Tampilkan postingan dengan label Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hati. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Februari 2016

Hakimi Diri

Andai ini zaman Qais yang disebut Majnun,
Mungkin aku akan berlaku gila di tengah rumpun...
Sayangnya ini era modern yang penuh gengsi,
Membuat aku harus bergelut debu harta duniawi...

Seorang sufi yang kehilangan guru,
Meraba suluk tuk mencapai sumbu...
Sembunyikan harapan dan rindu,
Karena indahnya sering terbentur oleh kelabu...

Terhuyung menjejaki medan juang,
Berharap temukan pekerjaan tuk meraup uang...
Andalkan tubuh muda tuk melawan dunia,
Waktu berlalu tanpa bisa mengerti keadaannya...

Tanpa seperangkat perkakas kayu,
Atau mungkin kaca mata dan buku-buku tebal catatan ilmu...
Hanya seorang yang menggila tanya,
Dimana tempat ia bisa bernanung dari nestapa...

Lemah dirinya menggugat setiap problema,
Lambat langkahnya mengejar cita tuk menderma...
Terseok menyisir tanah yang becek dan kotor,
Berbekal pakaian lusuh yang kerahnya mulai molor...

Ingin ku tatap wajah malam sang Rembulan,
Tapi ku takut cahyanya pudar dalam lautan...
Ingin ku nikmati fajar di ufuk timur,
Namun aku kan terlihat dengan jari-jari kaki yang penuh jamur...

Rembulan dan Fajar tahu,
Bahkan Gemintang pun menguping kisah si pemuda pilu...
Cahaya itu hampir tiap hari melengkapi hari,
Tak ada terkecuali cela dan hinanya diri di temui...

Meringkuk di balik reruntuhan bangunan tak berpenghuni,
Siang masih memenjaraku dalam gemetarnya tubuh ini...
Tersungkur di tanah becek yang terus terhujani,
Aku memendam Cinta dengan ratapan pilu di tengah badai yang menghakimi...

Kamis, 21 Januari 2016

Pengembara Pemikiran [4] Kausalitas (Sebab-Akibat)

Dalam teori dan kajian Ilmiah, kita mengenal Hukum Realitas. Yang diantaranya adalah Hukum Kausalitas atau yang lebih disebut sebagai hukum Sebab-Akibat.

Hukum ini menjadi cabang kajian yang paling sering dan paling dasar dalam Filsafat. Tujuannya untuk merangsang pemikiran (akal) manusia untuk menanamkan nilai-nilai Rasional dalam kehidupan.

Penjelasan mengenai Kausalitas ini gak serumit namanya. Ia lebih seperti cara kita memahami sebuah proses dalam satu kejadian atau satu aksiden.

Tapi dalam pembahasan lebih lanjut terkait pencapaian Realitas Diri (nanti akan kita bahas), Hukum Kausalitas di bahas lebih mendalam dan lebih objektif.

Sehingga membutuhkan pemahaman yang terbuka (universal) mengenai banyak hal. Begitu juga mengenai Takdir, Kehidupan, dan Fitrah. Ini yang selanjutnya akan kita bahas bersama.

Contoh singkatnya adalah Hidup dan Mati. Hidup adalah sebab dan Mati adalah Akibatnya. Semua makhluk mengalami proses hidup, tapi adakah yang tidak mengalami Proses Mati...?

Tentu jawabannya tidak ada. Karena itu adalah Realitas yang mesti dan harus terjadi atau di alami makhluk. Yang kekal hanyalah Allah. Swt. Setuju...?

Begitu juga dengan hal lainnya, olahraga dan sehat, usaha dan hasil, dll. Ini lebih seperti proses ilmiah dalam menanam pohon. Ketika kita menanam pohon Jambu Air, pasti yang akan tumbuh (buahnya) adalah Buah Jambu Air. Bukan Jambu Biji...?? Ya kan...?

Sebelumnya saya gak ada maksud menggurui siapapun, dan nggak ada tujuan pribadi apapun (tedheng aling-aling). Saya cuma mengisi kekosongan aja, dan seneng nulis. Jadi sengaja saya tulis di blog supaya paling nggak bisa memberi manfaat buat oranglain. Dan utamanya bisa jadi pengingat buat diri saya pribadi, karena saya suka baca juga.

Tujuannya tentu, agar kita dapat mengenali Diri, membentuk Jati diri dan mencapai Realitas Diri kita sendiri.

Salam Penuh Maaf dan Doa...~~

Jumat, 08 Januari 2016

Gus Dur & Mata Allah.

TANPA didampingi siapa pun, Gus Dur dan aku bertemu di warung nasi depan kampusku. Pakaian batik dan sarung membungkus tubuhnya, peci yang miring serta kacamata tebalnya melengkapi kediriannya. Dialog yang bagiku aneh pun terjadi. Aneh karena perbincangan kami kesana kemari, tak jelas arahnya.

Gus Dur :
"Sebenar apa pun tingkahmu, sebaik apapun prilaku hidupmu, kebencian dari manusia itu pasti ada. Jadi jangan terlalu diambil pusing. Terus saja jalan.!"

Mughni :
"Iya, Gus. Tapi.."

Gus Dur :
"Bagaimana tidak repot, hidupmu terlalu banyak 'tapi'.!"

Mughni :
"Hehehehe.."

Gus Dur :
"Apa kamu kenal Wa Totoh? Maksud saya KH. Totoh Ghozali."

Mughni :
"Disebut kenal ya tidak, tapi saya sering mendengar ceramah-ceramahnya di Radio."

Gus Dur :
"Belajarlah kamu kepadanya, bagaimana memurnikan tauhid masyarakat. Dia menggunakan bahasa lokal sebagai senjatanya, memakai humor cerdas tanpa hina dan caci."

Mughni :
"Baik, Gus, kalau itu perintah Panjenengan."

Gus Dur :
"Ini bukan perintah, ini memang sesuatu yang seharusnya kamu lakukan sebagai Da'I."

Mughni :
"Laksanakan."

Gus Dur :
"Kamu suka menulis?"

Mughni :
"Tidak, Gus, tulisan saya buruk sekali. Saya coba menulis puisi atau cerita pendek, tapi benar-benar buruk hasilnya."

Gus Dur :
"Rupanya kamu belum pernah dilukai seorang wanita, makanya tulisan kamu tidak bagus."

Mughni :
"Lha, Panjenengan tau darimana kalau saya belum pernah dilukai wanita?"

Gus Dur :
"Ya itu tadi, karya sastramu buruk sekali."

Mughni :
"Hmmmmm.."

Gus Dur :
"Kamu pernah pesantren?"

Mughni :
"Pernah, Gus."

Gus Dur :
"Dimana?"

Mughni :
"Di Al-Falah sama di Al-Musaddadiyah."

Gus Dur :
"Rupanya kamu Santri Kyai Syahid sama Kyai Musaddad."

Mughni :
"Iya."

Gus Dur :
"Saya juga sering bersilaturahmi ke beliau-beliau itu. Mereka salah satu penjaga Islam Ahlussunnah wal Jama'ah."

Mughni :
"Ketikajadi Santri, saya nakal sekali. Saya merasa malu kepada beliau-beliau itu, Gus."

Gus Dur :
"Saya beritahu kamu, kebaikan seorang Santri tidak dilihat ketika dia berada di Pondok, melainkan setelah dia menjadi alumni. Kamu tinggal buktikan hari ini, bahwa kamu adalah santri yang baik."

Mughni :
"Terima kasih, Gus."

Gus Dur :
"Dunia tanpa pesantren, bagi saya adalah siksa. Bersyukurlah karena kamu pernah menjadi bagian di dalamnya."

Mughni :
"Iya, Gus."

Gus Dur :
"Kamu mau tau rahasia hidup saya dalam memandang segala sesuatunya?"

Mughni :
"Tentu, Gus, saya ingin tau rahasia panjenengan."

Gus Dur :
"Dalam memandang segala sesuatu, gunakanlah 'mata' Allah."

Mughni :
"Waduh. Bagaimana contohnya?"

Gus Dur :
"Contohnya begini. Ketika saya didatangi banyak orang yang meminta perlindungan, apakah orang itu benar atau salah, saya terima semuanya dengan lapang dada. Karena apa? Saya selalu yakin, Allah lah yang menggerakan hati mereka untuk datang kepada saya. Jika saya tolak karena mereka bersalah, itu sama saja saya menolak kehendak Allah. Perlindungan saya kepada orang-orang yang disudutkan karena kesalahannya itu, bukanlah bentuk bahwa saya melindungi kesalahannya, tapi saya melindungi kemanusiaannya."

Mughni :
"Duh.."

Gus Dur :
"Lebih jauhnya begini. Jika kamu membenci orang karena dia tidak bisa membaca al-Qur'an, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi al-Qur'an. Jika kamu memusuhi orang yang berbeda Agama dengan kamu, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi Agama. Jika kamu menjauhi orang yang melanggar moral, berarti yang kamu pertuhankan bukan Allah, tapi moral. Pertuhankanlah Allah, bukan yang lainnya. Dan pembuktian bahwa kamu mempertuhankan Allah, kamu harus menerima semua makhluk. Karena begitulah Allah."

Mughni :
"Ya Allah.."

(Haul Gus Dur yang ke-6)
.
.

Dicuplik dari tausiyah Guru Niam Muiz

Minggu, 03 Januari 2016

Karat [5]

Jahiliyah,
Kehidupan Pra-Islam Jazirah Arabia. Alasan utama,
Sang Nabi diutus ke dunia.
Di Indonesia,
Sifat rakyatnya itu ramah tamah,
Lemah lembut & jg penuh kasih.
Demikian membuat Negri ini dihormati,
Bahkan ditakuti karna persatuan dan kesatuan rakyatnya yg penuh toleransi.
Ada teori yg terspekulasi,
Mengenai silsilah dan darah sang Nabi.
Dimana inti ajaran beliau yg mengarah pada akhlaq mulia,
melekat pd diri orang Indonesia (terkhusus Jawa dan Sunda).
Teori yg luarbiasa,
meraih banyak komentar dan kritik beragam rupa.
Menariknya,
Indonesia sbg benar satu Negara dgn jumlah penduduk Muslim terbanyak dunia.
Memang sdh menerapkan nilai-nilai akhlaq,
moral & spiritual yg kental,
jauh sebelum Islam dikenal.
Maka dalam bahasan lain ada sebuah alibi lagi,
Kenapa di Negri ini tdk diutus/didapati seorang Nabi..?
Mungkin karna Negri ini adalah tanah Surgawi.
Jadi yang diutus bukan seorang Nabi,
Japi sekelompok Iblis yg di samari,
Untuk membuktikan benar bahwa bangsa ini patut dipuji dan teruji.
Spekulasi apapun,
Begitu pula berbagai jawaban yg terhimpun.
Adalah sebuah Mahakarya Tuhan Yg Kuasa,
lewat pemikiran manusia,
Sebagai sarana mengasah akalnya.
Selama hal itu tdk melanggar undang-undang Negara,
Dan jga Hak Asasi Manusia.
Ini bukan artikel penistaan agama,
hanya ocehan bocah pendosa yg tengah gembira.
Karena Tuhan memberinya kemampuan utk bicara lewat kata,
mengharap doa dari sekalian saudara semua,
Agar diampuni segala khilaf dan dosa.
Hidup ini adalah tempaan bagi manusia,
di tempa oleh alam utk mencapai wujud kesempurnaannya.
Dgn ujian menuju 'Karat' .
Tercemari menjadi tambang besi penuh karat,
Atau mencapai keberhasilan uji menjadi emas yg berkarat.
Siapa diri kita....?
Besi atau Emas....?

Karat [4]

Betapa Air Asam itu berbahaya, besi keraspun dapat di ubah jadi rapuh tak bertenaga.
Apa pula pada hati, yg saban hari di basahi oleh kisruh hati cinta dini.
Coba deh renungi, gak ada ruginya memperbaiki diri.
Toh kita semua percaya takdir, jodoh gak bakal mangkir, terus kenapa kita masih khawatir.
Menjalani budaya asing tanpa sortir, hingga akhirnya berbagai perubahan zaman pun bergulir.
Adaptasi perubahan kata luarbiasa, mengikuti mode transisi pergaulan anak muda.
Aku ingat kata dari Bapak Bangsa, mengenai 5 pemuda yg mampu mengguncang dunia.
Terbayang betapa hebatnya mereka, miliki potensi luarbiasa, semangat jiwa tuk goyahkan dunia.
Terlalu idealis mimpi itu, lihatlah realita yg ada nampak semu.
Seumur jagung bicara cinta, mengobral manja mengumbar mesra.
Kiranya kelak apa yg kan mereka cipta..? Karya..?
Prestasi apa yg mampu mereka buat..?
Pemuda, kalian dengar nama dan kehebatan yg disematkan pada diri kalian..?
Hanya mengurusi cinta dini, lalu getaran apa yg akan menggoyah bumi ini..?

Karat [3]

Kehabisan ide aku menyusun kata, metodologi itu kadang-kali membuat akal kita buta dari makna. Ku kira hujan datang utk mengganggu, namun tidak. Ia datang penuh haru, bersama serentet estetika yg syahdu. Imajiku tergenapi, kini jemari Mulai menari, meyusun pesan lewat puisi. Hujan menjadi suasana yg di rindukan, terutama bagi mereka yg sedang mendalami peran kesedihan. Seolah hujan itu mewakili tangisan, sepanjang kisah cinta musim kemarau yg memilukan. Tangisan harusnya menjadi kekuatan, bukan malah menjadi ratapan hati yg melemahkan. Menangis memeluk guling, atau menatapi hujan dgn muka lumer di balik jendela bening. Tangisan masam, yg kelak kan merusak hati jadi kelam. Apa gunanya menangisi sesuatu yg telah pergi, berhentilah dari menyiksa hati. Baiknya menangislah utk yg lebih berarti, tontonlah peduli kasih di televisi. Heehe.. Ayo baca atau dengarkan lantunan ayat-ayat suci, atau memohon ampun mengemis cinta pada Ilaahi. Menangislah sepenuh hati, raih kekuatan sejati, menuju kehidupan hakiki.

Karat [2]

Nampaknya karat itu seringkali salah tempat, bukan hati yang di tambat tapi akal yang akhirnya di sumbat. Bahaya timbul seiring laju pemikiran yang tertahan. Sinisme, diskriminasi, intimidasi dan juga pembatasan terhadap ilmu pengetahuan yang di kaji. Dengan tuduhan penuh doktrin, tanpa asas pembuktian dan pembelaan bagi si tertuduh. Jangankan fakta nyata atas pembelaan, sekecil apapun tertolak hingga hanya sebuah perkataan. Kenyataan negeri yang katanya demokrasi, sejak Pendiri Negeri ini di habisi dengan berbagai alibi. Kala itu tiap pembelaan atas tuduhan pun terhimpit, tak diberi jalan dan terus di jepit. Doktrin dari segerombol manusia yang punya kepentingan, mencari pembenaran terhadap sbuah pertengkaran dan pelanggaran. Yang di tuduh gak sepenuhnya jadi korban, karena nyatanya pada muda-mudi itu aku merasa kasihan. Pundak-pundak yang lugu, dengan warna-warni jas mereka yang di pakai slalu. Tradisi itu berlanjut, hingga berlarut, membuat makin semrawut, meski jiwa-jiwa pemberani tertuduh mulai tumbuh dari balik kabut dan tumbuh dari rumput.