Tampilkan postingan dengan label Estetika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Estetika. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Agustus 2015

Wanita Cuek yg Mempesona

Andai kamu tahu??
Aku amat ingin menggapai tiap celotehmu di papan elektrika ini, Apakah harapan ini tabu atau mimpi yg mampu di beli...?
Aku tak tahu? Tepatnya karena aku tak mampu mendekatmu yg amat memukau disana. Kurenungi perkataan seorang sobatku mengenai dunia maya ini, bahwa ada sebagian orang yg memanfaatkannya untuk benar-benar berkomunikasi dan saling mengenal satu sama lain. Namun ada juga yg hanya menjadikannya sebagai lahan fantasi dan ilusi. Terutama bagi orang-orang yg tidak saling mengenal.

Benar!! Aku setuju!

Tapi..., lagi-lagi ketika tiba-tiba namamu masuk dalam daftar status terbaru di berandaku. Aku mendadak menggebu. Seolah ingin melihatmu lebih dekat, dan menyapamu dengan senyuman penuh canda. Ku hentak tuts enter dan menunggu sekian menit bahkan jam untuk membaca balasan komentarmu. Naasnya, ketika harapan mendapat balasan mu sangat besar. Kamu menjawab beberapa komentar lain yg ada di sekelilingku. Dan ku amati, bahwa seringkali namaku terlewatkan. Ya! Aku dan kamu tak benar-benar saling mengenal.

Mungkin namamu hanya satu dari sekian nama yg ada di friendlistku, begitu juga dgn mu. Ternyata benar, ini hanya dunia maya.

Aku ingat! Sebelum bulan Ramadhan lalu, pernah mengajakmu untuk mendaki bersama. Aku mengirimnya di sebuah komentar dalam foto kirimanmu yg lucu mengenai Pendaki Gunung. Ya! Itu hoby yg sama-sama kita gandrungi. Cukup senang saat itu aku mendapatkan respin positif darimu, hingga kita buat satu perencanaan di bulan oktober nanti. Ingin rasanya aku menegur atau sekedar mengingatkan mu mengenai rencana yg kita sepakati itu. Tapi..., aku ragu. Bahkan malu. Kamu tahu? Betapa bebannya aku mendikte semua status dan sikapmu di dunia yg maya ini....? Ku rasa itu tak menjadi minatmu, apalagi mencuri perhatianmu.

Parahnya?! Sifat Cuekmu itulah yg membuat aku berharap bisa mengenalmu, karena aku butuh seseorang yg bisa dengan tajam menghunus semangatku untuk berdiri. Dan sikap Jutekmu itu yg membuatku terpikat untuk bisa duduk bersama denganmu dan perbincangkan banyak hal. Sikap Kritismu, tingkah lucu dan celoteh-celoteh manjamu itu...?

Kita sama-sama penulis amatir yg memiliki small-blog untuk mencurahkan ide karangan dan coretan tangan di dalamnya. Namun ku perjelas kepadamu tentang hal ini. Bahwa ini bukan karangan, juga bukan sebuah umpan untuk menarik simpatimu.

Aku hanya ingin mengenalmu.....

Kamis, 04 Juni 2015

Nyanyian Malam

Apa yg tersisa di sepanjang jalan,
Ketika sepi berhembus temani kesepian.....
Bernyanyi dalam sunyi dan menyendiri.....

Apa yg bisa di lupakan,
Ketika semua berlandas pada harapan dan impian.....
Sementara imaji terendap di dasar hati.....

Apa yg patut di tinggalkan,
Ketika yg di harapkan hanya ketulusan.....
Ku kira Cinta telah membuat kita mengerti dan saling mengasihi.....

Tanya masih bersusun laksana ombak yg berderu,
Menginterogasi setiap alibi yg mencuat jadi ambigu.....
Selaksa realita tak mampu di sela,
Apalagi di hapus tuk menutupi fakta.....
Beginilah adanya,
Dimana kejadian tak bisa di terka.....
Dinamika selalu mengiringi setiap langkah kaki,
Halangan dan rintangan pun menjadi sesuatu yg mesti di hadapi.....
Di terima,
Dan di jalani.....

Lalu aku berlanjut menyelami kegelapan malam.....

Dalam keheningan yg ciptakan rentetan tuntutan dan keharusan,
Ku tuai jawaban dari surutnya kepastian.....
Tindakkan,
Kesusah payahan,
Dan sekelumit permasalahan yg mesti di selesaikan.....
Ini tentang tanggung jawab dalam kehidupan,
Dimana diam tak berarti bungkam.....
Dimana mengeluh bukan karena kelemahan,
Tetapi karena ingin dapatkan perhatian.....

Salahkah aku....?
Jika kisah di masa lalu yg kini membuatku merasa haus,
Haus akan perhatian dan pengertian yg khusus.....
Mungkin luput dari pandanganmu,
Atau bahkan tak sampai dalam imajimu.....
Karena kamu memiliki kebebasanmu sepenuhnya,
Meski pernah hampir kamu kehilangannya.....

Tapi aku....?
Huuhh.....
Rasanya tak ingin ku buka luka lama,
Namun perih dan cacatnya masih tersisa.....
Membekas di sanubari,
Menggores di lubuk nurani.....

Ini bukan luka hati yg tragis,
Tapi tekanan jiwa yg guncangkan psikologis.....

Rasanya mataku mulai perih dan berair,
Menelusuri lembaran kertas dan mata tinta yg bergulir.....
Sesal tak pernah terasa lagi,
Sesak di dada menepi dan bersembunyi.....
Bagaimana caraku lewati semua ini,
Adalah rahasia malam yg bernyanyi dalam sunyi.....
Dalam larutnya pekat malam,
Dan siksaan Insomnia yg seolah menghujam.....

Mata dan otakku.....
Kembali beralibi dalam Imaji.....

Oktober 2014

Rabu, 03 Juni 2015

Kamu

Perlahan ku urai satu persatu,
Berbagai gelisah yang selalu mengganggu...
Kan ku ungkap segala rancu,
Meski tiap wajah memandangku tabu...
Namun inilah massa dimana tiada lagi abu-abu,
Tiada hitam yang kan menutup cahya itu...

Masih tentang kegelisahan yang membuat semua seolah semu,
Semoga hadirmu jadi kelembutan yg luluhkan ragu...
Menjadi kepastian tentang adanya hari baru,
Dimana tiada lagi lara yang memecah asa jadi ambigu...

Kamu...
Seperti fajar yang selalu ku tunggu,
Lama ku terjaga menunggu waktu...
Membunuh malam ku duduk termangu,
Biasmu adalah sebersit harapan di langit biru...

Kelak di waktu yang kita tuju,
Kan terjawab tanyamu tentang sepi yg lama membiru...
Tentang gelisahku dan gelisahmu,
Yang kelak kan bertemu dan bertumpu...

Namun biarlah itu menjadi rahasia waktu,
Karena saat ini masih terasa tabu dan buntu...
Tinggal bagaimana kita mengolah dan meramu,
Biarkan rimba menuntun kita untuk menyatu...

Logika dan ritmenya kan menjadi bumbu,
Mengikat kasih cinta yang bersatu padu...
Saksinya adalah deru nafas yg menggebu,
Mungkin juga pijakkan langkah kita yang penuh debu...

Sejauh puncak-puncak yang kelak kan berlalu,
Terbentang juga dinamika yang berputar pada dinding rindu...
Coba pecahkan problema dalam bisu,
Bergantung pada sejauh mana kita memahami titik temu...

Biasa, seperti kisah-kisah lain yang juga pernah berlalu,
Kita kan alami masa-masa itu...
Jangan mencoba melawan waktu,
Biarkan kita bertemu dan berjalan di tepian dinding berbatu...
Menemui Cinta yang penuh haru,
Atau berujung dan kandas di jurang yang penuh dengan benalu...

Sejauh ini aku berharap mampu mengusir kelabu,
Dan mulai menjemput bahagia yang sering di dongengkan oleh Ibu...
Dan ku harap itu dirimu,
Yang kelak kan menunggu ku pulang di depan pintu...

Menyambut lelahku dengan senyum semanis madu,
Luluhkan lelah yang bertengger di bahu...
Menghapus penat dengan teduh tatapan sang ratu,
Yang malu-malu penuh rayu dan rindu...

Dalam syair ini ada harapan yang mengusik kalbu,
Dari sekian banyak yang datang dan berlalu hanya tinggalkan pilu...
Aku ingin berlabuh di relung jiwamu,
Menanam benih Cinta di dasar hati yang tlah lama semu...

Senin, 25 Mei 2015

Who is You...?

Jauh ku bentangi berbagai alibi,
Telusuri tiap tujuan yg ku miliki...
Dengan semua keindahannya yg tersendiri,
Harapan pencapaian yg membumi...

Kadang saking kuatnya emosi,
Persatu mimpi itu terlewati dari aksi...
Banyak yg berlalu tak terkendali,
Karena mustahil fokus ini tercabangi...

Bersama pancaran panas sang mentari,
Menyengat ubun-ubun dan memaksa ku untuk mengerti...
Bahwa sekalipun sketsaku mencapai tiap teori,
Namun tak cukup sepasang tungkai ini untuk menebus semua ambisi...

Setajam mataku memandang langit tak bertepi,
Seluas imaji mampu menangkap berbagai aksiden yg terjadi...
Ku dapati pudar menggarisi titik fokus mata ini,
Cermati dan pahami mengapa semua terasa sedilema ini...

Kalam Suci,
Petuah Ilahi yg tertuang dari jiwa suci...
Juga hikmah yg terkuak lewat setiap ilmu yg di pelajari,
Tentang diri... Ambisi, dan sebuah jalan yg jadi fokus untuk di geluti...

Inilah batas kesempurnaan makhluk bermateri,
Puncaknya adalah mencapai kesadaran diri...
Menembus ilusi dan raih berbagai potensi,
Lewat imaji, alibi dan berbagai pemikiran yg menguji naluri...

Sampailah dimana manusia mengenali potensi diri,
Tetapkan hati pada ruang yg ia kuasai...

#QueenBee

Shake Spirit

Pagi ini terasa tak biasa,
bercampur imajiku memicu nuansa...
Bersama embun di dedaunan yg bermahkota,
coba ku hisap teduhnya dgn jiwa yg dahaga...

Menebal pupil mataku mengoyak retina,
isyarat dari jiwa untuk fokus menyusun aksara...
Kiranya ada sesuatu yg berbeda,
itu hanya waktu yg seolah sesakkan dada...

Menghimpit senda gurau yg sia-sia,
memeras teori tuk capai puncak dinamika...
Massa tak pernah bisa di tunda,
namun imaji harus bisa meraih cahaya...

Hari esok kan datang bersama realita,
kejarlah asa dengan segenap cinta dalam jiwa...
Tutuplah matamu dari tanya yg terus menunda,
ciptakan semua dgn yakin pada usaha dan upaya...

Karena Cinta adalah Keniscayaan yg nyata,
Ragu kelak kan sirna,
pun kelak tiada lagi dahaga dalam tanya...

#QueenBee

Sabtu, 13 Desember 2014

Cinta Arang

Menatapi serpihan imaji diatas api,
Ku serap pancaran alibi yg batasi diri.....
Hangatnya api menguji naluri,
Melewati malam sepi yg dingin hingga pagi.....

Terkuak segala problema,
Ku dapati arah dalam sunyi yg menjelma.....
Ini bukan hanya tentang aku,
Bukan juga tentang kamu.....
Namun tentang eksistensi sebuah nada harmoni,
Dimana not nya sajikan kedamaian dalam hati......

Ada yg salah ku mengerti,
Namun terlampau jauh ku cintai.....
Atau mungkin begitu cepat kau salahi arti,
Sehingga yg tersisa kini hanya sepi.....
Kisah tak lagi murni,
Ternodai oleh emosi yg menguasai.....

Kita lama terdiam,
Bahkan kembali terbiasa untuk bungkam.....
Seperti hujan yg tak kunjung datang sejak juli,
Kemarau kini menyengat bumi hingga canda pun mengering dalam hati.....
Rindu seolah tersembunyi,
Hadirnya pun serasa pantas di tanyai.....
Apa daya,
Senyumku pudar dalam redup cahaya cinta.....
Air mata....?
Ini kemarau yg menyedihkan,
Bahkan katup di retina mulai tanyakan dimana kelembutan.....

Mengais sisa-sisa kata yg mampu ku ucap,
Bahkan meski sapa ku tak terjawab.....
Memanggilmu,
Memperhatikanmu,
Dan menegurmu.....
Lewat puisi,
Syair singkat yg lirih,
Hingga ku ungkap doa dalam keresahan yg menghantui.....

Habibbah ku....?
Kemana canda tawa kita tergadai....?
Apakah ada yg lebih berharga dari kehangatan,
Atau mungkin ada yg lebih menarik dari sebuah ketulusan dan kesetiaan....?
Belenggu kita hanya ruang dan waktu,
Sedangkan Cinta ini hadir melampaui apapun itu.....

Apakah Optimisme itu telah padam....?
Sementara mimpi yg kita rangkai adalah rahasia yg terpendam.....

Ku bergeser menyentuh nyala bara yg mencolok,
Lalu ku dapati arang hitam yg baru saja tergarang.....
Di balik itu,
Ternyata ada Abu yg mendebu,
Dalam sulutan api ia Abadi,
Balutan bara api ajak angin membawanya sempurna dalam harmoni.....

Abu.....
Abu yg tak mungkin lagi jadi bara api,
Apalagi jadi arang memutar balik dimensi.....

Gelisah Asyura ku

Bulir keringat membasahi keningku, baru saja berlalu gema adzan di balik memerahnya langit yg biru. Aroma Jahe, Sereh dan Pandan berpadu dalam rebusan kopi di dalam panci. Gemerincing gelas-gelas mendarat di meja-meja besar menyambut para tamu. Ku bersihkan wajahku, ku reguk teduhnya air wudhu. Mungkinkah aku berdiri dalam sholat sambil mengetik..?
Beriring kalam-kalam suci yg di baca dalam bisik, juga asma-asma agung yg bertahta dalam sunyi. Mataku meraba tiap lembar kitab yg berdebu, menghempasnya dengan nafasku yg menggebu.

Saat Syair-syair duka di lantunkan,
Ku harap kelembutan luntur dalam butiran. Menangislah mataku, aku ingin sekali menangis.....

Sesekali ku serap nuansa berbeda dalam getar tubuh yg bernada, ku pejamkan mataku dalam-dalam seraya meneriakkannya di dalam dada. Aku malu, ketika berhadapan dengan keramaian. Aku sungkan ketika harus mengakrabkan diri dalam obrolan. Ku tarik semburat logika yg masih berantakkan di kepala, Bayangku masih melambung jauh. Menerawangi jalan mana yg harus ku tempuh. Di saat seperti ini, selalu saja tergumam dalam nurani. "Andai saja ada Guruku saat ini..." aku butuh arahannya.
Aku butuh tuntunannya. Namun terlampau jauh aku meninggalkannya, bahkan begitu besar aku mengecewakannya. Aku tahu, Beliau tak pernah menutup pintunya. Begitupun untuk aku, aku yg masih lugu dengan langkah yg ambigu. Sekiranya ada beliau disini, mungkin aku bisa lebih tenang. Bahkan jauh lebih relaks dari ini, membaca syair dan doa yg di lantunkan dan di panjatkan.

Jumat, 12 Desember 2014

Rindu Membiru

Terbenam rembulan di ufuk barat,
Sembunyikan tanya di balik semburat.....
Alibi mencuat mengusung angin,
Buyar di tempa tatapan mata yg dingin.....
Di batas lembaran kisah ku terbungkam,
Menutup jalan keraguan yg harus di redam.....
Menembus tiap resah berbalut rasa,
Mengusir sepi yg menghambat cita.....

Temaram ku cumbui,
Lalu larut dalam lamunan sang putri.....
Ku semai rindu,
Ku tabur nada biru di jejak malam yg membisu.....

Ada gelak tawa yg tersita,
Mengimpikan canda mesra yg tertunda,
Seperti mendung yg lewat tanpa sapa.....

Gelisah ku nanti kabarmu,
Hampir gusar ku di usik malam sendu.....
Melambung percik api memecah gelap,
Masih ku pendam tiap kata yg ingin ku ungkap.....
Dimana ruangnya,
Adakah waktunya....?

Nanti saat Tuhan memberi kita jalan dan kesempatan,
Ku harap tak ada hambatan yg menyita kemesraan.....