Tampilkan postingan dengan label Mihrab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mihrab. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Desember 2014

Gerimis

Dalam seluk beluk kisah,
Ada insiden yang merekah.....
Mencoba menggali Hikmah,
Ku geluti gelap dengan hati yang resah.....
Ku cari dimana ada yang salah,
Temui lemahku yg selalu jadi celah.....

Untuk kesekian kalinya aku termangu dalam haru,
Haru yang menggelayut diantara alibi yang jadi rancu.....
Seperti Anti-Toksin,
Kalbuku seolah kebal dari serangan racun dalam bathin.....
Awalnya mungkin bangga,
Namun risih ketika dirasa seolah diriku berbeda.....
Berbeda dari kebanyakan manusia,
Mampu merasa bahagia,
Namun jatuh Cinta pada rasa kecewa.....

Dan ku tak perlu sibuk untuk mengobati luka duka ini,
Semua perih ini berlalu di sisihkan oleh esensi dan harmoni.....
Seluruh imaji yang telah tersaji,
Perlahan lumer di tempa dinamika yang menguji.....

Yaa.....
Tak akan ada yang Abadi,
Meski nampaknya terlalu singkat tiap emosi ini ku cumbui.....

Rona Bahagia yang berkilau dalam retina,
Sekelibat redup redam seperti cahaya mentari di cakrawala saat berganti hari.....
Nada sendu dalam gemuruh runtuhnya hatiku,
Mendesis lalu padam seperti bisikkan malam yang hilang di balik temaram.....

Bukan karena aku haus akan pujian,
Toh ini bukan kisah kepahlawanan,
Hanya segaris jalan hidup anak manusia yang memilukan.....
Juga tak bermaksud membuat ini seolah berlebihan,
Siapa kiranya yang ingin selalu di rundung kesedihan,
Hanya ingin menuai benih Kearifan dari setiap kejadian.....

Sekiranya di beri satu doa yang langsung di kabulkan,
Aku hanya ingin memohon Ampunan dan sebuah jalan,
Jalan untuk menuntaskan semua Kewajiban di dunia yang sempat ku tangguhkan.....

Lalu duduk bersimpuh di bawah deraian hujan,
Dan pergi tak kembali dalam gerimis yang mengobati lelah dalam Kerinduan.....

Sabtu, 13 Desember 2014

Tuhan Istimewa

Di pekatnya malam tadi,
Aku mengadu tentang cacatnya imaji.....
Lemah hati hadapi tempaan yg bertubi,
Aku lunglai di atas sajadah yg ku bentangi.....
Bukan tanpa alasan,
Meski Dia lebih tahu apa yg harus aku lakukan.....
Namun dalam keterbatasan makhluk,
Aku yg bimbang dan ambigu memilih untuk duduk dan tunduk.....
Bercecer peluhku merintih dan meminta,
Tak bisa ku paksa menetesnya airmata.....

Tiadalah sandaran paling nyaman kecuali persahabatan,
Tiadalah kehangatan yg mendalam kecuali persaudaraan.....
Nafas ku berangsur tenang,
Resah pun mencair dan tergenang.....
Apalah yg ku ketahui,
Sementara pandangan mata seringkali di kelabuhi.....
Sungguh nestapa di jawab malam yg mulia,
Seolah jawaban tertumpah setelah bibirku kering membaca doa.....

Dengan jalan istimewa,
Lewat cara yg berbeda.....
"Subhanallah..."
Rintihku menyadari segala nista dari jiwa yg hina.....
Betapa Tuhan selalu punya estetika yg mempesona,
Tak mampu di terka, di capai, apalagi sampai di prediksi dalam logika.....
Sesudahnya hanya pujian yg ku lantunkan,
Hanya ampunan yg ku mohonkan.....
Ku pahami kearifan selalu terbuka dalam ruang,
Meski seringkali ego menyeruak dan jadi penghalang.....

Selanjutnya adalah bagaimana aku bersyukur,
Berjuang sepenuh tenaga,
Jgn buat harapan terkontaminasi lalu hancur.....

Duduk di Peraduan

Di serbu ketenangan malam ini,
di bawa ku tenggelam dalam Istikharah yg penuh imaji.....
Rasanya tak ada waktu lagi utk menunda,
berhentilah naluri dari getar dunia yg menggoda .....

Ku terduduk di bawah temaram lampu ruang sepi,
menyapa malakut tuk mengungkap dimensi yg tak bertepi.....

Merdu.....
Syahdu.....
Mengajak ku semakin dalam,
curahkan cinta yg terpendam,
pancarkan harapan yg terekam.....

Sore hari menjadi begitu hampa,
Siang dan malam nyanyian ku hanyalah harapan dan doa.....

Ijabah merekam retina,
Kesungguhan berkilau oleh bias cahaya bola mata.....

Cinta tak menghadirkan gundah,
Cinta tak membuat gelisah.....

Karena Cinta penuh kepastian,
dan Cinta adalah Luapan harapan dan Keyakinan.....

Di Mihrab ku Pasrahkan,
memohon ku lakukan, mengemis pun ku lakukan.....

Aku butuhkan Cahaya yg membuka kebodohan,
mengusir kegelisahan dan menghapus semua keresahan.....

Aku butuhkan Sentuhan,
Sentuhan yg menyadarkan ku dari keterpurukan,
menunjukkan aku jalan utk pulang dalam pelukan.....

Menjalani Cinta yg Murni di peraduan.....

Ooh Tuanku,
Pelipur Lara.....
Penghapus dosa dan nista.....
Penolong dalam duka dan nestapa.....
Pengobat rindu di kala hati membeku.....

Terimalah aku yg tersungkur di teras-Mu.....
Izinkan aku masuk dalam Naungan Rumah Cinta yg Mulia.....

Jumat, 12 Desember 2014

Antara Aku dan Dia

Aku tak mampu lgi mengelak,
kecemberuan itu nampak jelas dari jawaban-Nya...
Dia tak ingin ku berpaling,
tak ingin pula cintaku habis terbuang jdi puing...
Seruannya seakan memanggilku dgn lembut,
kelembutan yg menembus bising hiruk pikuk kota yg semrawut...

Seakan Maha Cinta bertanya,
"Kurangkah kepastian Janji-Ku padamu..?"

Aku terlena megahnya dunia yg sementara,
kini semua makin membuat ku merana...

Lembaran-lembaran lusuh yg dahulu ku baca seakan hidup,
mempertanyakan kisah dan cahayaku yg kian redup...
Tersengal nafasku mengingat panjangnya waktu terbuang sia-sia,
betapa aku seringkali mengingkarinya,
betapa tlah jauh aku pergi meninggalkan ikrarku...

Sungguh,
tak sedikitpun aku lupa,
dan tak satupun alasan mampu ku baca...
Namun celakanya diriku yg terlena oleh tipu daya dunia,
seakan aku berjuang di dalamnya padahal aku sedang berada di pinggiran jurang dgn api yg menyala-nyala...

Hampir saja langkahku tergelincir,
nyaris saja aku terjerat dlm kepalsuan yg menghinakan...

Dia Yg Maha Mengerti,
bahwa aku ini mudah sekali termakan halusinasi...
Dia juga Yg Maha Penyantun,
yg tak pernah menutup jalanku utk kembali dan pulang...
Ke dalam pangkuannya,
bersujud dgn peluh di Mihrab-Nya.....