Tampilkan postingan dengan label Majnun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Majnun. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Februari 2016

Hakimi Diri

Andai ini zaman Qais yang disebut Majnun,
Mungkin aku akan berlaku gila di tengah rumpun...
Sayangnya ini era modern yang penuh gengsi,
Membuat aku harus bergelut debu harta duniawi...

Seorang sufi yang kehilangan guru,
Meraba suluk tuk mencapai sumbu...
Sembunyikan harapan dan rindu,
Karena indahnya sering terbentur oleh kelabu...

Terhuyung menjejaki medan juang,
Berharap temukan pekerjaan tuk meraup uang...
Andalkan tubuh muda tuk melawan dunia,
Waktu berlalu tanpa bisa mengerti keadaannya...

Tanpa seperangkat perkakas kayu,
Atau mungkin kaca mata dan buku-buku tebal catatan ilmu...
Hanya seorang yang menggila tanya,
Dimana tempat ia bisa bernanung dari nestapa...

Lemah dirinya menggugat setiap problema,
Lambat langkahnya mengejar cita tuk menderma...
Terseok menyisir tanah yang becek dan kotor,
Berbekal pakaian lusuh yang kerahnya mulai molor...

Ingin ku tatap wajah malam sang Rembulan,
Tapi ku takut cahyanya pudar dalam lautan...
Ingin ku nikmati fajar di ufuk timur,
Namun aku kan terlihat dengan jari-jari kaki yang penuh jamur...

Rembulan dan Fajar tahu,
Bahkan Gemintang pun menguping kisah si pemuda pilu...
Cahaya itu hampir tiap hari melengkapi hari,
Tak ada terkecuali cela dan hinanya diri di temui...

Meringkuk di balik reruntuhan bangunan tak berpenghuni,
Siang masih memenjaraku dalam gemetarnya tubuh ini...
Tersungkur di tanah becek yang terus terhujani,
Aku memendam Cinta dengan ratapan pilu di tengah badai yang menghakimi...

Selasa, 17 Maret 2015

Laila & Majnun

<3 Layla dan Majnun <3

Saat Majnun menemukan secarik kertas di bawah kakiknya. Dia lalu menulis: Layla dan Majnun. Setelah itu dia merobek kertas yang bertuliskan nama Layla, meremas lalu melemparnya jauh. Sementara bagian yang tertulis namanya sendiri di simpannya.

Seorang sahabat bertanya heran padanya: "Apa Maksud Tindakanmu? Bicaralah, kenapa kau melakukan hal itu? Dikertas itu kalian disatukan. Tapi sekarang kau telah memisahkan dirimu darinya. Kenapa?"

Majnun pun menjawab: "Karena satu nama lebih baik dari pada dua. Satu nama bisa di pakai untuk berdua. Bila kau tahu hakikat seorang pecinta, kau akan menyadari bahwa ketunggalan harus meniadakan dirinya, untuk musnah ke dalam pelukan kekasihnya."

Lalu sahabatnya kembali bertanya: "Tapi kenapa kau membuang kertas yang bertuliskan Layla & menyimpan yang bertuliskan namamu? Kenapa bukan sebaliknya?

Majnun Menjawab: "Karena orang bisa melihat Cangkang kerang bukan mutiara di kandungnya, Aku adalah Cangkangnya dan Layla adalah mutiara dalam Cangkangku".

Sayyed Fadel On Facebook.