Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Februari 2016

Ajaran Tauhid, dalam Aksara Jawa Ha Na Ca Ra Ka ?

Dalam buku Wedaran Wirid I, karangan Ki R.S. Yoedi Parto Yoewono. Surabaja : Djojobojo, 1962-64. Di jelaskan tentang makna dalam Aksara Jawa Ha Na Ca Ra Ka, yang mengandung ajaran Tauhid…

01. Hananira Sejatine Wahananing Hyang,
02. Nadyan ora kasat-kasat pasti ana,
03. Careming Hyang yekti tan ceta wineca,
04. Rasakena rakete lan angganira,
05. Kawruhana ywa kongsi kurang weweka,
06. Dadi sasar yen sira nora waspada,
07. Tamatna prahaning Hyang sung sasmita,
08. Sasmitane kang kongsi bisa karasa,
09. Waspadakna wewadi kang sira gawa (sipat Rasul / Muhammad),
10. Lalekna yen sira tumekeng lalis (sekarat),
11. Pati sasar tan wun manggya papa,
12. Dasar beda lan kang wus kalis ing goda; (Islam / Ma’rifat),
13. Jangkane mung jenak jenjeming jiwarja,
14. Yitnanana liyep luyuting pralaya (angracuta yen pinuju sekarat ),
15. Nyata sonya nyenyet labeting kadonyan,
16. Madyeng ngalam paruntunan (?) aywa samar,
17. Gayuhane tanalijan (tan ana lijan) mung sarwa arga,
18. Bali Murba Misesa ing njero-njaba (Widhatulwujud, Esa, Suwiji),
19. Tukulane wida darja tebah nista,
20. Ngarah-arah ing reh mardi-mardiningrat.

makna-nya…

01. Asalmu karena kehendak Allah,
02. Walaupun tidak nampak tetapi ada,
03. Allah yang Kuasa tidak bisa ditebak (dinyatakan),
04. Rasakan dalam tubuhmu,
05. Ketahui sampai kurang waspada,
06. Jadi salah kalau kurang waspada,
07. Nyatakan Allah memberi petunjuk,
08. Petunjuk sampai bisa merasakan,
09. Waspadalah rahasia yang kau bawa (sifat Rasul/Muhammad),
10. Lupakan sampai sekaratil maut (menjelang ajal/koma),
11. Mati yang salah menjadi susah,
12. Dan beda bagi yang tidak tergoda (Islam/Mari’fat),
13. Tujuannya hanya tentram jiwanya,
14. At’tauhid atau khusyuk waktu sekaratil maut,
15. Ternyata sepi (hilang) sifat dunia,
16. Dalam alam barzah ternyata samar (gaib),
17. Tujuan tidak lain hanya satu,
18. Pulang menguasai Lahir Batin (Esa),
19. Tumbuhnya benih menjauhkan aniaya,
20. Hati-hati manuju jalan kedunia.

Sumber :
Kanzunkalam.com
rodiansah.tumblr.com

Selasa, 19 Januari 2016

Masa Lalu

Setiap orang Punya masa lalu, menyesalinya hanyalah akan merusak mood mu untuk terus menjalani hari ke depan.

Jika ada dampak akibat dari kejadian yang pernah terjadi di masalalu, maka seharusnya di jadikan pembelajaran untuk terus memperbaiki diri. Sehingga kedepannya dapat menjadi pribadi baru yang lebih baik lagi. Tak ada gunanya mengenang masa lalu, kecuali dengan mengambil pelajaran dari padanya.

Begitu juga dalam mempelajari sejarah ataupun kejadian-kejadian yang terdapat di dalamnya.

Bukan sekedar menambah pengetahuan kita tentang kejadian, tetapi menjadikan kita lebih sigap dan mengenali kehidupan ini. Tujuannya pun untuk memperbaiki hidup dan kehidupan itu sendiri di masa yang akan datang. Mungkin kita yang menjalaninya, oranglain, atau bahkan anak dan cucu kita kelak.

Yang jelas, semuanya takkan sia-sia bukan...??

Dalam proses pembelajaran itu tentunya, kita mesti berkorban merubah suatu kebiasaan atau cara berfikir kita di masalalu yang menjadi salah satu penyebab terjadinya kesalahan di masalalu. Itu berguna untuk mengenali kejadian yang datang di masa mendatang. Begitu teorinya... (Meski memang sulit untuk menerapkannya).

Pada kenyataannya, Hidup ini adalah soal Pembelajaran. Sekalipun kita gagal terus menerus setelah berusaha, itu soal belakangan. Intinya kita pernah dan terus berusaha serta berupaya. Toh, nilai yang kita dapat bukan terletak dari apa yang di pandang atau di katakan oleh orang lain.

Semuanya bergantung kepada diri kita sendiri.

Salaam Penuh Maaf dan Doa...~~

Selasa, 03 Maret 2015

SURAT PEMIMPIN BESAR REVOLUSI ISLAM IRAN, AYATULLAH SAYYID ALI KHAMANEI.Hfz kepada PEMUDA EROPA DAN AMERIKA UTARA

Atas nama Allah, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Untuk Pemuda di Eropa dan Amerika Utara.

Peristiwa baru-baru ini di Perancis dan insiden serupa di beberapa negara Barat lain membuat saya yakin untuk langsung berbicara pada kalian tentang hal tersebut.

Saya berbicara pada kalian (para pemuda), bukan berarti saya mengabaikan orang tua kalian tapi karena masa depan bangsa dan negara kalian berada di tangan kalian sendiri; dan saya juga menemukan bahwa semangat mencari kebenaran di hati kalian lebih hidup dan kuat.

Saya tidak berbicara pada politisi dan negarawan kalian dalam surat ini, karena saya yakin bahwa mereka dengan sadar telah memisahkan jalur politik dari jalan kejujuran dan kebenaran.

Pembicaraan saya dengan kalian tentang Islam, khususnya citra dan wajah Islam yang ditampilkan pada kalian. Sejak dua dekade lalu, kira-kira setelah kehancuran Uni Soviet, banyak usaha dilakukan untuk menempatkan agama besar ini pada posisi musuh yang menyeramkan. Provokasi rasa takut, kebencian dan penyalahgunaannya — sayangnya — punya catatan panjang dalam sejarah politik Barat.

Di sini, saya tidak akan membahas mengenai berbagai phobia yang hingga kini di indoktrinasi bangsa-bangsa Barat. Dengan tinjauan sepintas studi kritis terbaru tentang sejarah, kalian akan melihat fakta bahwa dalam penulisan sejarah baru, perilaku-perilaku tidak jujur dan munafik pemerintah-pemerintah Barat terhadap bangsa-bangsa dan budaya lain di dunia telah disensor dalam Historiografi baru. (Historiografi adalah ilmu yang mempelajari praktik ilmu sejarah, red).

Sejarah Amerika Serikat dan Eropa dipermalu dengan perbudakan, dipermalu dengan masa penjajahan dan dipermalu dengan penindasan orang-orang kulit berwarna dan non-Kristen. Para peneliti dan sejarawan kalian sangat merasa malu pada pertumpahan darah atas nama agama antara Katolik dan Protestan, atau atas nama kebangsaan dan etnis selama Perang Dunia Pertama dan Perang Dunia Kedua. Hal ini [rasa malu pada pertumpahan darah] dengan sendirinya layak dipuji, dan tujuan saya menyebutkan sebagian kecil dari daftar panjang ini bukan untuk mencela sejarah, namun saya minta kalian bertanya kepada para intelektual kalian mengapa hati nurani publik di Barat harus selalu terlambat selama beberapa puluh tahun dan terkadang satu abad untuk bangun dan sadar?

Mengapa revisi dalam kesadaran kolektif harus diarahkan ke masa laluyang jauh dan tidak ke arah persoalan sekarang ini?

Mengapa dalam isi-isu penting seperti perlakuan terhadap budaya dan pemikiran Islam untuk pembentukan kesadaran dan pengetahuan masyarakat, dicegah?

Kalian mengetahui dengan baik bahwa penghinaan, penyebaran kebencian dan ketakutan ilusi tentang “orang lain” telah menjadi dasar umum bagi semua pencari keuntungan dan penindas. Sekarang, saya ingin kalian bertanya pada diri kalian sendiri, kenapa kebijakan lama penyebaran “phobia” dan kebencian yang menargetkan Islam dan Muslim muncul dengan intensitas yang belum pernah terjadi sebelumnya?

Kenapa struktur kekuasaan di dunia saat ini ingin pemikiran Islam terpinggirkan dan pasif?

Apakah konsep dan nilai-nilai dalam Islam mengganggu berbagai agenda kekuatan-kekuatan besar dan apa kepentingan-kepentingannya dilindungi dalam bayangan pendistorsian citra Islam?

Oleh karena itu, saya mohon kalian bertanya dan mengeksplorasi tentang motivasi penodaan luas terhadap Islam.

Permintaan kedua saya — sebagai reaksi terhadap banjir prasangka dan kampanye negatif — coba kalian peroleh pengetahuan tentang agama ini secara langsung dan tanpa perantara. Logika yang tepat mensyaratkan bahwa setidaknya kalian memahami apa yang membuat kalian takut dan lari darinya. Saya tidak memaksa kalian harus menerima penafsiran saya atau interpretasi lain tentang Islam. Namun yang ingin saya katakan, jangan biarkan realitas-realitas dinamis dan efektif di dunia saat ini diperkenalkan pada kalian sebagai kepentingan dan tujuan-tujuan yang telah terkontaminasi. Jangan biarkan orang-orang munafik menggunakan para teroris yang mereka rekrut sebagai wakil Islam untuk memperkenalkan agama ini kepada kalian.

Kenalilah Islam dari sumber-sumber primer dan aslinya. Kenalilah Islam melalui al-Quran dan kehidupan Nabi Besar Muhammad aaw. Di sini, saya ingin bertanya apakah kalian hingga sekarang sudah membaca langsung al-Quran kaum Muslimin?

Apakah kalian sudah mempelajari ajaran Nabi Islam (Muhammad saw), doktrin kemanusiaan dan akhlaknya?

Selain media, apakah hingga sekarang kalian pernah menerima pesan Islam dari sumber lain?

Pernahkah kalian bertanya pada diri sendiri bagaimana dan atas dasar nilai-nilai apa selama berabad-abad Islam sudah mengembangkan peradaban ilmiah dan intelektual terbesar dunia serta membimbing para ilmuwan dan pemikir paling terkemuka?

Saya ingin kalian tidak membiarkan mereka menciptakan jurang emosional antara kalian dan realitas yang ada dengangambaran penghinaan dan ofensif serta menghilangkan kemungkinan penilaian netral kalian. Hari ini, media komunikasi sudah menghapus batas geografis. Karena itu, jangan biarkan mereka mengepung kalian dalam batas-batas palsu dan emosional. Meski tak seorangpun mampu memenuhi kesenjangan yang sudah diciptakan itu sendirian, namun masing-masing dari kalian dapat membangun jembatan pemikiran dan keadilan di atas kesenjangan itu untuk menerangi diri sendiri dan lingkungan di sekitar kalian.  Tantangan yang sudah direncanakan sebelumnya ini antara Islam dan kalian — wahai para pemuda — tidak diharapkan, namun hal ini bisa memicu pertanyaan-pertanyaan baru di benak kalian yang selalu penasaran dan bertanya-tanya.

Upaya menemukan jawaban pertanyaan-pertanyaan ini akan memberi kalian peluang tepat untuk menemukan kebenaran baru. Karena itu, jangan lewatkan kesempatan untuk mendapatkan pemahaman tepat, benar dan objektif tentang Islam. Semoga dengan rasa tanggung jawab terhadap kebenaran, generasi mendatang akan menulis sejarah interaksi antara Islam dan Barat saat ini dengan hati nurani lebih jernih dan kebencian yang minim.

Sayyid Ali Khamenei, 21 Januari 2015.

Selasa, 24 Februari 2015

Che Guevara

     Surat dari Che Guevara, untuk Kawan-kawan Muda Kami percaya bahwa perjuangan revolusioner adalah suatu perjuangan yang sangat panjang, sangat sulit. Sulit, tetapi jelas tidak berarti mustahil, bahwa suatu kemenangan revolusi di suatu negara hanya akan terjadi di negara itu saja. (Che Guevara)

     Kalau aku boleh memilih untuk berjuang, mungkin saat ini aku ingin tinggal bersama kalian. Melewati jalanan yang padat lalu lintas, dengan iring-iringan spanduk yang panjang, kalian ketuk nurani para penguasa. Kaum yang berbaju megah, berkendaraan bagus dan punya mobil mengkilap.  Kalian pertaruhkan segalanya, kesempatan untuk hidup senang, kemapanan pekerjaan, dan sekolah yang kini kian mahal.

    Buang segala teori sosial yang ternyata tak bisa membaca kenyataan. Keluar kalian dari training-training yang pada akhirnya tidakmembuat kita paham dan mau membela orang miskin. Ku pilih tinggal serta berjuang di hutan karena di sana aku kembali mendengar rintih dan suara orang yang hidupnya menderita.

     Andaikan aku masih diberi kesempatan untuk kembali ke negerimu pastilah aku enggan untuk duduk di kursi. Akan aku habiskan waktuku untuk mengelilingi kotamu yang padat dengan orang miskin.Akan ku sapa setiap anak lapar yang menjinjing bekas botol minuman untuk mendapat uang receh.A kan aku datangi para nelayan yang kini lautnya dipenuhi oleh pipa-pipa gas perusahaan asing. Akan ku bantu para buruh bangunan yang menghabiskan waktunya untuk memanggul alat-alat berat. Dan akan ku temani para buruh pabrik yang masih saja diancam oleh PHK. Tentu aku akan mendatangimu anak muda, yang resah dengan kenaikan BBM atau proyek pendidikan yang kian hari kian mahal. Ku rasa aku tidak bisa istirahat jika tinggal di negerimu.

      Kalau aku boleh memilih untuk melawan, mungkin sekarang ini aku akan duduk bersama kalian . Aku akan bilang kalau perjuangan bukan saja melalui tulisan, puisi, buku, apalgi setajuk proposal! Perjuangan butuh keringat, pekikan suara, dan dentuman kata-kata. Kita bukan melawan seekor siput tapi buaya yang akan menerkam jika kita lengah. Hutan rimba mengajariku untuk tidak mudah percaya pada mulut-mulut manis. Hutan rimba mendidikku untuk tidak terlalu yakin dengan janji. Aku sudah hapal mana tabiat srigala dan mana watak kelinci. Kalau kau baca tulisanku, mustinya kau bisa meyakini, kalau kekuasaan hanya bisa bertahan selama kita mematuhinnya. Kekuasaan bisa bertahan selama mereka mampu menebar ketakutan. Dan aku sejak dulu dididik untuk selalu sangsi dan curiga pada penguasa!

      Kalau aku bisa memilih, mungkin sekarang aku ingin berjalan dengan kalian . Menonton orang-orang pandai berdebat di muka televisi atau aktivis yang melacurkan keyakinannya. Ngeri aku menyaksikan orang-orang pandai yang berbohong dengan ilmunya. Sederet angka dibuat untuk membuat orang percaya bahwa si miskin makin hari makin berkurang. Menonton aktivi senior yang kini juga berebut untuk duduk jadi penguasa. Matanya: di dalam kekuasaan tidak ada suara rakyat maka kita mengisinya.

      Aku bilang, itulah para pembual yang yakin jika perubahan bisa muncul karena kita duduk di belakang meja. Demokrasi acapkali berangkat dari dalil yang naif seperti itu. Aku sayangnya tak lagi bisa memilih, untuk berdiri dan berbincang dengan kalian semua. Anak muda, aku telah tuliskan puluhan karya untuk menemanimu. Dibungkus dengan sampul wajahku, yang tampak belia dan mungkin tampan, aku tuangkan pesan kepada kalian.

      Keberanian yang membuat kalian akan tahan dalam situasi apapun! Hutan melatihku untuk percaya kalau kemapanan, kenikmatan badaniah, apalagi kekayaan hanya menjadi racun bagi tubuh kita. Kemapanan membuat otakmu makin lama makin bebal. Kau hanya mampu mengunyah teori untuk disemburkan lagi. Kemapanan membuat hidupmu seperti seekor ular yang hanya mampu berjalan merayap. Kekayaan akan membuat tubuhmu seperti sebatang bangkai. Hutan melatihku untuk menggunakan badanku secara penuh. Kakiku untuk lari kencang bila musuh datang dan tanganku untuk mengayun pukulan jika aku diserang. Anak muda, nyali sama harganya dengan nyawa. Jika itu hilang, niscaya tak ada gunanya kau hidup!

      Keberanian itu seperti sikap keberimanan. Jika kau peroleh keberanian maka kau memiliki harga diri. Sikap bermartabat yang membuatmu tidak mudah untuk dibujuk. Hutan membuatku selalu awas dengan ketenangan, kedamaian, dan cicit suara burung. Hutan melatihku untuk sensitif pada suara apa saja. Jangan mudah kau terpikat oleh kedudukan, pengaruh, dan ketenaran. Kedudukan yang tinggi akan membuatmu seperti manusia yang diatur oleh mesin. Ku tinggalkan jabatan menteri karena hidupku menjadi lebih terbatas dan ruang sosialku dipenuhi oleh manusia budak, yang bergerak kalau disuruh. Apalagi ketenaran hanya akan mendorongmu untuk selalu ingin menyenangkan semua orang, membuat lumpuh energi perlawananmu.

      Ingat, racun segala perubahan ketika dirimu merasa nyaman. Rasa nyaman yang kini ku saksikan di sekelilingmu. Anak-anak muda yang puas menjadi pekerja upahan sambil menyita tanah sesamanya. Ada anak muda yang duduk di parlemen malah minta tambahan gaji! Anak muda yang lain dengan tenaganya menyumbangkan diri untuk menjadi preman bagi kekuasaan bandit. Bahkan pendidikan hukum mereka gunakan untuk membela kaum pengusaha ketimbang orang miskin. Anak-anak muda yang banyak lagak ini memang tidak bisa dibinasakan. Mereka hidup karena ada kemiskinan, keculasan kekuasaan, dan lindungan proyek lembaga donor. Aku enggan untuk berjumpa dengan anak muda yang hanya mengandalkan titel,keperkasaan, dan kelincahan berdebat.  Aku ragu apakah mereka mampu serta sanggup untuk melawan arus. Arus itulah yang kini menenggelamkan nyali kita semua.

      Murah sekali harga seorang aktivis yang dulu lantang melawan, tapi kini duduk empuk jadi penguasa. Murah sekali harga idealisme seorang ilmuwan yang mau menyajikan data bohong tentang kemiskinan. Murah sekali harga seorang penyair yang mau rame-rame mendukung pencabutan subsidi.

      Aku gusar memandang negerimu, yang tidak lagi punya ksatria pemberani. Seorang kstaria yang mau hidup dalam kesunyian dan dengan gagah meneriakkan perlawanan.

      Tulisan adalah senjata sekaligus bujukan yang bisa menghanyutkan kesadaran perlawanan. Kau harus berani mempertahankan nyalimu untuk selalu bertanya pada kemapanan, kelaziman, dan segala bentuk pidato yang disuarakan oleh para penguasa. Yang kau hadapi sekarang ini adalah sistem yang kuncinya tidak terletak pada satu orang. Kau berhadapan dengan dunia pendidikan yang menghasilkan ilmu tentang bagaimana jadi budak yang baik. Kau kini bergulat dengan teman-temanmu sendiri yang bosan hidup berjuang tanpa uang. Kau sebal dengan parlemen yang dulu ikut kau pilih, tetapi kini tambah membuat kebijakan yang menyudutkan rakyat. Kau perlahan-lahan jadi orang yang hanya mampu melampiaskan kemarahan tanpa mampu untuk merubah. Kau kemudian percaya kalau pemecahannya adalah melalui mekanisme, partisipasi, dan dukungan logisistik yang mencukupi. Kau diam-diam tak lagi percaya dengan revolusi.

      Kau yakin perubahan bisa berjalan kalau dijalankan dengan berangsur-angsur dan membuat jaringan. Gerakanmu lama-lama mirip dengan bisnis MLM.

      Saudaraku yang baik! Hukum perubahan sosial sejak dulu tidak berubah. Kau perlu dedikasikan hidupmu untuk kata yang hingga kini seperti mantera: lawan! Lawanlah dirimu sendiri yang mudah sekali percaya pada teori perubahan sosial yang hanya cocok untuk didiskusikan ketimbang dikerjakan.Lawanlah pikiranmu yang kini disibukkan oleh riset dan penelitian yang sepele. Kemiskinan tak usah lagi dicari penyebabnya tapi cari sistem apa yang harus bertanggungjawab. Ajak pikiranmu untuk membaca kembali apa yang dulu ku kerjakan dan apa yang sekarang dikerjakan oleh gerakan sosial di berbagai belahan dunia. Gabungkan dirimu bukan dengan LSM, tapi bersama-sama orang miskin untuk bekerja membuat sistem produksi.

      Tak ada yang bermartabat dari seorang anak muda, kecuali dua hal: bekerja untuk melawan penindasan dan melatih dirinya untuk selalu melawan kemapanan.

"Che Guevara" oleh AH Ali Reza

Sabtu, 21 Februari 2015

Asyura : Epik Cinta, Pengabdian dan Kesetian (2)

     Epik Imam Husein as, dikenal sebagai simbol konfrontasi kebenaran dengan kebatilan serta pengorbanan di jalan agama. Gerakan Imam Husein as bukan sekedar sebuah peristiwa, melainkan sebuah budaya yang hidup dan melahirkan berbagai gerakan baru. Sebuah budaya yang bangkit dari konteks Islam dan memainkan peran determinan dalam menjaga kelestarian nilai-nilai luhur agama. Yang pasti epik seperti ini, tidak akan pernah terhapus dari sejarah dan akan selalu menjadi motivasi dalam memerangi kezaliman bagi setiap generasi umat manusia.

      Pada hari kesepuluh bulan Muharram tahun 61 Hijriah, seruan adzan dikumandangkan oleh Ali Akbar, putra Imam Husein bin Ali as menandai subuh Asyura. Shalat ditunaikan. Seakan semua wujud mengikuti Husein as. Para sahabat pun menunaikan shalat penuh kecintaan mengikuti pemimpin mereka. Seusai shalat Subuh, para perindu syahadah itu bangkit. Seakan tidak satu pun di antara mereka yang merasa kehausan dan seakan tidak ada ancaman 30.000 pedang yang telah terhunus di seberang medan sana. Umar bin Saad, panglima pasukan musuh mengetahui bahwa Husein as dan para sahabatnya tidak akan menyerang dan telah siap berperan.

     Imam Husein as mengatur laskarnya yang hanya berjumlah puluhan dan menyerahkan panji kepada saudaranya yang setia Abbas bin Ali. Kemudian beliau maju ke depan dan memperkenalkan diri dengan harapan masih ada sekelumit kesadaran dalam hati pasukan musuh. Beliau berseru: "Wahai kaum, kitab Allah dan kakekku Rasulullah (Saw) yang akan memberikan keputusan di antara aku dan kalian. Wahai masyarakat, mengapa kalian menghalalkan darahku? Bukankah aku putra Nabi kalian? Apakah kalian tidak mendengar ucapan kakekku tentang diriku dan saudaraku yang mengatakan: Putraku Hasan dan Husein adalah pujangga para pemuda penghuni sorga?”

      Namun apa gunanya nasehat Imam Husein as, seakan hati mereka telah terkunci. Umar bin Saad menggerakkan pasukannya dan dengan suara keras dia berkata, “Saksikan wahai pasukan, katakan kepada penguasa Kufah bahwa aku adalah orang pertama yang melepaskan panah ke arah Husein.”

      Kemudian langit Karbala tertutupi dengan ribuan panah yang melesat ke arah pasukan Husein as. Kepada pasukannya Imam Husein as berkata, “Panah-panah ini adalah pesan perang. Bangkitlah, rahmat dan kasih sayang Allah (Swt) bersama kalian.”

      Para sahabat Imam Husein as berperang tanpa secuil rasa takut dan menampilkan cinta dan pengorbanan yang tak terbayangkan. Para sahabat saling berlomba mendahului untuk terjun ke medan perang. Mereka dengan penuh hormat meminta ijin dari Imam Husein as untuk terjun ke medan perang. Hati para sahabat telah diluapi kecintaan kepada Allah Swt dan Imam Husein as. Hakikat ini dapat disaksikan dengan jelas dalam pasukan Imam Husein as, bahwa para sahabat beliau terjun di medan pengorbanan dengan kesadaran, kecintaan dan keimanan penuh. Bagi Imam Husein as dan para sahabatnya, rasa sakit akibat kebodohan dan kejahilan masyarakat, lebih pedih dari luka pedang. Oleh karena itu, mereka berjuang bertekad melakukan tugas jihad terpenting yaitu memberantas kebodohan dalam pikiran masyarakat. Dalam sejarah Karbala disebutkan bahwa sebagian besar sahabat Imam Husein menyampaikan ucapan-ucapan bernilai tinggi untuk menyadarkan musuh. Di medan laga, para sahabat Imam Husein as melantunkan bait-bait syair epik memperkenalkan Imam Husein as dan keluarga Nabi, sebelum mereka menunjukkan heroisme di jantung barisan musuh. Ini menunjukkan bahwa musuh tidak berhenti berusaha merusak citra Ahlul Bait Nabi.

      Masing-masing sahabat Imam Husein as yang bergegas ke medan perang, mampu menggetarkan barisan musuh hanya dengan menunjukkan keagungan iman dan perjuangan mereka. Setelah itu mereka akan berperang dengan penuh keberanian hingga terjatuh dengan badan penuh luka. Imam Husein as mendatangi setiap sahabatnya di medan perang, menghibur mereka dan memuji kesetiaan mereka. Para sahabat yang tidak sanggup mengungkapkan kebahagiannya dengan pertemuan tersebut, akan menjawab seruan beliau dengan ucapan “labbaik ya Husein”.

      Para syuhada telah berjatuhan di medan perang, pasukan Imam Husein as hanya tinggal sangat sedikit. Imam Husein as memandang pasukan musuh dan berseru: “Apakah ada orang yang membantu kami demi Allah? Apakah ada orang yangmembela kehormatan Nabi dan menjauhkan kami dari musuh?”

      Sengat terik matahari padang Karbala merampas dahaga dan daya dari perkemahan Imam Husein. Anak-anak gelisah. Salah satu sahabat mengabarkan waktu shalat dzuhur. Imam Husein as menatap ke langit dan berkata, “Kau telah mengingat shalat; semoga Allah menempatkanmu di antara para penunai shalat. Iya telah tiba waktunya; mintalah mereka (musuh) untuk menangguhkan sejenak dan berhenti perang sehingga kita dapat shalat."

   Barisan shalat berjamaah telah tersusun. Jumlah jemaah shalat tidak mencapai 30 orang. Di cuaca panas Karbala dan di dalam kepungan tombak, pedang dan panah musuh, ditunaikan shalat dengan penuh kekhusyukan. Bukankah Imam Husein as berkata bahwa dia bangkit melawan demi menegakkan amr makruf dan nahi munkar? Shalat Imam Husein as dan para sahabat setianya mengindikasikan tujuan tersebut. Tiga sahabat Imam Husein as termasuk Said bin Abdullah, salah satu penjaga barisan shalat, telah menjadi perisai penuh dengan panah. Usai shalat, Said bin Abdullah telah berlumuran darah.

      Para sahabat telah pergi dan hanya para ksatria keluarga Imam Husein as dari Bani Hasyim yang tersisa. Ali Akbar, Abbas dan saudara-saudaranya, para putram Hasan bin Ali as dan putra-putra Aqil dan Zainab. Selama masih ada sahabat, Imam Husein as tidak mengijinkan seorang dari Bani Hasyim terjun ke medan perang. Sekarang adalah detik-detik perpisahan. Ali Akbar menyampaikan perpisahan dengan sang ayah menuju medan perang. Setelah itu, disusul Qasim bin Hasan, kemudian para putra Ali dan lainnya, sampai akhirnya sang pembawa panji laskar Imam Husein as yaitu Abbas bin Ali mengorbankan jiwanya.

     Sekarang hanya tinggal Husein bin Ali as, kesayangan Rasulullah Saw, terkepung musuh yang congkak dan hina. Imam Husein as untuk terakhir kalinya ingin menyempurnakan hujjah-nya kepada musuh. Beliau mengangkat putra bayinya yang kehausan Ali Asghar dan meminta air untuk anak tidak berdosa ini. Akan tetapi musuh menembakkan panah ke leher Ali Asghar. Imam Husein as dengan duka mendalam, memercikkan darah putranya ini ke langit dan memohon agar Allah Swt menerima pengorbanannya.

      Para sahabat dan keluarganya telah gugur syahid, Imam Husein as sendirian, namun berdiri tegak dan gagah di medan perang. Ke arah mana pun beliau bergegas, barisan musuh akan porak-poranda. Tidak ada yang berani bertarung menghadapi Imam Husein. as.

Umar bin Saad berteriak: “Sedang apa kalian? Ini adalah putra Ali, jiwa Ali ada di raganya, jangan kalian berduel dengannya.”

Setelah beberapa waktu berperang tidak imbang di padang yang panas menyengat dan dalam kondisi kehausan dan kelelahan, Imam Husein as terdesak. Beliau sejenak berdiri diam. Ketika itu salah seorang dari pasukan musuh melempar batu yang mengena dahi Imam Husein as hingga pecah dan mengucurkan darah. Aksi itu disusul dengan tembakan panah yang menusuk dada Imam Husein as dan beliau pun semakin bersimbah darah. Imam Husein as menengadahkan kepala ke langit dan berkata, “Ya Allah! Kau tahu pasukan ini, akan membunuh seseorang yang kecuali dia tidak ada lagi putra dari putri Nabi di muka bumi."

      Untuk beberapa saat Imam Husein as terbaring di atas tanah dengan badan penuh darah. Tidak ada yang berani mendekati beliau. Pada akhirnya, seorang dengan perangai kejam dan sadis mengayunkan pedangnya ke kepala Imam Husein as. Darah terpercik dari kepala beliau. Kemudian Imam Husein as dengan hati penuh kerinduan untuk segera bertemu dengan Allah Swt berkata: “Ya Allah! Aku ridho atas keridhoan-Mu dan berpasrah diri kepada-Mu. Wahai Tuhan yang akan mengadili seseorang sesuai dengan amalnya, adili antara aku dan masyarakat ini, karena Kau adalah sebaik-baiknya Hakim.”

Sanan bin Anas turun dari kudanya dan berdiri di atas Imam Husein as, kemudian mengayunkan pedangnya ke leher Imam Husein as. Langit pun gelap berkabut. Kebenaran telah tertancap di tombak. Husein as dengan bibir kehausan melantunkan ayat-ayat al-Quran dan epik Asyura pun mencapai puncaknya.

Salam Atasmu Wahai Sayyidusy-Syuhada.

Salam Atasmu Wahai  Para Syuhada Karbalaa.

Asyura : Epik Cinta, Pengabdian dan Kesetiaan (1).

      Gerakan Karbala sejak peristiwa historis besar ini terjadi lebih dari seribu tahun lalu hingga kini senantiasa menjadi sumber mata air yang jernih bagiorang-orang dahaga akan kebenaran. Tidak diragukan lagi spirit agung, motif dan tujuan mulia Asyura membawa khazanah kebudayaan yang kaya sekaligus menjadi inspirasi bagi gerakan besar dunia. Tujuh hari berlalu setelah Imam Husein dan pengikutnya memasuki tanah Karbala.  Tanggal sembilan Muharram tahun 61 Hijriah, blokade yang dilakukan pasukan musuh terhadap Imam Husein dan mengikutnya semakin ketat. Orang-orang Kufah menutup akses terhadap air bagi Imam Husein dan rombongannya di padang Karbala. Padahal di antar rombongan Imam Husein terdapat anak-anak dan balita. Tekanan ancaman pasukan Umar bin Sa'ad semakin besar terhadap Imam Husein dan pengikutnya  .Oleh karena itu, Imam Husein memerintahkan seluruh pengikutnya yang dikepung untuk siaga dengan keterbatasan perlengkapan perang seadanya yang mereka miliki.
      Abbas Bin Ali, saudara Imam Husein termasuk di antara pengikut Imam Husein yang paling kuat. Beliau senantiasa mendampingi Imam Husein. Beliau berada beberapa langkah di depan Imam Husein demi melindungi pemimpinnya itu dari ancaman serangan musuh. Pasukan Imam Husein bersiaga menghadapi serangan musuh. Di antara mereka terdapat para remaja. Para pengikut Imam Husein di padang Karbala adalah orang-orang yang berhati suci dan pencinta kebenaran. Diri mereka dipenuhi kecintaan yang sangat besar terhadap Imam Husein, yang datang ke Karbala untuk menegakkan agama Nabi Muhammad Saw yang mengalami penyimpangan oleh penguasa lalim Yazid bin Muawiyah.  Ketika itu suasana yang terlihat begitu kental dari para pengikut Imam Husein adalah persatuan dan solidaritas yang kokoh. Sebab, mereka diikat oleh Iman dan cinta ilahi.

      Karbala adalah manifestasi dari persatuan, persatuan dalam tujuan, persatuan dalam ucapan dan perilaku, serta persatuan dalam kepemimpinan yang menjadikan para pengikut Imam Husein senantiasa siap berkorban dan mengabdi demi kebenaran mekipun harus mati syahid.

      Sore hari tanggal 9 Muharram, Umar bin Saad dengan membawa 4.000 orang pasukan pemanah dan penombak bergerak ke arah perkemahan Imam Husein. Pasukan berkuda semakin mendekat. Imam Husein memanggil Abbas, "Saudaraku tunggangilah kuda, dan majulah mengikuti pikiran dan nuranimu !".

Lalu, Abbas menunggangi kuda dan bersama 18 orang pengikutnya mendekati pasukan musuh. Abbas menuju ke arah Umar bin Saad, setelah dekat ia berkata, "Apa yang terjadi dengan kalian, apa tujuan kalian berbuat seperti ini ?".

Umar Bin Saad menjawab pertanyaan Abbas bahwa dirinya diutus oleh penguasa Kufah, Abdullah bin Ziyad untuk mengambil baiat dari Imam Husein. Umar bin saad berkata, "Patuh atas perintah ini atau berperang!".

Abbas kembali menuju Imam Husein, dan menyampaikan apa yang ditelah dikemukakan oleh Umar Bin Saad. Imam Husein berkata,"Kembalilah, dan katakan kepada mereka beri waktu hingga besok. Biarkan malam ini aku bersama Tuhanku, shalat dan membaca al-Quran, sebab al-Quran, doa dan istighfar adalah yang terbaik bagi kehidupan kita"

      Di sela-sela ini, Habib bin Mazahir, salah seorang sahabat setia Imam Husein mengambil kesempatan ini untuk menasehati Umar bin Saad dan pasukan musuh. Habib bin Mazahir mengenalkan siapa sebenarnya Imam Husein yang memiliki kedudukan tinggi sebagai Ahlul Bait Rasulullah Saw, dan penghulu Ahli Surga sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw. Nasehat ini disampaikan Habib bin Mazahir untuk menyadarkan Umar bin Saad dan pasukannya, sehingga di antara mereka ada yang tergerak hatinya untuk sadar dan berbalik menerima kebenaran yang dibawa Imam Husein. Tapi tidak ada seorangpun yang menyambut seruannya.Imam Husein menyampaikan faktor penyebab mengapa Umar bin saad dan pasukannya tidak mau menerima kebenaran.

      Dalam sebuah khutbahnya, yang disampaikan di hadapan musuh, Imam Husein berkata, "Perut dan kantung-kantung saku kalian telah dipenuhi dengan suap dan barang-barang haram. Oleh karena itu, hati nurani dan telinga kalian telah tertutup, dan tidak ada seorangpun yang bisa menyadarkan diri kalian".

      Tanggal 9 Muharam, malam hari tiba. Imam Husein dan orang-orang yang bersamanya tengah sibuk beribadah shalat, berdoa dan bermunajat. Di sisi lain,pasukan musuh bersiap-siap untuk melakukan kejahatan anti kemanusiaan terburuk yang dicatat dalam sejarah. Mereka tertawa dengan pikiran yang dipenuhi segala macam khayalan tentang upah yang akan diterima ketika menyerang Imam Husein dan pasukannya dari Yazid dan penguasa Kufah waktu itu.

     Apakah mereka tidak tahu siapa Husein? Apakah empat ribu orang pasukan itu tidak temasuk orang yang pernah menulis surat kepada Imam Husein? Bukankah sebagian dari mereka pernah bertemu dengan Nabi Muhammad Saw, dan mendengar langsung dari Rasulullah yang bersabda, 'Husein adalah penghulu surga' ?

Tapi, harta, tahta dan kebodohan telah menjadikan mereka buta dan tuli untuk menerima kebenaran.

      Malam itu, dari kemah Imam Husein dan pengikutnya yang terdengar hanya suara munajat dan doa. Mereka tahu, malam itu adalah malam terakhir. Di antara pasukan Imam Husein ada Abbas bin Ali yang meninggalkan kemah karena bertugas menjaga kemah dari serangan musuh. Sesekali Abbas datang ke kemah untuk menenangkan anak-anak yang terbangun karena kehausan. Pada malam hari Tasua, Imam Husain mengumpulkan pengikut setia dan keluarganya. Imam Husein menyampaikan pidato di hadapan mereka, "Bismillahi rahmani rahim. Ya Allah, hanya Engkau-lah yang paling layak disembah. Aku bersyukur atas segala karunia-Nya, baik suka maupun duka. Aku bersyukur karena Engkau telah mengutus Rasul-Mu, mengajarkan al-Quran yang memperkaya kesadaran dan pemahamanku, sehingga mata dan hati dan telinga dirahmati-Mu,

Imam Husein menatap satu persatu para pengikut dan keluarganya, lalu beliau berkata “Aku tidak mengenal keluarga dan penolong yang lebih baik daripada kalian, dan karena besok adalah hari perang, maka aku tidak dapat menjamin kalian, aku menarik baiat dari kalian, oleh karenanya aku mengizinkan jikalau kalian akan memilih jalanmu di kegelapan malam dan pergilah,”.

Tapi mendengar perkataan Imam Husein ini, sahabat dan keluarganyasecara bergantian satu per satu berdiri menyatakan kesetiaannya kepada beliau.Mereka menegaskan komitmennya kepada baiat yang telah diberikan kepada pemimpinnya itu. Orang pertama yang melakukan hal itu adalah Abbas bin Ali. Putra Ali bin Abi Thalib ini berkata, "Pemimpinku, demi Allah, bagaimana mungkin kami hidup, jika engkau tiada. Celakalah aku jika berpikir demikian. Tidak, kita akan selalu bersama. Tanpamu malam yang indah menjadi getir".

Perkataan Abbas membangkitkan spirit pengorbanan di tengah pengikut Imam Husein lainnya. Kemudian para pemuda Ahlulbait menyatakan dukungannya dan akan selalu menyertai Imam Husain. Ketika itu, Imam Husain menoleh ke arah putra-putra Aqil dan berucap, “Wahai putra-putra Aqil! Cukuplah pengorbanan kalian dengan kematian Muslim, karena itu pergilah kalian, Aku mengizinkan kalian untuk pergi.”

Namun mereka menjawab,“Demi Tuhan! Aku tidak akan melakukan hal itu. Jiwa, hartadan keluarga kami menjadi tebusan bagimu, dan kami akan berperang bersamamu.”Para sahabat Imam Husein berkata, “Puji Tuhan, kami dikaruniai anugerah untuk menolongmu dan syahadah menjadi kemuliaan kami bersamamu. Wahai putra Rasulullah Saw! Apakah Anda tidak rela jika kami juga bersama denganmu berada dalam satu derajat di surga?”.

      Imam Sajjad meriwayatkan bahwa setelah orasi dan mendengarkan jawaban penuh semangat tersebut, Imam Husain pun mendoakan mereka. Pengorbanan pengikut Imam Husein dan keluarganya di Karbala lahir dari kecintaan ilahi. Kesyahidan Imam Husein dan pengikutnya di Karbala menjadi sejarah yang abadi hingga kini, karena ditulis dengan cinta, pengabdian dan kesetiaan.

Pemuda Radikal itu ternyata Bung Karno?!

Pada tahun 1917, sebuah Klub Diskusi (Studieclub) di HBS Surabaya menggelar diskusi. Di saat diskusi sedang berlangsung, seorang pemuda berusia 16 tahun meminta kesempatan untuk berbicara. Moderator membolehkan. Si pemuda tadi, dengan emosi yang menggelora, langsung melompat ke atas meja. Lalu, ia memulai orasi politiknya dengan menggunakan bahasa bumiputera. Moderator langsung menegur, “sudah menjadi aturan di Klub ini untuk berbicara bahasa Belanda yang baik.” Pemuda itu membantah. “Saya tidak setuju,” katanya. Dia pun membeberkan alasannya: “Tanah kebanggan kita ini dulu bernama Nusantara, yang berarti ribuan pulau. Banyak pulau-pulau ini lebih besar dari negeri Belanda. Jumlah penduduk negeri Belanda hanya segelintir dibandingkan dengan penduduk kita. Bahasa Belanda hanya dipergunakan oleh 6 juta orang….mereka tinggal ribuan kilometer dari sini, mengapa kita harus berbicara bahasa Belanda?” Diskusi menjadi buyar. Pemuda tadi ngotot menganjurkan agar Klub Diskusi menggunakan bahasa Melayu, bahasa negerinya, bukan bahasa Belanda. “Marilah kita bersatu mengembangkan bahasa Melayu. Kemudian baru menguasai bahasa asing,” tuturnya. Tingkah laku pemuda itu, juga sikapnya yang ngotot menggunakan bahasa Melayu, segera menjadi pusat perhatian. Direktur HBS Surabaya, Tuan Bot, segera menudingnya sebagai “pencari masalah”. Dan, pemuda itu bernama Soekarno. Itulah debut politik pertama Soekarno. Kendati demikian, ia sudah lama mengunyah banyak pemikiran politik. Saat itu, sebagai pelajar HBS di Surabaya, Soekarno indekos di rumah HOS Tjokroaminoto, tokoh terkemuka dari pergerakan “Sarekat Islam”. Rumah HOS Tjokroaminoto sering menjadi tempat konsolidasi kaum pergerakan. Tokoh-tokoh pergerakan, seperti Sneevliet (tokoh komunis), Semaun, Musso, dan Alimin, sering bertandang ke sana. Soekarno menyebut rumah HOS Tjokroaminoto sebagai “dapurnya api nasionalisme”. Selain itu, di waktu senggangnya, Soekarno rajin mengunjungi perpustakaan milik perkumpulan Theosofi. Di sanalah ia mengakrabi bacaan-bacaan mengenai tokoh besar dunia, seperti Thomas Jefferson, Abraham Lincoln, Mazzini, Cavour, Garibaldi, Otto Bauer, Marx, Friedrich Engles, Lenin, Rousseu, Jean Jaures, dan lain-lain. Persinggungan Soekarno dengan HOS Tjokroaminoto membuatnya dekat dengan tokoh-tokoh Sarekat Islam (SI). Pada tahun 1921, Soekarno sudah menulis di koran SI: Oetoesan Hindia . Di setiap artikelnya Soekarno menggunakan nama samaran: Bima. Di koran itu Soekarno menulis sekitar 500 artikel dan komentar. Tri Koro Darmo/Jong Java Pada tahun 1915, puluhan pelajar STOVIA mendirikan organisasi kepemudaan bernama Tri Koro Darmo (Tiga Tujuan Mulia). Tiga tujuan mulia itu adalah: pertama, mengadakan hubungan antara pelajar pribumi yang belajar di sekolah-sekolah tinggi dan menengah, juga di kursus-kursus pendidikan lanjut dan Vak; kedua, membangkitkan dan meningkatkan minat terhadap kesenian dan bahasa nasional; dan ketiga, memajukan pengetahuan umum para anggota. (Hans Van Miert, 2003). Kendati organisasi pemuda ini didirikan oleh kaum terdidik, yang sudah mendapat asupan pemikiran barat di sekolahnya, tetapi sangat berorientasi nasionalisme-etnik. Cita-citanya adalah membangkitkan nasionalisme Jawa di bumi Jawa. Sudah begitu, sebagian besar anggotanya adalah anak-anak priayi, yang sangat taat dan hormat kepada majikannya: Belanda. Dan, sebagai konsekuensinya, organisasi ini sangat menjaga jarak dengan gerakan politik. Pada tahun 1918, Tri Koro Darmo berganti nama menjadi Jong Java. Tetapi pergantian nama tidak mengubah orientasi dan cara kerja organisasi ini secara mendasar. Organisasi ini tetap menitik-beratkan pekerjaannya di bidang seni dan kebudayaan Jawa, dan sengaja menghindar dari soal-soal politik. Namun, bukan berarti tidak ada upaya menyeret organisasi ini menjadi politis. Pada kongres ke-II Jong Java di Jogjakarta, 1-2 Juni 1919, dua tokoh komunis, yakni Darsono dan Semaun, sengaja datang ke kongres untuk mengagitasi para ‘cendekia muda’ ini agar memihak perjuangan kaum proletar. Namun, seolah-olah seruan Darsono-Semaun itu membentur batu karang. Namun demikian, tetap saja ada segelintir anggota Jong Java yang tertarik dengan politik. Karenanya, untuk menyogok mereka, Kongres membolehkan anggota Jong Java bergelut dengan politik “teoritis”, yakni politik sebagai objek studi, tetapi bukan politik sebagai sebuah gerakan yang melibatkan massa. Dua Faksi Di Tubuh Jong Java Surabaya Di Surabaya, pada tahun yang sama, para pelajar MULO, HBS dan NIAS juga mendirikan Tri Koro Darmo cabang Surabaya. Soekarno, yang saat itu menjadi pelajar HBS, segera bergabung dengan Tri Koro Darmo cabang Surabaya. Yang menarik, seperti dicatat Hans Van Miert dalam bukunya “Dengan Semangat Berkobar: Nasionalisme dan Gerakan Pemuda di Indonesia, 1919-1930, Jong Java cabang Surabaya terbelah dalam dua kubu (faksi), yakni ‘Kaum Merah’ dan ‘Kaum Halus’. Kubu Merah berwatak progressif, anti-elitisme, dan anti-kolonial. Sementara kubu Halus berwatak konservatif, sangat feodal, dan sangat patuh dan taat kepada penguasa kolonial. Soekarno berada di dalam kubu “Kaum Merah”. Pada beberapa kegiatan Jong Java Surabaya, Soekarno sering bersebrangan dengan golongan konservatif. Termasuk dengan ketua Jong Java Surabaya, Soegito. Misalnya, pada 6 Februari 1921, di hadapan 200 orang, Soekarno berhadap-hadapan dengan Soegito. Soekarno menolak berbicara dengan bahasa Belanda. Sebaliknya, Soegito menolak Soekarno berbicara jika tak menggunakan bahasa Belanda. Di Jong Java cabang Surabaya, Soekarno menjadi pengusung gerakan Djawa-Dipa, yang mempromosikan egalitarianisme dalam masyarakat Jawa. Misalnya, dalam aspek bahasa, gerakan ini berkeinginan menghapus tingkatan-tingkatan dalam bahasa Jawa. Soekarno sendiri memakai bahasa Djawa Ngoko (rendahan). Gerakan ini juga ingin membuang sistem gelar kebangsawanan yang rumit dan hirarkis dengan panggilan sederhanan dan egaliter: sapaan “Wiro” untuk laki-laki dan “Woro” untuk perempuan yang sudah menikah. Sedangkan yang belum menikah dipanggil “Roro”. Di Kongres ke-V Jong Java di Bandung, Jawa Barat, tahun 1921, terjadi pertempuran antara kaum merah dan kaum halus. Kaum merah berasal dari dua cabang, yakni Surabaya dan Semarang. Dua kota itu memang sangat dipengaruhi oleh gerakan kiri, khususnya PKI. Soekarno tampil sebagai jubir kaum merah di Kongres itu. Dengan mengutip semboyan Revolusi Perancis: Kemerdekaan, Persamaan, dan Persaudaraan, Soekarno melancarkan argumentasinya tentang perlunya penggunaan bahasa Djawa Dipa. Sayang, usul Soekarno ditolak mentah-mentah dari perwakilan daerah lain. Tak hanya itu, di forum itu Soekarno juga menolak ide federasi. Baginya, menyelesaikan persoalan rakyat jauh lebih penting ketimbang pembentukan Federasi. “Para intelektual harus memperhatikan nasib rakyat dan melawan kapitalisme terkutuk,” kata Soekarno. Soekarno menganjurkan agar ‘kaum inteligensia muda’ membangun organisasi perjuangan politik massal, yang berhubungan dan membela nasib rakyat. Sayang, usul Soekarno kurang disambut. Bahkan pers-pers putih, yang pro penguasa kolonial, mencemooh pendapat Soekarno. Semaun, tokoh PKI, yang hadir di forum itu sebagai wartawan, mengecam sikap pers putih yang berdiri memberikan tepuk tangan terhadap pidato yang menolak usulan Soekarno. Soekarno juga punya usulan progressif terkait keanggotaan Jong Java. Untuk diketahui, Jong Java adalah perkumpulan ekslusif, yang hanya terdiri dari para pelajar dan harus pandai berbahasa Belanda. Saat itu Soekarno mengusulkan agar semua pemuda, termasuk yang bukan pelajar, berhak menjadi anggota Jong Java. Sayang, ide Soekarno itu ditolak oleh Ketua Jong Java Surabaya dan pelajar-pelajar NIAS (sekolah pendidikan Dokter Pribumi di Surabaya). Untuk diketahui, selain aktif di Jong Java cabang Surabaya, Soekarno juga sering menemani Tjokroaminoto dalam pertemuan-pertemuan atau rapat akbar Sarekat Islam. Ia sering memperhatikan gaya pidato guru politiknya itu. Hingga pada suatu hari, Tjokroaminoto berhalangan untuk menjadi pembicara di sebuah Rapat Akbar. Akhirnya, Soekarno yang menggantikan. Sekalipun hanya pertemuan kecil, Soekarno memanfaatkannya untuk belajar orasi. Berbeda dengan gaya pidato yang Tjokro yang datar, Soekarno justru memilih menaik-turunkan suaranya. Ia juga lebih menekankan kepada gaya bercerita, yang memungkinkan massa mudah memahami maksudnya. Sejak itu Soekarno mulai dikenal sebagai ahli pidato. Dia juga makin dikenal sebagai tokoh politik. Lantaran itu, jabatan Sekretaris Jong Java Cabang Surabaya, dan kemudian Ketua Jong Java Surabaya, diserahkan kepadanya. Faktor Yang Meradikalkan Soekarno Saya kira, faktor yang membuat Soekarno muda menjadi radikal bukanlah seperti yang ditonjolkan oleh Film Soekarno karya Hanung Bramantyo: Soekarno kecewa karena gagal meminang kekasih Belandanya, Mien Hessels. Tetapi ada faktor ekonomi-politik yang menyeret Soekarno menjadi radikal. Pertama, Soekarno berasal dari keluarga priayi rendahan. Ayahnya hanya seorang guru biasa. Soekarno sering menyamakan kehidupan masa kecilnya dengan David Copperfield–karakter dalam novel Charles Dickens, yang sejak kecil akrab dengan kehidupan yang melarat. Soekarno kecil tinggal di Mojokerto, Jawa Timur, dengan kehidupan yang pas-pasan. Ia tumbuh dan bergaul dengan rakyat jelata. Hal inilah yang membuat Soekarno, di sepanjang hayatnya, lebih dekat secara emosional dengan rakyat jelata. Kedua , Soekarno sebagai anak dari bangsa jajahan sering mendapat perlakuan diskriminatif–seperti juga dialami Gandhi ketika tinggal di Afrika Selatan. Berkali-kali Soekarno mendapatkan makian “inlander”, “anak kulit coklat yang goblok”, “bumiputera”, dan lain-lain. Soekarno sering berkelahi dengan anak-anak Belanda karena merasa direndahkan dan dipermalukan. Ketiga, Soekarno sangat dipengaruhi oleh ide-ide radikal yang berkembang pesat saat itu, terutama nasionalisme radikal, demokrasi, dan marxisme. Melalui ide-ide dan berbagai pemikiran yang diserapnya, Soekarno mendefenisikan keadaan, mempelajari akar ketertindasan bangsanya, dan bagaimana mengubah keadaan.

Timur Subangun, anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD)

Selasa, 17 Februari 2015

Indonesia dan Tradisi Jahiliyyah Part. 1 (Anak Muda Bag. 1)

         Ini merupakan pembahasan saya yang pertama mengenai Negeri ini, yang mungkin akan menjadi tahap pembukuan bagi saya ke depannya. Pembahasan kali ini bertajuk “Indonesia dan Tradisi Jahiliyah”.  Terdengar riskan memang tetapi beberapa fakta telah saya analisa. Saat mendengar kata Jahiliyah pasti kita akan mengingat jauh kepada masa dimana semua orang menunggu kedatangan seorang Utusan Tuhan (Allah. Aw). Yaitu, zaman Kenabian  Terakhir.  Kedatangan  seorang   Nabi Penutup Risalah Kenabian ,  Muhammad .Sawa  (Shollallohu ‘Alaihi wa Aalihi).
         Ada beberapa kisah yang harus saya jabarkan dari masa keemasan Islam di kala itu, yang akan menjadi sebuah contoh dan analisa kita mengenai judul diatas. Di awal – awal misi Ke-Rasulan Muhammad. Sawa, dimana saat itu belum ada orang yang mempercayainya dan mengikuti ajarannya, kecuali Istri yang amat di cintainya Sayyidah Khadijah al-Kubra. As dan Keponakannya, ‘Ali bin Abi Thalib. As yang masih berusia 10 tahun kala itu. Setelah Surat pertama turun kepada Nabi Muhammad. Sawa di Gua Hiro (Qs. Al-Alaq : 1-5), Beliau. Sawa kembali ke rumah dan mendirikan Sholat bersama Istri tercintanya. Saat itulah datang Imam ‘Ali bin Abi Thalib. As dan menunggu mereka selesai beribadah (baca; Sholat) dan bertanya tentang hal yang demikian. Singkat cerita, banyak kisah yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad. Sawa mendapat wahyu di hari Senin dan Imam ‘Alibin Abi Thalib. As masuk Islam di hari Selasa.
         Ketika Wahyu kedua di turunkan (Qs. Asy-Syu’aara’ : 214) “Dan berilah peringatan kepada orang – orang terdekat.”  Ketika ayat ini turun Nabi Mhammad. Sawa pun segera mengumpulkan Keluarganya dalam acara jamuan makan malam. Dan di sela – sela waktu perbincangan Nabi Muhammad. Sawa bersabda: “Wahai Bani Abdul Muthalib, demi Allah tidak pernah aku ketahui di seluruh bangsa Arab sesuatu yang lebih utama dari apa yang aku bawa untukmu. Aku datang kepadamu untuk kebaikan di dunia dan akhirat. Allah telah menyuruhku mengajakmu kepada-Nya. Maka, siapakah di antara kamu yang bersedia membantuku dalam urusan ini untuk menjadi saudaraku, washiku dan khalifahku ?” Mereka semua tidak bersedia kecuali Ali bin Abi Thalib yang saat itu paling muda. Ali berdiri seraya berkata: “Aku ya Nabiyallah, aku (bersedia menjadi) wazir(pembantu)mu dalam urusan ini.” Kemudian Rasulullah saw memegang bahu Ali seraya bersabda: “Sesungguhnya Ali ini adalah saudaraku, washiku, dan khalifahku terhadap kalian, maka dengarlah dia dan taatilah dia.” Mereka tertawa sambil berkata kepada Abu Thalib: Kamu disuruh mendengar dan mentaati anakmu.(Lebih rinci, baca hadis Indzar).
         Juga sebuah peristiwa yang Saya sangat hafal mengenai kisah ini. Yaitu, saat Peristiwa Haji Wada’ atau Peristiwa Ghadir Qum. Dimana dalam beberapa Riwayat yang saya baca dan saya ketahui dari Kitab Sunnah populer di kalangan umat Muslim. Nabi Muhammad. Sawa di ujung masa Kenabiannya itu menyampaikan wasiat dan sejajar Ayat – ayat terakhir al-Qur’an. Juga mengisyaratkan atau memberikan Petunjuk mengenai Pemimpin Islam sepeninggal Beliau nanti. Ada banyak Hadits dan Riwayat yang tersedia, yang dengan jelas menyatakan bahwa Imam ‘Ali bin Abi Thalib. As adalah orang yang di tunjuk oleh Nabi Muhammad. Sawa sebagai pengganti Beliau dalam memimpin Islam. Berikut ini beberapa Hadits ini di bacakan dibeberapa tempat termasuk di peristiwa Ghadir Qum yang mendukung pernyataan Sayadiatas:

“Kedudukan ‘Ali disisiku bagaikan Harun disisi Musa, sayangnya Kenabian terputus padaku.”
“Barangsiapa yang Aku adalah Pemimpinnya maka ‘Ali adalah Pemimpinnya. Ya Allah..... Cintailah orang yang mencintai ‘Ali dan musuhilah orang yang memusuhinya.”
“Aku adalah Kota ‘Ilmu dan ‘Ali adalah pintunya. Barangsiapa ingin memasuki Kota Ilmu, maka masuklah melalui ‘Ali.”

         Bagi sebagian orang yang tidak mengetahui dan mempelajari ini, mungkin akan timbul Pertanyaan. Kenapa harus ‘Ali? Atau, ”Lantas kenapa faktanya yang menjadi Khalifah sepeninggal Rasulullah. Sawa adalah Abu Bakar dan bukan Imam ‘Ali?”  Saya pun sangat ingat suatu riwayat, sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Abu Bakar dalam Peristiwa Ghadir Qum. “Wahai Rasulullah..... Bukankah ‘Ali masih sangat muda untuk menjadi Pemimpin...?”   Dan itulah jawaban dari pertanyaan kalian dan Inti dari pembahasan ini.
         Sikap meremehkan orang yang lebih muda atau yang lebih spesifik, orang – orang yanglebih tua enggan di pimpin oleh orang yang lebih muda darinya. Salah satu sikapJ ahiliyah yang menjamur di Budaya Kejiwaan Nasional Bangsa Indonesia.  Hehehehehe..... Dan memang itulah Faktanya!
         Betapa sore tadi saya tercengang dan kagum ketika membaca Status salah seorang teman di Akun Facebooknya yang bertuliskan, “GENERASI MUDA TERLAHIR UNTUK MEMBERANTAS GENERASI TUA YANG TAK MENGENAL KEADILAN”.  Wow!!!!! Kritikkan pedas dan keras untuk orang – orang lebih tua yang meremehkan anak muda, karena tidak memberikan kesempatan kepada Pemuda untuk beraksi dan berlaga (meski tak semua orang lebih tua seperti demikian).  Anehnya yang hendak saya pertanyakan, apakah para orang – orang yang lebih tua itu tidak tahu atau tidak memperhatikan. Bahwa di Dunia, atau maaf bahkan di Negeri ini. Pemuda adalah Ujung Tombak dari Perubahan dan Perkembangan Negara.
         Di Tunisia, Kuba,Yaman dan Negara - Negara lainnya, sudah terbukti bagaimana Potensi dan Kemampuan Pemuda dalam membangkitkan dan mensukseskan Revolusi bagi Negaranya. Betapa masih membekas dalam ingatan kita tentang Sumpah Pemuda yang terjadi di Negeri ini. Juga dimana Sang Proklamator (Bung Karno) Bpk. Ir. Soekarno pernah berkata, “Berikan Aku 10 Pemuda, Niscaya akan aku Guncang Dunia ini!”. Juga masih hangat dalam ingatan saya, ketika saya membaca sebuah artikel mengenai kabar peperangan antara Imam Mahdi. As dan NabiIsa. as dari Islam berperang melawan Dajjal dan Pasukkannya. Dimana pasukan Islam itu di penuhi dengan Pemuda – Pemuda yang tangguh dan Hebat.
         Dari pembahasan ini, saya pun hendak mengajak Pemuda – Pemudi Nusantara untuk berdiri dan bergerak. Bangkit dan buktikan pada Negeri ini dan Ibu Pertiwi, bahwa Kami Pemuda – Pemudi Nusantara berhak dan sanggup untuk membangun serta memperkokoh Kekuatan Negeri ini dengan segala Potensi yang Kami miliki. Terlebih karena, demi Perdamaian dan Kehidupan yang lebih baik bagi Orangtua kita, saudara kita, Bangsa kita juga anak dan cucu kita semua.

Dengan Penuh Cinta dan Harapan.
Ridhwan Endri. Y

Minggu, 04 Januari 2015

Perang Khandaq

Nama lain perang Khandak adalah perang Ahzab. Hal itu lantaran beberapa kelompok kaum musyrikin bergabung membentuk satu kekuatan tunggal untuk menyerang pasukan Rasulullah saw. Pada peristiwa perang ini, kaum muslimin betul-betul merasa khawatir dan diliputi rasa takut yang dahsyat. Faktor utamanya adalah karena pasukan musyrikin yang sangat kuat dan orang-orang Yahudi juga turut bergabung dengan mereka. Seluruh pasukan mereka berjumlah sepuluh ribu prajurit.

Sementara pasukan muslimin hanya
berjumlah tiga ribu prajurit saja. Ketika melukiskan sejauh mana rasa
takut yang dialami oleh kaum muslimin dalam peperangan ini, Al-Qur’an berfirman:

“Ketika mereka mendatangimu dari bagian atas dan bagian bawah kalian dan ketika mata-matamu terbelalak dan rasa takutmu sampai menembus hati.” (QS. al-Ahzâb [33]:10)

Pada perang ini, Allah telah memberikan kemenangan bagi Islam melalui tangan Ali bin Abi Thalib as. Dialah orang yang telah berhasil menghancurkan dan memporak-porandakan barisan kaum musyrikin.
Menggali Parit Ketika Nabi saw. mengetahui pasukan Quraisy dan Bani Ghathafân ingin melakukan serangan terhadap muslimin, ia saw. mengumpulkan para sahabat dan memberitahukan kepada mereka rencana musuh tersebut. Beliau.saw. meminta pendapat mereka masing-masing demi menghalau musuh Islam itu. Salman Al-Fârisî, salah seorang sahabat terkemuka, mengusulkan untuk menggali parit di sekitar kota Madinah.

Nabi saw. menyetujui pandangannya itu dan memerintahkan para sahabat untuk menggali parit. Ide tersebut merupakan taktik perang yang jitu untuk menyelamatkan pasukan
muslimin dari serangan musuh Islam.

Melihat parit digali di sekitar kota itu,
pasukan musuh bingung dan tidak memiliki jalan lain untuk melancarkan serangan terhadap muslimin. Dengan terpaksa, mereka hanya dapat menggunakan anak panah. Kaum muslimin pun menjawab serangan mereka dengan serangan yang sama. Saling-melempar anak panah pun terjadi antara kedua pasukan tersebut tanpa terjadi perangan terbuka di antara mereka.

Imam Ali as. Bertanding dengan ‘Amr Orang-orang kafir Quraisy merasa jengkel dengan kondisi perang semacam ini. Karena hal itu tidak memberi kemenangan kepada mereka. Mereka berusaha mencari ukuran lebar parit yang agak sempit agar kuda-kuda mereka dapat melompati dan menyeberangi parit. Di tengah-tengah mereka terlihat ‘Amr bin Abdi Wud. Dia adalah ksatria Quraisy dan penunggang kuda Kinânah yang tangguh pada masa jahiliah.

‘Amr menggenggam pedang. Ia laksana benteng kokoh. Ia menaiki kudanya dengan penuh bangga dan congkak. Dengan segenap kekuatan ia dapat melompati parit. Kaum muslimin yang menyaksikan hal itu merasa ciut, kerdil, dan gemetar. ‘Amr maju menghadap mereka dengan perlahan tapi pasti. Dengan suara yang lantang dan penuh penghinaan ia berkata: "Hai prajurit Muhammad, adakah yang berani melawanku?”
Hati kaum muslimin bak tercabut dari tempatnya. Mereka diliputi rasa takut. Untuk kedua kalinya ‘Amr angkat suara: “Adakah yang berani
melawanku?”
Tak seorang pun berani menjawab. Tetapi pejuang Islam, Imam Amirul Mukminin as. menjawab: “Aku yang melawannya, ya Rasulullah.”

Rasulullah saw. merasa khawatir atas keselamatan putra pamannya itu. Ia berkata: “Ketahuilah, dia adalah ‘Amr!”
Imam Ali as. menaati perintah Rasulullah saw. dan segera duduk kembali. Kembali ‘Amr mengejek kaum muslimin dan berkata: “Hai para sahabat Muhammad, mana surga yang kalian duga akan memasukinya jika kalian terbunuh? Siapakah di antara kalian yang menginginkannya?”

Pasukan muslimin membisu seribu bahasa. Imam Ali as. tetap memaksa Nabi saw. agar memberi izin untuk melawannya. Tak ada lagi alasan bagi Nabi untuk menolak desakan Ali as. Nabi saw. menetapkan sebuah
predikat bagi Ali as. sebagai tanda keagungan dan kehormatan. Beliau saw. bersabda: “Seluruh iman telah keluar untuk menentang seluruh kekufuran.”

Sungguh betapa predikat kehormatan yang kekal abadi dan bersinar bak matahari. Rasulullah saw. telah memberikan predikat “seluruh imam dan Islam” bagi Abul Husain dan predikat “seluruh kekufuran” bagi ‘Amr.

Setelah itu Nabi saw. mengangkat kedua tangan seraya memanjatkan doa dan harapan kepada Allah swt. agar menjaga putra pamannya itu. Beliau.Saw. berkata: “Ya Allah, Engkau telah mengambil Hamzah dariku di perang Uhud dan mengambil ‘Ubaidah di perang Badar. Maka jagalah Ali pada hari ini. Wahai tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku sendirian. Sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pewaris.”

Ali as. maju menyerang dengan penuh semangat. Ia tidak merasa takut dan gentar sedikitpun terhadap ‘Amr bin Abdi Wud. Ia bangkit dengan tekad yang kokoh membaja bak ksatria yang tak ada bandingannya. ‘Amr terkejut dengan pemuda yang berani maju untuk melawan dan tak gentar.

‘Amr bertanya: “Siapa kamu?”

Imam Ali menjawab dengan meremehkannya: “Aku adalah Ali bin
Abi Thalib.”

‘Amr menampakkan rasa kasihan kepadanya seraya berkata: “Dahulu, ayahmu adalah teman baikku.”

Imam Ali as. tidak bergeming sedikit pun dengan celotehan ‘Amr itu. Ia malah menjawab: “Hai ‘Amr, engkau telah berjanji kepada kaummu bahwa tidak seorang pun dari Quraisy yang mengajakmu kepada tiga karakter melainkan engkau pasti
menerimanya?”

‘Amr menjawab: “Ya, itulah janjiku.”

Ali as. berkata: “Aku mengajakmu kepada Islam.”

‘Amr tertawa seraya berkata kepada
Imam Ali sembari menghina: “Jadi, aku harus meninggalkan agama nenek moyangku? Jangan usik masalah ini!”

Ali as. berkata: “Aku akan menahan tanganku untuk membunuhmu, dan engkau bebas kembali.”

Mendengar ucapan lancang itu, ‘Amr marah dan berkata: “Jika begitu, bangsa Arab pasti membincangkan
kepengecutanku.”

Imam Ali as. melontarkan tawaran ketiga yang ‘Amr sendiri telah berjanji untuk menerimanya. Imam Ali berkata: "Kalau begitu, aku mengajakmu duel.”

‘Amr sangat terkejut dengan keberanian pemuda yang telah berani menantang dan menginjak-injak kehormatannya. ‘Amr turun dari
kudanya dan dengan cepat melayangkan pedangnya ke arah leher Imam Ali as. Imam menangkis
serangannya dengan prisai. Tetapi pedang ‘Amr dapat menembus ke
bagian kepala Imam Ali as. dan menciderainya. Muslimin yakin bahwa Imam Ali as. telah menjumpai ajal.

Tetapi Allah swt. menolong dan menjaganya. Imam Ali as. kembali menyerang ‘Amr dengan pedang hingga ia roboh. Ksatria Quraisy dan simbol kemusyrikan itu jatuh tersungkur di atas tanah dengan berlumuran darah seperti seekor sapi yang disembelih berlumuran darah. Imam Ali as. mengucapkan takbir yang diikuti oleh pasukan muslimin. Tulang 0unggung kemusyrikan telah runtu dan kekuatannya telah lumpuh.

Sementara Islam telah menggapai kemenangan yang gemilang melalui kegagahan Imam Al-Muttaqîn as. Sekali lagi Nabi saw. menghadiahkan predikat agung kepada Imam Ali as. di sepanjang sejarah. Ia bersabda:
“Sesungguhnya pertempuran Ali bin Abi Thalib atas ‘Amr bin Abdi Wud pada perang Khandak adalah lebih utama daripada amal umatku hingga
Hari Kiamat.”

Salah seorang sahabat Nabi saw. yan bernama Hudzaifah bin Al-Yaman berkata: “Seandainya keutamaan Ali. as. dengan membunuh ‘Amr pada perang Khandak itu dibagi-bagikan kepada seluruh kaum muslimin, niscaya keutamaan itu akan mencukupi mereka.”

Kemudian turun ayat kepada Rasulullah saw.:.”.. dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan (dengan memberikan kemenangan kepada mereka) ….” (QS. Al-Ahzâb [33]:25)

Tentang tafsir ayat ini Ibn Abbâs
berkata: “Sesungguhnya Allah mencukupkan kaum mukminin dengan pertempuran Ali as.”
Di samping itu, Imam Ali as. juga berhasil membunuh seorang prajurit Quraisy lainnya yang bernama Naufal bin Abdullah. Dengan demikian, Quraisy mengalami kekalahan yang telak. Ketika itu Rasulullah saw. bersabda: “Kini kita telah mengalahkan mereka, dan mereka tidak akan mampu mengalahkan kita.”

Akhirnya, pasukan kafir Quraisy mengalami kerugian dan kegagalan yang fatal. Sebaliknya, muslimin tidak mengalami kekalahan sedikit pun dalam peperangan ini.