Sabtu, 09 Januari 2016

Membaca dan Mengkaji

Dua hal ini menjadi hal yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia di zaman yang makin serba canggih ini. Di permudah dengan berbagai aplikasi dan ruang media sosial yang kapan aja bisa di akses dan dimana aja (bahkan di dalam WC). Para Guru di sekolah juga menganjurkan kepada muridnya untuk sering-sering membaca, bahkan meski hanya sekedar membaca komik untuk hilangin bosan dan pusing menghafal dan ngerjain tugas sekolah yang seakan gak selesai-selesai itu.

Membaca bukan lagi hal yang cupu, atau identik dengan orang kuper. Karena dengan membaca kita bisa tahu banyak hal. Mulai dari fashion hingga politik, mulai dari opini hingga fakta.

Teks-teks al-Qur'an pun secara berulang kali menegaskan bahwa kita di wajibkan untuk mengenali, mengetahui dan memahami banyak hal. Bahkan memberi penekanan terhadap Nabi Muhammad.Saw untuk membaca, "Iqraa'!!" Walaupun konon (kata Wahabi)  saat menerima perintah itu (membaca) Nabi Muhammad.Saw adalah seorang yg buta baca-tulis.

Namun perlu di perhatikan dari sesuatu yang kita baca adalah apakah hal tersebut fakta atau opini, jelas atau samar, serta benar atay keliru (Hoax). Karena nggak sedikit dari kita yang kadang asal baca dan asal kutip sebuah berita (info dan pengetahuan) yang ternyata tidak berdasarkan kebenaran atau ternyata hanya sekedar cocoklogi hingga bahkan fitnah.

Jadi, sudah semestinya bagi kita. Melakukan kroscek sebelum meyakini sebuah pengetahuan atay berita yabg datang kepada kita. Dalam al-Qur'an hal tersebut disebut dengan kata 'Tabayyun'.

Mencegah diri kita dari menyebarkan fitnah apalagi sampai menjadi pemicu sara itu lebih baik. Maka dari itu, teliti saat membaca dan kumpulkan beberapa referensi sebelum mengambil kesimpulan. Sekiranya itu cukup membantu kita berhati-hati dari hal-hal yang bersifat provokatif.

Trim's... Salam Penuh Maaf dan Doa..!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar