengan segenap cinta dalam jiwa...
Tutuplah matamu dari tanya yg terus menunda,
ciptakan semua dgn yakin pada usaha dan upaya...

Karena Cinta adalah Keniscayaan yg nyata,
Ragu kelak kan sirna,
pun kelak tiada lagi dahaga dalam tanya...

#QueenBee

In the Low Time

Ku gores jemariku di layar cahaya,
seraya mengobati sepi yg bernada...
Membentang serentet realita,
mengais harapan dalam bingkai analisa...

Ku jelajahi penjuru dunia,
dari balik kaca elektrika yg berwarna...
Menembus ruang dialektika,
menjengkal waktu tuk puaskan tanya...

Akan dimana berakhirnya dinamika,
tentang bagaimana harus ku raih bahagia...
Ini seperti berdenyutnya syaraf-syaraf di kepala,
darah dan sel saling bertaut tuk bangkitkan rasa...

Seketika Cinta membahana di lembah thuwwa,
dasar hati yg penuh dgn misteri dan jadi pusat tanya...
Getarannya menstimulan tiap organ jiwa,
seperti mendorong geraknya untuk berlaga...

Sesaat ku dapati kegelisahan sirna,
berganti dengan harapan yg mekar bagai bunga...
Merekah merah menggoda,
dan menunggu tangan lembut nan halus untuk memetiknya...

#QueenBee

Selasa, 05 Mei 2015

Resah Hati

Kelopak mata mengendur,
Pandangan pun mengabur...
Namun suasana hati ku tak teratur,
Gelisah mengoyak tubuhku yg terbujur...
Keheningan seolah jadi cadur,
Antara aku dan segenap keresahan yg melacur...

Ku pejamkan mataku sejenak,
Cari sebabnya gundah yg terselubung dalam benak...
Tentang hari esok yg tak tertebak,
Bahwa keadaan takkan bisa untuk di elak...
Ku  ingin menangis sendu,
Namun ada angin yg mengusik nada syahdu...

Sedih masih menggelayut di pelupuk mata,
Aku seolah kehilangan akal untuk berkata...
Tak ku kenali rasa yg bertengger dalam dada,
Kecuali kecewa, sesal dan rasa hina...
Aku berhenti berkata,
Semenjak beberapa menit yg bernada...
Nada jarum jam yg seolah menyeru telinga,
Untuk mendengar sesuatu yg tak bersuara...

Sunyi,
Hening dan sepi...
Aku menepi dan rebah di lantai yg selalu ku tiduri,
Masih dengan rasa yg tak menentu dalam qolbi...
Tak mampu mengundang lirih,
Juga tak mampu ku berdiam diri...

Ku sambangi pagi ini,
Menahan diri,
Bersama sepi,
Nikmati kopi tuk pecahkan imaji...

Pergilah wahai resah hati...

Sabtu, 20 Desember 2014

Gerimis

Dalam seluk beluk kisah,
Ada insiden yang merekah.....
Mencoba menggali Hikmah,
Ku geluti gelap dengan hati yang resah.....
Ku cari dimana ada yang salah,
Temui lemahku yg selalu jadi celah.....

Untuk kesekian kalinya aku termangu dalam haru,
Haru yang menggelayut diantara alibi yang jadi rancu.....
Seperti Anti-Toksin,
Kalbuku seolah kebal dari serangan racun dalam bathin.....
Awalnya mungkin bangga,
Namun risih ketika dirasa seolah diriku berbeda.....
Berbeda dari kebanyakan manusia,
Mampu merasa bahagia,
Namun jatuh Cinta pada rasa kecewa.....

Dan ku tak perlu sibuk untuk mengobati luka duka ini,
Semua perih ini berlalu di sisihkan oleh esensi dan harmoni.....
Seluruh imaji yang telah tersaji,
Perlahan lumer di tempa dinamika yang menguji.....

Yaa.....
Tak akan ada yang Abadi,
Meski nampaknya terlalu singkat tiap emosi ini ku cumbui.....

Rona Bahagia yang berkilau dalam retina,
Sekelibat redup redam seperti cahaya mentari di cakrawala saat berganti hari.....
Nada sendu dalam gemuruh runtuhnya hatiku,
Mendesis lalu padam seperti bisikkan malam yang hilang di balik temaram.....

Bukan karena aku haus akan pujian,
Toh ini bukan kisah kepahlawanan,
Hanya segaris jalan hidup anak manusia yang memilukan.....
Juga tak bermaksud membuat ini seolah berlebihan,
Siapa kiranya yang ingin selalu di rundung kesedihan,
Hanya ingin menuai benih Kearifan dari setiap kejadian.....

Sekiranya di beri satu doa yang langsung di kabulkan,
Aku hanya ingin memohon Ampunan dan sebuah jalan,
Jalan untuk menuntaskan semua Kewajiban di dunia yang sempat ku tangguhkan.....

Lalu duduk bersimpuh di bawah deraian hujan,
Dan pergi tak kembali dalam gerimis yang mengobati lelah dalam Kerinduan.....

Sabtu, 13 Desember 2014

Langit Sore

Gerbang senja terbuka serentak,
satu per satu jalur angin menderu mata dan kelopak.....
Ketika sebuah jalan seakan di sadur oleh ujian,
hati mendayu penuh logika yang ambigu.....

Ini jalan cerita yang sama,
seperti setiap petak rasa,
yang di hadapi tiap jiwa.....
Di tegur bahagia,
di uji nestapa,
problema dan dinamika menghajar dan menempa.....

Diatas tumpukkan kerikil-kerikil yang menggunung,
aku adukan cuplikan dilematis yang membendung.....
Langit biru meng-ejakan materi orientasi yg mesti ku hadapi,
sementara rembulan menuntun ku larut dalam hikmah yang sedang ku gali.....

Hati memang berbeda dalam mencermati,
sementara kesadaran seringkali hilang hingga lupa diri,
namun akal tak pernah terbatasi dalam imaji.....
Hati meredup,
kesadaran mengendap,
pastikan akal tak terusik oleh gelap.....

Aku harus dapatkan arti,
menggapai mimpi,
maksimalkan implementasi,
lalu menjemput bidadari yang lama di damba oleh hati.....
Membawanya pergi,
dan pulang untuk kembali.....

Menuju eksistensi yang hakiki,
dalam naungan kasih Cinta Ilaahi Rabbi.....

Langit Sore

Gerbang senja terbuka serentak,
satu per satu jalur angin menderu mata dan kelopak.....
Ketika sebuah jalan seakan di sadur oleh ujian,
hati mendayu penuh logika yang ambigu.....

Ini jalan cerita yang sama,
seperti setiap petak rasa,
yang di hadapi tiap jiwa.....
Di tegur bahagia,
di uji nestapa,
problema dan dinamika menghajar dan menempa.....

Diatas tumpukkan kerikil-kerikil yang menggunung,
aku adukan cuplikan dilematis yang membendung.....
Langit biru meng-ejakan materi orientasi yg mesti ku hadapi,
sementara rembulan menuntun ku larut dalam hikmah yang sedang ku gali.....

Hati memang berbeda dalam mencermati,
sementara kesadaran seringkali hilang hingga lupa diri,
namun akal tak pernah terbatasi dalam imaji.....
Hati meredup,
kesadaran mengendap,
pastikan akal tak terusik oleh gelap.....

Aku harus dapatkan arti,
menggapai mimpi,
maksimalkan implementasi,
lalu menjemput bidadari yang lama di damba oleh hati.....
Membawanya pergi,
dan pulang untuk kembali.....

Menuju eksistensi yang hakiki,
dalam naungan kasih Cinta Ilaahi Rabbi.....

Aku Tahu

Jangan kira aku bisa dgn kaffah menikmati imaji,
syair pun masih tak bernyawa namun tak mati.....
Bukan aku yg tak ingin,
namun langkahku berat melawan angin.....

Bukankah kita sepakat bahwa harapan dan cinta ini berlandas pada Dia....?
Aku tau sepinya berdiri sendiri,
juga bosannya utk terus menanti.....
Aku pun tak pernah cukup membayangi wajahmu,
di permukaan air yg menggenang dgn nada sendu.....
Tak berbeda dgnmu.....
Aku ingin mendengar semua kisahmu,
bahkan seluruh curahan harimu.....
Menjadi penghangat ketika dingin menyerbu,
dan berikan bahuku lebih dari sekedar menyandarkan kepalamu.....
Tapi berkisah dalam bisik mesra,
dan bercanda dalam derasnya gemuruh hujan yg bertahta.....
Aku dambakan merahnya senja,
dalam pekatnya kerinduan di tengah hujan yg baru reda......
Apakah harus ku pertanyakan kesiapanmu....?
Kesiapanmu utk duduk bersama,
meski aku belum menyandang suksesku dalam cita....?

Tak cukup segelas kopi hitamku,
hingga ku buka lagi toples kaca yg tertata di meja.....
Kopi hitam pahit yg seolah mengujiku,
tetap bersabar utk dapat nikmati manis senyuman di bibirmu.....

Lidahku terkadang berontak,
namun ku ingat pesan mimpi dalam riak......
Tetes sisa tampias menggugah bayang samar,
hingga ku rengkuh airnya dgn tanganku yg kasar.....
Ku hirup rinduku,
ku sentuh sepi yg mengusik dirimu.....

Biar ku jinjing kerah kejenuhan yg mengganggumu,
"Berhenti mengganggu gadisku, karena aku akan datang menjemput bahagianya...!!" pungkasku menantang.....

Besok.....
Kita bicarakan semua keluh,
kita bongkar semua resah.....
Kita siasati jalan cinta ini,
kita temui apa yg wajib kita arungi.....

Kesedihan

Menyengat sang surya sulut pori-pori bekerja,
Keramaian menggema sembunyikan sepi hingga senja.....
Aku bersiasat dengan harapan,
Mencari dimana rekan yang mau berulur tangan.....
Seperti mencari serpihan kaca di gundukkan salju,
Pahitnya ku temui karena realita seringkali menipu.....
Aku yg sadar dengan hal itu pun berpaling,
Tertatih sendiri di tengah teriknya dunia yg bersaing.....

Sejenak ku hirup ramah sapa oksigen di bawah beringin,
Seolah ia menyajikan penyejuk yg membasahi relung jiwa yg mengering......
Tak ada yg salah,
Karena setiap orang ingin dapati hari yg cerah.....
Hanya saja aku yg belum beruntung menjalani hari,
Atau mungkin belum maksimal kerahkan potensi diri.....

Tak ingin berlarut,
Kini ku berfikir untuk pergi dan merajut.....
Mengingat musim dingin kan datang membawa kabut,
Ku siapkan jaket ku untuk hadapi musim yg semrawut.....
Sesekali ku petakan langkahku di malam sunyi,
Barangkali jalan kan ku temui esok hari.....
Tak lupa tuk mengemas harapan dalam doa,
Hanya Dia obat segala duka dan lara.....

Sendu desah nafasku menanti waktu,
Kala Ibu berbaring pulas dalam tidurnya.....
.....
.....
Sergahku menyeka berlian yg bergulir,
Bukan waktunya bersedih menyalahkan takdir.....
Aku berbalik kearah tabir,
Ku sucikan diriku dengan air,
Lalu menangis sambil tersungkur membaca syair.....

Cinta Arang

Menatapi serpihan imaji diatas api,
Ku serap pancaran alibi yg batasi diri.....
Hangatnya api menguji naluri,
Melewati malam sepi yg dingin hingga pagi.....

Terkuak segala problema,
Ku dapati arah dalam sunyi yg menjelma.....
Ini bukan hanya tentang aku,
Bukan juga tentang kamu.....
Namun tentang eksistensi sebuah nada harmoni,
Dimana not nya sajikan kedamaian dalam hati......

Ada yg salah ku mengerti,
Namun terlampau jauh ku cintai.....
Atau mungkin begitu cepat kau salahi arti,
Sehingga yg tersisa kini hanya sepi.....
Kisah tak lagi murni,
Ternodai oleh emosi yg menguasai.....

Kita lama terdiam,
Bahkan kembali terbiasa untuk bungkam.....
Seperti hujan yg tak kunjung datang sejak juli,
Kemarau kini menyengat bumi hingga canda pun mengering dalam hati.....
Rindu seolah tersembunyi,
Hadirnya pun serasa pantas di tanyai.....
Apa daya,
Senyumku pudar dalam redup cahaya cinta.....
Air mata....?
Ini kemarau yg menyedihkan,
Bahkan katup di retina mulai tanyakan dimana kelembutan.....

Mengais sisa-sisa kata yg mampu ku ucap,
Bahkan meski sapa ku tak terjawab.....
Memanggilmu,
Memperhatikanmu,
Dan menegurmu.....
Lewat puisi,
Syair singkat yg lirih,
Hingga ku ungkap doa dalam keresahan yg menghantui.....

Habibbah ku....?
Kemana canda tawa kita tergadai....?
Apakah ada yg lebih berharga dari kehangatan,
Atau mungkin ada yg lebih menarik dari sebuah ketulusan dan kesetiaan....?
Belenggu kita hanya ruang dan waktu,
Sedangkan Cinta ini hadir melampaui apapun itu.....

Apakah Optimisme itu telah padam....?
Sementara mimpi yg kita rangkai adalah rahasia yg terpendam.....

Ku bergeser menyentuh nyala bara yg mencolok,
Lalu ku dapati arang hitam yg baru saja tergarang.....
Di balik itu,
Ternyata ada Abu yg mendebu,
Dalam sulutan api ia Abadi,
Balutan bara api ajak angin membawanya sempurna dalam harmoni.....

Abu.....
Abu yg tak mungkin lagi jadi bara api,
Apalagi jadi arang memutar balik dimensi.....

Gelisah Asyura ku

Bulir keringat membasahi keningku, baru saja berlalu gema adzan di balik memerahnya langit yg biru. Aroma Jahe, Sereh dan Pandan berpadu dalam rebusan kopi di dalam panci. Gemerincing gelas-gelas mendarat di meja-meja besar menyambut para tamu. Ku bersihkan wajahku, ku reguk teduhnya air wudhu. Mungkinkah aku berdiri dalam sholat sambil mengetik..?
Beriring kalam-kalam suci yg di baca dalam bisik, juga asma-asma agung yg bertahta dalam sunyi. Mataku meraba tiap lembar kitab yg berdebu, menghempasnya dengan nafasku yg menggebu.

Saat Syair-syair duka di lantunkan,
Ku harap kelembutan luntur dalam butiran. Menangislah mataku, aku ingin sekali menangis.....

Sesekali ku serap nuansa berbeda dalam getar tubuh yg bernada, ku pejamkan mataku dalam-dalam seraya meneriakkannya di dalam dada. Aku malu, ketika berhadapan dengan keramaian. Aku sungkan ketika harus mengakrabkan diri dalam obrolan. Ku tarik semburat logika yg masih berantakkan di kepala, Bayangku masih melambung jauh. Menerawangi jalan mana yg harus ku tempuh. Di saat seperti ini, selalu saja tergumam dalam nurani. "Andai saja ada Guruku saat ini..." aku butuh arahannya.
Aku butuh tuntunannya. Namun terlampau jauh aku meninggalkannya, bahkan begitu besar aku mengecewakannya. Aku tahu, Beliau tak pernah menutup pintunya. Begitupun untuk aku, aku yg masih lugu dengan langkah yg ambigu. Sekiranya ada beliau disini, mungkin aku bisa lebih tenang. Bahkan jauh lebih relaks dari ini, membaca syair dan doa yg di lantunkan dan di panjatkan.

Jumat, 12 Desember 2014

Antara Aku dan Dia

Aku tak mampu lgi mengelak,
kecemberuan itu nampak jelas dari jawaban-Nya...
Dia tak ingin ku berpaling,
tak ingin pula cintaku habis terbuang jdi puing...
Seruannya seakan memanggilku dgn lembut,
kelembutan yg menembus bising hiruk pikuk kota yg semrawut...

Seakan Maha Cinta bertanya,
"Kurangkah kepastian Janji-Ku padamu..?"

Aku terlena megahnya dunia yg sementara,
kini semua makin membuat ku merana...

Lembaran-lembaran lusuh yg dahulu ku baca seakan hidup,
mempertanyakan kisah dan cahayaku yg kian redup...
Tersengal nafasku mengingat panjangnya waktu terbuang sia-sia,
betapa aku seringkali mengingkarinya,
betapa tlah jauh aku pergi meninggalkan ikrarku...

Sungguh,
tak sedikitpun aku lupa,
dan tak satupun alasan mampu ku baca...
Namun celakanya diriku yg terlena oleh tipu daya dunia,
seakan aku berjuang di dalamnya padahal aku sedang berada di pinggiran jurang dgn api yg menyala-nyala...

Hampir saja langkahku tergelincir,
nyaris saja aku terjerat dlm kepalsuan yg menghinakan...

Dia Yg Maha Mengerti,
bahwa aku ini mudah sekali termakan halusinasi...
Dia juga Yg Maha Penyantun,
yg tak pernah menutup jalanku utk kembali dan pulang...
Ke dalam pangkuannya,
bersujud dgn peluh di Mihrab-Nya.....