Tampilkan postingan dengan label Syair. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syair. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Februari 2016

Hakimi Diri

Andai ini zaman Qais yang disebut Majnun,
Mungkin aku akan berlaku gila di tengah rumpun...
Sayangnya ini era modern yang penuh gengsi,
Membuat aku harus bergelut debu harta duniawi...

Seorang sufi yang kehilangan guru,
Meraba suluk tuk mencapai sumbu...
Sembunyikan harapan dan rindu,
Karena indahnya sering terbentur oleh kelabu...

Terhuyung menjejaki medan juang,
Berharap temukan pekerjaan tuk meraup uang...
Andalkan tubuh muda tuk melawan dunia,
Waktu berlalu tanpa bisa mengerti keadaannya...

Tanpa seperangkat perkakas kayu,
Atau mungkin kaca mata dan buku-buku tebal catatan ilmu...
Hanya seorang yang menggila tanya,
Dimana tempat ia bisa bernanung dari nestapa...

Lemah dirinya menggugat setiap problema,
Lambat langkahnya mengejar cita tuk menderma...
Terseok menyisir tanah yang becek dan kotor,
Berbekal pakaian lusuh yang kerahnya mulai molor...

Ingin ku tatap wajah malam sang Rembulan,
Tapi ku takut cahyanya pudar dalam lautan...
Ingin ku nikmati fajar di ufuk timur,
Namun aku kan terlihat dengan jari-jari kaki yang penuh jamur...

Rembulan dan Fajar tahu,
Bahkan Gemintang pun menguping kisah si pemuda pilu...
Cahaya itu hampir tiap hari melengkapi hari,
Tak ada terkecuali cela dan hinanya diri di temui...

Meringkuk di balik reruntuhan bangunan tak berpenghuni,
Siang masih memenjaraku dalam gemetarnya tubuh ini...
Tersungkur di tanah becek yang terus terhujani,
Aku memendam Cinta dengan ratapan pilu di tengah badai yang menghakimi...

Selasa, 16 Februari 2016

Penyair Lugu

Bertalu langkah arungi waktu,
Mengalun realita hapuskan semu...
Dinamika mengundang hati berlabuh,
Merekam elegi tentang jalan yg di tempuh...

Apalah daya penyair lugu,
Tangannya masih kaku mengukir dan ambigu...
Bertabur debu berlumur peluh,
Lama waktu tubuhnya tak terbasuh...

Oleh Air yg menyegarkan,
Oleh Air yg melegakan,
Oleh Air yg membersihkan,
Oleh Air yg mensucikan,
Dan oleh Air yg menghidupkan...

Ia bernafas sesenggukkan,
Seolah kepedihan tak lagi tertahan...
Ia berjalan terseok mengarungi rerumputan,
Nampaknya lemah dan rapuh tanpa pegangan...

Bukan...
Bukan itu...

Ia mendapatkan udara segar tiap hari,
Ia dapatkan air yang jernih di sungai-sungai,
Ia juga mereguk hikmah dari berbagai fenomena yang memuai...

Lalu...?
Lihat kaki dan tanganya yang rapuh,
Bibirnya yang bergetar angkuh...

Ia seorang penyair dengan suara yang lantang,
Tiap kata terlontar bak hunusan pedang yang menantang...
Apapun mampu ia uraikan,
Segala siap ia tumpahkan...

Sayangnya...
Ia tak buta,
Tapi terbata...
Ia tak tuli,
Tapi tak mendengar seruan hati...

Tentang relita yg di tuntut hidup ini,
Juga tentang pembuktian segala potensi diri...

Bertemu sungai namun enggan untuk mandi,
Menghirup udara tapi menolak untuk bersyukur lewat bakti,
Dan meraih hikmah akhirnya ia tak pernah menguji diri lewat abdi...

Mihrabnya tercemari oleh sepi...
Mihrabnya di kotori nafsu diri...
Mihrabnya kosong dari Cinta dan Kelembutan hati...

Penyair lugu...
Menghunus Pedang kepada lawan,
tak berperisai dalam peperangan...
Mengungkap tabir tentang kehidupan,
Tapi tak menyelami tiap-tiap jalan dari kecintaan...

Minggu, 03 Januari 2016

Indikasi

Masyarakat mulai angkat bicara,
tentang aib Petinggi Lembaga Negara yg terbuka.
Namun jalan-jalan ibukota masih ramai seperti biasa,
seolah menunggu aksi atas peristiwa.
Aku menyebutnya dgn makhluk beralmamater penuh warna,
Seolah mereka bergerak dgn sponsor yg mendorongnya.
Teriakan yg selalu terdepan membela rakyat (katanya) di depan istana,
meneriakan slogan dan orasi yg membara.
Penuh tuntutan dan rasa dongkol,
Do jalur-jalur protokol,
atau tempat-tempat strategis biasa mereka bercokol.
Mereka hilang ke antah-berantah,
menyisakan tanya atas anehnya tingkah.
Mengingat, ku ingat-ingat.
Pergerakan missioneeris kaum pengusung jihad,
Menyelundup di barisan kaum yg katanya intelektual dan moderat.
Mereka mendoktrin mahasiswa lewat organisasi,
Yang mereka sebut-sebut sebagai penegak syar'i dan hukum ilaahi.
Juga ku tak pernah lupa, siapa dan apa yg selama ini ada,
di balik pergerakan mahasiswa.
Alat hasil karya makhluk OrBa itu bernama mahasiswa.
OrBa konon sudah berlalu,
Tapi makhluknya hidup berkembang siapa yg tak tahu...?
Mereka bersembunyi di balik kepompong reformasi,
Berubah wujud jadi mesin pengeruk kekayaan Negeri.
Tindak-tanduk mereka dapat di kenali dengan ritme,
Hasrat koloni kaum kapitalisme-imprealisme.
Begitulah indikasi realita dan retorika,
dilema mahasiswa yg jadi korban atas nama bangsa.
Apalah arti intelektual yg di ikat karet,
terjebak dalam bungkus nasi karena kepepet.
Lihat, belakangan mereka keracunan doktrin gila,
Kaum ahmaq dan fanatik agama.
Doktrin ekstrim berjulukan wahabi,
produk ciptaan imprealisme bernama dinasti saudi.
Bukan tidak mungkin terjadi,
Karena nyatanya banyak mahasiswa yg mulai teracuni.
Siapa yg mau menyangkal...?
Cukup banyak kejadian ku dapati,
dari mulai UI hingga Tri Sakti.
Nyata terjadi,
Nusantara di hantam campuran serangan Neo-Kapitalis-Imprealis.
Jgn menangis,
Karena itu bukan puisi romantis,
Tapi sajak satir yg kritis dan mengiris.

Maulid dan Natal

Memasuki pergantian tahun,
Hari-hari perayaan terjadi secara beruntun.
Masih saja ada segilintir orang yg mulutnya penuh racun,
sok suci dan pintar dgn keyakinan mereka yang turun-menurun.
Janganlupa bahwa Indonesia adalah Negeri Rumpun,
sudah semestinya saling menghargai  hidup rukun.
Aku bangkit menantang manusia intoleran menjelang Natal,
mengibarkan bendera Perdamaian (Islam) dengan semangat Nusantara yang kental.
Wajah-wajah garang kaum intoleran itu bak coretan artefak kuno,
Kaku dan penuh dengan ekspresi emosional yang dongo.
Tenggelam dalam pemikiran teologi yang salah tafsir,
Fanatisme menjerat akal mereka menjadi makhluk pandir.
Makhluk zaman batu itu bernama kaum "Intoleran",
Menistakan perdamaian dan mendustakan persatuan.
Mereka kaum penyembah angan-angan,
tentang syurga yang mereka anggap hanya milik mereka yg jenggotan.
Hanya milik mereka yang bercadar, dan hanya milik mereka yang bertingkah sangar tak berakhlaq dan kasar.
Mereka menolak Pedoman Negeri ini,
mereka jelas anti-NKRI.
Mereka tolak Bhineka, mengigau tentang 'khilafah' yang mereka cipta.
Belakangan tingkah konyol mereka makin nyata,
Membelah Nusantara dengan berbagai sentimen yang mereka bina.
Mulai dari Sara,
caci maki penuh noda,
dan fitnah yang jauh dari fakta.
Mereka itu kaum pandir, yang teriak sana-sini dengan takbir,
bertindak slalu saja tanpa pikir.
Mereka hina kehormatan negara,
jatuhkan Merah-Putih dan menolak Pancasila.
Akal mereka yang primitif tak mampu memahami makna filosofis,
Karena mereka adalah kaum fanatis yang ekstrimis.
Sebagian dari mereka nampak Cinta Indonesia,
namun itu hanya jadi kamuflase belaka.
Untuk mencari suara,
Bahwa negeri ini pantas utk di jaga.
Sambil mengobral ideologi mereka yang super-gila,
Menjerat orang sana-sini untuk membuat makar di Nusantara.
Sebut aku si satir,
Karena aku senang menyindir.
Panggil aku Putra Padjajaran,
Karena darahku tercipta dari Tanah Pasundan.
Aku bukan Indo-Blasteran, juga bukan ke-Arab-an.
Selamat Menyambut Maulid Gusti Pangeran,
Selamat menyambut Natal Isya putra Maryam.

12 Hijriyyah / 24 Desember 2015

Karat [5]

Jahiliyah,
Kehidupan Pra-Islam Jazirah Arabia. Alasan utama,
Sang Nabi diutus ke dunia.
Di Indonesia,
Sifat rakyatnya itu ramah tamah,
Lemah lembut & jg penuh kasih.
Demikian membuat Negri ini dihormati,
Bahkan ditakuti karna persatuan dan kesatuan rakyatnya yg penuh toleransi.
Ada teori yg terspekulasi,
Mengenai silsilah dan darah sang Nabi.
Dimana inti ajaran beliau yg mengarah pada akhlaq mulia,
melekat pd diri orang Indonesia (terkhusus Jawa dan Sunda).
Teori yg luarbiasa,
meraih banyak komentar dan kritik beragam rupa.
Menariknya,
Indonesia sbg benar satu Negara dgn jumlah penduduk Muslim terbanyak dunia.
Memang sdh menerapkan nilai-nilai akhlaq,
moral & spiritual yg kental,
jauh sebelum Islam dikenal.
Maka dalam bahasan lain ada sebuah alibi lagi,
Kenapa di Negri ini tdk diutus/didapati seorang Nabi..?
Mungkin karna Negri ini adalah tanah Surgawi.
Jadi yang diutus bukan seorang Nabi,
Japi sekelompok Iblis yg di samari,
Untuk membuktikan benar bahwa bangsa ini patut dipuji dan teruji.
Spekulasi apapun,
Begitu pula berbagai jawaban yg terhimpun.
Adalah sebuah Mahakarya Tuhan Yg Kuasa,
lewat pemikiran manusia,
Sebagai sarana mengasah akalnya.
Selama hal itu tdk melanggar undang-undang Negara,
Dan jga Hak Asasi Manusia.
Ini bukan artikel penistaan agama,
hanya ocehan bocah pendosa yg tengah gembira.
Karena Tuhan memberinya kemampuan utk bicara lewat kata,
mengharap doa dari sekalian saudara semua,
Agar diampuni segala khilaf dan dosa.
Hidup ini adalah tempaan bagi manusia,
di tempa oleh alam utk mencapai wujud kesempurnaannya.
Dgn ujian menuju 'Karat' .
Tercemari menjadi tambang besi penuh karat,
Atau mencapai keberhasilan uji menjadi emas yg berkarat.
Siapa diri kita....?
Besi atau Emas....?

Karat [4]

Betapa Air Asam itu berbahaya, besi keraspun dapat di ubah jadi rapuh tak bertenaga.
Apa pula pada hati, yg saban hari di basahi oleh kisruh hati cinta dini.
Coba deh renungi, gak ada ruginya memperbaiki diri.
Toh kita semua percaya takdir, jodoh gak bakal mangkir, terus kenapa kita masih khawatir.
Menjalani budaya asing tanpa sortir, hingga akhirnya berbagai perubahan zaman pun bergulir.
Adaptasi perubahan kata luarbiasa, mengikuti mode transisi pergaulan anak muda.
Aku ingat kata dari Bapak Bangsa, mengenai 5 pemuda yg mampu mengguncang dunia.
Terbayang betapa hebatnya mereka, miliki potensi luarbiasa, semangat jiwa tuk goyahkan dunia.
Terlalu idealis mimpi itu, lihatlah realita yg ada nampak semu.
Seumur jagung bicara cinta, mengobral manja mengumbar mesra.
Kiranya kelak apa yg kan mereka cipta..? Karya..?
Prestasi apa yg mampu mereka buat..?
Pemuda, kalian dengar nama dan kehebatan yg disematkan pada diri kalian..?
Hanya mengurusi cinta dini, lalu getaran apa yg akan menggoyah bumi ini..?

Karat [3]

Kehabisan ide aku menyusun kata, metodologi itu kadang-kali membuat akal kita buta dari makna. Ku kira hujan datang utk mengganggu, namun tidak. Ia datang penuh haru, bersama serentet estetika yg syahdu. Imajiku tergenapi, kini jemari Mulai menari, meyusun pesan lewat puisi. Hujan menjadi suasana yg di rindukan, terutama bagi mereka yg sedang mendalami peran kesedihan. Seolah hujan itu mewakili tangisan, sepanjang kisah cinta musim kemarau yg memilukan. Tangisan harusnya menjadi kekuatan, bukan malah menjadi ratapan hati yg melemahkan. Menangis memeluk guling, atau menatapi hujan dgn muka lumer di balik jendela bening. Tangisan masam, yg kelak kan merusak hati jadi kelam. Apa gunanya menangisi sesuatu yg telah pergi, berhentilah dari menyiksa hati. Baiknya menangislah utk yg lebih berarti, tontonlah peduli kasih di televisi. Heehe.. Ayo baca atau dengarkan lantunan ayat-ayat suci, atau memohon ampun mengemis cinta pada Ilaahi. Menangislah sepenuh hati, raih kekuatan sejati, menuju kehidupan hakiki.

Karat [2]

Nampaknya karat itu seringkali salah tempat, bukan hati yang di tambat tapi akal yang akhirnya di sumbat. Bahaya timbul seiring laju pemikiran yang tertahan. Sinisme, diskriminasi, intimidasi dan juga pembatasan terhadap ilmu pengetahuan yang di kaji. Dengan tuduhan penuh doktrin, tanpa asas pembuktian dan pembelaan bagi si tertuduh. Jangankan fakta nyata atas pembelaan, sekecil apapun tertolak hingga hanya sebuah perkataan. Kenyataan negeri yang katanya demokrasi, sejak Pendiri Negeri ini di habisi dengan berbagai alibi. Kala itu tiap pembelaan atas tuduhan pun terhimpit, tak diberi jalan dan terus di jepit. Doktrin dari segerombol manusia yang punya kepentingan, mencari pembenaran terhadap sbuah pertengkaran dan pelanggaran. Yang di tuduh gak sepenuhnya jadi korban, karena nyatanya pada muda-mudi itu aku merasa kasihan. Pundak-pundak yang lugu, dengan warna-warni jas mereka yang di pakai slalu. Tradisi itu berlanjut, hingga berlarut, membuat makin semrawut, meski jiwa-jiwa pemberani tertuduh mulai tumbuh dari balik kabut dan tumbuh dari rumput.

Sabtu, 02 Januari 2016

Karat [1]

Terlalu banyak menyusun frasa dgn kata dan makna, kadang membuat seseorang jauh dari fakta dan realita. Mungkin tak semua hal sempurna seperti yg kita cita, tapi belajarlah utk hadapi dan memahami bahwa ini semua nyata. Sudah terlampau sering bukan, air mata dan perih kamu rasakan. Bahagia pun terasa begitu melegakan, ketika secuil rayuan atau kemesraan terperikan. Sebuah bujuk seolah amat kuat, sehingga bisa menguliti hati yg perlahan berkarat. Mungkin semakin berkarat, harga jual hati akan semakin meningkat. Hati manusia, bak batu mulia. Aku seorang penulis amatir yg terkadang jenuh, dgn semua metodologi susunan kata yg hadirkan kisruh. Kisruh tersendiri cacian hati, meski seringkali pena menjadi sahabat sejati. Pena yg rela menuliskan berbagai ilusi, dan kertas yg seringkali jadi latar airmata jatuh dari pipi. Aku tak secengeng itu rupanya, karena aku lelaki yg harus percaya. Bahwa banyak hal penting lain yg membutuhkan air mata, dan itu bukan sekedar tangis karna kisah cinta yg bodoh dan gila. Tapi.....

Rabu, 19 Agustus 2015

Titik Fokus

Beriring dengan datangnya kegelisahan ku tentang dirimu. Aku mulai menjalani rencana pembenahan diri, mulai dari merapihkan kamarku. Ya! Kata teman-teman, "Begini ya kamar orang kreatif??"

Dari situ aku menyadari lagi betapa pentingnya memperbaiki diri untuk meraih sesuatu yang kita impikan. Baik itu karir, persahabatan, hubungan masyarakat, kekeluargaan yang erat, juga masalah percintaan.

Malam ini aku tertegun, memulai aktivitas sebelum tidur dengan renungan. Dimana sering aku berharap, bahwa suatu hari nanti akan melalui renungan dan evaluasi ini bersamamu. Itu pasti menyenangkan...?!

Ku petakan kotak-kotak berbagai problema, melintang dan membujur. Ya! Peta Problema yg tengah ku hadapi, dimana nalarku yg menjadi penanya dan langkahku adalah aplikasi dari kompas yg harus di tembak. Koreksi sana-sini, rombak ini dan itu. Betapa hidupku rumit untuk di gambarkan, seperti tiap serabut topografi yg menyajikan penjelasan penuh cabang dan ambiguitas. Namun, perjalanannya seringkali tak serumit apa yg terlihat dan kurasa.

Karena aku percaya tak ada hal rumit yg mustahil di selesaikan, apapun itu. Beberapa temanku selalu berkata, "Gak ada ujungnya kalo bahas Politik." Meski sebenarnya Politik tak serumit itu, Justru pola fikir manusia yg enggan berfikir dan bernalar lah yg membuatnya rumit.
Atau seperti Filsafat yg di pandang sebelah mata oleh kaum pandir, "Filsafat itu ribet, bikin stres. Kalo gak kuat bisa gila!" Nah loh?! Hebat banget dong, orang gila adalah tanda seorang menjadi ahli filsafat...? Sebenarnya gak begitu bukan...??

Kembali kepada kamu, ya! Kamu...!
Kamu itu loh, yg suka pake seragam cokelat.

Sebenarnya kamu itu jauh lebih rumit dari Politik, dan jauh lebih musingin dari Filsafat. Tau gak kenapa....?

Ya itulah kamu. Di tegur "huhh..", jawabnya "heeh..". Di tanyain soal rencana kita bulan oktober itu gimana, malah di anggurin...? Duh, padahal aku lebih suka rujak. Kenapa gak di rujakin aja??

Terlepas dari kesibukkan mu di dunia nyata, tanyaku mulai ambigu menyertai statusmu. Yg melulu tentang penantian, tentang dia yg beruntung meraih perhatianmu.

Sudahlah, aku kan hanya satu dari sekian teman mayamu yg mungkin berniat jahat. Menjahatimu dgn mencuri foto-fotomu dari album upload di sosmed. Silahkan pilih, mau di santet atau di pelet. :p

Hahaha..!! Aku tak segila itu, karena aku bukan ahli filsafat yg di katakan kaum pandir itu.

Sekuat apapun usahaku hari ini untuk memperbaiki diri, adalah upaya untuk menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya untuk dan berdasarkan diri sendiri. Bukan untuk kamu...? Kamu itu Ibarat Puncak Gunung dalam sebuah pendakian. Karena dalam prinsipku, Puncak adalah bonus. Begitu juga dengan kamu.

Intinya adalah proses pembenahan diri yg aku jalani, kamu lah yg menjadi titik pengalihan fokusku. Karena manusia selalu terjebak dalam ruang kausalitas, maka dari  itu kamu dan pembenahan diri ini menjadi sebuah titik temu yg cukup serasi.

Kopi...?! Kamu tak suka kopi? Maaf...!

Senin, 17 Agustus 2015

Wanita Cuek yg Mempesona

Andai kamu tahu??
Aku amat ingin menggapai tiap celotehmu di papan elektrika ini, Apakah harapan ini tabu atau mimpi yg mampu di beli...?
Aku tak tahu? Tepatnya karena aku tak mampu mendekatmu yg amat memukau disana. Kurenungi perkataan seorang sobatku mengenai dunia maya ini, bahwa ada sebagian orang yg memanfaatkannya untuk benar-benar berkomunikasi dan saling mengenal satu sama lain. Namun ada juga yg hanya menjadikannya sebagai lahan fantasi dan ilusi. Terutama bagi orang-orang yg tidak saling mengenal.

Benar!! Aku setuju!

Tapi..., lagi-lagi ketika tiba-tiba namamu masuk dalam daftar status terbaru di berandaku. Aku mendadak menggebu. Seolah ingin melihatmu lebih dekat, dan menyapamu dengan senyuman penuh canda. Ku hentak tuts enter dan menunggu sekian menit bahkan jam untuk membaca balasan komentarmu. Naasnya, ketika harapan mendapat balasan mu sangat besar. Kamu menjawab beberapa komentar lain yg ada di sekelilingku. Dan ku amati, bahwa seringkali namaku terlewatkan. Ya! Aku dan kamu tak benar-benar saling mengenal.

Mungkin namamu hanya satu dari sekian nama yg ada di friendlistku, begitu juga dgn mu. Ternyata benar, ini hanya dunia maya.

Aku ingat! Sebelum bulan Ramadhan lalu, pernah mengajakmu untuk mendaki bersama. Aku mengirimnya di sebuah komentar dalam foto kirimanmu yg lucu mengenai Pendaki Gunung. Ya! Itu hoby yg sama-sama kita gandrungi. Cukup senang saat itu aku mendapatkan respin positif darimu, hingga kita buat satu perencanaan di bulan oktober nanti. Ingin rasanya aku menegur atau sekedar mengingatkan mu mengenai rencana yg kita sepakati itu. Tapi..., aku ragu. Bahkan malu. Kamu tahu? Betapa bebannya aku mendikte semua status dan sikapmu di dunia yg maya ini....? Ku rasa itu tak menjadi minatmu, apalagi mencuri perhatianmu.

Parahnya?! Sifat Cuekmu itulah yg membuat aku berharap bisa mengenalmu, karena aku butuh seseorang yg bisa dengan tajam menghunus semangatku untuk berdiri. Dan sikap Jutekmu itu yg membuatku terpikat untuk bisa duduk bersama denganmu dan perbincangkan banyak hal. Sikap Kritismu, tingkah lucu dan celoteh-celoteh manjamu itu...?

Kita sama-sama penulis amatir yg memiliki small-blog untuk mencurahkan ide karangan dan coretan tangan di dalamnya. Namun ku perjelas kepadamu tentang hal ini. Bahwa ini bukan karangan, juga bukan sebuah umpan untuk menarik simpatimu.

Aku hanya ingin mengenalmu.....

Jumat, 07 Agustus 2015

Syair Dusta

Aku menyusun frasa untuk memukau semua dialektika, yaa!
Ku buat penuh hikmah dalam makna,
Meski nyatanya aku ini dilema...

Menyelam ke lautan bebas,
Gali tiap pengetahuan tanpa batas...
Bentangkan analisa dengan tangkas,
Meraup ibrah dari setiap problema yg ku retas...
Aku seolah bersembunyi dari kenyataan,
Dengan berbagai ucapan yg ku lontarkan...
Dialektika panjang menebarkan alasan,
Semakin menutupi serentet permasalahan yg ku rasa sengaja ku lupakan...

Dusta.....
Ku rasa aku tengah berdusta,
Menipu diriku sendiri dengan seutas cita...
Yg nyatanya bukan mengantarkan aku pada tahta,
Namun malah menyusun skenario untuk menjatuhkan diri sendiri dengan dusta...
Bernaung dalam perjalanan panjang ini,
Memang membangun utamanya satu hal yg pasti...

Bagaimana tidak,
Aku tak mungkin mengelak...

Kesadaran itu layaknya rumput di pinggir pesawahan,
Tumbuh subur seiring bulir padi berjatuhan...
Seperti halnya hujan dan basah,
Keniscayaan ini membuatku terperangah...
Tertunduk dan bungkam tanpa rasa,
Pejamkan mata tuk akui segala nista...

Tak ada air mata,
Seolah mata ini curiga hati sedang berdusta...
Dosa tak lagi menjadi tanya,
Bahkan tak khawatir akan datangnya siksa...
Bukan karena aku tak percaya pada semua,
Melainkan aku terjebak dalam dilema...

Betapa aku ingin mengatakan pada diriku sendiri,
Celakalah kau dengan kedustaan ini...

Musibah menjadi hal pasti dalam khayal,
Bencana akan menimpa tak henti oleh sesal...

Hancurlah aku...
Musnahlah aku...
Dan sirnalah perjalananku...

Jangan anggap ini sebuah pengakuan yg mengharukan,
Penyair ini akan celaka tanpa iman...
Bisa jadi ini bagian dari cara menarik simpati,
Maka pantaslah aku mendapat caci dan maki...

Lemparilah aku dengan teguran,
Karena itu mungkin menyegarkan...
Hantam aku dengan kritikan,
Semoga hatiku terbentur lalu hancur berceceran...

Jika sampai di satu masa dan aku masih berdiri di jurang kelam ini,
Maka lucuti jiwaku dengan kejujuran yg murni...
Hukum aku.....

Kamis, 04 Juni 2015

Nyanyian Malam

Apa yg tersisa di sepanjang jalan,
Ketika sepi berhembus temani kesepian.....
Bernyanyi dalam sunyi dan menyendiri.....

Apa yg bisa di lupakan,
Ketika semua berlandas pada harapan dan impian.....
Sementara imaji terendap di dasar hati.....

Apa yg patut di tinggalkan,
Ketika yg di harapkan hanya ketulusan.....
Ku kira Cinta telah membuat kita mengerti dan saling mengasihi.....

Tanya masih bersusun laksana ombak yg berderu,
Menginterogasi setiap alibi yg mencuat jadi ambigu.....
Selaksa realita tak mampu di sela,
Apalagi di hapus tuk menutupi fakta.....
Beginilah adanya,
Dimana kejadian tak bisa di terka.....
Dinamika selalu mengiringi setiap langkah kaki,
Halangan dan rintangan pun menjadi sesuatu yg mesti di hadapi.....
Di terima,
Dan di jalani.....

Lalu aku berlanjut menyelami kegelapan malam.....

Dalam keheningan yg ciptakan rentetan tuntutan dan keharusan,
Ku tuai jawaban dari surutnya kepastian.....
Tindakkan,
Kesusah payahan,
Dan sekelumit permasalahan yg mesti di selesaikan.....
Ini tentang tanggung jawab dalam kehidupan,
Dimana diam tak berarti bungkam.....
Dimana mengeluh bukan karena kelemahan,
Tetapi karena ingin dapatkan perhatian.....

Salahkah aku....?
Jika kisah di masa lalu yg kini membuatku merasa haus,
Haus akan perhatian dan pengertian yg khusus.....
Mungkin luput dari pandanganmu,
Atau bahkan tak sampai dalam imajimu.....
Karena kamu memiliki kebebasanmu sepenuhnya,
Meski pernah hampir kamu kehilangannya.....

Tapi aku....?
Huuhh.....
Rasanya tak ingin ku buka luka lama,
Namun perih dan cacatnya masih tersisa.....
Membekas di sanubari,
Menggores di lubuk nurani.....

Ini bukan luka hati yg tragis,
Tapi tekanan jiwa yg guncangkan psikologis.....

Rasanya mataku mulai perih dan berair,
Menelusuri lembaran kertas dan mata tinta yg bergulir.....
Sesal tak pernah terasa lagi,
Sesak di dada menepi dan bersembunyi.....
Bagaimana caraku lewati semua ini,
Adalah rahasia malam yg bernyanyi dalam sunyi.....
Dalam larutnya pekat malam,
Dan siksaan Insomnia yg seolah menghujam.....

Mata dan otakku.....
Kembali beralibi dalam Imaji.....

Oktober 2014

Rabu, 03 Juni 2015

Kamu

Perlahan ku urai satu persatu,
Berbagai gelisah yang selalu mengganggu...
Kan ku ungkap segala rancu,
Meski tiap wajah memandangku tabu...
Namun inilah massa dimana tiada lagi abu-abu,
Tiada hitam yang kan menutup cahya itu...

Masih tentang kegelisahan yang membuat semua seolah semu,
Semoga hadirmu jadi kelembutan yg luluhkan ragu...
Menjadi kepastian tentang adanya hari baru,
Dimana tiada lagi lara yang memecah asa jadi ambigu...

Kamu...
Seperti fajar yang selalu ku tunggu,
Lama ku terjaga menunggu waktu...
Membunuh malam ku duduk termangu,
Biasmu adalah sebersit harapan di langit biru...

Kelak di waktu yang kita tuju,
Kan terjawab tanyamu tentang sepi yg lama membiru...
Tentang gelisahku dan gelisahmu,
Yang kelak kan bertemu dan bertumpu...

Namun biarlah itu menjadi rahasia waktu,
Karena saat ini masih terasa tabu dan buntu...
Tinggal bagaimana kita mengolah dan meramu,
Biarkan rimba menuntun kita untuk menyatu...

Logika dan ritmenya kan menjadi bumbu,
Mengikat kasih cinta yang bersatu padu...
Saksinya adalah deru nafas yg menggebu,
Mungkin juga pijakkan langkah kita yang penuh debu...

Sejauh puncak-puncak yang kelak kan berlalu,
Terbentang juga dinamika yang berputar pada dinding rindu...
Coba pecahkan problema dalam bisu,
Bergantung pada sejauh mana kita memahami titik temu...

Biasa, seperti kisah-kisah lain yang juga pernah berlalu,
Kita kan alami masa-masa itu...
Jangan mencoba melawan waktu,
Biarkan kita bertemu dan berjalan di tepian dinding berbatu...
Menemui Cinta yang penuh haru,
Atau berujung dan kandas di jurang yang penuh dengan benalu...

Sejauh ini aku berharap mampu mengusir kelabu,
Dan mulai menjemput bahagia yang sering di dongengkan oleh Ibu...
Dan ku harap itu dirimu,
Yang kelak kan menunggu ku pulang di depan pintu...

Menyambut lelahku dengan senyum semanis madu,
Luluhkan lelah yang bertengger di bahu...
Menghapus penat dengan teduh tatapan sang ratu,
Yang malu-malu penuh rayu dan rindu...

Dalam syair ini ada harapan yang mengusik kalbu,
Dari sekian banyak yang datang dan berlalu hanya tinggalkan pilu...
Aku ingin berlabuh di relung jiwamu,
Menanam benih Cinta di dasar hati yang tlah lama semu...

Senin, 25 Mei 2015

Shake Spirit

Pagi ini terasa tak biasa,
bercampur imajiku memicu nuansa...
Bersama embun di dedaunan yg bermahkota,
coba ku hisap teduhnya dgn jiwa yg dahaga...

Menebal pupil mataku mengoyak retina,
isyarat dari jiwa untuk fokus menyusun aksara...
Kiranya ada sesuatu yg berbeda,
itu hanya waktu yg seolah sesakkan dada...

Menghimpit senda gurau yg sia-sia,
memeras teori tuk capai puncak dinamika...
Massa tak pernah bisa di tunda,
namun imaji harus bisa meraih cahaya...

Hari esok kan datang bersama realita,
kejarlah asa dengan segenap cinta dalam jiwa...
Tutuplah matamu dari tanya yg terus menunda,
ciptakan semua dgn yakin pada usaha dan upaya...

Karena Cinta adalah Keniscayaan yg nyata,
Ragu kelak kan sirna,
pun kelak tiada lagi dahaga dalam tanya...

#QueenBee

In the Low Time

Ku gores jemariku di layar cahaya,
seraya mengobati sepi yg bernada...
Membentang serentet realita,
mengais harapan dalam bingkai analisa...

Ku jelajahi penjuru dunia,
dari balik kaca elektrika yg berwarna...
Menembus ruang dialektika,
menjengkal waktu tuk puaskan tanya...

Akan dimana berakhirnya dinamika,
tentang bagaimana harus ku raih bahagia...
Ini seperti berdenyutnya syaraf-syaraf di kepala,
darah dan sel saling bertaut tuk bangkitkan rasa...

Seketika Cinta membahana di lembah thuwwa,
dasar hati yg penuh dgn misteri dan jadi pusat tanya...
Getarannya menstimulan tiap organ jiwa,
seperti mendorong geraknya untuk berlaga...

Sesaat ku dapati kegelisahan sirna,
berganti dengan harapan yg mekar bagai bunga...
Merekah merah menggoda,
dan menunggu tangan lembut nan halus untuk memetiknya...

#QueenBee

Selasa, 05 Mei 2015

Resah Hati

Kelopak mata mengendur,
Pandangan pun mengabur...
Namun suasana hati ku tak teratur,
Gelisah mengoyak tubuhku yg terbujur...
Keheningan seolah jadi cadur,
Antara aku dan segenap keresahan yg melacur...

Ku pejamkan mataku sejenak,
Cari sebabnya gundah yg terselubung dalam benak...
Tentang hari esok yg tak tertebak,
Bahwa keadaan takkan bisa untuk di elak...
Ku  ingin menangis sendu,
Namun ada angin yg mengusik nada syahdu...

Sedih masih menggelayut di pelupuk mata,
Aku seolah kehilangan akal untuk berkata...
Tak ku kenali rasa yg bertengger dalam dada,
Kecuali kecewa, sesal dan rasa hina...
Aku berhenti berkata,
Semenjak beberapa menit yg bernada...
Nada jarum jam yg seolah menyeru telinga,
Untuk mendengar sesuatu yg tak bersuara...

Sunyi,
Hening dan sepi...
Aku menepi dan rebah di lantai yg selalu ku tiduri,
Masih dengan rasa yg tak menentu dalam qolbi...
Tak mampu mengundang lirih,
Juga tak mampu ku berdiam diri...

Ku sambangi pagi ini,
Menahan diri,
Bersama sepi,
Nikmati kopi tuk pecahkan imaji...

Pergilah wahai resah hati...

Sabtu, 20 Desember 2014

Gerimis

Dalam seluk beluk kisah,
Ada insiden yang merekah.....
Mencoba menggali Hikmah,
Ku geluti gelap dengan hati yang resah.....
Ku cari dimana ada yang salah,
Temui lemahku yg selalu jadi celah.....

Untuk kesekian kalinya aku termangu dalam haru,
Haru yang menggelayut diantara alibi yang jadi rancu.....
Seperti Anti-Toksin,
Kalbuku seolah kebal dari serangan racun dalam bathin.....
Awalnya mungkin bangga,
Namun risih ketika dirasa seolah diriku berbeda.....
Berbeda dari kebanyakan manusia,
Mampu merasa bahagia,
Namun jatuh Cinta pada rasa kecewa.....

Dan ku tak perlu sibuk untuk mengobati luka duka ini,
Semua perih ini berlalu di sisihkan oleh esensi dan harmoni.....
Seluruh imaji yang telah tersaji,
Perlahan lumer di tempa dinamika yang menguji.....

Yaa.....
Tak akan ada yang Abadi,
Meski nampaknya terlalu singkat tiap emosi ini ku cumbui.....

Rona Bahagia yang berkilau dalam retina,
Sekelibat redup redam seperti cahaya mentari di cakrawala saat berganti hari.....
Nada sendu dalam gemuruh runtuhnya hatiku,
Mendesis lalu padam seperti bisikkan malam yang hilang di balik temaram.....

Bukan karena aku haus akan pujian,
Toh ini bukan kisah kepahlawanan,
Hanya segaris jalan hidup anak manusia yang memilukan.....
Juga tak bermaksud membuat ini seolah berlebihan,
Siapa kiranya yang ingin selalu di rundung kesedihan,
Hanya ingin menuai benih Kearifan dari setiap kejadian.....

Sekiranya di beri satu doa yang langsung di kabulkan,
Aku hanya ingin memohon Ampunan dan sebuah jalan,
Jalan untuk menuntaskan semua Kewajiban di dunia yang sempat ku tangguhkan.....

Lalu duduk bersimpuh di bawah deraian hujan,
Dan pergi tak kembali dalam gerimis yang mengobati lelah dalam Kerinduan.....

Sabtu, 13 Desember 2014

Aku Tahu

Jangan kira aku bisa dgn kaffah menikmati imaji,
syair pun masih tak bernyawa namun tak mati.....
Bukan aku yg tak ingin,
namun langkahku berat melawan angin.....

Bukankah kita sepakat bahwa harapan dan cinta ini berlandas pada Dia....?
Aku tau sepinya berdiri sendiri,
juga bosannya utk terus menanti.....
Aku pun tak pernah cukup membayangi wajahmu,
di permukaan air yg menggenang dgn nada sendu.....
Tak berbeda dgnmu.....
Aku ingin mendengar semua kisahmu,
bahkan seluruh curahan harimu.....
Menjadi penghangat ketika dingin menyerbu,
dan berikan bahuku lebih dari sekedar menyandarkan kepalamu.....
Tapi berkisah dalam bisik mesra,
dan bercanda dalam derasnya gemuruh hujan yg bertahta.....
Aku dambakan merahnya senja,
dalam pekatnya kerinduan di tengah hujan yg baru reda......
Apakah harus ku pertanyakan kesiapanmu....?
Kesiapanmu utk duduk bersama,
meski aku belum menyandang suksesku dalam cita....?

Tak cukup segelas kopi hitamku,
hingga ku buka lagi toples kaca yg tertata di meja.....
Kopi hitam pahit yg seolah mengujiku,
tetap bersabar utk dapat nikmati manis senyuman di bibirmu.....

Lidahku terkadang berontak,
namun ku ingat pesan mimpi dalam riak......
Tetes sisa tampias menggugah bayang samar,
hingga ku rengkuh airnya dgn tanganku yg kasar.....
Ku hirup rinduku,
ku sentuh sepi yg mengusik dirimu.....

Biar ku jinjing kerah kejenuhan yg mengganggumu,
"Berhenti mengganggu gadisku, karena aku akan datang menjemput bahagianya...!!" pungkasku menantang.....

Besok.....
Kita bicarakan semua keluh,
kita bongkar semua resah.....
Kita siasati jalan cinta ini,
kita temui apa yg wajib kita arungi.....

Kesedihan

Menyengat sang surya sulut pori-pori bekerja,
Keramaian menggema sembunyikan sepi hingga senja.....
Aku bersiasat dengan harapan,
Mencari dimana rekan yang mau berulur tangan.....
Seperti mencari serpihan kaca di gundukkan salju,
Pahitnya ku temui karena realita seringkali menipu.....
Aku yg sadar dengan hal itu pun berpaling,
Tertatih sendiri di tengah teriknya dunia yg bersaing.....

Sejenak ku hirup ramah sapa oksigen di bawah beringin,
Seolah ia menyajikan penyejuk yg membasahi relung jiwa yg mengering......
Tak ada yg salah,
Karena setiap orang ingin dapati hari yg cerah.....
Hanya saja aku yg belum beruntung menjalani hari,
Atau mungkin belum maksimal kerahkan potensi diri.....

Tak ingin berlarut,
Kini ku berfikir untuk pergi dan merajut.....
Mengingat musim dingin kan datang membawa kabut,
Ku siapkan jaket ku untuk hadapi musim yg semrawut.....
Sesekali ku petakan langkahku di malam sunyi,
Barangkali jalan kan ku temui esok hari.....
Tak lupa tuk mengemas harapan dalam doa,
Hanya Dia obat segala duka dan lara.....

Sendu desah nafasku menanti waktu,
Kala Ibu berbaring pulas dalam tidurnya.....
.....
.....
Sergahku menyeka berlian yg bergulir,
Bukan waktunya bersedih menyalahkan takdir.....
Aku berbalik kearah tabir,
Ku sucikan diriku dengan air,
Lalu menangis sambil tersungkur membaca syair.....