Tampilkan postingan dengan label NKRI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NKRI. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Maret 2015

Bukan Kompor Meleduk, tapi Uranium yg Meletup

Bukan Kompor Meleduk, tapi Uranium yg Meletup.

Seorang sobat datang menghampiri di sela-sela malam tadi. Kebetulan saya baru saja pulang dari kegiatan sampai tengah malam.
Berbincang panjang lebar soal pekerjaan, sampai akhirnya masuk ke dalam obrolan seputar Kenaikkan harga BBM dan Bahan-bahan Pokok (Beras dan Gas 3kg).

Panjang lebar sobat ini mengejewantahkan kelemahan dan kesalahan Pemerintahan Jokowi menurut segi pandangnya.

Awalnya saya hanya menjawab, "Jokowi bukan Dewa Bang..."

Ia pun terus melanjutkan tuduhannya, dan komplainnya terhadap pemerintahan era 2014-2019 ini. Bahkan menyangkutpautkan segala hal yg berubah dalam hal ini menurunnya taraf kesenjangan rakyat dan mengatakan, "Si Pak De aja, dulu waktu zaman SBY. Minumannya Jack Daniel, lah sekarang zaman Jokowi jadi turun drastis. Dari Jack Daniel yg harganya lumayan mahal, beralih ke Tuak (air tape) yg harganya cuma 7ribu perak." cetus nya dengan amat emosional.

Sayangnya karena atmosfer yg terlihat makin memanas, membuat saya enggan untuk menimpalinya lagi. Karena khawatir meledaknya emosi sobat tersebut. Maka saya hanya mengatakan, "Indonesia Negara Besar Bang, mustahil Jokowi menguatkan Negara ini sendiri. Kita butuh orang-orang kuat untuk menghadapi berbagai macam siklus, naik turunnya Perekonomian, Pasang-surutnya Pendidikan, jatuh bangunnya Pemberdayaan, juga maju dan mundurnya perkembangan. Kalo dengan problema yg seperti ini saja Abang sudah mengeluh, dalam hal ini merasa lemah. Lantas bagaimana Indonesia bisa maju ke depannya untuk menghadapi berbagai siklus lainnya...??"

Kesadaran Politik adalah Kesadaran Kebangsaan.

"Hidup ini Keras Bray!! Kalo lo lemah, nyerah aja... Lambai-lambai tangan, kali aja Malaikat Maut Lihat....?"

Ridhwan al-Kulani, Depok 10 Maret 2015.

Selasa, 24 Februari 2015

Che Guevara

     Surat dari Che Guevara, untuk Kawan-kawan Muda Kami percaya bahwa perjuangan revolusioner adalah suatu perjuangan yang sangat panjang, sangat sulit. Sulit, tetapi jelas tidak berarti mustahil, bahwa suatu kemenangan revolusi di suatu negara hanya akan terjadi di negara itu saja. (Che Guevara)

     Kalau aku boleh memilih untuk berjuang, mungkin saat ini aku ingin tinggal bersama kalian. Melewati jalanan yang padat lalu lintas, dengan iring-iringan spanduk yang panjang, kalian ketuk nurani para penguasa. Kaum yang berbaju megah, berkendaraan bagus dan punya mobil mengkilap.  Kalian pertaruhkan segalanya, kesempatan untuk hidup senang, kemapanan pekerjaan, dan sekolah yang kini kian mahal.

    Buang segala teori sosial yang ternyata tak bisa membaca kenyataan. Keluar kalian dari training-training yang pada akhirnya tidakmembuat kita paham dan mau membela orang miskin. Ku pilih tinggal serta berjuang di hutan karena di sana aku kembali mendengar rintih dan suara orang yang hidupnya menderita.

     Andaikan aku masih diberi kesempatan untuk kembali ke negerimu pastilah aku enggan untuk duduk di kursi. Akan aku habiskan waktuku untuk mengelilingi kotamu yang padat dengan orang miskin.Akan ku sapa setiap anak lapar yang menjinjing bekas botol minuman untuk mendapat uang receh.A kan aku datangi para nelayan yang kini lautnya dipenuhi oleh pipa-pipa gas perusahaan asing. Akan ku bantu para buruh bangunan yang menghabiskan waktunya untuk memanggul alat-alat berat. Dan akan ku temani para buruh pabrik yang masih saja diancam oleh PHK. Tentu aku akan mendatangimu anak muda, yang resah dengan kenaikan BBM atau proyek pendidikan yang kian hari kian mahal. Ku rasa aku tidak bisa istirahat jika tinggal di negerimu.

      Kalau aku boleh memilih untuk melawan, mungkin sekarang ini aku akan duduk bersama kalian . Aku akan bilang kalau perjuangan bukan saja melalui tulisan, puisi, buku, apalgi setajuk proposal! Perjuangan butuh keringat, pekikan suara, dan dentuman kata-kata. Kita bukan melawan seekor siput tapi buaya yang akan menerkam jika kita lengah. Hutan rimba mengajariku untuk tidak mudah percaya pada mulut-mulut manis. Hutan rimba mendidikku untuk tidak terlalu yakin dengan janji. Aku sudah hapal mana tabiat srigala dan mana watak kelinci. Kalau kau baca tulisanku, mustinya kau bisa meyakini, kalau kekuasaan hanya bisa bertahan selama kita mematuhinnya. Kekuasaan bisa bertahan selama mereka mampu menebar ketakutan. Dan aku sejak dulu dididik untuk selalu sangsi dan curiga pada penguasa!

      Kalau aku bisa memilih, mungkin sekarang aku ingin berjalan dengan kalian . Menonton orang-orang pandai berdebat di muka televisi atau aktivis yang melacurkan keyakinannya. Ngeri aku menyaksikan orang-orang pandai yang berbohong dengan ilmunya. Sederet angka dibuat untuk membuat orang percaya bahwa si miskin makin hari makin berkurang. Menonton aktivi senior yang kini juga berebut untuk duduk jadi penguasa. Matanya: di dalam kekuasaan tidak ada suara rakyat maka kita mengisinya.

      Aku bilang, itulah para pembual yang yakin jika perubahan bisa muncul karena kita duduk di belakang meja. Demokrasi acapkali berangkat dari dalil yang naif seperti itu. Aku sayangnya tak lagi bisa memilih, untuk berdiri dan berbincang dengan kalian semua. Anak muda, aku telah tuliskan puluhan karya untuk menemanimu. Dibungkus dengan sampul wajahku, yang tampak belia dan mungkin tampan, aku tuangkan pesan kepada kalian.

      Keberanian yang membuat kalian akan tahan dalam situasi apapun! Hutan melatihku untuk percaya kalau kemapanan, kenikmatan badaniah, apalagi kekayaan hanya menjadi racun bagi tubuh kita. Kemapanan membuat otakmu makin lama makin bebal. Kau hanya mampu mengunyah teori untuk disemburkan lagi. Kemapanan membuat hidupmu seperti seekor ular yang hanya mampu berjalan merayap. Kekayaan akan membuat tubuhmu seperti sebatang bangkai. Hutan melatihku untuk menggunakan badanku secara penuh. Kakiku untuk lari kencang bila musuh datang dan tanganku untuk mengayun pukulan jika aku diserang. Anak muda, nyali sama harganya dengan nyawa. Jika itu hilang, niscaya tak ada gunanya kau hidup!

      Keberanian itu seperti sikap keberimanan. Jika kau peroleh keberanian maka kau memiliki harga diri. Sikap bermartabat yang membuatmu tidak mudah untuk dibujuk. Hutan membuatku selalu awas dengan ketenangan, kedamaian, dan cicit suara burung. Hutan melatihku untuk sensitif pada suara apa saja. Jangan mudah kau terpikat oleh kedudukan, pengaruh, dan ketenaran. Kedudukan yang tinggi akan membuatmu seperti manusia yang diatur oleh mesin. Ku tinggalkan jabatan menteri karena hidupku menjadi lebih terbatas dan ruang sosialku dipenuhi oleh manusia budak, yang bergerak kalau disuruh. Apalagi ketenaran hanya akan mendorongmu untuk selalu ingin menyenangkan semua orang, membuat lumpuh energi perlawananmu.

      Ingat, racun segala perubahan ketika dirimu merasa nyaman. Rasa nyaman yang kini ku saksikan di sekelilingmu. Anak-anak muda yang puas menjadi pekerja upahan sambil menyita tanah sesamanya. Ada anak muda yang duduk di parlemen malah minta tambahan gaji! Anak muda yang lain dengan tenaganya menyumbangkan diri untuk menjadi preman bagi kekuasaan bandit. Bahkan pendidikan hukum mereka gunakan untuk membela kaum pengusaha ketimbang orang miskin. Anak-anak muda yang banyak lagak ini memang tidak bisa dibinasakan. Mereka hidup karena ada kemiskinan, keculasan kekuasaan, dan lindungan proyek lembaga donor. Aku enggan untuk berjumpa dengan anak muda yang hanya mengandalkan titel,keperkasaan, dan kelincahan berdebat.  Aku ragu apakah mereka mampu serta sanggup untuk melawan arus. Arus itulah yang kini menenggelamkan nyali kita semua.

      Murah sekali harga seorang aktivis yang dulu lantang melawan, tapi kini duduk empuk jadi penguasa. Murah sekali harga idealisme seorang ilmuwan yang mau menyajikan data bohong tentang kemiskinan. Murah sekali harga seorang penyair yang mau rame-rame mendukung pencabutan subsidi.

      Aku gusar memandang negerimu, yang tidak lagi punya ksatria pemberani. Seorang kstaria yang mau hidup dalam kesunyian dan dengan gagah meneriakkan perlawanan.

      Tulisan adalah senjata sekaligus bujukan yang bisa menghanyutkan kesadaran perlawanan. Kau harus berani mempertahankan nyalimu untuk selalu bertanya pada kemapanan, kelaziman, dan segala bentuk pidato yang disuarakan oleh para penguasa. Yang kau hadapi sekarang ini adalah sistem yang kuncinya tidak terletak pada satu orang. Kau berhadapan dengan dunia pendidikan yang menghasilkan ilmu tentang bagaimana jadi budak yang baik. Kau kini bergulat dengan teman-temanmu sendiri yang bosan hidup berjuang tanpa uang. Kau sebal dengan parlemen yang dulu ikut kau pilih, tetapi kini tambah membuat kebijakan yang menyudutkan rakyat. Kau perlahan-lahan jadi orang yang hanya mampu melampiaskan kemarahan tanpa mampu untuk merubah. Kau kemudian percaya kalau pemecahannya adalah melalui mekanisme, partisipasi, dan dukungan logisistik yang mencukupi. Kau diam-diam tak lagi percaya dengan revolusi.

      Kau yakin perubahan bisa berjalan kalau dijalankan dengan berangsur-angsur dan membuat jaringan. Gerakanmu lama-lama mirip dengan bisnis MLM.

      Saudaraku yang baik! Hukum perubahan sosial sejak dulu tidak berubah. Kau perlu dedikasikan hidupmu untuk kata yang hingga kini seperti mantera: lawan! Lawanlah dirimu sendiri yang mudah sekali percaya pada teori perubahan sosial yang hanya cocok untuk didiskusikan ketimbang dikerjakan.Lawanlah pikiranmu yang kini disibukkan oleh riset dan penelitian yang sepele. Kemiskinan tak usah lagi dicari penyebabnya tapi cari sistem apa yang harus bertanggungjawab. Ajak pikiranmu untuk membaca kembali apa yang dulu ku kerjakan dan apa yang sekarang dikerjakan oleh gerakan sosial di berbagai belahan dunia. Gabungkan dirimu bukan dengan LSM, tapi bersama-sama orang miskin untuk bekerja membuat sistem produksi.

      Tak ada yang bermartabat dari seorang anak muda, kecuali dua hal: bekerja untuk melawan penindasan dan melatih dirinya untuk selalu melawan kemapanan.

"Che Guevara" oleh AH Ali Reza

Jumat, 20 Februari 2015

Lelaki di Tengah Badai

   AKHIR 1999, keputusan mengejutkan datang dari Boris Yeltsin Presiden Rusia kala itu. Ia mengundurkan diri dari kursi Presiden dan menunjuk Vladimir Putin, Wakil Perdana Menteri, untuk bertindak sebagai Presiden sampai Pemilu di tahun 2000.
     Yeltsin meninggalkan hutang triliunan rupiah dari hasil hutang kepada IMF dan World Bank. Hutang ini dinikmati kaum Oligarki "kaya raya" yang sebenarnya adalah binaan Yeltsin juga, untuk membeli perusahaan negara atau privatisasi.Hancurnya ekonomi Rusia pada waktu itu, yang disebut Yeltsin sebagai kesalahan administrasi, membuat Rusia pada posisi "miskin". Bahkan dikabarkan, untuk menopang hidup pasukan Rusia terpaksa harus berjualan sayur mayur.
      Vladimir Putin bergerak merubah konsep ekonominyake arah pasar bebas yang disesuaikan dengan situasi Rusia. Rusia seperti kembali ke masa Uni Sovyet saat dipimpin Lenin. 5 tahun kepemimpinannya, Putin berhasil membayar hutang-hutan negaranya dan bahkan karena tertarik dengan Putin, beberapa kreditor Internasional mau hutangnya tidak dibayar dulu.
      Dalam kepemimpinannya, Putin berhasil membongkar skandal keuangan negara. Tapi satu yang tidak dilakukannya, yaitu mengungkit kesalahan Boris Yeltsin sampai ia meninggal. Inilah yang mungkin mendasari keputusan Presiden Jokowi dalam kebijakannya.  Niat KPK untuk kembali membuka kasus BLBI yang terjadi saat pemerintahan Megawati, memunculkan riak yang besar.  Apalagi Abraham Samad pernah mengatakan bahwa ia tidak takut memanggil Megawati, meski mereka sekarang berkuasa.
      PDI-P secara bergelombang melindungi simbol partainya supaya tidak terjadi kehancuran fisik dan mental. Mulai dari cara halus sampai cara kasar diperlihatkan demi sebuah tujuan. Komjen BG disiapkan untuk menghalangi niat KPK dan menghajarnya..
      Yang terjadi dan sudah kita lihat adalah benturan yang diciptakan dan membuat rakyat ini terbelah. Presiden melakukan 2 langkah sekaligus, tidak melantik BG karena mengikuti kehendak rakyat dan memberhentikan 2 pimpinan KPK, untuk mencegah situasi membesar dan tidak terkendali. AS dan BW memang harus dihentikan langkahnya. Bukan karena Presiden tidak berterima-kasih kepada mereka, tetapi untuk melindungi keutuhan bangsa. Masyarakat yang tidak mengerti "situasi besar" yang terjadi, bergerak dengan naluri untuk melindungi KPK. Dan potensi benturan massal begitu kuatnya. Supaya situasi tidak memburuk, harus ada yang berkorban dan dikorbankan.
     Seperti Putin, Jokowi lebih memprioritaskan membangun negara ini supaya bisa membayar hutang-hutang negara dan menuju ke arah yang lebih sejahtera. Dan fokus program ini akan terganggu ketika "isu sensitif" menjadi bola salju yang membesar. Sebenarnya memang ketika rakyat sudah sejahtera, mereka cenderung tidak memperdulikan apa yang terjadi di masa lalu.
      Kebanggaan-kebanggan terhadap nasionalisme bangsa ditanamkan, sehingga diharapkan publik tidak terlalu sensitif bahwa pernah terjadi "kesalahan administrasi". Lapangan pekerjaan dibangun supaya perut kenyang, karena rasa lapar bisa membuat seseorang menjual dirinya. Jokowi mencoba meredam semua konflik yang mungkin terjadi. Ia tidak menyentuh BLBI, tidak menyentuh Century, bahkan tidak menyentuh peristiwa '98. Ia lebih fokus bekerja untuk masa depan karena masa lalu ketika dibahas tidak akan ada habisnya. Karena itu keputusannya cenderung bijaksana dan menengahi daripada mengambil posisi.
     Seperti masa kanak-kanak, Jokowi kecil menyuruh AS kecil dan BW kecil untuk menjauh sebentar karena ibunya sedang tidak suka kepadanya, dan mencarikan tempat untuk BG kecil yang disayang ibunya, supaya sang ibu tetap tersenyum di hari senja-nya. Ia bukan anak yang selalu menuruti kata ibunya, bahkan cenderung kepala batu dan bersimpangan. Tapi yang pasti, ia bukan anak durhaka. Ia menunjukkan rasa sayang dan terima-kasihnya dengan caranya sendiri. Bengal, tapi tidak menanggalkan rasa hormat.
      Bagai secangkir kopi, Jokowi memainkan takaran, menyeimbangkan pahit dan manis, dalam menyelesaikan masalahnya. Tidak terlalu pahit, tapi juga tidak terlalu manis. Pas! Dan menariknya, takaran yang ia buat disukai masyarakat Indonesia. Meski ada beberapa orang yang tidak suka, itu wajar. Toh, ia tidak bisa menyenangkan semua orang.
      Apa yang dilakukan Vladimir Putin dan Jokowi mengajarkan kepada kita, bahwa seorang lelaki teruji dari ketenangannya saat menghadapi badai.

Ditulis Oleh: Denny Siregar ,  tinggal di Jakarta.

Revolusi ala Bung Karno

     'Politik adalah seni kemungkinan’. Itulah kata ahli politik Prusia-Jerman, Otto von Bismarck (1815-1898), yang banyak menjadi rujukan banyak aktor politik di Indonesia.

     Mantan Presiden SBY pernah mengutip kata-kata Von Bismarck itu. Dalam politik, kata SBY, segala kemungkinan bisa terjadi. Hal yang kita anggap tidak mungkin terjadi bisa saja terjadi. Kemungkinan itu selalu ada. Karena itu, seperti dikatakan Von Bismarck, politik adalah seni menggunakan kemungkinan-kemungkinan.

         Tetapi cara pandang di atas bermasalah. Politik diandaikan berada di tapal batas yang sangat tipis antara kepastian dan ketidakpastian. Alhasil, kita hanya penunggu peluang. Selain itu, kita terkondisikan untuk pasrah terhadap keadaan; dipaksa menerima realpolitik. Dan, ketika anda pasrah terhadap realpolitik, maka orang bisa terjebak pada pembelaan terhadap keadaan ‘status-quo’. Sebab, membatasi diri pada realpolitik berarti memilih berbuat tidak melakukan apa-apa terhadap keadaan, khususnya terhadap imbangan kekuatan yang ada. Artinya, anda menerima dominasi dan hegemoni klas berkuasa. Soekarno tidak setuju dengan defenisi itu. Di tahun 1961, Soekarno pernah mengeluarkan defenisi berbeda. Bagi Soekarno, politik adalah ‘seni memungkinkan apa yang tidak mungkin di masa lampau’. Jadi, bagi Soekarno, politik adalah seni membuat ‘yang tidak mungkin’ menjadi ‘mungkin’.

     Defenisi politik ala Soekarno ini sangat revolusioner. Pertama, berbeda dengan ‘politik sebagai seni kemungkinan’ yang menganggap politik susah diprediksi, politik ala Soekarno justru berupaya memberi kepastian melalui intervensi aktif untuk mengubah keadaan. Kedua, kalau ‘politik sebagai seni kemungkinan’ membuat orang hanya sebagai penunggu peluang, maka politik ala Soekarno justru mendorong aktor politik untuk aktif menciptakan peluang. Ketiga, kalau ‘politik sebagai seni kemungkinan’ membuat orang pasrah terhadap realpolitik , maka politik ala Soekarno berupaya menciptakan jalan atau syarat-syarat untuk terjadinya perubahan keadaan. Bukan berarti politik revolusioner ala Soekarno itu tidak memijak realitas. Sebaliknya, politik ala Soekarno ini mengakui realitas sosial, ekonom dan politik yang ada. Hanya saja, bagi Soekarno, kaum revolusioner tidak bole berpangku tangan, sembari menunggu peluang datang, tetapi harus aktif mengubah imbangan kekuatan yang ada agar terbuka peluang untuk mengubah keadaan.

     Dalam konteks itu, Soekarno kemudian memperkenalkan konsep ‘machtsvorming’, yakni seni membangun kekuatan sosial untuk melancarkan tekanan/paksaan terhadap musuh atau kaum penindas. Menurut Soekarno, sebelum menjalankan machtsvorming ini, perlu didefenisikan dulu siapa kawan dan lawan; atau dalam bahasa Soekarno, penciptaan garis pemisah yang tegas antara kaum sana dan kaum sini. Setelah defenisi kawan dan musuh sudah jelas, maka kita bicara soal ‘imbangan kekuatan’ antara kita dan musuh. Dalam konteks ini, kita dan musuh berada dalam posisi diametral: berhadap-hadapan. Artinya, jika kekuatan musuh menguat, berarti kita melemah. Sebaliknya, jika kita menguat, maka kekuatan musuh tergerogoti.

     Pertanyaanya kemudian, bagaimana proses pembangunan kekuatan atau machtsvorming ini dijalankan? Di sini, merujuk pada Soekarno, kaum revolusioner diharuskan: pertama, memanfaatkan setiap ruang atau keadaan yang ada untuk membangun pergerakan; dan kedua, menciptakan ruang atau panggung politik untuk membangun pergerakan rakyat.

     Untuk kategori yang pertama, Soekarno menganjurkan kaum revolusioner untuk terlibat dan memimpin perjuangan rakyat sehari-hari, seperti perjuangan untuk upah, penurunan pajak, penghapusan kerja rodi, dan lain-lain. Selain itu, kaum revolusioner juga bisa mengintervensi momentum-momentum politik, seperti pemilihan dan lain-lain. Output dari intervensi ini adalah pembangunan organisasi rakyat, seperti serikat buruh dan organisasi kaum marhaen. Untuk kategori yang kedua, Soekarno mendorong kaum revolusioner menciptakan panggung politik sendiri, seperti Rapat Akbar (vergadering), kursus politik, dan pertemuan-pertemuan massa lainnya, yang memungkinkan kaum pergerakan melancarkan agitasi dan propaganda kepada massa luas. Soekarno juga menganjurkan kaum revolusioner melakukan propaganda seluas-luasnya melalui famplet, majalah, koran, risalah-risalah (buku-buku), dan lain-lain.

      Seorang revolusioner, di mata Soekarno, tidak boleh berpangku tangan melihat keadaan yang tidak menguntungkan, tetapi harus bergerak aktif untuk mengubahnya agar menguntungkan. Tentunya melalui penciptaan panggung-panggung politik untuk meluaskan agitasi dan propaganda kepada massa luas.

     Soekarno mencontohkan hal itu saat menjalani pembuangan di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Waktu itu pihak kolonialis berkeyakinan, kalau Soekarno dibuang ke Pulau Ende, sebuah tempat yang terisolir dan jauh dari hiruk-pikuk politik, maka pergerakan politik Soekarno akan berhenti. Maklum, Ende yang saat itu berpenduduk tidak lebih dari 5000-an jiwa, dengan sebagian besar penduduknya buta-huruf dan belum mengerti bahasa melayu/Indonesia, dengan akses informasi, buku-buku, dan surat-menyurat yang terbatas, memang sulit untuk menjadi lahan basah bagi tumbuhnya pergerakan nasional.

     Tetapi, rupanya, Soekarno tidak patah arang. Sebagai seorang manusia politik, ia mulai menciptakan panggung. Panggung pertamanya yang dibuatnya adalah pengajian rutin di rumahnya. Dengan begitu, penduduk sekitar bisa berkumpul di rumahnya. Tak hanya itu, cara ini efektif untuk mendekatkan Soekarno dengan massa luas. Setelah itu, Soekarno mulai mendekati para pastor SVD di Ende, yakni P. Johanes Bouma (Regional atau pemimpin SVD Region Sunda Kecil) dan P. Gerardus Huijtink (Pastor Paroki Ende). Di sinilah Soekarno mulai mengakses bacaan dan sekaligus informasi. Kemudian, Soekarno membentuk kelompok Sandiwara bernama “Kelimoetoe Toneel Club”. Jumlah anggotanya 47 orang. Melalui kelompok sandiwara ini, Soekarno menyelipkan agitasi-propaganda berbau anti-kolonial melalui naskah dan lakon yang dimainkan. Tak hanya itu, pementasan sandiwara ini bisa menjadi ala bagi Soekarno untuk mengorganisir massa.

     Itulah politik revolusioner ala Soekarno. Kendati ‘benih revolusioner’ itu jatuh di tanah yang tandus, ia sanggup tumbuh dan berkembang. Ia tidak pasrah terhadap keadaan sembari mengutuki kegelapan. Tetapi, ia berusah mencari atau menciptakan cahaya–sekecil apapun cahaya itu. Kusno, anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD)

Selasa, 17 Februari 2015

Warisi Apinya Bukan Abunya!!

Beberapa saat sebelum Megawati Soekarnoputri memberi mandat kepada Joko Widodo (Jokowi) untuk menjadi Calon Presiden dari PDI Perjuangan, Ia sempat mengajak Jokowi menziarahi makam Bung Karno di Blitar, Jawa Timur. Sekarang, menjelang keputusan PDIP menunjuk Calon Wapres pendamping Jokowi, Megawati kembali berencana bersiarah ke makam Bung Karno. Memang, ketika menjelang mengambi keputusan penting, Megawati kerap nyekar di makam Bung Karno.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan ziarah sebagai ‘ kunjungan ke tempat yang dianggap keramat atau mulia, seperti kuburan. Biasanya, mereka yang melakukan ziarah ke makam tokoh besar berharap mendapat ‘petunjuk’. Tak hanya Megawati, masyarakat umum pun banyak yang menziarahi makam Soekarno. Diantara mereka banyak yang merupakan pengagum figur Soekarno. Sebagian lagi mencari ‘petunjuk’ dari kuburan Soekarno yang dianggap keramat. Akhir-akhir ini, terutama sejak runtuhnya Orde Baru, figur Soekarno kembali mencuat. Banyak orang yang merindukan dan mengaguminya. Tidak sedikit pula yang memujanya. Dalam kampanye pemilu, foto Soekarno kadang iku ‘nimbrung’ di baliho Caleg. Ada juga partai yang sengaja mengarak fotonya dalam kampanye. Tak hanya itu, tokoh-tokoh politik yang krisis identitas terkadang mencaplok gaya Soekarno, entah gaya pidatonya, cara berpakaiannya, dan lain-lain. Bahkan, seorang capres yang gandrung dengan dogma neoliberal, yang baru-baru ini menyerahkan leher bangsa ini ke KTM-WTO di Bali, juga mengaku kemana-mana bahwa dirinya belajar dari Soekarno.

Itulah yang terjadi: Soekarno dipuja-puji setinggi langit, patungnya berdiri di sejumlah tempat, makamnya tidak pernah sepi pengunjung, dan lain sebagainya. Sementara ajaran Soekarno, terutama marhaenisme, sosio-nasionalisme, dan sosio-demokrasi, nyaris tidak tersentuh dan dielaborasi sesuai semangat zaman.

Lenin pernah memperingatkan bahaya ketika tokoh revolusioner, yang sudah meninggal dunia, dipuja-puji berlebihan dan dibangunkan patung-patung suci. Biasanya, kata Lenin, ketika tokoh revolusioner masih hidup, ia dikejar-kejar dan ajarannya diharamkan. Namun, begitu meninggal dunia, maka klas penindas akan mengubah mereka menjadi patung-patun suci yang tidak membahayakan. “..menyatakan mereka sebagai orang-orang suci, memberikan keharuman tertentu kepada nama-nama mereka untuk jadi penghibur bagi kelas-kelas tertindas dan untuk menipu mereka, bersamaan dengan itu mengebiri esensi ajaran revolusioner, menumpulkan ujung revolusionernya yang tajam, dan memvulgarkannya,” tulis Lenin di risalah terkenalnya, Negara dan Revolusi , tahun 1917.

Soekarno juga mengalami hal tersebut. Ketika masih hidup, para penjilat yang pura-pura mendukungnya, yakni militer dan sipil anti-komunis, memaksa Soekarno menerima gelar Presiden Seumur Hidup . Akibatnya, hingga sekarang, gelar paksaan itu menjadi dalih bagi orang untuk mengaitkan Soekarno dengan otoritarianisme. Juga gelar-gelar yang lain, seperti Paduka Yang Mulia , Pemimpin Besar Revolusi, dan lain sebagainya.

Di masa Orde Baru, Soekarno dan ajarannya ditindas. Pada tahun 1966, MPRS yang dikomandoi oleh AH Nasution mengeluarkan Ketetapan (TAP), yakni Tap Nomor XXXIII/MPRS/1966 tentang Pencabutan Kekuasaan Soekarno dan Tap MPR XXVI/ MPRS/1966 tentang Pembentukan Panitia Peneliti Ajaran-ajaran Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno. Kedua TAP MPRS itu sangat melecehkan Soekarno dan ajaran-ajarannya.

Tak hanya itu, melalui TAP MPRS nomor XXV tahun 1996, marxisme resmi dilarang. Padahal, marxisme punya kontribusi besar dalam memperkaya pemikiran politik progressif para pejuang kemerdekaan Indonesia, termasuk Soekarno. Marxisme berjasa besar dalam membentuk nasionalisme Indonesia yang kiri, yang punya komitmen besar terhadap kesetaraan dan keadilan sosial, sembari memagarinya dari bahaya chauvinisme dan fasisme.

Soekarno sendiri menganggap marxisme sebagai senjata analisa paling tajam untuk membedah keadaan ekonomi, sosial dan budaya sekaligus sebagai teori panduan untuk melancarkan aksi. Di kongres Partindo di Jakarta, 26 Desember 1961, Soekarno menegaskan bahwa marhaenisme adalah marxisme yang diselenggarakan, dicocokkan, dilaksanakan di Indonesia. Artinya, dengan pelarangan marxisme, ajaran marhaenisme pun kehilangan pijakan berpikirnya.

Sayang, ketika Megawati Soekarnoputri menjadi Presiden dari tahun 2001 hingga 2004, semua TAP MPRS yang melecehkan Soekarno dan ajarannya itu tidak dicabut. PDI Perjuangan, partai yang selalu mengklaim sebagai pewaris ideologi Soekarno, juga sangat lunak ketika memperjuangkan penghapusan semua TAP MPRS tersebut. Inilah masalahnya: sosok Soekarno diagung-agungkan, fotonya dipajang dan diarak di setiap pemilu, gaya pidatonya ditiru banyak elit politik, kata-katanya dikutip dimana-mana, tetapi pemikiran dan ajarannya diabaikan. TAP MPRS yang membelenggu ajaran Soekarno tidak pernah dicabut secara resmi.

Saya kira, yang penting dari historiografi seorang revolusioner bukan hanya soal perjalanan hidupnya, tetapi yang lebih penting adalah menyelidiki apa yang diwariskannya. Dengan begitu, kita sebagai “pelanjut angkatan” bisa memetik pelajaran darinya dan melanjutkan cita-citanya. Atau, seperti yang sering dikatakan Soekarno sendiri: “ambil apinya, bukan abunya.” Bagi saya, ada dua hal penting dari warisan Soekarno dan relevan untuk sekarang ini: pemikiran/ajaran dan proyek cita-cita politiknya. Dan saya kira, yang paling ditakuti oleh musuh Soekarno sepanjang sejarah, yakni kolonialisme, imperialisme, dan kapitalisme, adalah dua hal tersebut: pemikiran dan proyek politiknya. Tak bisa disangkal, pemikiran Soekarno berkontribusi besar dalam penyadaran dan mobilisasi kelas popular di Indonesia dalam kerangka melawan kolonialisme, imperialisme, dan kapitalisme. Hal ini tidak lepas dari kemampuan Soekarno memperkenalkan pemikiran-pemikirannya, baik melalui bacaan maupun pidato, dengan bahasa sangat sederhana dan gampang dicerna oleh rakyat jelata. Tak bisa disangkal, dari sekian banyak pemimpin revolusioner di Indonesia, Soekarno-lah yang memiliki pengikut terbanyak.

Ajaran Soekarno adalah marhaenisme, yakni sebuah azas politik yang menghendaki sebuah susunan masyarakat tanpa imperialisme dan kapitalisme. Namun, dalam kerangka mewujudkan cita-cita itu, marhaenisme berpijak pada dua pemikiran Soekarno juga, yakni sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi. Sayang, inti-inti ajaran Soekarno ini jarang dielaborasi hingga sekarang, bahkan oleh partai dan gerakan politik yang ‘mendaku’ sebagai pewaris ajaran Soekarno.

Soekarno sendiri mengatakan, untuk memahami marhaenisme dengan tepat dan benar, ada dua hal mendasar yang mesti dikuasai terlebih dahulu: pertama , pengetahuan yang mendalam mengenai situasi dan kondisi Indonesia; dan kedua , pengetahuan yang mendalam mengenai marxisme. Tanpa menguasai dual tersebut, kata Soekarno, seseorang tidak akan memahami marhaenisme. Pertanyaannya kemudian, bagaimana orang belajar marhaenisme ketika marxisme masih menjadi barang terlarang di Indonesia?

Soekarno, yang meninggal 43 tahun yang lalu, juga mewariskan cita-cita besar bagi bangsa Indonesia, yakni proyek sosialisme Indonesia, yakni sebuah masyarakat yang di dalamnya tidak ada lagi kapitalisme dan l’exploitation de l’homme par I’homme (penghisapan manusia atas manusia). Soekarno juga mewariskan cita- cita besar untuk seluruh umat manusia di dunia, yakni tatanan dunia baru tanpa tanpa ‘ exploitation de l‘homme par l‘homme ’ dan ‘ exploitation de nation par nation’ . Sayang, karena interupsi oleh kudeta Soeharto yang disokong oleh kaum imperialis di pertengahan 1960-an, cita-cita itu tidak kesampaian. Justru, karena itu, tugas para “Soekarnois” sekarang adalah melanjutkan proyek cita-cita Soekarno itu. Namun, untuk melanjutkan cita-cita itu, kita harus terbuka untuk mendiskusikan apa yang sudah dibangun oleh Soekarno dan yang belum, apa yang melenceng dan apa yang sudah tepat, apa yang perlu dikoreksi dan apa yang harus diperkuat. Saya kira, pendiskusian terbuka soal ini justru akan menjadikan proyek politik Soekarno menjadi hidup dan sesuai dengan konteks zaman.

Indonesia dan Tradisi Jahiliyyah Part.2 (Kotak-Kotak)

        Bhinneka Tunggal Ika. Sebuah kata yang menjadi semboyan utama dari Negeri Kesatuan yang kita cintai ini. Dimana kita bersatu diatas sekian banyak perbedaan yang meliputi tanah, perairan, bahasa, budaya, adat istiadat, dll. Ibarat warna mungkin Negara ini adalah Pelangi yang berwarna – warni. Banyak Manfaat yang kita dapat akibat Persatuan yang terjadi di Nusantara. Salah satunya adalah memerdekakan Tanah Air dari Penjajah – penjajah di masa lampau. Juga kita mengenal Peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi Pilar Utama Persatuan dan Kesatuan Rakyat Indonesia di masa PraKemerdekaan.
        Jelas kita semua mengetahui betapa Persatuan dan Kesatuan amat berarti bagi Negeri dan Bangsa ini. Sumpah Pemuda adalah bukti otentik bahwa tanggal 28Oktober 1928 bangsa Indonesia dilahirkan. Oleh karena itu sudah seharusnya segenap rakyat Indonesia memperingati momentum 28 Oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia. Proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudian mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia asli, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945.
        Menarik tajuk diatas yang berbunyi “Kotak – Kotak”  artikel ini kembali menyajikan perbandingan dan analogi antara Beberapa Kejadian dalam Sejarah dan menyajikannya menjadi sebuah Permasalahan yang harus segera di sikapi dengan baik dan cermat. Judulnya pun masih sama seperti Pembahasan saya sebelumnya, yang mengusung Budaya Indonesia masa kini dengan tradisi Jahiliyah masa lampau yang berasal dari Tanah Arab. Sebelumnya saya sampaikan maaf jika dari artikel saya ini yg menyinggung Kebudayaan Lama Orang Arab dimasa Jahiliyah ataupun gaya Radikal beberapa Ormas yang ada di Indonesia. Saya hanya bermaksud mengenang Persatuan Bangsa ini dan berharap menemukkan kembali serat – serat Nasionalisme yang mulai kendur di antara Rakyat Indonesia.
        Mari kita cermati Latar Belakang terbentuknya Sumpah Pemuda pada 1928 silam. Sumpah Pemuda lahir dari hasil perkembangan Organisasi Budi Utomo yang melahirkan beberapa Organisasi Kepemudaan, seperti Tri Koro Darmo (Jong Java),  Jong Sumatranen Bond,  Jong Minahasa,  Jong Betawi, dan lain - lain.  Organisasi - organisasi itulah yang menjadi cikal bakal lahirnya Sumpah Pemuda. Untuk mewujudkan persatuan organisasi - organisasi tersebut, mereka kemudian melakukan pertemuan dalam rangka mencapai kata mufakat. Pada 15 November 1925, mereka mengadakan kongres pemuda untukmembentuk panitia pelaksanaan kesepakatan bersama. Kemudian, pada 30 April1926, organisasi - organisasi itu berkumpul dan membentuk rapat besar yang dikenal sebagai Kongres Pemuda I.


       Dua tahun setelah itu, pada 26 - 28 Oktober 1929, organisasi - organisasi pemuda, mahasiswa, dan partai politik, berkumpul kembali dalam Kongres Pemuda II, dengan agenda utama mempersatukan dan mengobarkan semangat perjuangan dalam diri masing - masing peserta. Pada hari ketiga kongres itulah Sumpah Pemuda dideklarasikan. Rumusan Sumpah Pemuda ditulis oleh Muhammad Yamin pada sebuah kertas, ketika Mr. Sunario sebagai utusan kepanduan tengah berpidato pada sesi terakhir kongres.Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo, dan kemudian dijelaskan panjanglebar oleh Muhammad Yamin. Pada hari itu, secara resmi Muhammad Yamin mengusulkan agar bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan Indonesia, dan di hari itu pula untuk pertama kalinya W.R. Supratman memperdengarkan lagu “Indonesia Raya” melalui gesekan biola yang diiringi alunan piano Dolly, putri Haji Agus Salim.
       Indahnya Indonesiaku, dengan Keberagaman Suku dan Budayanya bersatu padu menjadi Satu. Fakta yang saya ketahui mengenai Budaya Jahiliyah adalah, terbaginya Bangsa Arab menjadi banyak Kaum. Pastilah di dalam sebuah perpecahan ada permasalahan atau konflik yang menjadi pemicu perpecahan tersebut. Akankah Indonesia yang memiliki banyak suku ini akan berpecah kembali dan kehilangan Persatuannya selama ini? Realitanya sudah banyak konflik antar suku yang beberapa kali terjadi di Indonesia. Mulai yang di picu dari sengketa tanah, area kekuasaan,dsb.
       Beberapa media lokal baik media visual atau tertulis menggambarkan perpecahan – perpecahan yang kini terjadi. Bukan hanya mengenai suku dan Budaya, melainkan menjalar kearah Pemahaman dan sudut Pandat juga kearah Agama dan Keyakinan. Di bagian Kebudayaan semisal di Ibu Kota DKI Jakarta, ada FBR dan FORKABI yang terpecah. Di Maluku ada RMS, ada GAM di aceh dan ada OPM di Papua, dan lain sebagainya meliputi seluruh daerah Kepulauan NKRI. Di bagian Keagamaan di dalam Islam ada Nahdatul Ulama, Muhammadiyyah, Salafi, Ahlussunnah wal Jama’ah, Syiah, dll. Juga di dalam Agama Nasrani, ada Protestan, Khatolik, dsb. Belum lagi beberapa perselisihan dan konflik di antara satu Kelompok Masyarakat dengan Kelompok lain. Ironis….. Saya salah seorang Pemuda yang Seringkali kontradiksi dan kritis dalam menyikapi aksi – aksi yang terjadi pada beberapa Organisasi Masyarakat, terutama yang mengusung nama Budaya dan Keagamaan.
       Beruntungnya Tradisi Jahiliyyah pada zaman dahulu di Arab mengalami Perubahan dan Penghapusan dengan Datangnya Risalah Kenabian dari Rasullullah Muhammad. Sawa, yang membawa Perdamaian, Persatuan dan Cinta Kasih sesama Manusia. Bagaimanapun beberapa Pahlawan pun telah membawa Indonesia ke dalam Persatuan dan Cinta. Namun Kedamaiannya kini mulai hilang saat Cinta Tanah Air Pudar dan berganti dengan Cinta Diri dan Egoisme.

      

       Fakta dan Realita sudah terpampang, sulit memang menerima dan mempertimbangkan pada siapa kita harus memihak. Jawabannya adalah Sejauh mana anda mencintai Perdamaian dan Persatuan di Indonesia. Negeri ini berideologi Demokrasi bukan? Setiap Warga Negara Indonesia bebas memilih Keyakinannya dan bebas untuk berpendapat, selama apa yang di pilih dan di ungkapkan tidak bertentangan dengan isi dari Pembukaan UUD 1945. Begitukah?
       Selanjutnya Perkembangan dan Kelanjutan dari Negeri Tercinta kita ini ada pada kita semua, Generasi Penerus Bangsa dan para Orangtua juga peran para Pendidik di Sekolah yang menjadi ruang – ruang Eksklusif dalam menanamkan dan mengajarkan sikap, peilaku dan jati diri para Penerus Bangsa Kelak. Jangan sampai Indonesia menjadi semakin Jahiliyah dengan perpecahan – perpecahan yang kian berkesinambungan. Ingat! Kita satu dan tak bisa dipisahkan, memisahkan ataupunt erpisahkan.

Jawabannya adalah, Sejauh mana anda mencintai Perdamaian dan Persatuan di Indonesia, Negeri yang Kita Cintai ini!

Penuh Cinta dan Harapan.
RidhwanEndri. Y

Indonesia dan Tradisi Jahiliyyah Part. 1 (Anak Muda Bag. 1)

         Ini merupakan pembahasan saya yang pertama mengenai Negeri ini, yang mungkin akan menjadi tahap pembukuan bagi saya ke depannya. Pembahasan kali ini bertajuk “Indonesia dan Tradisi Jahiliyah”.  Terdengar riskan memang tetapi beberapa fakta telah saya analisa. Saat mendengar kata Jahiliyah pasti kita akan mengingat jauh kepada masa dimana semua orang menunggu kedatangan seorang Utusan Tuhan (Allah. Aw). Yaitu, zaman Kenabian  Terakhir.  Kedatangan  seorang   Nabi Penutup Risalah Kenabian ,  Muhammad .Sawa  (Shollallohu ‘Alaihi wa Aalihi).
         Ada beberapa kisah yang harus saya jabarkan dari masa keemasan Islam di kala itu, yang akan menjadi sebuah contoh dan analisa kita mengenai judul diatas. Di awal – awal misi Ke-Rasulan Muhammad. Sawa, dimana saat itu belum ada orang yang mempercayainya dan mengikuti ajarannya, kecuali Istri yang amat di cintainya Sayyidah Khadijah al-Kubra. As dan Keponakannya, ‘Ali bin Abi Thalib. As yang masih berusia 10 tahun kala itu. Setelah Surat pertama turun kepada Nabi Muhammad. Sawa di Gua Hiro (Qs. Al-Alaq : 1-5), Beliau. Sawa kembali ke rumah dan mendirikan Sholat bersama Istri tercintanya. Saat itulah datang Imam ‘Ali bin Abi Thalib. As dan menunggu mereka selesai beribadah (baca; Sholat) dan bertanya tentang hal yang demikian. Singkat cerita, banyak kisah yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad. Sawa mendapat wahyu di hari Senin dan Imam ‘Alibin Abi Thalib. As masuk Islam di hari Selasa.
         Ketika Wahyu kedua di turunkan (Qs. Asy-Syu’aara’ : 214) “Dan berilah peringatan kepada orang – orang terdekat.”  Ketika ayat ini turun Nabi Mhammad. Sawa pun segera mengumpulkan Keluarganya dalam acara jamuan makan malam. Dan di sela – sela waktu perbincangan Nabi Muhammad. Sawa bersabda: “Wahai Bani Abdul Muthalib, demi Allah tidak pernah aku ketahui di seluruh bangsa Arab sesuatu yang lebih utama dari apa yang aku bawa untukmu. Aku datang kepadamu untuk kebaikan di dunia dan akhirat. Allah telah menyuruhku mengajakmu kepada-Nya. Maka, siapakah di antara kamu yang bersedia membantuku dalam urusan ini untuk menjadi saudaraku, washiku dan khalifahku ?” Mereka semua tidak bersedia kecuali Ali bin Abi Thalib yang saat itu paling muda. Ali berdiri seraya berkata: “Aku ya Nabiyallah, aku (bersedia menjadi) wazir(pembantu)mu dalam urusan ini.” Kemudian Rasulullah saw memegang bahu Ali seraya bersabda: “Sesungguhnya Ali ini adalah saudaraku, washiku, dan khalifahku terhadap kalian, maka dengarlah dia dan taatilah dia.” Mereka tertawa sambil berkata kepada Abu Thalib: Kamu disuruh mendengar dan mentaati anakmu.(Lebih rinci, baca hadis Indzar).
         Juga sebuah peristiwa yang Saya sangat hafal mengenai kisah ini. Yaitu, saat Peristiwa Haji Wada’ atau Peristiwa Ghadir Qum. Dimana dalam beberapa Riwayat yang saya baca dan saya ketahui dari Kitab Sunnah populer di kalangan umat Muslim. Nabi Muhammad. Sawa di ujung masa Kenabiannya itu menyampaikan wasiat dan sejajar Ayat – ayat terakhir al-Qur’an. Juga mengisyaratkan atau memberikan Petunjuk mengenai Pemimpin Islam sepeninggal Beliau nanti. Ada banyak Hadits dan Riwayat yang tersedia, yang dengan jelas menyatakan bahwa Imam ‘Ali bin Abi Thalib. As adalah orang yang di tunjuk oleh Nabi Muhammad. Sawa sebagai pengganti Beliau dalam memimpin Islam. Berikut ini beberapa Hadits ini di bacakan dibeberapa tempat termasuk di peristiwa Ghadir Qum yang mendukung pernyataan Sayadiatas:

“Kedudukan ‘Ali disisiku bagaikan Harun disisi Musa, sayangnya Kenabian terputus padaku.”
“Barangsiapa yang Aku adalah Pemimpinnya maka ‘Ali adalah Pemimpinnya. Ya Allah..... Cintailah orang yang mencintai ‘Ali dan musuhilah orang yang memusuhinya.”
“Aku adalah Kota ‘Ilmu dan ‘Ali adalah pintunya. Barangsiapa ingin memasuki Kota Ilmu, maka masuklah melalui ‘Ali.”

         Bagi sebagian orang yang tidak mengetahui dan mempelajari ini, mungkin akan timbul Pertanyaan. Kenapa harus ‘Ali? Atau, ”Lantas kenapa faktanya yang menjadi Khalifah sepeninggal Rasulullah. Sawa adalah Abu Bakar dan bukan Imam ‘Ali?”  Saya pun sangat ingat suatu riwayat, sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Abu Bakar dalam Peristiwa Ghadir Qum. “Wahai Rasulullah..... Bukankah ‘Ali masih sangat muda untuk menjadi Pemimpin...?”   Dan itulah jawaban dari pertanyaan kalian dan Inti dari pembahasan ini.
         Sikap meremehkan orang yang lebih muda atau yang lebih spesifik, orang – orang yanglebih tua enggan di pimpin oleh orang yang lebih muda darinya. Salah satu sikapJ ahiliyah yang menjamur di Budaya Kejiwaan Nasional Bangsa Indonesia.  Hehehehehe..... Dan memang itulah Faktanya!
         Betapa sore tadi saya tercengang dan kagum ketika membaca Status salah seorang teman di Akun Facebooknya yang bertuliskan, “GENERASI MUDA TERLAHIR UNTUK MEMBERANTAS GENERASI TUA YANG TAK MENGENAL KEADILAN”.  Wow!!!!! Kritikkan pedas dan keras untuk orang – orang lebih tua yang meremehkan anak muda, karena tidak memberikan kesempatan kepada Pemuda untuk beraksi dan berlaga (meski tak semua orang lebih tua seperti demikian).  Anehnya yang hendak saya pertanyakan, apakah para orang – orang yang lebih tua itu tidak tahu atau tidak memperhatikan. Bahwa di Dunia, atau maaf bahkan di Negeri ini. Pemuda adalah Ujung Tombak dari Perubahan dan Perkembangan Negara.
         Di Tunisia, Kuba,Yaman dan Negara - Negara lainnya, sudah terbukti bagaimana Potensi dan Kemampuan Pemuda dalam membangkitkan dan mensukseskan Revolusi bagi Negaranya. Betapa masih membekas dalam ingatan kita tentang Sumpah Pemuda yang terjadi di Negeri ini. Juga dimana Sang Proklamator (Bung Karno) Bpk. Ir. Soekarno pernah berkata, “Berikan Aku 10 Pemuda, Niscaya akan aku Guncang Dunia ini!”. Juga masih hangat dalam ingatan saya, ketika saya membaca sebuah artikel mengenai kabar peperangan antara Imam Mahdi. As dan NabiIsa. as dari Islam berperang melawan Dajjal dan Pasukkannya. Dimana pasukan Islam itu di penuhi dengan Pemuda – Pemuda yang tangguh dan Hebat.
         Dari pembahasan ini, saya pun hendak mengajak Pemuda – Pemudi Nusantara untuk berdiri dan bergerak. Bangkit dan buktikan pada Negeri ini dan Ibu Pertiwi, bahwa Kami Pemuda – Pemudi Nusantara berhak dan sanggup untuk membangun serta memperkokoh Kekuatan Negeri ini dengan segala Potensi yang Kami miliki. Terlebih karena, demi Perdamaian dan Kehidupan yang lebih baik bagi Orangtua kita, saudara kita, Bangsa kita juga anak dan cucu kita semua.

Dengan Penuh Cinta dan Harapan.
Ridhwan Endri. Y