Tampilkan postingan dengan label Pemuda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemuda. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Januari 2016

Pengembara Pemikiran [3] Melawan Fanatisme

Berfikir adalah hal paling menyenangkan. Kenapa...? Karena Gratis tentunya, dan kita gak perlu ngambil alat bantu atau peralatan untuk berfikir.

Kita cuma harus membuka cakrawala pemikiran (sudut), memperluas pemahaman (sisi)dan mempertajam pertimbangan (segi).

Itu semua, sudah jadi satu paket dalam akal manusia. Ibarat lampu pararel yg kilaunya warna-warni, kita cukup klik satu saklar untuk hidupin semuanya. Dan mereka semua akan menari penuh kerlap-kerlip secara otomatis.

Indah kan...?
Gimana coba kalo akal kita ini berfikir tanpa tiga hal tersebut (monoton)....?

Kita akan merasa asing dengan pemikiran-pemikiran oranglain, bahkan cenderung anti (menolak) terhadap hal-hal yang berada di luar nalar dan pemikiran kita sendiri.

Yang timbul setelah itu adalah rasa was-was, dari ketidak nyamanan kita terhadap kehadiran warna pemikiran lain tersebut. Yang mengakibatkan kita sibuk untuk menjauhkan diri hingga mencari cara untuk memusnahkan warna pemikiran tersebut.

Gak kebayang kalo seandainya semua orang anti dengan pemikiran oranglainnya...?? Bisa-bisa saban hari bakal ada pertumpahan darah, akan terjadi pembunuhan besar-besar, bahkan setiap orang cuma akan sibuk dengan memerangi orang lain (lihat kan komplotan ISIS dan Rombongan Teror al-Qaeda, dll yang di biayai Wahabi Saudi...?)

Ini disebut Fanatisme, yang akibatnya melahirkan berbagai sikap yang ekstrim dan primitif terhadap hal-hal yang berada di luar dirinya (pemikiran).

Sebaiknya kita berhati-hati dan lebih terbuka ketika ada sebuah perbedaan cara berfikir yang datang dari oranglain. Kenali lebih jauh dan ketahui lebih dalam. Karena menurut Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib.Kwh, "Fantisme berasal dari Kebodohan."

Jadi untuk menghindar dari sikap fanatis tersebut, sudah jelas kita di haruskan memiliki kecerdasan, pengetahuan yang luas dan juga pemikiran yang bijak dalam menyikapi perbedaan.

Lebih jauh Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib.Kwh berkata, "Sungguh! Tidak akan ada perpecahan dan perselisihan, jika Orang-orang bodoh diam."

Perkataan tersebut senada dengan Hadits Rasulullah.Saw, "Berkatalah dengan perkataan yang baik. Atau Diam" (Kira-kira seperti itu Redaksinya, saya agak lupa).

Perkataan yang buruk akan menimbulkan perpecahan, perselisihan bahkan konflik. Jadi, dari pada berbicara lantas menghasilkan perselisihan. Maka lebih baik diam dan membangun persatuan. Karena Rasulullah.Saw bersabda, "Sesungguhnya semua Muslim itu bersaudara, barangsiapa membunuh seorang Muslim maka (seolah-olah) ia telah membunuh Muslim seluruhnya."

Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib.Kwh pun berkata mengenai Persatuan dan Persaudaraan, "Mereka yang bukan saudaramu dalam Iman, adalah saudaramu dalam Kemanusiaan." (Ada redaksi lain yang menyatakan bahwa perkataan ini juga di ungkapkan oleh Rasulullah.Saw dalam suatu kesempatan).

Dalam konteks ini, dua Sosok terpandang dan mulia di dunia dan di akhirat ini. Dengan tingkat kecerdasaan dan pemikiran yang tidak di ragukan lagi, secara jelas dan nyata menyerukan persatuan dan kesatuan Umat Manusia seluruhnya (tidak terbatasi Agama, Ras, Suku, Bangsa, dll).

Menariknya kata "Muslim" itu bukan sekedar penyematan terhadap orang-orang yang beragama Islam. Tetapi lebih jauh dari itu, "Muslim" bermakna sebuah Identitas dan Realitas dari seorang manusia yang di liputi oleh Keselamatan (Silm) dan juga menebarkan Keselamatan.

Salaam Penuh Maaf dan Doa...~~

Foto dari Ahmad Helmi Ali Reza

Jumat, 15 Januari 2016

Pengembara Pemikiran [2]

Kekhawatiran saya terhadap waktu, menuntun jemari ini untuk menyambung jejak pena yang lalu.

Sebagian dari kita mungkin terlalu lelah untuk berfikir, apalagi memikirkan suatu hal yg tabu bagi kita. Sesuatu yang baru dan tidak kita kenali secara mendalam. Sehingga menimbulkan perasaan enggan bahkan takut sehingga membuahkan sebuah ketidak nyamanan ketika mendengar, membicarakan atau memikirkannya.

Apapun itu ketika kita kehilangan Kenyamanan dalam menjalaninya, maka akan terjadi kegalauan dalam hati. Begitu pula dengan berfikir.

Memahami sesuatu dalam keadaan tidak nyaman, akan merangsang otak untuk terus menyematkan hal-hal negatif kepada sesuatu tersebut.

Contohnya, ketika kita merasa tidak nyaman ketika melihat darah. Ketidak-nyamanan hati merangsang otak untuk menolak pemandangan tersebut. Sehingga tubuh meresponnya dengan sebuah perasaan negatif yang memicu tubuh merasa lemas, mual bahkan hingga pingsan.

Begitu pula dalam memahami buah Pemikiran atau Ide atau gagasan seseorang. Ketika kita merasa tidak nyaman dengan apa yang disampaikan oranglain, hal itu akan membuat otak berfikir atau menafsirkan Ide oranglain dengan kontaminasi emosi. Sehingga mengakibatkan #GagalPaham terhadap apa yang di pahami dan coba di uraikan oleh oranglain tersebut.

Jadi hal pertama yang harus di siapkan ketika hendak berdiskusi atau menafsirkan sesuatu adalah kenyamanan. Begitu juga dalam melakukan hal lainnya, yang menjadi faktor utama adalah kenyamanan (siap menerima dan terbuka dengan situasi).

Mungkin masih ambigu bahkan absurd pembahasan ini, karena sebenarnya yang saya maksud dalam "Pengembara Pemikiran" adalah bagaimana menata akal kita untuk memahami sebuah pemikiran atau penafsiran yang berasal dari oranglain. Sehingga kita mampu mencapai maksud dari penjabaran orang tersebut. Atau paling tidak membuka cakrawala dan gaya berfikir baru melalui sudut pandang yang berbeda, yaitu sudut pandang si pemikir.

Selanjutnya kita akan mulai memasuki fase Mengenali sebab-sebab lahirnya sebuah Pemikiran (Ideologi) dari para Pemikirnya atau Pencetusnya. Yabg secara langsung akan berlanjut kepada Akibat (terciptanya Pemikiran) melalui Sedikit penjabaran mengenai Proses-prosesnya.

Salam Penuh Maaf dan Doa... ~~ GoSmartIndonesia

Minggu, 03 Januari 2016

Indikasi

Masyarakat mulai angkat bicara,
tentang aib Petinggi Lembaga Negara yg terbuka.
Namun jalan-jalan ibukota masih ramai seperti biasa,
seolah menunggu aksi atas peristiwa.
Aku menyebutnya dgn makhluk beralmamater penuh warna,
Seolah mereka bergerak dgn sponsor yg mendorongnya.
Teriakan yg selalu terdepan membela rakyat (katanya) di depan istana,
meneriakan slogan dan orasi yg membara.
Penuh tuntutan dan rasa dongkol,
Do jalur-jalur protokol,
atau tempat-tempat strategis biasa mereka bercokol.
Mereka hilang ke antah-berantah,
menyisakan tanya atas anehnya tingkah.
Mengingat, ku ingat-ingat.
Pergerakan missioneeris kaum pengusung jihad,
Menyelundup di barisan kaum yg katanya intelektual dan moderat.
Mereka mendoktrin mahasiswa lewat organisasi,
Yang mereka sebut-sebut sebagai penegak syar'i dan hukum ilaahi.
Juga ku tak pernah lupa, siapa dan apa yg selama ini ada,
di balik pergerakan mahasiswa.
Alat hasil karya makhluk OrBa itu bernama mahasiswa.
OrBa konon sudah berlalu,
Tapi makhluknya hidup berkembang siapa yg tak tahu...?
Mereka bersembunyi di balik kepompong reformasi,
Berubah wujud jadi mesin pengeruk kekayaan Negeri.
Tindak-tanduk mereka dapat di kenali dengan ritme,
Hasrat koloni kaum kapitalisme-imprealisme.
Begitulah indikasi realita dan retorika,
dilema mahasiswa yg jadi korban atas nama bangsa.
Apalah arti intelektual yg di ikat karet,
terjebak dalam bungkus nasi karena kepepet.
Lihat, belakangan mereka keracunan doktrin gila,
Kaum ahmaq dan fanatik agama.
Doktrin ekstrim berjulukan wahabi,
produk ciptaan imprealisme bernama dinasti saudi.
Bukan tidak mungkin terjadi,
Karena nyatanya banyak mahasiswa yg mulai teracuni.
Siapa yg mau menyangkal...?
Cukup banyak kejadian ku dapati,
dari mulai UI hingga Tri Sakti.
Nyata terjadi,
Nusantara di hantam campuran serangan Neo-Kapitalis-Imprealis.
Jgn menangis,
Karena itu bukan puisi romantis,
Tapi sajak satir yg kritis dan mengiris.

Karat [5]

Jahiliyah,
Kehidupan Pra-Islam Jazirah Arabia. Alasan utama,
Sang Nabi diutus ke dunia.
Di Indonesia,
Sifat rakyatnya itu ramah tamah,
Lemah lembut & jg penuh kasih.
Demikian membuat Negri ini dihormati,
Bahkan ditakuti karna persatuan dan kesatuan rakyatnya yg penuh toleransi.
Ada teori yg terspekulasi,
Mengenai silsilah dan darah sang Nabi.
Dimana inti ajaran beliau yg mengarah pada akhlaq mulia,
melekat pd diri orang Indonesia (terkhusus Jawa dan Sunda).
Teori yg luarbiasa,
meraih banyak komentar dan kritik beragam rupa.
Menariknya,
Indonesia sbg benar satu Negara dgn jumlah penduduk Muslim terbanyak dunia.
Memang sdh menerapkan nilai-nilai akhlaq,
moral & spiritual yg kental,
jauh sebelum Islam dikenal.
Maka dalam bahasan lain ada sebuah alibi lagi,
Kenapa di Negri ini tdk diutus/didapati seorang Nabi..?
Mungkin karna Negri ini adalah tanah Surgawi.
Jadi yang diutus bukan seorang Nabi,
Japi sekelompok Iblis yg di samari,
Untuk membuktikan benar bahwa bangsa ini patut dipuji dan teruji.
Spekulasi apapun,
Begitu pula berbagai jawaban yg terhimpun.
Adalah sebuah Mahakarya Tuhan Yg Kuasa,
lewat pemikiran manusia,
Sebagai sarana mengasah akalnya.
Selama hal itu tdk melanggar undang-undang Negara,
Dan jga Hak Asasi Manusia.
Ini bukan artikel penistaan agama,
hanya ocehan bocah pendosa yg tengah gembira.
Karena Tuhan memberinya kemampuan utk bicara lewat kata,
mengharap doa dari sekalian saudara semua,
Agar diampuni segala khilaf dan dosa.
Hidup ini adalah tempaan bagi manusia,
di tempa oleh alam utk mencapai wujud kesempurnaannya.
Dgn ujian menuju 'Karat' .
Tercemari menjadi tambang besi penuh karat,
Atau mencapai keberhasilan uji menjadi emas yg berkarat.
Siapa diri kita....?
Besi atau Emas....?

Karat [4]

Betapa Air Asam itu berbahaya, besi keraspun dapat di ubah jadi rapuh tak bertenaga.
Apa pula pada hati, yg saban hari di basahi oleh kisruh hati cinta dini.
Coba deh renungi, gak ada ruginya memperbaiki diri.
Toh kita semua percaya takdir, jodoh gak bakal mangkir, terus kenapa kita masih khawatir.
Menjalani budaya asing tanpa sortir, hingga akhirnya berbagai perubahan zaman pun bergulir.
Adaptasi perubahan kata luarbiasa, mengikuti mode transisi pergaulan anak muda.
Aku ingat kata dari Bapak Bangsa, mengenai 5 pemuda yg mampu mengguncang dunia.
Terbayang betapa hebatnya mereka, miliki potensi luarbiasa, semangat jiwa tuk goyahkan dunia.
Terlalu idealis mimpi itu, lihatlah realita yg ada nampak semu.
Seumur jagung bicara cinta, mengobral manja mengumbar mesra.
Kiranya kelak apa yg kan mereka cipta..? Karya..?
Prestasi apa yg mampu mereka buat..?
Pemuda, kalian dengar nama dan kehebatan yg disematkan pada diri kalian..?
Hanya mengurusi cinta dini, lalu getaran apa yg akan menggoyah bumi ini..?

Karat [3]

Kehabisan ide aku menyusun kata, metodologi itu kadang-kali membuat akal kita buta dari makna. Ku kira hujan datang utk mengganggu, namun tidak. Ia datang penuh haru, bersama serentet estetika yg syahdu. Imajiku tergenapi, kini jemari Mulai menari, meyusun pesan lewat puisi. Hujan menjadi suasana yg di rindukan, terutama bagi mereka yg sedang mendalami peran kesedihan. Seolah hujan itu mewakili tangisan, sepanjang kisah cinta musim kemarau yg memilukan. Tangisan harusnya menjadi kekuatan, bukan malah menjadi ratapan hati yg melemahkan. Menangis memeluk guling, atau menatapi hujan dgn muka lumer di balik jendela bening. Tangisan masam, yg kelak kan merusak hati jadi kelam. Apa gunanya menangisi sesuatu yg telah pergi, berhentilah dari menyiksa hati. Baiknya menangislah utk yg lebih berarti, tontonlah peduli kasih di televisi. Heehe.. Ayo baca atau dengarkan lantunan ayat-ayat suci, atau memohon ampun mengemis cinta pada Ilaahi. Menangislah sepenuh hati, raih kekuatan sejati, menuju kehidupan hakiki.

Karat [2]

Nampaknya karat itu seringkali salah tempat, bukan hati yang di tambat tapi akal yang akhirnya di sumbat. Bahaya timbul seiring laju pemikiran yang tertahan. Sinisme, diskriminasi, intimidasi dan juga pembatasan terhadap ilmu pengetahuan yang di kaji. Dengan tuduhan penuh doktrin, tanpa asas pembuktian dan pembelaan bagi si tertuduh. Jangankan fakta nyata atas pembelaan, sekecil apapun tertolak hingga hanya sebuah perkataan. Kenyataan negeri yang katanya demokrasi, sejak Pendiri Negeri ini di habisi dengan berbagai alibi. Kala itu tiap pembelaan atas tuduhan pun terhimpit, tak diberi jalan dan terus di jepit. Doktrin dari segerombol manusia yang punya kepentingan, mencari pembenaran terhadap sbuah pertengkaran dan pelanggaran. Yang di tuduh gak sepenuhnya jadi korban, karena nyatanya pada muda-mudi itu aku merasa kasihan. Pundak-pundak yang lugu, dengan warna-warni jas mereka yang di pakai slalu. Tradisi itu berlanjut, hingga berlarut, membuat makin semrawut, meski jiwa-jiwa pemberani tertuduh mulai tumbuh dari balik kabut dan tumbuh dari rumput.

Sabtu, 02 Januari 2016

Karat [1]

Terlalu banyak menyusun frasa dgn kata dan makna, kadang membuat seseorang jauh dari fakta dan realita. Mungkin tak semua hal sempurna seperti yg kita cita, tapi belajarlah utk hadapi dan memahami bahwa ini semua nyata. Sudah terlampau sering bukan, air mata dan perih kamu rasakan. Bahagia pun terasa begitu melegakan, ketika secuil rayuan atau kemesraan terperikan. Sebuah bujuk seolah amat kuat, sehingga bisa menguliti hati yg perlahan berkarat. Mungkin semakin berkarat, harga jual hati akan semakin meningkat. Hati manusia, bak batu mulia. Aku seorang penulis amatir yg terkadang jenuh, dgn semua metodologi susunan kata yg hadirkan kisruh. Kisruh tersendiri cacian hati, meski seringkali pena menjadi sahabat sejati. Pena yg rela menuliskan berbagai ilusi, dan kertas yg seringkali jadi latar airmata jatuh dari pipi. Aku tak secengeng itu rupanya, karena aku lelaki yg harus percaya. Bahwa banyak hal penting lain yg membutuhkan air mata, dan itu bukan sekedar tangis karna kisah cinta yg bodoh dan gila. Tapi.....

Kamis, 04 Juni 2015

Nyanyian Malam

Apa yg tersisa di sepanjang jalan,
Ketika sepi berhembus temani kesepian.....
Bernyanyi dalam sunyi dan menyendiri.....

Apa yg bisa di lupakan,
Ketika semua berlandas pada harapan dan impian.....
Sementara imaji terendap di dasar hati.....

Apa yg patut di tinggalkan,
Ketika yg di harapkan hanya ketulusan.....
Ku kira Cinta telah membuat kita mengerti dan saling mengasihi.....

Tanya masih bersusun laksana ombak yg berderu,
Menginterogasi setiap alibi yg mencuat jadi ambigu.....
Selaksa realita tak mampu di sela,
Apalagi di hapus tuk menutupi fakta.....
Beginilah adanya,
Dimana kejadian tak bisa di terka.....
Dinamika selalu mengiringi setiap langkah kaki,
Halangan dan rintangan pun menjadi sesuatu yg mesti di hadapi.....
Di terima,
Dan di jalani.....

Lalu aku berlanjut menyelami kegelapan malam.....

Dalam keheningan yg ciptakan rentetan tuntutan dan keharusan,
Ku tuai jawaban dari surutnya kepastian.....
Tindakkan,
Kesusah payahan,
Dan sekelumit permasalahan yg mesti di selesaikan.....
Ini tentang tanggung jawab dalam kehidupan,
Dimana diam tak berarti bungkam.....
Dimana mengeluh bukan karena kelemahan,
Tetapi karena ingin dapatkan perhatian.....

Salahkah aku....?
Jika kisah di masa lalu yg kini membuatku merasa haus,
Haus akan perhatian dan pengertian yg khusus.....
Mungkin luput dari pandanganmu,
Atau bahkan tak sampai dalam imajimu.....
Karena kamu memiliki kebebasanmu sepenuhnya,
Meski pernah hampir kamu kehilangannya.....

Tapi aku....?
Huuhh.....
Rasanya tak ingin ku buka luka lama,
Namun perih dan cacatnya masih tersisa.....
Membekas di sanubari,
Menggores di lubuk nurani.....

Ini bukan luka hati yg tragis,
Tapi tekanan jiwa yg guncangkan psikologis.....

Rasanya mataku mulai perih dan berair,
Menelusuri lembaran kertas dan mata tinta yg bergulir.....
Sesal tak pernah terasa lagi,
Sesak di dada menepi dan bersembunyi.....
Bagaimana caraku lewati semua ini,
Adalah rahasia malam yg bernyanyi dalam sunyi.....
Dalam larutnya pekat malam,
Dan siksaan Insomnia yg seolah menghujam.....

Mata dan otakku.....
Kembali beralibi dalam Imaji.....

Oktober 2014

Selasa, 10 Maret 2015

Bukan Kompor Meleduk, tapi Uranium yg Meletup

Bukan Kompor Meleduk, tapi Uranium yg Meletup.

Seorang sobat datang menghampiri di sela-sela malam tadi. Kebetulan saya baru saja pulang dari kegiatan sampai tengah malam.
Berbincang panjang lebar soal pekerjaan, sampai akhirnya masuk ke dalam obrolan seputar Kenaikkan harga BBM dan Bahan-bahan Pokok (Beras dan Gas 3kg).

Panjang lebar sobat ini mengejewantahkan kelemahan dan kesalahan Pemerintahan Jokowi menurut segi pandangnya.

Awalnya saya hanya menjawab, "Jokowi bukan Dewa Bang..."

Ia pun terus melanjutkan tuduhannya, dan komplainnya terhadap pemerintahan era 2014-2019 ini. Bahkan menyangkutpautkan segala hal yg berubah dalam hal ini menurunnya taraf kesenjangan rakyat dan mengatakan, "Si Pak De aja, dulu waktu zaman SBY. Minumannya Jack Daniel, lah sekarang zaman Jokowi jadi turun drastis. Dari Jack Daniel yg harganya lumayan mahal, beralih ke Tuak (air tape) yg harganya cuma 7ribu perak." cetus nya dengan amat emosional.

Sayangnya karena atmosfer yg terlihat makin memanas, membuat saya enggan untuk menimpalinya lagi. Karena khawatir meledaknya emosi sobat tersebut. Maka saya hanya mengatakan, "Indonesia Negara Besar Bang, mustahil Jokowi menguatkan Negara ini sendiri. Kita butuh orang-orang kuat untuk menghadapi berbagai macam siklus, naik turunnya Perekonomian, Pasang-surutnya Pendidikan, jatuh bangunnya Pemberdayaan, juga maju dan mundurnya perkembangan. Kalo dengan problema yg seperti ini saja Abang sudah mengeluh, dalam hal ini merasa lemah. Lantas bagaimana Indonesia bisa maju ke depannya untuk menghadapi berbagai siklus lainnya...??"

Kesadaran Politik adalah Kesadaran Kebangsaan.

"Hidup ini Keras Bray!! Kalo lo lemah, nyerah aja... Lambai-lambai tangan, kali aja Malaikat Maut Lihat....?"

Ridhwan al-Kulani, Depok 10 Maret 2015.

Selasa, 03 Maret 2015

SURAT PEMIMPIN BESAR REVOLUSI ISLAM IRAN, AYATULLAH SAYYID ALI KHAMANEI.Hfz kepada PEMUDA EROPA DAN AMERIKA UTARA

Atas nama Allah, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Untuk Pemuda di Eropa dan Amerika Utara.

Peristiwa baru-baru ini di Perancis dan insiden serupa di beberapa negara Barat lain membuat saya yakin untuk langsung berbicara pada kalian tentang hal tersebut.

Saya berbicara pada kalian (para pemuda), bukan berarti saya mengabaikan orang tua kalian tapi karena masa depan bangsa dan negara kalian berada di tangan kalian sendiri; dan saya juga menemukan bahwa semangat mencari kebenaran di hati kalian lebih hidup dan kuat.

Saya tidak berbicara pada politisi dan negarawan kalian dalam surat ini, karena saya yakin bahwa mereka dengan sadar telah memisahkan jalur politik dari jalan kejujuran dan kebenaran.

Pembicaraan saya dengan kalian tentang Islam, khususnya citra dan wajah Islam yang ditampilkan pada kalian. Sejak dua dekade lalu, kira-kira setelah kehancuran Uni Soviet, banyak usaha dilakukan untuk menempatkan agama besar ini pada posisi musuh yang menyeramkan. Provokasi rasa takut, kebencian dan penyalahgunaannya — sayangnya — punya catatan panjang dalam sejarah politik Barat.

Di sini, saya tidak akan membahas mengenai berbagai phobia yang hingga kini di indoktrinasi bangsa-bangsa Barat. Dengan tinjauan sepintas studi kritis terbaru tentang sejarah, kalian akan melihat fakta bahwa dalam penulisan sejarah baru, perilaku-perilaku tidak jujur dan munafik pemerintah-pemerintah Barat terhadap bangsa-bangsa dan budaya lain di dunia telah disensor dalam Historiografi baru. (Historiografi adalah ilmu yang mempelajari praktik ilmu sejarah, red).

Sejarah Amerika Serikat dan Eropa dipermalu dengan perbudakan, dipermalu dengan masa penjajahan dan dipermalu dengan penindasan orang-orang kulit berwarna dan non-Kristen. Para peneliti dan sejarawan kalian sangat merasa malu pada pertumpahan darah atas nama agama antara Katolik dan Protestan, atau atas nama kebangsaan dan etnis selama Perang Dunia Pertama dan Perang Dunia Kedua. Hal ini [rasa malu pada pertumpahan darah] dengan sendirinya layak dipuji, dan tujuan saya menyebutkan sebagian kecil dari daftar panjang ini bukan untuk mencela sejarah, namun saya minta kalian bertanya kepada para intelektual kalian mengapa hati nurani publik di Barat harus selalu terlambat selama beberapa puluh tahun dan terkadang satu abad untuk bangun dan sadar?

Mengapa revisi dalam kesadaran kolektif harus diarahkan ke masa laluyang jauh dan tidak ke arah persoalan sekarang ini?

Mengapa dalam isi-isu penting seperti perlakuan terhadap budaya dan pemikiran Islam untuk pembentukan kesadaran dan pengetahuan masyarakat, dicegah?

Kalian mengetahui dengan baik bahwa penghinaan, penyebaran kebencian dan ketakutan ilusi tentang “orang lain” telah menjadi dasar umum bagi semua pencari keuntungan dan penindas. Sekarang, saya ingin kalian bertanya pada diri kalian sendiri, kenapa kebijakan lama penyebaran “phobia” dan kebencian yang menargetkan Islam dan Muslim muncul dengan intensitas yang belum pernah terjadi sebelumnya?

Kenapa struktur kekuasaan di dunia saat ini ingin pemikiran Islam terpinggirkan dan pasif?

Apakah konsep dan nilai-nilai dalam Islam mengganggu berbagai agenda kekuatan-kekuatan besar dan apa kepentingan-kepentingannya dilindungi dalam bayangan pendistorsian citra Islam?

Oleh karena itu, saya mohon kalian bertanya dan mengeksplorasi tentang motivasi penodaan luas terhadap Islam.

Permintaan kedua saya — sebagai reaksi terhadap banjir prasangka dan kampanye negatif — coba kalian peroleh pengetahuan tentang agama ini secara langsung dan tanpa perantara. Logika yang tepat mensyaratkan bahwa setidaknya kalian memahami apa yang membuat kalian takut dan lari darinya. Saya tidak memaksa kalian harus menerima penafsiran saya atau interpretasi lain tentang Islam. Namun yang ingin saya katakan, jangan biarkan realitas-realitas dinamis dan efektif di dunia saat ini diperkenalkan pada kalian sebagai kepentingan dan tujuan-tujuan yang telah terkontaminasi. Jangan biarkan orang-orang munafik menggunakan para teroris yang mereka rekrut sebagai wakil Islam untuk memperkenalkan agama ini kepada kalian.

Kenalilah Islam dari sumber-sumber primer dan aslinya. Kenalilah Islam melalui al-Quran dan kehidupan Nabi Besar Muhammad aaw. Di sini, saya ingin bertanya apakah kalian hingga sekarang sudah membaca langsung al-Quran kaum Muslimin?

Apakah kalian sudah mempelajari ajaran Nabi Islam (Muhammad saw), doktrin kemanusiaan dan akhlaknya?

Selain media, apakah hingga sekarang kalian pernah menerima pesan Islam dari sumber lain?

Pernahkah kalian bertanya pada diri sendiri bagaimana dan atas dasar nilai-nilai apa selama berabad-abad Islam sudah mengembangkan peradaban ilmiah dan intelektual terbesar dunia serta membimbing para ilmuwan dan pemikir paling terkemuka?

Saya ingin kalian tidak membiarkan mereka menciptakan jurang emosional antara kalian dan realitas yang ada dengangambaran penghinaan dan ofensif serta menghilangkan kemungkinan penilaian netral kalian. Hari ini, media komunikasi sudah menghapus batas geografis. Karena itu, jangan biarkan mereka mengepung kalian dalam batas-batas palsu dan emosional. Meski tak seorangpun mampu memenuhi kesenjangan yang sudah diciptakan itu sendirian, namun masing-masing dari kalian dapat membangun jembatan pemikiran dan keadilan di atas kesenjangan itu untuk menerangi diri sendiri dan lingkungan di sekitar kalian.  Tantangan yang sudah direncanakan sebelumnya ini antara Islam dan kalian — wahai para pemuda — tidak diharapkan, namun hal ini bisa memicu pertanyaan-pertanyaan baru di benak kalian yang selalu penasaran dan bertanya-tanya.

Upaya menemukan jawaban pertanyaan-pertanyaan ini akan memberi kalian peluang tepat untuk menemukan kebenaran baru. Karena itu, jangan lewatkan kesempatan untuk mendapatkan pemahaman tepat, benar dan objektif tentang Islam. Semoga dengan rasa tanggung jawab terhadap kebenaran, generasi mendatang akan menulis sejarah interaksi antara Islam dan Barat saat ini dengan hati nurani lebih jernih dan kebencian yang minim.

Sayyid Ali Khamenei, 21 Januari 2015.

Selasa, 24 Februari 2015

Che Guevara

     Surat dari Che Guevara, untuk Kawan-kawan Muda Kami percaya bahwa perjuangan revolusioner adalah suatu perjuangan yang sangat panjang, sangat sulit. Sulit, tetapi jelas tidak berarti mustahil, bahwa suatu kemenangan revolusi di suatu negara hanya akan terjadi di negara itu saja. (Che Guevara)

     Kalau aku boleh memilih untuk berjuang, mungkin saat ini aku ingin tinggal bersama kalian. Melewati jalanan yang padat lalu lintas, dengan iring-iringan spanduk yang panjang, kalian ketuk nurani para penguasa. Kaum yang berbaju megah, berkendaraan bagus dan punya mobil mengkilap.  Kalian pertaruhkan segalanya, kesempatan untuk hidup senang, kemapanan pekerjaan, dan sekolah yang kini kian mahal.

    Buang segala teori sosial yang ternyata tak bisa membaca kenyataan. Keluar kalian dari training-training yang pada akhirnya tidakmembuat kita paham dan mau membela orang miskin. Ku pilih tinggal serta berjuang di hutan karena di sana aku kembali mendengar rintih dan suara orang yang hidupnya menderita.

     Andaikan aku masih diberi kesempatan untuk kembali ke negerimu pastilah aku enggan untuk duduk di kursi. Akan aku habiskan waktuku untuk mengelilingi kotamu yang padat dengan orang miskin.Akan ku sapa setiap anak lapar yang menjinjing bekas botol minuman untuk mendapat uang receh.A kan aku datangi para nelayan yang kini lautnya dipenuhi oleh pipa-pipa gas perusahaan asing. Akan ku bantu para buruh bangunan yang menghabiskan waktunya untuk memanggul alat-alat berat. Dan akan ku temani para buruh pabrik yang masih saja diancam oleh PHK. Tentu aku akan mendatangimu anak muda, yang resah dengan kenaikan BBM atau proyek pendidikan yang kian hari kian mahal. Ku rasa aku tidak bisa istirahat jika tinggal di negerimu.

      Kalau aku boleh memilih untuk melawan, mungkin sekarang ini aku akan duduk bersama kalian . Aku akan bilang kalau perjuangan bukan saja melalui tulisan, puisi, buku, apalgi setajuk proposal! Perjuangan butuh keringat, pekikan suara, dan dentuman kata-kata. Kita bukan melawan seekor siput tapi buaya yang akan menerkam jika kita lengah. Hutan rimba mengajariku untuk tidak mudah percaya pada mulut-mulut manis. Hutan rimba mendidikku untuk tidak terlalu yakin dengan janji. Aku sudah hapal mana tabiat srigala dan mana watak kelinci. Kalau kau baca tulisanku, mustinya kau bisa meyakini, kalau kekuasaan hanya bisa bertahan selama kita mematuhinnya. Kekuasaan bisa bertahan selama mereka mampu menebar ketakutan. Dan aku sejak dulu dididik untuk selalu sangsi dan curiga pada penguasa!

      Kalau aku bisa memilih, mungkin sekarang aku ingin berjalan dengan kalian . Menonton orang-orang pandai berdebat di muka televisi atau aktivis yang melacurkan keyakinannya. Ngeri aku menyaksikan orang-orang pandai yang berbohong dengan ilmunya. Sederet angka dibuat untuk membuat orang percaya bahwa si miskin makin hari makin berkurang. Menonton aktivi senior yang kini juga berebut untuk duduk jadi penguasa. Matanya: di dalam kekuasaan tidak ada suara rakyat maka kita mengisinya.

      Aku bilang, itulah para pembual yang yakin jika perubahan bisa muncul karena kita duduk di belakang meja. Demokrasi acapkali berangkat dari dalil yang naif seperti itu. Aku sayangnya tak lagi bisa memilih, untuk berdiri dan berbincang dengan kalian semua. Anak muda, aku telah tuliskan puluhan karya untuk menemanimu. Dibungkus dengan sampul wajahku, yang tampak belia dan mungkin tampan, aku tuangkan pesan kepada kalian.

      Keberanian yang membuat kalian akan tahan dalam situasi apapun! Hutan melatihku untuk percaya kalau kemapanan, kenikmatan badaniah, apalagi kekayaan hanya menjadi racun bagi tubuh kita. Kemapanan membuat otakmu makin lama makin bebal. Kau hanya mampu mengunyah teori untuk disemburkan lagi. Kemapanan membuat hidupmu seperti seekor ular yang hanya mampu berjalan merayap. Kekayaan akan membuat tubuhmu seperti sebatang bangkai. Hutan melatihku untuk menggunakan badanku secara penuh. Kakiku untuk lari kencang bila musuh datang dan tanganku untuk mengayun pukulan jika aku diserang. Anak muda, nyali sama harganya dengan nyawa. Jika itu hilang, niscaya tak ada gunanya kau hidup!

      Keberanian itu seperti sikap keberimanan. Jika kau peroleh keberanian maka kau memiliki harga diri. Sikap bermartabat yang membuatmu tidak mudah untuk dibujuk. Hutan membuatku selalu awas dengan ketenangan, kedamaian, dan cicit suara burung. Hutan melatihku untuk sensitif pada suara apa saja. Jangan mudah kau terpikat oleh kedudukan, pengaruh, dan ketenaran. Kedudukan yang tinggi akan membuatmu seperti manusia yang diatur oleh mesin. Ku tinggalkan jabatan menteri karena hidupku menjadi lebih terbatas dan ruang sosialku dipenuhi oleh manusia budak, yang bergerak kalau disuruh. Apalagi ketenaran hanya akan mendorongmu untuk selalu ingin menyenangkan semua orang, membuat lumpuh energi perlawananmu.

      Ingat, racun segala perubahan ketika dirimu merasa nyaman. Rasa nyaman yang kini ku saksikan di sekelilingmu. Anak-anak muda yang puas menjadi pekerja upahan sambil menyita tanah sesamanya. Ada anak muda yang duduk di parlemen malah minta tambahan gaji! Anak muda yang lain dengan tenaganya menyumbangkan diri untuk menjadi preman bagi kekuasaan bandit. Bahkan pendidikan hukum mereka gunakan untuk membela kaum pengusaha ketimbang orang miskin. Anak-anak muda yang banyak lagak ini memang tidak bisa dibinasakan. Mereka hidup karena ada kemiskinan, keculasan kekuasaan, dan lindungan proyek lembaga donor. Aku enggan untuk berjumpa dengan anak muda yang hanya mengandalkan titel,keperkasaan, dan kelincahan berdebat.  Aku ragu apakah mereka mampu serta sanggup untuk melawan arus. Arus itulah yang kini menenggelamkan nyali kita semua.

      Murah sekali harga seorang aktivis yang dulu lantang melawan, tapi kini duduk empuk jadi penguasa. Murah sekali harga idealisme seorang ilmuwan yang mau menyajikan data bohong tentang kemiskinan. Murah sekali harga seorang penyair yang mau rame-rame mendukung pencabutan subsidi.

      Aku gusar memandang negerimu, yang tidak lagi punya ksatria pemberani. Seorang kstaria yang mau hidup dalam kesunyian dan dengan gagah meneriakkan perlawanan.

      Tulisan adalah senjata sekaligus bujukan yang bisa menghanyutkan kesadaran perlawanan. Kau harus berani mempertahankan nyalimu untuk selalu bertanya pada kemapanan, kelaziman, dan segala bentuk pidato yang disuarakan oleh para penguasa. Yang kau hadapi sekarang ini adalah sistem yang kuncinya tidak terletak pada satu orang. Kau berhadapan dengan dunia pendidikan yang menghasilkan ilmu tentang bagaimana jadi budak yang baik. Kau kini bergulat dengan teman-temanmu sendiri yang bosan hidup berjuang tanpa uang. Kau sebal dengan parlemen yang dulu ikut kau pilih, tetapi kini tambah membuat kebijakan yang menyudutkan rakyat. Kau perlahan-lahan jadi orang yang hanya mampu melampiaskan kemarahan tanpa mampu untuk merubah. Kau kemudian percaya kalau pemecahannya adalah melalui mekanisme, partisipasi, dan dukungan logisistik yang mencukupi. Kau diam-diam tak lagi percaya dengan revolusi.

      Kau yakin perubahan bisa berjalan kalau dijalankan dengan berangsur-angsur dan membuat jaringan. Gerakanmu lama-lama mirip dengan bisnis MLM.

      Saudaraku yang baik! Hukum perubahan sosial sejak dulu tidak berubah. Kau perlu dedikasikan hidupmu untuk kata yang hingga kini seperti mantera: lawan! Lawanlah dirimu sendiri yang mudah sekali percaya pada teori perubahan sosial yang hanya cocok untuk didiskusikan ketimbang dikerjakan.Lawanlah pikiranmu yang kini disibukkan oleh riset dan penelitian yang sepele. Kemiskinan tak usah lagi dicari penyebabnya tapi cari sistem apa yang harus bertanggungjawab. Ajak pikiranmu untuk membaca kembali apa yang dulu ku kerjakan dan apa yang sekarang dikerjakan oleh gerakan sosial di berbagai belahan dunia. Gabungkan dirimu bukan dengan LSM, tapi bersama-sama orang miskin untuk bekerja membuat sistem produksi.

      Tak ada yang bermartabat dari seorang anak muda, kecuali dua hal: bekerja untuk melawan penindasan dan melatih dirinya untuk selalu melawan kemapanan.

"Che Guevara" oleh AH Ali Reza

Sabtu, 21 Februari 2015

Pemuda Radikal itu ternyata Bung Karno?!

Pada tahun 1917, sebuah Klub Diskusi (Studieclub) di HBS Surabaya menggelar diskusi. Di saat diskusi sedang berlangsung, seorang pemuda berusia 16 tahun meminta kesempatan untuk berbicara. Moderator membolehkan. Si pemuda tadi, dengan emosi yang menggelora, langsung melompat ke atas meja. Lalu, ia memulai orasi politiknya dengan menggunakan bahasa bumiputera. Moderator langsung menegur, “sudah menjadi aturan di Klub ini untuk berbicara bahasa Belanda yang baik.” Pemuda itu membantah. “Saya tidak setuju,” katanya. Dia pun membeberkan alasannya: “Tanah kebanggan kita ini dulu bernama Nusantara, yang berarti ribuan pulau. Banyak pulau-pulau ini lebih besar dari negeri Belanda. Jumlah penduduk negeri Belanda hanya segelintir dibandingkan dengan penduduk kita. Bahasa Belanda hanya dipergunakan oleh 6 juta orang….mereka tinggal ribuan kilometer dari sini, mengapa kita harus berbicara bahasa Belanda?” Diskusi menjadi buyar. Pemuda tadi ngotot menganjurkan agar Klub Diskusi menggunakan bahasa Melayu, bahasa negerinya, bukan bahasa Belanda. “Marilah kita bersatu mengembangkan bahasa Melayu. Kemudian baru menguasai bahasa asing,” tuturnya. Tingkah laku pemuda itu, juga sikapnya yang ngotot menggunakan bahasa Melayu, segera menjadi pusat perhatian. Direktur HBS Surabaya, Tuan Bot, segera menudingnya sebagai “pencari masalah”. Dan, pemuda itu bernama Soekarno. Itulah debut politik pertama Soekarno. Kendati demikian, ia sudah lama mengunyah banyak pemikiran politik. Saat itu, sebagai pelajar HBS di Surabaya, Soekarno indekos di rumah HOS Tjokroaminoto, tokoh terkemuka dari pergerakan “Sarekat Islam”. Rumah HOS Tjokroaminoto sering menjadi tempat konsolidasi kaum pergerakan. Tokoh-tokoh pergerakan, seperti Sneevliet (tokoh komunis), Semaun, Musso, dan Alimin, sering bertandang ke sana. Soekarno menyebut rumah HOS Tjokroaminoto sebagai “dapurnya api nasionalisme”. Selain itu, di waktu senggangnya, Soekarno rajin mengunjungi perpustakaan milik perkumpulan Theosofi. Di sanalah ia mengakrabi bacaan-bacaan mengenai tokoh besar dunia, seperti Thomas Jefferson, Abraham Lincoln, Mazzini, Cavour, Garibaldi, Otto Bauer, Marx, Friedrich Engles, Lenin, Rousseu, Jean Jaures, dan lain-lain. Persinggungan Soekarno dengan HOS Tjokroaminoto membuatnya dekat dengan tokoh-tokoh Sarekat Islam (SI). Pada tahun 1921, Soekarno sudah menulis di koran SI: Oetoesan Hindia . Di setiap artikelnya Soekarno menggunakan nama samaran: Bima. Di koran itu Soekarno menulis sekitar 500 artikel dan komentar. Tri Koro Darmo/Jong Java Pada tahun 1915, puluhan pelajar STOVIA mendirikan organisasi kepemudaan bernama Tri Koro Darmo (Tiga Tujuan Mulia). Tiga tujuan mulia itu adalah: pertama, mengadakan hubungan antara pelajar pribumi yang belajar di sekolah-sekolah tinggi dan menengah, juga di kursus-kursus pendidikan lanjut dan Vak; kedua, membangkitkan dan meningkatkan minat terhadap kesenian dan bahasa nasional; dan ketiga, memajukan pengetahuan umum para anggota. (Hans Van Miert, 2003). Kendati organisasi pemuda ini didirikan oleh kaum terdidik, yang sudah mendapat asupan pemikiran barat di sekolahnya, tetapi sangat berorientasi nasionalisme-etnik. Cita-citanya adalah membangkitkan nasionalisme Jawa di bumi Jawa. Sudah begitu, sebagian besar anggotanya adalah anak-anak priayi, yang sangat taat dan hormat kepada majikannya: Belanda. Dan, sebagai konsekuensinya, organisasi ini sangat menjaga jarak dengan gerakan politik. Pada tahun 1918, Tri Koro Darmo berganti nama menjadi Jong Java. Tetapi pergantian nama tidak mengubah orientasi dan cara kerja organisasi ini secara mendasar. Organisasi ini tetap menitik-beratkan pekerjaannya di bidang seni dan kebudayaan Jawa, dan sengaja menghindar dari soal-soal politik. Namun, bukan berarti tidak ada upaya menyeret organisasi ini menjadi politis. Pada kongres ke-II Jong Java di Jogjakarta, 1-2 Juni 1919, dua tokoh komunis, yakni Darsono dan Semaun, sengaja datang ke kongres untuk mengagitasi para ‘cendekia muda’ ini agar memihak perjuangan kaum proletar. Namun, seolah-olah seruan Darsono-Semaun itu membentur batu karang. Namun demikian, tetap saja ada segelintir anggota Jong Java yang tertarik dengan politik. Karenanya, untuk menyogok mereka, Kongres membolehkan anggota Jong Java bergelut dengan politik “teoritis”, yakni politik sebagai objek studi, tetapi bukan politik sebagai sebuah gerakan yang melibatkan massa. Dua Faksi Di Tubuh Jong Java Surabaya Di Surabaya, pada tahun yang sama, para pelajar MULO, HBS dan NIAS juga mendirikan Tri Koro Darmo cabang Surabaya. Soekarno, yang saat itu menjadi pelajar HBS, segera bergabung dengan Tri Koro Darmo cabang Surabaya. Yang menarik, seperti dicatat Hans Van Miert dalam bukunya “Dengan Semangat Berkobar: Nasionalisme dan Gerakan Pemuda di Indonesia, 1919-1930, Jong Java cabang Surabaya terbelah dalam dua kubu (faksi), yakni ‘Kaum Merah’ dan ‘Kaum Halus’. Kubu Merah berwatak progressif, anti-elitisme, dan anti-kolonial. Sementara kubu Halus berwatak konservatif, sangat feodal, dan sangat patuh dan taat kepada penguasa kolonial. Soekarno berada di dalam kubu “Kaum Merah”. Pada beberapa kegiatan Jong Java Surabaya, Soekarno sering bersebrangan dengan golongan konservatif. Termasuk dengan ketua Jong Java Surabaya, Soegito. Misalnya, pada 6 Februari 1921, di hadapan 200 orang, Soekarno berhadap-hadapan dengan Soegito. Soekarno menolak berbicara dengan bahasa Belanda. Sebaliknya, Soegito menolak Soekarno berbicara jika tak menggunakan bahasa Belanda. Di Jong Java cabang Surabaya, Soekarno menjadi pengusung gerakan Djawa-Dipa, yang mempromosikan egalitarianisme dalam masyarakat Jawa. Misalnya, dalam aspek bahasa, gerakan ini berkeinginan menghapus tingkatan-tingkatan dalam bahasa Jawa. Soekarno sendiri memakai bahasa Djawa Ngoko (rendahan). Gerakan ini juga ingin membuang sistem gelar kebangsawanan yang rumit dan hirarkis dengan panggilan sederhanan dan egaliter: sapaan “Wiro” untuk laki-laki dan “Woro” untuk perempuan yang sudah menikah. Sedangkan yang belum menikah dipanggil “Roro”. Di Kongres ke-V Jong Java di Bandung, Jawa Barat, tahun 1921, terjadi pertempuran antara kaum merah dan kaum halus. Kaum merah berasal dari dua cabang, yakni Surabaya dan Semarang. Dua kota itu memang sangat dipengaruhi oleh gerakan kiri, khususnya PKI. Soekarno tampil sebagai jubir kaum merah di Kongres itu. Dengan mengutip semboyan Revolusi Perancis: Kemerdekaan, Persamaan, dan Persaudaraan, Soekarno melancarkan argumentasinya tentang perlunya penggunaan bahasa Djawa Dipa. Sayang, usul Soekarno ditolak mentah-mentah dari perwakilan daerah lain. Tak hanya itu, di forum itu Soekarno juga menolak ide federasi. Baginya, menyelesaikan persoalan rakyat jauh lebih penting ketimbang pembentukan Federasi. “Para intelektual harus memperhatikan nasib rakyat dan melawan kapitalisme terkutuk,” kata Soekarno. Soekarno menganjurkan agar ‘kaum inteligensia muda’ membangun organisasi perjuangan politik massal, yang berhubungan dan membela nasib rakyat. Sayang, usul Soekarno kurang disambut. Bahkan pers-pers putih, yang pro penguasa kolonial, mencemooh pendapat Soekarno. Semaun, tokoh PKI, yang hadir di forum itu sebagai wartawan, mengecam sikap pers putih yang berdiri memberikan tepuk tangan terhadap pidato yang menolak usulan Soekarno. Soekarno juga punya usulan progressif terkait keanggotaan Jong Java. Untuk diketahui, Jong Java adalah perkumpulan ekslusif, yang hanya terdiri dari para pelajar dan harus pandai berbahasa Belanda. Saat itu Soekarno mengusulkan agar semua pemuda, termasuk yang bukan pelajar, berhak menjadi anggota Jong Java. Sayang, ide Soekarno itu ditolak oleh Ketua Jong Java Surabaya dan pelajar-pelajar NIAS (sekolah pendidikan Dokter Pribumi di Surabaya). Untuk diketahui, selain aktif di Jong Java cabang Surabaya, Soekarno juga sering menemani Tjokroaminoto dalam pertemuan-pertemuan atau rapat akbar Sarekat Islam. Ia sering memperhatikan gaya pidato guru politiknya itu. Hingga pada suatu hari, Tjokroaminoto berhalangan untuk menjadi pembicara di sebuah Rapat Akbar. Akhirnya, Soekarno yang menggantikan. Sekalipun hanya pertemuan kecil, Soekarno memanfaatkannya untuk belajar orasi. Berbeda dengan gaya pidato yang Tjokro yang datar, Soekarno justru memilih menaik-turunkan suaranya. Ia juga lebih menekankan kepada gaya bercerita, yang memungkinkan massa mudah memahami maksudnya. Sejak itu Soekarno mulai dikenal sebagai ahli pidato. Dia juga makin dikenal sebagai tokoh politik. Lantaran itu, jabatan Sekretaris Jong Java Cabang Surabaya, dan kemudian Ketua Jong Java Surabaya, diserahkan kepadanya. Faktor Yang Meradikalkan Soekarno Saya kira, faktor yang membuat Soekarno muda menjadi radikal bukanlah seperti yang ditonjolkan oleh Film Soekarno karya Hanung Bramantyo: Soekarno kecewa karena gagal meminang kekasih Belandanya, Mien Hessels. Tetapi ada faktor ekonomi-politik yang menyeret Soekarno menjadi radikal. Pertama, Soekarno berasal dari keluarga priayi rendahan. Ayahnya hanya seorang guru biasa. Soekarno sering menyamakan kehidupan masa kecilnya dengan David Copperfield–karakter dalam novel Charles Dickens, yang sejak kecil akrab dengan kehidupan yang melarat. Soekarno kecil tinggal di Mojokerto, Jawa Timur, dengan kehidupan yang pas-pasan. Ia tumbuh dan bergaul dengan rakyat jelata. Hal inilah yang membuat Soekarno, di sepanjang hayatnya, lebih dekat secara emosional dengan rakyat jelata. Kedua , Soekarno sebagai anak dari bangsa jajahan sering mendapat perlakuan diskriminatif–seperti juga dialami Gandhi ketika tinggal di Afrika Selatan. Berkali-kali Soekarno mendapatkan makian “inlander”, “anak kulit coklat yang goblok”, “bumiputera”, dan lain-lain. Soekarno sering berkelahi dengan anak-anak Belanda karena merasa direndahkan dan dipermalukan. Ketiga, Soekarno sangat dipengaruhi oleh ide-ide radikal yang berkembang pesat saat itu, terutama nasionalisme radikal, demokrasi, dan marxisme. Melalui ide-ide dan berbagai pemikiran yang diserapnya, Soekarno mendefenisikan keadaan, mempelajari akar ketertindasan bangsanya, dan bagaimana mengubah keadaan.

Timur Subangun, anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD)

Jumat, 20 Februari 2015

Revolusi ala Bung Karno

     'Politik adalah seni kemungkinan’. Itulah kata ahli politik Prusia-Jerman, Otto von Bismarck (1815-1898), yang banyak menjadi rujukan banyak aktor politik di Indonesia.

     Mantan Presiden SBY pernah mengutip kata-kata Von Bismarck itu. Dalam politik, kata SBY, segala kemungkinan bisa terjadi. Hal yang kita anggap tidak mungkin terjadi bisa saja terjadi. Kemungkinan itu selalu ada. Karena itu, seperti dikatakan Von Bismarck, politik adalah seni menggunakan kemungkinan-kemungkinan.

         Tetapi cara pandang di atas bermasalah. Politik diandaikan berada di tapal batas yang sangat tipis antara kepastian dan ketidakpastian. Alhasil, kita hanya penunggu peluang. Selain itu, kita terkondisikan untuk pasrah terhadap keadaan; dipaksa menerima realpolitik. Dan, ketika anda pasrah terhadap realpolitik, maka orang bisa terjebak pada pembelaan terhadap keadaan ‘status-quo’. Sebab, membatasi diri pada realpolitik berarti memilih berbuat tidak melakukan apa-apa terhadap keadaan, khususnya terhadap imbangan kekuatan yang ada. Artinya, anda menerima dominasi dan hegemoni klas berkuasa. Soekarno tidak setuju dengan defenisi itu. Di tahun 1961, Soekarno pernah mengeluarkan defenisi berbeda. Bagi Soekarno, politik adalah ‘seni memungkinkan apa yang tidak mungkin di masa lampau’. Jadi, bagi Soekarno, politik adalah seni membuat ‘yang tidak mungkin’ menjadi ‘mungkin’.

     Defenisi politik ala Soekarno ini sangat revolusioner. Pertama, berbeda dengan ‘politik sebagai seni kemungkinan’ yang menganggap politik susah diprediksi, politik ala Soekarno justru berupaya memberi kepastian melalui intervensi aktif untuk mengubah keadaan. Kedua, kalau ‘politik sebagai seni kemungkinan’ membuat orang hanya sebagai penunggu peluang, maka politik ala Soekarno justru mendorong aktor politik untuk aktif menciptakan peluang. Ketiga, kalau ‘politik sebagai seni kemungkinan’ membuat orang pasrah terhadap realpolitik , maka politik ala Soekarno berupaya menciptakan jalan atau syarat-syarat untuk terjadinya perubahan keadaan. Bukan berarti politik revolusioner ala Soekarno itu tidak memijak realitas. Sebaliknya, politik ala Soekarno ini mengakui realitas sosial, ekonom dan politik yang ada. Hanya saja, bagi Soekarno, kaum revolusioner tidak bole berpangku tangan, sembari menunggu peluang datang, tetapi harus aktif mengubah imbangan kekuatan yang ada agar terbuka peluang untuk mengubah keadaan.

     Dalam konteks itu, Soekarno kemudian memperkenalkan konsep ‘machtsvorming’, yakni seni membangun kekuatan sosial untuk melancarkan tekanan/paksaan terhadap musuh atau kaum penindas. Menurut Soekarno, sebelum menjalankan machtsvorming ini, perlu didefenisikan dulu siapa kawan dan lawan; atau dalam bahasa Soekarno, penciptaan garis pemisah yang tegas antara kaum sana dan kaum sini. Setelah defenisi kawan dan musuh sudah jelas, maka kita bicara soal ‘imbangan kekuatan’ antara kita dan musuh. Dalam konteks ini, kita dan musuh berada dalam posisi diametral: berhadap-hadapan. Artinya, jika kekuatan musuh menguat, berarti kita melemah. Sebaliknya, jika kita menguat, maka kekuatan musuh tergerogoti.

     Pertanyaanya kemudian, bagaimana proses pembangunan kekuatan atau machtsvorming ini dijalankan? Di sini, merujuk pada Soekarno, kaum revolusioner diharuskan: pertama, memanfaatkan setiap ruang atau keadaan yang ada untuk membangun pergerakan; dan kedua, menciptakan ruang atau panggung politik untuk membangun pergerakan rakyat.

     Untuk kategori yang pertama, Soekarno menganjurkan kaum revolusioner untuk terlibat dan memimpin perjuangan rakyat sehari-hari, seperti perjuangan untuk upah, penurunan pajak, penghapusan kerja rodi, dan lain-lain. Selain itu, kaum revolusioner juga bisa mengintervensi momentum-momentum politik, seperti pemilihan dan lain-lain. Output dari intervensi ini adalah pembangunan organisasi rakyat, seperti serikat buruh dan organisasi kaum marhaen. Untuk kategori yang kedua, Soekarno mendorong kaum revolusioner menciptakan panggung politik sendiri, seperti Rapat Akbar (vergadering), kursus politik, dan pertemuan-pertemuan massa lainnya, yang memungkinkan kaum pergerakan melancarkan agitasi dan propaganda kepada massa luas. Soekarno juga menganjurkan kaum revolusioner melakukan propaganda seluas-luasnya melalui famplet, majalah, koran, risalah-risalah (buku-buku), dan lain-lain.

      Seorang revolusioner, di mata Soekarno, tidak boleh berpangku tangan melihat keadaan yang tidak menguntungkan, tetapi harus bergerak aktif untuk mengubahnya agar menguntungkan. Tentunya melalui penciptaan panggung-panggung politik untuk meluaskan agitasi dan propaganda kepada massa luas.

     Soekarno mencontohkan hal itu saat menjalani pembuangan di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Waktu itu pihak kolonialis berkeyakinan, kalau Soekarno dibuang ke Pulau Ende, sebuah tempat yang terisolir dan jauh dari hiruk-pikuk politik, maka pergerakan politik Soekarno akan berhenti. Maklum, Ende yang saat itu berpenduduk tidak lebih dari 5000-an jiwa, dengan sebagian besar penduduknya buta-huruf dan belum mengerti bahasa melayu/Indonesia, dengan akses informasi, buku-buku, dan surat-menyurat yang terbatas, memang sulit untuk menjadi lahan basah bagi tumbuhnya pergerakan nasional.

     Tetapi, rupanya, Soekarno tidak patah arang. Sebagai seorang manusia politik, ia mulai menciptakan panggung. Panggung pertamanya yang dibuatnya adalah pengajian rutin di rumahnya. Dengan begitu, penduduk sekitar bisa berkumpul di rumahnya. Tak hanya itu, cara ini efektif untuk mendekatkan Soekarno dengan massa luas. Setelah itu, Soekarno mulai mendekati para pastor SVD di Ende, yakni P. Johanes Bouma (Regional atau pemimpin SVD Region Sunda Kecil) dan P. Gerardus Huijtink (Pastor Paroki Ende). Di sinilah Soekarno mulai mengakses bacaan dan sekaligus informasi. Kemudian, Soekarno membentuk kelompok Sandiwara bernama “Kelimoetoe Toneel Club”. Jumlah anggotanya 47 orang. Melalui kelompok sandiwara ini, Soekarno menyelipkan agitasi-propaganda berbau anti-kolonial melalui naskah dan lakon yang dimainkan. Tak hanya itu, pementasan sandiwara ini bisa menjadi ala bagi Soekarno untuk mengorganisir massa.

     Itulah politik revolusioner ala Soekarno. Kendati ‘benih revolusioner’ itu jatuh di tanah yang tandus, ia sanggup tumbuh dan berkembang. Ia tidak pasrah terhadap keadaan sembari mengutuki kegelapan. Tetapi, ia berusah mencari atau menciptakan cahaya–sekecil apapun cahaya itu. Kusno, anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD)

Selasa, 17 Februari 2015

Warisi Apinya Bukan Abunya!!

Beberapa saat sebelum Megawati Soekarnoputri memberi mandat kepada Joko Widodo (Jokowi) untuk menjadi Calon Presiden dari PDI Perjuangan, Ia sempat mengajak Jokowi menziarahi makam Bung Karno di Blitar, Jawa Timur. Sekarang, menjelang keputusan PDIP menunjuk Calon Wapres pendamping Jokowi, Megawati kembali berencana bersiarah ke makam Bung Karno. Memang, ketika menjelang mengambi keputusan penting, Megawati kerap nyekar di makam Bung Karno.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan ziarah sebagai ‘ kunjungan ke tempat yang dianggap keramat atau mulia, seperti kuburan. Biasanya, mereka yang melakukan ziarah ke makam tokoh besar berharap mendapat ‘petunjuk’. Tak hanya Megawati, masyarakat umum pun banyak yang menziarahi makam Soekarno. Diantara mereka banyak yang merupakan pengagum figur Soekarno. Sebagian lagi mencari ‘petunjuk’ dari kuburan Soekarno yang dianggap keramat. Akhir-akhir ini, terutama sejak runtuhnya Orde Baru, figur Soekarno kembali mencuat. Banyak orang yang merindukan dan mengaguminya. Tidak sedikit pula yang memujanya. Dalam kampanye pemilu, foto Soekarno kadang iku ‘nimbrung’ di baliho Caleg. Ada juga partai yang sengaja mengarak fotonya dalam kampanye. Tak hanya itu, tokoh-tokoh politik yang krisis identitas terkadang mencaplok gaya Soekarno, entah gaya pidatonya, cara berpakaiannya, dan lain-lain. Bahkan, seorang capres yang gandrung dengan dogma neoliberal, yang baru-baru ini menyerahkan leher bangsa ini ke KTM-WTO di Bali, juga mengaku kemana-mana bahwa dirinya belajar dari Soekarno.

Itulah yang terjadi: Soekarno dipuja-puji setinggi langit, patungnya berdiri di sejumlah tempat, makamnya tidak pernah sepi pengunjung, dan lain sebagainya. Sementara ajaran Soekarno, terutama marhaenisme, sosio-nasionalisme, dan sosio-demokrasi, nyaris tidak tersentuh dan dielaborasi sesuai semangat zaman.

Lenin pernah memperingatkan bahaya ketika tokoh revolusioner, yang sudah meninggal dunia, dipuja-puji berlebihan dan dibangunkan patung-patung suci. Biasanya, kata Lenin, ketika tokoh revolusioner masih hidup, ia dikejar-kejar dan ajarannya diharamkan. Namun, begitu meninggal dunia, maka klas penindas akan mengubah mereka menjadi patung-patun suci yang tidak membahayakan. “..menyatakan mereka sebagai orang-orang suci, memberikan keharuman tertentu kepada nama-nama mereka untuk jadi penghibur bagi kelas-kelas tertindas dan untuk menipu mereka, bersamaan dengan itu mengebiri esensi ajaran revolusioner, menumpulkan ujung revolusionernya yang tajam, dan memvulgarkannya,” tulis Lenin di risalah terkenalnya, Negara dan Revolusi , tahun 1917.

Soekarno juga mengalami hal tersebut. Ketika masih hidup, para penjilat yang pura-pura mendukungnya, yakni militer dan sipil anti-komunis, memaksa Soekarno menerima gelar Presiden Seumur Hidup . Akibatnya, hingga sekarang, gelar paksaan itu menjadi dalih bagi orang untuk mengaitkan Soekarno dengan otoritarianisme. Juga gelar-gelar yang lain, seperti Paduka Yang Mulia , Pemimpin Besar Revolusi, dan lain sebagainya.

Di masa Orde Baru, Soekarno dan ajarannya ditindas. Pada tahun 1966, MPRS yang dikomandoi oleh AH Nasution mengeluarkan Ketetapan (TAP), yakni Tap Nomor XXXIII/MPRS/1966 tentang Pencabutan Kekuasaan Soekarno dan Tap MPR XXVI/ MPRS/1966 tentang Pembentukan Panitia Peneliti Ajaran-ajaran Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno. Kedua TAP MPRS itu sangat melecehkan Soekarno dan ajaran-ajarannya.

Tak hanya itu, melalui TAP MPRS nomor XXV tahun 1996, marxisme resmi dilarang. Padahal, marxisme punya kontribusi besar dalam memperkaya pemikiran politik progressif para pejuang kemerdekaan Indonesia, termasuk Soekarno. Marxisme berjasa besar dalam membentuk nasionalisme Indonesia yang kiri, yang punya komitmen besar terhadap kesetaraan dan keadilan sosial, sembari memagarinya dari bahaya chauvinisme dan fasisme.

Soekarno sendiri menganggap marxisme sebagai senjata analisa paling tajam untuk membedah keadaan ekonomi, sosial dan budaya sekaligus sebagai teori panduan untuk melancarkan aksi. Di kongres Partindo di Jakarta, 26 Desember 1961, Soekarno menegaskan bahwa marhaenisme adalah marxisme yang diselenggarakan, dicocokkan, dilaksanakan di Indonesia. Artinya, dengan pelarangan marxisme, ajaran marhaenisme pun kehilangan pijakan berpikirnya.

Sayang, ketika Megawati Soekarnoputri menjadi Presiden dari tahun 2001 hingga 2004, semua TAP MPRS yang melecehkan Soekarno dan ajarannya itu tidak dicabut. PDI Perjuangan, partai yang selalu mengklaim sebagai pewaris ideologi Soekarno, juga sangat lunak ketika memperjuangkan penghapusan semua TAP MPRS tersebut. Inilah masalahnya: sosok Soekarno diagung-agungkan, fotonya dipajang dan diarak di setiap pemilu, gaya pidatonya ditiru banyak elit politik, kata-katanya dikutip dimana-mana, tetapi pemikiran dan ajarannya diabaikan. TAP MPRS yang membelenggu ajaran Soekarno tidak pernah dicabut secara resmi.

Saya kira, yang penting dari historiografi seorang revolusioner bukan hanya soal perjalanan hidupnya, tetapi yang lebih penting adalah menyelidiki apa yang diwariskannya. Dengan begitu, kita sebagai “pelanjut angkatan” bisa memetik pelajaran darinya dan melanjutkan cita-citanya. Atau, seperti yang sering dikatakan Soekarno sendiri: “ambil apinya, bukan abunya.” Bagi saya, ada dua hal penting dari warisan Soekarno dan relevan untuk sekarang ini: pemikiran/ajaran dan proyek cita-cita politiknya. Dan saya kira, yang paling ditakuti oleh musuh Soekarno sepanjang sejarah, yakni kolonialisme, imperialisme, dan kapitalisme, adalah dua hal tersebut: pemikiran dan proyek politiknya. Tak bisa disangkal, pemikiran Soekarno berkontribusi besar dalam penyadaran dan mobilisasi kelas popular di Indonesia dalam kerangka melawan kolonialisme, imperialisme, dan kapitalisme. Hal ini tidak lepas dari kemampuan Soekarno memperkenalkan pemikiran-pemikirannya, baik melalui bacaan maupun pidato, dengan bahasa sangat sederhana dan gampang dicerna oleh rakyat jelata. Tak bisa disangkal, dari sekian banyak pemimpin revolusioner di Indonesia, Soekarno-lah yang memiliki pengikut terbanyak.

Ajaran Soekarno adalah marhaenisme, yakni sebuah azas politik yang menghendaki sebuah susunan masyarakat tanpa imperialisme dan kapitalisme. Namun, dalam kerangka mewujudkan cita-cita itu, marhaenisme berpijak pada dua pemikiran Soekarno juga, yakni sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi. Sayang, inti-inti ajaran Soekarno ini jarang dielaborasi hingga sekarang, bahkan oleh partai dan gerakan politik yang ‘mendaku’ sebagai pewaris ajaran Soekarno.

Soekarno sendiri mengatakan, untuk memahami marhaenisme dengan tepat dan benar, ada dua hal mendasar yang mesti dikuasai terlebih dahulu: pertama , pengetahuan yang mendalam mengenai situasi dan kondisi Indonesia; dan kedua , pengetahuan yang mendalam mengenai marxisme. Tanpa menguasai dual tersebut, kata Soekarno, seseorang tidak akan memahami marhaenisme. Pertanyaannya kemudian, bagaimana orang belajar marhaenisme ketika marxisme masih menjadi barang terlarang di Indonesia?

Soekarno, yang meninggal 43 tahun yang lalu, juga mewariskan cita-cita besar bagi bangsa Indonesia, yakni proyek sosialisme Indonesia, yakni sebuah masyarakat yang di dalamnya tidak ada lagi kapitalisme dan l’exploitation de l’homme par I’homme (penghisapan manusia atas manusia). Soekarno juga mewariskan cita- cita besar untuk seluruh umat manusia di dunia, yakni tatanan dunia baru tanpa tanpa ‘ exploitation de l‘homme par l‘homme ’ dan ‘ exploitation de nation par nation’ . Sayang, karena interupsi oleh kudeta Soeharto yang disokong oleh kaum imperialis di pertengahan 1960-an, cita-cita itu tidak kesampaian. Justru, karena itu, tugas para “Soekarnois” sekarang adalah melanjutkan proyek cita-cita Soekarno itu. Namun, untuk melanjutkan cita-cita itu, kita harus terbuka untuk mendiskusikan apa yang sudah dibangun oleh Soekarno dan yang belum, apa yang melenceng dan apa yang sudah tepat, apa yang perlu dikoreksi dan apa yang harus diperkuat. Saya kira, pendiskusian terbuka soal ini justru akan menjadikan proyek politik Soekarno menjadi hidup dan sesuai dengan konteks zaman.

Indonesia dan Tradisi Jahiliyyah Part.2 (Kotak-Kotak)

        Bhinneka Tunggal Ika. Sebuah kata yang menjadi semboyan utama dari Negeri Kesatuan yang kita cintai ini. Dimana kita bersatu diatas sekian banyak perbedaan yang meliputi tanah, perairan, bahasa, budaya, adat istiadat, dll. Ibarat warna mungkin Negara ini adalah Pelangi yang berwarna – warni. Banyak Manfaat yang kita dapat akibat Persatuan yang terjadi di Nusantara. Salah satunya adalah memerdekakan Tanah Air dari Penjajah – penjajah di masa lampau. Juga kita mengenal Peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi Pilar Utama Persatuan dan Kesatuan Rakyat Indonesia di masa PraKemerdekaan.
        Jelas kita semua mengetahui betapa Persatuan dan Kesatuan amat berarti bagi Negeri dan Bangsa ini. Sumpah Pemuda adalah bukti otentik bahwa tanggal 28Oktober 1928 bangsa Indonesia dilahirkan. Oleh karena itu sudah seharusnya segenap rakyat Indonesia memperingati momentum 28 Oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia. Proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudian mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia asli, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945.
        Menarik tajuk diatas yang berbunyi “Kotak – Kotak”  artikel ini kembali menyajikan perbandingan dan analogi antara Beberapa Kejadian dalam Sejarah dan menyajikannya menjadi sebuah Permasalahan yang harus segera di sikapi dengan baik dan cermat. Judulnya pun masih sama seperti Pembahasan saya sebelumnya, yang mengusung Budaya Indonesia masa kini dengan tradisi Jahiliyah masa lampau yang berasal dari Tanah Arab. Sebelumnya saya sampaikan maaf jika dari artikel saya ini yg menyinggung Kebudayaan Lama Orang Arab dimasa Jahiliyah ataupun gaya Radikal beberapa Ormas yang ada di Indonesia. Saya hanya bermaksud mengenang Persatuan Bangsa ini dan berharap menemukkan kembali serat – serat Nasionalisme yang mulai kendur di antara Rakyat Indonesia.
        Mari kita cermati Latar Belakang terbentuknya Sumpah Pemuda pada 1928 silam. Sumpah Pemuda lahir dari hasil perkembangan Organisasi Budi Utomo yang melahirkan beberapa Organisasi Kepemudaan, seperti Tri Koro Darmo (Jong Java),  Jong Sumatranen Bond,  Jong Minahasa,  Jong Betawi, dan lain - lain.  Organisasi - organisasi itulah yang menjadi cikal bakal lahirnya Sumpah Pemuda. Untuk mewujudkan persatuan organisasi - organisasi tersebut, mereka kemudian melakukan pertemuan dalam rangka mencapai kata mufakat. Pada 15 November 1925, mereka mengadakan kongres pemuda untukmembentuk panitia pelaksanaan kesepakatan bersama. Kemudian, pada 30 April1926, organisasi - organisasi itu berkumpul dan membentuk rapat besar yang dikenal sebagai Kongres Pemuda I.


       Dua tahun setelah itu, pada 26 - 28 Oktober 1929, organisasi - organisasi pemuda, mahasiswa, dan partai politik, berkumpul kembali dalam Kongres Pemuda II, dengan agenda utama mempersatukan dan mengobarkan semangat perjuangan dalam diri masing - masing peserta. Pada hari ketiga kongres itulah Sumpah Pemuda dideklarasikan. Rumusan Sumpah Pemuda ditulis oleh Muhammad Yamin pada sebuah kertas, ketika Mr. Sunario sebagai utusan kepanduan tengah berpidato pada sesi terakhir kongres.Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo, dan kemudian dijelaskan panjanglebar oleh Muhammad Yamin. Pada hari itu, secara resmi Muhammad Yamin mengusulkan agar bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan Indonesia, dan di hari itu pula untuk pertama kalinya W.R. Supratman memperdengarkan lagu “Indonesia Raya” melalui gesekan biola yang diiringi alunan piano Dolly, putri Haji Agus Salim.
       Indahnya Indonesiaku, dengan Keberagaman Suku dan Budayanya bersatu padu menjadi Satu. Fakta yang saya ketahui mengenai Budaya Jahiliyah adalah, terbaginya Bangsa Arab menjadi banyak Kaum. Pastilah di dalam sebuah perpecahan ada permasalahan atau konflik yang menjadi pemicu perpecahan tersebut. Akankah Indonesia yang memiliki banyak suku ini akan berpecah kembali dan kehilangan Persatuannya selama ini? Realitanya sudah banyak konflik antar suku yang beberapa kali terjadi di Indonesia. Mulai yang di picu dari sengketa tanah, area kekuasaan,dsb.
       Beberapa media lokal baik media visual atau tertulis menggambarkan perpecahan – perpecahan yang kini terjadi. Bukan hanya mengenai suku dan Budaya, melainkan menjalar kearah Pemahaman dan sudut Pandat juga kearah Agama dan Keyakinan. Di bagian Kebudayaan semisal di Ibu Kota DKI Jakarta, ada FBR dan FORKABI yang terpecah. Di Maluku ada RMS, ada GAM di aceh dan ada OPM di Papua, dan lain sebagainya meliputi seluruh daerah Kepulauan NKRI. Di bagian Keagamaan di dalam Islam ada Nahdatul Ulama, Muhammadiyyah, Salafi, Ahlussunnah wal Jama’ah, Syiah, dll. Juga di dalam Agama Nasrani, ada Protestan, Khatolik, dsb. Belum lagi beberapa perselisihan dan konflik di antara satu Kelompok Masyarakat dengan Kelompok lain. Ironis….. Saya salah seorang Pemuda yang Seringkali kontradiksi dan kritis dalam menyikapi aksi – aksi yang terjadi pada beberapa Organisasi Masyarakat, terutama yang mengusung nama Budaya dan Keagamaan.
       Beruntungnya Tradisi Jahiliyyah pada zaman dahulu di Arab mengalami Perubahan dan Penghapusan dengan Datangnya Risalah Kenabian dari Rasullullah Muhammad. Sawa, yang membawa Perdamaian, Persatuan dan Cinta Kasih sesama Manusia. Bagaimanapun beberapa Pahlawan pun telah membawa Indonesia ke dalam Persatuan dan Cinta. Namun Kedamaiannya kini mulai hilang saat Cinta Tanah Air Pudar dan berganti dengan Cinta Diri dan Egoisme.

      

       Fakta dan Realita sudah terpampang, sulit memang menerima dan mempertimbangkan pada siapa kita harus memihak. Jawabannya adalah Sejauh mana anda mencintai Perdamaian dan Persatuan di Indonesia. Negeri ini berideologi Demokrasi bukan? Setiap Warga Negara Indonesia bebas memilih Keyakinannya dan bebas untuk berpendapat, selama apa yang di pilih dan di ungkapkan tidak bertentangan dengan isi dari Pembukaan UUD 1945. Begitukah?
       Selanjutnya Perkembangan dan Kelanjutan dari Negeri Tercinta kita ini ada pada kita semua, Generasi Penerus Bangsa dan para Orangtua juga peran para Pendidik di Sekolah yang menjadi ruang – ruang Eksklusif dalam menanamkan dan mengajarkan sikap, peilaku dan jati diri para Penerus Bangsa Kelak. Jangan sampai Indonesia menjadi semakin Jahiliyah dengan perpecahan – perpecahan yang kian berkesinambungan. Ingat! Kita satu dan tak bisa dipisahkan, memisahkan ataupunt erpisahkan.

Jawabannya adalah, Sejauh mana anda mencintai Perdamaian dan Persatuan di Indonesia, Negeri yang Kita Cintai ini!

Penuh Cinta dan Harapan.
RidhwanEndri. Y

Indonesia dan Tradisi Jahiliyyah Part. 1 (Anak Muda Bag. 1)

         Ini merupakan pembahasan saya yang pertama mengenai Negeri ini, yang mungkin akan menjadi tahap pembukuan bagi saya ke depannya. Pembahasan kali ini bertajuk “Indonesia dan Tradisi Jahiliyah”.  Terdengar riskan memang tetapi beberapa fakta telah saya analisa. Saat mendengar kata Jahiliyah pasti kita akan mengingat jauh kepada masa dimana semua orang menunggu kedatangan seorang Utusan Tuhan (Allah. Aw). Yaitu, zaman Kenabian  Terakhir.  Kedatangan  seorang   Nabi Penutup Risalah Kenabian ,  Muhammad .Sawa  (Shollallohu ‘Alaihi wa Aalihi).
         Ada beberapa kisah yang harus saya jabarkan dari masa keemasan Islam di kala itu, yang akan menjadi sebuah contoh dan analisa kita mengenai judul diatas. Di awal – awal misi Ke-Rasulan Muhammad. Sawa, dimana saat itu belum ada orang yang mempercayainya dan mengikuti ajarannya, kecuali Istri yang amat di cintainya Sayyidah Khadijah al-Kubra. As dan Keponakannya, ‘Ali bin Abi Thalib. As yang masih berusia 10 tahun kala itu. Setelah Surat pertama turun kepada Nabi Muhammad. Sawa di Gua Hiro (Qs. Al-Alaq : 1-5), Beliau. Sawa kembali ke rumah dan mendirikan Sholat bersama Istri tercintanya. Saat itulah datang Imam ‘Ali bin Abi Thalib. As dan menunggu mereka selesai beribadah (baca; Sholat) dan bertanya tentang hal yang demikian. Singkat cerita, banyak kisah yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad. Sawa mendapat wahyu di hari Senin dan Imam ‘Alibin Abi Thalib. As masuk Islam di hari Selasa.
         Ketika Wahyu kedua di turunkan (Qs. Asy-Syu’aara’ : 214) “Dan berilah peringatan kepada orang – orang terdekat.”  Ketika ayat ini turun Nabi Mhammad. Sawa pun segera mengumpulkan Keluarganya dalam acara jamuan makan malam. Dan di sela – sela waktu perbincangan Nabi Muhammad. Sawa bersabda: “Wahai Bani Abdul Muthalib, demi Allah tidak pernah aku ketahui di seluruh bangsa Arab sesuatu yang lebih utama dari apa yang aku bawa untukmu. Aku datang kepadamu untuk kebaikan di dunia dan akhirat. Allah telah menyuruhku mengajakmu kepada-Nya. Maka, siapakah di antara kamu yang bersedia membantuku dalam urusan ini untuk menjadi saudaraku, washiku dan khalifahku ?” Mereka semua tidak bersedia kecuali Ali bin Abi Thalib yang saat itu paling muda. Ali berdiri seraya berkata: “Aku ya Nabiyallah, aku (bersedia menjadi) wazir(pembantu)mu dalam urusan ini.” Kemudian Rasulullah saw memegang bahu Ali seraya bersabda: “Sesungguhnya Ali ini adalah saudaraku, washiku, dan khalifahku terhadap kalian, maka dengarlah dia dan taatilah dia.” Mereka tertawa sambil berkata kepada Abu Thalib: Kamu disuruh mendengar dan mentaati anakmu.(Lebih rinci, baca hadis Indzar).
         Juga sebuah peristiwa yang Saya sangat hafal mengenai kisah ini. Yaitu, saat Peristiwa Haji Wada’ atau Peristiwa Ghadir Qum. Dimana dalam beberapa Riwayat yang saya baca dan saya ketahui dari Kitab Sunnah populer di kalangan umat Muslim. Nabi Muhammad. Sawa di ujung masa Kenabiannya itu menyampaikan wasiat dan sejajar Ayat – ayat terakhir al-Qur’an. Juga mengisyaratkan atau memberikan Petunjuk mengenai Pemimpin Islam sepeninggal Beliau nanti. Ada banyak Hadits dan Riwayat yang tersedia, yang dengan jelas menyatakan bahwa Imam ‘Ali bin Abi Thalib. As adalah orang yang di tunjuk oleh Nabi Muhammad. Sawa sebagai pengganti Beliau dalam memimpin Islam. Berikut ini beberapa Hadits ini di bacakan dibeberapa tempat termasuk di peristiwa Ghadir Qum yang mendukung pernyataan Sayadiatas:

“Kedudukan ‘Ali disisiku bagaikan Harun disisi Musa, sayangnya Kenabian terputus padaku.”
“Barangsiapa yang Aku adalah Pemimpinnya maka ‘Ali adalah Pemimpinnya. Ya Allah..... Cintailah orang yang mencintai ‘Ali dan musuhilah orang yang memusuhinya.”
“Aku adalah Kota ‘Ilmu dan ‘Ali adalah pintunya. Barangsiapa ingin memasuki Kota Ilmu, maka masuklah melalui ‘Ali.”

         Bagi sebagian orang yang tidak mengetahui dan mempelajari ini, mungkin akan timbul Pertanyaan. Kenapa harus ‘Ali? Atau, ”Lantas kenapa faktanya yang menjadi Khalifah sepeninggal Rasulullah. Sawa adalah Abu Bakar dan bukan Imam ‘Ali?”  Saya pun sangat ingat suatu riwayat, sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Abu Bakar dalam Peristiwa Ghadir Qum. “Wahai Rasulullah..... Bukankah ‘Ali masih sangat muda untuk menjadi Pemimpin...?”   Dan itulah jawaban dari pertanyaan kalian dan Inti dari pembahasan ini.
         Sikap meremehkan orang yang lebih muda atau yang lebih spesifik, orang – orang yanglebih tua enggan di pimpin oleh orang yang lebih muda darinya. Salah satu sikapJ ahiliyah yang menjamur di Budaya Kejiwaan Nasional Bangsa Indonesia.  Hehehehehe..... Dan memang itulah Faktanya!
         Betapa sore tadi saya tercengang dan kagum ketika membaca Status salah seorang teman di Akun Facebooknya yang bertuliskan, “GENERASI MUDA TERLAHIR UNTUK MEMBERANTAS GENERASI TUA YANG TAK MENGENAL KEADILAN”.  Wow!!!!! Kritikkan pedas dan keras untuk orang – orang lebih tua yang meremehkan anak muda, karena tidak memberikan kesempatan kepada Pemuda untuk beraksi dan berlaga (meski tak semua orang lebih tua seperti demikian).  Anehnya yang hendak saya pertanyakan, apakah para orang – orang yang lebih tua itu tidak tahu atau tidak memperhatikan. Bahwa di Dunia, atau maaf bahkan di Negeri ini. Pemuda adalah Ujung Tombak dari Perubahan dan Perkembangan Negara.
         Di Tunisia, Kuba,Yaman dan Negara - Negara lainnya, sudah terbukti bagaimana Potensi dan Kemampuan Pemuda dalam membangkitkan dan mensukseskan Revolusi bagi Negaranya. Betapa masih membekas dalam ingatan kita tentang Sumpah Pemuda yang terjadi di Negeri ini. Juga dimana Sang Proklamator (Bung Karno) Bpk. Ir. Soekarno pernah berkata, “Berikan Aku 10 Pemuda, Niscaya akan aku Guncang Dunia ini!”. Juga masih hangat dalam ingatan saya, ketika saya membaca sebuah artikel mengenai kabar peperangan antara Imam Mahdi. As dan NabiIsa. as dari Islam berperang melawan Dajjal dan Pasukkannya. Dimana pasukan Islam itu di penuhi dengan Pemuda – Pemuda yang tangguh dan Hebat.
         Dari pembahasan ini, saya pun hendak mengajak Pemuda – Pemudi Nusantara untuk berdiri dan bergerak. Bangkit dan buktikan pada Negeri ini dan Ibu Pertiwi, bahwa Kami Pemuda – Pemudi Nusantara berhak dan sanggup untuk membangun serta memperkokoh Kekuatan Negeri ini dengan segala Potensi yang Kami miliki. Terlebih karena, demi Perdamaian dan Kehidupan yang lebih baik bagi Orangtua kita, saudara kita, Bangsa kita juga anak dan cucu kita semua.

Dengan Penuh Cinta dan Harapan.
Ridhwan Endri. Y