Tampilkan postingan dengan label Sunni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunni. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Januari 2016

KH Said Aqil: Saya ingin Bersaing dengan Syiah yang Sehat, bukan dengan Bakar bakaran

MusliModerat.Com - Setelah meninggalnya Rasulullah, timbul berbagai aliran dalam Islam. Ada yang disebabkan oleh alasan politik dan ada pula yang disebabkan oleh perbedaan cara tafsir ajaran Islam terhadap berbagai persoalan baru.
Beberapa aliran yang muncul diantaranya adalah Kodariyah, Murjiah, Muktazilah, Khawarij, Syiah, dan Ahlusunnah. Dari sekian banyak aliran yang ada, kini dalam perjalanan 15 Abad Islam, tinggal Sunni (Ahlusunnah) dan Syiah yang tetap bertahan sedangkan lainnya secara nama sudah hilang, meskipun pengaruh alirannya tetap ada dalam berbagai bentuk.

Kiai Said meyakini, keberadaan dua aliran yang sudah terbukti mampu bertahan ini akan mampu bertahan jauh di masa depan. Persaingan pun akan terus berlanjut.

“Sampai hari kiamat, Ahlusunnah dan Syiah mungkin tidak akan hilang. Buktinya 15 abad masih ada. Jadi kita harapkan persaingannya sehat. Yang positif. Masing-masing meningkatkan kualitasnya,” katanya.

“Saya bukan Syiah, tetapi saya ingin bersaing dengan Syiah yang sehat. Bukan persaingan fisik, bakar-bakaran dan kemudian saling mengusir,” tegasnya.

Menurut Kiai Said, pengikut aliran Syiah memiliki kelebihan berupa militansi yang bagus. Militansi yang intelek, bukan militansi yang ngawur. Dalam kasus Palestina, di wilayah tersebut tidak ada orang Syiah, tetapi Iran lah yang paling menganggap musuh dengan Israel, Hizbullah yang paling menganggap musuh Israel.

Mengenai kepintaran orang Syiah, Kiai Said menjelaskan, hal ini bisa dilihat dari latar belakang peradaban Persia yang jauh lebih maju dari Arab. Begitu masuk Islam, tinggal ganti agama, ganti kitab suci Al-Qur’an, tetapi nilai-nilai peradabannya sudah mapan.

“Ahli hadits tidak ada orang Arab, tetapi orang Persia semua. Bukhari, Muslim, Turmudzi, Ibnu Majah, Ibnu Dawud, Daruqutni, Daylimi,” imbuhnya.

Ia menambahkan yang menciptakan ilmu nahwu, Imam Sibawaih merupakan orang Persia, yang menciptakan ilmu balaghoh atau kesusastraan bahasa Arab juga orang Persia, yaitu Amir bin Ubaid. Yang pertamakali menjadi mufassir besar, yaitu orang Tabaristan, yaitu Ibnu Ja’far Attabari yang membuat tafsir 10 jilid. Imam Ghozali merupakan Persia. Abu Hanifah dan Imam Hambali orang Persia. Sementara Imam Syafii dan Imam Malik orang Arab.

Mengenai hubungan yang harmonis antara Sunni dan Syiah, Kiai Said yang menyelesaikan doktor di Universitas Ummul Qura Makkah ini menjelaskan, Mesir bisa menjadi contoh. Mesir dulu ada kelompok Syiah, Sunni, dan Kristen Ortodok. Mereka bisa hidup damai.

“Nggak pernah ada konflik mazhab. 10 raja dari Syiah di Mesir dari dinasti Fatimiyah. Yang membangun kota Kairo orang Syiah, yang membangun masjid Al Azhar juga orang Syiah,” tandasnya.

Sayangnya, Mesir kini sudah mulai ada yang terseret pada fanatisme kelompok seperti mulai adanya ISIS dan Al-Qaedah. [

Selasa, 05 Januari 2016

Diambang Keruntuhan Dinasti Saudi

Pasca eksekusi Hukuman Pancung terhadap seorang 'Ulama Syiah yg aktif mengkritisi pihak Kerajaan Saudi. Terjadi juga pemutusan hubungan Bilateral antar Negara se-Jazirah Arab dan pencabutan atas penempatan Kantor Kedubes. Hal itu berefek sangat cepat sedemikian rupa beriring dengan berbagai ungkapan dan kecaman terhadap tindak hukum yang di laksanakan Saudi. Parahnya Saudi seolah melempar boomerang bunuh dirinya sendiri. Karena kejadian itu di sebut-sebut dan di kabarkan menghasilkan respon yang panas dari semua kalangan Aktivis dan seluruh lapisan masyarakat di dunia. Terutama bagi Negara-negara Islam Syiah dan para pengikutnya. Ini sudah kesekian kalinya ulah Saudi yang membuat Iran, sebagai salah satu Negara Mayoritas Islam Syiah, naik pitam dan kembali melontarkan sikap tegas bahkan seruan laknat untuk para pelaku Hukuman Mati tersebut.

Pengamat dan Penganalisa di Tanah Air mulai menggambarkan situasi politik Timur Tengah yang terus memanas ini. Di balik usaha Kaum Intoleran Wahabi yang terus berupaya untuk mengobarkan Perpecahan antara Sunni-Syiah lewan fitnah-fitnah dan berita Hoax yang tak berhenti mengalir. Beberapa Pengamat Sosial Media seperti Deny Siregar, Ahmad Zain oul-Mottaqin, Surya Hamidi, Ardiyansyah, dll. Bahkan seorang Pengamat Hubungan Internasional terkenal seperti Dina Yoelianti Sulaeman, angkat bicara soal tindakan Saudi yang makin bertentangan dengan Hukum HAM Internasional.

Menariknya berbagai analisa-analisa mulai mencuat lagi pasca kejadian ini, mengenai Perang Dunia Ketiga yang disebut-sebut akan pecah di seluruh wilayah Asia ini. Perang 'Armagedon' atau Perang Akhir Zaman.

Tapi sikap Saudi yang terbilang konyol ini seperti tidak berarah. Karena pada kenyataannya, setelah pemutusan hubungan antara Saudi-Iran. Saudi harus membuat kanal perbatasan yang membentang sepanjang 950km dengan kedalaman 25m yang memanjang dari di sepanjang perbatasan Saudi hingga ke Yaman. Yang konon menurut Surya Hamidi akan menghabiskan dana sekitar 80miliyar USD.

Pengeluaran besar tersebut di perparah dengan kemungkinan sikap politik Iran yang akan menutup selat Hormuz yang menjadi jalur Laut yang aktif sebagai jantung perekonomian Laut bagi hampir seluruh Negara Arab, khususnya Negara Teluk.

Di tambah dengan sedang terjadinya Krisis Pertambangan yang tengah di alami Saudi di Negaranya. Konfrontasinya terhadap Yaman yang terbilang buang-buang waktu dan amunisi. Juga pembiayaan dan persenjataan terhadap ISIS, al-Qaeda dan seluruh jaringan teroris yang beeafiliasi dalam bendera Khilafah...??

Benarkah Perang Akhir Zaman itu akan terjadi....?

Saudi di Ambang Kehancuran.

Salam Penuh Maaf dan Doa.

Ridhwan. E Kulaniy