Masyarakat mulai angkat bicara,
tentang aib Petinggi Lembaga Negara yg terbuka.
Namun jalan-jalan ibukota masih ramai seperti biasa,
seolah menunggu aksi atas peristiwa.
Aku menyebutnya dgn makhluk beralmamater penuh warna,
Seolah mereka bergerak dgn sponsor yg mendorongnya.
Teriakan yg selalu terdepan membela rakyat (katanya) di depan istana,
meneriakan slogan dan orasi yg membara.
Penuh tuntutan dan rasa dongkol,
Do jalur-jalur protokol,
atau tempat-tempat strategis biasa mereka bercokol.
Mereka hilang ke antah-berantah,
menyisakan tanya atas anehnya tingkah.
Mengingat, ku ingat-ingat.
Pergerakan missioneeris kaum pengusung jihad,
Menyelundup di barisan kaum yg katanya intelektual dan moderat.
Mereka mendoktrin mahasiswa lewat organisasi,
Yang mereka sebut-sebut sebagai penegak syar'i dan hukum ilaahi.
Juga ku tak pernah lupa, siapa dan apa yg selama ini ada,
di balik pergerakan mahasiswa.
Alat hasil karya makhluk OrBa itu bernama mahasiswa.
OrBa konon sudah berlalu,
Tapi makhluknya hidup berkembang siapa yg tak tahu...?
Mereka bersembunyi di balik kepompong reformasi,
Berubah wujud jadi mesin pengeruk kekayaan Negeri.
Tindak-tanduk mereka dapat di kenali dengan ritme,
Hasrat koloni kaum kapitalisme-imprealisme.
Begitulah indikasi realita dan retorika,
dilema mahasiswa yg jadi korban atas nama bangsa.
Apalah arti intelektual yg di ikat karet,
terjebak dalam bungkus nasi karena kepepet.
Lihat, belakangan mereka keracunan doktrin gila,
Kaum ahmaq dan fanatik agama.
Doktrin ekstrim berjulukan wahabi,
produk ciptaan imprealisme bernama dinasti saudi.
Bukan tidak mungkin terjadi,
Karena nyatanya banyak mahasiswa yg mulai teracuni.
Siapa yg mau menyangkal...?
Cukup banyak kejadian ku dapati,
dari mulai UI hingga Tri Sakti.
Nyata terjadi,
Nusantara di hantam campuran serangan Neo-Kapitalis-Imprealis.
Jgn menangis,
Karena itu bukan puisi romantis,
Tapi sajak satir yg kritis dan mengiris.
Pemuda dalam Bingkai Dunia adalah ujung tombak perubahan dan pergerakkan. Bukan dengan membanggakan status aktivis, akademis dan borjuis, tapi lebih menerapkan prinsip Sosialis yang berjuang mencapai cita-cita Revolusionis.
Minggu, 03 Januari 2016
Indikasi
Saya seorang pelajar Sejarah peradaban, meski tidak menjadi seorang Mahasiswa di Fakultas. Saya pernah beberapa kali di anggap sebagai seorang Sarjana karena luasnya Pengetahuan dan Kecerdasan saya dalam berdialog.
Maulid dan Natal
Memasuki pergantian tahun,
Hari-hari perayaan terjadi secara beruntun.
Masih saja ada segilintir orang yg mulutnya penuh racun,
sok suci dan pintar dgn keyakinan mereka yang turun-menurun.
Janganlupa bahwa Indonesia adalah Negeri Rumpun,
sudah semestinya saling menghargai hidup rukun.
Aku bangkit menantang manusia intoleran menjelang Natal,
mengibarkan bendera Perdamaian (Islam) dengan semangat Nusantara yang kental.
Wajah-wajah garang kaum intoleran itu bak coretan artefak kuno,
Kaku dan penuh dengan ekspresi emosional yang dongo.
Tenggelam dalam pemikiran teologi yang salah tafsir,
Fanatisme menjerat akal mereka menjadi makhluk pandir.
Makhluk zaman batu itu bernama kaum "Intoleran",
Menistakan perdamaian dan mendustakan persatuan.
Mereka kaum penyembah angan-angan,
tentang syurga yang mereka anggap hanya milik mereka yg jenggotan.
Hanya milik mereka yang bercadar, dan hanya milik mereka yang bertingkah sangar tak berakhlaq dan kasar.
Mereka menolak Pedoman Negeri ini,
mereka jelas anti-NKRI.
Mereka tolak Bhineka, mengigau tentang 'khilafah' yang mereka cipta.
Belakangan tingkah konyol mereka makin nyata,
Membelah Nusantara dengan berbagai sentimen yang mereka bina.
Mulai dari Sara,
caci maki penuh noda,
dan fitnah yang jauh dari fakta.
Mereka itu kaum pandir, yang teriak sana-sini dengan takbir,
bertindak slalu saja tanpa pikir.
Mereka hina kehormatan negara,
jatuhkan Merah-Putih dan menolak Pancasila.
Akal mereka yang primitif tak mampu memahami makna filosofis,
Karena mereka adalah kaum fanatis yang ekstrimis.
Sebagian dari mereka nampak Cinta Indonesia,
namun itu hanya jadi kamuflase belaka.
Untuk mencari suara,
Bahwa negeri ini pantas utk di jaga.
Sambil mengobral ideologi mereka yang super-gila,
Menjerat orang sana-sini untuk membuat makar di Nusantara.
Sebut aku si satir,
Karena aku senang menyindir.
Panggil aku Putra Padjajaran,
Karena darahku tercipta dari Tanah Pasundan.
Aku bukan Indo-Blasteran, juga bukan ke-Arab-an.
Selamat Menyambut Maulid Gusti Pangeran,
Selamat menyambut Natal Isya putra Maryam.
12 Hijriyyah / 24 Desember 2015
Saya seorang pelajar Sejarah peradaban, meski tidak menjadi seorang Mahasiswa di Fakultas. Saya pernah beberapa kali di anggap sebagai seorang Sarjana karena luasnya Pengetahuan dan Kecerdasan saya dalam berdialog.
Karat [5]
Jahiliyah,
Kehidupan Pra-Islam Jazirah Arabia. Alasan utama,
Sang Nabi diutus ke dunia.
Di Indonesia,
Sifat rakyatnya itu ramah tamah,
Lemah lembut & jg penuh kasih.
Demikian membuat Negri ini dihormati,
Bahkan ditakuti karna persatuan dan kesatuan rakyatnya yg penuh toleransi.
Ada teori yg terspekulasi,
Mengenai silsilah dan darah sang Nabi.
Dimana inti ajaran beliau yg mengarah pada akhlaq mulia,
melekat pd diri orang Indonesia (terkhusus Jawa dan Sunda).
Teori yg luarbiasa,
meraih banyak komentar dan kritik beragam rupa.
Menariknya,
Indonesia sbg benar satu Negara dgn jumlah penduduk Muslim terbanyak dunia.
Memang sdh menerapkan nilai-nilai akhlaq,
moral & spiritual yg kental,
jauh sebelum Islam dikenal.
Maka dalam bahasan lain ada sebuah alibi lagi,
Kenapa di Negri ini tdk diutus/didapati seorang Nabi..?
Mungkin karna Negri ini adalah tanah Surgawi.
Jadi yang diutus bukan seorang Nabi,
Japi sekelompok Iblis yg di samari,
Untuk membuktikan benar bahwa bangsa ini patut dipuji dan teruji.
Spekulasi apapun,
Begitu pula berbagai jawaban yg terhimpun.
Adalah sebuah Mahakarya Tuhan Yg Kuasa,
lewat pemikiran manusia,
Sebagai sarana mengasah akalnya.
Selama hal itu tdk melanggar undang-undang Negara,
Dan jga Hak Asasi Manusia.
Ini bukan artikel penistaan agama,
hanya ocehan bocah pendosa yg tengah gembira.
Karena Tuhan memberinya kemampuan utk bicara lewat kata,
mengharap doa dari sekalian saudara semua,
Agar diampuni segala khilaf dan dosa.
Hidup ini adalah tempaan bagi manusia,
di tempa oleh alam utk mencapai wujud kesempurnaannya.
Dgn ujian menuju 'Karat' .
Tercemari menjadi tambang besi penuh karat,
Atau mencapai keberhasilan uji menjadi emas yg berkarat.
Siapa diri kita....?
Besi atau Emas....?
Saya seorang pelajar Sejarah peradaban, meski tidak menjadi seorang Mahasiswa di Fakultas. Saya pernah beberapa kali di anggap sebagai seorang Sarjana karena luasnya Pengetahuan dan Kecerdasan saya dalam berdialog.
Karat [4]
Betapa Air Asam itu berbahaya, besi keraspun dapat di ubah jadi rapuh tak bertenaga.
Apa pula pada hati, yg saban hari di basahi oleh kisruh hati cinta dini.
Coba deh renungi, gak ada ruginya memperbaiki diri.
Toh kita semua percaya takdir, jodoh gak bakal mangkir, terus kenapa kita masih khawatir.
Menjalani budaya asing tanpa sortir, hingga akhirnya berbagai perubahan zaman pun bergulir.
Adaptasi perubahan kata luarbiasa, mengikuti mode transisi pergaulan anak muda.
Aku ingat kata dari Bapak Bangsa, mengenai 5 pemuda yg mampu mengguncang dunia.
Terbayang betapa hebatnya mereka, miliki potensi luarbiasa, semangat jiwa tuk goyahkan dunia.
Terlalu idealis mimpi itu, lihatlah realita yg ada nampak semu.
Seumur jagung bicara cinta, mengobral manja mengumbar mesra.
Kiranya kelak apa yg kan mereka cipta..? Karya..?
Prestasi apa yg mampu mereka buat..?
Pemuda, kalian dengar nama dan kehebatan yg disematkan pada diri kalian..?
Hanya mengurusi cinta dini, lalu getaran apa yg akan menggoyah bumi ini..?
Saya seorang pelajar Sejarah peradaban, meski tidak menjadi seorang Mahasiswa di Fakultas. Saya pernah beberapa kali di anggap sebagai seorang Sarjana karena luasnya Pengetahuan dan Kecerdasan saya dalam berdialog.
Karat [3]
Kehabisan ide aku menyusun kata, metodologi itu kadang-kali membuat akal kita buta dari makna. Ku kira hujan datang utk mengganggu, namun tidak. Ia datang penuh haru, bersama serentet estetika yg syahdu. Imajiku tergenapi, kini jemari Mulai menari, meyusun pesan lewat puisi. Hujan menjadi suasana yg di rindukan, terutama bagi mereka yg sedang mendalami peran kesedihan. Seolah hujan itu mewakili tangisan, sepanjang kisah cinta musim kemarau yg memilukan. Tangisan harusnya menjadi kekuatan, bukan malah menjadi ratapan hati yg melemahkan. Menangis memeluk guling, atau menatapi hujan dgn muka lumer di balik jendela bening. Tangisan masam, yg kelak kan merusak hati jadi kelam. Apa gunanya menangisi sesuatu yg telah pergi, berhentilah dari menyiksa hati. Baiknya menangislah utk yg lebih berarti, tontonlah peduli kasih di televisi. Heehe.. Ayo baca atau dengarkan lantunan ayat-ayat suci, atau memohon ampun mengemis cinta pada Ilaahi. Menangislah sepenuh hati, raih kekuatan sejati, menuju kehidupan hakiki.
Saya seorang pelajar Sejarah peradaban, meski tidak menjadi seorang Mahasiswa di Fakultas. Saya pernah beberapa kali di anggap sebagai seorang Sarjana karena luasnya Pengetahuan dan Kecerdasan saya dalam berdialog.