Tampilkan postingan dengan label Tangisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tangisan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Januari 2016

Karat [3]

Kehabisan ide aku menyusun kata, metodologi itu kadang-kali membuat akal kita buta dari makna. Ku kira hujan datang utk mengganggu, namun tidak. Ia datang penuh haru, bersama serentet estetika yg syahdu. Imajiku tergenapi, kini jemari Mulai menari, meyusun pesan lewat puisi. Hujan menjadi suasana yg di rindukan, terutama bagi mereka yg sedang mendalami peran kesedihan. Seolah hujan itu mewakili tangisan, sepanjang kisah cinta musim kemarau yg memilukan. Tangisan harusnya menjadi kekuatan, bukan malah menjadi ratapan hati yg melemahkan. Menangis memeluk guling, atau menatapi hujan dgn muka lumer di balik jendela bening. Tangisan masam, yg kelak kan merusak hati jadi kelam. Apa gunanya menangisi sesuatu yg telah pergi, berhentilah dari menyiksa hati. Baiknya menangislah utk yg lebih berarti, tontonlah peduli kasih di televisi. Heehe.. Ayo baca atau dengarkan lantunan ayat-ayat suci, atau memohon ampun mengemis cinta pada Ilaahi. Menangislah sepenuh hati, raih kekuatan sejati, menuju kehidupan hakiki.

Sabtu, 13 Desember 2014

Kesedihan

Menyengat sang surya sulut pori-pori bekerja,
Keramaian menggema sembunyikan sepi hingga senja.....
Aku bersiasat dengan harapan,
Mencari dimana rekan yang mau berulur tangan.....
Seperti mencari serpihan kaca di gundukkan salju,
Pahitnya ku temui karena realita seringkali menipu.....
Aku yg sadar dengan hal itu pun berpaling,
Tertatih sendiri di tengah teriknya dunia yg bersaing.....

Sejenak ku hirup ramah sapa oksigen di bawah beringin,
Seolah ia menyajikan penyejuk yg membasahi relung jiwa yg mengering......
Tak ada yg salah,
Karena setiap orang ingin dapati hari yg cerah.....
Hanya saja aku yg belum beruntung menjalani hari,
Atau mungkin belum maksimal kerahkan potensi diri.....

Tak ingin berlarut,
Kini ku berfikir untuk pergi dan merajut.....
Mengingat musim dingin kan datang membawa kabut,
Ku siapkan jaket ku untuk hadapi musim yg semrawut.....
Sesekali ku petakan langkahku di malam sunyi,
Barangkali jalan kan ku temui esok hari.....
Tak lupa tuk mengemas harapan dalam doa,
Hanya Dia obat segala duka dan lara.....

Sendu desah nafasku menanti waktu,
Kala Ibu berbaring pulas dalam tidurnya.....
.....
.....
Sergahku menyeka berlian yg bergulir,
Bukan waktunya bersedih menyalahkan takdir.....
Aku berbalik kearah tabir,
Ku sucikan diriku dengan air,
Lalu menangis sambil tersungkur membaca syair.....