Gerbang senja terbuka serentak,
satu per satu jalur angin menderu mata dan kelopak.....
Ketika sebuah jalan seakan di sadur oleh ujian,
hati mendayu penuh logika yang ambigu.....
Ini jalan cerita yang sama,
seperti setiap petak rasa,
yang di hadapi tiap jiwa.....
Di tegur bahagia,
di uji nestapa,
problema dan dinamika menghajar dan menempa.....
Diatas tumpukkan kerikil-kerikil yang menggunung,
aku adukan cuplikan dilematis yang membendung.....
Langit biru meng-ejakan materi orientasi yg mesti ku hadapi,
sementara rembulan menuntun ku larut dalam hikmah yang sedang ku gali.....
Hati memang berbeda dalam mencermati,
sementara kesadaran seringkali hilang hingga lupa diri,
namun akal tak pernah terbatasi dalam imaji.....
Hati meredup,
kesadaran mengendap,
pastikan akal tak terusik oleh gelap.....
Aku harus dapatkan arti,
menggapai mimpi,
maksimalkan implementasi,
lalu menjemput bidadari yang lama di damba oleh hati.....
Membawanya pergi,
dan pulang untuk kembali.....
Menuju eksistensi yang hakiki,
dalam naungan kasih Cinta Ilaahi Rabbi.....
Pemuda dalam Bingkai Dunia adalah ujung tombak perubahan dan pergerakkan. Bukan dengan membanggakan status aktivis, akademis dan borjuis, tapi lebih menerapkan prinsip Sosialis yang berjuang mencapai cita-cita Revolusionis.
Sabtu, 13 Desember 2014
Langit Sore
Saya seorang pelajar Sejarah peradaban, meski tidak menjadi seorang Mahasiswa di Fakultas. Saya pernah beberapa kali di anggap sebagai seorang Sarjana karena luasnya Pengetahuan dan Kecerdasan saya dalam berdialog.
Langit Sore
Gerbang senja terbuka serentak,
satu per satu jalur angin menderu mata dan kelopak.....
Ketika sebuah jalan seakan di sadur oleh ujian,
hati mendayu penuh logika yang ambigu.....
Ini jalan cerita yang sama,
seperti setiap petak rasa,
yang di hadapi tiap jiwa.....
Di tegur bahagia,
di uji nestapa,
problema dan dinamika menghajar dan menempa.....
Diatas tumpukkan kerikil-kerikil yang menggunung,
aku adukan cuplikan dilematis yang membendung.....
Langit biru meng-ejakan materi orientasi yg mesti ku hadapi,
sementara rembulan menuntun ku larut dalam hikmah yang sedang ku gali.....
Hati memang berbeda dalam mencermati,
sementara kesadaran seringkali hilang hingga lupa diri,
namun akal tak pernah terbatasi dalam imaji.....
Hati meredup,
kesadaran mengendap,
pastikan akal tak terusik oleh gelap.....
Aku harus dapatkan arti,
menggapai mimpi,
maksimalkan implementasi,
lalu menjemput bidadari yang lama di damba oleh hati.....
Membawanya pergi,
dan pulang untuk kembali.....
Menuju eksistensi yang hakiki,
dalam naungan kasih Cinta Ilaahi Rabbi.....
Saya seorang pelajar Sejarah peradaban, meski tidak menjadi seorang Mahasiswa di Fakultas. Saya pernah beberapa kali di anggap sebagai seorang Sarjana karena luasnya Pengetahuan dan Kecerdasan saya dalam berdialog.
Kesedihan
Menyengat sang surya sulut pori-pori bekerja,
Keramaian menggema sembunyikan sepi hingga senja.....
Aku bersiasat dengan harapan,
Mencari dimana rekan yang mau berulur tangan.....
Seperti mencari serpihan kaca di gundukkan salju,
Pahitnya ku temui karena realita seringkali menipu.....
Aku yg sadar dengan hal itu pun berpaling,
Tertatih sendiri di tengah teriknya dunia yg bersaing.....
Sejenak ku hirup ramah sapa oksigen di bawah beringin,
Seolah ia menyajikan penyejuk yg membasahi relung jiwa yg mengering......
Tak ada yg salah,
Karena setiap orang ingin dapati hari yg cerah.....
Hanya saja aku yg belum beruntung menjalani hari,
Atau mungkin belum maksimal kerahkan potensi diri.....
Tak ingin berlarut,
Kini ku berfikir untuk pergi dan merajut.....
Mengingat musim dingin kan datang membawa kabut,
Ku siapkan jaket ku untuk hadapi musim yg semrawut.....
Sesekali ku petakan langkahku di malam sunyi,
Barangkali jalan kan ku temui esok hari.....
Tak lupa tuk mengemas harapan dalam doa,
Hanya Dia obat segala duka dan lara.....
Sendu desah nafasku menanti waktu,
Kala Ibu berbaring pulas dalam tidurnya.....
.....
.....
Sergahku menyeka berlian yg bergulir,
Bukan waktunya bersedih menyalahkan takdir.....
Aku berbalik kearah tabir,
Ku sucikan diriku dengan air,
Lalu menangis sambil tersungkur membaca syair.....
Saya seorang pelajar Sejarah peradaban, meski tidak menjadi seorang Mahasiswa di Fakultas. Saya pernah beberapa kali di anggap sebagai seorang Sarjana karena luasnya Pengetahuan dan Kecerdasan saya dalam berdialog.
November Penghujan
Di Awal November Penghujan,
Dimana susunan kata berhamburan.....
Berjuta elegi mencuat hiasi senja,
Menamai syair mereka dengan estetika realita.....
November Penghujan datang,
Merayu imaji untuk menari dan tertuang.....
November Penghujan datang,
Dimana ada suka cita yg terbentang.....
November Penghujan datang,
Sirami hari yg menantang dari kering yg membentang.....
November Penghujan datang,
Masih tersisa duka di daratan yg tergenang.....
Ia tak sendiri,
Kadang bersama angin yg disebut badai,
Seringkali bersama Guntur yg menggema dalam derai.....
Semburat jejak Guntur di bentang langit yg kusam,
Menghentak tepat menyentuh hati yg padam,
Apa yg di tinggalkan oleh petir yg menghujam....?
Apa....?
November Penghujan berujar,
Hidup tak selamanya datar.....
November Penghujan bersenandung,
Bahwa hari gelap tak boleh membuat kita murung.....
November Penghujan berpesan,
Bahwa hidup butuh pengorbanan.....
November Penghujan berkata,
Bahwa segeralah Impianmu tercipta.....
Pacu langkahmu,
Seperti kala kau rambah belantara dalam badai yg menguji.....
Gerakkan Tubuhmu,
Seperti saat gelap dan dingin menghujam di persendianmu.....
November Penghujan sisakan Harapan,
November Penghujan berikan Pelajaran.....
Saya seorang pelajar Sejarah peradaban, meski tidak menjadi seorang Mahasiswa di Fakultas. Saya pernah beberapa kali di anggap sebagai seorang Sarjana karena luasnya Pengetahuan dan Kecerdasan saya dalam berdialog.