Tampilkan postingan dengan label Ideologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ideologi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Februari 2016

Teori Konspirasi

Salam Sejahtera Sobat, saudara-saudari semua...!!

Kali ini saya mau ungkapin sedikit pendapat pribadi dan pemahaman terhadap berbagai kejadian yang terjadi di masa lampau (sejarah), hingga masa kini. Lebih tepatnya disebut sebagai sumber dari berbagai peristiwa yang terjadi dan sering di tuduhkan kepada sebuah konspirasi besar "orang-orang barat". Yang kadang disebut sebagai Permainan Zionist, Keluarga Rotschild, Ilumanity, Freemasson, Satanis, dsj.

Sebenarnya dengan nama apapun kita menyebutnya itu sama saja, semua tujuannya pun berguna untuk mempermainkan logika atau penikiran manusia mengenai hal-hal tersebut untuk menggiring manusia kepada satu tujuan tertentu. Yang saya sendiri belum menemukan bahasa yang tepat untuk menjuluki tujuan dari oknum-oknum tersebut. Tapi dampak yang paling nyata adalah membenturkan semua manusia kedalam medan perang pemikiran dan pendapat, sehingga manusia sibuk dan menghabiskan waktunya untuk menyelesaikan perdebatan menganai hal tersebut. Dan tidak sempat melakukan sesuatu yang lain yang lebih bermanfaat untuk memperbaiki sesuatu yang sudah terjadi kini.

Fokus kepada pembahasan, terutama pada rokok yang kadang suka sia-sia di hisap angin kalo lagi keasyikan ngetik. Jangan lupa kopinya di siapin juga sebagai larutan pencair kepenatan otak. Yang saya sendiri sudah menyiapkannya, nggak peduli kopi racik atau sachetan. Asal jangan Kopi buatan Si Anida aja..?! Karena ujungnya malah akan bahas Konspirasi Mirna dan Jessica. Please... saya nggak kuat bahas perempuan. Ruweet...!!

Ada yang tahu atau mungkin pernah dengar mengenai opsi "Standar Ganda" milik AS dalam kebijakan militer mereka di TimTeng (bukan TimTam, merk coklat) jadi iklan kan...? Hubungi saya untuk kesepakatan promosi...

Ya! Standar Ganda ini sebenarnya berlaku di berbagai aspek, bukan cuma kebijakan-kebijakan militer (khususnya AS dan Israel sebagai Negara Zionist terbesar dengan tanduknya muncul dengan jelas). Ini juga berlaku di bergabai aspek dan lini. Bahkan hingga isu-isu ekonomi, sosial dan HAM.

Karena Konspirasi yang selama ini disebut-sebut sebagai permainan mereka tersebut memang bukan hanya terjadi di Konflik-konflik ideologi dan peperangan perebutan pengaruh di kawasan-kawasan. Melainkan juga sudah memasuki ranah ekonomi, mulai dari perindustrian perlengkapan elektronik, dsb - hingga industri perlengkapan militer dan senjata. Bahkan lebih jauh dari itu, juga soal HAM. Seperti di Afrika, mereka menggunakan isu Rasisme, Sektarian di TimTeng dan sebagian Asia, sebagai Konspirasi mereka untuk melemahkan orang-orang Afrika pada khususnya dan untuk membuat publik internasional lengah pada umumnya. Publik Internasional...? Lengah...? Terhadap apa...?

Begitu juga lewat isu sosial yang lebih halus, seperti budaya, psikologi dan kejiwaan. Seperti kisah percintaan yang kini mempengaruhi hampir seluruh Pemuda-pemudi di Indonesia (berpengaruh dalam hal Kejiwaan dan Psikologi, yaitu kegelisahan dan kegalauan bathin), lalu Psikologi Publik mengenai Konsumerisasi, Hedonisme dan pelunturan budaya-budaya lokal dengan pengadopsian tanpa filter terhadap budaya-budaya Barat dan Arab (Baduy Jahiliyyah). Bahkan sampai kepada Isu yang beberapa pekan ini hangat di perbincangkan, di tambah dengan kelakuan seorang Artis dalam Negeri yang pamornya lagi naik itu, sebut saja namanya "Bunga".

"Terus yang di maksud membuat Publik Internasional Lengah itu gimana...? Lengah terhadap apa...? Kan belum di jawab...??" Sambil meletakkan gelas kopi yang habis di seruput dengan hisapan ekstra penghayatan (lebay).

Begini... Ya! Begini...
Ehehehe...

Yaitu Lengah terhadap Waktu, Keadaan dan Kesempatan.

Kita ambil satu TT, buka Tete ya...? Tapi TT (Trending Topic).

Yaitu mengenai LGB - T. Terserah mau nafsirin dan punya pendapat apa mengenai fenomena Sosial dan Kemanusiaan ini. Yang pasti, buka hal yang tabu lagi bagi kita bahwa hal ini juga termasuk ke dalam salah satu konspirasi yang di cetuskan oleh "Pihak Barat" untuk membuat kita lengah. Terutama kepada para penganut Agama Samawi, yang sering disebut sama para Massonic dengan sebutan "Goyyim".

Disini saya nggak mau bongkar kotak tabut buat ngebahas berbagai alat Kontrasepsi... eeh Konspirasi mereka, seperti Media (TV, Internet, dsj), Ormas-ormas dll yang ada dan memang bekerja aktif dengan sokongan dana yang tiap tahunnya mengalir selama permintaan-permintaan "Nyonya Tua" di penuhi.

Saya rasa itupun bukan lagi jadi hal yang tabu bagi kita kan...? Iya kita...? Aku, kamu..... Dia.... Dan mereka... Ahihihi...!!

Disini saya mau bahas Efek Nyata atau Real Effect (selanjutnye, ditulis RE) yang menjadi "Standar Ganda" bagi tiap Kontrasepsi mereka. EEHH-..!! Konspirasi, yaa Konspirasi.

Kembali ke soal "Goyyim", kenapa "Goyyim" yang di jadikan target utama. Karena tujuan utama nya adalah membenturkan Nilai-nilai Kemanusiaan dengan Hukum-hukum Agama, juga norma-norma Budaya.

Di tambah dengan Kompleks nya sekte-sekte atau Mazhab-mazhab Pemikiran dalam Agama, lalu di kemas dengan Tema Perkembangan Zaman. Yang mengakibatkan tidak sedikit orang-orang besar, mulai dari para Ahli dari Pakar Ilmiah Kedokteran, Psikologi dan Kejiwaan, Aktivis dan Pemerhati HAM, hingga Uskup-uskup, Pendeta, dan cendikiawan sampai para 'Ulama-'ulama besar memperbincangkan ini.

Selebihnya masyarakat awam lebih memilih (L2G2, Loe-Loe, Gue-Gue. Kata seorang teman yang namanya sama dengan saya), atau memilih ikut membuat atmosfer semakin semrawut dengan masuk ke medan diskusi ilmiah hingga debat kusir untuk saling memperdebatkan Keyakinan dan Persepsi masing-masing. "CRAAASSHH....BOOMMM...BAAANGG!!"

"MISSION SUCCEDED."

RE ini lebih mengena ketimbang ledakan Nuklir sekelas Nuklir Jelajah Antar Benua Ciptaan sebagian Negara-negara yang memang menciptakan Senjata Penghancur massal berhulu ledak Nuklir. Kenapa...? Modalnya sedikit (Ekonomis), Gak meninggalkan sidik jari dan gak mesti cuci tangan. Dan yang terpenting Praktis dan Nggak Ribet (kayak perempuan kalo bikin alis pas mau kondangan).

Coba hitung. Ini sudah memasuki 2 pekan bukan setelah isu LGB-T itu kembali di angkat oleh media. Sementara beberapa waktu silam, hal ini pernah booming berulangkali dan terus saja berhasi mencuri perhatian kamu...? Terus...? Giliran aku kapan...?! (Miris Mblo...??!)

Ibarat dalam main permainan, kita sudah kena Trap (jebakkan) pengalih perhatian berulang kali dengam cara yang sama. Huuuhh... Menyebalkan untuk mengakuinya...?!

Tenang saya juga kena kok...?? Membosankan...?!!

Jadi CMIIW (koreksi) ya di kolom komentar, maklum namanya juga pendapat pribadi yang masih belajar. Mempelajari agar tidak salah menilai, secara.. Banyak Banci Transgender yang bener-bener kayak perempuan. Juga ada perempuan yang mirip sama Banci Transgender. Hehehehe... Just Kidding..!!

Tidak bermaksud menyinggung keyakinan siapapun.

Salaam Penuh Maaf dan Doa...

Ridhwan Kulaniy, Depok.

Jumat, 15 Januari 2016

Pengembara Pemikiran [2]

Kekhawatiran saya terhadap waktu, menuntun jemari ini untuk menyambung jejak pena yang lalu.

Sebagian dari kita mungkin terlalu lelah untuk berfikir, apalagi memikirkan suatu hal yg tabu bagi kita. Sesuatu yang baru dan tidak kita kenali secara mendalam. Sehingga menimbulkan perasaan enggan bahkan takut sehingga membuahkan sebuah ketidak nyamanan ketika mendengar, membicarakan atau memikirkannya.

Apapun itu ketika kita kehilangan Kenyamanan dalam menjalaninya, maka akan terjadi kegalauan dalam hati. Begitu pula dengan berfikir.

Memahami sesuatu dalam keadaan tidak nyaman, akan merangsang otak untuk terus menyematkan hal-hal negatif kepada sesuatu tersebut.

Contohnya, ketika kita merasa tidak nyaman ketika melihat darah. Ketidak-nyamanan hati merangsang otak untuk menolak pemandangan tersebut. Sehingga tubuh meresponnya dengan sebuah perasaan negatif yang memicu tubuh merasa lemas, mual bahkan hingga pingsan.

Begitu pula dalam memahami buah Pemikiran atau Ide atau gagasan seseorang. Ketika kita merasa tidak nyaman dengan apa yang disampaikan oranglain, hal itu akan membuat otak berfikir atau menafsirkan Ide oranglain dengan kontaminasi emosi. Sehingga mengakibatkan #GagalPaham terhadap apa yang di pahami dan coba di uraikan oleh oranglain tersebut.

Jadi hal pertama yang harus di siapkan ketika hendak berdiskusi atau menafsirkan sesuatu adalah kenyamanan. Begitu juga dalam melakukan hal lainnya, yang menjadi faktor utama adalah kenyamanan (siap menerima dan terbuka dengan situasi).

Mungkin masih ambigu bahkan absurd pembahasan ini, karena sebenarnya yang saya maksud dalam "Pengembara Pemikiran" adalah bagaimana menata akal kita untuk memahami sebuah pemikiran atau penafsiran yang berasal dari oranglain. Sehingga kita mampu mencapai maksud dari penjabaran orang tersebut. Atau paling tidak membuka cakrawala dan gaya berfikir baru melalui sudut pandang yang berbeda, yaitu sudut pandang si pemikir.

Selanjutnya kita akan mulai memasuki fase Mengenali sebab-sebab lahirnya sebuah Pemikiran (Ideologi) dari para Pemikirnya atau Pencetusnya. Yabg secara langsung akan berlanjut kepada Akibat (terciptanya Pemikiran) melalui Sedikit penjabaran mengenai Proses-prosesnya.

Salam Penuh Maaf dan Doa... ~~ GoSmartIndonesia

Selasa, 10 Maret 2015

Bukan Kompor Meleduk, tapi Uranium yg Meletup

Bukan Kompor Meleduk, tapi Uranium yg Meletup.

Seorang sobat datang menghampiri di sela-sela malam tadi. Kebetulan saya baru saja pulang dari kegiatan sampai tengah malam.
Berbincang panjang lebar soal pekerjaan, sampai akhirnya masuk ke dalam obrolan seputar Kenaikkan harga BBM dan Bahan-bahan Pokok (Beras dan Gas 3kg).

Panjang lebar sobat ini mengejewantahkan kelemahan dan kesalahan Pemerintahan Jokowi menurut segi pandangnya.

Awalnya saya hanya menjawab, "Jokowi bukan Dewa Bang..."

Ia pun terus melanjutkan tuduhannya, dan komplainnya terhadap pemerintahan era 2014-2019 ini. Bahkan menyangkutpautkan segala hal yg berubah dalam hal ini menurunnya taraf kesenjangan rakyat dan mengatakan, "Si Pak De aja, dulu waktu zaman SBY. Minumannya Jack Daniel, lah sekarang zaman Jokowi jadi turun drastis. Dari Jack Daniel yg harganya lumayan mahal, beralih ke Tuak (air tape) yg harganya cuma 7ribu perak." cetus nya dengan amat emosional.

Sayangnya karena atmosfer yg terlihat makin memanas, membuat saya enggan untuk menimpalinya lagi. Karena khawatir meledaknya emosi sobat tersebut. Maka saya hanya mengatakan, "Indonesia Negara Besar Bang, mustahil Jokowi menguatkan Negara ini sendiri. Kita butuh orang-orang kuat untuk menghadapi berbagai macam siklus, naik turunnya Perekonomian, Pasang-surutnya Pendidikan, jatuh bangunnya Pemberdayaan, juga maju dan mundurnya perkembangan. Kalo dengan problema yg seperti ini saja Abang sudah mengeluh, dalam hal ini merasa lemah. Lantas bagaimana Indonesia bisa maju ke depannya untuk menghadapi berbagai siklus lainnya...??"

Kesadaran Politik adalah Kesadaran Kebangsaan.

"Hidup ini Keras Bray!! Kalo lo lemah, nyerah aja... Lambai-lambai tangan, kali aja Malaikat Maut Lihat....?"

Ridhwan al-Kulani, Depok 10 Maret 2015.

Jumat, 20 Februari 2015

Revolusi ala Bung Karno

     'Politik adalah seni kemungkinan’. Itulah kata ahli politik Prusia-Jerman, Otto von Bismarck (1815-1898), yang banyak menjadi rujukan banyak aktor politik di Indonesia.

     Mantan Presiden SBY pernah mengutip kata-kata Von Bismarck itu. Dalam politik, kata SBY, segala kemungkinan bisa terjadi. Hal yang kita anggap tidak mungkin terjadi bisa saja terjadi. Kemungkinan itu selalu ada. Karena itu, seperti dikatakan Von Bismarck, politik adalah seni menggunakan kemungkinan-kemungkinan.

         Tetapi cara pandang di atas bermasalah. Politik diandaikan berada di tapal batas yang sangat tipis antara kepastian dan ketidakpastian. Alhasil, kita hanya penunggu peluang. Selain itu, kita terkondisikan untuk pasrah terhadap keadaan; dipaksa menerima realpolitik. Dan, ketika anda pasrah terhadap realpolitik, maka orang bisa terjebak pada pembelaan terhadap keadaan ‘status-quo’. Sebab, membatasi diri pada realpolitik berarti memilih berbuat tidak melakukan apa-apa terhadap keadaan, khususnya terhadap imbangan kekuatan yang ada. Artinya, anda menerima dominasi dan hegemoni klas berkuasa. Soekarno tidak setuju dengan defenisi itu. Di tahun 1961, Soekarno pernah mengeluarkan defenisi berbeda. Bagi Soekarno, politik adalah ‘seni memungkinkan apa yang tidak mungkin di masa lampau’. Jadi, bagi Soekarno, politik adalah seni membuat ‘yang tidak mungkin’ menjadi ‘mungkin’.

     Defenisi politik ala Soekarno ini sangat revolusioner. Pertama, berbeda dengan ‘politik sebagai seni kemungkinan’ yang menganggap politik susah diprediksi, politik ala Soekarno justru berupaya memberi kepastian melalui intervensi aktif untuk mengubah keadaan. Kedua, kalau ‘politik sebagai seni kemungkinan’ membuat orang hanya sebagai penunggu peluang, maka politik ala Soekarno justru mendorong aktor politik untuk aktif menciptakan peluang. Ketiga, kalau ‘politik sebagai seni kemungkinan’ membuat orang pasrah terhadap realpolitik , maka politik ala Soekarno berupaya menciptakan jalan atau syarat-syarat untuk terjadinya perubahan keadaan. Bukan berarti politik revolusioner ala Soekarno itu tidak memijak realitas. Sebaliknya, politik ala Soekarno ini mengakui realitas sosial, ekonom dan politik yang ada. Hanya saja, bagi Soekarno, kaum revolusioner tidak bole berpangku tangan, sembari menunggu peluang datang, tetapi harus aktif mengubah imbangan kekuatan yang ada agar terbuka peluang untuk mengubah keadaan.

     Dalam konteks itu, Soekarno kemudian memperkenalkan konsep ‘machtsvorming’, yakni seni membangun kekuatan sosial untuk melancarkan tekanan/paksaan terhadap musuh atau kaum penindas. Menurut Soekarno, sebelum menjalankan machtsvorming ini, perlu didefenisikan dulu siapa kawan dan lawan; atau dalam bahasa Soekarno, penciptaan garis pemisah yang tegas antara kaum sana dan kaum sini. Setelah defenisi kawan dan musuh sudah jelas, maka kita bicara soal ‘imbangan kekuatan’ antara kita dan musuh. Dalam konteks ini, kita dan musuh berada dalam posisi diametral: berhadap-hadapan. Artinya, jika kekuatan musuh menguat, berarti kita melemah. Sebaliknya, jika kita menguat, maka kekuatan musuh tergerogoti.

     Pertanyaanya kemudian, bagaimana proses pembangunan kekuatan atau machtsvorming ini dijalankan? Di sini, merujuk pada Soekarno, kaum revolusioner diharuskan: pertama, memanfaatkan setiap ruang atau keadaan yang ada untuk membangun pergerakan; dan kedua, menciptakan ruang atau panggung politik untuk membangun pergerakan rakyat.

     Untuk kategori yang pertama, Soekarno menganjurkan kaum revolusioner untuk terlibat dan memimpin perjuangan rakyat sehari-hari, seperti perjuangan untuk upah, penurunan pajak, penghapusan kerja rodi, dan lain-lain. Selain itu, kaum revolusioner juga bisa mengintervensi momentum-momentum politik, seperti pemilihan dan lain-lain. Output dari intervensi ini adalah pembangunan organisasi rakyat, seperti serikat buruh dan organisasi kaum marhaen. Untuk kategori yang kedua, Soekarno mendorong kaum revolusioner menciptakan panggung politik sendiri, seperti Rapat Akbar (vergadering), kursus politik, dan pertemuan-pertemuan massa lainnya, yang memungkinkan kaum pergerakan melancarkan agitasi dan propaganda kepada massa luas. Soekarno juga menganjurkan kaum revolusioner melakukan propaganda seluas-luasnya melalui famplet, majalah, koran, risalah-risalah (buku-buku), dan lain-lain.

      Seorang revolusioner, di mata Soekarno, tidak boleh berpangku tangan melihat keadaan yang tidak menguntungkan, tetapi harus bergerak aktif untuk mengubahnya agar menguntungkan. Tentunya melalui penciptaan panggung-panggung politik untuk meluaskan agitasi dan propaganda kepada massa luas.

     Soekarno mencontohkan hal itu saat menjalani pembuangan di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Waktu itu pihak kolonialis berkeyakinan, kalau Soekarno dibuang ke Pulau Ende, sebuah tempat yang terisolir dan jauh dari hiruk-pikuk politik, maka pergerakan politik Soekarno akan berhenti. Maklum, Ende yang saat itu berpenduduk tidak lebih dari 5000-an jiwa, dengan sebagian besar penduduknya buta-huruf dan belum mengerti bahasa melayu/Indonesia, dengan akses informasi, buku-buku, dan surat-menyurat yang terbatas, memang sulit untuk menjadi lahan basah bagi tumbuhnya pergerakan nasional.

     Tetapi, rupanya, Soekarno tidak patah arang. Sebagai seorang manusia politik, ia mulai menciptakan panggung. Panggung pertamanya yang dibuatnya adalah pengajian rutin di rumahnya. Dengan begitu, penduduk sekitar bisa berkumpul di rumahnya. Tak hanya itu, cara ini efektif untuk mendekatkan Soekarno dengan massa luas. Setelah itu, Soekarno mulai mendekati para pastor SVD di Ende, yakni P. Johanes Bouma (Regional atau pemimpin SVD Region Sunda Kecil) dan P. Gerardus Huijtink (Pastor Paroki Ende). Di sinilah Soekarno mulai mengakses bacaan dan sekaligus informasi. Kemudian, Soekarno membentuk kelompok Sandiwara bernama “Kelimoetoe Toneel Club”. Jumlah anggotanya 47 orang. Melalui kelompok sandiwara ini, Soekarno menyelipkan agitasi-propaganda berbau anti-kolonial melalui naskah dan lakon yang dimainkan. Tak hanya itu, pementasan sandiwara ini bisa menjadi ala bagi Soekarno untuk mengorganisir massa.

     Itulah politik revolusioner ala Soekarno. Kendati ‘benih revolusioner’ itu jatuh di tanah yang tandus, ia sanggup tumbuh dan berkembang. Ia tidak pasrah terhadap keadaan sembari mengutuki kegelapan. Tetapi, ia berusah mencari atau menciptakan cahaya–sekecil apapun cahaya itu. Kusno, anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD)