Tampilkan postingan dengan label Ridha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ridha. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Desember 2014

Aku Tahu

Jangan kira aku bisa dgn kaffah menikmati imaji,
syair pun masih tak bernyawa namun tak mati.....
Bukan aku yg tak ingin,
namun langkahku berat melawan angin.....

Bukankah kita sepakat bahwa harapan dan cinta ini berlandas pada Dia....?
Aku tau sepinya berdiri sendiri,
juga bosannya utk terus menanti.....
Aku pun tak pernah cukup membayangi wajahmu,
di permukaan air yg menggenang dgn nada sendu.....
Tak berbeda dgnmu.....
Aku ingin mendengar semua kisahmu,
bahkan seluruh curahan harimu.....
Menjadi penghangat ketika dingin menyerbu,
dan berikan bahuku lebih dari sekedar menyandarkan kepalamu.....
Tapi berkisah dalam bisik mesra,
dan bercanda dalam derasnya gemuruh hujan yg bertahta.....
Aku dambakan merahnya senja,
dalam pekatnya kerinduan di tengah hujan yg baru reda......
Apakah harus ku pertanyakan kesiapanmu....?
Kesiapanmu utk duduk bersama,
meski aku belum menyandang suksesku dalam cita....?

Tak cukup segelas kopi hitamku,
hingga ku buka lagi toples kaca yg tertata di meja.....
Kopi hitam pahit yg seolah mengujiku,
tetap bersabar utk dapat nikmati manis senyuman di bibirmu.....

Lidahku terkadang berontak,
namun ku ingat pesan mimpi dalam riak......
Tetes sisa tampias menggugah bayang samar,
hingga ku rengkuh airnya dgn tanganku yg kasar.....
Ku hirup rinduku,
ku sentuh sepi yg mengusik dirimu.....

Biar ku jinjing kerah kejenuhan yg mengganggumu,
"Berhenti mengganggu gadisku, karena aku akan datang menjemput bahagianya...!!" pungkasku menantang.....

Besok.....
Kita bicarakan semua keluh,
kita bongkar semua resah.....
Kita siasati jalan cinta ini,
kita temui apa yg wajib kita arungi.....

Tuhan Istimewa

Di pekatnya malam tadi,
Aku mengadu tentang cacatnya imaji.....
Lemah hati hadapi tempaan yg bertubi,
Aku lunglai di atas sajadah yg ku bentangi.....
Bukan tanpa alasan,
Meski Dia lebih tahu apa yg harus aku lakukan.....
Namun dalam keterbatasan makhluk,
Aku yg bimbang dan ambigu memilih untuk duduk dan tunduk.....
Bercecer peluhku merintih dan meminta,
Tak bisa ku paksa menetesnya airmata.....

Tiadalah sandaran paling nyaman kecuali persahabatan,
Tiadalah kehangatan yg mendalam kecuali persaudaraan.....
Nafas ku berangsur tenang,
Resah pun mencair dan tergenang.....
Apalah yg ku ketahui,
Sementara pandangan mata seringkali di kelabuhi.....
Sungguh nestapa di jawab malam yg mulia,
Seolah jawaban tertumpah setelah bibirku kering membaca doa.....

Dengan jalan istimewa,
Lewat cara yg berbeda.....
"Subhanallah..."
Rintihku menyadari segala nista dari jiwa yg hina.....
Betapa Tuhan selalu punya estetika yg mempesona,
Tak mampu di terka, di capai, apalagi sampai di prediksi dalam logika.....
Sesudahnya hanya pujian yg ku lantunkan,
Hanya ampunan yg ku mohonkan.....
Ku pahami kearifan selalu terbuka dalam ruang,
Meski seringkali ego menyeruak dan jadi penghalang.....

Selanjutnya adalah bagaimana aku bersyukur,
Berjuang sepenuh tenaga,
Jgn buat harapan terkontaminasi lalu hancur.....

Duduk di Peraduan

Di serbu ketenangan malam ini,
di bawa ku tenggelam dalam Istikharah yg penuh imaji.....
Rasanya tak ada waktu lagi utk menunda,
berhentilah naluri dari getar dunia yg menggoda .....

Ku terduduk di bawah temaram lampu ruang sepi,
menyapa malakut tuk mengungkap dimensi yg tak bertepi.....

Merdu.....
Syahdu.....
Mengajak ku semakin dalam,
curahkan cinta yg terpendam,
pancarkan harapan yg terekam.....

Sore hari menjadi begitu hampa,
Siang dan malam nyanyian ku hanyalah harapan dan doa.....

Ijabah merekam retina,
Kesungguhan berkilau oleh bias cahaya bola mata.....

Cinta tak menghadirkan gundah,
Cinta tak membuat gelisah.....

Karena Cinta penuh kepastian,
dan Cinta adalah Luapan harapan dan Keyakinan.....

Di Mihrab ku Pasrahkan,
memohon ku lakukan, mengemis pun ku lakukan.....

Aku butuhkan Cahaya yg membuka kebodohan,
mengusir kegelisahan dan menghapus semua keresahan.....

Aku butuhkan Sentuhan,
Sentuhan yg menyadarkan ku dari keterpurukan,
menunjukkan aku jalan utk pulang dalam pelukan.....

Menjalani Cinta yg Murni di peraduan.....

Ooh Tuanku,
Pelipur Lara.....
Penghapus dosa dan nista.....
Penolong dalam duka dan nestapa.....
Pengobat rindu di kala hati membeku.....

Terimalah aku yg tersungkur di teras-Mu.....
Izinkan aku masuk dalam Naungan Rumah Cinta yg Mulia.....