Tampilkan postingan dengan label Tauhid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tauhid. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Februari 2016

Ajaran Tauhid, dalam Aksara Jawa Ha Na Ca Ra Ka ?

Dalam buku Wedaran Wirid I, karangan Ki R.S. Yoedi Parto Yoewono. Surabaja : Djojobojo, 1962-64. Di jelaskan tentang makna dalam Aksara Jawa Ha Na Ca Ra Ka, yang mengandung ajaran Tauhid…

01. Hananira Sejatine Wahananing Hyang,
02. Nadyan ora kasat-kasat pasti ana,
03. Careming Hyang yekti tan ceta wineca,
04. Rasakena rakete lan angganira,
05. Kawruhana ywa kongsi kurang weweka,
06. Dadi sasar yen sira nora waspada,
07. Tamatna prahaning Hyang sung sasmita,
08. Sasmitane kang kongsi bisa karasa,
09. Waspadakna wewadi kang sira gawa (sipat Rasul / Muhammad),
10. Lalekna yen sira tumekeng lalis (sekarat),
11. Pati sasar tan wun manggya papa,
12. Dasar beda lan kang wus kalis ing goda; (Islam / Ma’rifat),
13. Jangkane mung jenak jenjeming jiwarja,
14. Yitnanana liyep luyuting pralaya (angracuta yen pinuju sekarat ),
15. Nyata sonya nyenyet labeting kadonyan,
16. Madyeng ngalam paruntunan (?) aywa samar,
17. Gayuhane tanalijan (tan ana lijan) mung sarwa arga,
18. Bali Murba Misesa ing njero-njaba (Widhatulwujud, Esa, Suwiji),
19. Tukulane wida darja tebah nista,
20. Ngarah-arah ing reh mardi-mardiningrat.

makna-nya…

01. Asalmu karena kehendak Allah,
02. Walaupun tidak nampak tetapi ada,
03. Allah yang Kuasa tidak bisa ditebak (dinyatakan),
04. Rasakan dalam tubuhmu,
05. Ketahui sampai kurang waspada,
06. Jadi salah kalau kurang waspada,
07. Nyatakan Allah memberi petunjuk,
08. Petunjuk sampai bisa merasakan,
09. Waspadalah rahasia yang kau bawa (sifat Rasul/Muhammad),
10. Lupakan sampai sekaratil maut (menjelang ajal/koma),
11. Mati yang salah menjadi susah,
12. Dan beda bagi yang tidak tergoda (Islam/Mari’fat),
13. Tujuannya hanya tentram jiwanya,
14. At’tauhid atau khusyuk waktu sekaratil maut,
15. Ternyata sepi (hilang) sifat dunia,
16. Dalam alam barzah ternyata samar (gaib),
17. Tujuan tidak lain hanya satu,
18. Pulang menguasai Lahir Batin (Esa),
19. Tumbuhnya benih menjauhkan aniaya,
20. Hati-hati manuju jalan kedunia.

Sumber :
Kanzunkalam.com
rodiansah.tumblr.com

Jumat, 22 Januari 2016

Pengembara Pemikiran [5] Kesempurnaan Manusia

Sempurna adalah satu sifat yang bagi sebagian orang di anggap sebagai hal yang mustahil di capai oleh manusia. Katanya sih "Yang Sempurna itu hanya Allah saja...!"

Lalu pergi kemana ke-Maha-an Allah...? Coba hubungi Tim SAR biar bisa cepat di temukan dan di evakuasi...? :p

Bagi saya malah, orang yang mengatakan bahwa Allah. Swt sempurna itu telah keliru dalam mengenal Sang Maha...?

Kembali ke pembahasan, secara jelas dalam Qs. At-Tiin : 4 disebutkan bahwa Allah.Swt menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya. Itu menerangkan kepada kita bahwa sejatinya kita di ciptakan dengan Potensi Kesempurnaan.

Buktinya, Allah.Swt menjadikan Nabi Adam.As (manusia) sebagai khalifah di muka bumi. Bahkan Para Malaikat tunduk sujud kepada Adam.as sebagai bentuk kepatuhan dan ketaqwaan kepada Allah.Swt. Dan juga sebagai pengakuan dari para malaikat, bahwa Adam.as (manusia) memiliki derajat yang lebih tinggi dari Malaikat. Tentunya ketika Manusia itu sudah mencapai ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah.Swt.

Singkatnya, ketika manusia mencapai Derajat ketaqwaan, itu dengan upaya dan usaha yang sedemikian berat. Yaitu mengendalikan ego dan hawa nafsu. Sedangkan Malaikat, di ciptakan sudah dengan Ketaqwaan dan tak sedikitpun memiliki Hawa Nafsu serta ke-Egoan.

Jadi lebih Berat mana Pencapaian antara Manusia dan Malaikat menuju Ketaqwaan...??

Manusia di lengkapi oleh Akal dan Hati, Nafsu (Rasa) dan Jasad. Sementara Malaikat tidak demikian. Begitupula dengan Iblis dan Jin.

Manusia memiliki Potensi Kesempurnaan. Jika manusia diciptakan tanpa hal itu (tidak sempurna), maka tidak akan ada pahala dan dosa. Ya kan...?

Karena wajar saja manusia melakukan kesalahan, maksiat dan lalai dalam hidupnya, karena ia tidak sempurna. Dan seharusnya tidak di kenai dosa, karena kesalahan atau maksiat yang dia lakukan berasal dari ketidak sempurnaannya (manusia).

Tetapi jika manusia diciptakan dengan "kesempurnaan", maka ketika melakukan kesalahan dan maksiat. Ia pantas dan harus di kenai dosa (hukuman). Karena ia telah melanggar  atau menciderai kesempurnaan dirinya yang telah di anugerahkan oleh Allah.Swt kepadanya.

Lalu bagaimana dengan (maaf) cacat fisik dan semacamnya yang terjadi sejak lahir..?

Fisik tidak membatasi manusia dalam ketaqwaan. Karena dalam peribadahan, seseorang yang tidak mampu berdiri atau bangkit untuk melakukan shalat. Maka ia bisa melakukannya dalam kondisi duduk, ataupun kondisi yang sekiranya ia mampu untuk melakukannya. Bahkan hanya sekedar isyarat mata atau isyarat hati.

Tapi seringkali dalam beberapa kasus, ada manusia yang memiliki kekurangan dalam segi fisik, pasti memiliki kelebihan lain yang tak di miliki oleh orang yang fisiknya normal. Contoh, (maaf) orang buta. Biasanya memiliki pendengaran yang lebih peka, bahkan feeling yang lebih tajam hingga ingatan yang sangat kuat.

Jadi harusnya dengan keberadaan (maaf) orang-orang yang memiliki kekurangan dalam fisik, adalah untuk menyadarkan orang yang fisiknya normal. Supaya mereka bisa memaksimalkan potensi dirinya untuk mencapai kelebihan-kelebihan lainnya yang ada dalam dirinya sendiri.

Kembali mengenai Kesempurnaan, ada penjelasan lain mengenai Kesempurnaan manusia. Yaitu, ketika manusia melakukan kesalahan karena ketidaktahuan atau karena kelalaiannya, dan setelah itu ia mengambil pelajaran dari pengalamannya tersebut. Maka di situlah letak Kesempurnaan lain dari diri manusia.

Lebih tepatnya adalah Proses membangun kesadaran diri untuk mencapai Kesempurnaan dan Realitas Diri.

Salaam Penuh Maaf dan Do'a...~~

Jumat, 08 Januari 2016

Dedi Mulyadi, Terjemahkan Nilai-nilai Tauhid

Jum'at, 08 Januari 2016

Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, mengatakan, keterputusan hubungan antara nilai ketuhanan dalam diri manusia mengakibatkan keanehan. Pada satu sisi masyarakat Indonesia berwajah religius, tetapi di pihak lain sangat jauh dari nilai-nilai ketuhanan.

“Ini akibat keterjebakan orang berpikir formal. Sarjananya formal, kerjanya formal, semua serba formal, sampai-sampai menghayati Tuhan pun sebatas formal fikih dengan ibadah formal. Jadi kalau Anda ingin punya jawaban mengapa orang Indonesia itu saleh dengan ibadah tetapi jahat dalam kehidupan, itu jawaban saya,” terangnya , Kamis 7/1/2015.

Akibat berpikir dan bertindak formal itu menurut Dedi, orang-orang tidak banyak menghasilkan kreasi-kreasi terobosan. Karena itulah mengapa ia sebagai bupati pun tidak sekadar ingin menjalankan formalitas.

“Saya penuhi kewajiban formalnya, tetapi tidak cukup berhenti di situ karena saya sebagai manusia punya tanggungjawab mengemban misi khalifah, kewajiban Tuhan di muka bumi dalam bidang-bidang yang saya mampu lakukan. Jabatan hanya salahsatu peran, bukan satu-satunya,” ujarnya.

Bupati nyentrik yang belakangan ini dicap sebagai Raja Musyrik oleh sekelompok orang itu melihat kenyataan, bahwa dunia informal yang penuh dinamika, memberikan banyak potensi dan keniscayaan manusia untuk berbuat banyak diabaikan.

“Serba formal dan lupa hal yang informal atau kultural itu menjebak manusia menjadi sempit. Nyari makan pun harus bekerja secara formal, padahal kalau mau kreatif, tidak perlu ada pengangguran. Tak ada pekerjaan mestinya menciptakan pekerjaan. Tanah, air, udara dan cahaya semua melapangkan kita untuk beraktivitas secara produktif mengemban semangat ilahiah,” ujarnya.

NILAI UNIVERSAL TUHAN

Menurut Dedi, selama ini orang lupa akan nilai-nilai universal Tuhan yang harus diperankan dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan menurut Dedi sering dianggap sesuatu, bahkan diberhalakan dalam pikiran, tak jarang liyan yang berbentuk lalu disembah. Hal itu menurutnya menjadi bagian dari pemberhalaan secara tak langsung dan menghambat kemampuan kreatif manusia sebagai khalifatullah fil ard.

Jika Tuhan dianggap universal dan bernilai transenden, Dedi percaya akan banyak praktik-praktik kemanusiaan yang berjalan di atas nilai-nilai ketuhanan dan usaha penegakan rule of law dalam bingkai keislaman dan keindonesiaan akan terwujud.

“Itulah kenapa saya selalu mencoba menerjemahkan nilai-nilai Tauhidiyah yang transenden dari Tuhan dalam kehidupan sehari-hari untuk kaidah berpolitik, untuk kaidah bernegara, untuk kaidah berbangsa, dan untuk kaidah berwarga. Sebab hanya dari situlah bangunan nilai kemanusiaan yang setara, berkepribadian, dan berkemandirian akan tercipta karena kita semua tunduk pada nilai ketuhanan,” jelasnya.- Anisa/Fti

Sumber : KataKini