Tampilkan postingan dengan label Realita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Realita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Juni 2015

Nyanyian Malam

Apa yg tersisa di sepanjang jalan,
Ketika sepi berhembus temani kesepian.....
Bernyanyi dalam sunyi dan menyendiri.....

Apa yg bisa di lupakan,
Ketika semua berlandas pada harapan dan impian.....
Sementara imaji terendap di dasar hati.....

Apa yg patut di tinggalkan,
Ketika yg di harapkan hanya ketulusan.....
Ku kira Cinta telah membuat kita mengerti dan saling mengasihi.....

Tanya masih bersusun laksana ombak yg berderu,
Menginterogasi setiap alibi yg mencuat jadi ambigu.....
Selaksa realita tak mampu di sela,
Apalagi di hapus tuk menutupi fakta.....
Beginilah adanya,
Dimana kejadian tak bisa di terka.....
Dinamika selalu mengiringi setiap langkah kaki,
Halangan dan rintangan pun menjadi sesuatu yg mesti di hadapi.....
Di terima,
Dan di jalani.....

Lalu aku berlanjut menyelami kegelapan malam.....

Dalam keheningan yg ciptakan rentetan tuntutan dan keharusan,
Ku tuai jawaban dari surutnya kepastian.....
Tindakkan,
Kesusah payahan,
Dan sekelumit permasalahan yg mesti di selesaikan.....
Ini tentang tanggung jawab dalam kehidupan,
Dimana diam tak berarti bungkam.....
Dimana mengeluh bukan karena kelemahan,
Tetapi karena ingin dapatkan perhatian.....

Salahkah aku....?
Jika kisah di masa lalu yg kini membuatku merasa haus,
Haus akan perhatian dan pengertian yg khusus.....
Mungkin luput dari pandanganmu,
Atau bahkan tak sampai dalam imajimu.....
Karena kamu memiliki kebebasanmu sepenuhnya,
Meski pernah hampir kamu kehilangannya.....

Tapi aku....?
Huuhh.....
Rasanya tak ingin ku buka luka lama,
Namun perih dan cacatnya masih tersisa.....
Membekas di sanubari,
Menggores di lubuk nurani.....

Ini bukan luka hati yg tragis,
Tapi tekanan jiwa yg guncangkan psikologis.....

Rasanya mataku mulai perih dan berair,
Menelusuri lembaran kertas dan mata tinta yg bergulir.....
Sesal tak pernah terasa lagi,
Sesak di dada menepi dan bersembunyi.....
Bagaimana caraku lewati semua ini,
Adalah rahasia malam yg bernyanyi dalam sunyi.....
Dalam larutnya pekat malam,
Dan siksaan Insomnia yg seolah menghujam.....

Mata dan otakku.....
Kembali beralibi dalam Imaji.....

Oktober 2014

Senin, 25 Mei 2015

Shake Spirit

Pagi ini terasa tak biasa,
bercampur imajiku memicu nuansa...
Bersama embun di dedaunan yg bermahkota,
coba ku hisap teduhnya dgn jiwa yg dahaga...

Menebal pupil mataku mengoyak retina,
isyarat dari jiwa untuk fokus menyusun aksara...
Kiranya ada sesuatu yg berbeda,
itu hanya waktu yg seolah sesakkan dada...

Menghimpit senda gurau yg sia-sia,
memeras teori tuk capai puncak dinamika...
Massa tak pernah bisa di tunda,
namun imaji harus bisa meraih cahaya...

Hari esok kan datang bersama realita,
kejarlah asa dengan segenap cinta dalam jiwa...
Tutuplah matamu dari tanya yg terus menunda,
ciptakan semua dgn yakin pada usaha dan upaya...

Karena Cinta adalah Keniscayaan yg nyata,
Ragu kelak kan sirna,
pun kelak tiada lagi dahaga dalam tanya...

#QueenBee

Sabtu, 21 Februari 2015

Pemuda Radikal itu ternyata Bung Karno?!

Pada tahun 1917, sebuah Klub Diskusi (Studieclub) di HBS Surabaya menggelar diskusi. Di saat diskusi sedang berlangsung, seorang pemuda berusia 16 tahun meminta kesempatan untuk berbicara. Moderator membolehkan. Si pemuda tadi, dengan emosi yang menggelora, langsung melompat ke atas meja. Lalu, ia memulai orasi politiknya dengan menggunakan bahasa bumiputera. Moderator langsung menegur, “sudah menjadi aturan di Klub ini untuk berbicara bahasa Belanda yang baik.” Pemuda itu membantah. “Saya tidak setuju,” katanya. Dia pun membeberkan alasannya: “Tanah kebanggan kita ini dulu bernama Nusantara, yang berarti ribuan pulau. Banyak pulau-pulau ini lebih besar dari negeri Belanda. Jumlah penduduk negeri Belanda hanya segelintir dibandingkan dengan penduduk kita. Bahasa Belanda hanya dipergunakan oleh 6 juta orang….mereka tinggal ribuan kilometer dari sini, mengapa kita harus berbicara bahasa Belanda?” Diskusi menjadi buyar. Pemuda tadi ngotot menganjurkan agar Klub Diskusi menggunakan bahasa Melayu, bahasa negerinya, bukan bahasa Belanda. “Marilah kita bersatu mengembangkan bahasa Melayu. Kemudian baru menguasai bahasa asing,” tuturnya. Tingkah laku pemuda itu, juga sikapnya yang ngotot menggunakan bahasa Melayu, segera menjadi pusat perhatian. Direktur HBS Surabaya, Tuan Bot, segera menudingnya sebagai “pencari masalah”. Dan, pemuda itu bernama Soekarno. Itulah debut politik pertama Soekarno. Kendati demikian, ia sudah lama mengunyah banyak pemikiran politik. Saat itu, sebagai pelajar HBS di Surabaya, Soekarno indekos di rumah HOS Tjokroaminoto, tokoh terkemuka dari pergerakan “Sarekat Islam”. Rumah HOS Tjokroaminoto sering menjadi tempat konsolidasi kaum pergerakan. Tokoh-tokoh pergerakan, seperti Sneevliet (tokoh komunis), Semaun, Musso, dan Alimin, sering bertandang ke sana. Soekarno menyebut rumah HOS Tjokroaminoto sebagai “dapurnya api nasionalisme”. Selain itu, di waktu senggangnya, Soekarno rajin mengunjungi perpustakaan milik perkumpulan Theosofi. Di sanalah ia mengakrabi bacaan-bacaan mengenai tokoh besar dunia, seperti Thomas Jefferson, Abraham Lincoln, Mazzini, Cavour, Garibaldi, Otto Bauer, Marx, Friedrich Engles, Lenin, Rousseu, Jean Jaures, dan lain-lain. Persinggungan Soekarno dengan HOS Tjokroaminoto membuatnya dekat dengan tokoh-tokoh Sarekat Islam (SI). Pada tahun 1921, Soekarno sudah menulis di koran SI: Oetoesan Hindia . Di setiap artikelnya Soekarno menggunakan nama samaran: Bima. Di koran itu Soekarno menulis sekitar 500 artikel dan komentar. Tri Koro Darmo/Jong Java Pada tahun 1915, puluhan pelajar STOVIA mendirikan organisasi kepemudaan bernama Tri Koro Darmo (Tiga Tujuan Mulia). Tiga tujuan mulia itu adalah: pertama, mengadakan hubungan antara pelajar pribumi yang belajar di sekolah-sekolah tinggi dan menengah, juga di kursus-kursus pendidikan lanjut dan Vak; kedua, membangkitkan dan meningkatkan minat terhadap kesenian dan bahasa nasional; dan ketiga, memajukan pengetahuan umum para anggota. (Hans Van Miert, 2003). Kendati organisasi pemuda ini didirikan oleh kaum terdidik, yang sudah mendapat asupan pemikiran barat di sekolahnya, tetapi sangat berorientasi nasionalisme-etnik. Cita-citanya adalah membangkitkan nasionalisme Jawa di bumi Jawa. Sudah begitu, sebagian besar anggotanya adalah anak-anak priayi, yang sangat taat dan hormat kepada majikannya: Belanda. Dan, sebagai konsekuensinya, organisasi ini sangat menjaga jarak dengan gerakan politik. Pada tahun 1918, Tri Koro Darmo berganti nama menjadi Jong Java. Tetapi pergantian nama tidak mengubah orientasi dan cara kerja organisasi ini secara mendasar. Organisasi ini tetap menitik-beratkan pekerjaannya di bidang seni dan kebudayaan Jawa, dan sengaja menghindar dari soal-soal politik. Namun, bukan berarti tidak ada upaya menyeret organisasi ini menjadi politis. Pada kongres ke-II Jong Java di Jogjakarta, 1-2 Juni 1919, dua tokoh komunis, yakni Darsono dan Semaun, sengaja datang ke kongres untuk mengagitasi para ‘cendekia muda’ ini agar memihak perjuangan kaum proletar. Namun, seolah-olah seruan Darsono-Semaun itu membentur batu karang. Namun demikian, tetap saja ada segelintir anggota Jong Java yang tertarik dengan politik. Karenanya, untuk menyogok mereka, Kongres membolehkan anggota Jong Java bergelut dengan politik “teoritis”, yakni politik sebagai objek studi, tetapi bukan politik sebagai sebuah gerakan yang melibatkan massa. Dua Faksi Di Tubuh Jong Java Surabaya Di Surabaya, pada tahun yang sama, para pelajar MULO, HBS dan NIAS juga mendirikan Tri Koro Darmo cabang Surabaya. Soekarno, yang saat itu menjadi pelajar HBS, segera bergabung dengan Tri Koro Darmo cabang Surabaya. Yang menarik, seperti dicatat Hans Van Miert dalam bukunya “Dengan Semangat Berkobar: Nasionalisme dan Gerakan Pemuda di Indonesia, 1919-1930, Jong Java cabang Surabaya terbelah dalam dua kubu (faksi), yakni ‘Kaum Merah’ dan ‘Kaum Halus’. Kubu Merah berwatak progressif, anti-elitisme, dan anti-kolonial. Sementara kubu Halus berwatak konservatif, sangat feodal, dan sangat patuh dan taat kepada penguasa kolonial. Soekarno berada di dalam kubu “Kaum Merah”. Pada beberapa kegiatan Jong Java Surabaya, Soekarno sering bersebrangan dengan golongan konservatif. Termasuk dengan ketua Jong Java Surabaya, Soegito. Misalnya, pada 6 Februari 1921, di hadapan 200 orang, Soekarno berhadap-hadapan dengan Soegito. Soekarno menolak berbicara dengan bahasa Belanda. Sebaliknya, Soegito menolak Soekarno berbicara jika tak menggunakan bahasa Belanda. Di Jong Java cabang Surabaya, Soekarno menjadi pengusung gerakan Djawa-Dipa, yang mempromosikan egalitarianisme dalam masyarakat Jawa. Misalnya, dalam aspek bahasa, gerakan ini berkeinginan menghapus tingkatan-tingkatan dalam bahasa Jawa. Soekarno sendiri memakai bahasa Djawa Ngoko (rendahan). Gerakan ini juga ingin membuang sistem gelar kebangsawanan yang rumit dan hirarkis dengan panggilan sederhanan dan egaliter: sapaan “Wiro” untuk laki-laki dan “Woro” untuk perempuan yang sudah menikah. Sedangkan yang belum menikah dipanggil “Roro”. Di Kongres ke-V Jong Java di Bandung, Jawa Barat, tahun 1921, terjadi pertempuran antara kaum merah dan kaum halus. Kaum merah berasal dari dua cabang, yakni Surabaya dan Semarang. Dua kota itu memang sangat dipengaruhi oleh gerakan kiri, khususnya PKI. Soekarno tampil sebagai jubir kaum merah di Kongres itu. Dengan mengutip semboyan Revolusi Perancis: Kemerdekaan, Persamaan, dan Persaudaraan, Soekarno melancarkan argumentasinya tentang perlunya penggunaan bahasa Djawa Dipa. Sayang, usul Soekarno ditolak mentah-mentah dari perwakilan daerah lain. Tak hanya itu, di forum itu Soekarno juga menolak ide federasi. Baginya, menyelesaikan persoalan rakyat jauh lebih penting ketimbang pembentukan Federasi. “Para intelektual harus memperhatikan nasib rakyat dan melawan kapitalisme terkutuk,” kata Soekarno. Soekarno menganjurkan agar ‘kaum inteligensia muda’ membangun organisasi perjuangan politik massal, yang berhubungan dan membela nasib rakyat. Sayang, usul Soekarno kurang disambut. Bahkan pers-pers putih, yang pro penguasa kolonial, mencemooh pendapat Soekarno. Semaun, tokoh PKI, yang hadir di forum itu sebagai wartawan, mengecam sikap pers putih yang berdiri memberikan tepuk tangan terhadap pidato yang menolak usulan Soekarno. Soekarno juga punya usulan progressif terkait keanggotaan Jong Java. Untuk diketahui, Jong Java adalah perkumpulan ekslusif, yang hanya terdiri dari para pelajar dan harus pandai berbahasa Belanda. Saat itu Soekarno mengusulkan agar semua pemuda, termasuk yang bukan pelajar, berhak menjadi anggota Jong Java. Sayang, ide Soekarno itu ditolak oleh Ketua Jong Java Surabaya dan pelajar-pelajar NIAS (sekolah pendidikan Dokter Pribumi di Surabaya). Untuk diketahui, selain aktif di Jong Java cabang Surabaya, Soekarno juga sering menemani Tjokroaminoto dalam pertemuan-pertemuan atau rapat akbar Sarekat Islam. Ia sering memperhatikan gaya pidato guru politiknya itu. Hingga pada suatu hari, Tjokroaminoto berhalangan untuk menjadi pembicara di sebuah Rapat Akbar. Akhirnya, Soekarno yang menggantikan. Sekalipun hanya pertemuan kecil, Soekarno memanfaatkannya untuk belajar orasi. Berbeda dengan gaya pidato yang Tjokro yang datar, Soekarno justru memilih menaik-turunkan suaranya. Ia juga lebih menekankan kepada gaya bercerita, yang memungkinkan massa mudah memahami maksudnya. Sejak itu Soekarno mulai dikenal sebagai ahli pidato. Dia juga makin dikenal sebagai tokoh politik. Lantaran itu, jabatan Sekretaris Jong Java Cabang Surabaya, dan kemudian Ketua Jong Java Surabaya, diserahkan kepadanya. Faktor Yang Meradikalkan Soekarno Saya kira, faktor yang membuat Soekarno muda menjadi radikal bukanlah seperti yang ditonjolkan oleh Film Soekarno karya Hanung Bramantyo: Soekarno kecewa karena gagal meminang kekasih Belandanya, Mien Hessels. Tetapi ada faktor ekonomi-politik yang menyeret Soekarno menjadi radikal. Pertama, Soekarno berasal dari keluarga priayi rendahan. Ayahnya hanya seorang guru biasa. Soekarno sering menyamakan kehidupan masa kecilnya dengan David Copperfield–karakter dalam novel Charles Dickens, yang sejak kecil akrab dengan kehidupan yang melarat. Soekarno kecil tinggal di Mojokerto, Jawa Timur, dengan kehidupan yang pas-pasan. Ia tumbuh dan bergaul dengan rakyat jelata. Hal inilah yang membuat Soekarno, di sepanjang hayatnya, lebih dekat secara emosional dengan rakyat jelata. Kedua , Soekarno sebagai anak dari bangsa jajahan sering mendapat perlakuan diskriminatif–seperti juga dialami Gandhi ketika tinggal di Afrika Selatan. Berkali-kali Soekarno mendapatkan makian “inlander”, “anak kulit coklat yang goblok”, “bumiputera”, dan lain-lain. Soekarno sering berkelahi dengan anak-anak Belanda karena merasa direndahkan dan dipermalukan. Ketiga, Soekarno sangat dipengaruhi oleh ide-ide radikal yang berkembang pesat saat itu, terutama nasionalisme radikal, demokrasi, dan marxisme. Melalui ide-ide dan berbagai pemikiran yang diserapnya, Soekarno mendefenisikan keadaan, mempelajari akar ketertindasan bangsanya, dan bagaimana mengubah keadaan.

Timur Subangun, anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD)

Selasa, 17 Februari 2015

Indonesia dan Tradisi Jahiliyyah Part. 1 (Anak Muda Bag. 1)

         Ini merupakan pembahasan saya yang pertama mengenai Negeri ini, yang mungkin akan menjadi tahap pembukuan bagi saya ke depannya. Pembahasan kali ini bertajuk “Indonesia dan Tradisi Jahiliyah”.  Terdengar riskan memang tetapi beberapa fakta telah saya analisa. Saat mendengar kata Jahiliyah pasti kita akan mengingat jauh kepada masa dimana semua orang menunggu kedatangan seorang Utusan Tuhan (Allah. Aw). Yaitu, zaman Kenabian  Terakhir.  Kedatangan  seorang   Nabi Penutup Risalah Kenabian ,  Muhammad .Sawa  (Shollallohu ‘Alaihi wa Aalihi).
         Ada beberapa kisah yang harus saya jabarkan dari masa keemasan Islam di kala itu, yang akan menjadi sebuah contoh dan analisa kita mengenai judul diatas. Di awal – awal misi Ke-Rasulan Muhammad. Sawa, dimana saat itu belum ada orang yang mempercayainya dan mengikuti ajarannya, kecuali Istri yang amat di cintainya Sayyidah Khadijah al-Kubra. As dan Keponakannya, ‘Ali bin Abi Thalib. As yang masih berusia 10 tahun kala itu. Setelah Surat pertama turun kepada Nabi Muhammad. Sawa di Gua Hiro (Qs. Al-Alaq : 1-5), Beliau. Sawa kembali ke rumah dan mendirikan Sholat bersama Istri tercintanya. Saat itulah datang Imam ‘Ali bin Abi Thalib. As dan menunggu mereka selesai beribadah (baca; Sholat) dan bertanya tentang hal yang demikian. Singkat cerita, banyak kisah yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad. Sawa mendapat wahyu di hari Senin dan Imam ‘Alibin Abi Thalib. As masuk Islam di hari Selasa.
         Ketika Wahyu kedua di turunkan (Qs. Asy-Syu’aara’ : 214) “Dan berilah peringatan kepada orang – orang terdekat.”  Ketika ayat ini turun Nabi Mhammad. Sawa pun segera mengumpulkan Keluarganya dalam acara jamuan makan malam. Dan di sela – sela waktu perbincangan Nabi Muhammad. Sawa bersabda: “Wahai Bani Abdul Muthalib, demi Allah tidak pernah aku ketahui di seluruh bangsa Arab sesuatu yang lebih utama dari apa yang aku bawa untukmu. Aku datang kepadamu untuk kebaikan di dunia dan akhirat. Allah telah menyuruhku mengajakmu kepada-Nya. Maka, siapakah di antara kamu yang bersedia membantuku dalam urusan ini untuk menjadi saudaraku, washiku dan khalifahku ?” Mereka semua tidak bersedia kecuali Ali bin Abi Thalib yang saat itu paling muda. Ali berdiri seraya berkata: “Aku ya Nabiyallah, aku (bersedia menjadi) wazir(pembantu)mu dalam urusan ini.” Kemudian Rasulullah saw memegang bahu Ali seraya bersabda: “Sesungguhnya Ali ini adalah saudaraku, washiku, dan khalifahku terhadap kalian, maka dengarlah dia dan taatilah dia.” Mereka tertawa sambil berkata kepada Abu Thalib: Kamu disuruh mendengar dan mentaati anakmu.(Lebih rinci, baca hadis Indzar).
         Juga sebuah peristiwa yang Saya sangat hafal mengenai kisah ini. Yaitu, saat Peristiwa Haji Wada’ atau Peristiwa Ghadir Qum. Dimana dalam beberapa Riwayat yang saya baca dan saya ketahui dari Kitab Sunnah populer di kalangan umat Muslim. Nabi Muhammad. Sawa di ujung masa Kenabiannya itu menyampaikan wasiat dan sejajar Ayat – ayat terakhir al-Qur’an. Juga mengisyaratkan atau memberikan Petunjuk mengenai Pemimpin Islam sepeninggal Beliau nanti. Ada banyak Hadits dan Riwayat yang tersedia, yang dengan jelas menyatakan bahwa Imam ‘Ali bin Abi Thalib. As adalah orang yang di tunjuk oleh Nabi Muhammad. Sawa sebagai pengganti Beliau dalam memimpin Islam. Berikut ini beberapa Hadits ini di bacakan dibeberapa tempat termasuk di peristiwa Ghadir Qum yang mendukung pernyataan Sayadiatas:

“Kedudukan ‘Ali disisiku bagaikan Harun disisi Musa, sayangnya Kenabian terputus padaku.”
“Barangsiapa yang Aku adalah Pemimpinnya maka ‘Ali adalah Pemimpinnya. Ya Allah..... Cintailah orang yang mencintai ‘Ali dan musuhilah orang yang memusuhinya.”
“Aku adalah Kota ‘Ilmu dan ‘Ali adalah pintunya. Barangsiapa ingin memasuki Kota Ilmu, maka masuklah melalui ‘Ali.”

         Bagi sebagian orang yang tidak mengetahui dan mempelajari ini, mungkin akan timbul Pertanyaan. Kenapa harus ‘Ali? Atau, ”Lantas kenapa faktanya yang menjadi Khalifah sepeninggal Rasulullah. Sawa adalah Abu Bakar dan bukan Imam ‘Ali?”  Saya pun sangat ingat suatu riwayat, sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Abu Bakar dalam Peristiwa Ghadir Qum. “Wahai Rasulullah..... Bukankah ‘Ali masih sangat muda untuk menjadi Pemimpin...?”   Dan itulah jawaban dari pertanyaan kalian dan Inti dari pembahasan ini.
         Sikap meremehkan orang yang lebih muda atau yang lebih spesifik, orang – orang yanglebih tua enggan di pimpin oleh orang yang lebih muda darinya. Salah satu sikapJ ahiliyah yang menjamur di Budaya Kejiwaan Nasional Bangsa Indonesia.  Hehehehehe..... Dan memang itulah Faktanya!
         Betapa sore tadi saya tercengang dan kagum ketika membaca Status salah seorang teman di Akun Facebooknya yang bertuliskan, “GENERASI MUDA TERLAHIR UNTUK MEMBERANTAS GENERASI TUA YANG TAK MENGENAL KEADILAN”.  Wow!!!!! Kritikkan pedas dan keras untuk orang – orang lebih tua yang meremehkan anak muda, karena tidak memberikan kesempatan kepada Pemuda untuk beraksi dan berlaga (meski tak semua orang lebih tua seperti demikian).  Anehnya yang hendak saya pertanyakan, apakah para orang – orang yang lebih tua itu tidak tahu atau tidak memperhatikan. Bahwa di Dunia, atau maaf bahkan di Negeri ini. Pemuda adalah Ujung Tombak dari Perubahan dan Perkembangan Negara.
         Di Tunisia, Kuba,Yaman dan Negara - Negara lainnya, sudah terbukti bagaimana Potensi dan Kemampuan Pemuda dalam membangkitkan dan mensukseskan Revolusi bagi Negaranya. Betapa masih membekas dalam ingatan kita tentang Sumpah Pemuda yang terjadi di Negeri ini. Juga dimana Sang Proklamator (Bung Karno) Bpk. Ir. Soekarno pernah berkata, “Berikan Aku 10 Pemuda, Niscaya akan aku Guncang Dunia ini!”. Juga masih hangat dalam ingatan saya, ketika saya membaca sebuah artikel mengenai kabar peperangan antara Imam Mahdi. As dan NabiIsa. as dari Islam berperang melawan Dajjal dan Pasukkannya. Dimana pasukan Islam itu di penuhi dengan Pemuda – Pemuda yang tangguh dan Hebat.
         Dari pembahasan ini, saya pun hendak mengajak Pemuda – Pemudi Nusantara untuk berdiri dan bergerak. Bangkit dan buktikan pada Negeri ini dan Ibu Pertiwi, bahwa Kami Pemuda – Pemudi Nusantara berhak dan sanggup untuk membangun serta memperkokoh Kekuatan Negeri ini dengan segala Potensi yang Kami miliki. Terlebih karena, demi Perdamaian dan Kehidupan yang lebih baik bagi Orangtua kita, saudara kita, Bangsa kita juga anak dan cucu kita semua.

Dengan Penuh Cinta dan Harapan.
Ridhwan Endri. Y

Sabtu, 13 Desember 2014

Langit Sore

Gerbang senja terbuka serentak,
satu per satu jalur angin menderu mata dan kelopak.....
Ketika sebuah jalan seakan di sadur oleh ujian,
hati mendayu penuh logika yang ambigu.....

Ini jalan cerita yang sama,
seperti setiap petak rasa,
yang di hadapi tiap jiwa.....
Di tegur bahagia,
di uji nestapa,
problema dan dinamika menghajar dan menempa.....

Diatas tumpukkan kerikil-kerikil yang menggunung,
aku adukan cuplikan dilematis yang membendung.....
Langit biru meng-ejakan materi orientasi yg mesti ku hadapi,
sementara rembulan menuntun ku larut dalam hikmah yang sedang ku gali.....

Hati memang berbeda dalam mencermati,
sementara kesadaran seringkali hilang hingga lupa diri,
namun akal tak pernah terbatasi dalam imaji.....
Hati meredup,
kesadaran mengendap,
pastikan akal tak terusik oleh gelap.....

Aku harus dapatkan arti,
menggapai mimpi,
maksimalkan implementasi,
lalu menjemput bidadari yang lama di damba oleh hati.....
Membawanya pergi,
dan pulang untuk kembali.....

Menuju eksistensi yang hakiki,
dalam naungan kasih Cinta Ilaahi Rabbi.....

Langit Sore

Gerbang senja terbuka serentak,
satu per satu jalur angin menderu mata dan kelopak.....
Ketika sebuah jalan seakan di sadur oleh ujian,
hati mendayu penuh logika yang ambigu.....

Ini jalan cerita yang sama,
seperti setiap petak rasa,
yang di hadapi tiap jiwa.....
Di tegur bahagia,
di uji nestapa,
problema dan dinamika menghajar dan menempa.....

Diatas tumpukkan kerikil-kerikil yang menggunung,
aku adukan cuplikan dilematis yang membendung.....
Langit biru meng-ejakan materi orientasi yg mesti ku hadapi,
sementara rembulan menuntun ku larut dalam hikmah yang sedang ku gali.....

Hati memang berbeda dalam mencermati,
sementara kesadaran seringkali hilang hingga lupa diri,
namun akal tak pernah terbatasi dalam imaji.....
Hati meredup,
kesadaran mengendap,
pastikan akal tak terusik oleh gelap.....

Aku harus dapatkan arti,
menggapai mimpi,
maksimalkan implementasi,
lalu menjemput bidadari yang lama di damba oleh hati.....
Membawanya pergi,
dan pulang untuk kembali.....

Menuju eksistensi yang hakiki,
dalam naungan kasih Cinta Ilaahi Rabbi.....

Kesedihan

Menyengat sang surya sulut pori-pori bekerja,
Keramaian menggema sembunyikan sepi hingga senja.....
Aku bersiasat dengan harapan,
Mencari dimana rekan yang mau berulur tangan.....
Seperti mencari serpihan kaca di gundukkan salju,
Pahitnya ku temui karena realita seringkali menipu.....
Aku yg sadar dengan hal itu pun berpaling,
Tertatih sendiri di tengah teriknya dunia yg bersaing.....

Sejenak ku hirup ramah sapa oksigen di bawah beringin,
Seolah ia menyajikan penyejuk yg membasahi relung jiwa yg mengering......
Tak ada yg salah,
Karena setiap orang ingin dapati hari yg cerah.....
Hanya saja aku yg belum beruntung menjalani hari,
Atau mungkin belum maksimal kerahkan potensi diri.....

Tak ingin berlarut,
Kini ku berfikir untuk pergi dan merajut.....
Mengingat musim dingin kan datang membawa kabut,
Ku siapkan jaket ku untuk hadapi musim yg semrawut.....
Sesekali ku petakan langkahku di malam sunyi,
Barangkali jalan kan ku temui esok hari.....
Tak lupa tuk mengemas harapan dalam doa,
Hanya Dia obat segala duka dan lara.....

Sendu desah nafasku menanti waktu,
Kala Ibu berbaring pulas dalam tidurnya.....
.....
.....
Sergahku menyeka berlian yg bergulir,
Bukan waktunya bersedih menyalahkan takdir.....
Aku berbalik kearah tabir,
Ku sucikan diriku dengan air,
Lalu menangis sambil tersungkur membaca syair.....

November Penghujan

Di Awal November Penghujan,
Dimana susunan kata berhamburan.....
Berjuta elegi mencuat hiasi senja,
Menamai syair mereka dengan estetika realita.....

November Penghujan datang,
Merayu imaji untuk menari dan tertuang.....
November Penghujan datang,
Dimana ada suka cita yg terbentang.....
November Penghujan datang,
Sirami hari yg menantang dari kering yg membentang.....
November Penghujan datang,
Masih tersisa duka di daratan yg tergenang.....

Ia tak sendiri,
Kadang bersama angin yg disebut badai,
Seringkali bersama Guntur yg menggema dalam derai.....
Semburat jejak Guntur di bentang langit yg kusam,
Menghentak tepat menyentuh hati yg padam,
Apa yg di tinggalkan oleh petir yg menghujam....?
Apa....?

November Penghujan berujar,
Hidup tak selamanya datar.....
November Penghujan bersenandung,
Bahwa hari gelap tak boleh membuat kita murung.....
November Penghujan berpesan,
Bahwa hidup butuh pengorbanan.....
November Penghujan berkata,
Bahwa segeralah Impianmu tercipta.....

Pacu langkahmu,
Seperti kala kau rambah belantara dalam badai yg menguji.....
Gerakkan Tubuhmu,
Seperti saat gelap dan dingin menghujam di persendianmu.....

November Penghujan sisakan Harapan,
November Penghujan berikan Pelajaran.....