Tampilkan postingan dengan label Realitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Realitas. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Februari 2016

Hakimi Diri

Andai ini zaman Qais yang disebut Majnun,
Mungkin aku akan berlaku gila di tengah rumpun...
Sayangnya ini era modern yang penuh gengsi,
Membuat aku harus bergelut debu harta duniawi...

Seorang sufi yang kehilangan guru,
Meraba suluk tuk mencapai sumbu...
Sembunyikan harapan dan rindu,
Karena indahnya sering terbentur oleh kelabu...

Terhuyung menjejaki medan juang,
Berharap temukan pekerjaan tuk meraup uang...
Andalkan tubuh muda tuk melawan dunia,
Waktu berlalu tanpa bisa mengerti keadaannya...

Tanpa seperangkat perkakas kayu,
Atau mungkin kaca mata dan buku-buku tebal catatan ilmu...
Hanya seorang yang menggila tanya,
Dimana tempat ia bisa bernanung dari nestapa...

Lemah dirinya menggugat setiap problema,
Lambat langkahnya mengejar cita tuk menderma...
Terseok menyisir tanah yang becek dan kotor,
Berbekal pakaian lusuh yang kerahnya mulai molor...

Ingin ku tatap wajah malam sang Rembulan,
Tapi ku takut cahyanya pudar dalam lautan...
Ingin ku nikmati fajar di ufuk timur,
Namun aku kan terlihat dengan jari-jari kaki yang penuh jamur...

Rembulan dan Fajar tahu,
Bahkan Gemintang pun menguping kisah si pemuda pilu...
Cahaya itu hampir tiap hari melengkapi hari,
Tak ada terkecuali cela dan hinanya diri di temui...

Meringkuk di balik reruntuhan bangunan tak berpenghuni,
Siang masih memenjaraku dalam gemetarnya tubuh ini...
Tersungkur di tanah becek yang terus terhujani,
Aku memendam Cinta dengan ratapan pilu di tengah badai yang menghakimi...

Kamis, 04 Februari 2016

Bersama dalam Rindu

Sepenggal kisah berjalan syahdu,
Beriring realita pilu dan semu...
Hidup penuh dengan anugerah rindu,
Mendamba Kekasih menuangkan madu...

Jejak langkah kadang ambigu,
Isyaratkan labilnya asa ku...
Secercah harapan pun menguak pintu,
Gerbang hati terhentak nampakkan seluruh cela ku...

Menangis bersama di malam utama itu,
Hadapi serentet noda dunia warnai baju...
Menggugah makna alunan rindu,
Merajut asa dengan tegas dan lembut yang saling berpadu...

Berdiriku di hadapan segenap kesadaran yang membara,
Membakar tiap alasan dari keterbatasan diri yang di penuhi dusta...
Menghunus dialektika yang selama ini menghadang jiwa,
Temui cela, dusta, dosa dan nestapa,
Pastikan hati tentang diri yang pantas meraih cita...

Senada ku rengkuh tangan Kekasih,
Mendekapnya erat dalam suci,
Biarkan aliran darah ku mendobrak ironi...
Butir-butir keringat mencuat bersama doa luapan hati,
Airmata pun mengalir dalam derasnya penyesalan terhadap diri...

Beranjak di mulut hari,
Berbenah hati dan mantapkan langkah diri,
Meraih Restu bersama dalam Ridho Sang Ilaahi...

Jumat, 22 Januari 2016

Pengembara Pemikiran [5] Kesempurnaan Manusia

Sempurna adalah satu sifat yang bagi sebagian orang di anggap sebagai hal yang mustahil di capai oleh manusia. Katanya sih "Yang Sempurna itu hanya Allah saja...!"

Lalu pergi kemana ke-Maha-an Allah...? Coba hubungi Tim SAR biar bisa cepat di temukan dan di evakuasi...? :p

Bagi saya malah, orang yang mengatakan bahwa Allah. Swt sempurna itu telah keliru dalam mengenal Sang Maha...?

Kembali ke pembahasan, secara jelas dalam Qs. At-Tiin : 4 disebutkan bahwa Allah.Swt menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya. Itu menerangkan kepada kita bahwa sejatinya kita di ciptakan dengan Potensi Kesempurnaan.

Buktinya, Allah.Swt menjadikan Nabi Adam.As (manusia) sebagai khalifah di muka bumi. Bahkan Para Malaikat tunduk sujud kepada Adam.as sebagai bentuk kepatuhan dan ketaqwaan kepada Allah.Swt. Dan juga sebagai pengakuan dari para malaikat, bahwa Adam.as (manusia) memiliki derajat yang lebih tinggi dari Malaikat. Tentunya ketika Manusia itu sudah mencapai ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah.Swt.

Singkatnya, ketika manusia mencapai Derajat ketaqwaan, itu dengan upaya dan usaha yang sedemikian berat. Yaitu mengendalikan ego dan hawa nafsu. Sedangkan Malaikat, di ciptakan sudah dengan Ketaqwaan dan tak sedikitpun memiliki Hawa Nafsu serta ke-Egoan.

Jadi lebih Berat mana Pencapaian antara Manusia dan Malaikat menuju Ketaqwaan...??

Manusia di lengkapi oleh Akal dan Hati, Nafsu (Rasa) dan Jasad. Sementara Malaikat tidak demikian. Begitupula dengan Iblis dan Jin.

Manusia memiliki Potensi Kesempurnaan. Jika manusia diciptakan tanpa hal itu (tidak sempurna), maka tidak akan ada pahala dan dosa. Ya kan...?

Karena wajar saja manusia melakukan kesalahan, maksiat dan lalai dalam hidupnya, karena ia tidak sempurna. Dan seharusnya tidak di kenai dosa, karena kesalahan atau maksiat yang dia lakukan berasal dari ketidak sempurnaannya (manusia).

Tetapi jika manusia diciptakan dengan "kesempurnaan", maka ketika melakukan kesalahan dan maksiat. Ia pantas dan harus di kenai dosa (hukuman). Karena ia telah melanggar  atau menciderai kesempurnaan dirinya yang telah di anugerahkan oleh Allah.Swt kepadanya.

Lalu bagaimana dengan (maaf) cacat fisik dan semacamnya yang terjadi sejak lahir..?

Fisik tidak membatasi manusia dalam ketaqwaan. Karena dalam peribadahan, seseorang yang tidak mampu berdiri atau bangkit untuk melakukan shalat. Maka ia bisa melakukannya dalam kondisi duduk, ataupun kondisi yang sekiranya ia mampu untuk melakukannya. Bahkan hanya sekedar isyarat mata atau isyarat hati.

Tapi seringkali dalam beberapa kasus, ada manusia yang memiliki kekurangan dalam segi fisik, pasti memiliki kelebihan lain yang tak di miliki oleh orang yang fisiknya normal. Contoh, (maaf) orang buta. Biasanya memiliki pendengaran yang lebih peka, bahkan feeling yang lebih tajam hingga ingatan yang sangat kuat.

Jadi harusnya dengan keberadaan (maaf) orang-orang yang memiliki kekurangan dalam fisik, adalah untuk menyadarkan orang yang fisiknya normal. Supaya mereka bisa memaksimalkan potensi dirinya untuk mencapai kelebihan-kelebihan lainnya yang ada dalam dirinya sendiri.

Kembali mengenai Kesempurnaan, ada penjelasan lain mengenai Kesempurnaan manusia. Yaitu, ketika manusia melakukan kesalahan karena ketidaktahuan atau karena kelalaiannya, dan setelah itu ia mengambil pelajaran dari pengalamannya tersebut. Maka di situlah letak Kesempurnaan lain dari diri manusia.

Lebih tepatnya adalah Proses membangun kesadaran diri untuk mencapai Kesempurnaan dan Realitas Diri.

Salaam Penuh Maaf dan Do'a...~~

Kamis, 21 Januari 2016

Pengembara Pemikiran [4] Kausalitas (Sebab-Akibat)

Dalam teori dan kajian Ilmiah, kita mengenal Hukum Realitas. Yang diantaranya adalah Hukum Kausalitas atau yang lebih disebut sebagai hukum Sebab-Akibat.

Hukum ini menjadi cabang kajian yang paling sering dan paling dasar dalam Filsafat. Tujuannya untuk merangsang pemikiran (akal) manusia untuk menanamkan nilai-nilai Rasional dalam kehidupan.

Penjelasan mengenai Kausalitas ini gak serumit namanya. Ia lebih seperti cara kita memahami sebuah proses dalam satu kejadian atau satu aksiden.

Tapi dalam pembahasan lebih lanjut terkait pencapaian Realitas Diri (nanti akan kita bahas), Hukum Kausalitas di bahas lebih mendalam dan lebih objektif.

Sehingga membutuhkan pemahaman yang terbuka (universal) mengenai banyak hal. Begitu juga mengenai Takdir, Kehidupan, dan Fitrah. Ini yang selanjutnya akan kita bahas bersama.

Contoh singkatnya adalah Hidup dan Mati. Hidup adalah sebab dan Mati adalah Akibatnya. Semua makhluk mengalami proses hidup, tapi adakah yang tidak mengalami Proses Mati...?

Tentu jawabannya tidak ada. Karena itu adalah Realitas yang mesti dan harus terjadi atau di alami makhluk. Yang kekal hanyalah Allah. Swt. Setuju...?

Begitu juga dengan hal lainnya, olahraga dan sehat, usaha dan hasil, dll. Ini lebih seperti proses ilmiah dalam menanam pohon. Ketika kita menanam pohon Jambu Air, pasti yang akan tumbuh (buahnya) adalah Buah Jambu Air. Bukan Jambu Biji...?? Ya kan...?

Sebelumnya saya gak ada maksud menggurui siapapun, dan nggak ada tujuan pribadi apapun (tedheng aling-aling). Saya cuma mengisi kekosongan aja, dan seneng nulis. Jadi sengaja saya tulis di blog supaya paling nggak bisa memberi manfaat buat oranglain. Dan utamanya bisa jadi pengingat buat diri saya pribadi, karena saya suka baca juga.

Tujuannya tentu, agar kita dapat mengenali Diri, membentuk Jati diri dan mencapai Realitas Diri kita sendiri.

Salam Penuh Maaf dan Doa...~~

Pengembara Pemikiran [3] Melawan Fanatisme

Berfikir adalah hal paling menyenangkan. Kenapa...? Karena Gratis tentunya, dan kita gak perlu ngambil alat bantu atau peralatan untuk berfikir.

Kita cuma harus membuka cakrawala pemikiran (sudut), memperluas pemahaman (sisi)dan mempertajam pertimbangan (segi).

Itu semua, sudah jadi satu paket dalam akal manusia. Ibarat lampu pararel yg kilaunya warna-warni, kita cukup klik satu saklar untuk hidupin semuanya. Dan mereka semua akan menari penuh kerlap-kerlip secara otomatis.

Indah kan...?
Gimana coba kalo akal kita ini berfikir tanpa tiga hal tersebut (monoton)....?

Kita akan merasa asing dengan pemikiran-pemikiran oranglain, bahkan cenderung anti (menolak) terhadap hal-hal yang berada di luar nalar dan pemikiran kita sendiri.

Yang timbul setelah itu adalah rasa was-was, dari ketidak nyamanan kita terhadap kehadiran warna pemikiran lain tersebut. Yang mengakibatkan kita sibuk untuk menjauhkan diri hingga mencari cara untuk memusnahkan warna pemikiran tersebut.

Gak kebayang kalo seandainya semua orang anti dengan pemikiran oranglainnya...?? Bisa-bisa saban hari bakal ada pertumpahan darah, akan terjadi pembunuhan besar-besar, bahkan setiap orang cuma akan sibuk dengan memerangi orang lain (lihat kan komplotan ISIS dan Rombongan Teror al-Qaeda, dll yang di biayai Wahabi Saudi...?)

Ini disebut Fanatisme, yang akibatnya melahirkan berbagai sikap yang ekstrim dan primitif terhadap hal-hal yang berada di luar dirinya (pemikiran).

Sebaiknya kita berhati-hati dan lebih terbuka ketika ada sebuah perbedaan cara berfikir yang datang dari oranglain. Kenali lebih jauh dan ketahui lebih dalam. Karena menurut Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib.Kwh, "Fantisme berasal dari Kebodohan."

Jadi untuk menghindar dari sikap fanatis tersebut, sudah jelas kita di haruskan memiliki kecerdasan, pengetahuan yang luas dan juga pemikiran yang bijak dalam menyikapi perbedaan.

Lebih jauh Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib.Kwh berkata, "Sungguh! Tidak akan ada perpecahan dan perselisihan, jika Orang-orang bodoh diam."

Perkataan tersebut senada dengan Hadits Rasulullah.Saw, "Berkatalah dengan perkataan yang baik. Atau Diam" (Kira-kira seperti itu Redaksinya, saya agak lupa).

Perkataan yang buruk akan menimbulkan perpecahan, perselisihan bahkan konflik. Jadi, dari pada berbicara lantas menghasilkan perselisihan. Maka lebih baik diam dan membangun persatuan. Karena Rasulullah.Saw bersabda, "Sesungguhnya semua Muslim itu bersaudara, barangsiapa membunuh seorang Muslim maka (seolah-olah) ia telah membunuh Muslim seluruhnya."

Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib.Kwh pun berkata mengenai Persatuan dan Persaudaraan, "Mereka yang bukan saudaramu dalam Iman, adalah saudaramu dalam Kemanusiaan." (Ada redaksi lain yang menyatakan bahwa perkataan ini juga di ungkapkan oleh Rasulullah.Saw dalam suatu kesempatan).

Dalam konteks ini, dua Sosok terpandang dan mulia di dunia dan di akhirat ini. Dengan tingkat kecerdasaan dan pemikiran yang tidak di ragukan lagi, secara jelas dan nyata menyerukan persatuan dan kesatuan Umat Manusia seluruhnya (tidak terbatasi Agama, Ras, Suku, Bangsa, dll).

Menariknya kata "Muslim" itu bukan sekedar penyematan terhadap orang-orang yang beragama Islam. Tetapi lebih jauh dari itu, "Muslim" bermakna sebuah Identitas dan Realitas dari seorang manusia yang di liputi oleh Keselamatan (Silm) dan juga menebarkan Keselamatan.

Salaam Penuh Maaf dan Doa...~~

Foto dari Ahmad Helmi Ali Reza