Tampilkan postingan dengan label Sepi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sepi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Mei 2015

Resah Hati

Kelopak mata mengendur,
Pandangan pun mengabur...
Namun suasana hati ku tak teratur,
Gelisah mengoyak tubuhku yg terbujur...
Keheningan seolah jadi cadur,
Antara aku dan segenap keresahan yg melacur...

Ku pejamkan mataku sejenak,
Cari sebabnya gundah yg terselubung dalam benak...
Tentang hari esok yg tak tertebak,
Bahwa keadaan takkan bisa untuk di elak...
Ku  ingin menangis sendu,
Namun ada angin yg mengusik nada syahdu...

Sedih masih menggelayut di pelupuk mata,
Aku seolah kehilangan akal untuk berkata...
Tak ku kenali rasa yg bertengger dalam dada,
Kecuali kecewa, sesal dan rasa hina...
Aku berhenti berkata,
Semenjak beberapa menit yg bernada...
Nada jarum jam yg seolah menyeru telinga,
Untuk mendengar sesuatu yg tak bersuara...

Sunyi,
Hening dan sepi...
Aku menepi dan rebah di lantai yg selalu ku tiduri,
Masih dengan rasa yg tak menentu dalam qolbi...
Tak mampu mengundang lirih,
Juga tak mampu ku berdiam diri...

Ku sambangi pagi ini,
Menahan diri,
Bersama sepi,
Nikmati kopi tuk pecahkan imaji...

Pergilah wahai resah hati...

Sabtu, 13 Desember 2014

Aku Tahu

Jangan kira aku bisa dgn kaffah menikmati imaji,
syair pun masih tak bernyawa namun tak mati.....
Bukan aku yg tak ingin,
namun langkahku berat melawan angin.....

Bukankah kita sepakat bahwa harapan dan cinta ini berlandas pada Dia....?
Aku tau sepinya berdiri sendiri,
juga bosannya utk terus menanti.....
Aku pun tak pernah cukup membayangi wajahmu,
di permukaan air yg menggenang dgn nada sendu.....
Tak berbeda dgnmu.....
Aku ingin mendengar semua kisahmu,
bahkan seluruh curahan harimu.....
Menjadi penghangat ketika dingin menyerbu,
dan berikan bahuku lebih dari sekedar menyandarkan kepalamu.....
Tapi berkisah dalam bisik mesra,
dan bercanda dalam derasnya gemuruh hujan yg bertahta.....
Aku dambakan merahnya senja,
dalam pekatnya kerinduan di tengah hujan yg baru reda......
Apakah harus ku pertanyakan kesiapanmu....?
Kesiapanmu utk duduk bersama,
meski aku belum menyandang suksesku dalam cita....?

Tak cukup segelas kopi hitamku,
hingga ku buka lagi toples kaca yg tertata di meja.....
Kopi hitam pahit yg seolah mengujiku,
tetap bersabar utk dapat nikmati manis senyuman di bibirmu.....

Lidahku terkadang berontak,
namun ku ingat pesan mimpi dalam riak......
Tetes sisa tampias menggugah bayang samar,
hingga ku rengkuh airnya dgn tanganku yg kasar.....
Ku hirup rinduku,
ku sentuh sepi yg mengusik dirimu.....

Biar ku jinjing kerah kejenuhan yg mengganggumu,
"Berhenti mengganggu gadisku, karena aku akan datang menjemput bahagianya...!!" pungkasku menantang.....

Besok.....
Kita bicarakan semua keluh,
kita bongkar semua resah.....
Kita siasati jalan cinta ini,
kita temui apa yg wajib kita arungi.....

Kesedihan

Menyengat sang surya sulut pori-pori bekerja,
Keramaian menggema sembunyikan sepi hingga senja.....
Aku bersiasat dengan harapan,
Mencari dimana rekan yang mau berulur tangan.....
Seperti mencari serpihan kaca di gundukkan salju,
Pahitnya ku temui karena realita seringkali menipu.....
Aku yg sadar dengan hal itu pun berpaling,
Tertatih sendiri di tengah teriknya dunia yg bersaing.....

Sejenak ku hirup ramah sapa oksigen di bawah beringin,
Seolah ia menyajikan penyejuk yg membasahi relung jiwa yg mengering......
Tak ada yg salah,
Karena setiap orang ingin dapati hari yg cerah.....
Hanya saja aku yg belum beruntung menjalani hari,
Atau mungkin belum maksimal kerahkan potensi diri.....

Tak ingin berlarut,
Kini ku berfikir untuk pergi dan merajut.....
Mengingat musim dingin kan datang membawa kabut,
Ku siapkan jaket ku untuk hadapi musim yg semrawut.....
Sesekali ku petakan langkahku di malam sunyi,
Barangkali jalan kan ku temui esok hari.....
Tak lupa tuk mengemas harapan dalam doa,
Hanya Dia obat segala duka dan lara.....

Sendu desah nafasku menanti waktu,
Kala Ibu berbaring pulas dalam tidurnya.....
.....
.....
Sergahku menyeka berlian yg bergulir,
Bukan waktunya bersedih menyalahkan takdir.....
Aku berbalik kearah tabir,
Ku sucikan diriku dengan air,
Lalu menangis sambil tersungkur membaca syair.....