Sabtu, 30 Mei 2015

Mengenali Batas

Nampaknya setiap dari kita sudah jauh berjalan, melaju, meluncur bahkan sedemikian hebatnya kita berkembang melampaui potensi diri kita yg dahulu kita kenal sebagai seorang yg sama-sama belajar menjadi petualang. Menjelajahi mahligai hayati yg begitu kompleks dengan berbagai pemikiran(analisa dan pengamatan non-formal), perenungan atau yg sering kita sebut dengan pengkajian.

Betapa dahulu kita selalu bergelut dgn dinamika emosional yg terjadi lantaran sedikit sentuhan dari satu sama lain yg menimbulkan efek denyut di kepala, ya..! Terlepas dalam topik apapun itu, kita pernah mengalami dan melaluinya. Dan beginilah kita.

Analoginya seperti sebuah lintasan hutan yg sering di pijak oleh kaki para pendaki untuk dapat mencapai puncak. Semakin sering siklus lalu lalang, maka semakin jelas jejak-jejak yg tertinggal. Bahkan secara tidak sadar langkah para pendaki itu menciptakan batas-batas antara jalur menuju puncak dengan sedemikian luas membentang hamparan hutan, aliran sungai, deruan air terjun, curamnya jurang, gelapnya gua dan sunyinya lembah sepi yg penuh misteri. Kita terhanyut dalam langkah dan jejak-jejak tersebut hingga kita hanya terpaku pada satu ruang pandang, bahwa puncak adalah keindahan sejati.

Mungkin sebagian dari kita tidak menyadari ini, namun harusnya dalam setiap perjalanan kita selalu dapat meraih pelajaran yg tersingkap di dalamnya. Ya, begitu bersemangatnya kita dan tenggelam dalam khayalan betapa indahnya pemandang sejati di puncak tertinggi. Terlepas dari berbagai motivasi dan inovasi apapun yg berada di dalam hasrat dan naluri pencapaian itu. Aku hendak bertanya kepada kita, kepada diri-diri kami, kepada jiwa muda-mudi, kepada setiap hati yg juga berusaha menjawab panggilan diri untuk mengenali eksistensi diri.

Apa yg terlihat dari atas sana....?

Penuh Cinta dan Harapan.
Ridhwan Endri Yapan (al-Kulani).

Mengetahui Batas

Tulisan ini bukan untuk menggurui, atau mungkin merasa paling memiliki eksistensi dan potensi. Ini hanya seruan kerinduan yang terungkap dari hati.

Kita memahami, bahwa kita adalah corak keberagaman. Kita adalah bentuk dari keajaiban dan kita adalah wujud dari berbagai perbedaan. Tak pernah ada yang secara riil menyatukan kita dalam berbagai aspek, kecuali setelah mengalami perdebatan, atau bahkan benturan yang akhirnya melahirkan satu perbedaan lagi. Beginilah kita...?

Mungkin kita ingin langsung menjawab pertanyaan ini, atau bahkan sambil membacanya gumam hati dan bibir kita menyimpan semua jawabnya.

Satu-satunya yang sama dari diri kita yang menyatukan kira adalah bahwa kita manusia. Manusia yang memiliki harapan, manusia yang memiliki impian, manusia yang memiliki tujuan. Dan setiap dari kita kembali memiliki harapan yang berbeda dan impian yang tak sama, mesku tujuannya bisa jadi serupa.

Terserah bagaimana menyebut tujuan itu apa, namun yang pasti. Tujuan bukanlah sebuah pencapaian yang kecil meski sederhana, bukan juga sebuah tujuan yang luarbiasa meski istimewa.

Kembali dalam analogi, jika dalam suatu negara setiap rakyatnya memiliki satu potensi yg sama (dalam hal ini militer, misal) juga memiliki kualitas yang sama, satu impian yang sama, sehingga seolah-olah tidak ada perbedaan di dalamnya. Lalu mungkinkah dengan semua kesamaan itu, negara tersebut dapat maju dan berkembang di dunia global pada saat ini. Tanpa adanya peran bidang perekonomian, dalam hal ini sandang dan pangan. Juga tanpa adanya peran bidang pendidikan, dalam hal ini ilmu pengatahuan, teknologi dan lingkungan hidup. Apakah bisa negara itu berkembang di dalam persaingan dunia global saat ini...?
Jawabannya sudah tentu sulit untuk di bayangkan, dan mustahil bisa tercapai.

Sampai disini, kita serahkan semua goresan pena elektronik ini kepada khalayak. Khususnya penafsiran dan pemahamanya pada diri kita sendiri. Karena mungkin ini hanya sekedar frasa tak bermakna di kalangan pemuda, meski besar harapan kita bahwa ada makna dan guna yang dapat di gali oleh manusia. Ada tujuan besar yang bisa sama-sama kita perjuangkan, kita raih dan kita tebarkan.

Penuh Cinta dan Harapan.
Ridhwan Endri Yapan (al-Kulani).

Senin, 25 Mei 2015

Who is You...?

Jauh ku bentangi berbagai alibi,
Telusuri tiap tujuan yg ku miliki...
Dengan semua keindahannya yg tersendiri,
Harapan pencapaian yg membumi...

Kadang saking kuatnya emosi,
Persatu mimpi itu terlewati dari aksi...
Banyak yg berlalu tak terkendali,
Karena mustahil fokus ini tercabangi...

Bersama pancaran panas sang mentari,
Menyengat ubun-ubun dan memaksa ku untuk mengerti...
Bahwa sekalipun sketsaku mencapai tiap teori,
Namun tak cukup sepasang tungkai ini untuk menebus semua ambisi...

Setajam mataku memandang langit tak bertepi,
Seluas imaji mampu menangkap berbagai aksiden yg terjadi...
Ku dapati pudar menggarisi titik fokus mata ini,
Cermati dan pahami mengapa semua terasa sedilema ini...

Kalam Suci,
Petuah Ilahi yg tertuang dari jiwa suci...
Juga hikmah yg terkuak lewat setiap ilmu yg di pelajari,
Tentang diri... Ambisi, dan sebuah jalan yg jadi fokus untuk di geluti...

Inilah batas kesempurnaan makhluk bermateri,
Puncaknya adalah mencapai kesadaran diri...
Menembus ilusi dan raih berbagai potensi,
Lewat imaji, alibi dan berbagai pemikiran yg menguji naluri...

Sampailah dimana manusia mengenali potensi diri,
Tetapkan hati pada ruang yg ia kuasai...

#QueenBee

Shake Spirit

Pagi ini terasa tak biasa,
bercampur imajiku memicu nuansa...
Bersama embun di dedaunan yg bermahkota,
coba ku hisap teduhnya dgn jiwa yg dahaga...

Menebal pupil mataku mengoyak retina,
isyarat dari jiwa untuk fokus menyusun aksara...
Kiranya ada sesuatu yg berbeda,
itu hanya waktu yg seolah sesakkan dada...

Menghimpit senda gurau yg sia-sia,
memeras teori tuk capai puncak dinamika...
Massa tak pernah bisa di tunda,
namun imaji harus bisa meraih cahaya...

Hari esok kan datang bersama realita,
kejarlah asa dengan segenap cinta dalam jiwa...
Tutuplah matamu dari tanya yg terus menunda,
ciptakan semua dgn yakin pada usaha dan upaya...

Karena Cinta adalah Keniscayaan yg nyata,
Ragu kelak kan sirna,
pun kelak tiada lagi dahaga dalam tanya...

#QueenBee

In the Low Time

Ku gores jemariku di layar cahaya,
seraya mengobati sepi yg bernada...
Membentang serentet realita,
mengais harapan dalam bingkai analisa...

Ku jelajahi penjuru dunia,
dari balik kaca elektrika yg berwarna...
Menembus ruang dialektika,
menjengkal waktu tuk puaskan tanya...

Akan dimana berakhirnya dinamika,
tentang bagaimana harus ku raih bahagia...
Ini seperti berdenyutnya syaraf-syaraf di kepala,
darah dan sel saling bertaut tuk bangkitkan rasa...

Seketika Cinta membahana di lembah thuwwa,
dasar hati yg penuh dgn misteri dan jadi pusat tanya...
Getarannya menstimulan tiap organ jiwa,
seperti mendorong geraknya untuk berlaga...

Sesaat ku dapati kegelisahan sirna,
berganti dengan harapan yg mekar bagai bunga...
Merekah merah menggoda,
dan menunggu tangan lembut nan halus untuk memetiknya...

#QueenBee

Selasa, 05 Mei 2015

Resah Hati

Kelopak mata mengendur,
Pandangan pun mengabur...
Namun suasana hati ku tak teratur,
Gelisah mengoyak tubuhku yg terbujur...
Keheningan seolah jadi cadur,
Antara aku dan segenap keresahan yg melacur...

Ku pejamkan mataku sejenak,
Cari sebabnya gundah yg terselubung dalam benak...
Tentang hari esok yg tak tertebak,
Bahwa keadaan takkan bisa untuk di elak...
Ku  ingin menangis sendu,
Namun ada angin yg mengusik nada syahdu...

Sedih masih menggelayut di pelupuk mata,
Aku seolah kehilangan akal untuk berkata...
Tak ku kenali rasa yg bertengger dalam dada,
Kecuali kecewa, sesal dan rasa hina...
Aku berhenti berkata,
Semenjak beberapa menit yg bernada...
Nada jarum jam yg seolah menyeru telinga,
Untuk mendengar sesuatu yg tak bersuara...

Sunyi,
Hening dan sepi...
Aku menepi dan rebah di lantai yg selalu ku tiduri,
Masih dengan rasa yg tak menentu dalam qolbi...
Tak mampu mengundang lirih,
Juga tak mampu ku berdiam diri...

Ku sambangi pagi ini,
Menahan diri,
Bersama sepi,
Nikmati kopi tuk pecahkan imaji...

Pergilah wahai resah hati...