Sabtu, 20 Desember 2014

Gerimis

Dalam seluk beluk kisah,
Ada insiden yang merekah.....
Mencoba menggali Hikmah,
Ku geluti gelap dengan hati yang resah.....
Ku cari dimana ada yang salah,
Temui lemahku yg selalu jadi celah.....

Untuk kesekian kalinya aku termangu dalam haru,
Haru yang menggelayut diantara alibi yang jadi rancu.....
Seperti Anti-Toksin,
Kalbuku seolah kebal dari serangan racun dalam bathin.....
Awalnya mungkin bangga,
Namun risih ketika dirasa seolah diriku berbeda.....
Berbeda dari kebanyakan manusia,
Mampu merasa bahagia,
Namun jatuh Cinta pada rasa kecewa.....

Dan ku tak perlu sibuk untuk mengobati luka duka ini,
Semua perih ini berlalu di sisihkan oleh esensi dan harmoni.....
Seluruh imaji yang telah tersaji,
Perlahan lumer di tempa dinamika yang menguji.....

Yaa.....
Tak akan ada yang Abadi,
Meski nampaknya terlalu singkat tiap emosi ini ku cumbui.....

Rona Bahagia yang berkilau dalam retina,
Sekelibat redup redam seperti cahaya mentari di cakrawala saat berganti hari.....
Nada sendu dalam gemuruh runtuhnya hatiku,
Mendesis lalu padam seperti bisikkan malam yang hilang di balik temaram.....

Bukan karena aku haus akan pujian,
Toh ini bukan kisah kepahlawanan,
Hanya segaris jalan hidup anak manusia yang memilukan.....
Juga tak bermaksud membuat ini seolah berlebihan,
Siapa kiranya yang ingin selalu di rundung kesedihan,
Hanya ingin menuai benih Kearifan dari setiap kejadian.....

Sekiranya di beri satu doa yang langsung di kabulkan,
Aku hanya ingin memohon Ampunan dan sebuah jalan,
Jalan untuk menuntaskan semua Kewajiban di dunia yang sempat ku tangguhkan.....

Lalu duduk bersimpuh di bawah deraian hujan,
Dan pergi tak kembali dalam gerimis yang mengobati lelah dalam Kerinduan.....

Minggu, 14 Desember 2014

Keajaiban yg Terjadi Setelah Imam Husein.as terbunuh

“Ketika Al-Husain as terbunuh, di sudut-sudut
langit terlihat warna-warna kemerahan. Warna
merah itu menandakan bahwa langit tengah
menangis. Sewaktu pasukan musuh membagi-
bagikan sejenis tumbuhan berwarna kuning milik
Al-Husain as, tumbuhan itu berubah menjadi
abu. Dan sewaktu mereka menyembelih seekor
unta yang dirampas dari kemah Al-Husain as,
mereka menemukan sejenis kayu di
dagingnya” (Maqtalu Al-Husain 2 hal. 90,
Tarikhu Al-Islam 2 hal. 348, Siyaru A’lami Al-
Nubala’ 3 hal. 311, Tafsir Ibnu Katsir 9 hal. 162,
Tahdzibu Al-Tahdzib 2 hal. 353, Tarikhu
Dimasyq 4 hal. 339, Al-Mahasinu wa Al-Masawi
hal. 62, Tarikhu Al-Khulafa’ hal. 80 dan Ihqaqu
Al-Haq 11 hal. 467-469).
“Kepala suci Al-Husain as. yang berada di ujung
tombak berbicara dengan membawakan ayat-
ayat suci Al-Quran dan lainnya” (Miftahu Al-Naja
fi Manaqib Aali Al-’Aba hal. 145, Al-Khashaishu
Al-Kubra 2 hal. 127, Al-Kawakibu Al-Durruiyyah
hal. 57, Is’afu Al-Raghibin hal. 218, Nuuru Al-
Abshar hal. 125, dan Ihqaqu Al-Haq 11 hal.
452-453).
“Pada hari Al-Husain as terbunuh, langit
meneteskan hujan darah sehingga semua orang
pada keesokan harinya mendapati apa yang
mereka miliki telah dipenuhi oleh darah. Darah
itu membekas pada baju-baju mereka beberapa
waktu lamanya, hingga akhirnya terkoyak-koyak.
Warna merah darah terlihat di langit pada hari
itu. Peristiwa tersebut hanya pernah terjadi saat
itu saja” (Maqtalu Al-Husain 2 hal. 89, Dzakhairu
Al-’Uqba hal. 144, 145 dan 150, Tarikh Dimasyq
-seperti yang disebutkan di muntakhab
(ringkasan)-nya- 4 hal. 339, Al-Shawaiqu Al-
Muhriqah hal. 116 dan 192, Al-Khashaishu Al-
Kubra hal. 126, Wasilatu Al-Maal hal. 197,
Yanabi’u Al-Mawaddah hal. 320 dan 356, Nuuru
Al-Abshar hal. 123, Al-Ithaf bi Hubbi Al-Asyraf
hal. 12, Tarikhu Al-Islam 2 hal 349, Tadzkiratu
Al-Khawash hal. 284, Nadzmu Durari Al-
Simthain hal. 220 dan Ihqaqu Al-Haq 11 hal.
458-462).
“Ketika kepala Al-Husain as dibawa ke istana
Ubaidillah bin Ziyad, orang ramai melihat
dinding-dinding mengalirkan darah
segar” (Dzakahiru Al-’Uqba hal. 144, Tarikhu
Dimasyq seperti yang disebutkan dalam
muntakhab-nya 4 hal. 339, Al-Shawaiqu Al-
Muhriqah hal. 192, Wasilatu Al-Maal hal. 197,
Yanabi’u Al-Mawaddah hal. 322, dan Ihqaqu Al-
Haq 11 hal. 463).
“Di dinding sebuah gereja tertulis: Apakah umat
yang membantai Al-Husain mengharapkan
syafaat kakeknya di hari kiamat. Ketika pendeta
yang berada di sana ditanya tentang tulisan
tersebut dan siapakah yang menulisnya, ia
menjawab, “Bait syair ini telah tertulis di sini
sejak lima ratus tahun sebelum nabi kalian
diutus.” (Tarikhu Al-Islam wa Al-Rijal hal. 386,
Al-Akhbaru Al-Thiwal hal. 109, Hayatu Al-
Hayawan 1 hal. 60, Nuuru Al-Abshar hal. 122,
Kifayatu Al-Thalib hal. 290 dan Ihqaqu Al-Haq
11 hal. 567-568.
“Seorang penduduk Najran saat menggali tanah
menemukan sebuah kepingan emas yang
bertuliskan: Apakah umat yang telah membantai
Al-Husain mengharapkan syafaat kakeknya di
hari kiamat” (Miftahu Al-Naja hal. 135, Ihqaqu
Al-Haq 11 hal. 566).
“Sebuah tembok merekah lalu muncullah sebuah
telapak tangan yang bertuliskan: Apakah umat
yang telah membantai Al-Husain mengharapkan
syafaat kakeknya di hari kiamat.” (Tarikhu Al-
Khamis 2 hal. 299 dan Ihqaqu Al-Haq 11 hal.
567). “Sesaat setelah Al-Husain as terbunuh,
warna langit menghitam pekat sekali. Lalu
bintang-bintang bermunculan di siang hari,
sampai-sampai bintang kembar terlihat di waktu
sore. Segumpal tanah berwarna merah jatuh dari
atas. Langit terlihat berwarna merah bagai darah
selama tujuh hari tujuh malam” (Tarikhu
Dimasyq 4 hal. 339 dan Al-Shawaiqu Al-
Muhriqah hal. 116).
Http://donhasan.blogspot.com/2014/10/sejumlah-keajaiban-setelah-imam-husain.html?m=1

Sabtu, 13 Desember 2014

Langit Sore

Gerbang senja terbuka serentak,
satu per satu jalur angin menderu mata dan kelopak.....
Ketika sebuah jalan seakan di sadur oleh ujian,
hati mendayu penuh logika yang ambigu.....

Ini jalan cerita yang sama,
seperti setiap petak rasa,
yang di hadapi tiap jiwa.....
Di tegur bahagia,
di uji nestapa,
problema dan dinamika menghajar dan menempa.....

Diatas tumpukkan kerikil-kerikil yang menggunung,
aku adukan cuplikan dilematis yang membendung.....
Langit biru meng-ejakan materi orientasi yg mesti ku hadapi,
sementara rembulan menuntun ku larut dalam hikmah yang sedang ku gali.....

Hati memang berbeda dalam mencermati,
sementara kesadaran seringkali hilang hingga lupa diri,
namun akal tak pernah terbatasi dalam imaji.....
Hati meredup,
kesadaran mengendap,
pastikan akal tak terusik oleh gelap.....

Aku harus dapatkan arti,
menggapai mimpi,
maksimalkan implementasi,
lalu menjemput bidadari yang lama di damba oleh hati.....
Membawanya pergi,
dan pulang untuk kembali.....

Menuju eksistensi yang hakiki,
dalam naungan kasih Cinta Ilaahi Rabbi.....

Langit Sore

Gerbang senja terbuka serentak,
satu per satu jalur angin menderu mata dan kelopak.....
Ketika sebuah jalan seakan di sadur oleh ujian,
hati mendayu penuh logika yang ambigu.....

Ini jalan cerita yang sama,
seperti setiap petak rasa,
yang di hadapi tiap jiwa.....
Di tegur bahagia,
di uji nestapa,
problema dan dinamika menghajar dan menempa.....

Diatas tumpukkan kerikil-kerikil yang menggunung,
aku adukan cuplikan dilematis yang membendung.....
Langit biru meng-ejakan materi orientasi yg mesti ku hadapi,
sementara rembulan menuntun ku larut dalam hikmah yang sedang ku gali.....

Hati memang berbeda dalam mencermati,
sementara kesadaran seringkali hilang hingga lupa diri,
namun akal tak pernah terbatasi dalam imaji.....
Hati meredup,
kesadaran mengendap,
pastikan akal tak terusik oleh gelap.....

Aku harus dapatkan arti,
menggapai mimpi,
maksimalkan implementasi,
lalu menjemput bidadari yang lama di damba oleh hati.....
Membawanya pergi,
dan pulang untuk kembali.....

Menuju eksistensi yang hakiki,
dalam naungan kasih Cinta Ilaahi Rabbi.....

Aku Tahu

Jangan kira aku bisa dgn kaffah menikmati imaji,
syair pun masih tak bernyawa namun tak mati.....
Bukan aku yg tak ingin,
namun langkahku berat melawan angin.....

Bukankah kita sepakat bahwa harapan dan cinta ini berlandas pada Dia....?
Aku tau sepinya berdiri sendiri,
juga bosannya utk terus menanti.....
Aku pun tak pernah cukup membayangi wajahmu,
di permukaan air yg menggenang dgn nada sendu.....
Tak berbeda dgnmu.....
Aku ingin mendengar semua kisahmu,
bahkan seluruh curahan harimu.....
Menjadi penghangat ketika dingin menyerbu,
dan berikan bahuku lebih dari sekedar menyandarkan kepalamu.....
Tapi berkisah dalam bisik mesra,
dan bercanda dalam derasnya gemuruh hujan yg bertahta.....
Aku dambakan merahnya senja,
dalam pekatnya kerinduan di tengah hujan yg baru reda......
Apakah harus ku pertanyakan kesiapanmu....?
Kesiapanmu utk duduk bersama,
meski aku belum menyandang suksesku dalam cita....?

Tak cukup segelas kopi hitamku,
hingga ku buka lagi toples kaca yg tertata di meja.....
Kopi hitam pahit yg seolah mengujiku,
tetap bersabar utk dapat nikmati manis senyuman di bibirmu.....

Lidahku terkadang berontak,
namun ku ingat pesan mimpi dalam riak......
Tetes sisa tampias menggugah bayang samar,
hingga ku rengkuh airnya dgn tanganku yg kasar.....
Ku hirup rinduku,
ku sentuh sepi yg mengusik dirimu.....

Biar ku jinjing kerah kejenuhan yg mengganggumu,
"Berhenti mengganggu gadisku, karena aku akan datang menjemput bahagianya...!!" pungkasku menantang.....

Besok.....
Kita bicarakan semua keluh,
kita bongkar semua resah.....
Kita siasati jalan cinta ini,
kita temui apa yg wajib kita arungi.....

Kesedihan

Menyengat sang surya sulut pori-pori bekerja,
Keramaian menggema sembunyikan sepi hingga senja.....
Aku bersiasat dengan harapan,
Mencari dimana rekan yang mau berulur tangan.....
Seperti mencari serpihan kaca di gundukkan salju,
Pahitnya ku temui karena realita seringkali menipu.....
Aku yg sadar dengan hal itu pun berpaling,
Tertatih sendiri di tengah teriknya dunia yg bersaing.....

Sejenak ku hirup ramah sapa oksigen di bawah beringin,
Seolah ia menyajikan penyejuk yg membasahi relung jiwa yg mengering......
Tak ada yg salah,
Karena setiap orang ingin dapati hari yg cerah.....
Hanya saja aku yg belum beruntung menjalani hari,
Atau mungkin belum maksimal kerahkan potensi diri.....

Tak ingin berlarut,
Kini ku berfikir untuk pergi dan merajut.....
Mengingat musim dingin kan datang membawa kabut,
Ku siapkan jaket ku untuk hadapi musim yg semrawut.....
Sesekali ku petakan langkahku di malam sunyi,
Barangkali jalan kan ku temui esok hari.....
Tak lupa tuk mengemas harapan dalam doa,
Hanya Dia obat segala duka dan lara.....

Sendu desah nafasku menanti waktu,
Kala Ibu berbaring pulas dalam tidurnya.....
.....
.....
Sergahku menyeka berlian yg bergulir,
Bukan waktunya bersedih menyalahkan takdir.....
Aku berbalik kearah tabir,
Ku sucikan diriku dengan air,
Lalu menangis sambil tersungkur membaca syair.....

Cinta Arang

Menatapi serpihan imaji diatas api,
Ku serap pancaran alibi yg batasi diri.....
Hangatnya api menguji naluri,
Melewati malam sepi yg dingin hingga pagi.....

Terkuak segala problema,
Ku dapati arah dalam sunyi yg menjelma.....
Ini bukan hanya tentang aku,
Bukan juga tentang kamu.....
Namun tentang eksistensi sebuah nada harmoni,
Dimana not nya sajikan kedamaian dalam hati......

Ada yg salah ku mengerti,
Namun terlampau jauh ku cintai.....
Atau mungkin begitu cepat kau salahi arti,
Sehingga yg tersisa kini hanya sepi.....
Kisah tak lagi murni,
Ternodai oleh emosi yg menguasai.....

Kita lama terdiam,
Bahkan kembali terbiasa untuk bungkam.....
Seperti hujan yg tak kunjung datang sejak juli,
Kemarau kini menyengat bumi hingga canda pun mengering dalam hati.....
Rindu seolah tersembunyi,
Hadirnya pun serasa pantas di tanyai.....
Apa daya,
Senyumku pudar dalam redup cahaya cinta.....
Air mata....?
Ini kemarau yg menyedihkan,
Bahkan katup di retina mulai tanyakan dimana kelembutan.....

Mengais sisa-sisa kata yg mampu ku ucap,
Bahkan meski sapa ku tak terjawab.....
Memanggilmu,
Memperhatikanmu,
Dan menegurmu.....
Lewat puisi,
Syair singkat yg lirih,
Hingga ku ungkap doa dalam keresahan yg menghantui.....

Habibbah ku....?
Kemana canda tawa kita tergadai....?
Apakah ada yg lebih berharga dari kehangatan,
Atau mungkin ada yg lebih menarik dari sebuah ketulusan dan kesetiaan....?
Belenggu kita hanya ruang dan waktu,
Sedangkan Cinta ini hadir melampaui apapun itu.....

Apakah Optimisme itu telah padam....?
Sementara mimpi yg kita rangkai adalah rahasia yg terpendam.....

Ku bergeser menyentuh nyala bara yg mencolok,
Lalu ku dapati arang hitam yg baru saja tergarang.....
Di balik itu,
Ternyata ada Abu yg mendebu,
Dalam sulutan api ia Abadi,
Balutan bara api ajak angin membawanya sempurna dalam harmoni.....

Abu.....
Abu yg tak mungkin lagi jadi bara api,
Apalagi jadi arang memutar balik dimensi.....

Tuhan Istimewa

Di pekatnya malam tadi,
Aku mengadu tentang cacatnya imaji.....
Lemah hati hadapi tempaan yg bertubi,
Aku lunglai di atas sajadah yg ku bentangi.....
Bukan tanpa alasan,
Meski Dia lebih tahu apa yg harus aku lakukan.....
Namun dalam keterbatasan makhluk,
Aku yg bimbang dan ambigu memilih untuk duduk dan tunduk.....
Bercecer peluhku merintih dan meminta,
Tak bisa ku paksa menetesnya airmata.....

Tiadalah sandaran paling nyaman kecuali persahabatan,
Tiadalah kehangatan yg mendalam kecuali persaudaraan.....
Nafas ku berangsur tenang,
Resah pun mencair dan tergenang.....
Apalah yg ku ketahui,
Sementara pandangan mata seringkali di kelabuhi.....
Sungguh nestapa di jawab malam yg mulia,
Seolah jawaban tertumpah setelah bibirku kering membaca doa.....

Dengan jalan istimewa,
Lewat cara yg berbeda.....
"Subhanallah..."
Rintihku menyadari segala nista dari jiwa yg hina.....
Betapa Tuhan selalu punya estetika yg mempesona,
Tak mampu di terka, di capai, apalagi sampai di prediksi dalam logika.....
Sesudahnya hanya pujian yg ku lantunkan,
Hanya ampunan yg ku mohonkan.....
Ku pahami kearifan selalu terbuka dalam ruang,
Meski seringkali ego menyeruak dan jadi penghalang.....

Selanjutnya adalah bagaimana aku bersyukur,
Berjuang sepenuh tenaga,
Jgn buat harapan terkontaminasi lalu hancur.....

Duduk di Peraduan

Di serbu ketenangan malam ini,
di bawa ku tenggelam dalam Istikharah yg penuh imaji.....
Rasanya tak ada waktu lagi utk menunda,
berhentilah naluri dari getar dunia yg menggoda .....

Ku terduduk di bawah temaram lampu ruang sepi,
menyapa malakut tuk mengungkap dimensi yg tak bertepi.....

Merdu.....
Syahdu.....
Mengajak ku semakin dalam,
curahkan cinta yg terpendam,
pancarkan harapan yg terekam.....

Sore hari menjadi begitu hampa,
Siang dan malam nyanyian ku hanyalah harapan dan doa.....

Ijabah merekam retina,
Kesungguhan berkilau oleh bias cahaya bola mata.....

Cinta tak menghadirkan gundah,
Cinta tak membuat gelisah.....

Karena Cinta penuh kepastian,
dan Cinta adalah Luapan harapan dan Keyakinan.....

Di Mihrab ku Pasrahkan,
memohon ku lakukan, mengemis pun ku lakukan.....

Aku butuhkan Cahaya yg membuka kebodohan,
mengusir kegelisahan dan menghapus semua keresahan.....

Aku butuhkan Sentuhan,
Sentuhan yg menyadarkan ku dari keterpurukan,
menunjukkan aku jalan utk pulang dalam pelukan.....

Menjalani Cinta yg Murni di peraduan.....

Ooh Tuanku,
Pelipur Lara.....
Penghapus dosa dan nista.....
Penolong dalam duka dan nestapa.....
Pengobat rindu di kala hati membeku.....

Terimalah aku yg tersungkur di teras-Mu.....
Izinkan aku masuk dalam Naungan Rumah Cinta yg Mulia.....

Gelisah Asyura ku

Bulir keringat membasahi keningku, baru saja berlalu gema adzan di balik memerahnya langit yg biru. Aroma Jahe, Sereh dan Pandan berpadu dalam rebusan kopi di dalam panci. Gemerincing gelas-gelas mendarat di meja-meja besar menyambut para tamu. Ku bersihkan wajahku, ku reguk teduhnya air wudhu. Mungkinkah aku berdiri dalam sholat sambil mengetik..?
Beriring kalam-kalam suci yg di baca dalam bisik, juga asma-asma agung yg bertahta dalam sunyi. Mataku meraba tiap lembar kitab yg berdebu, menghempasnya dengan nafasku yg menggebu.

Saat Syair-syair duka di lantunkan,
Ku harap kelembutan luntur dalam butiran. Menangislah mataku, aku ingin sekali menangis.....

Sesekali ku serap nuansa berbeda dalam getar tubuh yg bernada, ku pejamkan mataku dalam-dalam seraya meneriakkannya di dalam dada. Aku malu, ketika berhadapan dengan keramaian. Aku sungkan ketika harus mengakrabkan diri dalam obrolan. Ku tarik semburat logika yg masih berantakkan di kepala, Bayangku masih melambung jauh. Menerawangi jalan mana yg harus ku tempuh. Di saat seperti ini, selalu saja tergumam dalam nurani. "Andai saja ada Guruku saat ini..." aku butuh arahannya.
Aku butuh tuntunannya. Namun terlampau jauh aku meninggalkannya, bahkan begitu besar aku mengecewakannya. Aku tahu, Beliau tak pernah menutup pintunya. Begitupun untuk aku, aku yg masih lugu dengan langkah yg ambigu. Sekiranya ada beliau disini, mungkin aku bisa lebih tenang. Bahkan jauh lebih relaks dari ini, membaca syair dan doa yg di lantunkan dan di panjatkan.

November Penghujan

Di Awal November Penghujan,
Dimana susunan kata berhamburan.....
Berjuta elegi mencuat hiasi senja,
Menamai syair mereka dengan estetika realita.....

November Penghujan datang,
Merayu imaji untuk menari dan tertuang.....
November Penghujan datang,
Dimana ada suka cita yg terbentang.....
November Penghujan datang,
Sirami hari yg menantang dari kering yg membentang.....
November Penghujan datang,
Masih tersisa duka di daratan yg tergenang.....

Ia tak sendiri,
Kadang bersama angin yg disebut badai,
Seringkali bersama Guntur yg menggema dalam derai.....
Semburat jejak Guntur di bentang langit yg kusam,
Menghentak tepat menyentuh hati yg padam,
Apa yg di tinggalkan oleh petir yg menghujam....?
Apa....?

November Penghujan berujar,
Hidup tak selamanya datar.....
November Penghujan bersenandung,
Bahwa hari gelap tak boleh membuat kita murung.....
November Penghujan berpesan,
Bahwa hidup butuh pengorbanan.....
November Penghujan berkata,
Bahwa segeralah Impianmu tercipta.....

Pacu langkahmu,
Seperti kala kau rambah belantara dalam badai yg menguji.....
Gerakkan Tubuhmu,
Seperti saat gelap dan dingin menghujam di persendianmu.....

November Penghujan sisakan Harapan,
November Penghujan berikan Pelajaran.....

Syiah Is....?

Jika anda seorang Syiah, perhatikan yg dikatakan tentang anda. Jika bukan, maka perhatikan apa yg dikatakan tentang Syiah.

Raja Abdul Aziz pernah berkata, "Suriah tidak perlu pemuda lagi. Karena para pemuda Syiah ialah orang2 yg tegar."

Fidel Castro berkata, "Orang2 Prancis bodoh karena memerdekakan sebuah negara yg bangsanya penganut Syiah yg tidak pernah mengeluh & lemah."

Saddam berkata, "Setiap tetes darah orang2 Syiah melahirkan pejuang."

Kissinger berkata, "Tidak ada & tidak pernah ada yg paling berani & paling tegar dari pemuda Syiah."

Al-Hajjaj berkata, "Jangan tertipu dengan kesabaran mereka & meremehkan kekuatan mereka. Karena jika mereka bangkit dengan bantuan seorang pemuda, mereka tidak akan meninggalkanny dengan mahkota di atas kepalanya (penuhkebanggaan). Oleh karena itulah mereka akan menang.

Merekalah sebaik2 tentara di atas bumi. Oleh karena itu waspadalah dengan 3 hal yg mereka miliki:

1.Para wanita mereka. Jangan sakiti mereka, niscaya mereka akan memakan kalian sebagaimana singa melahap buruannya.

2. Negeri mereka. Negeri mereka akan memerangi kalian walau dengan gunung sebagai rudalnya.

3. Agama mereka. Mereka akan membakar dunia kalian.
Filosof Jepang berkata,. "Syiah terbang dengan dua sayap. Sayap masa lalu, Karbala, & sayap masa depan, revolusi Al-Mahdi. Bagaimana mungkin mereka dikalahkan?!

Sosok Imam Husein dalam Kaca Mata Dunia

Mahatma Gandhi:
''Kami Telah Banyak Belajar Dari Husein Bagaimana Ketika Menjadi Orang Yang Di Zalimi Tapi Mendapatkan Kemenangan''

Aldomoro:
''Revolusi Husein Adalah Secercah Cahaya Bagi Kelompok Tertindas Dan Menyelamatkan Mereka Dari Kesesatan Serta Mengokohkan Jiwa Mereka Untuk Menempuh Jalan Kebenaran''

Abraham Lincoln:
''Al-Qur'an Muhammad Dan Husein Adalah 3 Simbol Kesucian Yang Wajib Di Lihat Dengan Penuh Kesucian Pula Karena Pada Ketiganya Terdapat Contoh Idealisme Penghormatan Terhadap Hak Asasi Manusia''

Mao Tse Tung:
''Kalian Datang Mengambil Pelajaran Dari Kami Padahal Revolusi Husein Yang Memiliki Pelajaran Penuh Nilai Ada Pada Kalian''

Che Guevara:
''Kepada Seluruh Kaum Revolusioner Dunia Agar Mengikuti Revolusi Luar Biasa Yang Di Pimpin Husein Yang Agung Dan Melangkah Di Jalannya Untuk Menghentikan Para Penguasa Buruk Dan Menggulingkan Pangkal Kebusukannya''

Dalai Lama:
''Jika Agama Kami Memiliki 2 Pribadi Agung Seperti Ali Bin Abi Thalib Dan Putranya Husein Serta Nahj Al-Balagha Dan Peristiwa Karbala Pasti Tak Akan Tersisa Di Dunia Ini Kecuali Menjadi Pemeluk Budha''

Hitler:
"Wahai Pahlawan-Pahlawan Perang Contohlah Husein Manusia Yang Dengan Ketekunan Mampu Mengguncang Pilar-Pilar Kekuatan Dan Setelah Itu Mengirim Mereka Kedalam Jurang Kehancuran Dan Itu Semua Di Lakukan Oleh Kelompok Kecil Yang Memiliki Keteguhan Dan Penuh Nilai Kepahlawanan''

Jawaharlal Nehru:
"Dari Darah Husein Yang Tumpah Di Karbala Telah Tumbuh Pepohonan Yang Menaungi Kaum Tertindas Dalam Rangka Menuntut Hak-Hak Mereka Yang Terampas Dari Tangan Pecinta Singgasana Dan Kekuasaan''

Franklin Delano Roesevelt:
''Sekalipun Kita Berperang Dengan Kebuasan Dan Membunuh Dengan Rasa Permusuhan Yang Memuncak Maka Kita Belum Dapat Menandingi Kebuasan Dan Permusuhan Para Pembunuh Yang Membunuh Seorang Putra Dari Putri Nabi Islam''

Ho Chi Minh:
"Wahai Prajurit-Prajuritku Yang Gagah Berani Lihatlah Husein Seorang Pejuang Dari Timur Yang Telah Mengguncangkan Bumi Para Penguasa Zalim''

Jamaluddin Al-Afghani:
''Tidak Ada Seorang Muslimpun Kecuali Kecintaan Pada Husein Terukir Dalam Hatinya Sebuah Pribadi Yang Telah Mengorbankan Seluruh Yang Di Milikinya Untuk Mendapatkan Hak-Haknya Serta Melawan Kedurjanaan Yang Hendak Memadamkan Cahaya Jalan Muhammad''

Joseph Stallin:
''Perangilah Karbala Karena Selama Karbala Itu Masih Ada Maka Problem Itu Tak Pernah Hilang Sebab Dengan Keberadaannya Akan Keluar Para Pejuang Gagah Berani Dan Menyebar Di Seluruh Penjuru''

Mohammed Abduh:
''Peristiwa Yang Di Alami Imam Husein Adalah Sebuah Peristiwa Besar Yang Mengguncangkan Dunia Islam Hingga Hari Ini karena Ia Telah Meletakkan Fondasi Keadilan Dan Menuntut Di kembalikannya Hak-Hak Kaum Tertindas Yang Selama Ini Terampas''.

Mustafa Kemal Attaturk:
''Sesungguhnya Husein Adalah Seorang Pemimpin Yang Mengajarkan Bagi Kita Pelajaran Kesetiaan Dalam Kepahlawanan dan Kebebasan Serta Mempertahankan Harga Diri Jika Mampu Mengambil Itu Semua Darinya Maka Tak Pelak Lagi Kita Akan Dapat Mengalahkan Seluruh Musuh-Musuh Kita''

Nietzsche:
"Sesungguhnya Gerakan Revolusi yang Di Pimpin Oleh Husein Telah Menginspirasi Setiap Generasi Baru Dunia Untuk Mengikuti Prinsip Serta Pikirannya''

Hujan Turunlah

Hujan turunlah,
Aku ingin menari bersama deraimu.....
Angin jamahlah jiwaku,
Bersyair dalam deruanmu yg ku rindu.....

Hendaknya sambutlah deruannya dengan keceriaan,
Berteriaklah bebas seperti gemuruh petir yg saling bersahutan.....
Lembut bulir hujan sapa kulit yg usang,
Sejuk angin sore menyapa daratan yg lama gersang.....
Setelah airnya lepas tak mengelayut di langit,
Mendadak sepi akan mengundang imaji untuk bangkit dan merakit.....
Menyusun bingkai alibi,
Menata Doa dan harapan di ujung menggigil tubuh ini.....

Hebat.....
Sensasinya menyentuh nadi,
Hingga ruhku terasa begitu tenang dalam harmoni.....
Lihatlah.....
Ia datang tanpa syarat,
Pergi pun tanpa banyak alasan yg terucap.....

Di balik keberkahan yg tercurah,
Ku sisakan semangat yg memerah.....
Ada dan tiadanya jalan dalam permasalahan,
Hanyalah persoalan ketangkasan dalam menciptakan perubahan.....

Kali ini,
Di hadapan semua keadaan dan kondisi yg merintangi.....
Aku berdiri menantang semua opini,
Bersiap tuk hadapi hari,
Meski kemustahilan seringkali meragui.....

Jumat, 12 Desember 2014

Cinta ini Karunia Tuhan

Bernyanyi merdu sang burung,
Menelusup di tengah panas yg merongrong.....
Resapi imaji yg memadati hari,
Membingkai elegi dalam gelapnya sudut hati.....
Meski bukan Sastrawan,
Baik dan buruk slalu ku pandang sebagai Keindahan.....
Jelas aku bukan jutawan,
Karena tak ku miliki materi yg bercukupan,
Apalagi 'lifestyle' yg berbalut kemewahan.....

Berserakkan dedaunan menutupi mimpi di sepanjang jalan,
Ku lerai kecamuk yg berbentur dalam khayalan dan kenyataan.....
Ini patut ku terima,
Arungi jalan yg terbuka setelah nasehat menjelma.....

Ahh....
Senada bukan tujuan,
Irama yg berpautan,
Menjadi esensi tersendiri dalam kajian.....
Aku memilih untuk simpulkan keadaan,
Petakan ruang gerak yg memungkinkan,
Juga menyusuri jalan sempit yg cukup menakutkan.....

Aku di haruskan bertahan,
Terlebih menjadi kewajiban untuk memperjuangkan.....
Di antara gema adzan yg menyadarkan,
Aku teringat tentang Karunia yg Tuhan berikan.....
Adakah alasan untuk mengeluh,
Ku mengadu hingga hati terasa luluh.....
Siasati jalan yg terbuka,
Tangkap isyarat yg jadi jawaban atas doa.....

Untukmu wahai Habibbah.....
Jgn berhenti selama aku belum memintamu,
Karena aku belum sempat untuk menjemputmu.....
Sempatkanlah hati untuk sirami rindu di hatimu,
Juga sentuh lah Cintaku yg melintas dalam imajimu.....

Ketika ruang dan waktu mulai merajut,
Maka ku pastikan tak ada lagi resah yg menggelayut.....
Jaga cintaku,
Seperti kamu jaga dan pertahankan keanggunan dan kehormatanmu.....
Berikan ruang biarku berlaga,
Mengikis jarak yg kelak menjadi tiada.....

Antara Aku dan Dia

Aku tak mampu lgi mengelak,
kecemberuan itu nampak jelas dari jawaban-Nya...
Dia tak ingin ku berpaling,
tak ingin pula cintaku habis terbuang jdi puing...
Seruannya seakan memanggilku dgn lembut,
kelembutan yg menembus bising hiruk pikuk kota yg semrawut...

Seakan Maha Cinta bertanya,
"Kurangkah kepastian Janji-Ku padamu..?"

Aku terlena megahnya dunia yg sementara,
kini semua makin membuat ku merana...

Lembaran-lembaran lusuh yg dahulu ku baca seakan hidup,
mempertanyakan kisah dan cahayaku yg kian redup...
Tersengal nafasku mengingat panjangnya waktu terbuang sia-sia,
betapa aku seringkali mengingkarinya,
betapa tlah jauh aku pergi meninggalkan ikrarku...

Sungguh,
tak sedikitpun aku lupa,
dan tak satupun alasan mampu ku baca...
Namun celakanya diriku yg terlena oleh tipu daya dunia,
seakan aku berjuang di dalamnya padahal aku sedang berada di pinggiran jurang dgn api yg menyala-nyala...

Hampir saja langkahku tergelincir,
nyaris saja aku terjerat dlm kepalsuan yg menghinakan...

Dia Yg Maha Mengerti,
bahwa aku ini mudah sekali termakan halusinasi...
Dia juga Yg Maha Penyantun,
yg tak pernah menutup jalanku utk kembali dan pulang...
Ke dalam pangkuannya,
bersujud dgn peluh di Mihrab-Nya.....

Rindu Membiru

Terbenam rembulan di ufuk barat,
Sembunyikan tanya di balik semburat.....
Alibi mencuat mengusung angin,
Buyar di tempa tatapan mata yg dingin.....
Di batas lembaran kisah ku terbungkam,
Menutup jalan keraguan yg harus di redam.....
Menembus tiap resah berbalut rasa,
Mengusir sepi yg menghambat cita.....

Temaram ku cumbui,
Lalu larut dalam lamunan sang putri.....
Ku semai rindu,
Ku tabur nada biru di jejak malam yg membisu.....

Ada gelak tawa yg tersita,
Mengimpikan canda mesra yg tertunda,
Seperti mendung yg lewat tanpa sapa.....

Gelisah ku nanti kabarmu,
Hampir gusar ku di usik malam sendu.....
Melambung percik api memecah gelap,
Masih ku pendam tiap kata yg ingin ku ungkap.....
Dimana ruangnya,
Adakah waktunya....?

Nanti saat Tuhan memberi kita jalan dan kesempatan,
Ku harap tak ada hambatan yg menyita kemesraan.....

Mihrab Kemesraan

Di pesisir lelahku hari ini,
Sudahi setiap alibi yg meracuni.....
Ku letakkan perkakasku yg berlumur serbuk kayu,
Basuh tanganku yg di tempeli sisa lem.....

Teguk air yg tercurah,
Bersihkan peluh yg membasahi kerah.....
Ku raih selendang ketenangan,
Ku rebahkan rindu di haribaan..... Berlantun Kalam Suci Warisan Sang Nabi,
Merengkuh Khusyuk mengemis pada Ilahi.....
Ku Sulut sumbu lilin di wadah kaca,
Meraih indahnya cahya yg merona.....
Seperti Cinta yg membara,
Asmaraku menyala berkerumun gelap yg perlahan sirna.....

Seakan berada di ruang senyap,
Tanpa hiruk pikuk kota,
Bahkan tak ada detak jarum yg ku rasa.....
Lepas dari belenggu dunia,
Sesaat dalam Estetika yg menjadi Rahasia,
Bersemayam dalam Tenang pelukan-Nya.....

Seolah tak ingin ini berakhir,
Bahkan tubuhpun enggan untuk bergulir.....

Setelah ku Jamah lembaran lusuhnya,
Dan ku semai tiap bait Ayat-Nya.....
Kini ku kecup hangat Tiap lekuk tubuhnya,
Hirup mesra aroma semerbak yg mempesona.....

Beberapa saat kemudian,
Rasanya aku sedang di rundung kerinduan......
Bibirpun kering gemetaran,
Tak ingin ku tinggalkan Mihrab Kemesraan.....

Bukan Cinta

Cerita merebah di lukis waktu,
Tintanya bertabur kala langkah terpatri lewati hari......

Ini
hikmah tentang mata dan cahaya,
Diantara siang dan malam yg memainkan perannya dalam realita.....

Betapa ini bukan hal yg berbeda,
namun ada sensasi istimewa,
kala ku coba tuk menyentuh rasa yg ku cerna.....
Seperti ada jalan di rimbunnya hutan,
menemukan berlian yg tlah lama hilang,
Atau bagaikan serdadu yg pulang menyandang kemenangan dalam perang.....

Bukan sekedar rasa,
Bukan juga Harapan tanpa sandaran.....
Kita semua ingin bahagia,
namun bukan sekedar kesenangan sesaat yg penuh kepalsuan.....

Tangisan,
Juga senyuman.....
Tawa,
Begitu pula Kesedihan.....
Hanyalah realita yg pasti ada dan biasa.....

Apa yg sebenarnya membuat ini menjadi indah dan penuh makna.....?

Apakah Cinta?

Tahukah kau,
Wahai Permaisuri hati yg Kerelaannya masih ku nanti,
dan Kemuliaannya masih tersembunyi.....

Bukan Cinta yg membuat jalan ini menjadi istimewa,
Apalagi sekelumit realita yg menjelma diatas dunia.....

Tanpa dirimu,
duniaku hanya akan menjadi hari yg berat,
 kelam dan melelahkan.....
Tanpa diriku,
Duniamu akan menjadi hari yg membosankan,
seram hingga bahkan menakutkan.....

Bukan tentang realita,
Juga bukan tentang Cinta.....

Ini tentang kita wahai Kasih yg bernaung dalam rahasia,
Tentang sepasang manusia yg meraih harmoni tuk lalui dinamika dunia.....

Ridhwan Endri. Y (Juna), 29 Agustus 2014

Jumat, 14 November 2014

Pesan Terakhir Seorang Pendaki

(Catatan ini saya buat, sebelum saya mengetahui Soundtrack lagu di film Gie, karya Erros SO7)

Katakan Pada Orang Tuaku, aku akan pulang agak terlambat. Karena Jiwaku amat merindukan Sentuhan Rimba, Kesunyian dan mengharapkan sebuah kebanggaan dalam diri. Jika aku tak jua kembali, katakan pada mereka, bahwa aku sangat menyayangi mereka, sungguh tak ingin jauh dari dekap dan pelukkannya. Pinta untuk tersenyum menyambut pesanku, karena aku pergi di atas jalanku, jalan yang telah aku pilih.
Katakan Pada Dunia, bahwa Alam mulai menghentak, memberontak, meminta pertanggung jawaban atas ulah Manusia. Katakan bahwa sebenarnya Alam sangat bersahabat sebagaimana yang kau lihat, kau rasa dan kau alami, sangat ramah akan adanya Manusia di Semesta. Jangan hanya menikmati, tapi tak mau mengobati. Jadilah Pecinta Sejati, maka Semesta akan berikan apapun yang kau pinta dan kau harapkan, akan sajikan lebih banyak manfaat untukmu.
Seorang Pendaki Sejati yang s'lalu merindukan Belantara untuk mencari Jati Dirinya, bukan untuk menaklukkan atau di taklukkan Alam Semesta, melainkan untuk mengalahkan Ego, Emosi dan Dirinya Sendiri. Alam hanyalah tempat yang mengandung banyak arti, tantangan Jiwa, Pelajaran, Cerita, Kesedihan, Kesenangan, Kesulitan, Kemudahan, Kasih Sayang, Menjaga, Melindungi, Perjuangan, Persahabatan, Kebersamaan, Saling Menghargai, Kepedulian, Kesadaran, Kesetiaan, Ketulusan, Kesabaran, Keakraban, Persaudaraan, Kedewasaan, Kekuatan, Kelemahan, Jati Diri dan semua Tentang Kehidupan dengan Makhluk Hidup.

Antara Berhalanya FPI dan Tuhannya Tionghoa

Waktu itu saya sedang bertugas di daerah Sleman, DIY. Mengevakuasi warga desa yang tertinggal, dari bahaya awan panas dan debu vulkanik. Maklumlah, kita tahu serutin apa Gn. Merapi memuntahkan isi perutnya. Pagi itu ketika bangun tidur, sekitar pukul 09.00. Saya di bangunkan oleh bising rolling door yang bergeser dan gemuruh suara mesin truk. Bantuan logistik yang ke sekian kalinya datang, terlihat 3 truk berjejer terparkir di bahu jalan.

Tanpa di komando dan mengetahui berasal dari mana bantuan itu, saya dan beberapa teman lain langsung menaiki truk dan membuka terpal yang menutupinya. Dengan cepat menurunkan berbagai logistik yang ada di atas truk. Mulai dari selimut, pakaian dan tikar, hingga gula, beras, mie dan logistik lainnya. Bahkan juga ada pampers, pembalut dan pakaian dalam.

Setelah semua bantuan di turunkan untuk di hitung dan di masukkan ke dalam pendataan guna memudahkan pendistribusian ke posko-posko nantinya. Beberapa logistik seperti beras dan gula di kemas ke dalam plastik-plastik berukuran kiloan agar memudahkan saat di bagikan. Ya kami mulai menjalankan tugas masing-masing, saya yang saat itu bertugas sebagai tim distribusi pun mulai menyiapkan barang-barang yang akan di drop ke posko bencana sore nanti.

Saat saya menaikkan kembali barang-barang ke dalam truk dan melintasi sisi kanan dan depan mobil. Ada sebuah banner/spanduk yang membuat saya agak terkejut. Spanduk itu bertuliskan "Bantuan Bencana Tionghoa Indonesia".  Saat itu berbagai alibi dan rasa kagum saya memutar di kepala. Memang tak terlalu aneh bagi saya memahai Kuatnya Toleransi beragama dan Kemanusiaan di Indonesia.

Hanya saja, saat ini ketika ormas-ormas Islam yang mengaku paling beragama ini tidak malu melakukan diskriminasi dan intimidasi atas nama Agama. Saya seolah terbakar dan menjadi korban dari sikap anarkis ormas ini. Saya mulai muak, bahkan rasanya ingin berontak dan teriak.

"KALIAN HARUSNYA MALU!!! KARENA KALIAN HANYA BISA BICARA TENTANG TUHAN DAN MEMBERHALAKAN AGAMA KALIAN, SEMENTARA RAS ATAU KEAGAMAAN ORANG YANG BERSANGKUTAN ITU, SEOLAH-OLAH BERSAKSI DI HADAPAN BERHALANYA. BAHWA TUHAN MENCINTAI SEBUAH KEBAIKKAN..!!"

Between The FPI Idols and The Tionghoa God.

At that time I was on duty in Sleman, Yogyakarta. Evacuating villagers who have not been in the evacuation, of the dangers of hot clouds and volcanic ash. It's known, what we know as routine The Mt.Merapi spewing his guts. That morning when I woke up, around 09.00. I was awakened by a noise in the rolling door shifted and the roar of the truck engine. Logistical support for the umpteen time to come, looks 3 trucks lined up parked on the shoulder of the road.

Without the command and know where it comes from such assistance, me and some other friends straight up the truck and opened the tarp covering it. Rapidly degrade various existing logistics on the truck. There are blankets, clothing and mats, until sugar, rice, noodles and other logistics. In fact, there are also diapers, sanitary napkins and underwear.

After all the stuff that was sent down for the count, and in order to enter into the data collection to facilitate distribution of posts later. Some logistics such as rice and sugar packed into plastics in order to make it easier when distributed. We carry out each task, I then served as the team began to prepare the distribution of goods to be distributed to the post disaster this afternoon.

When I raise the return of goods into the truck and crossed the right side and front of the car. There is a banner which makes me a bit surprised. The banner reads "RELIEF DISASTER FROM TIONGHOA INDONESIA". When the various alibi and admiration I twisted in the head. It's not too strange for me to understand the very strength tolerance of religious and humanity in Indonesia.

Only, this time when the Islamic organizations who claim to have no shame most religious discrimination and intimidation in the name of religion. I seemed on fire and became a victim of this mass anarchist attitude. I'm getting sick, I felt even want to rebel and cried.

"YOU SHOULD BE ASHAMED !!! BECAUSE YOU JUST CAN TALK ABOUT GOD AND MAKING RELIGION AS AN IDOLS, WHILE THEIR RACIAL AND RELIGION IS YOU TAUNT, AS IF TESTIFY IN FRONT OF THEIR IDOLS. THAT GOD LOVES A GOODNESS.. !!"