Tampilkan postingan dengan label Religius. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religius. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Januari 2016

Dedi Mulyadi, Terjemahkan Nilai-nilai Tauhid

Jum'at, 08 Januari 2016

Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, mengatakan, keterputusan hubungan antara nilai ketuhanan dalam diri manusia mengakibatkan keanehan. Pada satu sisi masyarakat Indonesia berwajah religius, tetapi di pihak lain sangat jauh dari nilai-nilai ketuhanan.

“Ini akibat keterjebakan orang berpikir formal. Sarjananya formal, kerjanya formal, semua serba formal, sampai-sampai menghayati Tuhan pun sebatas formal fikih dengan ibadah formal. Jadi kalau Anda ingin punya jawaban mengapa orang Indonesia itu saleh dengan ibadah tetapi jahat dalam kehidupan, itu jawaban saya,” terangnya , Kamis 7/1/2015.

Akibat berpikir dan bertindak formal itu menurut Dedi, orang-orang tidak banyak menghasilkan kreasi-kreasi terobosan. Karena itulah mengapa ia sebagai bupati pun tidak sekadar ingin menjalankan formalitas.

“Saya penuhi kewajiban formalnya, tetapi tidak cukup berhenti di situ karena saya sebagai manusia punya tanggungjawab mengemban misi khalifah, kewajiban Tuhan di muka bumi dalam bidang-bidang yang saya mampu lakukan. Jabatan hanya salahsatu peran, bukan satu-satunya,” ujarnya.

Bupati nyentrik yang belakangan ini dicap sebagai Raja Musyrik oleh sekelompok orang itu melihat kenyataan, bahwa dunia informal yang penuh dinamika, memberikan banyak potensi dan keniscayaan manusia untuk berbuat banyak diabaikan.

“Serba formal dan lupa hal yang informal atau kultural itu menjebak manusia menjadi sempit. Nyari makan pun harus bekerja secara formal, padahal kalau mau kreatif, tidak perlu ada pengangguran. Tak ada pekerjaan mestinya menciptakan pekerjaan. Tanah, air, udara dan cahaya semua melapangkan kita untuk beraktivitas secara produktif mengemban semangat ilahiah,” ujarnya.

NILAI UNIVERSAL TUHAN

Menurut Dedi, selama ini orang lupa akan nilai-nilai universal Tuhan yang harus diperankan dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan menurut Dedi sering dianggap sesuatu, bahkan diberhalakan dalam pikiran, tak jarang liyan yang berbentuk lalu disembah. Hal itu menurutnya menjadi bagian dari pemberhalaan secara tak langsung dan menghambat kemampuan kreatif manusia sebagai khalifatullah fil ard.

Jika Tuhan dianggap universal dan bernilai transenden, Dedi percaya akan banyak praktik-praktik kemanusiaan yang berjalan di atas nilai-nilai ketuhanan dan usaha penegakan rule of law dalam bingkai keislaman dan keindonesiaan akan terwujud.

“Itulah kenapa saya selalu mencoba menerjemahkan nilai-nilai Tauhidiyah yang transenden dari Tuhan dalam kehidupan sehari-hari untuk kaidah berpolitik, untuk kaidah bernegara, untuk kaidah berbangsa, dan untuk kaidah berwarga. Sebab hanya dari situlah bangunan nilai kemanusiaan yang setara, berkepribadian, dan berkemandirian akan tercipta karena kita semua tunduk pada nilai ketuhanan,” jelasnya.- Anisa/Fti

Sumber : KataKini

Selasa, 17 Februari 2015

Indonesia dan Tradisi Jahiliyyah Part.2 (Kotak-Kotak)

        Bhinneka Tunggal Ika. Sebuah kata yang menjadi semboyan utama dari Negeri Kesatuan yang kita cintai ini. Dimana kita bersatu diatas sekian banyak perbedaan yang meliputi tanah, perairan, bahasa, budaya, adat istiadat, dll. Ibarat warna mungkin Negara ini adalah Pelangi yang berwarna – warni. Banyak Manfaat yang kita dapat akibat Persatuan yang terjadi di Nusantara. Salah satunya adalah memerdekakan Tanah Air dari Penjajah – penjajah di masa lampau. Juga kita mengenal Peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi Pilar Utama Persatuan dan Kesatuan Rakyat Indonesia di masa PraKemerdekaan.
        Jelas kita semua mengetahui betapa Persatuan dan Kesatuan amat berarti bagi Negeri dan Bangsa ini. Sumpah Pemuda adalah bukti otentik bahwa tanggal 28Oktober 1928 bangsa Indonesia dilahirkan. Oleh karena itu sudah seharusnya segenap rakyat Indonesia memperingati momentum 28 Oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia. Proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudian mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia asli, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945.
        Menarik tajuk diatas yang berbunyi “Kotak – Kotak”  artikel ini kembali menyajikan perbandingan dan analogi antara Beberapa Kejadian dalam Sejarah dan menyajikannya menjadi sebuah Permasalahan yang harus segera di sikapi dengan baik dan cermat. Judulnya pun masih sama seperti Pembahasan saya sebelumnya, yang mengusung Budaya Indonesia masa kini dengan tradisi Jahiliyah masa lampau yang berasal dari Tanah Arab. Sebelumnya saya sampaikan maaf jika dari artikel saya ini yg menyinggung Kebudayaan Lama Orang Arab dimasa Jahiliyah ataupun gaya Radikal beberapa Ormas yang ada di Indonesia. Saya hanya bermaksud mengenang Persatuan Bangsa ini dan berharap menemukkan kembali serat – serat Nasionalisme yang mulai kendur di antara Rakyat Indonesia.
        Mari kita cermati Latar Belakang terbentuknya Sumpah Pemuda pada 1928 silam. Sumpah Pemuda lahir dari hasil perkembangan Organisasi Budi Utomo yang melahirkan beberapa Organisasi Kepemudaan, seperti Tri Koro Darmo (Jong Java),  Jong Sumatranen Bond,  Jong Minahasa,  Jong Betawi, dan lain - lain.  Organisasi - organisasi itulah yang menjadi cikal bakal lahirnya Sumpah Pemuda. Untuk mewujudkan persatuan organisasi - organisasi tersebut, mereka kemudian melakukan pertemuan dalam rangka mencapai kata mufakat. Pada 15 November 1925, mereka mengadakan kongres pemuda untukmembentuk panitia pelaksanaan kesepakatan bersama. Kemudian, pada 30 April1926, organisasi - organisasi itu berkumpul dan membentuk rapat besar yang dikenal sebagai Kongres Pemuda I.


       Dua tahun setelah itu, pada 26 - 28 Oktober 1929, organisasi - organisasi pemuda, mahasiswa, dan partai politik, berkumpul kembali dalam Kongres Pemuda II, dengan agenda utama mempersatukan dan mengobarkan semangat perjuangan dalam diri masing - masing peserta. Pada hari ketiga kongres itulah Sumpah Pemuda dideklarasikan. Rumusan Sumpah Pemuda ditulis oleh Muhammad Yamin pada sebuah kertas, ketika Mr. Sunario sebagai utusan kepanduan tengah berpidato pada sesi terakhir kongres.Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo, dan kemudian dijelaskan panjanglebar oleh Muhammad Yamin. Pada hari itu, secara resmi Muhammad Yamin mengusulkan agar bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan Indonesia, dan di hari itu pula untuk pertama kalinya W.R. Supratman memperdengarkan lagu “Indonesia Raya” melalui gesekan biola yang diiringi alunan piano Dolly, putri Haji Agus Salim.
       Indahnya Indonesiaku, dengan Keberagaman Suku dan Budayanya bersatu padu menjadi Satu. Fakta yang saya ketahui mengenai Budaya Jahiliyah adalah, terbaginya Bangsa Arab menjadi banyak Kaum. Pastilah di dalam sebuah perpecahan ada permasalahan atau konflik yang menjadi pemicu perpecahan tersebut. Akankah Indonesia yang memiliki banyak suku ini akan berpecah kembali dan kehilangan Persatuannya selama ini? Realitanya sudah banyak konflik antar suku yang beberapa kali terjadi di Indonesia. Mulai yang di picu dari sengketa tanah, area kekuasaan,dsb.
       Beberapa media lokal baik media visual atau tertulis menggambarkan perpecahan – perpecahan yang kini terjadi. Bukan hanya mengenai suku dan Budaya, melainkan menjalar kearah Pemahaman dan sudut Pandat juga kearah Agama dan Keyakinan. Di bagian Kebudayaan semisal di Ibu Kota DKI Jakarta, ada FBR dan FORKABI yang terpecah. Di Maluku ada RMS, ada GAM di aceh dan ada OPM di Papua, dan lain sebagainya meliputi seluruh daerah Kepulauan NKRI. Di bagian Keagamaan di dalam Islam ada Nahdatul Ulama, Muhammadiyyah, Salafi, Ahlussunnah wal Jama’ah, Syiah, dll. Juga di dalam Agama Nasrani, ada Protestan, Khatolik, dsb. Belum lagi beberapa perselisihan dan konflik di antara satu Kelompok Masyarakat dengan Kelompok lain. Ironis….. Saya salah seorang Pemuda yang Seringkali kontradiksi dan kritis dalam menyikapi aksi – aksi yang terjadi pada beberapa Organisasi Masyarakat, terutama yang mengusung nama Budaya dan Keagamaan.
       Beruntungnya Tradisi Jahiliyyah pada zaman dahulu di Arab mengalami Perubahan dan Penghapusan dengan Datangnya Risalah Kenabian dari Rasullullah Muhammad. Sawa, yang membawa Perdamaian, Persatuan dan Cinta Kasih sesama Manusia. Bagaimanapun beberapa Pahlawan pun telah membawa Indonesia ke dalam Persatuan dan Cinta. Namun Kedamaiannya kini mulai hilang saat Cinta Tanah Air Pudar dan berganti dengan Cinta Diri dan Egoisme.

      

       Fakta dan Realita sudah terpampang, sulit memang menerima dan mempertimbangkan pada siapa kita harus memihak. Jawabannya adalah Sejauh mana anda mencintai Perdamaian dan Persatuan di Indonesia. Negeri ini berideologi Demokrasi bukan? Setiap Warga Negara Indonesia bebas memilih Keyakinannya dan bebas untuk berpendapat, selama apa yang di pilih dan di ungkapkan tidak bertentangan dengan isi dari Pembukaan UUD 1945. Begitukah?
       Selanjutnya Perkembangan dan Kelanjutan dari Negeri Tercinta kita ini ada pada kita semua, Generasi Penerus Bangsa dan para Orangtua juga peran para Pendidik di Sekolah yang menjadi ruang – ruang Eksklusif dalam menanamkan dan mengajarkan sikap, peilaku dan jati diri para Penerus Bangsa Kelak. Jangan sampai Indonesia menjadi semakin Jahiliyah dengan perpecahan – perpecahan yang kian berkesinambungan. Ingat! Kita satu dan tak bisa dipisahkan, memisahkan ataupunt erpisahkan.

Jawabannya adalah, Sejauh mana anda mencintai Perdamaian dan Persatuan di Indonesia, Negeri yang Kita Cintai ini!

Penuh Cinta dan Harapan.
RidhwanEndri. Y

Indonesia dan Tradisi Jahiliyyah Part. 1 (Anak Muda Bag. 1)

         Ini merupakan pembahasan saya yang pertama mengenai Negeri ini, yang mungkin akan menjadi tahap pembukuan bagi saya ke depannya. Pembahasan kali ini bertajuk “Indonesia dan Tradisi Jahiliyah”.  Terdengar riskan memang tetapi beberapa fakta telah saya analisa. Saat mendengar kata Jahiliyah pasti kita akan mengingat jauh kepada masa dimana semua orang menunggu kedatangan seorang Utusan Tuhan (Allah. Aw). Yaitu, zaman Kenabian  Terakhir.  Kedatangan  seorang   Nabi Penutup Risalah Kenabian ,  Muhammad .Sawa  (Shollallohu ‘Alaihi wa Aalihi).
         Ada beberapa kisah yang harus saya jabarkan dari masa keemasan Islam di kala itu, yang akan menjadi sebuah contoh dan analisa kita mengenai judul diatas. Di awal – awal misi Ke-Rasulan Muhammad. Sawa, dimana saat itu belum ada orang yang mempercayainya dan mengikuti ajarannya, kecuali Istri yang amat di cintainya Sayyidah Khadijah al-Kubra. As dan Keponakannya, ‘Ali bin Abi Thalib. As yang masih berusia 10 tahun kala itu. Setelah Surat pertama turun kepada Nabi Muhammad. Sawa di Gua Hiro (Qs. Al-Alaq : 1-5), Beliau. Sawa kembali ke rumah dan mendirikan Sholat bersama Istri tercintanya. Saat itulah datang Imam ‘Ali bin Abi Thalib. As dan menunggu mereka selesai beribadah (baca; Sholat) dan bertanya tentang hal yang demikian. Singkat cerita, banyak kisah yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad. Sawa mendapat wahyu di hari Senin dan Imam ‘Alibin Abi Thalib. As masuk Islam di hari Selasa.
         Ketika Wahyu kedua di turunkan (Qs. Asy-Syu’aara’ : 214) “Dan berilah peringatan kepada orang – orang terdekat.”  Ketika ayat ini turun Nabi Mhammad. Sawa pun segera mengumpulkan Keluarganya dalam acara jamuan makan malam. Dan di sela – sela waktu perbincangan Nabi Muhammad. Sawa bersabda: “Wahai Bani Abdul Muthalib, demi Allah tidak pernah aku ketahui di seluruh bangsa Arab sesuatu yang lebih utama dari apa yang aku bawa untukmu. Aku datang kepadamu untuk kebaikan di dunia dan akhirat. Allah telah menyuruhku mengajakmu kepada-Nya. Maka, siapakah di antara kamu yang bersedia membantuku dalam urusan ini untuk menjadi saudaraku, washiku dan khalifahku ?” Mereka semua tidak bersedia kecuali Ali bin Abi Thalib yang saat itu paling muda. Ali berdiri seraya berkata: “Aku ya Nabiyallah, aku (bersedia menjadi) wazir(pembantu)mu dalam urusan ini.” Kemudian Rasulullah saw memegang bahu Ali seraya bersabda: “Sesungguhnya Ali ini adalah saudaraku, washiku, dan khalifahku terhadap kalian, maka dengarlah dia dan taatilah dia.” Mereka tertawa sambil berkata kepada Abu Thalib: Kamu disuruh mendengar dan mentaati anakmu.(Lebih rinci, baca hadis Indzar).
         Juga sebuah peristiwa yang Saya sangat hafal mengenai kisah ini. Yaitu, saat Peristiwa Haji Wada’ atau Peristiwa Ghadir Qum. Dimana dalam beberapa Riwayat yang saya baca dan saya ketahui dari Kitab Sunnah populer di kalangan umat Muslim. Nabi Muhammad. Sawa di ujung masa Kenabiannya itu menyampaikan wasiat dan sejajar Ayat – ayat terakhir al-Qur’an. Juga mengisyaratkan atau memberikan Petunjuk mengenai Pemimpin Islam sepeninggal Beliau nanti. Ada banyak Hadits dan Riwayat yang tersedia, yang dengan jelas menyatakan bahwa Imam ‘Ali bin Abi Thalib. As adalah orang yang di tunjuk oleh Nabi Muhammad. Sawa sebagai pengganti Beliau dalam memimpin Islam. Berikut ini beberapa Hadits ini di bacakan dibeberapa tempat termasuk di peristiwa Ghadir Qum yang mendukung pernyataan Sayadiatas:

“Kedudukan ‘Ali disisiku bagaikan Harun disisi Musa, sayangnya Kenabian terputus padaku.”
“Barangsiapa yang Aku adalah Pemimpinnya maka ‘Ali adalah Pemimpinnya. Ya Allah..... Cintailah orang yang mencintai ‘Ali dan musuhilah orang yang memusuhinya.”
“Aku adalah Kota ‘Ilmu dan ‘Ali adalah pintunya. Barangsiapa ingin memasuki Kota Ilmu, maka masuklah melalui ‘Ali.”

         Bagi sebagian orang yang tidak mengetahui dan mempelajari ini, mungkin akan timbul Pertanyaan. Kenapa harus ‘Ali? Atau, ”Lantas kenapa faktanya yang menjadi Khalifah sepeninggal Rasulullah. Sawa adalah Abu Bakar dan bukan Imam ‘Ali?”  Saya pun sangat ingat suatu riwayat, sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Abu Bakar dalam Peristiwa Ghadir Qum. “Wahai Rasulullah..... Bukankah ‘Ali masih sangat muda untuk menjadi Pemimpin...?”   Dan itulah jawaban dari pertanyaan kalian dan Inti dari pembahasan ini.
         Sikap meremehkan orang yang lebih muda atau yang lebih spesifik, orang – orang yanglebih tua enggan di pimpin oleh orang yang lebih muda darinya. Salah satu sikapJ ahiliyah yang menjamur di Budaya Kejiwaan Nasional Bangsa Indonesia.  Hehehehehe..... Dan memang itulah Faktanya!
         Betapa sore tadi saya tercengang dan kagum ketika membaca Status salah seorang teman di Akun Facebooknya yang bertuliskan, “GENERASI MUDA TERLAHIR UNTUK MEMBERANTAS GENERASI TUA YANG TAK MENGENAL KEADILAN”.  Wow!!!!! Kritikkan pedas dan keras untuk orang – orang lebih tua yang meremehkan anak muda, karena tidak memberikan kesempatan kepada Pemuda untuk beraksi dan berlaga (meski tak semua orang lebih tua seperti demikian).  Anehnya yang hendak saya pertanyakan, apakah para orang – orang yang lebih tua itu tidak tahu atau tidak memperhatikan. Bahwa di Dunia, atau maaf bahkan di Negeri ini. Pemuda adalah Ujung Tombak dari Perubahan dan Perkembangan Negara.
         Di Tunisia, Kuba,Yaman dan Negara - Negara lainnya, sudah terbukti bagaimana Potensi dan Kemampuan Pemuda dalam membangkitkan dan mensukseskan Revolusi bagi Negaranya. Betapa masih membekas dalam ingatan kita tentang Sumpah Pemuda yang terjadi di Negeri ini. Juga dimana Sang Proklamator (Bung Karno) Bpk. Ir. Soekarno pernah berkata, “Berikan Aku 10 Pemuda, Niscaya akan aku Guncang Dunia ini!”. Juga masih hangat dalam ingatan saya, ketika saya membaca sebuah artikel mengenai kabar peperangan antara Imam Mahdi. As dan NabiIsa. as dari Islam berperang melawan Dajjal dan Pasukkannya. Dimana pasukan Islam itu di penuhi dengan Pemuda – Pemuda yang tangguh dan Hebat.
         Dari pembahasan ini, saya pun hendak mengajak Pemuda – Pemudi Nusantara untuk berdiri dan bergerak. Bangkit dan buktikan pada Negeri ini dan Ibu Pertiwi, bahwa Kami Pemuda – Pemudi Nusantara berhak dan sanggup untuk membangun serta memperkokoh Kekuatan Negeri ini dengan segala Potensi yang Kami miliki. Terlebih karena, demi Perdamaian dan Kehidupan yang lebih baik bagi Orangtua kita, saudara kita, Bangsa kita juga anak dan cucu kita semua.

Dengan Penuh Cinta dan Harapan.
Ridhwan Endri. Y