Tampilkan postingan dengan label Iman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iman. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Februari 2016

Gerbang Iman

Detak jam menyapa di tengah kebisuan,
Tercecer realita di sela kantuk yang melenakan...
Detik-detik makin berharga dalam perjalanan,
Menemui secercah cahaya di dalam tatanan perbaikan...

Malam di rajut nada pilu pengakuan dosa,
Terbesit harapan sebuah Keagungan yang mengampuni kita...

Lewat kunci-kunci Kemuliaan,
Lewat pintu-pintu Keselamatan...

Jasad membatasi kita lewat ruang,
Dan hijab melindungi kita atas hawa dingin yang menerjang...
Tapi kita senada dalam harapan,
Seirama dalam tangisan dan permohonan,
Juga sejalur dalam usaha dan pencapaian tujuan...

Langit memendam rahasia tentang jawaban,
Awan kelabu bisikan keberkahan lewat hujan...
Alam jadi saksi tentang kisah dan harapan dua insan,
Yang tersungkur di mihrab bertawasul penuh kecemasan...

Mengharap di limpahi pertolongan dari dunia yang melenakan,
Berusaha membunuh waktu yang terus berlalu penuh keraguan...
Nafas terasa makin berat menahan sesenggukan,
Retina makin sensitif di rangsang oleh kelembutan...
Tumpahlah airmata di antara semua kejujuran yang terucap,
Melelehlah hati di cairkan oleh kegelisahan yang tersingkap...

Kita coba berlindung dari tempaan panasnya dunia,
Menutup diri agar asa tak hangus di makan nafsu yang menjelma...

Serak suaramu mengeja namaku dalam doa,
Dan basah keringat tubuhku jadi saksi nyata tumpuan harapan kita...

Menjemput bahagia,
Menyusun pondasi-pondasi kesucian bagi jiwa-jiwa baru yang merdeka...
Kita merintangi dinamika bersama,
Menjunjung tinggi Kemuliaan dan Cinta,
Menghormati Rindu sampai terucap ikrar setia dalam ritual sakral yang sederhana...

Ridhwan Kulaniy, Depok.

Sabtu, 16 Januari 2016

Obrolan Malam Minggu [1]

Ridhwan: menurutmu apa makna dan tujuan dari pernikahan..?

Lalu apa yg menjadi pertimbanganmu dalam menentukan calon Suamimu kelak...??

Indah: Tuk saat ini tujuannya untuk ibadah dan kalau bisa menambah keturunan yang bisa menjadi pecinta Ahlulbayt as juga... Yang pertama harus se-akidah dan bertanggung jawab, tau kewajiban dan hak nya.. Bisa menjaga izzah dan iffah nya.. Kalau dia bisa menjaga dirinya insyaAllah dia bisa menjaga istrinya.. Banyak kalau di uraikan.. Tapi mengarah nya ke soal hati dan keyakinan sihh.. Soal rezeki aku lebih suka kerja bareng-bareng.. maksudnya saling bahu membahu... Bukan menunggu salah satu berhasil dulu, tapi sama-sama membangun keberhasilan...

Ridhwan: kenapa kamu memilih Mazhab AB..? Beri aku penjelasan logis..?

Indah: Pertama karena tau cerita Karbala.. Bisa di bilang karena Imam Hussein.. Dengan berjalan nya waktu ternyata mencintai Rasulullah.Saww dan Ahlulbayt nya adalah fardhu.. Apa ada alasan lain untuk bisa mengikuti mazhab ini...? Karena ingin mencintai yg wajib di cintai..

Ridhwan: cinta itu cenderung un-logis, karena memabukkan.

Indah: Cinta yg bagaimana dlu..?

Ridhwan Kulany: memang Cinta itu ada berapa pembagian..? Sehingga mesti di jelaskan Cinta yg bagaimana..?

Indah: Maksud nya cinta kepada apa dulu..? Banyak toh kalo di list cinta sama apa dulu..? Maka memabukkan nya juga akan beda arti.. Coba gantian aku yg nanya.. menurutmu apa makna dan tujuan dari pernikahan..?

Lalu apa yg menjadi pertimbanganmu dalam menentukan calon istrimu kelak..?

Ridhwan: Bagiku Cinta itu hanya satu.. Karena Cinta itu kesetiaan.. Kalo ada banyak Cinta berarti telah berselingkuh dgn apapun itu..
Tujuan dari pernikahan itu mencapai kesempurnaan Iman, menggapai Cinta yg Hakiki, menata KEINDAHAN, menegakkan KEADILAN, dan membangun KUASA. Kepada-Nya..

Karena aku atau pun kamu, adalah wujud eksistensi-Nya, yg kelak kan menyatu dalam Cinta kepada-Nya (Pernikahan) di dalam Kuasa-Nya.

Aku butuh wanita yg menanamkan Kesetiaan dalam abdinya, dan mengembangkan Ketulusan dalam Baktinya. Cinta adalah Pengabdian kepada kepada Allah.Swt, lewat segala apapun yang kita lakukan di dunia ini. Terutama lewat pernikahan.. Karena pernikahan adalah separuh Iman.

Indah: Cinta apa tidak di bagi.. cinta antara dua insan yang menjdi muhrim karena pernikahan.. Cinta pada Yang Maha Esa.. Cinta kepada orang tua.. Keluarga.. Cinta pada Ahlulbayt.. Apakah itu semua tidak akan terbagi..? Kalau kesetiaan aku juga sangat menjunjung nya.. Bahkan berharap bisa dan mendapat yg seperti itu..

Ridhwan: Ada sebuah riwayat menceritakan, suatu Hari Sayyidah Zainab.as sedang duduk bersama Ayahandanya (Imam 'Ali.as). Sayyidah Zainab lantas bertanya kapada Ayahnya:
"Wahai Ayah, apakah engkau mencintai Ibu..?" tanya polos Zainab.as.

"Tentu Puteriku, Ayah sangat mencintai Ibu.." jawab singkat Imam 'Ali.as.

"Apakah Ayah  mencintai ku..?" tanyanya lagi.

"Tentu saja, tidak mungkin aku tidak mencintaimu puteriku.." sahut Imam 'Ali.as dgm senyum teduh penuh bahagia.

"Lalu apakah Ayah mencintai Allah..?"

Wajah Imam 'Ali.as penuh kasih sayang menatap kearah Putrinya.
"Ya! Tentu.."

"Ayah berbohong..? Bagaimana bisa Ayah mencintai Aku.. Sedangkan Ayah juga begitu mencintai Ibu..? Lalu bagaimana bisa Ayah mencintai Allah, sementara Ayah juga mencintai Ibu.." keluh Zainab.as polos.

Imam 'Ali.as berdiri dan menurunkan tubuhnya seraya memeluk Zainab.as putrinya.

"Ketahuilah Puteriku, Sesungguhnya Allah mencintai siapapun yg mencintai apa yg di cintai-Nya."

Ridhwan: kira-kira seperti itu riwayatnya. Kamu ngerti filsafat..? Relativisme Etika, Kausalitas, dan Hukum keterikatan materi..?

Indah: Kurang ngerti soal filsafat....  Tapi soal riwayat tersebut bisa di mengerti...

Ridhwan Kulany: Itu masuknya ke dalam, keterikatan materi...

Mencintai Istri adalah Perbuatan yg di cintai Allah.Swt.

Mencintai Anak adalah Perbuatan yg di cintai Allah.Swt.

Lalu di mana pembagian Cinta itu...??
Sedangkan semata-mata semua kecintaan itu adalah karena dan untuk Allah.. ?

Indah: Kalo bicara filsafat aku nyerah.... Cuma bisa jawab pake perasaan aja... Boleh aku tanya..? Kalo soal kesetiaan..  Bagaimana kah kesetiaan itu...?

Ridhwan : jangan anggap diskusi... kita ngobrol santai... hitung-hitung PDKT kalo kata anak remaja... hehehehe...

Indah: Cuma pingin tau apa yg di maksud kesetiaan..?  Kan tadi ada kata kesetiaan juga..?

Bersambung...

Sabtu, 09 Januari 2016

Islam Nusantara Penuh Kesantunan dan Hadirkan Perdamian

Rois Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang sekaligus Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin menyatakan, Islam yang masuk ke wilayah Nusantara diperkenalkan dengan cara-cara damai. Terbukti mampu menghadirkan perdamaian dalam kehidupan masyarakat di Indonesia.

“Karena santunnya maka pada zaman itu banyak masyarakat yang dengan sukarela masuk Islam,” tegas Ma’ruf Amin pada Seminar Nasional Membumikan Islam di Nusantara yang berlangsung di Auditorium Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Kabupaten Purworejo, Jumat 8 Januari 2016.

Ma’ruf Amin menegaskan Islam Nusantara bukanlah aliran baru, namun sebuah keberagamaan Islam yang toleran dan mampu melakukan dialog dengan budaya-budaya lokal. Sejak zaman Wali Songo, konsep ini sudah diterapkan dan ternyata dapat selaras dengan kehidupan masyarakat sehingga Islam dapat berkembang dengan pesat di bumi Nusantara.

Sebuah konsep Islam yang memiliki karakter santun,tidak pernah memaksa, dan tanpa kekerasan apalagi intimidasi, seperti cara Rasulullah. Bukan Islam yang keras yang sangat tekstual namun juga bukan Islam yang liberal. Jadi, Islam Nusantara berada di tengah-tengah sesuai prisip tawasuth dalam NU.

“Islam Nusantara selalu membangun hubungan baik dengan sesama. Saling mengasihi dan tidak saling memusuhi. Dalam banyak hal, Islam mengajarkan untuk saling menolong dan tidak memandang siapa yang ditolong,” paparnya.

Lebih lanjut dijelaskan, dengan konsep Islam Nusantara yang mengemuka dalam Muktamar NU di Jombang beberapa waktu lalu orang masuk Islam bukan karena paksaan. Namun dengan sukarela karena menjunjung nilai-nilai toleransi.

‘’Hal itu pulalah yang menjadi kunci keberhasilan Wali Songo dalam menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Jika Islam disebarkan dengan model-model keras saya yakin Islam tidak akan berkembang seperti sekarang ini,’’ tandasnya.

Namun jika dalam perkembangannya ada oknum teroris yang mengatasnamakan jihad Islam, apalagi mengkafirkan yang tidak sejalan, itu tidak benar. Apalagi di Nusantara ini tidak ada nuansa perang.

“Sehingga tidak tepat ada jihad teroris karena Indonesia termasuk wilayah damai. Akibat ulah teroris itulah sehingga ada yang memaknai Islam galak, padahal lunak,” jelas Ma’ruf Amin.

Islam Nusantara lanjut Ma’ruf Amin, juga selalu menjaga tradisi yang berkembang di masyarakat sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

“Kita punya paradigma, mana yang baik dan yang tidak. Cara berfikir juga dinamis, tidak statis. Bahkan Islam Nusantara tidak hanya menjaga yang baik, namun juga melakukan,” tandasnya.

(Satu-Islam/Shabestan/ABNS)

Jumat, 08 Januari 2016

KH Said Aqil: Saya ingin Bersaing dengan Syiah yang Sehat, bukan dengan Bakar bakaran

MusliModerat.Com - Setelah meninggalnya Rasulullah, timbul berbagai aliran dalam Islam. Ada yang disebabkan oleh alasan politik dan ada pula yang disebabkan oleh perbedaan cara tafsir ajaran Islam terhadap berbagai persoalan baru.
Beberapa aliran yang muncul diantaranya adalah Kodariyah, Murjiah, Muktazilah, Khawarij, Syiah, dan Ahlusunnah. Dari sekian banyak aliran yang ada, kini dalam perjalanan 15 Abad Islam, tinggal Sunni (Ahlusunnah) dan Syiah yang tetap bertahan sedangkan lainnya secara nama sudah hilang, meskipun pengaruh alirannya tetap ada dalam berbagai bentuk.

Kiai Said meyakini, keberadaan dua aliran yang sudah terbukti mampu bertahan ini akan mampu bertahan jauh di masa depan. Persaingan pun akan terus berlanjut.

“Sampai hari kiamat, Ahlusunnah dan Syiah mungkin tidak akan hilang. Buktinya 15 abad masih ada. Jadi kita harapkan persaingannya sehat. Yang positif. Masing-masing meningkatkan kualitasnya,” katanya.

“Saya bukan Syiah, tetapi saya ingin bersaing dengan Syiah yang sehat. Bukan persaingan fisik, bakar-bakaran dan kemudian saling mengusir,” tegasnya.

Menurut Kiai Said, pengikut aliran Syiah memiliki kelebihan berupa militansi yang bagus. Militansi yang intelek, bukan militansi yang ngawur. Dalam kasus Palestina, di wilayah tersebut tidak ada orang Syiah, tetapi Iran lah yang paling menganggap musuh dengan Israel, Hizbullah yang paling menganggap musuh Israel.

Mengenai kepintaran orang Syiah, Kiai Said menjelaskan, hal ini bisa dilihat dari latar belakang peradaban Persia yang jauh lebih maju dari Arab. Begitu masuk Islam, tinggal ganti agama, ganti kitab suci Al-Qur’an, tetapi nilai-nilai peradabannya sudah mapan.

“Ahli hadits tidak ada orang Arab, tetapi orang Persia semua. Bukhari, Muslim, Turmudzi, Ibnu Majah, Ibnu Dawud, Daruqutni, Daylimi,” imbuhnya.

Ia menambahkan yang menciptakan ilmu nahwu, Imam Sibawaih merupakan orang Persia, yang menciptakan ilmu balaghoh atau kesusastraan bahasa Arab juga orang Persia, yaitu Amir bin Ubaid. Yang pertamakali menjadi mufassir besar, yaitu orang Tabaristan, yaitu Ibnu Ja’far Attabari yang membuat tafsir 10 jilid. Imam Ghozali merupakan Persia. Abu Hanifah dan Imam Hambali orang Persia. Sementara Imam Syafii dan Imam Malik orang Arab.

Mengenai hubungan yang harmonis antara Sunni dan Syiah, Kiai Said yang menyelesaikan doktor di Universitas Ummul Qura Makkah ini menjelaskan, Mesir bisa menjadi contoh. Mesir dulu ada kelompok Syiah, Sunni, dan Kristen Ortodok. Mereka bisa hidup damai.

“Nggak pernah ada konflik mazhab. 10 raja dari Syiah di Mesir dari dinasti Fatimiyah. Yang membangun kota Kairo orang Syiah, yang membangun masjid Al Azhar juga orang Syiah,” tandasnya.

Sayangnya, Mesir kini sudah mulai ada yang terseret pada fanatisme kelompok seperti mulai adanya ISIS dan Al-Qaedah. [

Gus Dur & Mata Allah.

TANPA didampingi siapa pun, Gus Dur dan aku bertemu di warung nasi depan kampusku. Pakaian batik dan sarung membungkus tubuhnya, peci yang miring serta kacamata tebalnya melengkapi kediriannya. Dialog yang bagiku aneh pun terjadi. Aneh karena perbincangan kami kesana kemari, tak jelas arahnya.

Gus Dur :
"Sebenar apa pun tingkahmu, sebaik apapun prilaku hidupmu, kebencian dari manusia itu pasti ada. Jadi jangan terlalu diambil pusing. Terus saja jalan.!"

Mughni :
"Iya, Gus. Tapi.."

Gus Dur :
"Bagaimana tidak repot, hidupmu terlalu banyak 'tapi'.!"

Mughni :
"Hehehehe.."

Gus Dur :
"Apa kamu kenal Wa Totoh? Maksud saya KH. Totoh Ghozali."

Mughni :
"Disebut kenal ya tidak, tapi saya sering mendengar ceramah-ceramahnya di Radio."

Gus Dur :
"Belajarlah kamu kepadanya, bagaimana memurnikan tauhid masyarakat. Dia menggunakan bahasa lokal sebagai senjatanya, memakai humor cerdas tanpa hina dan caci."

Mughni :
"Baik, Gus, kalau itu perintah Panjenengan."

Gus Dur :
"Ini bukan perintah, ini memang sesuatu yang seharusnya kamu lakukan sebagai Da'I."

Mughni :
"Laksanakan."

Gus Dur :
"Kamu suka menulis?"

Mughni :
"Tidak, Gus, tulisan saya buruk sekali. Saya coba menulis puisi atau cerita pendek, tapi benar-benar buruk hasilnya."

Gus Dur :
"Rupanya kamu belum pernah dilukai seorang wanita, makanya tulisan kamu tidak bagus."

Mughni :
"Lha, Panjenengan tau darimana kalau saya belum pernah dilukai wanita?"

Gus Dur :
"Ya itu tadi, karya sastramu buruk sekali."

Mughni :
"Hmmmmm.."

Gus Dur :
"Kamu pernah pesantren?"

Mughni :
"Pernah, Gus."

Gus Dur :
"Dimana?"

Mughni :
"Di Al-Falah sama di Al-Musaddadiyah."

Gus Dur :
"Rupanya kamu Santri Kyai Syahid sama Kyai Musaddad."

Mughni :
"Iya."

Gus Dur :
"Saya juga sering bersilaturahmi ke beliau-beliau itu. Mereka salah satu penjaga Islam Ahlussunnah wal Jama'ah."

Mughni :
"Ketikajadi Santri, saya nakal sekali. Saya merasa malu kepada beliau-beliau itu, Gus."

Gus Dur :
"Saya beritahu kamu, kebaikan seorang Santri tidak dilihat ketika dia berada di Pondok, melainkan setelah dia menjadi alumni. Kamu tinggal buktikan hari ini, bahwa kamu adalah santri yang baik."

Mughni :
"Terima kasih, Gus."

Gus Dur :
"Dunia tanpa pesantren, bagi saya adalah siksa. Bersyukurlah karena kamu pernah menjadi bagian di dalamnya."

Mughni :
"Iya, Gus."

Gus Dur :
"Kamu mau tau rahasia hidup saya dalam memandang segala sesuatunya?"

Mughni :
"Tentu, Gus, saya ingin tau rahasia panjenengan."

Gus Dur :
"Dalam memandang segala sesuatu, gunakanlah 'mata' Allah."

Mughni :
"Waduh. Bagaimana contohnya?"

Gus Dur :
"Contohnya begini. Ketika saya didatangi banyak orang yang meminta perlindungan, apakah orang itu benar atau salah, saya terima semuanya dengan lapang dada. Karena apa? Saya selalu yakin, Allah lah yang menggerakan hati mereka untuk datang kepada saya. Jika saya tolak karena mereka bersalah, itu sama saja saya menolak kehendak Allah. Perlindungan saya kepada orang-orang yang disudutkan karena kesalahannya itu, bukanlah bentuk bahwa saya melindungi kesalahannya, tapi saya melindungi kemanusiaannya."

Mughni :
"Duh.."

Gus Dur :
"Lebih jauhnya begini. Jika kamu membenci orang karena dia tidak bisa membaca al-Qur'an, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi al-Qur'an. Jika kamu memusuhi orang yang berbeda Agama dengan kamu, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi Agama. Jika kamu menjauhi orang yang melanggar moral, berarti yang kamu pertuhankan bukan Allah, tapi moral. Pertuhankanlah Allah, bukan yang lainnya. Dan pembuktian bahwa kamu mempertuhankan Allah, kamu harus menerima semua makhluk. Karena begitulah Allah."

Mughni :
"Ya Allah.."

(Haul Gus Dur yang ke-6)
.
.

Dicuplik dari tausiyah Guru Niam Muiz

Dedi Mulyadi, Terjemahkan Nilai-nilai Tauhid

Jum'at, 08 Januari 2016

Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, mengatakan, keterputusan hubungan antara nilai ketuhanan dalam diri manusia mengakibatkan keanehan. Pada satu sisi masyarakat Indonesia berwajah religius, tetapi di pihak lain sangat jauh dari nilai-nilai ketuhanan.

“Ini akibat keterjebakan orang berpikir formal. Sarjananya formal, kerjanya formal, semua serba formal, sampai-sampai menghayati Tuhan pun sebatas formal fikih dengan ibadah formal. Jadi kalau Anda ingin punya jawaban mengapa orang Indonesia itu saleh dengan ibadah tetapi jahat dalam kehidupan, itu jawaban saya,” terangnya , Kamis 7/1/2015.

Akibat berpikir dan bertindak formal itu menurut Dedi, orang-orang tidak banyak menghasilkan kreasi-kreasi terobosan. Karena itulah mengapa ia sebagai bupati pun tidak sekadar ingin menjalankan formalitas.

“Saya penuhi kewajiban formalnya, tetapi tidak cukup berhenti di situ karena saya sebagai manusia punya tanggungjawab mengemban misi khalifah, kewajiban Tuhan di muka bumi dalam bidang-bidang yang saya mampu lakukan. Jabatan hanya salahsatu peran, bukan satu-satunya,” ujarnya.

Bupati nyentrik yang belakangan ini dicap sebagai Raja Musyrik oleh sekelompok orang itu melihat kenyataan, bahwa dunia informal yang penuh dinamika, memberikan banyak potensi dan keniscayaan manusia untuk berbuat banyak diabaikan.

“Serba formal dan lupa hal yang informal atau kultural itu menjebak manusia menjadi sempit. Nyari makan pun harus bekerja secara formal, padahal kalau mau kreatif, tidak perlu ada pengangguran. Tak ada pekerjaan mestinya menciptakan pekerjaan. Tanah, air, udara dan cahaya semua melapangkan kita untuk beraktivitas secara produktif mengemban semangat ilahiah,” ujarnya.

NILAI UNIVERSAL TUHAN

Menurut Dedi, selama ini orang lupa akan nilai-nilai universal Tuhan yang harus diperankan dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan menurut Dedi sering dianggap sesuatu, bahkan diberhalakan dalam pikiran, tak jarang liyan yang berbentuk lalu disembah. Hal itu menurutnya menjadi bagian dari pemberhalaan secara tak langsung dan menghambat kemampuan kreatif manusia sebagai khalifatullah fil ard.

Jika Tuhan dianggap universal dan bernilai transenden, Dedi percaya akan banyak praktik-praktik kemanusiaan yang berjalan di atas nilai-nilai ketuhanan dan usaha penegakan rule of law dalam bingkai keislaman dan keindonesiaan akan terwujud.

“Itulah kenapa saya selalu mencoba menerjemahkan nilai-nilai Tauhidiyah yang transenden dari Tuhan dalam kehidupan sehari-hari untuk kaidah berpolitik, untuk kaidah bernegara, untuk kaidah berbangsa, dan untuk kaidah berwarga. Sebab hanya dari situlah bangunan nilai kemanusiaan yang setara, berkepribadian, dan berkemandirian akan tercipta karena kita semua tunduk pada nilai ketuhanan,” jelasnya.- Anisa/Fti

Sumber : KataKini

Selasa, 05 Januari 2016

Diambang Keruntuhan Dinasti Saudi

Pasca eksekusi Hukuman Pancung terhadap seorang 'Ulama Syiah yg aktif mengkritisi pihak Kerajaan Saudi. Terjadi juga pemutusan hubungan Bilateral antar Negara se-Jazirah Arab dan pencabutan atas penempatan Kantor Kedubes. Hal itu berefek sangat cepat sedemikian rupa beriring dengan berbagai ungkapan dan kecaman terhadap tindak hukum yang di laksanakan Saudi. Parahnya Saudi seolah melempar boomerang bunuh dirinya sendiri. Karena kejadian itu di sebut-sebut dan di kabarkan menghasilkan respon yang panas dari semua kalangan Aktivis dan seluruh lapisan masyarakat di dunia. Terutama bagi Negara-negara Islam Syiah dan para pengikutnya. Ini sudah kesekian kalinya ulah Saudi yang membuat Iran, sebagai salah satu Negara Mayoritas Islam Syiah, naik pitam dan kembali melontarkan sikap tegas bahkan seruan laknat untuk para pelaku Hukuman Mati tersebut.

Pengamat dan Penganalisa di Tanah Air mulai menggambarkan situasi politik Timur Tengah yang terus memanas ini. Di balik usaha Kaum Intoleran Wahabi yang terus berupaya untuk mengobarkan Perpecahan antara Sunni-Syiah lewan fitnah-fitnah dan berita Hoax yang tak berhenti mengalir. Beberapa Pengamat Sosial Media seperti Deny Siregar, Ahmad Zain oul-Mottaqin, Surya Hamidi, Ardiyansyah, dll. Bahkan seorang Pengamat Hubungan Internasional terkenal seperti Dina Yoelianti Sulaeman, angkat bicara soal tindakan Saudi yang makin bertentangan dengan Hukum HAM Internasional.

Menariknya berbagai analisa-analisa mulai mencuat lagi pasca kejadian ini, mengenai Perang Dunia Ketiga yang disebut-sebut akan pecah di seluruh wilayah Asia ini. Perang 'Armagedon' atau Perang Akhir Zaman.

Tapi sikap Saudi yang terbilang konyol ini seperti tidak berarah. Karena pada kenyataannya, setelah pemutusan hubungan antara Saudi-Iran. Saudi harus membuat kanal perbatasan yang membentang sepanjang 950km dengan kedalaman 25m yang memanjang dari di sepanjang perbatasan Saudi hingga ke Yaman. Yang konon menurut Surya Hamidi akan menghabiskan dana sekitar 80miliyar USD.

Pengeluaran besar tersebut di perparah dengan kemungkinan sikap politik Iran yang akan menutup selat Hormuz yang menjadi jalur Laut yang aktif sebagai jantung perekonomian Laut bagi hampir seluruh Negara Arab, khususnya Negara Teluk.

Di tambah dengan sedang terjadinya Krisis Pertambangan yang tengah di alami Saudi di Negaranya. Konfrontasinya terhadap Yaman yang terbilang buang-buang waktu dan amunisi. Juga pembiayaan dan persenjataan terhadap ISIS, al-Qaeda dan seluruh jaringan teroris yang beeafiliasi dalam bendera Khilafah...??

Benarkah Perang Akhir Zaman itu akan terjadi....?

Saudi di Ambang Kehancuran.

Salam Penuh Maaf dan Doa.

Ridhwan. E Kulaniy

Minggu, 03 Januari 2016

Maulid dan Natal

Memasuki pergantian tahun,
Hari-hari perayaan terjadi secara beruntun.
Masih saja ada segilintir orang yg mulutnya penuh racun,
sok suci dan pintar dgn keyakinan mereka yang turun-menurun.
Janganlupa bahwa Indonesia adalah Negeri Rumpun,
sudah semestinya saling menghargai  hidup rukun.
Aku bangkit menantang manusia intoleran menjelang Natal,
mengibarkan bendera Perdamaian (Islam) dengan semangat Nusantara yang kental.
Wajah-wajah garang kaum intoleran itu bak coretan artefak kuno,
Kaku dan penuh dengan ekspresi emosional yang dongo.
Tenggelam dalam pemikiran teologi yang salah tafsir,
Fanatisme menjerat akal mereka menjadi makhluk pandir.
Makhluk zaman batu itu bernama kaum "Intoleran",
Menistakan perdamaian dan mendustakan persatuan.
Mereka kaum penyembah angan-angan,
tentang syurga yang mereka anggap hanya milik mereka yg jenggotan.
Hanya milik mereka yang bercadar, dan hanya milik mereka yang bertingkah sangar tak berakhlaq dan kasar.
Mereka menolak Pedoman Negeri ini,
mereka jelas anti-NKRI.
Mereka tolak Bhineka, mengigau tentang 'khilafah' yang mereka cipta.
Belakangan tingkah konyol mereka makin nyata,
Membelah Nusantara dengan berbagai sentimen yang mereka bina.
Mulai dari Sara,
caci maki penuh noda,
dan fitnah yang jauh dari fakta.
Mereka itu kaum pandir, yang teriak sana-sini dengan takbir,
bertindak slalu saja tanpa pikir.
Mereka hina kehormatan negara,
jatuhkan Merah-Putih dan menolak Pancasila.
Akal mereka yang primitif tak mampu memahami makna filosofis,
Karena mereka adalah kaum fanatis yang ekstrimis.
Sebagian dari mereka nampak Cinta Indonesia,
namun itu hanya jadi kamuflase belaka.
Untuk mencari suara,
Bahwa negeri ini pantas utk di jaga.
Sambil mengobral ideologi mereka yang super-gila,
Menjerat orang sana-sini untuk membuat makar di Nusantara.
Sebut aku si satir,
Karena aku senang menyindir.
Panggil aku Putra Padjajaran,
Karena darahku tercipta dari Tanah Pasundan.
Aku bukan Indo-Blasteran, juga bukan ke-Arab-an.
Selamat Menyambut Maulid Gusti Pangeran,
Selamat menyambut Natal Isya putra Maryam.

12 Hijriyyah / 24 Desember 2015

Jumat, 07 Agustus 2015

Syair Dusta

Aku menyusun frasa untuk memukau semua dialektika, yaa!
Ku buat penuh hikmah dalam makna,
Meski nyatanya aku ini dilema...

Menyelam ke lautan bebas,
Gali tiap pengetahuan tanpa batas...
Bentangkan analisa dengan tangkas,
Meraup ibrah dari setiap problema yg ku retas...
Aku seolah bersembunyi dari kenyataan,
Dengan berbagai ucapan yg ku lontarkan...
Dialektika panjang menebarkan alasan,
Semakin menutupi serentet permasalahan yg ku rasa sengaja ku lupakan...

Dusta.....
Ku rasa aku tengah berdusta,
Menipu diriku sendiri dengan seutas cita...
Yg nyatanya bukan mengantarkan aku pada tahta,
Namun malah menyusun skenario untuk menjatuhkan diri sendiri dengan dusta...
Bernaung dalam perjalanan panjang ini,
Memang membangun utamanya satu hal yg pasti...

Bagaimana tidak,
Aku tak mungkin mengelak...

Kesadaran itu layaknya rumput di pinggir pesawahan,
Tumbuh subur seiring bulir padi berjatuhan...
Seperti halnya hujan dan basah,
Keniscayaan ini membuatku terperangah...
Tertunduk dan bungkam tanpa rasa,
Pejamkan mata tuk akui segala nista...

Tak ada air mata,
Seolah mata ini curiga hati sedang berdusta...
Dosa tak lagi menjadi tanya,
Bahkan tak khawatir akan datangnya siksa...
Bukan karena aku tak percaya pada semua,
Melainkan aku terjebak dalam dilema...

Betapa aku ingin mengatakan pada diriku sendiri,
Celakalah kau dengan kedustaan ini...

Musibah menjadi hal pasti dalam khayal,
Bencana akan menimpa tak henti oleh sesal...

Hancurlah aku...
Musnahlah aku...
Dan sirnalah perjalananku...

Jangan anggap ini sebuah pengakuan yg mengharukan,
Penyair ini akan celaka tanpa iman...
Bisa jadi ini bagian dari cara menarik simpati,
Maka pantaslah aku mendapat caci dan maki...

Lemparilah aku dengan teguran,
Karena itu mungkin menyegarkan...
Hantam aku dengan kritikan,
Semoga hatiku terbentur lalu hancur berceceran...

Jika sampai di satu masa dan aku masih berdiri di jurang kelam ini,
Maka lucuti jiwaku dengan kejujuran yg murni...
Hukum aku.....

Rabu, 03 Juni 2015

Kamu

Perlahan ku urai satu persatu,
Berbagai gelisah yang selalu mengganggu...
Kan ku ungkap segala rancu,
Meski tiap wajah memandangku tabu...
Namun inilah massa dimana tiada lagi abu-abu,
Tiada hitam yang kan menutup cahya itu...

Masih tentang kegelisahan yang membuat semua seolah semu,
Semoga hadirmu jadi kelembutan yg luluhkan ragu...
Menjadi kepastian tentang adanya hari baru,
Dimana tiada lagi lara yang memecah asa jadi ambigu...

Kamu...
Seperti fajar yang selalu ku tunggu,
Lama ku terjaga menunggu waktu...
Membunuh malam ku duduk termangu,
Biasmu adalah sebersit harapan di langit biru...

Kelak di waktu yang kita tuju,
Kan terjawab tanyamu tentang sepi yg lama membiru...
Tentang gelisahku dan gelisahmu,
Yang kelak kan bertemu dan bertumpu...

Namun biarlah itu menjadi rahasia waktu,
Karena saat ini masih terasa tabu dan buntu...
Tinggal bagaimana kita mengolah dan meramu,
Biarkan rimba menuntun kita untuk menyatu...

Logika dan ritmenya kan menjadi bumbu,
Mengikat kasih cinta yang bersatu padu...
Saksinya adalah deru nafas yg menggebu,
Mungkin juga pijakkan langkah kita yang penuh debu...

Sejauh puncak-puncak yang kelak kan berlalu,
Terbentang juga dinamika yang berputar pada dinding rindu...
Coba pecahkan problema dalam bisu,
Bergantung pada sejauh mana kita memahami titik temu...

Biasa, seperti kisah-kisah lain yang juga pernah berlalu,
Kita kan alami masa-masa itu...
Jangan mencoba melawan waktu,
Biarkan kita bertemu dan berjalan di tepian dinding berbatu...
Menemui Cinta yang penuh haru,
Atau berujung dan kandas di jurang yang penuh dengan benalu...

Sejauh ini aku berharap mampu mengusir kelabu,
Dan mulai menjemput bahagia yang sering di dongengkan oleh Ibu...
Dan ku harap itu dirimu,
Yang kelak kan menunggu ku pulang di depan pintu...

Menyambut lelahku dengan senyum semanis madu,
Luluhkan lelah yang bertengger di bahu...
Menghapus penat dengan teduh tatapan sang ratu,
Yang malu-malu penuh rayu dan rindu...

Dalam syair ini ada harapan yang mengusik kalbu,
Dari sekian banyak yang datang dan berlalu hanya tinggalkan pilu...
Aku ingin berlabuh di relung jiwamu,
Menanam benih Cinta di dasar hati yang tlah lama semu...

Senin, 25 Mei 2015

Who is You...?

Jauh ku bentangi berbagai alibi,
Telusuri tiap tujuan yg ku miliki...
Dengan semua keindahannya yg tersendiri,
Harapan pencapaian yg membumi...

Kadang saking kuatnya emosi,
Persatu mimpi itu terlewati dari aksi...
Banyak yg berlalu tak terkendali,
Karena mustahil fokus ini tercabangi...

Bersama pancaran panas sang mentari,
Menyengat ubun-ubun dan memaksa ku untuk mengerti...
Bahwa sekalipun sketsaku mencapai tiap teori,
Namun tak cukup sepasang tungkai ini untuk menebus semua ambisi...

Setajam mataku memandang langit tak bertepi,
Seluas imaji mampu menangkap berbagai aksiden yg terjadi...
Ku dapati pudar menggarisi titik fokus mata ini,
Cermati dan pahami mengapa semua terasa sedilema ini...

Kalam Suci,
Petuah Ilahi yg tertuang dari jiwa suci...
Juga hikmah yg terkuak lewat setiap ilmu yg di pelajari,
Tentang diri... Ambisi, dan sebuah jalan yg jadi fokus untuk di geluti...

Inilah batas kesempurnaan makhluk bermateri,
Puncaknya adalah mencapai kesadaran diri...
Menembus ilusi dan raih berbagai potensi,
Lewat imaji, alibi dan berbagai pemikiran yg menguji naluri...

Sampailah dimana manusia mengenali potensi diri,
Tetapkan hati pada ruang yg ia kuasai...

#QueenBee

Selasa, 03 Maret 2015

SURAT PEMIMPIN BESAR REVOLUSI ISLAM IRAN, AYATULLAH SAYYID ALI KHAMANEI.Hfz kepada PEMUDA EROPA DAN AMERIKA UTARA

Atas nama Allah, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Untuk Pemuda di Eropa dan Amerika Utara.

Peristiwa baru-baru ini di Perancis dan insiden serupa di beberapa negara Barat lain membuat saya yakin untuk langsung berbicara pada kalian tentang hal tersebut.

Saya berbicara pada kalian (para pemuda), bukan berarti saya mengabaikan orang tua kalian tapi karena masa depan bangsa dan negara kalian berada di tangan kalian sendiri; dan saya juga menemukan bahwa semangat mencari kebenaran di hati kalian lebih hidup dan kuat.

Saya tidak berbicara pada politisi dan negarawan kalian dalam surat ini, karena saya yakin bahwa mereka dengan sadar telah memisahkan jalur politik dari jalan kejujuran dan kebenaran.

Pembicaraan saya dengan kalian tentang Islam, khususnya citra dan wajah Islam yang ditampilkan pada kalian. Sejak dua dekade lalu, kira-kira setelah kehancuran Uni Soviet, banyak usaha dilakukan untuk menempatkan agama besar ini pada posisi musuh yang menyeramkan. Provokasi rasa takut, kebencian dan penyalahgunaannya — sayangnya — punya catatan panjang dalam sejarah politik Barat.

Di sini, saya tidak akan membahas mengenai berbagai phobia yang hingga kini di indoktrinasi bangsa-bangsa Barat. Dengan tinjauan sepintas studi kritis terbaru tentang sejarah, kalian akan melihat fakta bahwa dalam penulisan sejarah baru, perilaku-perilaku tidak jujur dan munafik pemerintah-pemerintah Barat terhadap bangsa-bangsa dan budaya lain di dunia telah disensor dalam Historiografi baru. (Historiografi adalah ilmu yang mempelajari praktik ilmu sejarah, red).

Sejarah Amerika Serikat dan Eropa dipermalu dengan perbudakan, dipermalu dengan masa penjajahan dan dipermalu dengan penindasan orang-orang kulit berwarna dan non-Kristen. Para peneliti dan sejarawan kalian sangat merasa malu pada pertumpahan darah atas nama agama antara Katolik dan Protestan, atau atas nama kebangsaan dan etnis selama Perang Dunia Pertama dan Perang Dunia Kedua. Hal ini [rasa malu pada pertumpahan darah] dengan sendirinya layak dipuji, dan tujuan saya menyebutkan sebagian kecil dari daftar panjang ini bukan untuk mencela sejarah, namun saya minta kalian bertanya kepada para intelektual kalian mengapa hati nurani publik di Barat harus selalu terlambat selama beberapa puluh tahun dan terkadang satu abad untuk bangun dan sadar?

Mengapa revisi dalam kesadaran kolektif harus diarahkan ke masa laluyang jauh dan tidak ke arah persoalan sekarang ini?

Mengapa dalam isi-isu penting seperti perlakuan terhadap budaya dan pemikiran Islam untuk pembentukan kesadaran dan pengetahuan masyarakat, dicegah?

Kalian mengetahui dengan baik bahwa penghinaan, penyebaran kebencian dan ketakutan ilusi tentang “orang lain” telah menjadi dasar umum bagi semua pencari keuntungan dan penindas. Sekarang, saya ingin kalian bertanya pada diri kalian sendiri, kenapa kebijakan lama penyebaran “phobia” dan kebencian yang menargetkan Islam dan Muslim muncul dengan intensitas yang belum pernah terjadi sebelumnya?

Kenapa struktur kekuasaan di dunia saat ini ingin pemikiran Islam terpinggirkan dan pasif?

Apakah konsep dan nilai-nilai dalam Islam mengganggu berbagai agenda kekuatan-kekuatan besar dan apa kepentingan-kepentingannya dilindungi dalam bayangan pendistorsian citra Islam?

Oleh karena itu, saya mohon kalian bertanya dan mengeksplorasi tentang motivasi penodaan luas terhadap Islam.

Permintaan kedua saya — sebagai reaksi terhadap banjir prasangka dan kampanye negatif — coba kalian peroleh pengetahuan tentang agama ini secara langsung dan tanpa perantara. Logika yang tepat mensyaratkan bahwa setidaknya kalian memahami apa yang membuat kalian takut dan lari darinya. Saya tidak memaksa kalian harus menerima penafsiran saya atau interpretasi lain tentang Islam. Namun yang ingin saya katakan, jangan biarkan realitas-realitas dinamis dan efektif di dunia saat ini diperkenalkan pada kalian sebagai kepentingan dan tujuan-tujuan yang telah terkontaminasi. Jangan biarkan orang-orang munafik menggunakan para teroris yang mereka rekrut sebagai wakil Islam untuk memperkenalkan agama ini kepada kalian.

Kenalilah Islam dari sumber-sumber primer dan aslinya. Kenalilah Islam melalui al-Quran dan kehidupan Nabi Besar Muhammad aaw. Di sini, saya ingin bertanya apakah kalian hingga sekarang sudah membaca langsung al-Quran kaum Muslimin?

Apakah kalian sudah mempelajari ajaran Nabi Islam (Muhammad saw), doktrin kemanusiaan dan akhlaknya?

Selain media, apakah hingga sekarang kalian pernah menerima pesan Islam dari sumber lain?

Pernahkah kalian bertanya pada diri sendiri bagaimana dan atas dasar nilai-nilai apa selama berabad-abad Islam sudah mengembangkan peradaban ilmiah dan intelektual terbesar dunia serta membimbing para ilmuwan dan pemikir paling terkemuka?

Saya ingin kalian tidak membiarkan mereka menciptakan jurang emosional antara kalian dan realitas yang ada dengangambaran penghinaan dan ofensif serta menghilangkan kemungkinan penilaian netral kalian. Hari ini, media komunikasi sudah menghapus batas geografis. Karena itu, jangan biarkan mereka mengepung kalian dalam batas-batas palsu dan emosional. Meski tak seorangpun mampu memenuhi kesenjangan yang sudah diciptakan itu sendirian, namun masing-masing dari kalian dapat membangun jembatan pemikiran dan keadilan di atas kesenjangan itu untuk menerangi diri sendiri dan lingkungan di sekitar kalian.  Tantangan yang sudah direncanakan sebelumnya ini antara Islam dan kalian — wahai para pemuda — tidak diharapkan, namun hal ini bisa memicu pertanyaan-pertanyaan baru di benak kalian yang selalu penasaran dan bertanya-tanya.

Upaya menemukan jawaban pertanyaan-pertanyaan ini akan memberi kalian peluang tepat untuk menemukan kebenaran baru. Karena itu, jangan lewatkan kesempatan untuk mendapatkan pemahaman tepat, benar dan objektif tentang Islam. Semoga dengan rasa tanggung jawab terhadap kebenaran, generasi mendatang akan menulis sejarah interaksi antara Islam dan Barat saat ini dengan hati nurani lebih jernih dan kebencian yang minim.

Sayyid Ali Khamenei, 21 Januari 2015.

Sabtu, 21 Februari 2015

Asyura : Epik Cinta, Pengabdian dan Kesetian (2)

     Epik Imam Husein as, dikenal sebagai simbol konfrontasi kebenaran dengan kebatilan serta pengorbanan di jalan agama. Gerakan Imam Husein as bukan sekedar sebuah peristiwa, melainkan sebuah budaya yang hidup dan melahirkan berbagai gerakan baru. Sebuah budaya yang bangkit dari konteks Islam dan memainkan peran determinan dalam menjaga kelestarian nilai-nilai luhur agama. Yang pasti epik seperti ini, tidak akan pernah terhapus dari sejarah dan akan selalu menjadi motivasi dalam memerangi kezaliman bagi setiap generasi umat manusia.

      Pada hari kesepuluh bulan Muharram tahun 61 Hijriah, seruan adzan dikumandangkan oleh Ali Akbar, putra Imam Husein bin Ali as menandai subuh Asyura. Shalat ditunaikan. Seakan semua wujud mengikuti Husein as. Para sahabat pun menunaikan shalat penuh kecintaan mengikuti pemimpin mereka. Seusai shalat Subuh, para perindu syahadah itu bangkit. Seakan tidak satu pun di antara mereka yang merasa kehausan dan seakan tidak ada ancaman 30.000 pedang yang telah terhunus di seberang medan sana. Umar bin Saad, panglima pasukan musuh mengetahui bahwa Husein as dan para sahabatnya tidak akan menyerang dan telah siap berperan.

     Imam Husein as mengatur laskarnya yang hanya berjumlah puluhan dan menyerahkan panji kepada saudaranya yang setia Abbas bin Ali. Kemudian beliau maju ke depan dan memperkenalkan diri dengan harapan masih ada sekelumit kesadaran dalam hati pasukan musuh. Beliau berseru: "Wahai kaum, kitab Allah dan kakekku Rasulullah (Saw) yang akan memberikan keputusan di antara aku dan kalian. Wahai masyarakat, mengapa kalian menghalalkan darahku? Bukankah aku putra Nabi kalian? Apakah kalian tidak mendengar ucapan kakekku tentang diriku dan saudaraku yang mengatakan: Putraku Hasan dan Husein adalah pujangga para pemuda penghuni sorga?”

      Namun apa gunanya nasehat Imam Husein as, seakan hati mereka telah terkunci. Umar bin Saad menggerakkan pasukannya dan dengan suara keras dia berkata, “Saksikan wahai pasukan, katakan kepada penguasa Kufah bahwa aku adalah orang pertama yang melepaskan panah ke arah Husein.”

      Kemudian langit Karbala tertutupi dengan ribuan panah yang melesat ke arah pasukan Husein as. Kepada pasukannya Imam Husein as berkata, “Panah-panah ini adalah pesan perang. Bangkitlah, rahmat dan kasih sayang Allah (Swt) bersama kalian.”

      Para sahabat Imam Husein as berperang tanpa secuil rasa takut dan menampilkan cinta dan pengorbanan yang tak terbayangkan. Para sahabat saling berlomba mendahului untuk terjun ke medan perang. Mereka dengan penuh hormat meminta ijin dari Imam Husein as untuk terjun ke medan perang. Hati para sahabat telah diluapi kecintaan kepada Allah Swt dan Imam Husein as. Hakikat ini dapat disaksikan dengan jelas dalam pasukan Imam Husein as, bahwa para sahabat beliau terjun di medan pengorbanan dengan kesadaran, kecintaan dan keimanan penuh. Bagi Imam Husein as dan para sahabatnya, rasa sakit akibat kebodohan dan kejahilan masyarakat, lebih pedih dari luka pedang. Oleh karena itu, mereka berjuang bertekad melakukan tugas jihad terpenting yaitu memberantas kebodohan dalam pikiran masyarakat. Dalam sejarah Karbala disebutkan bahwa sebagian besar sahabat Imam Husein menyampaikan ucapan-ucapan bernilai tinggi untuk menyadarkan musuh. Di medan laga, para sahabat Imam Husein as melantunkan bait-bait syair epik memperkenalkan Imam Husein as dan keluarga Nabi, sebelum mereka menunjukkan heroisme di jantung barisan musuh. Ini menunjukkan bahwa musuh tidak berhenti berusaha merusak citra Ahlul Bait Nabi.

      Masing-masing sahabat Imam Husein as yang bergegas ke medan perang, mampu menggetarkan barisan musuh hanya dengan menunjukkan keagungan iman dan perjuangan mereka. Setelah itu mereka akan berperang dengan penuh keberanian hingga terjatuh dengan badan penuh luka. Imam Husein as mendatangi setiap sahabatnya di medan perang, menghibur mereka dan memuji kesetiaan mereka. Para sahabat yang tidak sanggup mengungkapkan kebahagiannya dengan pertemuan tersebut, akan menjawab seruan beliau dengan ucapan “labbaik ya Husein”.

      Para syuhada telah berjatuhan di medan perang, pasukan Imam Husein as hanya tinggal sangat sedikit. Imam Husein as memandang pasukan musuh dan berseru: “Apakah ada orang yang membantu kami demi Allah? Apakah ada orang yangmembela kehormatan Nabi dan menjauhkan kami dari musuh?”

      Sengat terik matahari padang Karbala merampas dahaga dan daya dari perkemahan Imam Husein. Anak-anak gelisah. Salah satu sahabat mengabarkan waktu shalat dzuhur. Imam Husein as menatap ke langit dan berkata, “Kau telah mengingat shalat; semoga Allah menempatkanmu di antara para penunai shalat. Iya telah tiba waktunya; mintalah mereka (musuh) untuk menangguhkan sejenak dan berhenti perang sehingga kita dapat shalat."

   Barisan shalat berjamaah telah tersusun. Jumlah jemaah shalat tidak mencapai 30 orang. Di cuaca panas Karbala dan di dalam kepungan tombak, pedang dan panah musuh, ditunaikan shalat dengan penuh kekhusyukan. Bukankah Imam Husein as berkata bahwa dia bangkit melawan demi menegakkan amr makruf dan nahi munkar? Shalat Imam Husein as dan para sahabat setianya mengindikasikan tujuan tersebut. Tiga sahabat Imam Husein as termasuk Said bin Abdullah, salah satu penjaga barisan shalat, telah menjadi perisai penuh dengan panah. Usai shalat, Said bin Abdullah telah berlumuran darah.

      Para sahabat telah pergi dan hanya para ksatria keluarga Imam Husein as dari Bani Hasyim yang tersisa. Ali Akbar, Abbas dan saudara-saudaranya, para putram Hasan bin Ali as dan putra-putra Aqil dan Zainab. Selama masih ada sahabat, Imam Husein as tidak mengijinkan seorang dari Bani Hasyim terjun ke medan perang. Sekarang adalah detik-detik perpisahan. Ali Akbar menyampaikan perpisahan dengan sang ayah menuju medan perang. Setelah itu, disusul Qasim bin Hasan, kemudian para putra Ali dan lainnya, sampai akhirnya sang pembawa panji laskar Imam Husein as yaitu Abbas bin Ali mengorbankan jiwanya.

     Sekarang hanya tinggal Husein bin Ali as, kesayangan Rasulullah Saw, terkepung musuh yang congkak dan hina. Imam Husein as untuk terakhir kalinya ingin menyempurnakan hujjah-nya kepada musuh. Beliau mengangkat putra bayinya yang kehausan Ali Asghar dan meminta air untuk anak tidak berdosa ini. Akan tetapi musuh menembakkan panah ke leher Ali Asghar. Imam Husein as dengan duka mendalam, memercikkan darah putranya ini ke langit dan memohon agar Allah Swt menerima pengorbanannya.

      Para sahabat dan keluarganya telah gugur syahid, Imam Husein as sendirian, namun berdiri tegak dan gagah di medan perang. Ke arah mana pun beliau bergegas, barisan musuh akan porak-poranda. Tidak ada yang berani bertarung menghadapi Imam Husein. as.

Umar bin Saad berteriak: “Sedang apa kalian? Ini adalah putra Ali, jiwa Ali ada di raganya, jangan kalian berduel dengannya.”

Setelah beberapa waktu berperang tidak imbang di padang yang panas menyengat dan dalam kondisi kehausan dan kelelahan, Imam Husein as terdesak. Beliau sejenak berdiri diam. Ketika itu salah seorang dari pasukan musuh melempar batu yang mengena dahi Imam Husein as hingga pecah dan mengucurkan darah. Aksi itu disusul dengan tembakan panah yang menusuk dada Imam Husein as dan beliau pun semakin bersimbah darah. Imam Husein as menengadahkan kepala ke langit dan berkata, “Ya Allah! Kau tahu pasukan ini, akan membunuh seseorang yang kecuali dia tidak ada lagi putra dari putri Nabi di muka bumi."

      Untuk beberapa saat Imam Husein as terbaring di atas tanah dengan badan penuh darah. Tidak ada yang berani mendekati beliau. Pada akhirnya, seorang dengan perangai kejam dan sadis mengayunkan pedangnya ke kepala Imam Husein as. Darah terpercik dari kepala beliau. Kemudian Imam Husein as dengan hati penuh kerinduan untuk segera bertemu dengan Allah Swt berkata: “Ya Allah! Aku ridho atas keridhoan-Mu dan berpasrah diri kepada-Mu. Wahai Tuhan yang akan mengadili seseorang sesuai dengan amalnya, adili antara aku dan masyarakat ini, karena Kau adalah sebaik-baiknya Hakim.”

Sanan bin Anas turun dari kudanya dan berdiri di atas Imam Husein as, kemudian mengayunkan pedangnya ke leher Imam Husein as. Langit pun gelap berkabut. Kebenaran telah tertancap di tombak. Husein as dengan bibir kehausan melantunkan ayat-ayat al-Quran dan epik Asyura pun mencapai puncaknya.

Salam Atasmu Wahai Sayyidusy-Syuhada.

Salam Atasmu Wahai  Para Syuhada Karbalaa.

Asyura : Epik Cinta, Pengabdian dan Kesetiaan (1).

      Gerakan Karbala sejak peristiwa historis besar ini terjadi lebih dari seribu tahun lalu hingga kini senantiasa menjadi sumber mata air yang jernih bagiorang-orang dahaga akan kebenaran. Tidak diragukan lagi spirit agung, motif dan tujuan mulia Asyura membawa khazanah kebudayaan yang kaya sekaligus menjadi inspirasi bagi gerakan besar dunia. Tujuh hari berlalu setelah Imam Husein dan pengikutnya memasuki tanah Karbala.  Tanggal sembilan Muharram tahun 61 Hijriah, blokade yang dilakukan pasukan musuh terhadap Imam Husein dan mengikutnya semakin ketat. Orang-orang Kufah menutup akses terhadap air bagi Imam Husein dan rombongannya di padang Karbala. Padahal di antar rombongan Imam Husein terdapat anak-anak dan balita. Tekanan ancaman pasukan Umar bin Sa'ad semakin besar terhadap Imam Husein dan pengikutnya  .Oleh karena itu, Imam Husein memerintahkan seluruh pengikutnya yang dikepung untuk siaga dengan keterbatasan perlengkapan perang seadanya yang mereka miliki.
      Abbas Bin Ali, saudara Imam Husein termasuk di antara pengikut Imam Husein yang paling kuat. Beliau senantiasa mendampingi Imam Husein. Beliau berada beberapa langkah di depan Imam Husein demi melindungi pemimpinnya itu dari ancaman serangan musuh. Pasukan Imam Husein bersiaga menghadapi serangan musuh. Di antara mereka terdapat para remaja. Para pengikut Imam Husein di padang Karbala adalah orang-orang yang berhati suci dan pencinta kebenaran. Diri mereka dipenuhi kecintaan yang sangat besar terhadap Imam Husein, yang datang ke Karbala untuk menegakkan agama Nabi Muhammad Saw yang mengalami penyimpangan oleh penguasa lalim Yazid bin Muawiyah.  Ketika itu suasana yang terlihat begitu kental dari para pengikut Imam Husein adalah persatuan dan solidaritas yang kokoh. Sebab, mereka diikat oleh Iman dan cinta ilahi.

      Karbala adalah manifestasi dari persatuan, persatuan dalam tujuan, persatuan dalam ucapan dan perilaku, serta persatuan dalam kepemimpinan yang menjadikan para pengikut Imam Husein senantiasa siap berkorban dan mengabdi demi kebenaran mekipun harus mati syahid.

      Sore hari tanggal 9 Muharram, Umar bin Saad dengan membawa 4.000 orang pasukan pemanah dan penombak bergerak ke arah perkemahan Imam Husein. Pasukan berkuda semakin mendekat. Imam Husein memanggil Abbas, "Saudaraku tunggangilah kuda, dan majulah mengikuti pikiran dan nuranimu !".

Lalu, Abbas menunggangi kuda dan bersama 18 orang pengikutnya mendekati pasukan musuh. Abbas menuju ke arah Umar bin Saad, setelah dekat ia berkata, "Apa yang terjadi dengan kalian, apa tujuan kalian berbuat seperti ini ?".

Umar Bin Saad menjawab pertanyaan Abbas bahwa dirinya diutus oleh penguasa Kufah, Abdullah bin Ziyad untuk mengambil baiat dari Imam Husein. Umar bin saad berkata, "Patuh atas perintah ini atau berperang!".

Abbas kembali menuju Imam Husein, dan menyampaikan apa yang ditelah dikemukakan oleh Umar Bin Saad. Imam Husein berkata,"Kembalilah, dan katakan kepada mereka beri waktu hingga besok. Biarkan malam ini aku bersama Tuhanku, shalat dan membaca al-Quran, sebab al-Quran, doa dan istighfar adalah yang terbaik bagi kehidupan kita"

      Di sela-sela ini, Habib bin Mazahir, salah seorang sahabat setia Imam Husein mengambil kesempatan ini untuk menasehati Umar bin Saad dan pasukan musuh. Habib bin Mazahir mengenalkan siapa sebenarnya Imam Husein yang memiliki kedudukan tinggi sebagai Ahlul Bait Rasulullah Saw, dan penghulu Ahli Surga sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw. Nasehat ini disampaikan Habib bin Mazahir untuk menyadarkan Umar bin Saad dan pasukannya, sehingga di antara mereka ada yang tergerak hatinya untuk sadar dan berbalik menerima kebenaran yang dibawa Imam Husein. Tapi tidak ada seorangpun yang menyambut seruannya.Imam Husein menyampaikan faktor penyebab mengapa Umar bin saad dan pasukannya tidak mau menerima kebenaran.

      Dalam sebuah khutbahnya, yang disampaikan di hadapan musuh, Imam Husein berkata, "Perut dan kantung-kantung saku kalian telah dipenuhi dengan suap dan barang-barang haram. Oleh karena itu, hati nurani dan telinga kalian telah tertutup, dan tidak ada seorangpun yang bisa menyadarkan diri kalian".

      Tanggal 9 Muharam, malam hari tiba. Imam Husein dan orang-orang yang bersamanya tengah sibuk beribadah shalat, berdoa dan bermunajat. Di sisi lain,pasukan musuh bersiap-siap untuk melakukan kejahatan anti kemanusiaan terburuk yang dicatat dalam sejarah. Mereka tertawa dengan pikiran yang dipenuhi segala macam khayalan tentang upah yang akan diterima ketika menyerang Imam Husein dan pasukannya dari Yazid dan penguasa Kufah waktu itu.

     Apakah mereka tidak tahu siapa Husein? Apakah empat ribu orang pasukan itu tidak temasuk orang yang pernah menulis surat kepada Imam Husein? Bukankah sebagian dari mereka pernah bertemu dengan Nabi Muhammad Saw, dan mendengar langsung dari Rasulullah yang bersabda, 'Husein adalah penghulu surga' ?

Tapi, harta, tahta dan kebodohan telah menjadikan mereka buta dan tuli untuk menerima kebenaran.

      Malam itu, dari kemah Imam Husein dan pengikutnya yang terdengar hanya suara munajat dan doa. Mereka tahu, malam itu adalah malam terakhir. Di antara pasukan Imam Husein ada Abbas bin Ali yang meninggalkan kemah karena bertugas menjaga kemah dari serangan musuh. Sesekali Abbas datang ke kemah untuk menenangkan anak-anak yang terbangun karena kehausan. Pada malam hari Tasua, Imam Husain mengumpulkan pengikut setia dan keluarganya. Imam Husein menyampaikan pidato di hadapan mereka, "Bismillahi rahmani rahim. Ya Allah, hanya Engkau-lah yang paling layak disembah. Aku bersyukur atas segala karunia-Nya, baik suka maupun duka. Aku bersyukur karena Engkau telah mengutus Rasul-Mu, mengajarkan al-Quran yang memperkaya kesadaran dan pemahamanku, sehingga mata dan hati dan telinga dirahmati-Mu,

Imam Husein menatap satu persatu para pengikut dan keluarganya, lalu beliau berkata “Aku tidak mengenal keluarga dan penolong yang lebih baik daripada kalian, dan karena besok adalah hari perang, maka aku tidak dapat menjamin kalian, aku menarik baiat dari kalian, oleh karenanya aku mengizinkan jikalau kalian akan memilih jalanmu di kegelapan malam dan pergilah,”.

Tapi mendengar perkataan Imam Husein ini, sahabat dan keluarganyasecara bergantian satu per satu berdiri menyatakan kesetiaannya kepada beliau.Mereka menegaskan komitmennya kepada baiat yang telah diberikan kepada pemimpinnya itu. Orang pertama yang melakukan hal itu adalah Abbas bin Ali. Putra Ali bin Abi Thalib ini berkata, "Pemimpinku, demi Allah, bagaimana mungkin kami hidup, jika engkau tiada. Celakalah aku jika berpikir demikian. Tidak, kita akan selalu bersama. Tanpamu malam yang indah menjadi getir".

Perkataan Abbas membangkitkan spirit pengorbanan di tengah pengikut Imam Husein lainnya. Kemudian para pemuda Ahlulbait menyatakan dukungannya dan akan selalu menyertai Imam Husain. Ketika itu, Imam Husain menoleh ke arah putra-putra Aqil dan berucap, “Wahai putra-putra Aqil! Cukuplah pengorbanan kalian dengan kematian Muslim, karena itu pergilah kalian, Aku mengizinkan kalian untuk pergi.”

Namun mereka menjawab,“Demi Tuhan! Aku tidak akan melakukan hal itu. Jiwa, hartadan keluarga kami menjadi tebusan bagimu, dan kami akan berperang bersamamu.”Para sahabat Imam Husein berkata, “Puji Tuhan, kami dikaruniai anugerah untuk menolongmu dan syahadah menjadi kemuliaan kami bersamamu. Wahai putra Rasulullah Saw! Apakah Anda tidak rela jika kami juga bersama denganmu berada dalam satu derajat di surga?”.

      Imam Sajjad meriwayatkan bahwa setelah orasi dan mendengarkan jawaban penuh semangat tersebut, Imam Husain pun mendoakan mereka. Pengorbanan pengikut Imam Husein dan keluarganya di Karbala lahir dari kecintaan ilahi. Kesyahidan Imam Husein dan pengikutnya di Karbala menjadi sejarah yang abadi hingga kini, karena ditulis dengan cinta, pengabdian dan kesetiaan.

Selasa, 17 Februari 2015

Indonesia dan Tradisi Jahiliyyah Part.2 (Kotak-Kotak)

        Bhinneka Tunggal Ika. Sebuah kata yang menjadi semboyan utama dari Negeri Kesatuan yang kita cintai ini. Dimana kita bersatu diatas sekian banyak perbedaan yang meliputi tanah, perairan, bahasa, budaya, adat istiadat, dll. Ibarat warna mungkin Negara ini adalah Pelangi yang berwarna – warni. Banyak Manfaat yang kita dapat akibat Persatuan yang terjadi di Nusantara. Salah satunya adalah memerdekakan Tanah Air dari Penjajah – penjajah di masa lampau. Juga kita mengenal Peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi Pilar Utama Persatuan dan Kesatuan Rakyat Indonesia di masa PraKemerdekaan.
        Jelas kita semua mengetahui betapa Persatuan dan Kesatuan amat berarti bagi Negeri dan Bangsa ini. Sumpah Pemuda adalah bukti otentik bahwa tanggal 28Oktober 1928 bangsa Indonesia dilahirkan. Oleh karena itu sudah seharusnya segenap rakyat Indonesia memperingati momentum 28 Oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia. Proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudian mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia asli, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945.
        Menarik tajuk diatas yang berbunyi “Kotak – Kotak”  artikel ini kembali menyajikan perbandingan dan analogi antara Beberapa Kejadian dalam Sejarah dan menyajikannya menjadi sebuah Permasalahan yang harus segera di sikapi dengan baik dan cermat. Judulnya pun masih sama seperti Pembahasan saya sebelumnya, yang mengusung Budaya Indonesia masa kini dengan tradisi Jahiliyah masa lampau yang berasal dari Tanah Arab. Sebelumnya saya sampaikan maaf jika dari artikel saya ini yg menyinggung Kebudayaan Lama Orang Arab dimasa Jahiliyah ataupun gaya Radikal beberapa Ormas yang ada di Indonesia. Saya hanya bermaksud mengenang Persatuan Bangsa ini dan berharap menemukkan kembali serat – serat Nasionalisme yang mulai kendur di antara Rakyat Indonesia.
        Mari kita cermati Latar Belakang terbentuknya Sumpah Pemuda pada 1928 silam. Sumpah Pemuda lahir dari hasil perkembangan Organisasi Budi Utomo yang melahirkan beberapa Organisasi Kepemudaan, seperti Tri Koro Darmo (Jong Java),  Jong Sumatranen Bond,  Jong Minahasa,  Jong Betawi, dan lain - lain.  Organisasi - organisasi itulah yang menjadi cikal bakal lahirnya Sumpah Pemuda. Untuk mewujudkan persatuan organisasi - organisasi tersebut, mereka kemudian melakukan pertemuan dalam rangka mencapai kata mufakat. Pada 15 November 1925, mereka mengadakan kongres pemuda untukmembentuk panitia pelaksanaan kesepakatan bersama. Kemudian, pada 30 April1926, organisasi - organisasi itu berkumpul dan membentuk rapat besar yang dikenal sebagai Kongres Pemuda I.


       Dua tahun setelah itu, pada 26 - 28 Oktober 1929, organisasi - organisasi pemuda, mahasiswa, dan partai politik, berkumpul kembali dalam Kongres Pemuda II, dengan agenda utama mempersatukan dan mengobarkan semangat perjuangan dalam diri masing - masing peserta. Pada hari ketiga kongres itulah Sumpah Pemuda dideklarasikan. Rumusan Sumpah Pemuda ditulis oleh Muhammad Yamin pada sebuah kertas, ketika Mr. Sunario sebagai utusan kepanduan tengah berpidato pada sesi terakhir kongres.Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo, dan kemudian dijelaskan panjanglebar oleh Muhammad Yamin. Pada hari itu, secara resmi Muhammad Yamin mengusulkan agar bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan Indonesia, dan di hari itu pula untuk pertama kalinya W.R. Supratman memperdengarkan lagu “Indonesia Raya” melalui gesekan biola yang diiringi alunan piano Dolly, putri Haji Agus Salim.
       Indahnya Indonesiaku, dengan Keberagaman Suku dan Budayanya bersatu padu menjadi Satu. Fakta yang saya ketahui mengenai Budaya Jahiliyah adalah, terbaginya Bangsa Arab menjadi banyak Kaum. Pastilah di dalam sebuah perpecahan ada permasalahan atau konflik yang menjadi pemicu perpecahan tersebut. Akankah Indonesia yang memiliki banyak suku ini akan berpecah kembali dan kehilangan Persatuannya selama ini? Realitanya sudah banyak konflik antar suku yang beberapa kali terjadi di Indonesia. Mulai yang di picu dari sengketa tanah, area kekuasaan,dsb.
       Beberapa media lokal baik media visual atau tertulis menggambarkan perpecahan – perpecahan yang kini terjadi. Bukan hanya mengenai suku dan Budaya, melainkan menjalar kearah Pemahaman dan sudut Pandat juga kearah Agama dan Keyakinan. Di bagian Kebudayaan semisal di Ibu Kota DKI Jakarta, ada FBR dan FORKABI yang terpecah. Di Maluku ada RMS, ada GAM di aceh dan ada OPM di Papua, dan lain sebagainya meliputi seluruh daerah Kepulauan NKRI. Di bagian Keagamaan di dalam Islam ada Nahdatul Ulama, Muhammadiyyah, Salafi, Ahlussunnah wal Jama’ah, Syiah, dll. Juga di dalam Agama Nasrani, ada Protestan, Khatolik, dsb. Belum lagi beberapa perselisihan dan konflik di antara satu Kelompok Masyarakat dengan Kelompok lain. Ironis….. Saya salah seorang Pemuda yang Seringkali kontradiksi dan kritis dalam menyikapi aksi – aksi yang terjadi pada beberapa Organisasi Masyarakat, terutama yang mengusung nama Budaya dan Keagamaan.
       Beruntungnya Tradisi Jahiliyyah pada zaman dahulu di Arab mengalami Perubahan dan Penghapusan dengan Datangnya Risalah Kenabian dari Rasullullah Muhammad. Sawa, yang membawa Perdamaian, Persatuan dan Cinta Kasih sesama Manusia. Bagaimanapun beberapa Pahlawan pun telah membawa Indonesia ke dalam Persatuan dan Cinta. Namun Kedamaiannya kini mulai hilang saat Cinta Tanah Air Pudar dan berganti dengan Cinta Diri dan Egoisme.

      

       Fakta dan Realita sudah terpampang, sulit memang menerima dan mempertimbangkan pada siapa kita harus memihak. Jawabannya adalah Sejauh mana anda mencintai Perdamaian dan Persatuan di Indonesia. Negeri ini berideologi Demokrasi bukan? Setiap Warga Negara Indonesia bebas memilih Keyakinannya dan bebas untuk berpendapat, selama apa yang di pilih dan di ungkapkan tidak bertentangan dengan isi dari Pembukaan UUD 1945. Begitukah?
       Selanjutnya Perkembangan dan Kelanjutan dari Negeri Tercinta kita ini ada pada kita semua, Generasi Penerus Bangsa dan para Orangtua juga peran para Pendidik di Sekolah yang menjadi ruang – ruang Eksklusif dalam menanamkan dan mengajarkan sikap, peilaku dan jati diri para Penerus Bangsa Kelak. Jangan sampai Indonesia menjadi semakin Jahiliyah dengan perpecahan – perpecahan yang kian berkesinambungan. Ingat! Kita satu dan tak bisa dipisahkan, memisahkan ataupunt erpisahkan.

Jawabannya adalah, Sejauh mana anda mencintai Perdamaian dan Persatuan di Indonesia, Negeri yang Kita Cintai ini!

Penuh Cinta dan Harapan.
RidhwanEndri. Y

Minggu, 04 Januari 2015

Perang Khandaq

Nama lain perang Khandak adalah perang Ahzab. Hal itu lantaran beberapa kelompok kaum musyrikin bergabung membentuk satu kekuatan tunggal untuk menyerang pasukan Rasulullah saw. Pada peristiwa perang ini, kaum muslimin betul-betul merasa khawatir dan diliputi rasa takut yang dahsyat. Faktor utamanya adalah karena pasukan musyrikin yang sangat kuat dan orang-orang Yahudi juga turut bergabung dengan mereka. Seluruh pasukan mereka berjumlah sepuluh ribu prajurit.

Sementara pasukan muslimin hanya
berjumlah tiga ribu prajurit saja. Ketika melukiskan sejauh mana rasa
takut yang dialami oleh kaum muslimin dalam peperangan ini, Al-Qur’an berfirman:

“Ketika mereka mendatangimu dari bagian atas dan bagian bawah kalian dan ketika mata-matamu terbelalak dan rasa takutmu sampai menembus hati.” (QS. al-Ahzâb [33]:10)

Pada perang ini, Allah telah memberikan kemenangan bagi Islam melalui tangan Ali bin Abi Thalib as. Dialah orang yang telah berhasil menghancurkan dan memporak-porandakan barisan kaum musyrikin.
Menggali Parit Ketika Nabi saw. mengetahui pasukan Quraisy dan Bani Ghathafân ingin melakukan serangan terhadap muslimin, ia saw. mengumpulkan para sahabat dan memberitahukan kepada mereka rencana musuh tersebut. Beliau.saw. meminta pendapat mereka masing-masing demi menghalau musuh Islam itu. Salman Al-Fârisî, salah seorang sahabat terkemuka, mengusulkan untuk menggali parit di sekitar kota Madinah.

Nabi saw. menyetujui pandangannya itu dan memerintahkan para sahabat untuk menggali parit. Ide tersebut merupakan taktik perang yang jitu untuk menyelamatkan pasukan
muslimin dari serangan musuh Islam.

Melihat parit digali di sekitar kota itu,
pasukan musuh bingung dan tidak memiliki jalan lain untuk melancarkan serangan terhadap muslimin. Dengan terpaksa, mereka hanya dapat menggunakan anak panah. Kaum muslimin pun menjawab serangan mereka dengan serangan yang sama. Saling-melempar anak panah pun terjadi antara kedua pasukan tersebut tanpa terjadi perangan terbuka di antara mereka.

Imam Ali as. Bertanding dengan ‘Amr Orang-orang kafir Quraisy merasa jengkel dengan kondisi perang semacam ini. Karena hal itu tidak memberi kemenangan kepada mereka. Mereka berusaha mencari ukuran lebar parit yang agak sempit agar kuda-kuda mereka dapat melompati dan menyeberangi parit. Di tengah-tengah mereka terlihat ‘Amr bin Abdi Wud. Dia adalah ksatria Quraisy dan penunggang kuda Kinânah yang tangguh pada masa jahiliah.

‘Amr menggenggam pedang. Ia laksana benteng kokoh. Ia menaiki kudanya dengan penuh bangga dan congkak. Dengan segenap kekuatan ia dapat melompati parit. Kaum muslimin yang menyaksikan hal itu merasa ciut, kerdil, dan gemetar. ‘Amr maju menghadap mereka dengan perlahan tapi pasti. Dengan suara yang lantang dan penuh penghinaan ia berkata: "Hai prajurit Muhammad, adakah yang berani melawanku?”
Hati kaum muslimin bak tercabut dari tempatnya. Mereka diliputi rasa takut. Untuk kedua kalinya ‘Amr angkat suara: “Adakah yang berani
melawanku?”
Tak seorang pun berani menjawab. Tetapi pejuang Islam, Imam Amirul Mukminin as. menjawab: “Aku yang melawannya, ya Rasulullah.”

Rasulullah saw. merasa khawatir atas keselamatan putra pamannya itu. Ia berkata: “Ketahuilah, dia adalah ‘Amr!”
Imam Ali as. menaati perintah Rasulullah saw. dan segera duduk kembali. Kembali ‘Amr mengejek kaum muslimin dan berkata: “Hai para sahabat Muhammad, mana surga yang kalian duga akan memasukinya jika kalian terbunuh? Siapakah di antara kalian yang menginginkannya?”

Pasukan muslimin membisu seribu bahasa. Imam Ali as. tetap memaksa Nabi saw. agar memberi izin untuk melawannya. Tak ada lagi alasan bagi Nabi untuk menolak desakan Ali as. Nabi saw. menetapkan sebuah
predikat bagi Ali as. sebagai tanda keagungan dan kehormatan. Beliau saw. bersabda: “Seluruh iman telah keluar untuk menentang seluruh kekufuran.”

Sungguh betapa predikat kehormatan yang kekal abadi dan bersinar bak matahari. Rasulullah saw. telah memberikan predikat “seluruh imam dan Islam” bagi Abul Husain dan predikat “seluruh kekufuran” bagi ‘Amr.

Setelah itu Nabi saw. mengangkat kedua tangan seraya memanjatkan doa dan harapan kepada Allah swt. agar menjaga putra pamannya itu. Beliau.Saw. berkata: “Ya Allah, Engkau telah mengambil Hamzah dariku di perang Uhud dan mengambil ‘Ubaidah di perang Badar. Maka jagalah Ali pada hari ini. Wahai tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku sendirian. Sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pewaris.”

Ali as. maju menyerang dengan penuh semangat. Ia tidak merasa takut dan gentar sedikitpun terhadap ‘Amr bin Abdi Wud. Ia bangkit dengan tekad yang kokoh membaja bak ksatria yang tak ada bandingannya. ‘Amr terkejut dengan pemuda yang berani maju untuk melawan dan tak gentar.

‘Amr bertanya: “Siapa kamu?”

Imam Ali menjawab dengan meremehkannya: “Aku adalah Ali bin
Abi Thalib.”

‘Amr menampakkan rasa kasihan kepadanya seraya berkata: “Dahulu, ayahmu adalah teman baikku.”

Imam Ali as. tidak bergeming sedikit pun dengan celotehan ‘Amr itu. Ia malah menjawab: “Hai ‘Amr, engkau telah berjanji kepada kaummu bahwa tidak seorang pun dari Quraisy yang mengajakmu kepada tiga karakter melainkan engkau pasti
menerimanya?”

‘Amr menjawab: “Ya, itulah janjiku.”

Ali as. berkata: “Aku mengajakmu kepada Islam.”

‘Amr tertawa seraya berkata kepada
Imam Ali sembari menghina: “Jadi, aku harus meninggalkan agama nenek moyangku? Jangan usik masalah ini!”

Ali as. berkata: “Aku akan menahan tanganku untuk membunuhmu, dan engkau bebas kembali.”

Mendengar ucapan lancang itu, ‘Amr marah dan berkata: “Jika begitu, bangsa Arab pasti membincangkan
kepengecutanku.”

Imam Ali as. melontarkan tawaran ketiga yang ‘Amr sendiri telah berjanji untuk menerimanya. Imam Ali berkata: "Kalau begitu, aku mengajakmu duel.”

‘Amr sangat terkejut dengan keberanian pemuda yang telah berani menantang dan menginjak-injak kehormatannya. ‘Amr turun dari
kudanya dan dengan cepat melayangkan pedangnya ke arah leher Imam Ali as. Imam menangkis
serangannya dengan prisai. Tetapi pedang ‘Amr dapat menembus ke
bagian kepala Imam Ali as. dan menciderainya. Muslimin yakin bahwa Imam Ali as. telah menjumpai ajal.

Tetapi Allah swt. menolong dan menjaganya. Imam Ali as. kembali menyerang ‘Amr dengan pedang hingga ia roboh. Ksatria Quraisy dan simbol kemusyrikan itu jatuh tersungkur di atas tanah dengan berlumuran darah seperti seekor sapi yang disembelih berlumuran darah. Imam Ali as. mengucapkan takbir yang diikuti oleh pasukan muslimin. Tulang 0unggung kemusyrikan telah runtu dan kekuatannya telah lumpuh.

Sementara Islam telah menggapai kemenangan yang gemilang melalui kegagahan Imam Al-Muttaqîn as. Sekali lagi Nabi saw. menghadiahkan predikat agung kepada Imam Ali as. di sepanjang sejarah. Ia bersabda:
“Sesungguhnya pertempuran Ali bin Abi Thalib atas ‘Amr bin Abdi Wud pada perang Khandak adalah lebih utama daripada amal umatku hingga
Hari Kiamat.”

Salah seorang sahabat Nabi saw. yan bernama Hudzaifah bin Al-Yaman berkata: “Seandainya keutamaan Ali. as. dengan membunuh ‘Amr pada perang Khandak itu dibagi-bagikan kepada seluruh kaum muslimin, niscaya keutamaan itu akan mencukupi mereka.”

Kemudian turun ayat kepada Rasulullah saw.:.”.. dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan (dengan memberikan kemenangan kepada mereka) ….” (QS. Al-Ahzâb [33]:25)

Tentang tafsir ayat ini Ibn Abbâs
berkata: “Sesungguhnya Allah mencukupkan kaum mukminin dengan pertempuran Ali as.”
Di samping itu, Imam Ali as. juga berhasil membunuh seorang prajurit Quraisy lainnya yang bernama Naufal bin Abdullah. Dengan demikian, Quraisy mengalami kekalahan yang telak. Ketika itu Rasulullah saw. bersabda: “Kini kita telah mengalahkan mereka, dan mereka tidak akan mampu mengalahkan kita.”

Akhirnya, pasukan kafir Quraisy mengalami kerugian dan kegagalan yang fatal. Sebaliknya, muslimin tidak mengalami kekalahan sedikit pun dalam peperangan ini.

Minggu, 14 Desember 2014

Keajaiban yg Terjadi Setelah Imam Husein.as terbunuh

“Ketika Al-Husain as terbunuh, di sudut-sudut
langit terlihat warna-warna kemerahan. Warna
merah itu menandakan bahwa langit tengah
menangis. Sewaktu pasukan musuh membagi-
bagikan sejenis tumbuhan berwarna kuning milik
Al-Husain as, tumbuhan itu berubah menjadi
abu. Dan sewaktu mereka menyembelih seekor
unta yang dirampas dari kemah Al-Husain as,
mereka menemukan sejenis kayu di
dagingnya” (Maqtalu Al-Husain 2 hal. 90,
Tarikhu Al-Islam 2 hal. 348, Siyaru A’lami Al-
Nubala’ 3 hal. 311, Tafsir Ibnu Katsir 9 hal. 162,
Tahdzibu Al-Tahdzib 2 hal. 353, Tarikhu
Dimasyq 4 hal. 339, Al-Mahasinu wa Al-Masawi
hal. 62, Tarikhu Al-Khulafa’ hal. 80 dan Ihqaqu
Al-Haq 11 hal. 467-469).
“Kepala suci Al-Husain as. yang berada di ujung
tombak berbicara dengan membawakan ayat-
ayat suci Al-Quran dan lainnya” (Miftahu Al-Naja
fi Manaqib Aali Al-’Aba hal. 145, Al-Khashaishu
Al-Kubra 2 hal. 127, Al-Kawakibu Al-Durruiyyah
hal. 57, Is’afu Al-Raghibin hal. 218, Nuuru Al-
Abshar hal. 125, dan Ihqaqu Al-Haq 11 hal.
452-453).
“Pada hari Al-Husain as terbunuh, langit
meneteskan hujan darah sehingga semua orang
pada keesokan harinya mendapati apa yang
mereka miliki telah dipenuhi oleh darah. Darah
itu membekas pada baju-baju mereka beberapa
waktu lamanya, hingga akhirnya terkoyak-koyak.
Warna merah darah terlihat di langit pada hari
itu. Peristiwa tersebut hanya pernah terjadi saat
itu saja” (Maqtalu Al-Husain 2 hal. 89, Dzakhairu
Al-’Uqba hal. 144, 145 dan 150, Tarikh Dimasyq
-seperti yang disebutkan di muntakhab
(ringkasan)-nya- 4 hal. 339, Al-Shawaiqu Al-
Muhriqah hal. 116 dan 192, Al-Khashaishu Al-
Kubra hal. 126, Wasilatu Al-Maal hal. 197,
Yanabi’u Al-Mawaddah hal. 320 dan 356, Nuuru
Al-Abshar hal. 123, Al-Ithaf bi Hubbi Al-Asyraf
hal. 12, Tarikhu Al-Islam 2 hal 349, Tadzkiratu
Al-Khawash hal. 284, Nadzmu Durari Al-
Simthain hal. 220 dan Ihqaqu Al-Haq 11 hal.
458-462).
“Ketika kepala Al-Husain as dibawa ke istana
Ubaidillah bin Ziyad, orang ramai melihat
dinding-dinding mengalirkan darah
segar” (Dzakahiru Al-’Uqba hal. 144, Tarikhu
Dimasyq seperti yang disebutkan dalam
muntakhab-nya 4 hal. 339, Al-Shawaiqu Al-
Muhriqah hal. 192, Wasilatu Al-Maal hal. 197,
Yanabi’u Al-Mawaddah hal. 322, dan Ihqaqu Al-
Haq 11 hal. 463).
“Di dinding sebuah gereja tertulis: Apakah umat
yang membantai Al-Husain mengharapkan
syafaat kakeknya di hari kiamat. Ketika pendeta
yang berada di sana ditanya tentang tulisan
tersebut dan siapakah yang menulisnya, ia
menjawab, “Bait syair ini telah tertulis di sini
sejak lima ratus tahun sebelum nabi kalian
diutus.” (Tarikhu Al-Islam wa Al-Rijal hal. 386,
Al-Akhbaru Al-Thiwal hal. 109, Hayatu Al-
Hayawan 1 hal. 60, Nuuru Al-Abshar hal. 122,
Kifayatu Al-Thalib hal. 290 dan Ihqaqu Al-Haq
11 hal. 567-568.
“Seorang penduduk Najran saat menggali tanah
menemukan sebuah kepingan emas yang
bertuliskan: Apakah umat yang telah membantai
Al-Husain mengharapkan syafaat kakeknya di
hari kiamat” (Miftahu Al-Naja hal. 135, Ihqaqu
Al-Haq 11 hal. 566).
“Sebuah tembok merekah lalu muncullah sebuah
telapak tangan yang bertuliskan: Apakah umat
yang telah membantai Al-Husain mengharapkan
syafaat kakeknya di hari kiamat.” (Tarikhu Al-
Khamis 2 hal. 299 dan Ihqaqu Al-Haq 11 hal.
567). “Sesaat setelah Al-Husain as terbunuh,
warna langit menghitam pekat sekali. Lalu
bintang-bintang bermunculan di siang hari,
sampai-sampai bintang kembar terlihat di waktu
sore. Segumpal tanah berwarna merah jatuh dari
atas. Langit terlihat berwarna merah bagai darah
selama tujuh hari tujuh malam” (Tarikhu
Dimasyq 4 hal. 339 dan Al-Shawaiqu Al-
Muhriqah hal. 116).
Http://donhasan.blogspot.com/2014/10/sejumlah-keajaiban-setelah-imam-husain.html?m=1

Sabtu, 13 Desember 2014

Duduk di Peraduan

Di serbu ketenangan malam ini,
di bawa ku tenggelam dalam Istikharah yg penuh imaji.....
Rasanya tak ada waktu lagi utk menunda,
berhentilah naluri dari getar dunia yg menggoda .....

Ku terduduk di bawah temaram lampu ruang sepi,
menyapa malakut tuk mengungkap dimensi yg tak bertepi.....

Merdu.....
Syahdu.....
Mengajak ku semakin dalam,
curahkan cinta yg terpendam,
pancarkan harapan yg terekam.....

Sore hari menjadi begitu hampa,
Siang dan malam nyanyian ku hanyalah harapan dan doa.....

Ijabah merekam retina,
Kesungguhan berkilau oleh bias cahaya bola mata.....

Cinta tak menghadirkan gundah,
Cinta tak membuat gelisah.....

Karena Cinta penuh kepastian,
dan Cinta adalah Luapan harapan dan Keyakinan.....

Di Mihrab ku Pasrahkan,
memohon ku lakukan, mengemis pun ku lakukan.....

Aku butuhkan Cahaya yg membuka kebodohan,
mengusir kegelisahan dan menghapus semua keresahan.....

Aku butuhkan Sentuhan,
Sentuhan yg menyadarkan ku dari keterpurukan,
menunjukkan aku jalan utk pulang dalam pelukan.....

Menjalani Cinta yg Murni di peraduan.....

Ooh Tuanku,
Pelipur Lara.....
Penghapus dosa dan nista.....
Penolong dalam duka dan nestapa.....
Pengobat rindu di kala hati membeku.....

Terimalah aku yg tersungkur di teras-Mu.....
Izinkan aku masuk dalam Naungan Rumah Cinta yg Mulia.....