Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Februari 2016

Ajaran Tauhid, dalam Aksara Jawa Ha Na Ca Ra Ka ?

Dalam buku Wedaran Wirid I, karangan Ki R.S. Yoedi Parto Yoewono. Surabaja : Djojobojo, 1962-64. Di jelaskan tentang makna dalam Aksara Jawa Ha Na Ca Ra Ka, yang mengandung ajaran Tauhid…

01. Hananira Sejatine Wahananing Hyang,
02. Nadyan ora kasat-kasat pasti ana,
03. Careming Hyang yekti tan ceta wineca,
04. Rasakena rakete lan angganira,
05. Kawruhana ywa kongsi kurang weweka,
06. Dadi sasar yen sira nora waspada,
07. Tamatna prahaning Hyang sung sasmita,
08. Sasmitane kang kongsi bisa karasa,
09. Waspadakna wewadi kang sira gawa (sipat Rasul / Muhammad),
10. Lalekna yen sira tumekeng lalis (sekarat),
11. Pati sasar tan wun manggya papa,
12. Dasar beda lan kang wus kalis ing goda; (Islam / Ma’rifat),
13. Jangkane mung jenak jenjeming jiwarja,
14. Yitnanana liyep luyuting pralaya (angracuta yen pinuju sekarat ),
15. Nyata sonya nyenyet labeting kadonyan,
16. Madyeng ngalam paruntunan (?) aywa samar,
17. Gayuhane tanalijan (tan ana lijan) mung sarwa arga,
18. Bali Murba Misesa ing njero-njaba (Widhatulwujud, Esa, Suwiji),
19. Tukulane wida darja tebah nista,
20. Ngarah-arah ing reh mardi-mardiningrat.

makna-nya…

01. Asalmu karena kehendak Allah,
02. Walaupun tidak nampak tetapi ada,
03. Allah yang Kuasa tidak bisa ditebak (dinyatakan),
04. Rasakan dalam tubuhmu,
05. Ketahui sampai kurang waspada,
06. Jadi salah kalau kurang waspada,
07. Nyatakan Allah memberi petunjuk,
08. Petunjuk sampai bisa merasakan,
09. Waspadalah rahasia yang kau bawa (sifat Rasul/Muhammad),
10. Lupakan sampai sekaratil maut (menjelang ajal/koma),
11. Mati yang salah menjadi susah,
12. Dan beda bagi yang tidak tergoda (Islam/Mari’fat),
13. Tujuannya hanya tentram jiwanya,
14. At’tauhid atau khusyuk waktu sekaratil maut,
15. Ternyata sepi (hilang) sifat dunia,
16. Dalam alam barzah ternyata samar (gaib),
17. Tujuan tidak lain hanya satu,
18. Pulang menguasai Lahir Batin (Esa),
19. Tumbuhnya benih menjauhkan aniaya,
20. Hati-hati manuju jalan kedunia.

Sumber :
Kanzunkalam.com
rodiansah.tumblr.com

Sabtu, 09 Januari 2016

Jokowi Berhasil Tetapkan Bahasa Indonesia Jadi Bahasa ASEAN

Jakarta, Lensaberita.Net - Pakar bahasa dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Dr Suhartono SPd MPd menilai Bahasa Indonesia berpotensi menjadi Bahasa ASEAN pada era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

"Ada dua bahasa yang berpotensi menjadi Bahasa ASEAN, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu," kata dosen Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unesa itu kepada Antara di Surabaya, Jumat (8/1/2016).

Namun, ia meyakini Bahasa Indonesia lebih berpotensi daripada Bahasa Melayu, karena setidaknya ada empat argumentasi yang ilmiah, meski pemerintah masih perlu melakukan diplomasi.

"Keempat argumentasi itu adalah Bahasa Indonesia itu sudah banyak dipelajari pada banyak negara, mudah dikuasai, laju perkembangannya fantastis, dan sebagaian kosa kata Indonesia juga ada di dalam bahasa negara-negara ASEAN," katanya.

Bedanya, distribusi Bahasa Indonesia tidak merata seperti Bahasa Melayu yang ada di Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand Selatan, dan Filipina Selatan, namun Bahasa Indonesia di Indonesia sendiri sudah mencapai 60 persen pengguna di tingkat ASEAN.

"Apalagi, meski tidak merata seperti Melayu, tapi kosa kata Indonesia ada pada sejumlah negara ASEAN, seperti candra di Kamboja dan Indonesia sama-sama berarti rembulan, atau bum atau land di Thailand yang di Indonesia mirip kata bumi atau tanah," katanya.

Bahkan, kosa kata di Thailand juga mirip kosa kata bahasa daerah di Indonesia, seperti suwarna di Thailand yang berarti emas dan dalam Bahasa Jawa juga berarti emas. "Atau, kodang di Thailand juga mirip gudang dalam bahasa kita," katanya.

Oleh karena itu, Bahasa Indonesia yang tidak merata dalam sebaran seperti Bahasa Melayu itu juga lebih mudah diterima dan sudah lama menjadi bahasa komunikasi ada tiga negara yakni Indonesia, Brunei Darussalam, dan Malaysia.

"Apalagi, saya mendengar di beberapa negara ASEAN juga sudah banyak dipelajari Bahasa Indonesia untuk kepentingan MEA. Di luar itu, Bahasa Indonesia juga sudah banyak dipelajari di Jepang, Australia, dan negara lain di dunia," katanya.

Senada dengan itu, Rektor Unesa Prof Warsono mendukung ikhtiar pemerintah untuk melakukan negosiasi dengan negara-negara ASEAN agar Bahasa Indonesia bisa menjadi Bahasa ASEAN.

"Unesa turut mendorong Bahasa Indonesia menjadi Bahasa ASEAN, karena pengguna bahasa Melayu mencakup 60-70 persen penduduk ASEAN di Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam," katanya.

Sumber : LensaBerita

Inilah Bukti Bahasa Jawa Lebih Hebat dari Bahasa Inggris

Wartaislami ~ Ada orang bule Australia datang ke pondok pesantren, dan bertanya kepada kyai...

Bule : "Kenapa kyai kalau mengajar, kitabnya masih menggunakan bahasa jawa? Di zaman globalisasi ini kenapa tidak ditingkatkan dengan menggunakan bahasa inggris?"

Kyai : "Karena kalau diajarkan dalam bahasa inggris, tidak akan mampu menafsirkan semua kosakata dalam AlQur’an maupun hadits, lha bahasa inggris itu sangat sederhana. Bahasa jawa itu bahasa yang sangat kaya dan sangat kompleks."

Rupanya si bule tadi merasa tersinggung mendengar penjelasan sang kyai yang mengatakan bahasa Inggris tidak mampu menafsirkan, dan kalah dengan bahasa jawa.

Bule : "Bagaimana anda bisa mengatakan bahasa jawa itu bahasa yang sangat kaya dan sangat kompleks, serta bisa menjadi bahasa pengetahuan? Padahal faktanya selama ini, bahasa Inggris lah yang paling kompleks!"

Kyai : "Tidak! Bahasa inggris itu memang sangat sangat sederhana. Saya kasih contoh, coba anda lihat! itu yang berwarna kuning keemasan yang ada di sawah. Orang inggris menyebutnya apa?"

Bule : "Rice!"

Kyai : "Orang disini. menyebutnya PARI atau PANTUN ( padi ). Padi itu kalau dipanen namanya GABAH, sedangkan inggris menyebutnya RICE. GABAH itu kalau diambil satu biji, namanya LAS, tapi orang inggris tetap menyebutnya RICE. GABAH kalau sudah terkelupas kulitnya, dinamakan WOS / BERAS, orang inggris tetap menyebut RICE. BERAS Padi kalau patah 2 atau 3, namanya MENIR, orang inggris tetap menyebutnya RICE. BERAS kalau sudah dimasak namanya SEGO atau SEKUL ( NASI ), orang inggris masih saja menyebutnya RICE. NASI kalau cuma 1 butir, namaya UPO, lagi-lagi orang inggris. menyebutnya RICE. NASI yang dimasak sedikit lebih lama, bagian bawahnya dinamakan INTIP atau KERAK, inggris masih menyebut RICE. NASI yang sudah kering namanya KARAK, inggris tetap menyebutnya RICE. Dari 1 kosakata saja, penafsiran namanya bisa bermacam-macam, sedangkan bahasa inggris tidak bisa menafsirkan tersebut. Apa bahasa jawa ini tidak lebih tinggi dan sangat sangat kompleks dibandingkan bahasa inggris yang sederhana tersebut?...

Si Bule : yes yes yes zzzzzzz.

Sumber dari Majelis Al Haramain via muslimoderat.com

Islam Nusantara Penuh Kesantunan dan Hadirkan Perdamian

Rois Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang sekaligus Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin menyatakan, Islam yang masuk ke wilayah Nusantara diperkenalkan dengan cara-cara damai. Terbukti mampu menghadirkan perdamaian dalam kehidupan masyarakat di Indonesia.

“Karena santunnya maka pada zaman itu banyak masyarakat yang dengan sukarela masuk Islam,” tegas Ma’ruf Amin pada Seminar Nasional Membumikan Islam di Nusantara yang berlangsung di Auditorium Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Kabupaten Purworejo, Jumat 8 Januari 2016.

Ma’ruf Amin menegaskan Islam Nusantara bukanlah aliran baru, namun sebuah keberagamaan Islam yang toleran dan mampu melakukan dialog dengan budaya-budaya lokal. Sejak zaman Wali Songo, konsep ini sudah diterapkan dan ternyata dapat selaras dengan kehidupan masyarakat sehingga Islam dapat berkembang dengan pesat di bumi Nusantara.

Sebuah konsep Islam yang memiliki karakter santun,tidak pernah memaksa, dan tanpa kekerasan apalagi intimidasi, seperti cara Rasulullah. Bukan Islam yang keras yang sangat tekstual namun juga bukan Islam yang liberal. Jadi, Islam Nusantara berada di tengah-tengah sesuai prisip tawasuth dalam NU.

“Islam Nusantara selalu membangun hubungan baik dengan sesama. Saling mengasihi dan tidak saling memusuhi. Dalam banyak hal, Islam mengajarkan untuk saling menolong dan tidak memandang siapa yang ditolong,” paparnya.

Lebih lanjut dijelaskan, dengan konsep Islam Nusantara yang mengemuka dalam Muktamar NU di Jombang beberapa waktu lalu orang masuk Islam bukan karena paksaan. Namun dengan sukarela karena menjunjung nilai-nilai toleransi.

‘’Hal itu pulalah yang menjadi kunci keberhasilan Wali Songo dalam menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Jika Islam disebarkan dengan model-model keras saya yakin Islam tidak akan berkembang seperti sekarang ini,’’ tandasnya.

Namun jika dalam perkembangannya ada oknum teroris yang mengatasnamakan jihad Islam, apalagi mengkafirkan yang tidak sejalan, itu tidak benar. Apalagi di Nusantara ini tidak ada nuansa perang.

“Sehingga tidak tepat ada jihad teroris karena Indonesia termasuk wilayah damai. Akibat ulah teroris itulah sehingga ada yang memaknai Islam galak, padahal lunak,” jelas Ma’ruf Amin.

Islam Nusantara lanjut Ma’ruf Amin, juga selalu menjaga tradisi yang berkembang di masyarakat sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

“Kita punya paradigma, mana yang baik dan yang tidak. Cara berfikir juga dinamis, tidak statis. Bahkan Islam Nusantara tidak hanya menjaga yang baik, namun juga melakukan,” tandasnya.

(Satu-Islam/Shabestan/ABNS)

Jumat, 08 Januari 2016

KH Said Aqil: Saya ingin Bersaing dengan Syiah yang Sehat, bukan dengan Bakar bakaran

MusliModerat.Com - Setelah meninggalnya Rasulullah, timbul berbagai aliran dalam Islam. Ada yang disebabkan oleh alasan politik dan ada pula yang disebabkan oleh perbedaan cara tafsir ajaran Islam terhadap berbagai persoalan baru.
Beberapa aliran yang muncul diantaranya adalah Kodariyah, Murjiah, Muktazilah, Khawarij, Syiah, dan Ahlusunnah. Dari sekian banyak aliran yang ada, kini dalam perjalanan 15 Abad Islam, tinggal Sunni (Ahlusunnah) dan Syiah yang tetap bertahan sedangkan lainnya secara nama sudah hilang, meskipun pengaruh alirannya tetap ada dalam berbagai bentuk.

Kiai Said meyakini, keberadaan dua aliran yang sudah terbukti mampu bertahan ini akan mampu bertahan jauh di masa depan. Persaingan pun akan terus berlanjut.

“Sampai hari kiamat, Ahlusunnah dan Syiah mungkin tidak akan hilang. Buktinya 15 abad masih ada. Jadi kita harapkan persaingannya sehat. Yang positif. Masing-masing meningkatkan kualitasnya,” katanya.

“Saya bukan Syiah, tetapi saya ingin bersaing dengan Syiah yang sehat. Bukan persaingan fisik, bakar-bakaran dan kemudian saling mengusir,” tegasnya.

Menurut Kiai Said, pengikut aliran Syiah memiliki kelebihan berupa militansi yang bagus. Militansi yang intelek, bukan militansi yang ngawur. Dalam kasus Palestina, di wilayah tersebut tidak ada orang Syiah, tetapi Iran lah yang paling menganggap musuh dengan Israel, Hizbullah yang paling menganggap musuh Israel.

Mengenai kepintaran orang Syiah, Kiai Said menjelaskan, hal ini bisa dilihat dari latar belakang peradaban Persia yang jauh lebih maju dari Arab. Begitu masuk Islam, tinggal ganti agama, ganti kitab suci Al-Qur’an, tetapi nilai-nilai peradabannya sudah mapan.

“Ahli hadits tidak ada orang Arab, tetapi orang Persia semua. Bukhari, Muslim, Turmudzi, Ibnu Majah, Ibnu Dawud, Daruqutni, Daylimi,” imbuhnya.

Ia menambahkan yang menciptakan ilmu nahwu, Imam Sibawaih merupakan orang Persia, yang menciptakan ilmu balaghoh atau kesusastraan bahasa Arab juga orang Persia, yaitu Amir bin Ubaid. Yang pertamakali menjadi mufassir besar, yaitu orang Tabaristan, yaitu Ibnu Ja’far Attabari yang membuat tafsir 10 jilid. Imam Ghozali merupakan Persia. Abu Hanifah dan Imam Hambali orang Persia. Sementara Imam Syafii dan Imam Malik orang Arab.

Mengenai hubungan yang harmonis antara Sunni dan Syiah, Kiai Said yang menyelesaikan doktor di Universitas Ummul Qura Makkah ini menjelaskan, Mesir bisa menjadi contoh. Mesir dulu ada kelompok Syiah, Sunni, dan Kristen Ortodok. Mereka bisa hidup damai.

“Nggak pernah ada konflik mazhab. 10 raja dari Syiah di Mesir dari dinasti Fatimiyah. Yang membangun kota Kairo orang Syiah, yang membangun masjid Al Azhar juga orang Syiah,” tandasnya.

Sayangnya, Mesir kini sudah mulai ada yang terseret pada fanatisme kelompok seperti mulai adanya ISIS dan Al-Qaedah. [

Gus Dur & Mata Allah.

TANPA didampingi siapa pun, Gus Dur dan aku bertemu di warung nasi depan kampusku. Pakaian batik dan sarung membungkus tubuhnya, peci yang miring serta kacamata tebalnya melengkapi kediriannya. Dialog yang bagiku aneh pun terjadi. Aneh karena perbincangan kami kesana kemari, tak jelas arahnya.

Gus Dur :
"Sebenar apa pun tingkahmu, sebaik apapun prilaku hidupmu, kebencian dari manusia itu pasti ada. Jadi jangan terlalu diambil pusing. Terus saja jalan.!"

Mughni :
"Iya, Gus. Tapi.."

Gus Dur :
"Bagaimana tidak repot, hidupmu terlalu banyak 'tapi'.!"

Mughni :
"Hehehehe.."

Gus Dur :
"Apa kamu kenal Wa Totoh? Maksud saya KH. Totoh Ghozali."

Mughni :
"Disebut kenal ya tidak, tapi saya sering mendengar ceramah-ceramahnya di Radio."

Gus Dur :
"Belajarlah kamu kepadanya, bagaimana memurnikan tauhid masyarakat. Dia menggunakan bahasa lokal sebagai senjatanya, memakai humor cerdas tanpa hina dan caci."

Mughni :
"Baik, Gus, kalau itu perintah Panjenengan."

Gus Dur :
"Ini bukan perintah, ini memang sesuatu yang seharusnya kamu lakukan sebagai Da'I."

Mughni :
"Laksanakan."

Gus Dur :
"Kamu suka menulis?"

Mughni :
"Tidak, Gus, tulisan saya buruk sekali. Saya coba menulis puisi atau cerita pendek, tapi benar-benar buruk hasilnya."

Gus Dur :
"Rupanya kamu belum pernah dilukai seorang wanita, makanya tulisan kamu tidak bagus."

Mughni :
"Lha, Panjenengan tau darimana kalau saya belum pernah dilukai wanita?"

Gus Dur :
"Ya itu tadi, karya sastramu buruk sekali."

Mughni :
"Hmmmmm.."

Gus Dur :
"Kamu pernah pesantren?"

Mughni :
"Pernah, Gus."

Gus Dur :
"Dimana?"

Mughni :
"Di Al-Falah sama di Al-Musaddadiyah."

Gus Dur :
"Rupanya kamu Santri Kyai Syahid sama Kyai Musaddad."

Mughni :
"Iya."

Gus Dur :
"Saya juga sering bersilaturahmi ke beliau-beliau itu. Mereka salah satu penjaga Islam Ahlussunnah wal Jama'ah."

Mughni :
"Ketikajadi Santri, saya nakal sekali. Saya merasa malu kepada beliau-beliau itu, Gus."

Gus Dur :
"Saya beritahu kamu, kebaikan seorang Santri tidak dilihat ketika dia berada di Pondok, melainkan setelah dia menjadi alumni. Kamu tinggal buktikan hari ini, bahwa kamu adalah santri yang baik."

Mughni :
"Terima kasih, Gus."

Gus Dur :
"Dunia tanpa pesantren, bagi saya adalah siksa. Bersyukurlah karena kamu pernah menjadi bagian di dalamnya."

Mughni :
"Iya, Gus."

Gus Dur :
"Kamu mau tau rahasia hidup saya dalam memandang segala sesuatunya?"

Mughni :
"Tentu, Gus, saya ingin tau rahasia panjenengan."

Gus Dur :
"Dalam memandang segala sesuatu, gunakanlah 'mata' Allah."

Mughni :
"Waduh. Bagaimana contohnya?"

Gus Dur :
"Contohnya begini. Ketika saya didatangi banyak orang yang meminta perlindungan, apakah orang itu benar atau salah, saya terima semuanya dengan lapang dada. Karena apa? Saya selalu yakin, Allah lah yang menggerakan hati mereka untuk datang kepada saya. Jika saya tolak karena mereka bersalah, itu sama saja saya menolak kehendak Allah. Perlindungan saya kepada orang-orang yang disudutkan karena kesalahannya itu, bukanlah bentuk bahwa saya melindungi kesalahannya, tapi saya melindungi kemanusiaannya."

Mughni :
"Duh.."

Gus Dur :
"Lebih jauhnya begini. Jika kamu membenci orang karena dia tidak bisa membaca al-Qur'an, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi al-Qur'an. Jika kamu memusuhi orang yang berbeda Agama dengan kamu, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi Agama. Jika kamu menjauhi orang yang melanggar moral, berarti yang kamu pertuhankan bukan Allah, tapi moral. Pertuhankanlah Allah, bukan yang lainnya. Dan pembuktian bahwa kamu mempertuhankan Allah, kamu harus menerima semua makhluk. Karena begitulah Allah."

Mughni :
"Ya Allah.."

(Haul Gus Dur yang ke-6)
.
.

Dicuplik dari tausiyah Guru Niam Muiz

Pukulan Telak "Cak Nun" Untuk Orang Yang Bersorban dan Bergamis

Gentaloka.com ~ Walaupun seorang ulama atau kyai, tapi Cak Nun selalu berpakaian seperti layaknya orang biasa. Bisa dikatakan ganok bedane karo wong dodol akik, buruh pabrik atau sales kaos kaki.

“Kalau saya datang dengan berpakaian gamis dan sorban, memang tidak ada salahnya. Cuman saya takut semua orang akan berkesimpulan bahwa saya lebih pandai daripada yang lain. Lebih parah lagi, kalau mereka berkesimpulan bahwa saya lebih alim...Kalau itu tidak benar, itu khan namanya 'penipuan'...!" kata Cak Nun.

"Kalaupun memang benar, apakah akhlak itu untuk dipamerkan kepada orang lain (melalui pakaian)? Tidak boleh kan? Maka semampu-mampu saya, berpakaian seperti ini untuk mengurangi potensi 'penipuan' saya kepada Anda. Anda tidak boleh mendewakan saya, me-Muhammad-kan saya, meng-habib-kan saya, karena saya adalah saya karena Allah menjadikan saya sebagai saya dan tidak karena yang lain. Maka Anda obyektif saja sama saya...” lanjut Cak Nun.

Menurut Cak Nun, seorang ulama harusnya bisa berpakaian yang sama dengan pakaian umatnya yang paling miskin. Cak Nun tidak mempersalahkan orang yang bergamis dan berserban. Malah salut sama mereka yang menunjukan kecintaannya pada Rasulullah dengan meniru persis apa yang ada di diri Rasul. Tapi perlu diketahui bahwa baju Rasulullah tidak sebagus dan sekinclong yang dipakai kebanyakan orang sekarang. Baju Rasulullah sendiri ada 3 jenis : yang dipakai, yang di dalam lemari dan yang dicuci. Dan semua orang Arab di jaman nabi, model pakaiannya seperti itu. Nggak cuma Nabi Muhammad..;Abu Jahal, Sueb, Sanusi, Atim dan orang Arab lainnya, model klambine koyok ngono iku.

Jadi sebenarnya sunnah Rasul yang paling mendasar adalah Akhlaknya bukan kostumnya. Orang yang disukai Tuhan adalah orang yang menyebut dirinya buruk, biso rumongso, nggak rumongso biso.

Orang yang diragukan keihklasannya adalah orang menyebut dirinya baik. Semua nabi mengaku dirinya dzolim : "Inni Kuntu Minadzolimin"(aku termasuk orang yang dzolim). Nggak ada nabi yang mengaku dirinya sholeh. Kalau ada orang yang mengaku paling benar atau alim, langsung tinggal mulih ae...ndang baliyo sriii...!
"Kalau sama Tuhan kita harus 100%, kalau kepada ilmu kita, cukup 99%. Seluruh yang saya ketahui dan yakini benar itu belum tentu benar. Maka saya tidak mempertahankan yang saya yakini benar karena mungkin mendapatkanilmu yang lebih tinggi." kata Cak Nun.

Karena itulah saat bersama jamaahnya, Cak Nun selalu memposisikan dirinya sama, sama-sama belajar. Dan Cak Nun sendiri lebih suka pada jamaah yang sedang berproses daripada yang sudah ahli ibadah. Karena itu lebih tepat sasaran. Bukan pengajian pada orang yang sudah ngerti Al Quran, bukan pengajian yang menyuruh haji orang yang sudah berhaji, menyuruh ngaji orang yang sudah ngaji tiap hari, menyuruh orang shalat yang sudah shalat, dst.

"Tidak apa-apa kalau ilmu agamamu masih pas-pasan, itu malah membuatmu menjadi rendah hati. Banyak orang yang sudah merasa tahu ilmu agama, malah menjadikannya tinggi hati, " begitu pesan Cak Nun.

"Kalau saya kadang bicara pakai bahasa Jawa, jangan dibilang Jawasentris..saya cuman berekspresi sebagai orang Jawa..saya lahir dan dibesar di Jawa..diperintah Tuhan jadi orang Jawa...maka saya mencintai dan mendalami budaya saya..siapa bilang Jawa itu tidak Islam..kalau saya ayam saya nggak akan jadi kambing..kalau anda kucing jangan meng-anjing-anjing-kan diri..Kita memang disuruh Bhineka (berbeda-beda) kok..!
" Banyak orang salah kaprah menyebut Cak Nun sebagai penganut kejawen. Kejawen ndasmu... 'Software' Cak Nun lebih canggih karena laku tirakat luar biasa yang dilakukan sejak kecil. (Laku tirakat yang tidak bertujuan untuk menguasai ilmu hitam koyok mbahmu mbiyen). Sehingga beliau waskito, mempunyai sidik paningal, mempunyai pandangan yang tajam dan jernih soal kehidupan.
Little bit wagu kalau ada orang Jawa (atau Indonesia) yang malah membangga-mbanggakan budaya Arab atau Barat. Benci kebaya tapi nggak ngasih solusi bagaimana kebaya bisa Islami. Ingat : Jowo digowo, Arab digarap dan Barat diruwat.

JIKA ANDA MERASA ARTIKEL INI BERMANFAAT SILAHKAN SHARE !!!

Dedi Mulyadi, Terjemahkan Nilai-nilai Tauhid

Jum'at, 08 Januari 2016

Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, mengatakan, keterputusan hubungan antara nilai ketuhanan dalam diri manusia mengakibatkan keanehan. Pada satu sisi masyarakat Indonesia berwajah religius, tetapi di pihak lain sangat jauh dari nilai-nilai ketuhanan.

“Ini akibat keterjebakan orang berpikir formal. Sarjananya formal, kerjanya formal, semua serba formal, sampai-sampai menghayati Tuhan pun sebatas formal fikih dengan ibadah formal. Jadi kalau Anda ingin punya jawaban mengapa orang Indonesia itu saleh dengan ibadah tetapi jahat dalam kehidupan, itu jawaban saya,” terangnya , Kamis 7/1/2015.

Akibat berpikir dan bertindak formal itu menurut Dedi, orang-orang tidak banyak menghasilkan kreasi-kreasi terobosan. Karena itulah mengapa ia sebagai bupati pun tidak sekadar ingin menjalankan formalitas.

“Saya penuhi kewajiban formalnya, tetapi tidak cukup berhenti di situ karena saya sebagai manusia punya tanggungjawab mengemban misi khalifah, kewajiban Tuhan di muka bumi dalam bidang-bidang yang saya mampu lakukan. Jabatan hanya salahsatu peran, bukan satu-satunya,” ujarnya.

Bupati nyentrik yang belakangan ini dicap sebagai Raja Musyrik oleh sekelompok orang itu melihat kenyataan, bahwa dunia informal yang penuh dinamika, memberikan banyak potensi dan keniscayaan manusia untuk berbuat banyak diabaikan.

“Serba formal dan lupa hal yang informal atau kultural itu menjebak manusia menjadi sempit. Nyari makan pun harus bekerja secara formal, padahal kalau mau kreatif, tidak perlu ada pengangguran. Tak ada pekerjaan mestinya menciptakan pekerjaan. Tanah, air, udara dan cahaya semua melapangkan kita untuk beraktivitas secara produktif mengemban semangat ilahiah,” ujarnya.

NILAI UNIVERSAL TUHAN

Menurut Dedi, selama ini orang lupa akan nilai-nilai universal Tuhan yang harus diperankan dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan menurut Dedi sering dianggap sesuatu, bahkan diberhalakan dalam pikiran, tak jarang liyan yang berbentuk lalu disembah. Hal itu menurutnya menjadi bagian dari pemberhalaan secara tak langsung dan menghambat kemampuan kreatif manusia sebagai khalifatullah fil ard.

Jika Tuhan dianggap universal dan bernilai transenden, Dedi percaya akan banyak praktik-praktik kemanusiaan yang berjalan di atas nilai-nilai ketuhanan dan usaha penegakan rule of law dalam bingkai keislaman dan keindonesiaan akan terwujud.

“Itulah kenapa saya selalu mencoba menerjemahkan nilai-nilai Tauhidiyah yang transenden dari Tuhan dalam kehidupan sehari-hari untuk kaidah berpolitik, untuk kaidah bernegara, untuk kaidah berbangsa, dan untuk kaidah berwarga. Sebab hanya dari situlah bangunan nilai kemanusiaan yang setara, berkepribadian, dan berkemandirian akan tercipta karena kita semua tunduk pada nilai ketuhanan,” jelasnya.- Anisa/Fti

Sumber : KataKini

Minggu, 03 Januari 2016

Indikasi

Masyarakat mulai angkat bicara,
tentang aib Petinggi Lembaga Negara yg terbuka.
Namun jalan-jalan ibukota masih ramai seperti biasa,
seolah menunggu aksi atas peristiwa.
Aku menyebutnya dgn makhluk beralmamater penuh warna,
Seolah mereka bergerak dgn sponsor yg mendorongnya.
Teriakan yg selalu terdepan membela rakyat (katanya) di depan istana,
meneriakan slogan dan orasi yg membara.
Penuh tuntutan dan rasa dongkol,
Do jalur-jalur protokol,
atau tempat-tempat strategis biasa mereka bercokol.
Mereka hilang ke antah-berantah,
menyisakan tanya atas anehnya tingkah.
Mengingat, ku ingat-ingat.
Pergerakan missioneeris kaum pengusung jihad,
Menyelundup di barisan kaum yg katanya intelektual dan moderat.
Mereka mendoktrin mahasiswa lewat organisasi,
Yang mereka sebut-sebut sebagai penegak syar'i dan hukum ilaahi.
Juga ku tak pernah lupa, siapa dan apa yg selama ini ada,
di balik pergerakan mahasiswa.
Alat hasil karya makhluk OrBa itu bernama mahasiswa.
OrBa konon sudah berlalu,
Tapi makhluknya hidup berkembang siapa yg tak tahu...?
Mereka bersembunyi di balik kepompong reformasi,
Berubah wujud jadi mesin pengeruk kekayaan Negeri.
Tindak-tanduk mereka dapat di kenali dengan ritme,
Hasrat koloni kaum kapitalisme-imprealisme.
Begitulah indikasi realita dan retorika,
dilema mahasiswa yg jadi korban atas nama bangsa.
Apalah arti intelektual yg di ikat karet,
terjebak dalam bungkus nasi karena kepepet.
Lihat, belakangan mereka keracunan doktrin gila,
Kaum ahmaq dan fanatik agama.
Doktrin ekstrim berjulukan wahabi,
produk ciptaan imprealisme bernama dinasti saudi.
Bukan tidak mungkin terjadi,
Karena nyatanya banyak mahasiswa yg mulai teracuni.
Siapa yg mau menyangkal...?
Cukup banyak kejadian ku dapati,
dari mulai UI hingga Tri Sakti.
Nyata terjadi,
Nusantara di hantam campuran serangan Neo-Kapitalis-Imprealis.
Jgn menangis,
Karena itu bukan puisi romantis,
Tapi sajak satir yg kritis dan mengiris.