Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Februari 2016

Ajaran Tauhid, dalam Aksara Jawa Ha Na Ca Ra Ka ?

Dalam buku Wedaran Wirid I, karangan Ki R.S. Yoedi Parto Yoewono. Surabaja : Djojobojo, 1962-64. Di jelaskan tentang makna dalam Aksara Jawa Ha Na Ca Ra Ka, yang mengandung ajaran Tauhid…

01. Hananira Sejatine Wahananing Hyang,
02. Nadyan ora kasat-kasat pasti ana,
03. Careming Hyang yekti tan ceta wineca,
04. Rasakena rakete lan angganira,
05. Kawruhana ywa kongsi kurang weweka,
06. Dadi sasar yen sira nora waspada,
07. Tamatna prahaning Hyang sung sasmita,
08. Sasmitane kang kongsi bisa karasa,
09. Waspadakna wewadi kang sira gawa (sipat Rasul / Muhammad),
10. Lalekna yen sira tumekeng lalis (sekarat),
11. Pati sasar tan wun manggya papa,
12. Dasar beda lan kang wus kalis ing goda; (Islam / Ma’rifat),
13. Jangkane mung jenak jenjeming jiwarja,
14. Yitnanana liyep luyuting pralaya (angracuta yen pinuju sekarat ),
15. Nyata sonya nyenyet labeting kadonyan,
16. Madyeng ngalam paruntunan (?) aywa samar,
17. Gayuhane tanalijan (tan ana lijan) mung sarwa arga,
18. Bali Murba Misesa ing njero-njaba (Widhatulwujud, Esa, Suwiji),
19. Tukulane wida darja tebah nista,
20. Ngarah-arah ing reh mardi-mardiningrat.

makna-nya…

01. Asalmu karena kehendak Allah,
02. Walaupun tidak nampak tetapi ada,
03. Allah yang Kuasa tidak bisa ditebak (dinyatakan),
04. Rasakan dalam tubuhmu,
05. Ketahui sampai kurang waspada,
06. Jadi salah kalau kurang waspada,
07. Nyatakan Allah memberi petunjuk,
08. Petunjuk sampai bisa merasakan,
09. Waspadalah rahasia yang kau bawa (sifat Rasul/Muhammad),
10. Lupakan sampai sekaratil maut (menjelang ajal/koma),
11. Mati yang salah menjadi susah,
12. Dan beda bagi yang tidak tergoda (Islam/Mari’fat),
13. Tujuannya hanya tentram jiwanya,
14. At’tauhid atau khusyuk waktu sekaratil maut,
15. Ternyata sepi (hilang) sifat dunia,
16. Dalam alam barzah ternyata samar (gaib),
17. Tujuan tidak lain hanya satu,
18. Pulang menguasai Lahir Batin (Esa),
19. Tumbuhnya benih menjauhkan aniaya,
20. Hati-hati manuju jalan kedunia.

Sumber :
Kanzunkalam.com
rodiansah.tumblr.com

Sabtu, 09 Januari 2016

Duhh Politik...?! Baca yuk...!!

Sebagian dari kita mungkin akan nyinyir ketika mendengar kata "Politik" . Bahkan ada yang cenderung melengos (buang muka) karena merasa pusing hingga muak mendengarkan berbagai intrik Politik yang terjadi di Negeri ini. Tapi politik gak serumit itu sebenarnya. Karena Politik sebenarnya, hanyalah Karakter atau Gaya berpikir seseorang yang mempengaruhi dan berpengaruh terhadap kejiwaan orang-orang lain yang melihat, mendengar atau mengalaminya.

Dengan jumlah manusia (orang) yang saban hari bertambah (sekaligus berkurang), Gaya berpikir dan karakter intuisi pun semakin bertambah (beragam dan berkembang). Sehingga keragaman itu sendiri kadang mesti mengalami kontradiksi satu sama lain, walaupun gak semuanya berbenturan. Ada juga percampuran yang terjadi antara satu gaya pemikiran dengan hasil pemikiran yang lain, sehingga menghasilkan pemikiran yang lebih berkembang dan lebih luas lingkupannya. Terlepas tujuan dari penggunaan Pemikiran itu sendiri.

Manusia, hidup sudah berapa lama sih di bumi...? Kita semua pasti akan merujuk kepada kejadian di turunkannya Nabi Adam.as dan Istrinya ke bumi. Lantaran keduanya terhasut oleh "Politik Iblis" yang hendak menjerumuskan mereka berdua kedalam maksiat kepada Tuhan. Saya sebut itu sebagai "Politik Iblis" karena memang pelakunya adalah Iblis. Nggak tahu deh Iblis menyebut jalan pemikirannya itu apa..? Ada yang tahu...?

Nah, kita semua sejak kecil mungkin tanpa terkecuali. Sudah mengenyam atau mendengar cerita mengenai insiden tersebut dari orangtua-orangtua kita. Yang secara otomatis, otak yang super canggih ini (sambil nunjuk ke dalam kepala) merekam dan menerjemahkan bahasa kejadian (Ilham) tersebut kedalam berbagai penafsiran dan pemikiran. Sehingga melahirkan lagi pemikiran-pemikiran yang lebih luas, baru dan universal.

Maaf, bukan bermaksud merendahkan orang-orang yang suka nyinyir atau muak dengan kata Politik. Hanya berniat meluruskan kesalahpahaman (bahasa sosmednya : GagalPaham) kita selama ini mengenai Politik. Supaya kita tidak terlampau membenci atau sampai anti-Politik.

Sekedar masukan dan jadi bahan pembelajaran kita. Untuk terhindar dari jebakan atau hasutan semacam "Politik Iblis"  tersebut, kita harus mengenali dan memahami bagaimana proses dan jalan Pemikiran itu terlahir. Sehingga kita menemukan 3 hal yang kiranya dapat membantu kita untuk tidak terjerumus kedalam tujuan dari "Politik"  tersebut.

Pertama, mengenali penyebab terjadinya. Seperti persaingan (dalam berbagai bidang), kecenderungan terhadap sesuatu hal yang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, usaha untuk meraih atau mencapai apa yang kita harapkan.

Kedua, mengenali Tujuannya. Dari sini kita bisa membedakan mana yang Politik Positif dan mana yang "Politik Iblis".

Ketiga, mengetahui cara atau proses terjadinya. Contohnya, cara Iblis menjerumuskan Adam. Yaitu lewat iming-iming sebuah keabadian dan kebahagian (sesaat), lewat dusta, fitnah, black-campagne, dll. Atau dalam kasus lain seperti yang di lakukan oleh para Revolusioneer untuk merebut kemerdekaan dan membangun Negerinya. Dengan cara-cara atau Pemikiran Politik yang lebih positif tentunya, walau tak menutup kemungkinan bisa saja menggunakan cara yang cenderung memaksakan dan bertentangan dengan nilai etika.

Kata Politik sendiri adalah bahasa serapan dari bahasa Yunani. Sementara dalam bahasa Arab disebut dengan "as-Siyyasah" atau Siasat yang mengarah kepada tujuan dan makna sosial. Sementara kepada makna tujuan ekonomi dan bisnis. Politik disebut dengan Muamalah.

Sepanjang sejarah, para Nabi, Rasul, para Filsuf, Cendikiawan, Negarawan dan lain-lain tak terkecuali Nabi Muhammad.Saw pun, memiliki Sistem Politik atau Kebijakan Politik. Yang di gunakan atau di lahirkan sesuai dengan kondisi zaman saat itu (penyebab), cita-cita yang di harapkan tercapai setelah itu (tujuan), dan proses yang berlandaskan pada cara berfikir masing-masing individu.

Jadi, masih mau membenci atau anti-Politik...??

Kita tidak di larang untuk berfikir menggunakan akal, kita hanya di minta untuk tidak melampaui batas dalam hal apapun. Cinta dan Benci, Senang dan sedih, juga bebagai hal dan perasaan lainnya ada dan kita semua pasti memilikinya. Hanya bagaiamana cara mengontrol dan menguasainya saja yang harus kita miliki. Tentunya agar kita tidak melampaui batas, dalam hal ini mengenai Politik atau Gaya Berpikir.

Salam Penuh Maaf dan Doa...!!

Jokowi Berhasil Tetapkan Bahasa Indonesia Jadi Bahasa ASEAN

Jakarta, Lensaberita.Net - Pakar bahasa dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Dr Suhartono SPd MPd menilai Bahasa Indonesia berpotensi menjadi Bahasa ASEAN pada era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

"Ada dua bahasa yang berpotensi menjadi Bahasa ASEAN, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu," kata dosen Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unesa itu kepada Antara di Surabaya, Jumat (8/1/2016).

Namun, ia meyakini Bahasa Indonesia lebih berpotensi daripada Bahasa Melayu, karena setidaknya ada empat argumentasi yang ilmiah, meski pemerintah masih perlu melakukan diplomasi.

"Keempat argumentasi itu adalah Bahasa Indonesia itu sudah banyak dipelajari pada banyak negara, mudah dikuasai, laju perkembangannya fantastis, dan sebagaian kosa kata Indonesia juga ada di dalam bahasa negara-negara ASEAN," katanya.

Bedanya, distribusi Bahasa Indonesia tidak merata seperti Bahasa Melayu yang ada di Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand Selatan, dan Filipina Selatan, namun Bahasa Indonesia di Indonesia sendiri sudah mencapai 60 persen pengguna di tingkat ASEAN.

"Apalagi, meski tidak merata seperti Melayu, tapi kosa kata Indonesia ada pada sejumlah negara ASEAN, seperti candra di Kamboja dan Indonesia sama-sama berarti rembulan, atau bum atau land di Thailand yang di Indonesia mirip kata bumi atau tanah," katanya.

Bahkan, kosa kata di Thailand juga mirip kosa kata bahasa daerah di Indonesia, seperti suwarna di Thailand yang berarti emas dan dalam Bahasa Jawa juga berarti emas. "Atau, kodang di Thailand juga mirip gudang dalam bahasa kita," katanya.

Oleh karena itu, Bahasa Indonesia yang tidak merata dalam sebaran seperti Bahasa Melayu itu juga lebih mudah diterima dan sudah lama menjadi bahasa komunikasi ada tiga negara yakni Indonesia, Brunei Darussalam, dan Malaysia.

"Apalagi, saya mendengar di beberapa negara ASEAN juga sudah banyak dipelajari Bahasa Indonesia untuk kepentingan MEA. Di luar itu, Bahasa Indonesia juga sudah banyak dipelajari di Jepang, Australia, dan negara lain di dunia," katanya.

Senada dengan itu, Rektor Unesa Prof Warsono mendukung ikhtiar pemerintah untuk melakukan negosiasi dengan negara-negara ASEAN agar Bahasa Indonesia bisa menjadi Bahasa ASEAN.

"Unesa turut mendorong Bahasa Indonesia menjadi Bahasa ASEAN, karena pengguna bahasa Melayu mencakup 60-70 persen penduduk ASEAN di Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam," katanya.

Sumber : LensaBerita

Inilah Bukti Bahasa Jawa Lebih Hebat dari Bahasa Inggris

Wartaislami ~ Ada orang bule Australia datang ke pondok pesantren, dan bertanya kepada kyai...

Bule : "Kenapa kyai kalau mengajar, kitabnya masih menggunakan bahasa jawa? Di zaman globalisasi ini kenapa tidak ditingkatkan dengan menggunakan bahasa inggris?"

Kyai : "Karena kalau diajarkan dalam bahasa inggris, tidak akan mampu menafsirkan semua kosakata dalam AlQur’an maupun hadits, lha bahasa inggris itu sangat sederhana. Bahasa jawa itu bahasa yang sangat kaya dan sangat kompleks."

Rupanya si bule tadi merasa tersinggung mendengar penjelasan sang kyai yang mengatakan bahasa Inggris tidak mampu menafsirkan, dan kalah dengan bahasa jawa.

Bule : "Bagaimana anda bisa mengatakan bahasa jawa itu bahasa yang sangat kaya dan sangat kompleks, serta bisa menjadi bahasa pengetahuan? Padahal faktanya selama ini, bahasa Inggris lah yang paling kompleks!"

Kyai : "Tidak! Bahasa inggris itu memang sangat sangat sederhana. Saya kasih contoh, coba anda lihat! itu yang berwarna kuning keemasan yang ada di sawah. Orang inggris menyebutnya apa?"

Bule : "Rice!"

Kyai : "Orang disini. menyebutnya PARI atau PANTUN ( padi ). Padi itu kalau dipanen namanya GABAH, sedangkan inggris menyebutnya RICE. GABAH itu kalau diambil satu biji, namanya LAS, tapi orang inggris tetap menyebutnya RICE. GABAH kalau sudah terkelupas kulitnya, dinamakan WOS / BERAS, orang inggris tetap menyebut RICE. BERAS Padi kalau patah 2 atau 3, namanya MENIR, orang inggris tetap menyebutnya RICE. BERAS kalau sudah dimasak namanya SEGO atau SEKUL ( NASI ), orang inggris masih saja menyebutnya RICE. NASI kalau cuma 1 butir, namaya UPO, lagi-lagi orang inggris. menyebutnya RICE. NASI yang dimasak sedikit lebih lama, bagian bawahnya dinamakan INTIP atau KERAK, inggris masih menyebut RICE. NASI yang sudah kering namanya KARAK, inggris tetap menyebutnya RICE. Dari 1 kosakata saja, penafsiran namanya bisa bermacam-macam, sedangkan bahasa inggris tidak bisa menafsirkan tersebut. Apa bahasa jawa ini tidak lebih tinggi dan sangat sangat kompleks dibandingkan bahasa inggris yang sederhana tersebut?...

Si Bule : yes yes yes zzzzzzz.

Sumber dari Majelis Al Haramain via muslimoderat.com

Islam Nusantara Penuh Kesantunan dan Hadirkan Perdamian

Rois Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang sekaligus Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin menyatakan, Islam yang masuk ke wilayah Nusantara diperkenalkan dengan cara-cara damai. Terbukti mampu menghadirkan perdamaian dalam kehidupan masyarakat di Indonesia.

“Karena santunnya maka pada zaman itu banyak masyarakat yang dengan sukarela masuk Islam,” tegas Ma’ruf Amin pada Seminar Nasional Membumikan Islam di Nusantara yang berlangsung di Auditorium Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Kabupaten Purworejo, Jumat 8 Januari 2016.

Ma’ruf Amin menegaskan Islam Nusantara bukanlah aliran baru, namun sebuah keberagamaan Islam yang toleran dan mampu melakukan dialog dengan budaya-budaya lokal. Sejak zaman Wali Songo, konsep ini sudah diterapkan dan ternyata dapat selaras dengan kehidupan masyarakat sehingga Islam dapat berkembang dengan pesat di bumi Nusantara.

Sebuah konsep Islam yang memiliki karakter santun,tidak pernah memaksa, dan tanpa kekerasan apalagi intimidasi, seperti cara Rasulullah. Bukan Islam yang keras yang sangat tekstual namun juga bukan Islam yang liberal. Jadi, Islam Nusantara berada di tengah-tengah sesuai prisip tawasuth dalam NU.

“Islam Nusantara selalu membangun hubungan baik dengan sesama. Saling mengasihi dan tidak saling memusuhi. Dalam banyak hal, Islam mengajarkan untuk saling menolong dan tidak memandang siapa yang ditolong,” paparnya.

Lebih lanjut dijelaskan, dengan konsep Islam Nusantara yang mengemuka dalam Muktamar NU di Jombang beberapa waktu lalu orang masuk Islam bukan karena paksaan. Namun dengan sukarela karena menjunjung nilai-nilai toleransi.

‘’Hal itu pulalah yang menjadi kunci keberhasilan Wali Songo dalam menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Jika Islam disebarkan dengan model-model keras saya yakin Islam tidak akan berkembang seperti sekarang ini,’’ tandasnya.

Namun jika dalam perkembangannya ada oknum teroris yang mengatasnamakan jihad Islam, apalagi mengkafirkan yang tidak sejalan, itu tidak benar. Apalagi di Nusantara ini tidak ada nuansa perang.

“Sehingga tidak tepat ada jihad teroris karena Indonesia termasuk wilayah damai. Akibat ulah teroris itulah sehingga ada yang memaknai Islam galak, padahal lunak,” jelas Ma’ruf Amin.

Islam Nusantara lanjut Ma’ruf Amin, juga selalu menjaga tradisi yang berkembang di masyarakat sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

“Kita punya paradigma, mana yang baik dan yang tidak. Cara berfikir juga dinamis, tidak statis. Bahkan Islam Nusantara tidak hanya menjaga yang baik, namun juga melakukan,” tandasnya.

(Satu-Islam/Shabestan/ABNS)

Minggu, 03 Januari 2016

Indikasi

Masyarakat mulai angkat bicara,
tentang aib Petinggi Lembaga Negara yg terbuka.
Namun jalan-jalan ibukota masih ramai seperti biasa,
seolah menunggu aksi atas peristiwa.
Aku menyebutnya dgn makhluk beralmamater penuh warna,
Seolah mereka bergerak dgn sponsor yg mendorongnya.
Teriakan yg selalu terdepan membela rakyat (katanya) di depan istana,
meneriakan slogan dan orasi yg membara.
Penuh tuntutan dan rasa dongkol,
Do jalur-jalur protokol,
atau tempat-tempat strategis biasa mereka bercokol.
Mereka hilang ke antah-berantah,
menyisakan tanya atas anehnya tingkah.
Mengingat, ku ingat-ingat.
Pergerakan missioneeris kaum pengusung jihad,
Menyelundup di barisan kaum yg katanya intelektual dan moderat.
Mereka mendoktrin mahasiswa lewat organisasi,
Yang mereka sebut-sebut sebagai penegak syar'i dan hukum ilaahi.
Juga ku tak pernah lupa, siapa dan apa yg selama ini ada,
di balik pergerakan mahasiswa.
Alat hasil karya makhluk OrBa itu bernama mahasiswa.
OrBa konon sudah berlalu,
Tapi makhluknya hidup berkembang siapa yg tak tahu...?
Mereka bersembunyi di balik kepompong reformasi,
Berubah wujud jadi mesin pengeruk kekayaan Negeri.
Tindak-tanduk mereka dapat di kenali dengan ritme,
Hasrat koloni kaum kapitalisme-imprealisme.
Begitulah indikasi realita dan retorika,
dilema mahasiswa yg jadi korban atas nama bangsa.
Apalah arti intelektual yg di ikat karet,
terjebak dalam bungkus nasi karena kepepet.
Lihat, belakangan mereka keracunan doktrin gila,
Kaum ahmaq dan fanatik agama.
Doktrin ekstrim berjulukan wahabi,
produk ciptaan imprealisme bernama dinasti saudi.
Bukan tidak mungkin terjadi,
Karena nyatanya banyak mahasiswa yg mulai teracuni.
Siapa yg mau menyangkal...?
Cukup banyak kejadian ku dapati,
dari mulai UI hingga Tri Sakti.
Nyata terjadi,
Nusantara di hantam campuran serangan Neo-Kapitalis-Imprealis.
Jgn menangis,
Karena itu bukan puisi romantis,
Tapi sajak satir yg kritis dan mengiris.

Karat [4]

Betapa Air Asam itu berbahaya, besi keraspun dapat di ubah jadi rapuh tak bertenaga.
Apa pula pada hati, yg saban hari di basahi oleh kisruh hati cinta dini.
Coba deh renungi, gak ada ruginya memperbaiki diri.
Toh kita semua percaya takdir, jodoh gak bakal mangkir, terus kenapa kita masih khawatir.
Menjalani budaya asing tanpa sortir, hingga akhirnya berbagai perubahan zaman pun bergulir.
Adaptasi perubahan kata luarbiasa, mengikuti mode transisi pergaulan anak muda.
Aku ingat kata dari Bapak Bangsa, mengenai 5 pemuda yg mampu mengguncang dunia.
Terbayang betapa hebatnya mereka, miliki potensi luarbiasa, semangat jiwa tuk goyahkan dunia.
Terlalu idealis mimpi itu, lihatlah realita yg ada nampak semu.
Seumur jagung bicara cinta, mengobral manja mengumbar mesra.
Kiranya kelak apa yg kan mereka cipta..? Karya..?
Prestasi apa yg mampu mereka buat..?
Pemuda, kalian dengar nama dan kehebatan yg disematkan pada diri kalian..?
Hanya mengurusi cinta dini, lalu getaran apa yg akan menggoyah bumi ini..?

Selasa, 10 Maret 2015

Bukan Kompor Meleduk, tapi Uranium yg Meletup

Bukan Kompor Meleduk, tapi Uranium yg Meletup.

Seorang sobat datang menghampiri di sela-sela malam tadi. Kebetulan saya baru saja pulang dari kegiatan sampai tengah malam.
Berbincang panjang lebar soal pekerjaan, sampai akhirnya masuk ke dalam obrolan seputar Kenaikkan harga BBM dan Bahan-bahan Pokok (Beras dan Gas 3kg).

Panjang lebar sobat ini mengejewantahkan kelemahan dan kesalahan Pemerintahan Jokowi menurut segi pandangnya.

Awalnya saya hanya menjawab, "Jokowi bukan Dewa Bang..."

Ia pun terus melanjutkan tuduhannya, dan komplainnya terhadap pemerintahan era 2014-2019 ini. Bahkan menyangkutpautkan segala hal yg berubah dalam hal ini menurunnya taraf kesenjangan rakyat dan mengatakan, "Si Pak De aja, dulu waktu zaman SBY. Minumannya Jack Daniel, lah sekarang zaman Jokowi jadi turun drastis. Dari Jack Daniel yg harganya lumayan mahal, beralih ke Tuak (air tape) yg harganya cuma 7ribu perak." cetus nya dengan amat emosional.

Sayangnya karena atmosfer yg terlihat makin memanas, membuat saya enggan untuk menimpalinya lagi. Karena khawatir meledaknya emosi sobat tersebut. Maka saya hanya mengatakan, "Indonesia Negara Besar Bang, mustahil Jokowi menguatkan Negara ini sendiri. Kita butuh orang-orang kuat untuk menghadapi berbagai macam siklus, naik turunnya Perekonomian, Pasang-surutnya Pendidikan, jatuh bangunnya Pemberdayaan, juga maju dan mundurnya perkembangan. Kalo dengan problema yg seperti ini saja Abang sudah mengeluh, dalam hal ini merasa lemah. Lantas bagaimana Indonesia bisa maju ke depannya untuk menghadapi berbagai siklus lainnya...??"

Kesadaran Politik adalah Kesadaran Kebangsaan.

"Hidup ini Keras Bray!! Kalo lo lemah, nyerah aja... Lambai-lambai tangan, kali aja Malaikat Maut Lihat....?"

Ridhwan al-Kulani, Depok 10 Maret 2015.

Jumat, 20 Februari 2015

Lelaki di Tengah Badai

   AKHIR 1999, keputusan mengejutkan datang dari Boris Yeltsin Presiden Rusia kala itu. Ia mengundurkan diri dari kursi Presiden dan menunjuk Vladimir Putin, Wakil Perdana Menteri, untuk bertindak sebagai Presiden sampai Pemilu di tahun 2000.
     Yeltsin meninggalkan hutang triliunan rupiah dari hasil hutang kepada IMF dan World Bank. Hutang ini dinikmati kaum Oligarki "kaya raya" yang sebenarnya adalah binaan Yeltsin juga, untuk membeli perusahaan negara atau privatisasi.Hancurnya ekonomi Rusia pada waktu itu, yang disebut Yeltsin sebagai kesalahan administrasi, membuat Rusia pada posisi "miskin". Bahkan dikabarkan, untuk menopang hidup pasukan Rusia terpaksa harus berjualan sayur mayur.
      Vladimir Putin bergerak merubah konsep ekonominyake arah pasar bebas yang disesuaikan dengan situasi Rusia. Rusia seperti kembali ke masa Uni Sovyet saat dipimpin Lenin. 5 tahun kepemimpinannya, Putin berhasil membayar hutang-hutan negaranya dan bahkan karena tertarik dengan Putin, beberapa kreditor Internasional mau hutangnya tidak dibayar dulu.
      Dalam kepemimpinannya, Putin berhasil membongkar skandal keuangan negara. Tapi satu yang tidak dilakukannya, yaitu mengungkit kesalahan Boris Yeltsin sampai ia meninggal. Inilah yang mungkin mendasari keputusan Presiden Jokowi dalam kebijakannya.  Niat KPK untuk kembali membuka kasus BLBI yang terjadi saat pemerintahan Megawati, memunculkan riak yang besar.  Apalagi Abraham Samad pernah mengatakan bahwa ia tidak takut memanggil Megawati, meski mereka sekarang berkuasa.
      PDI-P secara bergelombang melindungi simbol partainya supaya tidak terjadi kehancuran fisik dan mental. Mulai dari cara halus sampai cara kasar diperlihatkan demi sebuah tujuan. Komjen BG disiapkan untuk menghalangi niat KPK dan menghajarnya..
      Yang terjadi dan sudah kita lihat adalah benturan yang diciptakan dan membuat rakyat ini terbelah. Presiden melakukan 2 langkah sekaligus, tidak melantik BG karena mengikuti kehendak rakyat dan memberhentikan 2 pimpinan KPK, untuk mencegah situasi membesar dan tidak terkendali. AS dan BW memang harus dihentikan langkahnya. Bukan karena Presiden tidak berterima-kasih kepada mereka, tetapi untuk melindungi keutuhan bangsa. Masyarakat yang tidak mengerti "situasi besar" yang terjadi, bergerak dengan naluri untuk melindungi KPK. Dan potensi benturan massal begitu kuatnya. Supaya situasi tidak memburuk, harus ada yang berkorban dan dikorbankan.
     Seperti Putin, Jokowi lebih memprioritaskan membangun negara ini supaya bisa membayar hutang-hutang negara dan menuju ke arah yang lebih sejahtera. Dan fokus program ini akan terganggu ketika "isu sensitif" menjadi bola salju yang membesar. Sebenarnya memang ketika rakyat sudah sejahtera, mereka cenderung tidak memperdulikan apa yang terjadi di masa lalu.
      Kebanggaan-kebanggan terhadap nasionalisme bangsa ditanamkan, sehingga diharapkan publik tidak terlalu sensitif bahwa pernah terjadi "kesalahan administrasi". Lapangan pekerjaan dibangun supaya perut kenyang, karena rasa lapar bisa membuat seseorang menjual dirinya. Jokowi mencoba meredam semua konflik yang mungkin terjadi. Ia tidak menyentuh BLBI, tidak menyentuh Century, bahkan tidak menyentuh peristiwa '98. Ia lebih fokus bekerja untuk masa depan karena masa lalu ketika dibahas tidak akan ada habisnya. Karena itu keputusannya cenderung bijaksana dan menengahi daripada mengambil posisi.
     Seperti masa kanak-kanak, Jokowi kecil menyuruh AS kecil dan BW kecil untuk menjauh sebentar karena ibunya sedang tidak suka kepadanya, dan mencarikan tempat untuk BG kecil yang disayang ibunya, supaya sang ibu tetap tersenyum di hari senja-nya. Ia bukan anak yang selalu menuruti kata ibunya, bahkan cenderung kepala batu dan bersimpangan. Tapi yang pasti, ia bukan anak durhaka. Ia menunjukkan rasa sayang dan terima-kasihnya dengan caranya sendiri. Bengal, tapi tidak menanggalkan rasa hormat.
      Bagai secangkir kopi, Jokowi memainkan takaran, menyeimbangkan pahit dan manis, dalam menyelesaikan masalahnya. Tidak terlalu pahit, tapi juga tidak terlalu manis. Pas! Dan menariknya, takaran yang ia buat disukai masyarakat Indonesia. Meski ada beberapa orang yang tidak suka, itu wajar. Toh, ia tidak bisa menyenangkan semua orang.
      Apa yang dilakukan Vladimir Putin dan Jokowi mengajarkan kepada kita, bahwa seorang lelaki teruji dari ketenangannya saat menghadapi badai.

Ditulis Oleh: Denny Siregar ,  tinggal di Jakarta.

Revolusi ala Bung Karno

     'Politik adalah seni kemungkinan’. Itulah kata ahli politik Prusia-Jerman, Otto von Bismarck (1815-1898), yang banyak menjadi rujukan banyak aktor politik di Indonesia.

     Mantan Presiden SBY pernah mengutip kata-kata Von Bismarck itu. Dalam politik, kata SBY, segala kemungkinan bisa terjadi. Hal yang kita anggap tidak mungkin terjadi bisa saja terjadi. Kemungkinan itu selalu ada. Karena itu, seperti dikatakan Von Bismarck, politik adalah seni menggunakan kemungkinan-kemungkinan.

         Tetapi cara pandang di atas bermasalah. Politik diandaikan berada di tapal batas yang sangat tipis antara kepastian dan ketidakpastian. Alhasil, kita hanya penunggu peluang. Selain itu, kita terkondisikan untuk pasrah terhadap keadaan; dipaksa menerima realpolitik. Dan, ketika anda pasrah terhadap realpolitik, maka orang bisa terjebak pada pembelaan terhadap keadaan ‘status-quo’. Sebab, membatasi diri pada realpolitik berarti memilih berbuat tidak melakukan apa-apa terhadap keadaan, khususnya terhadap imbangan kekuatan yang ada. Artinya, anda menerima dominasi dan hegemoni klas berkuasa. Soekarno tidak setuju dengan defenisi itu. Di tahun 1961, Soekarno pernah mengeluarkan defenisi berbeda. Bagi Soekarno, politik adalah ‘seni memungkinkan apa yang tidak mungkin di masa lampau’. Jadi, bagi Soekarno, politik adalah seni membuat ‘yang tidak mungkin’ menjadi ‘mungkin’.

     Defenisi politik ala Soekarno ini sangat revolusioner. Pertama, berbeda dengan ‘politik sebagai seni kemungkinan’ yang menganggap politik susah diprediksi, politik ala Soekarno justru berupaya memberi kepastian melalui intervensi aktif untuk mengubah keadaan. Kedua, kalau ‘politik sebagai seni kemungkinan’ membuat orang hanya sebagai penunggu peluang, maka politik ala Soekarno justru mendorong aktor politik untuk aktif menciptakan peluang. Ketiga, kalau ‘politik sebagai seni kemungkinan’ membuat orang pasrah terhadap realpolitik , maka politik ala Soekarno berupaya menciptakan jalan atau syarat-syarat untuk terjadinya perubahan keadaan. Bukan berarti politik revolusioner ala Soekarno itu tidak memijak realitas. Sebaliknya, politik ala Soekarno ini mengakui realitas sosial, ekonom dan politik yang ada. Hanya saja, bagi Soekarno, kaum revolusioner tidak bole berpangku tangan, sembari menunggu peluang datang, tetapi harus aktif mengubah imbangan kekuatan yang ada agar terbuka peluang untuk mengubah keadaan.

     Dalam konteks itu, Soekarno kemudian memperkenalkan konsep ‘machtsvorming’, yakni seni membangun kekuatan sosial untuk melancarkan tekanan/paksaan terhadap musuh atau kaum penindas. Menurut Soekarno, sebelum menjalankan machtsvorming ini, perlu didefenisikan dulu siapa kawan dan lawan; atau dalam bahasa Soekarno, penciptaan garis pemisah yang tegas antara kaum sana dan kaum sini. Setelah defenisi kawan dan musuh sudah jelas, maka kita bicara soal ‘imbangan kekuatan’ antara kita dan musuh. Dalam konteks ini, kita dan musuh berada dalam posisi diametral: berhadap-hadapan. Artinya, jika kekuatan musuh menguat, berarti kita melemah. Sebaliknya, jika kita menguat, maka kekuatan musuh tergerogoti.

     Pertanyaanya kemudian, bagaimana proses pembangunan kekuatan atau machtsvorming ini dijalankan? Di sini, merujuk pada Soekarno, kaum revolusioner diharuskan: pertama, memanfaatkan setiap ruang atau keadaan yang ada untuk membangun pergerakan; dan kedua, menciptakan ruang atau panggung politik untuk membangun pergerakan rakyat.

     Untuk kategori yang pertama, Soekarno menganjurkan kaum revolusioner untuk terlibat dan memimpin perjuangan rakyat sehari-hari, seperti perjuangan untuk upah, penurunan pajak, penghapusan kerja rodi, dan lain-lain. Selain itu, kaum revolusioner juga bisa mengintervensi momentum-momentum politik, seperti pemilihan dan lain-lain. Output dari intervensi ini adalah pembangunan organisasi rakyat, seperti serikat buruh dan organisasi kaum marhaen. Untuk kategori yang kedua, Soekarno mendorong kaum revolusioner menciptakan panggung politik sendiri, seperti Rapat Akbar (vergadering), kursus politik, dan pertemuan-pertemuan massa lainnya, yang memungkinkan kaum pergerakan melancarkan agitasi dan propaganda kepada massa luas. Soekarno juga menganjurkan kaum revolusioner melakukan propaganda seluas-luasnya melalui famplet, majalah, koran, risalah-risalah (buku-buku), dan lain-lain.

      Seorang revolusioner, di mata Soekarno, tidak boleh berpangku tangan melihat keadaan yang tidak menguntungkan, tetapi harus bergerak aktif untuk mengubahnya agar menguntungkan. Tentunya melalui penciptaan panggung-panggung politik untuk meluaskan agitasi dan propaganda kepada massa luas.

     Soekarno mencontohkan hal itu saat menjalani pembuangan di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Waktu itu pihak kolonialis berkeyakinan, kalau Soekarno dibuang ke Pulau Ende, sebuah tempat yang terisolir dan jauh dari hiruk-pikuk politik, maka pergerakan politik Soekarno akan berhenti. Maklum, Ende yang saat itu berpenduduk tidak lebih dari 5000-an jiwa, dengan sebagian besar penduduknya buta-huruf dan belum mengerti bahasa melayu/Indonesia, dengan akses informasi, buku-buku, dan surat-menyurat yang terbatas, memang sulit untuk menjadi lahan basah bagi tumbuhnya pergerakan nasional.

     Tetapi, rupanya, Soekarno tidak patah arang. Sebagai seorang manusia politik, ia mulai menciptakan panggung. Panggung pertamanya yang dibuatnya adalah pengajian rutin di rumahnya. Dengan begitu, penduduk sekitar bisa berkumpul di rumahnya. Tak hanya itu, cara ini efektif untuk mendekatkan Soekarno dengan massa luas. Setelah itu, Soekarno mulai mendekati para pastor SVD di Ende, yakni P. Johanes Bouma (Regional atau pemimpin SVD Region Sunda Kecil) dan P. Gerardus Huijtink (Pastor Paroki Ende). Di sinilah Soekarno mulai mengakses bacaan dan sekaligus informasi. Kemudian, Soekarno membentuk kelompok Sandiwara bernama “Kelimoetoe Toneel Club”. Jumlah anggotanya 47 orang. Melalui kelompok sandiwara ini, Soekarno menyelipkan agitasi-propaganda berbau anti-kolonial melalui naskah dan lakon yang dimainkan. Tak hanya itu, pementasan sandiwara ini bisa menjadi ala bagi Soekarno untuk mengorganisir massa.

     Itulah politik revolusioner ala Soekarno. Kendati ‘benih revolusioner’ itu jatuh di tanah yang tandus, ia sanggup tumbuh dan berkembang. Ia tidak pasrah terhadap keadaan sembari mengutuki kegelapan. Tetapi, ia berusah mencari atau menciptakan cahaya–sekecil apapun cahaya itu. Kusno, anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD)

Selasa, 17 Februari 2015

Warisi Apinya Bukan Abunya!!

Beberapa saat sebelum Megawati Soekarnoputri memberi mandat kepada Joko Widodo (Jokowi) untuk menjadi Calon Presiden dari PDI Perjuangan, Ia sempat mengajak Jokowi menziarahi makam Bung Karno di Blitar, Jawa Timur. Sekarang, menjelang keputusan PDIP menunjuk Calon Wapres pendamping Jokowi, Megawati kembali berencana bersiarah ke makam Bung Karno. Memang, ketika menjelang mengambi keputusan penting, Megawati kerap nyekar di makam Bung Karno.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan ziarah sebagai ‘ kunjungan ke tempat yang dianggap keramat atau mulia, seperti kuburan. Biasanya, mereka yang melakukan ziarah ke makam tokoh besar berharap mendapat ‘petunjuk’. Tak hanya Megawati, masyarakat umum pun banyak yang menziarahi makam Soekarno. Diantara mereka banyak yang merupakan pengagum figur Soekarno. Sebagian lagi mencari ‘petunjuk’ dari kuburan Soekarno yang dianggap keramat. Akhir-akhir ini, terutama sejak runtuhnya Orde Baru, figur Soekarno kembali mencuat. Banyak orang yang merindukan dan mengaguminya. Tidak sedikit pula yang memujanya. Dalam kampanye pemilu, foto Soekarno kadang iku ‘nimbrung’ di baliho Caleg. Ada juga partai yang sengaja mengarak fotonya dalam kampanye. Tak hanya itu, tokoh-tokoh politik yang krisis identitas terkadang mencaplok gaya Soekarno, entah gaya pidatonya, cara berpakaiannya, dan lain-lain. Bahkan, seorang capres yang gandrung dengan dogma neoliberal, yang baru-baru ini menyerahkan leher bangsa ini ke KTM-WTO di Bali, juga mengaku kemana-mana bahwa dirinya belajar dari Soekarno.

Itulah yang terjadi: Soekarno dipuja-puji setinggi langit, patungnya berdiri di sejumlah tempat, makamnya tidak pernah sepi pengunjung, dan lain sebagainya. Sementara ajaran Soekarno, terutama marhaenisme, sosio-nasionalisme, dan sosio-demokrasi, nyaris tidak tersentuh dan dielaborasi sesuai semangat zaman.

Lenin pernah memperingatkan bahaya ketika tokoh revolusioner, yang sudah meninggal dunia, dipuja-puji berlebihan dan dibangunkan patung-patung suci. Biasanya, kata Lenin, ketika tokoh revolusioner masih hidup, ia dikejar-kejar dan ajarannya diharamkan. Namun, begitu meninggal dunia, maka klas penindas akan mengubah mereka menjadi patung-patun suci yang tidak membahayakan. “..menyatakan mereka sebagai orang-orang suci, memberikan keharuman tertentu kepada nama-nama mereka untuk jadi penghibur bagi kelas-kelas tertindas dan untuk menipu mereka, bersamaan dengan itu mengebiri esensi ajaran revolusioner, menumpulkan ujung revolusionernya yang tajam, dan memvulgarkannya,” tulis Lenin di risalah terkenalnya, Negara dan Revolusi , tahun 1917.

Soekarno juga mengalami hal tersebut. Ketika masih hidup, para penjilat yang pura-pura mendukungnya, yakni militer dan sipil anti-komunis, memaksa Soekarno menerima gelar Presiden Seumur Hidup . Akibatnya, hingga sekarang, gelar paksaan itu menjadi dalih bagi orang untuk mengaitkan Soekarno dengan otoritarianisme. Juga gelar-gelar yang lain, seperti Paduka Yang Mulia , Pemimpin Besar Revolusi, dan lain sebagainya.

Di masa Orde Baru, Soekarno dan ajarannya ditindas. Pada tahun 1966, MPRS yang dikomandoi oleh AH Nasution mengeluarkan Ketetapan (TAP), yakni Tap Nomor XXXIII/MPRS/1966 tentang Pencabutan Kekuasaan Soekarno dan Tap MPR XXVI/ MPRS/1966 tentang Pembentukan Panitia Peneliti Ajaran-ajaran Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno. Kedua TAP MPRS itu sangat melecehkan Soekarno dan ajaran-ajarannya.

Tak hanya itu, melalui TAP MPRS nomor XXV tahun 1996, marxisme resmi dilarang. Padahal, marxisme punya kontribusi besar dalam memperkaya pemikiran politik progressif para pejuang kemerdekaan Indonesia, termasuk Soekarno. Marxisme berjasa besar dalam membentuk nasionalisme Indonesia yang kiri, yang punya komitmen besar terhadap kesetaraan dan keadilan sosial, sembari memagarinya dari bahaya chauvinisme dan fasisme.

Soekarno sendiri menganggap marxisme sebagai senjata analisa paling tajam untuk membedah keadaan ekonomi, sosial dan budaya sekaligus sebagai teori panduan untuk melancarkan aksi. Di kongres Partindo di Jakarta, 26 Desember 1961, Soekarno menegaskan bahwa marhaenisme adalah marxisme yang diselenggarakan, dicocokkan, dilaksanakan di Indonesia. Artinya, dengan pelarangan marxisme, ajaran marhaenisme pun kehilangan pijakan berpikirnya.

Sayang, ketika Megawati Soekarnoputri menjadi Presiden dari tahun 2001 hingga 2004, semua TAP MPRS yang melecehkan Soekarno dan ajarannya itu tidak dicabut. PDI Perjuangan, partai yang selalu mengklaim sebagai pewaris ideologi Soekarno, juga sangat lunak ketika memperjuangkan penghapusan semua TAP MPRS tersebut. Inilah masalahnya: sosok Soekarno diagung-agungkan, fotonya dipajang dan diarak di setiap pemilu, gaya pidatonya ditiru banyak elit politik, kata-katanya dikutip dimana-mana, tetapi pemikiran dan ajarannya diabaikan. TAP MPRS yang membelenggu ajaran Soekarno tidak pernah dicabut secara resmi.

Saya kira, yang penting dari historiografi seorang revolusioner bukan hanya soal perjalanan hidupnya, tetapi yang lebih penting adalah menyelidiki apa yang diwariskannya. Dengan begitu, kita sebagai “pelanjut angkatan” bisa memetik pelajaran darinya dan melanjutkan cita-citanya. Atau, seperti yang sering dikatakan Soekarno sendiri: “ambil apinya, bukan abunya.” Bagi saya, ada dua hal penting dari warisan Soekarno dan relevan untuk sekarang ini: pemikiran/ajaran dan proyek cita-cita politiknya. Dan saya kira, yang paling ditakuti oleh musuh Soekarno sepanjang sejarah, yakni kolonialisme, imperialisme, dan kapitalisme, adalah dua hal tersebut: pemikiran dan proyek politiknya. Tak bisa disangkal, pemikiran Soekarno berkontribusi besar dalam penyadaran dan mobilisasi kelas popular di Indonesia dalam kerangka melawan kolonialisme, imperialisme, dan kapitalisme. Hal ini tidak lepas dari kemampuan Soekarno memperkenalkan pemikiran-pemikirannya, baik melalui bacaan maupun pidato, dengan bahasa sangat sederhana dan gampang dicerna oleh rakyat jelata. Tak bisa disangkal, dari sekian banyak pemimpin revolusioner di Indonesia, Soekarno-lah yang memiliki pengikut terbanyak.

Ajaran Soekarno adalah marhaenisme, yakni sebuah azas politik yang menghendaki sebuah susunan masyarakat tanpa imperialisme dan kapitalisme. Namun, dalam kerangka mewujudkan cita-cita itu, marhaenisme berpijak pada dua pemikiran Soekarno juga, yakni sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi. Sayang, inti-inti ajaran Soekarno ini jarang dielaborasi hingga sekarang, bahkan oleh partai dan gerakan politik yang ‘mendaku’ sebagai pewaris ajaran Soekarno.

Soekarno sendiri mengatakan, untuk memahami marhaenisme dengan tepat dan benar, ada dua hal mendasar yang mesti dikuasai terlebih dahulu: pertama , pengetahuan yang mendalam mengenai situasi dan kondisi Indonesia; dan kedua , pengetahuan yang mendalam mengenai marxisme. Tanpa menguasai dual tersebut, kata Soekarno, seseorang tidak akan memahami marhaenisme. Pertanyaannya kemudian, bagaimana orang belajar marhaenisme ketika marxisme masih menjadi barang terlarang di Indonesia?

Soekarno, yang meninggal 43 tahun yang lalu, juga mewariskan cita-cita besar bagi bangsa Indonesia, yakni proyek sosialisme Indonesia, yakni sebuah masyarakat yang di dalamnya tidak ada lagi kapitalisme dan l’exploitation de l’homme par I’homme (penghisapan manusia atas manusia). Soekarno juga mewariskan cita- cita besar untuk seluruh umat manusia di dunia, yakni tatanan dunia baru tanpa tanpa ‘ exploitation de l‘homme par l‘homme ’ dan ‘ exploitation de nation par nation’ . Sayang, karena interupsi oleh kudeta Soeharto yang disokong oleh kaum imperialis di pertengahan 1960-an, cita-cita itu tidak kesampaian. Justru, karena itu, tugas para “Soekarnois” sekarang adalah melanjutkan proyek cita-cita Soekarno itu. Namun, untuk melanjutkan cita-cita itu, kita harus terbuka untuk mendiskusikan apa yang sudah dibangun oleh Soekarno dan yang belum, apa yang melenceng dan apa yang sudah tepat, apa yang perlu dikoreksi dan apa yang harus diperkuat. Saya kira, pendiskusian terbuka soal ini justru akan menjadikan proyek politik Soekarno menjadi hidup dan sesuai dengan konteks zaman.

Indonesia dan Tradisi Jahiliyyah Part.2 (Kotak-Kotak)

        Bhinneka Tunggal Ika. Sebuah kata yang menjadi semboyan utama dari Negeri Kesatuan yang kita cintai ini. Dimana kita bersatu diatas sekian banyak perbedaan yang meliputi tanah, perairan, bahasa, budaya, adat istiadat, dll. Ibarat warna mungkin Negara ini adalah Pelangi yang berwarna – warni. Banyak Manfaat yang kita dapat akibat Persatuan yang terjadi di Nusantara. Salah satunya adalah memerdekakan Tanah Air dari Penjajah – penjajah di masa lampau. Juga kita mengenal Peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi Pilar Utama Persatuan dan Kesatuan Rakyat Indonesia di masa PraKemerdekaan.
        Jelas kita semua mengetahui betapa Persatuan dan Kesatuan amat berarti bagi Negeri dan Bangsa ini. Sumpah Pemuda adalah bukti otentik bahwa tanggal 28Oktober 1928 bangsa Indonesia dilahirkan. Oleh karena itu sudah seharusnya segenap rakyat Indonesia memperingati momentum 28 Oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia. Proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudian mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia asli, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945.
        Menarik tajuk diatas yang berbunyi “Kotak – Kotak”  artikel ini kembali menyajikan perbandingan dan analogi antara Beberapa Kejadian dalam Sejarah dan menyajikannya menjadi sebuah Permasalahan yang harus segera di sikapi dengan baik dan cermat. Judulnya pun masih sama seperti Pembahasan saya sebelumnya, yang mengusung Budaya Indonesia masa kini dengan tradisi Jahiliyah masa lampau yang berasal dari Tanah Arab. Sebelumnya saya sampaikan maaf jika dari artikel saya ini yg menyinggung Kebudayaan Lama Orang Arab dimasa Jahiliyah ataupun gaya Radikal beberapa Ormas yang ada di Indonesia. Saya hanya bermaksud mengenang Persatuan Bangsa ini dan berharap menemukkan kembali serat – serat Nasionalisme yang mulai kendur di antara Rakyat Indonesia.
        Mari kita cermati Latar Belakang terbentuknya Sumpah Pemuda pada 1928 silam. Sumpah Pemuda lahir dari hasil perkembangan Organisasi Budi Utomo yang melahirkan beberapa Organisasi Kepemudaan, seperti Tri Koro Darmo (Jong Java),  Jong Sumatranen Bond,  Jong Minahasa,  Jong Betawi, dan lain - lain.  Organisasi - organisasi itulah yang menjadi cikal bakal lahirnya Sumpah Pemuda. Untuk mewujudkan persatuan organisasi - organisasi tersebut, mereka kemudian melakukan pertemuan dalam rangka mencapai kata mufakat. Pada 15 November 1925, mereka mengadakan kongres pemuda untukmembentuk panitia pelaksanaan kesepakatan bersama. Kemudian, pada 30 April1926, organisasi - organisasi itu berkumpul dan membentuk rapat besar yang dikenal sebagai Kongres Pemuda I.


       Dua tahun setelah itu, pada 26 - 28 Oktober 1929, organisasi - organisasi pemuda, mahasiswa, dan partai politik, berkumpul kembali dalam Kongres Pemuda II, dengan agenda utama mempersatukan dan mengobarkan semangat perjuangan dalam diri masing - masing peserta. Pada hari ketiga kongres itulah Sumpah Pemuda dideklarasikan. Rumusan Sumpah Pemuda ditulis oleh Muhammad Yamin pada sebuah kertas, ketika Mr. Sunario sebagai utusan kepanduan tengah berpidato pada sesi terakhir kongres.Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo, dan kemudian dijelaskan panjanglebar oleh Muhammad Yamin. Pada hari itu, secara resmi Muhammad Yamin mengusulkan agar bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan Indonesia, dan di hari itu pula untuk pertama kalinya W.R. Supratman memperdengarkan lagu “Indonesia Raya” melalui gesekan biola yang diiringi alunan piano Dolly, putri Haji Agus Salim.
       Indahnya Indonesiaku, dengan Keberagaman Suku dan Budayanya bersatu padu menjadi Satu. Fakta yang saya ketahui mengenai Budaya Jahiliyah adalah, terbaginya Bangsa Arab menjadi banyak Kaum. Pastilah di dalam sebuah perpecahan ada permasalahan atau konflik yang menjadi pemicu perpecahan tersebut. Akankah Indonesia yang memiliki banyak suku ini akan berpecah kembali dan kehilangan Persatuannya selama ini? Realitanya sudah banyak konflik antar suku yang beberapa kali terjadi di Indonesia. Mulai yang di picu dari sengketa tanah, area kekuasaan,dsb.
       Beberapa media lokal baik media visual atau tertulis menggambarkan perpecahan – perpecahan yang kini terjadi. Bukan hanya mengenai suku dan Budaya, melainkan menjalar kearah Pemahaman dan sudut Pandat juga kearah Agama dan Keyakinan. Di bagian Kebudayaan semisal di Ibu Kota DKI Jakarta, ada FBR dan FORKABI yang terpecah. Di Maluku ada RMS, ada GAM di aceh dan ada OPM di Papua, dan lain sebagainya meliputi seluruh daerah Kepulauan NKRI. Di bagian Keagamaan di dalam Islam ada Nahdatul Ulama, Muhammadiyyah, Salafi, Ahlussunnah wal Jama’ah, Syiah, dll. Juga di dalam Agama Nasrani, ada Protestan, Khatolik, dsb. Belum lagi beberapa perselisihan dan konflik di antara satu Kelompok Masyarakat dengan Kelompok lain. Ironis….. Saya salah seorang Pemuda yang Seringkali kontradiksi dan kritis dalam menyikapi aksi – aksi yang terjadi pada beberapa Organisasi Masyarakat, terutama yang mengusung nama Budaya dan Keagamaan.
       Beruntungnya Tradisi Jahiliyyah pada zaman dahulu di Arab mengalami Perubahan dan Penghapusan dengan Datangnya Risalah Kenabian dari Rasullullah Muhammad. Sawa, yang membawa Perdamaian, Persatuan dan Cinta Kasih sesama Manusia. Bagaimanapun beberapa Pahlawan pun telah membawa Indonesia ke dalam Persatuan dan Cinta. Namun Kedamaiannya kini mulai hilang saat Cinta Tanah Air Pudar dan berganti dengan Cinta Diri dan Egoisme.

      

       Fakta dan Realita sudah terpampang, sulit memang menerima dan mempertimbangkan pada siapa kita harus memihak. Jawabannya adalah Sejauh mana anda mencintai Perdamaian dan Persatuan di Indonesia. Negeri ini berideologi Demokrasi bukan? Setiap Warga Negara Indonesia bebas memilih Keyakinannya dan bebas untuk berpendapat, selama apa yang di pilih dan di ungkapkan tidak bertentangan dengan isi dari Pembukaan UUD 1945. Begitukah?
       Selanjutnya Perkembangan dan Kelanjutan dari Negeri Tercinta kita ini ada pada kita semua, Generasi Penerus Bangsa dan para Orangtua juga peran para Pendidik di Sekolah yang menjadi ruang – ruang Eksklusif dalam menanamkan dan mengajarkan sikap, peilaku dan jati diri para Penerus Bangsa Kelak. Jangan sampai Indonesia menjadi semakin Jahiliyah dengan perpecahan – perpecahan yang kian berkesinambungan. Ingat! Kita satu dan tak bisa dipisahkan, memisahkan ataupunt erpisahkan.

Jawabannya adalah, Sejauh mana anda mencintai Perdamaian dan Persatuan di Indonesia, Negeri yang Kita Cintai ini!

Penuh Cinta dan Harapan.
RidhwanEndri. Y

Indonesia dan Tradisi Jahiliyyah Part. 1 (Anak Muda Bag. 1)

         Ini merupakan pembahasan saya yang pertama mengenai Negeri ini, yang mungkin akan menjadi tahap pembukuan bagi saya ke depannya. Pembahasan kali ini bertajuk “Indonesia dan Tradisi Jahiliyah”.  Terdengar riskan memang tetapi beberapa fakta telah saya analisa. Saat mendengar kata Jahiliyah pasti kita akan mengingat jauh kepada masa dimana semua orang menunggu kedatangan seorang Utusan Tuhan (Allah. Aw). Yaitu, zaman Kenabian  Terakhir.  Kedatangan  seorang   Nabi Penutup Risalah Kenabian ,  Muhammad .Sawa  (Shollallohu ‘Alaihi wa Aalihi).
         Ada beberapa kisah yang harus saya jabarkan dari masa keemasan Islam di kala itu, yang akan menjadi sebuah contoh dan analisa kita mengenai judul diatas. Di awal – awal misi Ke-Rasulan Muhammad. Sawa, dimana saat itu belum ada orang yang mempercayainya dan mengikuti ajarannya, kecuali Istri yang amat di cintainya Sayyidah Khadijah al-Kubra. As dan Keponakannya, ‘Ali bin Abi Thalib. As yang masih berusia 10 tahun kala itu. Setelah Surat pertama turun kepada Nabi Muhammad. Sawa di Gua Hiro (Qs. Al-Alaq : 1-5), Beliau. Sawa kembali ke rumah dan mendirikan Sholat bersama Istri tercintanya. Saat itulah datang Imam ‘Ali bin Abi Thalib. As dan menunggu mereka selesai beribadah (baca; Sholat) dan bertanya tentang hal yang demikian. Singkat cerita, banyak kisah yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad. Sawa mendapat wahyu di hari Senin dan Imam ‘Alibin Abi Thalib. As masuk Islam di hari Selasa.
         Ketika Wahyu kedua di turunkan (Qs. Asy-Syu’aara’ : 214) “Dan berilah peringatan kepada orang – orang terdekat.”  Ketika ayat ini turun Nabi Mhammad. Sawa pun segera mengumpulkan Keluarganya dalam acara jamuan makan malam. Dan di sela – sela waktu perbincangan Nabi Muhammad. Sawa bersabda: “Wahai Bani Abdul Muthalib, demi Allah tidak pernah aku ketahui di seluruh bangsa Arab sesuatu yang lebih utama dari apa yang aku bawa untukmu. Aku datang kepadamu untuk kebaikan di dunia dan akhirat. Allah telah menyuruhku mengajakmu kepada-Nya. Maka, siapakah di antara kamu yang bersedia membantuku dalam urusan ini untuk menjadi saudaraku, washiku dan khalifahku ?” Mereka semua tidak bersedia kecuali Ali bin Abi Thalib yang saat itu paling muda. Ali berdiri seraya berkata: “Aku ya Nabiyallah, aku (bersedia menjadi) wazir(pembantu)mu dalam urusan ini.” Kemudian Rasulullah saw memegang bahu Ali seraya bersabda: “Sesungguhnya Ali ini adalah saudaraku, washiku, dan khalifahku terhadap kalian, maka dengarlah dia dan taatilah dia.” Mereka tertawa sambil berkata kepada Abu Thalib: Kamu disuruh mendengar dan mentaati anakmu.(Lebih rinci, baca hadis Indzar).
         Juga sebuah peristiwa yang Saya sangat hafal mengenai kisah ini. Yaitu, saat Peristiwa Haji Wada’ atau Peristiwa Ghadir Qum. Dimana dalam beberapa Riwayat yang saya baca dan saya ketahui dari Kitab Sunnah populer di kalangan umat Muslim. Nabi Muhammad. Sawa di ujung masa Kenabiannya itu menyampaikan wasiat dan sejajar Ayat – ayat terakhir al-Qur’an. Juga mengisyaratkan atau memberikan Petunjuk mengenai Pemimpin Islam sepeninggal Beliau nanti. Ada banyak Hadits dan Riwayat yang tersedia, yang dengan jelas menyatakan bahwa Imam ‘Ali bin Abi Thalib. As adalah orang yang di tunjuk oleh Nabi Muhammad. Sawa sebagai pengganti Beliau dalam memimpin Islam. Berikut ini beberapa Hadits ini di bacakan dibeberapa tempat termasuk di peristiwa Ghadir Qum yang mendukung pernyataan Sayadiatas:

“Kedudukan ‘Ali disisiku bagaikan Harun disisi Musa, sayangnya Kenabian terputus padaku.”
“Barangsiapa yang Aku adalah Pemimpinnya maka ‘Ali adalah Pemimpinnya. Ya Allah..... Cintailah orang yang mencintai ‘Ali dan musuhilah orang yang memusuhinya.”
“Aku adalah Kota ‘Ilmu dan ‘Ali adalah pintunya. Barangsiapa ingin memasuki Kota Ilmu, maka masuklah melalui ‘Ali.”

         Bagi sebagian orang yang tidak mengetahui dan mempelajari ini, mungkin akan timbul Pertanyaan. Kenapa harus ‘Ali? Atau, ”Lantas kenapa faktanya yang menjadi Khalifah sepeninggal Rasulullah. Sawa adalah Abu Bakar dan bukan Imam ‘Ali?”  Saya pun sangat ingat suatu riwayat, sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Abu Bakar dalam Peristiwa Ghadir Qum. “Wahai Rasulullah..... Bukankah ‘Ali masih sangat muda untuk menjadi Pemimpin...?”   Dan itulah jawaban dari pertanyaan kalian dan Inti dari pembahasan ini.
         Sikap meremehkan orang yang lebih muda atau yang lebih spesifik, orang – orang yanglebih tua enggan di pimpin oleh orang yang lebih muda darinya. Salah satu sikapJ ahiliyah yang menjamur di Budaya Kejiwaan Nasional Bangsa Indonesia.  Hehehehehe..... Dan memang itulah Faktanya!
         Betapa sore tadi saya tercengang dan kagum ketika membaca Status salah seorang teman di Akun Facebooknya yang bertuliskan, “GENERASI MUDA TERLAHIR UNTUK MEMBERANTAS GENERASI TUA YANG TAK MENGENAL KEADILAN”.  Wow!!!!! Kritikkan pedas dan keras untuk orang – orang lebih tua yang meremehkan anak muda, karena tidak memberikan kesempatan kepada Pemuda untuk beraksi dan berlaga (meski tak semua orang lebih tua seperti demikian).  Anehnya yang hendak saya pertanyakan, apakah para orang – orang yang lebih tua itu tidak tahu atau tidak memperhatikan. Bahwa di Dunia, atau maaf bahkan di Negeri ini. Pemuda adalah Ujung Tombak dari Perubahan dan Perkembangan Negara.
         Di Tunisia, Kuba,Yaman dan Negara - Negara lainnya, sudah terbukti bagaimana Potensi dan Kemampuan Pemuda dalam membangkitkan dan mensukseskan Revolusi bagi Negaranya. Betapa masih membekas dalam ingatan kita tentang Sumpah Pemuda yang terjadi di Negeri ini. Juga dimana Sang Proklamator (Bung Karno) Bpk. Ir. Soekarno pernah berkata, “Berikan Aku 10 Pemuda, Niscaya akan aku Guncang Dunia ini!”. Juga masih hangat dalam ingatan saya, ketika saya membaca sebuah artikel mengenai kabar peperangan antara Imam Mahdi. As dan NabiIsa. as dari Islam berperang melawan Dajjal dan Pasukkannya. Dimana pasukan Islam itu di penuhi dengan Pemuda – Pemuda yang tangguh dan Hebat.
         Dari pembahasan ini, saya pun hendak mengajak Pemuda – Pemudi Nusantara untuk berdiri dan bergerak. Bangkit dan buktikan pada Negeri ini dan Ibu Pertiwi, bahwa Kami Pemuda – Pemudi Nusantara berhak dan sanggup untuk membangun serta memperkokoh Kekuatan Negeri ini dengan segala Potensi yang Kami miliki. Terlebih karena, demi Perdamaian dan Kehidupan yang lebih baik bagi Orangtua kita, saudara kita, Bangsa kita juga anak dan cucu kita semua.

Dengan Penuh Cinta dan Harapan.
Ridhwan Endri. Y