Sabtu, 02 Januari 2016

Karat [1]

Terlalu banyak menyusun frasa dgn kata dan makna, kadang membuat seseorang jauh dari fakta dan realita. Mungkin tak semua hal sempurna seperti yg kita cita, tapi belajarlah utk hadapi dan memahami bahwa ini semua nyata. Sudah terlampau sering bukan, air mata dan perih kamu rasakan. Bahagia pun terasa begitu melegakan, ketika secuil rayuan atau kemesraan terperikan. Sebuah bujuk seolah amat kuat, sehingga bisa menguliti hati yg perlahan berkarat. Mungkin semakin berkarat, harga jual hati akan semakin meningkat. Hati manusia, bak batu mulia. Aku seorang penulis amatir yg terkadang jenuh, dgn semua metodologi susunan kata yg hadirkan kisruh. Kisruh tersendiri cacian hati, meski seringkali pena menjadi sahabat sejati. Pena yg rela menuliskan berbagai ilusi, dan kertas yg seringkali jadi latar airmata jatuh dari pipi. Aku tak secengeng itu rupanya, karena aku lelaki yg harus percaya. Bahwa banyak hal penting lain yg membutuhkan air mata, dan itu bukan sekedar tangis karna kisah cinta yg bodoh dan gila. Tapi.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar