Tampilkan postingan dengan label Nabi Muhammad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nabi Muhammad. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Februari 2015

Asyura : Epik Cinta, Pengabdian dan Kesetian (2)

     Epik Imam Husein as, dikenal sebagai simbol konfrontasi kebenaran dengan kebatilan serta pengorbanan di jalan agama. Gerakan Imam Husein as bukan sekedar sebuah peristiwa, melainkan sebuah budaya yang hidup dan melahirkan berbagai gerakan baru. Sebuah budaya yang bangkit dari konteks Islam dan memainkan peran determinan dalam menjaga kelestarian nilai-nilai luhur agama. Yang pasti epik seperti ini, tidak akan pernah terhapus dari sejarah dan akan selalu menjadi motivasi dalam memerangi kezaliman bagi setiap generasi umat manusia.

      Pada hari kesepuluh bulan Muharram tahun 61 Hijriah, seruan adzan dikumandangkan oleh Ali Akbar, putra Imam Husein bin Ali as menandai subuh Asyura. Shalat ditunaikan. Seakan semua wujud mengikuti Husein as. Para sahabat pun menunaikan shalat penuh kecintaan mengikuti pemimpin mereka. Seusai shalat Subuh, para perindu syahadah itu bangkit. Seakan tidak satu pun di antara mereka yang merasa kehausan dan seakan tidak ada ancaman 30.000 pedang yang telah terhunus di seberang medan sana. Umar bin Saad, panglima pasukan musuh mengetahui bahwa Husein as dan para sahabatnya tidak akan menyerang dan telah siap berperan.

     Imam Husein as mengatur laskarnya yang hanya berjumlah puluhan dan menyerahkan panji kepada saudaranya yang setia Abbas bin Ali. Kemudian beliau maju ke depan dan memperkenalkan diri dengan harapan masih ada sekelumit kesadaran dalam hati pasukan musuh. Beliau berseru: "Wahai kaum, kitab Allah dan kakekku Rasulullah (Saw) yang akan memberikan keputusan di antara aku dan kalian. Wahai masyarakat, mengapa kalian menghalalkan darahku? Bukankah aku putra Nabi kalian? Apakah kalian tidak mendengar ucapan kakekku tentang diriku dan saudaraku yang mengatakan: Putraku Hasan dan Husein adalah pujangga para pemuda penghuni sorga?”

      Namun apa gunanya nasehat Imam Husein as, seakan hati mereka telah terkunci. Umar bin Saad menggerakkan pasukannya dan dengan suara keras dia berkata, “Saksikan wahai pasukan, katakan kepada penguasa Kufah bahwa aku adalah orang pertama yang melepaskan panah ke arah Husein.”

      Kemudian langit Karbala tertutupi dengan ribuan panah yang melesat ke arah pasukan Husein as. Kepada pasukannya Imam Husein as berkata, “Panah-panah ini adalah pesan perang. Bangkitlah, rahmat dan kasih sayang Allah (Swt) bersama kalian.”

      Para sahabat Imam Husein as berperang tanpa secuil rasa takut dan menampilkan cinta dan pengorbanan yang tak terbayangkan. Para sahabat saling berlomba mendahului untuk terjun ke medan perang. Mereka dengan penuh hormat meminta ijin dari Imam Husein as untuk terjun ke medan perang. Hati para sahabat telah diluapi kecintaan kepada Allah Swt dan Imam Husein as. Hakikat ini dapat disaksikan dengan jelas dalam pasukan Imam Husein as, bahwa para sahabat beliau terjun di medan pengorbanan dengan kesadaran, kecintaan dan keimanan penuh. Bagi Imam Husein as dan para sahabatnya, rasa sakit akibat kebodohan dan kejahilan masyarakat, lebih pedih dari luka pedang. Oleh karena itu, mereka berjuang bertekad melakukan tugas jihad terpenting yaitu memberantas kebodohan dalam pikiran masyarakat. Dalam sejarah Karbala disebutkan bahwa sebagian besar sahabat Imam Husein menyampaikan ucapan-ucapan bernilai tinggi untuk menyadarkan musuh. Di medan laga, para sahabat Imam Husein as melantunkan bait-bait syair epik memperkenalkan Imam Husein as dan keluarga Nabi, sebelum mereka menunjukkan heroisme di jantung barisan musuh. Ini menunjukkan bahwa musuh tidak berhenti berusaha merusak citra Ahlul Bait Nabi.

      Masing-masing sahabat Imam Husein as yang bergegas ke medan perang, mampu menggetarkan barisan musuh hanya dengan menunjukkan keagungan iman dan perjuangan mereka. Setelah itu mereka akan berperang dengan penuh keberanian hingga terjatuh dengan badan penuh luka. Imam Husein as mendatangi setiap sahabatnya di medan perang, menghibur mereka dan memuji kesetiaan mereka. Para sahabat yang tidak sanggup mengungkapkan kebahagiannya dengan pertemuan tersebut, akan menjawab seruan beliau dengan ucapan “labbaik ya Husein”.

      Para syuhada telah berjatuhan di medan perang, pasukan Imam Husein as hanya tinggal sangat sedikit. Imam Husein as memandang pasukan musuh dan berseru: “Apakah ada orang yang membantu kami demi Allah? Apakah ada orang yangmembela kehormatan Nabi dan menjauhkan kami dari musuh?”

      Sengat terik matahari padang Karbala merampas dahaga dan daya dari perkemahan Imam Husein. Anak-anak gelisah. Salah satu sahabat mengabarkan waktu shalat dzuhur. Imam Husein as menatap ke langit dan berkata, “Kau telah mengingat shalat; semoga Allah menempatkanmu di antara para penunai shalat. Iya telah tiba waktunya; mintalah mereka (musuh) untuk menangguhkan sejenak dan berhenti perang sehingga kita dapat shalat."

   Barisan shalat berjamaah telah tersusun. Jumlah jemaah shalat tidak mencapai 30 orang. Di cuaca panas Karbala dan di dalam kepungan tombak, pedang dan panah musuh, ditunaikan shalat dengan penuh kekhusyukan. Bukankah Imam Husein as berkata bahwa dia bangkit melawan demi menegakkan amr makruf dan nahi munkar? Shalat Imam Husein as dan para sahabat setianya mengindikasikan tujuan tersebut. Tiga sahabat Imam Husein as termasuk Said bin Abdullah, salah satu penjaga barisan shalat, telah menjadi perisai penuh dengan panah. Usai shalat, Said bin Abdullah telah berlumuran darah.

      Para sahabat telah pergi dan hanya para ksatria keluarga Imam Husein as dari Bani Hasyim yang tersisa. Ali Akbar, Abbas dan saudara-saudaranya, para putram Hasan bin Ali as dan putra-putra Aqil dan Zainab. Selama masih ada sahabat, Imam Husein as tidak mengijinkan seorang dari Bani Hasyim terjun ke medan perang. Sekarang adalah detik-detik perpisahan. Ali Akbar menyampaikan perpisahan dengan sang ayah menuju medan perang. Setelah itu, disusul Qasim bin Hasan, kemudian para putra Ali dan lainnya, sampai akhirnya sang pembawa panji laskar Imam Husein as yaitu Abbas bin Ali mengorbankan jiwanya.

     Sekarang hanya tinggal Husein bin Ali as, kesayangan Rasulullah Saw, terkepung musuh yang congkak dan hina. Imam Husein as untuk terakhir kalinya ingin menyempurnakan hujjah-nya kepada musuh. Beliau mengangkat putra bayinya yang kehausan Ali Asghar dan meminta air untuk anak tidak berdosa ini. Akan tetapi musuh menembakkan panah ke leher Ali Asghar. Imam Husein as dengan duka mendalam, memercikkan darah putranya ini ke langit dan memohon agar Allah Swt menerima pengorbanannya.

      Para sahabat dan keluarganya telah gugur syahid, Imam Husein as sendirian, namun berdiri tegak dan gagah di medan perang. Ke arah mana pun beliau bergegas, barisan musuh akan porak-poranda. Tidak ada yang berani bertarung menghadapi Imam Husein. as.

Umar bin Saad berteriak: “Sedang apa kalian? Ini adalah putra Ali, jiwa Ali ada di raganya, jangan kalian berduel dengannya.”

Setelah beberapa waktu berperang tidak imbang di padang yang panas menyengat dan dalam kondisi kehausan dan kelelahan, Imam Husein as terdesak. Beliau sejenak berdiri diam. Ketika itu salah seorang dari pasukan musuh melempar batu yang mengena dahi Imam Husein as hingga pecah dan mengucurkan darah. Aksi itu disusul dengan tembakan panah yang menusuk dada Imam Husein as dan beliau pun semakin bersimbah darah. Imam Husein as menengadahkan kepala ke langit dan berkata, “Ya Allah! Kau tahu pasukan ini, akan membunuh seseorang yang kecuali dia tidak ada lagi putra dari putri Nabi di muka bumi."

      Untuk beberapa saat Imam Husein as terbaring di atas tanah dengan badan penuh darah. Tidak ada yang berani mendekati beliau. Pada akhirnya, seorang dengan perangai kejam dan sadis mengayunkan pedangnya ke kepala Imam Husein as. Darah terpercik dari kepala beliau. Kemudian Imam Husein as dengan hati penuh kerinduan untuk segera bertemu dengan Allah Swt berkata: “Ya Allah! Aku ridho atas keridhoan-Mu dan berpasrah diri kepada-Mu. Wahai Tuhan yang akan mengadili seseorang sesuai dengan amalnya, adili antara aku dan masyarakat ini, karena Kau adalah sebaik-baiknya Hakim.”

Sanan bin Anas turun dari kudanya dan berdiri di atas Imam Husein as, kemudian mengayunkan pedangnya ke leher Imam Husein as. Langit pun gelap berkabut. Kebenaran telah tertancap di tombak. Husein as dengan bibir kehausan melantunkan ayat-ayat al-Quran dan epik Asyura pun mencapai puncaknya.

Salam Atasmu Wahai Sayyidusy-Syuhada.

Salam Atasmu Wahai  Para Syuhada Karbalaa.

Asyura : Epik Cinta, Pengabdian dan Kesetiaan (1).

      Gerakan Karbala sejak peristiwa historis besar ini terjadi lebih dari seribu tahun lalu hingga kini senantiasa menjadi sumber mata air yang jernih bagiorang-orang dahaga akan kebenaran. Tidak diragukan lagi spirit agung, motif dan tujuan mulia Asyura membawa khazanah kebudayaan yang kaya sekaligus menjadi inspirasi bagi gerakan besar dunia. Tujuh hari berlalu setelah Imam Husein dan pengikutnya memasuki tanah Karbala.  Tanggal sembilan Muharram tahun 61 Hijriah, blokade yang dilakukan pasukan musuh terhadap Imam Husein dan mengikutnya semakin ketat. Orang-orang Kufah menutup akses terhadap air bagi Imam Husein dan rombongannya di padang Karbala. Padahal di antar rombongan Imam Husein terdapat anak-anak dan balita. Tekanan ancaman pasukan Umar bin Sa'ad semakin besar terhadap Imam Husein dan pengikutnya  .Oleh karena itu, Imam Husein memerintahkan seluruh pengikutnya yang dikepung untuk siaga dengan keterbatasan perlengkapan perang seadanya yang mereka miliki.
      Abbas Bin Ali, saudara Imam Husein termasuk di antara pengikut Imam Husein yang paling kuat. Beliau senantiasa mendampingi Imam Husein. Beliau berada beberapa langkah di depan Imam Husein demi melindungi pemimpinnya itu dari ancaman serangan musuh. Pasukan Imam Husein bersiaga menghadapi serangan musuh. Di antara mereka terdapat para remaja. Para pengikut Imam Husein di padang Karbala adalah orang-orang yang berhati suci dan pencinta kebenaran. Diri mereka dipenuhi kecintaan yang sangat besar terhadap Imam Husein, yang datang ke Karbala untuk menegakkan agama Nabi Muhammad Saw yang mengalami penyimpangan oleh penguasa lalim Yazid bin Muawiyah.  Ketika itu suasana yang terlihat begitu kental dari para pengikut Imam Husein adalah persatuan dan solidaritas yang kokoh. Sebab, mereka diikat oleh Iman dan cinta ilahi.

      Karbala adalah manifestasi dari persatuan, persatuan dalam tujuan, persatuan dalam ucapan dan perilaku, serta persatuan dalam kepemimpinan yang menjadikan para pengikut Imam Husein senantiasa siap berkorban dan mengabdi demi kebenaran mekipun harus mati syahid.

      Sore hari tanggal 9 Muharram, Umar bin Saad dengan membawa 4.000 orang pasukan pemanah dan penombak bergerak ke arah perkemahan Imam Husein. Pasukan berkuda semakin mendekat. Imam Husein memanggil Abbas, "Saudaraku tunggangilah kuda, dan majulah mengikuti pikiran dan nuranimu !".

Lalu, Abbas menunggangi kuda dan bersama 18 orang pengikutnya mendekati pasukan musuh. Abbas menuju ke arah Umar bin Saad, setelah dekat ia berkata, "Apa yang terjadi dengan kalian, apa tujuan kalian berbuat seperti ini ?".

Umar Bin Saad menjawab pertanyaan Abbas bahwa dirinya diutus oleh penguasa Kufah, Abdullah bin Ziyad untuk mengambil baiat dari Imam Husein. Umar bin saad berkata, "Patuh atas perintah ini atau berperang!".

Abbas kembali menuju Imam Husein, dan menyampaikan apa yang ditelah dikemukakan oleh Umar Bin Saad. Imam Husein berkata,"Kembalilah, dan katakan kepada mereka beri waktu hingga besok. Biarkan malam ini aku bersama Tuhanku, shalat dan membaca al-Quran, sebab al-Quran, doa dan istighfar adalah yang terbaik bagi kehidupan kita"

      Di sela-sela ini, Habib bin Mazahir, salah seorang sahabat setia Imam Husein mengambil kesempatan ini untuk menasehati Umar bin Saad dan pasukan musuh. Habib bin Mazahir mengenalkan siapa sebenarnya Imam Husein yang memiliki kedudukan tinggi sebagai Ahlul Bait Rasulullah Saw, dan penghulu Ahli Surga sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw. Nasehat ini disampaikan Habib bin Mazahir untuk menyadarkan Umar bin Saad dan pasukannya, sehingga di antara mereka ada yang tergerak hatinya untuk sadar dan berbalik menerima kebenaran yang dibawa Imam Husein. Tapi tidak ada seorangpun yang menyambut seruannya.Imam Husein menyampaikan faktor penyebab mengapa Umar bin saad dan pasukannya tidak mau menerima kebenaran.

      Dalam sebuah khutbahnya, yang disampaikan di hadapan musuh, Imam Husein berkata, "Perut dan kantung-kantung saku kalian telah dipenuhi dengan suap dan barang-barang haram. Oleh karena itu, hati nurani dan telinga kalian telah tertutup, dan tidak ada seorangpun yang bisa menyadarkan diri kalian".

      Tanggal 9 Muharam, malam hari tiba. Imam Husein dan orang-orang yang bersamanya tengah sibuk beribadah shalat, berdoa dan bermunajat. Di sisi lain,pasukan musuh bersiap-siap untuk melakukan kejahatan anti kemanusiaan terburuk yang dicatat dalam sejarah. Mereka tertawa dengan pikiran yang dipenuhi segala macam khayalan tentang upah yang akan diterima ketika menyerang Imam Husein dan pasukannya dari Yazid dan penguasa Kufah waktu itu.

     Apakah mereka tidak tahu siapa Husein? Apakah empat ribu orang pasukan itu tidak temasuk orang yang pernah menulis surat kepada Imam Husein? Bukankah sebagian dari mereka pernah bertemu dengan Nabi Muhammad Saw, dan mendengar langsung dari Rasulullah yang bersabda, 'Husein adalah penghulu surga' ?

Tapi, harta, tahta dan kebodohan telah menjadikan mereka buta dan tuli untuk menerima kebenaran.

      Malam itu, dari kemah Imam Husein dan pengikutnya yang terdengar hanya suara munajat dan doa. Mereka tahu, malam itu adalah malam terakhir. Di antara pasukan Imam Husein ada Abbas bin Ali yang meninggalkan kemah karena bertugas menjaga kemah dari serangan musuh. Sesekali Abbas datang ke kemah untuk menenangkan anak-anak yang terbangun karena kehausan. Pada malam hari Tasua, Imam Husain mengumpulkan pengikut setia dan keluarganya. Imam Husein menyampaikan pidato di hadapan mereka, "Bismillahi rahmani rahim. Ya Allah, hanya Engkau-lah yang paling layak disembah. Aku bersyukur atas segala karunia-Nya, baik suka maupun duka. Aku bersyukur karena Engkau telah mengutus Rasul-Mu, mengajarkan al-Quran yang memperkaya kesadaran dan pemahamanku, sehingga mata dan hati dan telinga dirahmati-Mu,

Imam Husein menatap satu persatu para pengikut dan keluarganya, lalu beliau berkata “Aku tidak mengenal keluarga dan penolong yang lebih baik daripada kalian, dan karena besok adalah hari perang, maka aku tidak dapat menjamin kalian, aku menarik baiat dari kalian, oleh karenanya aku mengizinkan jikalau kalian akan memilih jalanmu di kegelapan malam dan pergilah,”.

Tapi mendengar perkataan Imam Husein ini, sahabat dan keluarganyasecara bergantian satu per satu berdiri menyatakan kesetiaannya kepada beliau.Mereka menegaskan komitmennya kepada baiat yang telah diberikan kepada pemimpinnya itu. Orang pertama yang melakukan hal itu adalah Abbas bin Ali. Putra Ali bin Abi Thalib ini berkata, "Pemimpinku, demi Allah, bagaimana mungkin kami hidup, jika engkau tiada. Celakalah aku jika berpikir demikian. Tidak, kita akan selalu bersama. Tanpamu malam yang indah menjadi getir".

Perkataan Abbas membangkitkan spirit pengorbanan di tengah pengikut Imam Husein lainnya. Kemudian para pemuda Ahlulbait menyatakan dukungannya dan akan selalu menyertai Imam Husain. Ketika itu, Imam Husain menoleh ke arah putra-putra Aqil dan berucap, “Wahai putra-putra Aqil! Cukuplah pengorbanan kalian dengan kematian Muslim, karena itu pergilah kalian, Aku mengizinkan kalian untuk pergi.”

Namun mereka menjawab,“Demi Tuhan! Aku tidak akan melakukan hal itu. Jiwa, hartadan keluarga kami menjadi tebusan bagimu, dan kami akan berperang bersamamu.”Para sahabat Imam Husein berkata, “Puji Tuhan, kami dikaruniai anugerah untuk menolongmu dan syahadah menjadi kemuliaan kami bersamamu. Wahai putra Rasulullah Saw! Apakah Anda tidak rela jika kami juga bersama denganmu berada dalam satu derajat di surga?”.

      Imam Sajjad meriwayatkan bahwa setelah orasi dan mendengarkan jawaban penuh semangat tersebut, Imam Husain pun mendoakan mereka. Pengorbanan pengikut Imam Husein dan keluarganya di Karbala lahir dari kecintaan ilahi. Kesyahidan Imam Husein dan pengikutnya di Karbala menjadi sejarah yang abadi hingga kini, karena ditulis dengan cinta, pengabdian dan kesetiaan.

Selasa, 17 Februari 2015

Indonesia dan Tradisi Jahiliyyah Part.2 (Kotak-Kotak)

        Bhinneka Tunggal Ika. Sebuah kata yang menjadi semboyan utama dari Negeri Kesatuan yang kita cintai ini. Dimana kita bersatu diatas sekian banyak perbedaan yang meliputi tanah, perairan, bahasa, budaya, adat istiadat, dll. Ibarat warna mungkin Negara ini adalah Pelangi yang berwarna – warni. Banyak Manfaat yang kita dapat akibat Persatuan yang terjadi di Nusantara. Salah satunya adalah memerdekakan Tanah Air dari Penjajah – penjajah di masa lampau. Juga kita mengenal Peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi Pilar Utama Persatuan dan Kesatuan Rakyat Indonesia di masa PraKemerdekaan.
        Jelas kita semua mengetahui betapa Persatuan dan Kesatuan amat berarti bagi Negeri dan Bangsa ini. Sumpah Pemuda adalah bukti otentik bahwa tanggal 28Oktober 1928 bangsa Indonesia dilahirkan. Oleh karena itu sudah seharusnya segenap rakyat Indonesia memperingati momentum 28 Oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia. Proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudian mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia asli, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945.
        Menarik tajuk diatas yang berbunyi “Kotak – Kotak”  artikel ini kembali menyajikan perbandingan dan analogi antara Beberapa Kejadian dalam Sejarah dan menyajikannya menjadi sebuah Permasalahan yang harus segera di sikapi dengan baik dan cermat. Judulnya pun masih sama seperti Pembahasan saya sebelumnya, yang mengusung Budaya Indonesia masa kini dengan tradisi Jahiliyah masa lampau yang berasal dari Tanah Arab. Sebelumnya saya sampaikan maaf jika dari artikel saya ini yg menyinggung Kebudayaan Lama Orang Arab dimasa Jahiliyah ataupun gaya Radikal beberapa Ormas yang ada di Indonesia. Saya hanya bermaksud mengenang Persatuan Bangsa ini dan berharap menemukkan kembali serat – serat Nasionalisme yang mulai kendur di antara Rakyat Indonesia.
        Mari kita cermati Latar Belakang terbentuknya Sumpah Pemuda pada 1928 silam. Sumpah Pemuda lahir dari hasil perkembangan Organisasi Budi Utomo yang melahirkan beberapa Organisasi Kepemudaan, seperti Tri Koro Darmo (Jong Java),  Jong Sumatranen Bond,  Jong Minahasa,  Jong Betawi, dan lain - lain.  Organisasi - organisasi itulah yang menjadi cikal bakal lahirnya Sumpah Pemuda. Untuk mewujudkan persatuan organisasi - organisasi tersebut, mereka kemudian melakukan pertemuan dalam rangka mencapai kata mufakat. Pada 15 November 1925, mereka mengadakan kongres pemuda untukmembentuk panitia pelaksanaan kesepakatan bersama. Kemudian, pada 30 April1926, organisasi - organisasi itu berkumpul dan membentuk rapat besar yang dikenal sebagai Kongres Pemuda I.


       Dua tahun setelah itu, pada 26 - 28 Oktober 1929, organisasi - organisasi pemuda, mahasiswa, dan partai politik, berkumpul kembali dalam Kongres Pemuda II, dengan agenda utama mempersatukan dan mengobarkan semangat perjuangan dalam diri masing - masing peserta. Pada hari ketiga kongres itulah Sumpah Pemuda dideklarasikan. Rumusan Sumpah Pemuda ditulis oleh Muhammad Yamin pada sebuah kertas, ketika Mr. Sunario sebagai utusan kepanduan tengah berpidato pada sesi terakhir kongres.Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo, dan kemudian dijelaskan panjanglebar oleh Muhammad Yamin. Pada hari itu, secara resmi Muhammad Yamin mengusulkan agar bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan Indonesia, dan di hari itu pula untuk pertama kalinya W.R. Supratman memperdengarkan lagu “Indonesia Raya” melalui gesekan biola yang diiringi alunan piano Dolly, putri Haji Agus Salim.
       Indahnya Indonesiaku, dengan Keberagaman Suku dan Budayanya bersatu padu menjadi Satu. Fakta yang saya ketahui mengenai Budaya Jahiliyah adalah, terbaginya Bangsa Arab menjadi banyak Kaum. Pastilah di dalam sebuah perpecahan ada permasalahan atau konflik yang menjadi pemicu perpecahan tersebut. Akankah Indonesia yang memiliki banyak suku ini akan berpecah kembali dan kehilangan Persatuannya selama ini? Realitanya sudah banyak konflik antar suku yang beberapa kali terjadi di Indonesia. Mulai yang di picu dari sengketa tanah, area kekuasaan,dsb.
       Beberapa media lokal baik media visual atau tertulis menggambarkan perpecahan – perpecahan yang kini terjadi. Bukan hanya mengenai suku dan Budaya, melainkan menjalar kearah Pemahaman dan sudut Pandat juga kearah Agama dan Keyakinan. Di bagian Kebudayaan semisal di Ibu Kota DKI Jakarta, ada FBR dan FORKABI yang terpecah. Di Maluku ada RMS, ada GAM di aceh dan ada OPM di Papua, dan lain sebagainya meliputi seluruh daerah Kepulauan NKRI. Di bagian Keagamaan di dalam Islam ada Nahdatul Ulama, Muhammadiyyah, Salafi, Ahlussunnah wal Jama’ah, Syiah, dll. Juga di dalam Agama Nasrani, ada Protestan, Khatolik, dsb. Belum lagi beberapa perselisihan dan konflik di antara satu Kelompok Masyarakat dengan Kelompok lain. Ironis….. Saya salah seorang Pemuda yang Seringkali kontradiksi dan kritis dalam menyikapi aksi – aksi yang terjadi pada beberapa Organisasi Masyarakat, terutama yang mengusung nama Budaya dan Keagamaan.
       Beruntungnya Tradisi Jahiliyyah pada zaman dahulu di Arab mengalami Perubahan dan Penghapusan dengan Datangnya Risalah Kenabian dari Rasullullah Muhammad. Sawa, yang membawa Perdamaian, Persatuan dan Cinta Kasih sesama Manusia. Bagaimanapun beberapa Pahlawan pun telah membawa Indonesia ke dalam Persatuan dan Cinta. Namun Kedamaiannya kini mulai hilang saat Cinta Tanah Air Pudar dan berganti dengan Cinta Diri dan Egoisme.

      

       Fakta dan Realita sudah terpampang, sulit memang menerima dan mempertimbangkan pada siapa kita harus memihak. Jawabannya adalah Sejauh mana anda mencintai Perdamaian dan Persatuan di Indonesia. Negeri ini berideologi Demokrasi bukan? Setiap Warga Negara Indonesia bebas memilih Keyakinannya dan bebas untuk berpendapat, selama apa yang di pilih dan di ungkapkan tidak bertentangan dengan isi dari Pembukaan UUD 1945. Begitukah?
       Selanjutnya Perkembangan dan Kelanjutan dari Negeri Tercinta kita ini ada pada kita semua, Generasi Penerus Bangsa dan para Orangtua juga peran para Pendidik di Sekolah yang menjadi ruang – ruang Eksklusif dalam menanamkan dan mengajarkan sikap, peilaku dan jati diri para Penerus Bangsa Kelak. Jangan sampai Indonesia menjadi semakin Jahiliyah dengan perpecahan – perpecahan yang kian berkesinambungan. Ingat! Kita satu dan tak bisa dipisahkan, memisahkan ataupunt erpisahkan.

Jawabannya adalah, Sejauh mana anda mencintai Perdamaian dan Persatuan di Indonesia, Negeri yang Kita Cintai ini!

Penuh Cinta dan Harapan.
RidhwanEndri. Y

Indonesia dan Tradisi Jahiliyyah Part. 1 (Anak Muda Bag. 1)

         Ini merupakan pembahasan saya yang pertama mengenai Negeri ini, yang mungkin akan menjadi tahap pembukuan bagi saya ke depannya. Pembahasan kali ini bertajuk “Indonesia dan Tradisi Jahiliyah”.  Terdengar riskan memang tetapi beberapa fakta telah saya analisa. Saat mendengar kata Jahiliyah pasti kita akan mengingat jauh kepada masa dimana semua orang menunggu kedatangan seorang Utusan Tuhan (Allah. Aw). Yaitu, zaman Kenabian  Terakhir.  Kedatangan  seorang   Nabi Penutup Risalah Kenabian ,  Muhammad .Sawa  (Shollallohu ‘Alaihi wa Aalihi).
         Ada beberapa kisah yang harus saya jabarkan dari masa keemasan Islam di kala itu, yang akan menjadi sebuah contoh dan analisa kita mengenai judul diatas. Di awal – awal misi Ke-Rasulan Muhammad. Sawa, dimana saat itu belum ada orang yang mempercayainya dan mengikuti ajarannya, kecuali Istri yang amat di cintainya Sayyidah Khadijah al-Kubra. As dan Keponakannya, ‘Ali bin Abi Thalib. As yang masih berusia 10 tahun kala itu. Setelah Surat pertama turun kepada Nabi Muhammad. Sawa di Gua Hiro (Qs. Al-Alaq : 1-5), Beliau. Sawa kembali ke rumah dan mendirikan Sholat bersama Istri tercintanya. Saat itulah datang Imam ‘Ali bin Abi Thalib. As dan menunggu mereka selesai beribadah (baca; Sholat) dan bertanya tentang hal yang demikian. Singkat cerita, banyak kisah yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad. Sawa mendapat wahyu di hari Senin dan Imam ‘Alibin Abi Thalib. As masuk Islam di hari Selasa.
         Ketika Wahyu kedua di turunkan (Qs. Asy-Syu’aara’ : 214) “Dan berilah peringatan kepada orang – orang terdekat.”  Ketika ayat ini turun Nabi Mhammad. Sawa pun segera mengumpulkan Keluarganya dalam acara jamuan makan malam. Dan di sela – sela waktu perbincangan Nabi Muhammad. Sawa bersabda: “Wahai Bani Abdul Muthalib, demi Allah tidak pernah aku ketahui di seluruh bangsa Arab sesuatu yang lebih utama dari apa yang aku bawa untukmu. Aku datang kepadamu untuk kebaikan di dunia dan akhirat. Allah telah menyuruhku mengajakmu kepada-Nya. Maka, siapakah di antara kamu yang bersedia membantuku dalam urusan ini untuk menjadi saudaraku, washiku dan khalifahku ?” Mereka semua tidak bersedia kecuali Ali bin Abi Thalib yang saat itu paling muda. Ali berdiri seraya berkata: “Aku ya Nabiyallah, aku (bersedia menjadi) wazir(pembantu)mu dalam urusan ini.” Kemudian Rasulullah saw memegang bahu Ali seraya bersabda: “Sesungguhnya Ali ini adalah saudaraku, washiku, dan khalifahku terhadap kalian, maka dengarlah dia dan taatilah dia.” Mereka tertawa sambil berkata kepada Abu Thalib: Kamu disuruh mendengar dan mentaati anakmu.(Lebih rinci, baca hadis Indzar).
         Juga sebuah peristiwa yang Saya sangat hafal mengenai kisah ini. Yaitu, saat Peristiwa Haji Wada’ atau Peristiwa Ghadir Qum. Dimana dalam beberapa Riwayat yang saya baca dan saya ketahui dari Kitab Sunnah populer di kalangan umat Muslim. Nabi Muhammad. Sawa di ujung masa Kenabiannya itu menyampaikan wasiat dan sejajar Ayat – ayat terakhir al-Qur’an. Juga mengisyaratkan atau memberikan Petunjuk mengenai Pemimpin Islam sepeninggal Beliau nanti. Ada banyak Hadits dan Riwayat yang tersedia, yang dengan jelas menyatakan bahwa Imam ‘Ali bin Abi Thalib. As adalah orang yang di tunjuk oleh Nabi Muhammad. Sawa sebagai pengganti Beliau dalam memimpin Islam. Berikut ini beberapa Hadits ini di bacakan dibeberapa tempat termasuk di peristiwa Ghadir Qum yang mendukung pernyataan Sayadiatas:

“Kedudukan ‘Ali disisiku bagaikan Harun disisi Musa, sayangnya Kenabian terputus padaku.”
“Barangsiapa yang Aku adalah Pemimpinnya maka ‘Ali adalah Pemimpinnya. Ya Allah..... Cintailah orang yang mencintai ‘Ali dan musuhilah orang yang memusuhinya.”
“Aku adalah Kota ‘Ilmu dan ‘Ali adalah pintunya. Barangsiapa ingin memasuki Kota Ilmu, maka masuklah melalui ‘Ali.”

         Bagi sebagian orang yang tidak mengetahui dan mempelajari ini, mungkin akan timbul Pertanyaan. Kenapa harus ‘Ali? Atau, ”Lantas kenapa faktanya yang menjadi Khalifah sepeninggal Rasulullah. Sawa adalah Abu Bakar dan bukan Imam ‘Ali?”  Saya pun sangat ingat suatu riwayat, sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Abu Bakar dalam Peristiwa Ghadir Qum. “Wahai Rasulullah..... Bukankah ‘Ali masih sangat muda untuk menjadi Pemimpin...?”   Dan itulah jawaban dari pertanyaan kalian dan Inti dari pembahasan ini.
         Sikap meremehkan orang yang lebih muda atau yang lebih spesifik, orang – orang yanglebih tua enggan di pimpin oleh orang yang lebih muda darinya. Salah satu sikapJ ahiliyah yang menjamur di Budaya Kejiwaan Nasional Bangsa Indonesia.  Hehehehehe..... Dan memang itulah Faktanya!
         Betapa sore tadi saya tercengang dan kagum ketika membaca Status salah seorang teman di Akun Facebooknya yang bertuliskan, “GENERASI MUDA TERLAHIR UNTUK MEMBERANTAS GENERASI TUA YANG TAK MENGENAL KEADILAN”.  Wow!!!!! Kritikkan pedas dan keras untuk orang – orang lebih tua yang meremehkan anak muda, karena tidak memberikan kesempatan kepada Pemuda untuk beraksi dan berlaga (meski tak semua orang lebih tua seperti demikian).  Anehnya yang hendak saya pertanyakan, apakah para orang – orang yang lebih tua itu tidak tahu atau tidak memperhatikan. Bahwa di Dunia, atau maaf bahkan di Negeri ini. Pemuda adalah Ujung Tombak dari Perubahan dan Perkembangan Negara.
         Di Tunisia, Kuba,Yaman dan Negara - Negara lainnya, sudah terbukti bagaimana Potensi dan Kemampuan Pemuda dalam membangkitkan dan mensukseskan Revolusi bagi Negaranya. Betapa masih membekas dalam ingatan kita tentang Sumpah Pemuda yang terjadi di Negeri ini. Juga dimana Sang Proklamator (Bung Karno) Bpk. Ir. Soekarno pernah berkata, “Berikan Aku 10 Pemuda, Niscaya akan aku Guncang Dunia ini!”. Juga masih hangat dalam ingatan saya, ketika saya membaca sebuah artikel mengenai kabar peperangan antara Imam Mahdi. As dan NabiIsa. as dari Islam berperang melawan Dajjal dan Pasukkannya. Dimana pasukan Islam itu di penuhi dengan Pemuda – Pemuda yang tangguh dan Hebat.
         Dari pembahasan ini, saya pun hendak mengajak Pemuda – Pemudi Nusantara untuk berdiri dan bergerak. Bangkit dan buktikan pada Negeri ini dan Ibu Pertiwi, bahwa Kami Pemuda – Pemudi Nusantara berhak dan sanggup untuk membangun serta memperkokoh Kekuatan Negeri ini dengan segala Potensi yang Kami miliki. Terlebih karena, demi Perdamaian dan Kehidupan yang lebih baik bagi Orangtua kita, saudara kita, Bangsa kita juga anak dan cucu kita semua.

Dengan Penuh Cinta dan Harapan.
Ridhwan Endri. Y

Minggu, 04 Januari 2015

Perang Khandaq

Nama lain perang Khandak adalah perang Ahzab. Hal itu lantaran beberapa kelompok kaum musyrikin bergabung membentuk satu kekuatan tunggal untuk menyerang pasukan Rasulullah saw. Pada peristiwa perang ini, kaum muslimin betul-betul merasa khawatir dan diliputi rasa takut yang dahsyat. Faktor utamanya adalah karena pasukan musyrikin yang sangat kuat dan orang-orang Yahudi juga turut bergabung dengan mereka. Seluruh pasukan mereka berjumlah sepuluh ribu prajurit.

Sementara pasukan muslimin hanya
berjumlah tiga ribu prajurit saja. Ketika melukiskan sejauh mana rasa
takut yang dialami oleh kaum muslimin dalam peperangan ini, Al-Qur’an berfirman:

“Ketika mereka mendatangimu dari bagian atas dan bagian bawah kalian dan ketika mata-matamu terbelalak dan rasa takutmu sampai menembus hati.” (QS. al-Ahzâb [33]:10)

Pada perang ini, Allah telah memberikan kemenangan bagi Islam melalui tangan Ali bin Abi Thalib as. Dialah orang yang telah berhasil menghancurkan dan memporak-porandakan barisan kaum musyrikin.
Menggali Parit Ketika Nabi saw. mengetahui pasukan Quraisy dan Bani Ghathafân ingin melakukan serangan terhadap muslimin, ia saw. mengumpulkan para sahabat dan memberitahukan kepada mereka rencana musuh tersebut. Beliau.saw. meminta pendapat mereka masing-masing demi menghalau musuh Islam itu. Salman Al-Fârisî, salah seorang sahabat terkemuka, mengusulkan untuk menggali parit di sekitar kota Madinah.

Nabi saw. menyetujui pandangannya itu dan memerintahkan para sahabat untuk menggali parit. Ide tersebut merupakan taktik perang yang jitu untuk menyelamatkan pasukan
muslimin dari serangan musuh Islam.

Melihat parit digali di sekitar kota itu,
pasukan musuh bingung dan tidak memiliki jalan lain untuk melancarkan serangan terhadap muslimin. Dengan terpaksa, mereka hanya dapat menggunakan anak panah. Kaum muslimin pun menjawab serangan mereka dengan serangan yang sama. Saling-melempar anak panah pun terjadi antara kedua pasukan tersebut tanpa terjadi perangan terbuka di antara mereka.

Imam Ali as. Bertanding dengan ‘Amr Orang-orang kafir Quraisy merasa jengkel dengan kondisi perang semacam ini. Karena hal itu tidak memberi kemenangan kepada mereka. Mereka berusaha mencari ukuran lebar parit yang agak sempit agar kuda-kuda mereka dapat melompati dan menyeberangi parit. Di tengah-tengah mereka terlihat ‘Amr bin Abdi Wud. Dia adalah ksatria Quraisy dan penunggang kuda Kinânah yang tangguh pada masa jahiliah.

‘Amr menggenggam pedang. Ia laksana benteng kokoh. Ia menaiki kudanya dengan penuh bangga dan congkak. Dengan segenap kekuatan ia dapat melompati parit. Kaum muslimin yang menyaksikan hal itu merasa ciut, kerdil, dan gemetar. ‘Amr maju menghadap mereka dengan perlahan tapi pasti. Dengan suara yang lantang dan penuh penghinaan ia berkata: "Hai prajurit Muhammad, adakah yang berani melawanku?”
Hati kaum muslimin bak tercabut dari tempatnya. Mereka diliputi rasa takut. Untuk kedua kalinya ‘Amr angkat suara: “Adakah yang berani
melawanku?”
Tak seorang pun berani menjawab. Tetapi pejuang Islam, Imam Amirul Mukminin as. menjawab: “Aku yang melawannya, ya Rasulullah.”

Rasulullah saw. merasa khawatir atas keselamatan putra pamannya itu. Ia berkata: “Ketahuilah, dia adalah ‘Amr!”
Imam Ali as. menaati perintah Rasulullah saw. dan segera duduk kembali. Kembali ‘Amr mengejek kaum muslimin dan berkata: “Hai para sahabat Muhammad, mana surga yang kalian duga akan memasukinya jika kalian terbunuh? Siapakah di antara kalian yang menginginkannya?”

Pasukan muslimin membisu seribu bahasa. Imam Ali as. tetap memaksa Nabi saw. agar memberi izin untuk melawannya. Tak ada lagi alasan bagi Nabi untuk menolak desakan Ali as. Nabi saw. menetapkan sebuah
predikat bagi Ali as. sebagai tanda keagungan dan kehormatan. Beliau saw. bersabda: “Seluruh iman telah keluar untuk menentang seluruh kekufuran.”

Sungguh betapa predikat kehormatan yang kekal abadi dan bersinar bak matahari. Rasulullah saw. telah memberikan predikat “seluruh imam dan Islam” bagi Abul Husain dan predikat “seluruh kekufuran” bagi ‘Amr.

Setelah itu Nabi saw. mengangkat kedua tangan seraya memanjatkan doa dan harapan kepada Allah swt. agar menjaga putra pamannya itu. Beliau.Saw. berkata: “Ya Allah, Engkau telah mengambil Hamzah dariku di perang Uhud dan mengambil ‘Ubaidah di perang Badar. Maka jagalah Ali pada hari ini. Wahai tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku sendirian. Sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pewaris.”

Ali as. maju menyerang dengan penuh semangat. Ia tidak merasa takut dan gentar sedikitpun terhadap ‘Amr bin Abdi Wud. Ia bangkit dengan tekad yang kokoh membaja bak ksatria yang tak ada bandingannya. ‘Amr terkejut dengan pemuda yang berani maju untuk melawan dan tak gentar.

‘Amr bertanya: “Siapa kamu?”

Imam Ali menjawab dengan meremehkannya: “Aku adalah Ali bin
Abi Thalib.”

‘Amr menampakkan rasa kasihan kepadanya seraya berkata: “Dahulu, ayahmu adalah teman baikku.”

Imam Ali as. tidak bergeming sedikit pun dengan celotehan ‘Amr itu. Ia malah menjawab: “Hai ‘Amr, engkau telah berjanji kepada kaummu bahwa tidak seorang pun dari Quraisy yang mengajakmu kepada tiga karakter melainkan engkau pasti
menerimanya?”

‘Amr menjawab: “Ya, itulah janjiku.”

Ali as. berkata: “Aku mengajakmu kepada Islam.”

‘Amr tertawa seraya berkata kepada
Imam Ali sembari menghina: “Jadi, aku harus meninggalkan agama nenek moyangku? Jangan usik masalah ini!”

Ali as. berkata: “Aku akan menahan tanganku untuk membunuhmu, dan engkau bebas kembali.”

Mendengar ucapan lancang itu, ‘Amr marah dan berkata: “Jika begitu, bangsa Arab pasti membincangkan
kepengecutanku.”

Imam Ali as. melontarkan tawaran ketiga yang ‘Amr sendiri telah berjanji untuk menerimanya. Imam Ali berkata: "Kalau begitu, aku mengajakmu duel.”

‘Amr sangat terkejut dengan keberanian pemuda yang telah berani menantang dan menginjak-injak kehormatannya. ‘Amr turun dari
kudanya dan dengan cepat melayangkan pedangnya ke arah leher Imam Ali as. Imam menangkis
serangannya dengan prisai. Tetapi pedang ‘Amr dapat menembus ke
bagian kepala Imam Ali as. dan menciderainya. Muslimin yakin bahwa Imam Ali as. telah menjumpai ajal.

Tetapi Allah swt. menolong dan menjaganya. Imam Ali as. kembali menyerang ‘Amr dengan pedang hingga ia roboh. Ksatria Quraisy dan simbol kemusyrikan itu jatuh tersungkur di atas tanah dengan berlumuran darah seperti seekor sapi yang disembelih berlumuran darah. Imam Ali as. mengucapkan takbir yang diikuti oleh pasukan muslimin. Tulang 0unggung kemusyrikan telah runtu dan kekuatannya telah lumpuh.

Sementara Islam telah menggapai kemenangan yang gemilang melalui kegagahan Imam Al-Muttaqîn as. Sekali lagi Nabi saw. menghadiahkan predikat agung kepada Imam Ali as. di sepanjang sejarah. Ia bersabda:
“Sesungguhnya pertempuran Ali bin Abi Thalib atas ‘Amr bin Abdi Wud pada perang Khandak adalah lebih utama daripada amal umatku hingga
Hari Kiamat.”

Salah seorang sahabat Nabi saw. yan bernama Hudzaifah bin Al-Yaman berkata: “Seandainya keutamaan Ali. as. dengan membunuh ‘Amr pada perang Khandak itu dibagi-bagikan kepada seluruh kaum muslimin, niscaya keutamaan itu akan mencukupi mereka.”

Kemudian turun ayat kepada Rasulullah saw.:.”.. dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan (dengan memberikan kemenangan kepada mereka) ….” (QS. Al-Ahzâb [33]:25)

Tentang tafsir ayat ini Ibn Abbâs
berkata: “Sesungguhnya Allah mencukupkan kaum mukminin dengan pertempuran Ali as.”
Di samping itu, Imam Ali as. juga berhasil membunuh seorang prajurit Quraisy lainnya yang bernama Naufal bin Abdullah. Dengan demikian, Quraisy mengalami kekalahan yang telak. Ketika itu Rasulullah saw. bersabda: “Kini kita telah mengalahkan mereka, dan mereka tidak akan mampu mengalahkan kita.”

Akhirnya, pasukan kafir Quraisy mengalami kerugian dan kegagalan yang fatal. Sebaliknya, muslimin tidak mengalami kekalahan sedikit pun dalam peperangan ini.