Selasa, 05 Januari 2016

Diambang Keruntuhan Dinasti Saudi

Pasca eksekusi Hukuman Pancung terhadap seorang 'Ulama Syiah yg aktif mengkritisi pihak Kerajaan Saudi. Terjadi juga pemutusan hubungan Bilateral antar Negara se-Jazirah Arab dan pencabutan atas penempatan Kantor Kedubes. Hal itu berefek sangat cepat sedemikian rupa beriring dengan berbagai ungkapan dan kecaman terhadap tindak hukum yang di laksanakan Saudi. Parahnya Saudi seolah melempar boomerang bunuh dirinya sendiri. Karena kejadian itu di sebut-sebut dan di kabarkan menghasilkan respon yang panas dari semua kalangan Aktivis dan seluruh lapisan masyarakat di dunia. Terutama bagi Negara-negara Islam Syiah dan para pengikutnya. Ini sudah kesekian kalinya ulah Saudi yang membuat Iran, sebagai salah satu Negara Mayoritas Islam Syiah, naik pitam dan kembali melontarkan sikap tegas bahkan seruan laknat untuk para pelaku Hukuman Mati tersebut.

Pengamat dan Penganalisa di Tanah Air mulai menggambarkan situasi politik Timur Tengah yang terus memanas ini. Di balik usaha Kaum Intoleran Wahabi yang terus berupaya untuk mengobarkan Perpecahan antara Sunni-Syiah lewan fitnah-fitnah dan berita Hoax yang tak berhenti mengalir. Beberapa Pengamat Sosial Media seperti Deny Siregar, Ahmad Zain oul-Mottaqin, Surya Hamidi, Ardiyansyah, dll. Bahkan seorang Pengamat Hubungan Internasional terkenal seperti Dina Yoelianti Sulaeman, angkat bicara soal tindakan Saudi yang makin bertentangan dengan Hukum HAM Internasional.

Menariknya berbagai analisa-analisa mulai mencuat lagi pasca kejadian ini, mengenai Perang Dunia Ketiga yang disebut-sebut akan pecah di seluruh wilayah Asia ini. Perang 'Armagedon' atau Perang Akhir Zaman.

Tapi sikap Saudi yang terbilang konyol ini seperti tidak berarah. Karena pada kenyataannya, setelah pemutusan hubungan antara Saudi-Iran. Saudi harus membuat kanal perbatasan yang membentang sepanjang 950km dengan kedalaman 25m yang memanjang dari di sepanjang perbatasan Saudi hingga ke Yaman. Yang konon menurut Surya Hamidi akan menghabiskan dana sekitar 80miliyar USD.

Pengeluaran besar tersebut di perparah dengan kemungkinan sikap politik Iran yang akan menutup selat Hormuz yang menjadi jalur Laut yang aktif sebagai jantung perekonomian Laut bagi hampir seluruh Negara Arab, khususnya Negara Teluk.

Di tambah dengan sedang terjadinya Krisis Pertambangan yang tengah di alami Saudi di Negaranya. Konfrontasinya terhadap Yaman yang terbilang buang-buang waktu dan amunisi. Juga pembiayaan dan persenjataan terhadap ISIS, al-Qaeda dan seluruh jaringan teroris yang beeafiliasi dalam bendera Khilafah...??

Benarkah Perang Akhir Zaman itu akan terjadi....?

Saudi di Ambang Kehancuran.

Salam Penuh Maaf dan Doa.

Ridhwan. E Kulaniy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar