Tampilkan postingan dengan label Harmoni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Harmoni. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Januari 2016

Karat [4]

Betapa Air Asam itu berbahaya, besi keraspun dapat di ubah jadi rapuh tak bertenaga.
Apa pula pada hati, yg saban hari di basahi oleh kisruh hati cinta dini.
Coba deh renungi, gak ada ruginya memperbaiki diri.
Toh kita semua percaya takdir, jodoh gak bakal mangkir, terus kenapa kita masih khawatir.
Menjalani budaya asing tanpa sortir, hingga akhirnya berbagai perubahan zaman pun bergulir.
Adaptasi perubahan kata luarbiasa, mengikuti mode transisi pergaulan anak muda.
Aku ingat kata dari Bapak Bangsa, mengenai 5 pemuda yg mampu mengguncang dunia.
Terbayang betapa hebatnya mereka, miliki potensi luarbiasa, semangat jiwa tuk goyahkan dunia.
Terlalu idealis mimpi itu, lihatlah realita yg ada nampak semu.
Seumur jagung bicara cinta, mengobral manja mengumbar mesra.
Kiranya kelak apa yg kan mereka cipta..? Karya..?
Prestasi apa yg mampu mereka buat..?
Pemuda, kalian dengar nama dan kehebatan yg disematkan pada diri kalian..?
Hanya mengurusi cinta dini, lalu getaran apa yg akan menggoyah bumi ini..?

Karat [3]

Kehabisan ide aku menyusun kata, metodologi itu kadang-kali membuat akal kita buta dari makna. Ku kira hujan datang utk mengganggu, namun tidak. Ia datang penuh haru, bersama serentet estetika yg syahdu. Imajiku tergenapi, kini jemari Mulai menari, meyusun pesan lewat puisi. Hujan menjadi suasana yg di rindukan, terutama bagi mereka yg sedang mendalami peran kesedihan. Seolah hujan itu mewakili tangisan, sepanjang kisah cinta musim kemarau yg memilukan. Tangisan harusnya menjadi kekuatan, bukan malah menjadi ratapan hati yg melemahkan. Menangis memeluk guling, atau menatapi hujan dgn muka lumer di balik jendela bening. Tangisan masam, yg kelak kan merusak hati jadi kelam. Apa gunanya menangisi sesuatu yg telah pergi, berhentilah dari menyiksa hati. Baiknya menangislah utk yg lebih berarti, tontonlah peduli kasih di televisi. Heehe.. Ayo baca atau dengarkan lantunan ayat-ayat suci, atau memohon ampun mengemis cinta pada Ilaahi. Menangislah sepenuh hati, raih kekuatan sejati, menuju kehidupan hakiki.

Jumat, 25 September 2015

Maddie Jane - Price Tag

Seems like everybody's got a price,
I wonder how they sleep at night.
When the sale comes first,
And the truth comes second,
Just stop, for a minute and Smile

Why is everybody so serious
Acting so damn mysterious
Got your shades on your eyes
And your heels so high
That you can't even have a good time

Everybody look to their left
Everybody look to their right
Can you feel that (yeah)
We're paying with love tonight

It's not about the money, money, money
We don't need your money, money, money
We just wanna make the world dance,
Forget about the Price Tag
Ain't about the (uh) Cha-Ching Cha-Ching.
Ain't about the (yeah) Ba-Bling Ba-Bling
Wanna make the world dance,
Forget about the Price Tag.

We need to take it back in time,
When music made us all unite
And it wasn't low blows and video,Am I the only one getting tired

Why is everybody so obsessed
Money can't buy us happiness
Can we all slow down and enjoy right now
Guarantee we'll be feeling alright.

Everybody look to their left
Everybody look to their right
Can you feel that (yeah)
We're paying with love tonight

It's not about the money, money, money
We don't need your money, money, money
We just wanna make the world dance,
Forget about the Price Tag
Ain't about the (uh) Cha-Ching Cha-Ching.
Ain't about the (yeah) Ba-Bling Ba-Bling
Wanna make the world dance,
Forget about the Price Tag.[x2]

Muse-Can't take My Eyes

C
You're just too good to be true.
C7M
Can't take my eyes off you.
C7
You'd be like Heaven to touch.
F
I wanna hold you so much.
Fm
At long last love has arrived
C
And I thank God I'm alive.
D
You're just too good to be true.
Dm
Can't take my eyes off you.
C
Pardon the way that I stare.
C7
There's nothing else to compare.
C7
The sight of you leaves me weak.
F
There are no words left to speak,
Fm
But if you feel like I feel,
C
Please let me know that it's real.
D
You're just too good to be true.
Dm
Can't take my eyes off you.

Dm-C-Dm-C-A

Dm
I love you, baby,
G
And if it's quite alright,
C
I need you, baby,
Am
To warm a lonely night.
Dm
I love you, baby.
G                 C      A
Trust in me when I say
Dm
Oh, pretty baby,
G
Don't bring me down, I pray.
C                 Am
Oh, pretty baby, now that I found you, stay
Dm
And let me love you, baby.
G
Let me love you.

Rabu, 03 Juni 2015

Kamu

Perlahan ku urai satu persatu,
Berbagai gelisah yang selalu mengganggu...
Kan ku ungkap segala rancu,
Meski tiap wajah memandangku tabu...
Namun inilah massa dimana tiada lagi abu-abu,
Tiada hitam yang kan menutup cahya itu...

Masih tentang kegelisahan yang membuat semua seolah semu,
Semoga hadirmu jadi kelembutan yg luluhkan ragu...
Menjadi kepastian tentang adanya hari baru,
Dimana tiada lagi lara yang memecah asa jadi ambigu...

Kamu...
Seperti fajar yang selalu ku tunggu,
Lama ku terjaga menunggu waktu...
Membunuh malam ku duduk termangu,
Biasmu adalah sebersit harapan di langit biru...

Kelak di waktu yang kita tuju,
Kan terjawab tanyamu tentang sepi yg lama membiru...
Tentang gelisahku dan gelisahmu,
Yang kelak kan bertemu dan bertumpu...

Namun biarlah itu menjadi rahasia waktu,
Karena saat ini masih terasa tabu dan buntu...
Tinggal bagaimana kita mengolah dan meramu,
Biarkan rimba menuntun kita untuk menyatu...

Logika dan ritmenya kan menjadi bumbu,
Mengikat kasih cinta yang bersatu padu...
Saksinya adalah deru nafas yg menggebu,
Mungkin juga pijakkan langkah kita yang penuh debu...

Sejauh puncak-puncak yang kelak kan berlalu,
Terbentang juga dinamika yang berputar pada dinding rindu...
Coba pecahkan problema dalam bisu,
Bergantung pada sejauh mana kita memahami titik temu...

Biasa, seperti kisah-kisah lain yang juga pernah berlalu,
Kita kan alami masa-masa itu...
Jangan mencoba melawan waktu,
Biarkan kita bertemu dan berjalan di tepian dinding berbatu...
Menemui Cinta yang penuh haru,
Atau berujung dan kandas di jurang yang penuh dengan benalu...

Sejauh ini aku berharap mampu mengusir kelabu,
Dan mulai menjemput bahagia yang sering di dongengkan oleh Ibu...
Dan ku harap itu dirimu,
Yang kelak kan menunggu ku pulang di depan pintu...

Menyambut lelahku dengan senyum semanis madu,
Luluhkan lelah yang bertengger di bahu...
Menghapus penat dengan teduh tatapan sang ratu,
Yang malu-malu penuh rayu dan rindu...

Dalam syair ini ada harapan yang mengusik kalbu,
Dari sekian banyak yang datang dan berlalu hanya tinggalkan pilu...
Aku ingin berlabuh di relung jiwamu,
Menanam benih Cinta di dasar hati yang tlah lama semu...

Senin, 25 Mei 2015

Who is You...?

Jauh ku bentangi berbagai alibi,
Telusuri tiap tujuan yg ku miliki...
Dengan semua keindahannya yg tersendiri,
Harapan pencapaian yg membumi...

Kadang saking kuatnya emosi,
Persatu mimpi itu terlewati dari aksi...
Banyak yg berlalu tak terkendali,
Karena mustahil fokus ini tercabangi...

Bersama pancaran panas sang mentari,
Menyengat ubun-ubun dan memaksa ku untuk mengerti...
Bahwa sekalipun sketsaku mencapai tiap teori,
Namun tak cukup sepasang tungkai ini untuk menebus semua ambisi...

Setajam mataku memandang langit tak bertepi,
Seluas imaji mampu menangkap berbagai aksiden yg terjadi...
Ku dapati pudar menggarisi titik fokus mata ini,
Cermati dan pahami mengapa semua terasa sedilema ini...

Kalam Suci,
Petuah Ilahi yg tertuang dari jiwa suci...
Juga hikmah yg terkuak lewat setiap ilmu yg di pelajari,
Tentang diri... Ambisi, dan sebuah jalan yg jadi fokus untuk di geluti...

Inilah batas kesempurnaan makhluk bermateri,
Puncaknya adalah mencapai kesadaran diri...
Menembus ilusi dan raih berbagai potensi,
Lewat imaji, alibi dan berbagai pemikiran yg menguji naluri...

Sampailah dimana manusia mengenali potensi diri,
Tetapkan hati pada ruang yg ia kuasai...

#QueenBee

Selasa, 05 Mei 2015

Resah Hati

Kelopak mata mengendur,
Pandangan pun mengabur...
Namun suasana hati ku tak teratur,
Gelisah mengoyak tubuhku yg terbujur...
Keheningan seolah jadi cadur,
Antara aku dan segenap keresahan yg melacur...

Ku pejamkan mataku sejenak,
Cari sebabnya gundah yg terselubung dalam benak...
Tentang hari esok yg tak tertebak,
Bahwa keadaan takkan bisa untuk di elak...
Ku  ingin menangis sendu,
Namun ada angin yg mengusik nada syahdu...

Sedih masih menggelayut di pelupuk mata,
Aku seolah kehilangan akal untuk berkata...
Tak ku kenali rasa yg bertengger dalam dada,
Kecuali kecewa, sesal dan rasa hina...
Aku berhenti berkata,
Semenjak beberapa menit yg bernada...
Nada jarum jam yg seolah menyeru telinga,
Untuk mendengar sesuatu yg tak bersuara...

Sunyi,
Hening dan sepi...
Aku menepi dan rebah di lantai yg selalu ku tiduri,
Masih dengan rasa yg tak menentu dalam qolbi...
Tak mampu mengundang lirih,
Juga tak mampu ku berdiam diri...

Ku sambangi pagi ini,
Menahan diri,
Bersama sepi,
Nikmati kopi tuk pecahkan imaji...

Pergilah wahai resah hati...

Selasa, 17 Maret 2015

Laila & Majnun

<3 Layla dan Majnun <3

Saat Majnun menemukan secarik kertas di bawah kakiknya. Dia lalu menulis: Layla dan Majnun. Setelah itu dia merobek kertas yang bertuliskan nama Layla, meremas lalu melemparnya jauh. Sementara bagian yang tertulis namanya sendiri di simpannya.

Seorang sahabat bertanya heran padanya: "Apa Maksud Tindakanmu? Bicaralah, kenapa kau melakukan hal itu? Dikertas itu kalian disatukan. Tapi sekarang kau telah memisahkan dirimu darinya. Kenapa?"

Majnun pun menjawab: "Karena satu nama lebih baik dari pada dua. Satu nama bisa di pakai untuk berdua. Bila kau tahu hakikat seorang pecinta, kau akan menyadari bahwa ketunggalan harus meniadakan dirinya, untuk musnah ke dalam pelukan kekasihnya."

Lalu sahabatnya kembali bertanya: "Tapi kenapa kau membuang kertas yang bertuliskan Layla & menyimpan yang bertuliskan namamu? Kenapa bukan sebaliknya?

Majnun Menjawab: "Karena orang bisa melihat Cangkang kerang bukan mutiara di kandungnya, Aku adalah Cangkangnya dan Layla adalah mutiara dalam Cangkangku".

Sayyed Fadel On Facebook.

Sabtu, 13 Desember 2014

Cinta Arang

Menatapi serpihan imaji diatas api,
Ku serap pancaran alibi yg batasi diri.....
Hangatnya api menguji naluri,
Melewati malam sepi yg dingin hingga pagi.....

Terkuak segala problema,
Ku dapati arah dalam sunyi yg menjelma.....
Ini bukan hanya tentang aku,
Bukan juga tentang kamu.....
Namun tentang eksistensi sebuah nada harmoni,
Dimana not nya sajikan kedamaian dalam hati......

Ada yg salah ku mengerti,
Namun terlampau jauh ku cintai.....
Atau mungkin begitu cepat kau salahi arti,
Sehingga yg tersisa kini hanya sepi.....
Kisah tak lagi murni,
Ternodai oleh emosi yg menguasai.....

Kita lama terdiam,
Bahkan kembali terbiasa untuk bungkam.....
Seperti hujan yg tak kunjung datang sejak juli,
Kemarau kini menyengat bumi hingga canda pun mengering dalam hati.....
Rindu seolah tersembunyi,
Hadirnya pun serasa pantas di tanyai.....
Apa daya,
Senyumku pudar dalam redup cahaya cinta.....
Air mata....?
Ini kemarau yg menyedihkan,
Bahkan katup di retina mulai tanyakan dimana kelembutan.....

Mengais sisa-sisa kata yg mampu ku ucap,
Bahkan meski sapa ku tak terjawab.....
Memanggilmu,
Memperhatikanmu,
Dan menegurmu.....
Lewat puisi,
Syair singkat yg lirih,
Hingga ku ungkap doa dalam keresahan yg menghantui.....

Habibbah ku....?
Kemana canda tawa kita tergadai....?
Apakah ada yg lebih berharga dari kehangatan,
Atau mungkin ada yg lebih menarik dari sebuah ketulusan dan kesetiaan....?
Belenggu kita hanya ruang dan waktu,
Sedangkan Cinta ini hadir melampaui apapun itu.....

Apakah Optimisme itu telah padam....?
Sementara mimpi yg kita rangkai adalah rahasia yg terpendam.....

Ku bergeser menyentuh nyala bara yg mencolok,
Lalu ku dapati arang hitam yg baru saja tergarang.....
Di balik itu,
Ternyata ada Abu yg mendebu,
Dalam sulutan api ia Abadi,
Balutan bara api ajak angin membawanya sempurna dalam harmoni.....

Abu.....
Abu yg tak mungkin lagi jadi bara api,
Apalagi jadi arang memutar balik dimensi.....