Tampilkan postingan dengan label Intelektual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Intelektual. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Januari 2016

Pengembara Pemikiran [5] Kesempurnaan Manusia

Sempurna adalah satu sifat yang bagi sebagian orang di anggap sebagai hal yang mustahil di capai oleh manusia. Katanya sih "Yang Sempurna itu hanya Allah saja...!"

Lalu pergi kemana ke-Maha-an Allah...? Coba hubungi Tim SAR biar bisa cepat di temukan dan di evakuasi...? :p

Bagi saya malah, orang yang mengatakan bahwa Allah. Swt sempurna itu telah keliru dalam mengenal Sang Maha...?

Kembali ke pembahasan, secara jelas dalam Qs. At-Tiin : 4 disebutkan bahwa Allah.Swt menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya. Itu menerangkan kepada kita bahwa sejatinya kita di ciptakan dengan Potensi Kesempurnaan.

Buktinya, Allah.Swt menjadikan Nabi Adam.As (manusia) sebagai khalifah di muka bumi. Bahkan Para Malaikat tunduk sujud kepada Adam.as sebagai bentuk kepatuhan dan ketaqwaan kepada Allah.Swt. Dan juga sebagai pengakuan dari para malaikat, bahwa Adam.as (manusia) memiliki derajat yang lebih tinggi dari Malaikat. Tentunya ketika Manusia itu sudah mencapai ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah.Swt.

Singkatnya, ketika manusia mencapai Derajat ketaqwaan, itu dengan upaya dan usaha yang sedemikian berat. Yaitu mengendalikan ego dan hawa nafsu. Sedangkan Malaikat, di ciptakan sudah dengan Ketaqwaan dan tak sedikitpun memiliki Hawa Nafsu serta ke-Egoan.

Jadi lebih Berat mana Pencapaian antara Manusia dan Malaikat menuju Ketaqwaan...??

Manusia di lengkapi oleh Akal dan Hati, Nafsu (Rasa) dan Jasad. Sementara Malaikat tidak demikian. Begitupula dengan Iblis dan Jin.

Manusia memiliki Potensi Kesempurnaan. Jika manusia diciptakan tanpa hal itu (tidak sempurna), maka tidak akan ada pahala dan dosa. Ya kan...?

Karena wajar saja manusia melakukan kesalahan, maksiat dan lalai dalam hidupnya, karena ia tidak sempurna. Dan seharusnya tidak di kenai dosa, karena kesalahan atau maksiat yang dia lakukan berasal dari ketidak sempurnaannya (manusia).

Tetapi jika manusia diciptakan dengan "kesempurnaan", maka ketika melakukan kesalahan dan maksiat. Ia pantas dan harus di kenai dosa (hukuman). Karena ia telah melanggar  atau menciderai kesempurnaan dirinya yang telah di anugerahkan oleh Allah.Swt kepadanya.

Lalu bagaimana dengan (maaf) cacat fisik dan semacamnya yang terjadi sejak lahir..?

Fisik tidak membatasi manusia dalam ketaqwaan. Karena dalam peribadahan, seseorang yang tidak mampu berdiri atau bangkit untuk melakukan shalat. Maka ia bisa melakukannya dalam kondisi duduk, ataupun kondisi yang sekiranya ia mampu untuk melakukannya. Bahkan hanya sekedar isyarat mata atau isyarat hati.

Tapi seringkali dalam beberapa kasus, ada manusia yang memiliki kekurangan dalam segi fisik, pasti memiliki kelebihan lain yang tak di miliki oleh orang yang fisiknya normal. Contoh, (maaf) orang buta. Biasanya memiliki pendengaran yang lebih peka, bahkan feeling yang lebih tajam hingga ingatan yang sangat kuat.

Jadi harusnya dengan keberadaan (maaf) orang-orang yang memiliki kekurangan dalam fisik, adalah untuk menyadarkan orang yang fisiknya normal. Supaya mereka bisa memaksimalkan potensi dirinya untuk mencapai kelebihan-kelebihan lainnya yang ada dalam dirinya sendiri.

Kembali mengenai Kesempurnaan, ada penjelasan lain mengenai Kesempurnaan manusia. Yaitu, ketika manusia melakukan kesalahan karena ketidaktahuan atau karena kelalaiannya, dan setelah itu ia mengambil pelajaran dari pengalamannya tersebut. Maka di situlah letak Kesempurnaan lain dari diri manusia.

Lebih tepatnya adalah Proses membangun kesadaran diri untuk mencapai Kesempurnaan dan Realitas Diri.

Salaam Penuh Maaf dan Do'a...~~

Jumat, 15 Januari 2016

Pengembara Pemikiran [2]

Kekhawatiran saya terhadap waktu, menuntun jemari ini untuk menyambung jejak pena yang lalu.

Sebagian dari kita mungkin terlalu lelah untuk berfikir, apalagi memikirkan suatu hal yg tabu bagi kita. Sesuatu yang baru dan tidak kita kenali secara mendalam. Sehingga menimbulkan perasaan enggan bahkan takut sehingga membuahkan sebuah ketidak nyamanan ketika mendengar, membicarakan atau memikirkannya.

Apapun itu ketika kita kehilangan Kenyamanan dalam menjalaninya, maka akan terjadi kegalauan dalam hati. Begitu pula dengan berfikir.

Memahami sesuatu dalam keadaan tidak nyaman, akan merangsang otak untuk terus menyematkan hal-hal negatif kepada sesuatu tersebut.

Contohnya, ketika kita merasa tidak nyaman ketika melihat darah. Ketidak-nyamanan hati merangsang otak untuk menolak pemandangan tersebut. Sehingga tubuh meresponnya dengan sebuah perasaan negatif yang memicu tubuh merasa lemas, mual bahkan hingga pingsan.

Begitu pula dalam memahami buah Pemikiran atau Ide atau gagasan seseorang. Ketika kita merasa tidak nyaman dengan apa yang disampaikan oranglain, hal itu akan membuat otak berfikir atau menafsirkan Ide oranglain dengan kontaminasi emosi. Sehingga mengakibatkan #GagalPaham terhadap apa yang di pahami dan coba di uraikan oleh oranglain tersebut.

Jadi hal pertama yang harus di siapkan ketika hendak berdiskusi atau menafsirkan sesuatu adalah kenyamanan. Begitu juga dalam melakukan hal lainnya, yang menjadi faktor utama adalah kenyamanan (siap menerima dan terbuka dengan situasi).

Mungkin masih ambigu bahkan absurd pembahasan ini, karena sebenarnya yang saya maksud dalam "Pengembara Pemikiran" adalah bagaimana menata akal kita untuk memahami sebuah pemikiran atau penafsiran yang berasal dari oranglain. Sehingga kita mampu mencapai maksud dari penjabaran orang tersebut. Atau paling tidak membuka cakrawala dan gaya berfikir baru melalui sudut pandang yang berbeda, yaitu sudut pandang si pemikir.

Selanjutnya kita akan mulai memasuki fase Mengenali sebab-sebab lahirnya sebuah Pemikiran (Ideologi) dari para Pemikirnya atau Pencetusnya. Yabg secara langsung akan berlanjut kepada Akibat (terciptanya Pemikiran) melalui Sedikit penjabaran mengenai Proses-prosesnya.

Salam Penuh Maaf dan Doa... ~~ GoSmartIndonesia

Rabu, 13 Januari 2016

Pengembara Pemikiran [1]

Kita mampu memenjara atau menghukum seseorang, tetapi kita tidak bisa melakukan hal itu terhadap pemikirannya (akal). Bahkan dengan membunuh orang tersebut.

Karena Pemikiran adalah hasil karya akal, buah rasa hati dan estetika murni dari manusia. Manusia bisa lumpuh, hilang akal akibat tekanan psikologis bahkan mati. Tetapi selama terus ada manusia-manusia baru yang lahir, bertumbuh, berkembang dan hidup. Maka selama itu pula Pemikiran akan terus tercipta. Tanpa di duga, tanpa dapat di pahami. Karena sesuatu yang murni lahir begitu saja, seperti bakat alami, atau sama seperti mukjizat Ilaahi. Atau seperti proses terciptanya Alam Semesta ini, yang ada karena pergerakan dan perjalanan atom-atom yang mandiri. Meski hal itu bisa di pahami melalui ilmu pengetahuan yang cukup hebat menjelaskan dan cukup rumit menjabarkan. Tapi pada hakikatnya, bagaimana Atom itu bisa mandiri...?? (Memuai, memecah diri dan kandungan, mereaksi percampuran kandungan, dan menghasilkan berbagai Materi lainnya). Itu adalah suatu hal Yang Murni. Kita tidak akan membahas mengenai Sang Maha Pencipta Atom itu dalam Penjabaran ini, karena tentu Allah Tuhan YME adalah Maha Berkuasa atas Segala Sesuatu.

Semakin berkembang Kehidupan Manusia, maka semakin berkembang pula Pemikirannya. Meskipun dalam beberapa kasus ada Negara-negara atau wilayah atau kelompok atau individu yang pemikirannya malah cenderung melemah. Dalam bahasa ilmiahnya ini disebut dengan Istilah Lemah Akal, atau dalam bahasa SosMed ini disebut dengan #GagalPaham.

Ada dua penyebab, Melemahnya Pemikiran Manusia. Selain Lemah Akal, sebab kedua adalah Pengingkaran terhadap Potensi Akal yang telah di Karuniakan kepada Manusia. Pelemahan Akal, dapat terjadi oleh pengaruh dari luar. Semisal, tekanan dan doktrin. Pengingkaran Potensi Akal sendiri adalah wujud dari ketidakpercayaan diri dalam menggunakan Potensi Akal yang sedemikian canggih dan luarbiasa. Sehingga egonya menuntut akalnya untuk mendustai atau mengingkari dirinya sendiri.

Doktrin pun memiliki banyak macam, ada yang berupa ajaran dalam sebuah keyakinan tertentu (agama atau aliran) adapula yang berupa gaya hidup yang mampu mempengaruhi diri atau jiwa seseorang sehingga meninggalkan akalnya (Doktrin). Versi kedua ini berlaku sesuai perkembangan zaman, tren dan segala hal dapat memalingkan perhatian manusia dari menggunakan pemikirannya untuk hal-hal yang berguna dan positif.

Bersambung.....

Sabtu, 09 Januari 2016

Duhh Politik...?! Baca yuk...!!

Sebagian dari kita mungkin akan nyinyir ketika mendengar kata "Politik" . Bahkan ada yang cenderung melengos (buang muka) karena merasa pusing hingga muak mendengarkan berbagai intrik Politik yang terjadi di Negeri ini. Tapi politik gak serumit itu sebenarnya. Karena Politik sebenarnya, hanyalah Karakter atau Gaya berpikir seseorang yang mempengaruhi dan berpengaruh terhadap kejiwaan orang-orang lain yang melihat, mendengar atau mengalaminya.

Dengan jumlah manusia (orang) yang saban hari bertambah (sekaligus berkurang), Gaya berpikir dan karakter intuisi pun semakin bertambah (beragam dan berkembang). Sehingga keragaman itu sendiri kadang mesti mengalami kontradiksi satu sama lain, walaupun gak semuanya berbenturan. Ada juga percampuran yang terjadi antara satu gaya pemikiran dengan hasil pemikiran yang lain, sehingga menghasilkan pemikiran yang lebih berkembang dan lebih luas lingkupannya. Terlepas tujuan dari penggunaan Pemikiran itu sendiri.

Manusia, hidup sudah berapa lama sih di bumi...? Kita semua pasti akan merujuk kepada kejadian di turunkannya Nabi Adam.as dan Istrinya ke bumi. Lantaran keduanya terhasut oleh "Politik Iblis" yang hendak menjerumuskan mereka berdua kedalam maksiat kepada Tuhan. Saya sebut itu sebagai "Politik Iblis" karena memang pelakunya adalah Iblis. Nggak tahu deh Iblis menyebut jalan pemikirannya itu apa..? Ada yang tahu...?

Nah, kita semua sejak kecil mungkin tanpa terkecuali. Sudah mengenyam atau mendengar cerita mengenai insiden tersebut dari orangtua-orangtua kita. Yang secara otomatis, otak yang super canggih ini (sambil nunjuk ke dalam kepala) merekam dan menerjemahkan bahasa kejadian (Ilham) tersebut kedalam berbagai penafsiran dan pemikiran. Sehingga melahirkan lagi pemikiran-pemikiran yang lebih luas, baru dan universal.

Maaf, bukan bermaksud merendahkan orang-orang yang suka nyinyir atau muak dengan kata Politik. Hanya berniat meluruskan kesalahpahaman (bahasa sosmednya : GagalPaham) kita selama ini mengenai Politik. Supaya kita tidak terlampau membenci atau sampai anti-Politik.

Sekedar masukan dan jadi bahan pembelajaran kita. Untuk terhindar dari jebakan atau hasutan semacam "Politik Iblis"  tersebut, kita harus mengenali dan memahami bagaimana proses dan jalan Pemikiran itu terlahir. Sehingga kita menemukan 3 hal yang kiranya dapat membantu kita untuk tidak terjerumus kedalam tujuan dari "Politik"  tersebut.

Pertama, mengenali penyebab terjadinya. Seperti persaingan (dalam berbagai bidang), kecenderungan terhadap sesuatu hal yang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, usaha untuk meraih atau mencapai apa yang kita harapkan.

Kedua, mengenali Tujuannya. Dari sini kita bisa membedakan mana yang Politik Positif dan mana yang "Politik Iblis".

Ketiga, mengetahui cara atau proses terjadinya. Contohnya, cara Iblis menjerumuskan Adam. Yaitu lewat iming-iming sebuah keabadian dan kebahagian (sesaat), lewat dusta, fitnah, black-campagne, dll. Atau dalam kasus lain seperti yang di lakukan oleh para Revolusioneer untuk merebut kemerdekaan dan membangun Negerinya. Dengan cara-cara atau Pemikiran Politik yang lebih positif tentunya, walau tak menutup kemungkinan bisa saja menggunakan cara yang cenderung memaksakan dan bertentangan dengan nilai etika.

Kata Politik sendiri adalah bahasa serapan dari bahasa Yunani. Sementara dalam bahasa Arab disebut dengan "as-Siyyasah" atau Siasat yang mengarah kepada tujuan dan makna sosial. Sementara kepada makna tujuan ekonomi dan bisnis. Politik disebut dengan Muamalah.

Sepanjang sejarah, para Nabi, Rasul, para Filsuf, Cendikiawan, Negarawan dan lain-lain tak terkecuali Nabi Muhammad.Saw pun, memiliki Sistem Politik atau Kebijakan Politik. Yang di gunakan atau di lahirkan sesuai dengan kondisi zaman saat itu (penyebab), cita-cita yang di harapkan tercapai setelah itu (tujuan), dan proses yang berlandaskan pada cara berfikir masing-masing individu.

Jadi, masih mau membenci atau anti-Politik...??

Kita tidak di larang untuk berfikir menggunakan akal, kita hanya di minta untuk tidak melampaui batas dalam hal apapun. Cinta dan Benci, Senang dan sedih, juga bebagai hal dan perasaan lainnya ada dan kita semua pasti memilikinya. Hanya bagaiamana cara mengontrol dan menguasainya saja yang harus kita miliki. Tentunya agar kita tidak melampaui batas, dalam hal ini mengenai Politik atau Gaya Berpikir.

Salam Penuh Maaf dan Doa...!!

Islam Nusantara Penuh Kesantunan dan Hadirkan Perdamian

Rois Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang sekaligus Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin menyatakan, Islam yang masuk ke wilayah Nusantara diperkenalkan dengan cara-cara damai. Terbukti mampu menghadirkan perdamaian dalam kehidupan masyarakat di Indonesia.

“Karena santunnya maka pada zaman itu banyak masyarakat yang dengan sukarela masuk Islam,” tegas Ma’ruf Amin pada Seminar Nasional Membumikan Islam di Nusantara yang berlangsung di Auditorium Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Kabupaten Purworejo, Jumat 8 Januari 2016.

Ma’ruf Amin menegaskan Islam Nusantara bukanlah aliran baru, namun sebuah keberagamaan Islam yang toleran dan mampu melakukan dialog dengan budaya-budaya lokal. Sejak zaman Wali Songo, konsep ini sudah diterapkan dan ternyata dapat selaras dengan kehidupan masyarakat sehingga Islam dapat berkembang dengan pesat di bumi Nusantara.

Sebuah konsep Islam yang memiliki karakter santun,tidak pernah memaksa, dan tanpa kekerasan apalagi intimidasi, seperti cara Rasulullah. Bukan Islam yang keras yang sangat tekstual namun juga bukan Islam yang liberal. Jadi, Islam Nusantara berada di tengah-tengah sesuai prisip tawasuth dalam NU.

“Islam Nusantara selalu membangun hubungan baik dengan sesama. Saling mengasihi dan tidak saling memusuhi. Dalam banyak hal, Islam mengajarkan untuk saling menolong dan tidak memandang siapa yang ditolong,” paparnya.

Lebih lanjut dijelaskan, dengan konsep Islam Nusantara yang mengemuka dalam Muktamar NU di Jombang beberapa waktu lalu orang masuk Islam bukan karena paksaan. Namun dengan sukarela karena menjunjung nilai-nilai toleransi.

‘’Hal itu pulalah yang menjadi kunci keberhasilan Wali Songo dalam menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Jika Islam disebarkan dengan model-model keras saya yakin Islam tidak akan berkembang seperti sekarang ini,’’ tandasnya.

Namun jika dalam perkembangannya ada oknum teroris yang mengatasnamakan jihad Islam, apalagi mengkafirkan yang tidak sejalan, itu tidak benar. Apalagi di Nusantara ini tidak ada nuansa perang.

“Sehingga tidak tepat ada jihad teroris karena Indonesia termasuk wilayah damai. Akibat ulah teroris itulah sehingga ada yang memaknai Islam galak, padahal lunak,” jelas Ma’ruf Amin.

Islam Nusantara lanjut Ma’ruf Amin, juga selalu menjaga tradisi yang berkembang di masyarakat sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

“Kita punya paradigma, mana yang baik dan yang tidak. Cara berfikir juga dinamis, tidak statis. Bahkan Islam Nusantara tidak hanya menjaga yang baik, namun juga melakukan,” tandasnya.

(Satu-Islam/Shabestan/ABNS)

Minggu, 03 Januari 2016

Indikasi

Masyarakat mulai angkat bicara,
tentang aib Petinggi Lembaga Negara yg terbuka.
Namun jalan-jalan ibukota masih ramai seperti biasa,
seolah menunggu aksi atas peristiwa.
Aku menyebutnya dgn makhluk beralmamater penuh warna,
Seolah mereka bergerak dgn sponsor yg mendorongnya.
Teriakan yg selalu terdepan membela rakyat (katanya) di depan istana,
meneriakan slogan dan orasi yg membara.
Penuh tuntutan dan rasa dongkol,
Do jalur-jalur protokol,
atau tempat-tempat strategis biasa mereka bercokol.
Mereka hilang ke antah-berantah,
menyisakan tanya atas anehnya tingkah.
Mengingat, ku ingat-ingat.
Pergerakan missioneeris kaum pengusung jihad,
Menyelundup di barisan kaum yg katanya intelektual dan moderat.
Mereka mendoktrin mahasiswa lewat organisasi,
Yang mereka sebut-sebut sebagai penegak syar'i dan hukum ilaahi.
Juga ku tak pernah lupa, siapa dan apa yg selama ini ada,
di balik pergerakan mahasiswa.
Alat hasil karya makhluk OrBa itu bernama mahasiswa.
OrBa konon sudah berlalu,
Tapi makhluknya hidup berkembang siapa yg tak tahu...?
Mereka bersembunyi di balik kepompong reformasi,
Berubah wujud jadi mesin pengeruk kekayaan Negeri.
Tindak-tanduk mereka dapat di kenali dengan ritme,
Hasrat koloni kaum kapitalisme-imprealisme.
Begitulah indikasi realita dan retorika,
dilema mahasiswa yg jadi korban atas nama bangsa.
Apalah arti intelektual yg di ikat karet,
terjebak dalam bungkus nasi karena kepepet.
Lihat, belakangan mereka keracunan doktrin gila,
Kaum ahmaq dan fanatik agama.
Doktrin ekstrim berjulukan wahabi,
produk ciptaan imprealisme bernama dinasti saudi.
Bukan tidak mungkin terjadi,
Karena nyatanya banyak mahasiswa yg mulai teracuni.
Siapa yg mau menyangkal...?
Cukup banyak kejadian ku dapati,
dari mulai UI hingga Tri Sakti.
Nyata terjadi,
Nusantara di hantam campuran serangan Neo-Kapitalis-Imprealis.
Jgn menangis,
Karena itu bukan puisi romantis,
Tapi sajak satir yg kritis dan mengiris.