Tampilkan postingan dengan label Asmara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asmara. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Januari 2016

Obrolan Malam Minggu [2]

Ridhwan: Kesetiaan itu berarti ketiadaan dualisme dalam niat.. dan satu dalam tujuan dan maksud..

Indah: Maksudnya..? Jangan pake bahasa filsafat.. Kurang ngerti..?

Ridhwan: kesetiaan itu berarti tidak adanya dua harapan dalam satu niat..
 Kesetiaan itu artinya tidak membagi-bagi..

Indah: Maaf nih agak bawa ke arah lain.. Misal soal poligami.. Apakah itu cinta yg terbagi..? atau bukan?

Ridhwan: tergantung.. di Iran.. Poligami itu hukumnya bagiku Mubah. Seorang Hujjatul-Islam akan kehilangan Status HI nya. Jika ia melakukan Poligami. Bahkan pernah seorang Menteri, karena kedapatan menikah lagi (poligami). Ia di panggil oleh Rahbar dan di copot jabatan Menterinya oleh Rahbar. Aku sendiri memandang Poligami adalah sesuatu hal yg Mubazir.. Tapi boleh di lakukan dalam keadaan2 tertentu. Itu menurutku..

Indah: Halal tapi mungkin akan sulit menjalani nya.. Karena harus adil.. Apa bisa dikatakan kalo poligami berarti tidak setia..?

Ridhwan: Nggak juga.. makanya tadi aku bilang, tergantung pada niat. Kalo niatnya beribadah, jgn mengharapkan sesuatu yg berlebihan. Contoh, mau poligami niatnya Ibadah. Tapi harapannya condong kepada wanita yg lebih cantik, lebih seksi dll. Dari isteri pertamanya.. itu namanya dualisme.. Dualisme dalam poligami artinya menginginkan hal yg lebih dari sesuatu (yg baru) dari sesuatu (yg lama). faham nggak..? kalo nggak biar aku sederhanaanin lgi bahasanya..

Indah: Iya.. Faham.. Bukan kah gak lebih baik kalau mau poligami.. Yg nyari istri untuk suaminya adalah istri pertama..?

Ridhwan: Kebanyakan manusia zaman sekarang kan begitu ya..? Dualisme niat dalam Poligami.. iya bener itu.. isteri pertama yg harus mencarikan..

Indah: Soalnya aku punya teman yg berpandangan seperti itu.. Rela di poligami asalkan dia yg mencarikan adek madu nya..

Ridhwan: itupun kalo isteri pertama ridho...

Indah: Iya harus ridho.. Tapi masih banyak juga yg poligami tanpa di ketahui oleh istri pertama..

Bahkan ada yg tidak di ridhoi..  Apakah akan jadi dosa hal tersebut..?

Ridhwan: mubazir... dalam kajian hukum, dosa pun di bagi menjadi beberapa bagian. Untuk poligami yg kamu maksud itu, masuk kedalam dosa sosial dan dosa etika.

Indah: Kecuali kalo semua nya saling ridho maka akan menjadi pahala..  Benar tidak? Lalu bgaimana soal cemburu nya wanita adlh kekufuran..

Ridhwan: benar.. 😊 kamu cerdas.. cemburunya wanita adalah kekufuran.. Mungkin lebih tepatnya cemburu buta yaaa..? Tapi.. bisa jadi di karenakan hilang atau mulai berkurangnya kepercayaan.

Indah: Itu kan kata-katanya Imam Ali.. Sering baca aja tulisan tersebut.. Tapi apa iya wanita gak bisa cemburu.. Susah seperti nya..

Ridhwan: makanya aku bilang mungkin yg di maksud adalah cemburu buta..

Indah: Atau karena pasangan nya selalu bikin sesuatu yg membuat sang wanita cemburu..

Ridhwan: iya aku tau itu kata2 Imam 'Ali..
Jika kecemburuan itu hingga melampaui batas kewajaran, maka bisa jadi disebut kekufuran. Karena suami itu kan Imam bagi Isteri dan keluarganya.

Kalau makmun sudah tidak lagi percaya pada Imam, menurutmu bagaimana..?

Contoh jika kita tidak lagi percaya pada Imam Zamaan.afs bagaimana..? Bagaimana status keimanan kita..?

Indah: Mungkin kalo di bandingkan dengan Imam Zaman terlalu jauh..  Gak semua suami bisa jadi imam yg baik.. Karena kata2 imam Ali ada sambungan nya.. Kalo cuma cemburu buta pasti temasuk kekufuran.. Tapi seharus nya sang suami juga jangan smpe memancing atau membuat istri nya menangis...

"Perempuan bisa menyembunyikan Cintanya hingga 40tahun, tetapi ia tidak bisa menyembunyikan kebencian meski cuma beberapa saat. Dan jika mata perempuan mengeluarkan airmata (menangis) karena seorang lelaki telah melukainya, maka para malaikat akan melaknatnya (lelaki itu) di setiap langkahnya."

Ridhwan: itu terjemahannya. sesuai dengan hadits dari al-Imam.as yg kamu kirim..

Aku punya satu kata2..

Jika, kecemburuan wanita terhadap suaminya adalah kekufuran. Maka kebohongan sekecil apapun dari mulut lelaki adalah jurang neraka bagi dirinya..

Indah: Iya begitu.. Misal wanita menangis karena cemburu.. Dan si suami tetap pada kelakuannya yg memancing si istri cemburu.. Apakah malaikat akan melaknat sang suami..?

Ridhwan: Sereem ahh di laknat sama malaikat...

Indah: Iya.. Jadi seharusnya kedua belah pihak harusnya bisa saling menjaga izzah dan iffah tersebut.. Sehingga kepercayaan itu akan tercipta..

Ridhwan: ihh kamu pinter banget sihh..?😊 Aku setuju sama pendapatmu..

Bersambung...

Obrolan Malam Minggu [1]

Ridhwan: menurutmu apa makna dan tujuan dari pernikahan..?

Lalu apa yg menjadi pertimbanganmu dalam menentukan calon Suamimu kelak...??

Indah: Tuk saat ini tujuannya untuk ibadah dan kalau bisa menambah keturunan yang bisa menjadi pecinta Ahlulbayt as juga... Yang pertama harus se-akidah dan bertanggung jawab, tau kewajiban dan hak nya.. Bisa menjaga izzah dan iffah nya.. Kalau dia bisa menjaga dirinya insyaAllah dia bisa menjaga istrinya.. Banyak kalau di uraikan.. Tapi mengarah nya ke soal hati dan keyakinan sihh.. Soal rezeki aku lebih suka kerja bareng-bareng.. maksudnya saling bahu membahu... Bukan menunggu salah satu berhasil dulu, tapi sama-sama membangun keberhasilan...

Ridhwan: kenapa kamu memilih Mazhab AB..? Beri aku penjelasan logis..?

Indah: Pertama karena tau cerita Karbala.. Bisa di bilang karena Imam Hussein.. Dengan berjalan nya waktu ternyata mencintai Rasulullah.Saww dan Ahlulbayt nya adalah fardhu.. Apa ada alasan lain untuk bisa mengikuti mazhab ini...? Karena ingin mencintai yg wajib di cintai..

Ridhwan: cinta itu cenderung un-logis, karena memabukkan.

Indah: Cinta yg bagaimana dlu..?

Ridhwan Kulany: memang Cinta itu ada berapa pembagian..? Sehingga mesti di jelaskan Cinta yg bagaimana..?

Indah: Maksud nya cinta kepada apa dulu..? Banyak toh kalo di list cinta sama apa dulu..? Maka memabukkan nya juga akan beda arti.. Coba gantian aku yg nanya.. menurutmu apa makna dan tujuan dari pernikahan..?

Lalu apa yg menjadi pertimbanganmu dalam menentukan calon istrimu kelak..?

Ridhwan: Bagiku Cinta itu hanya satu.. Karena Cinta itu kesetiaan.. Kalo ada banyak Cinta berarti telah berselingkuh dgn apapun itu..
Tujuan dari pernikahan itu mencapai kesempurnaan Iman, menggapai Cinta yg Hakiki, menata KEINDAHAN, menegakkan KEADILAN, dan membangun KUASA. Kepada-Nya..

Karena aku atau pun kamu, adalah wujud eksistensi-Nya, yg kelak kan menyatu dalam Cinta kepada-Nya (Pernikahan) di dalam Kuasa-Nya.

Aku butuh wanita yg menanamkan Kesetiaan dalam abdinya, dan mengembangkan Ketulusan dalam Baktinya. Cinta adalah Pengabdian kepada kepada Allah.Swt, lewat segala apapun yang kita lakukan di dunia ini. Terutama lewat pernikahan.. Karena pernikahan adalah separuh Iman.

Indah: Cinta apa tidak di bagi.. cinta antara dua insan yang menjdi muhrim karena pernikahan.. Cinta pada Yang Maha Esa.. Cinta kepada orang tua.. Keluarga.. Cinta pada Ahlulbayt.. Apakah itu semua tidak akan terbagi..? Kalau kesetiaan aku juga sangat menjunjung nya.. Bahkan berharap bisa dan mendapat yg seperti itu..

Ridhwan: Ada sebuah riwayat menceritakan, suatu Hari Sayyidah Zainab.as sedang duduk bersama Ayahandanya (Imam 'Ali.as). Sayyidah Zainab lantas bertanya kapada Ayahnya:
"Wahai Ayah, apakah engkau mencintai Ibu..?" tanya polos Zainab.as.

"Tentu Puteriku, Ayah sangat mencintai Ibu.." jawab singkat Imam 'Ali.as.

"Apakah Ayah  mencintai ku..?" tanyanya lagi.

"Tentu saja, tidak mungkin aku tidak mencintaimu puteriku.." sahut Imam 'Ali.as dgm senyum teduh penuh bahagia.

"Lalu apakah Ayah mencintai Allah..?"

Wajah Imam 'Ali.as penuh kasih sayang menatap kearah Putrinya.
"Ya! Tentu.."

"Ayah berbohong..? Bagaimana bisa Ayah mencintai Aku.. Sedangkan Ayah juga begitu mencintai Ibu..? Lalu bagaimana bisa Ayah mencintai Allah, sementara Ayah juga mencintai Ibu.." keluh Zainab.as polos.

Imam 'Ali.as berdiri dan menurunkan tubuhnya seraya memeluk Zainab.as putrinya.

"Ketahuilah Puteriku, Sesungguhnya Allah mencintai siapapun yg mencintai apa yg di cintai-Nya."

Ridhwan: kira-kira seperti itu riwayatnya. Kamu ngerti filsafat..? Relativisme Etika, Kausalitas, dan Hukum keterikatan materi..?

Indah: Kurang ngerti soal filsafat....  Tapi soal riwayat tersebut bisa di mengerti...

Ridhwan Kulany: Itu masuknya ke dalam, keterikatan materi...

Mencintai Istri adalah Perbuatan yg di cintai Allah.Swt.

Mencintai Anak adalah Perbuatan yg di cintai Allah.Swt.

Lalu di mana pembagian Cinta itu...??
Sedangkan semata-mata semua kecintaan itu adalah karena dan untuk Allah.. ?

Indah: Kalo bicara filsafat aku nyerah.... Cuma bisa jawab pake perasaan aja... Boleh aku tanya..? Kalo soal kesetiaan..  Bagaimana kah kesetiaan itu...?

Ridhwan : jangan anggap diskusi... kita ngobrol santai... hitung-hitung PDKT kalo kata anak remaja... hehehehe...

Indah: Cuma pingin tau apa yg di maksud kesetiaan..?  Kan tadi ada kata kesetiaan juga..?

Bersambung...

Rabu, 19 Agustus 2015

Titik Fokus

Beriring dengan datangnya kegelisahan ku tentang dirimu. Aku mulai menjalani rencana pembenahan diri, mulai dari merapihkan kamarku. Ya! Kata teman-teman, "Begini ya kamar orang kreatif??"

Dari situ aku menyadari lagi betapa pentingnya memperbaiki diri untuk meraih sesuatu yang kita impikan. Baik itu karir, persahabatan, hubungan masyarakat, kekeluargaan yang erat, juga masalah percintaan.

Malam ini aku tertegun, memulai aktivitas sebelum tidur dengan renungan. Dimana sering aku berharap, bahwa suatu hari nanti akan melalui renungan dan evaluasi ini bersamamu. Itu pasti menyenangkan...?!

Ku petakan kotak-kotak berbagai problema, melintang dan membujur. Ya! Peta Problema yg tengah ku hadapi, dimana nalarku yg menjadi penanya dan langkahku adalah aplikasi dari kompas yg harus di tembak. Koreksi sana-sini, rombak ini dan itu. Betapa hidupku rumit untuk di gambarkan, seperti tiap serabut topografi yg menyajikan penjelasan penuh cabang dan ambiguitas. Namun, perjalanannya seringkali tak serumit apa yg terlihat dan kurasa.

Karena aku percaya tak ada hal rumit yg mustahil di selesaikan, apapun itu. Beberapa temanku selalu berkata, "Gak ada ujungnya kalo bahas Politik." Meski sebenarnya Politik tak serumit itu, Justru pola fikir manusia yg enggan berfikir dan bernalar lah yg membuatnya rumit.
Atau seperti Filsafat yg di pandang sebelah mata oleh kaum pandir, "Filsafat itu ribet, bikin stres. Kalo gak kuat bisa gila!" Nah loh?! Hebat banget dong, orang gila adalah tanda seorang menjadi ahli filsafat...? Sebenarnya gak begitu bukan...??

Kembali kepada kamu, ya! Kamu...!
Kamu itu loh, yg suka pake seragam cokelat.

Sebenarnya kamu itu jauh lebih rumit dari Politik, dan jauh lebih musingin dari Filsafat. Tau gak kenapa....?

Ya itulah kamu. Di tegur "huhh..", jawabnya "heeh..". Di tanyain soal rencana kita bulan oktober itu gimana, malah di anggurin...? Duh, padahal aku lebih suka rujak. Kenapa gak di rujakin aja??

Terlepas dari kesibukkan mu di dunia nyata, tanyaku mulai ambigu menyertai statusmu. Yg melulu tentang penantian, tentang dia yg beruntung meraih perhatianmu.

Sudahlah, aku kan hanya satu dari sekian teman mayamu yg mungkin berniat jahat. Menjahatimu dgn mencuri foto-fotomu dari album upload di sosmed. Silahkan pilih, mau di santet atau di pelet. :p

Hahaha..!! Aku tak segila itu, karena aku bukan ahli filsafat yg di katakan kaum pandir itu.

Sekuat apapun usahaku hari ini untuk memperbaiki diri, adalah upaya untuk menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya untuk dan berdasarkan diri sendiri. Bukan untuk kamu...? Kamu itu Ibarat Puncak Gunung dalam sebuah pendakian. Karena dalam prinsipku, Puncak adalah bonus. Begitu juga dengan kamu.

Intinya adalah proses pembenahan diri yg aku jalani, kamu lah yg menjadi titik pengalihan fokusku. Karena manusia selalu terjebak dalam ruang kausalitas, maka dari  itu kamu dan pembenahan diri ini menjadi sebuah titik temu yg cukup serasi.

Kopi...?! Kamu tak suka kopi? Maaf...!

Rabu, 03 Juni 2015

Kamu

Perlahan ku urai satu persatu,
Berbagai gelisah yang selalu mengganggu...
Kan ku ungkap segala rancu,
Meski tiap wajah memandangku tabu...
Namun inilah massa dimana tiada lagi abu-abu,
Tiada hitam yang kan menutup cahya itu...

Masih tentang kegelisahan yang membuat semua seolah semu,
Semoga hadirmu jadi kelembutan yg luluhkan ragu...
Menjadi kepastian tentang adanya hari baru,
Dimana tiada lagi lara yang memecah asa jadi ambigu...

Kamu...
Seperti fajar yang selalu ku tunggu,
Lama ku terjaga menunggu waktu...
Membunuh malam ku duduk termangu,
Biasmu adalah sebersit harapan di langit biru...

Kelak di waktu yang kita tuju,
Kan terjawab tanyamu tentang sepi yg lama membiru...
Tentang gelisahku dan gelisahmu,
Yang kelak kan bertemu dan bertumpu...

Namun biarlah itu menjadi rahasia waktu,
Karena saat ini masih terasa tabu dan buntu...
Tinggal bagaimana kita mengolah dan meramu,
Biarkan rimba menuntun kita untuk menyatu...

Logika dan ritmenya kan menjadi bumbu,
Mengikat kasih cinta yang bersatu padu...
Saksinya adalah deru nafas yg menggebu,
Mungkin juga pijakkan langkah kita yang penuh debu...

Sejauh puncak-puncak yang kelak kan berlalu,
Terbentang juga dinamika yang berputar pada dinding rindu...
Coba pecahkan problema dalam bisu,
Bergantung pada sejauh mana kita memahami titik temu...

Biasa, seperti kisah-kisah lain yang juga pernah berlalu,
Kita kan alami masa-masa itu...
Jangan mencoba melawan waktu,
Biarkan kita bertemu dan berjalan di tepian dinding berbatu...
Menemui Cinta yang penuh haru,
Atau berujung dan kandas di jurang yang penuh dengan benalu...

Sejauh ini aku berharap mampu mengusir kelabu,
Dan mulai menjemput bahagia yang sering di dongengkan oleh Ibu...
Dan ku harap itu dirimu,
Yang kelak kan menunggu ku pulang di depan pintu...

Menyambut lelahku dengan senyum semanis madu,
Luluhkan lelah yang bertengger di bahu...
Menghapus penat dengan teduh tatapan sang ratu,
Yang malu-malu penuh rayu dan rindu...

Dalam syair ini ada harapan yang mengusik kalbu,
Dari sekian banyak yang datang dan berlalu hanya tinggalkan pilu...
Aku ingin berlabuh di relung jiwamu,
Menanam benih Cinta di dasar hati yang tlah lama semu...

Sabtu, 13 Desember 2014

Langit Sore

Gerbang senja terbuka serentak,
satu per satu jalur angin menderu mata dan kelopak.....
Ketika sebuah jalan seakan di sadur oleh ujian,
hati mendayu penuh logika yang ambigu.....

Ini jalan cerita yang sama,
seperti setiap petak rasa,
yang di hadapi tiap jiwa.....
Di tegur bahagia,
di uji nestapa,
problema dan dinamika menghajar dan menempa.....

Diatas tumpukkan kerikil-kerikil yang menggunung,
aku adukan cuplikan dilematis yang membendung.....
Langit biru meng-ejakan materi orientasi yg mesti ku hadapi,
sementara rembulan menuntun ku larut dalam hikmah yang sedang ku gali.....

Hati memang berbeda dalam mencermati,
sementara kesadaran seringkali hilang hingga lupa diri,
namun akal tak pernah terbatasi dalam imaji.....
Hati meredup,
kesadaran mengendap,
pastikan akal tak terusik oleh gelap.....

Aku harus dapatkan arti,
menggapai mimpi,
maksimalkan implementasi,
lalu menjemput bidadari yang lama di damba oleh hati.....
Membawanya pergi,
dan pulang untuk kembali.....

Menuju eksistensi yang hakiki,
dalam naungan kasih Cinta Ilaahi Rabbi.....

Langit Sore

Gerbang senja terbuka serentak,
satu per satu jalur angin menderu mata dan kelopak.....
Ketika sebuah jalan seakan di sadur oleh ujian,
hati mendayu penuh logika yang ambigu.....

Ini jalan cerita yang sama,
seperti setiap petak rasa,
yang di hadapi tiap jiwa.....
Di tegur bahagia,
di uji nestapa,
problema dan dinamika menghajar dan menempa.....

Diatas tumpukkan kerikil-kerikil yang menggunung,
aku adukan cuplikan dilematis yang membendung.....
Langit biru meng-ejakan materi orientasi yg mesti ku hadapi,
sementara rembulan menuntun ku larut dalam hikmah yang sedang ku gali.....

Hati memang berbeda dalam mencermati,
sementara kesadaran seringkali hilang hingga lupa diri,
namun akal tak pernah terbatasi dalam imaji.....
Hati meredup,
kesadaran mengendap,
pastikan akal tak terusik oleh gelap.....

Aku harus dapatkan arti,
menggapai mimpi,
maksimalkan implementasi,
lalu menjemput bidadari yang lama di damba oleh hati.....
Membawanya pergi,
dan pulang untuk kembali.....

Menuju eksistensi yang hakiki,
dalam naungan kasih Cinta Ilaahi Rabbi.....

Aku Tahu

Jangan kira aku bisa dgn kaffah menikmati imaji,
syair pun masih tak bernyawa namun tak mati.....
Bukan aku yg tak ingin,
namun langkahku berat melawan angin.....

Bukankah kita sepakat bahwa harapan dan cinta ini berlandas pada Dia....?
Aku tau sepinya berdiri sendiri,
juga bosannya utk terus menanti.....
Aku pun tak pernah cukup membayangi wajahmu,
di permukaan air yg menggenang dgn nada sendu.....
Tak berbeda dgnmu.....
Aku ingin mendengar semua kisahmu,
bahkan seluruh curahan harimu.....
Menjadi penghangat ketika dingin menyerbu,
dan berikan bahuku lebih dari sekedar menyandarkan kepalamu.....
Tapi berkisah dalam bisik mesra,
dan bercanda dalam derasnya gemuruh hujan yg bertahta.....
Aku dambakan merahnya senja,
dalam pekatnya kerinduan di tengah hujan yg baru reda......
Apakah harus ku pertanyakan kesiapanmu....?
Kesiapanmu utk duduk bersama,
meski aku belum menyandang suksesku dalam cita....?

Tak cukup segelas kopi hitamku,
hingga ku buka lagi toples kaca yg tertata di meja.....
Kopi hitam pahit yg seolah mengujiku,
tetap bersabar utk dapat nikmati manis senyuman di bibirmu.....

Lidahku terkadang berontak,
namun ku ingat pesan mimpi dalam riak......
Tetes sisa tampias menggugah bayang samar,
hingga ku rengkuh airnya dgn tanganku yg kasar.....
Ku hirup rinduku,
ku sentuh sepi yg mengusik dirimu.....

Biar ku jinjing kerah kejenuhan yg mengganggumu,
"Berhenti mengganggu gadisku, karena aku akan datang menjemput bahagianya...!!" pungkasku menantang.....

Besok.....
Kita bicarakan semua keluh,
kita bongkar semua resah.....
Kita siasati jalan cinta ini,
kita temui apa yg wajib kita arungi.....

Cinta Arang

Menatapi serpihan imaji diatas api,
Ku serap pancaran alibi yg batasi diri.....
Hangatnya api menguji naluri,
Melewati malam sepi yg dingin hingga pagi.....

Terkuak segala problema,
Ku dapati arah dalam sunyi yg menjelma.....
Ini bukan hanya tentang aku,
Bukan juga tentang kamu.....
Namun tentang eksistensi sebuah nada harmoni,
Dimana not nya sajikan kedamaian dalam hati......

Ada yg salah ku mengerti,
Namun terlampau jauh ku cintai.....
Atau mungkin begitu cepat kau salahi arti,
Sehingga yg tersisa kini hanya sepi.....
Kisah tak lagi murni,
Ternodai oleh emosi yg menguasai.....

Kita lama terdiam,
Bahkan kembali terbiasa untuk bungkam.....
Seperti hujan yg tak kunjung datang sejak juli,
Kemarau kini menyengat bumi hingga canda pun mengering dalam hati.....
Rindu seolah tersembunyi,
Hadirnya pun serasa pantas di tanyai.....
Apa daya,
Senyumku pudar dalam redup cahaya cinta.....
Air mata....?
Ini kemarau yg menyedihkan,
Bahkan katup di retina mulai tanyakan dimana kelembutan.....

Mengais sisa-sisa kata yg mampu ku ucap,
Bahkan meski sapa ku tak terjawab.....
Memanggilmu,
Memperhatikanmu,
Dan menegurmu.....
Lewat puisi,
Syair singkat yg lirih,
Hingga ku ungkap doa dalam keresahan yg menghantui.....

Habibbah ku....?
Kemana canda tawa kita tergadai....?
Apakah ada yg lebih berharga dari kehangatan,
Atau mungkin ada yg lebih menarik dari sebuah ketulusan dan kesetiaan....?
Belenggu kita hanya ruang dan waktu,
Sedangkan Cinta ini hadir melampaui apapun itu.....

Apakah Optimisme itu telah padam....?
Sementara mimpi yg kita rangkai adalah rahasia yg terpendam.....

Ku bergeser menyentuh nyala bara yg mencolok,
Lalu ku dapati arang hitam yg baru saja tergarang.....
Di balik itu,
Ternyata ada Abu yg mendebu,
Dalam sulutan api ia Abadi,
Balutan bara api ajak angin membawanya sempurna dalam harmoni.....

Abu.....
Abu yg tak mungkin lagi jadi bara api,
Apalagi jadi arang memutar balik dimensi.....

Jumat, 12 Desember 2014

Antara Aku dan Dia

Aku tak mampu lgi mengelak,
kecemberuan itu nampak jelas dari jawaban-Nya...
Dia tak ingin ku berpaling,
tak ingin pula cintaku habis terbuang jdi puing...
Seruannya seakan memanggilku dgn lembut,
kelembutan yg menembus bising hiruk pikuk kota yg semrawut...

Seakan Maha Cinta bertanya,
"Kurangkah kepastian Janji-Ku padamu..?"

Aku terlena megahnya dunia yg sementara,
kini semua makin membuat ku merana...

Lembaran-lembaran lusuh yg dahulu ku baca seakan hidup,
mempertanyakan kisah dan cahayaku yg kian redup...
Tersengal nafasku mengingat panjangnya waktu terbuang sia-sia,
betapa aku seringkali mengingkarinya,
betapa tlah jauh aku pergi meninggalkan ikrarku...

Sungguh,
tak sedikitpun aku lupa,
dan tak satupun alasan mampu ku baca...
Namun celakanya diriku yg terlena oleh tipu daya dunia,
seakan aku berjuang di dalamnya padahal aku sedang berada di pinggiran jurang dgn api yg menyala-nyala...

Hampir saja langkahku tergelincir,
nyaris saja aku terjerat dlm kepalsuan yg menghinakan...

Dia Yg Maha Mengerti,
bahwa aku ini mudah sekali termakan halusinasi...
Dia juga Yg Maha Penyantun,
yg tak pernah menutup jalanku utk kembali dan pulang...
Ke dalam pangkuannya,
bersujud dgn peluh di Mihrab-Nya.....

Rindu Membiru

Terbenam rembulan di ufuk barat,
Sembunyikan tanya di balik semburat.....
Alibi mencuat mengusung angin,
Buyar di tempa tatapan mata yg dingin.....
Di batas lembaran kisah ku terbungkam,
Menutup jalan keraguan yg harus di redam.....
Menembus tiap resah berbalut rasa,
Mengusir sepi yg menghambat cita.....

Temaram ku cumbui,
Lalu larut dalam lamunan sang putri.....
Ku semai rindu,
Ku tabur nada biru di jejak malam yg membisu.....

Ada gelak tawa yg tersita,
Mengimpikan canda mesra yg tertunda,
Seperti mendung yg lewat tanpa sapa.....

Gelisah ku nanti kabarmu,
Hampir gusar ku di usik malam sendu.....
Melambung percik api memecah gelap,
Masih ku pendam tiap kata yg ingin ku ungkap.....
Dimana ruangnya,
Adakah waktunya....?

Nanti saat Tuhan memberi kita jalan dan kesempatan,
Ku harap tak ada hambatan yg menyita kemesraan.....

Mihrab Kemesraan

Di pesisir lelahku hari ini,
Sudahi setiap alibi yg meracuni.....
Ku letakkan perkakasku yg berlumur serbuk kayu,
Basuh tanganku yg di tempeli sisa lem.....

Teguk air yg tercurah,
Bersihkan peluh yg membasahi kerah.....
Ku raih selendang ketenangan,
Ku rebahkan rindu di haribaan..... Berlantun Kalam Suci Warisan Sang Nabi,
Merengkuh Khusyuk mengemis pada Ilahi.....
Ku Sulut sumbu lilin di wadah kaca,
Meraih indahnya cahya yg merona.....
Seperti Cinta yg membara,
Asmaraku menyala berkerumun gelap yg perlahan sirna.....

Seakan berada di ruang senyap,
Tanpa hiruk pikuk kota,
Bahkan tak ada detak jarum yg ku rasa.....
Lepas dari belenggu dunia,
Sesaat dalam Estetika yg menjadi Rahasia,
Bersemayam dalam Tenang pelukan-Nya.....

Seolah tak ingin ini berakhir,
Bahkan tubuhpun enggan untuk bergulir.....

Setelah ku Jamah lembaran lusuhnya,
Dan ku semai tiap bait Ayat-Nya.....
Kini ku kecup hangat Tiap lekuk tubuhnya,
Hirup mesra aroma semerbak yg mempesona.....

Beberapa saat kemudian,
Rasanya aku sedang di rundung kerinduan......
Bibirpun kering gemetaran,
Tak ingin ku tinggalkan Mihrab Kemesraan.....

Bukan Cinta

Cerita merebah di lukis waktu,
Tintanya bertabur kala langkah terpatri lewati hari......

Ini
hikmah tentang mata dan cahaya,
Diantara siang dan malam yg memainkan perannya dalam realita.....

Betapa ini bukan hal yg berbeda,
namun ada sensasi istimewa,
kala ku coba tuk menyentuh rasa yg ku cerna.....
Seperti ada jalan di rimbunnya hutan,
menemukan berlian yg tlah lama hilang,
Atau bagaikan serdadu yg pulang menyandang kemenangan dalam perang.....

Bukan sekedar rasa,
Bukan juga Harapan tanpa sandaran.....
Kita semua ingin bahagia,
namun bukan sekedar kesenangan sesaat yg penuh kepalsuan.....

Tangisan,
Juga senyuman.....
Tawa,
Begitu pula Kesedihan.....
Hanyalah realita yg pasti ada dan biasa.....

Apa yg sebenarnya membuat ini menjadi indah dan penuh makna.....?

Apakah Cinta?

Tahukah kau,
Wahai Permaisuri hati yg Kerelaannya masih ku nanti,
dan Kemuliaannya masih tersembunyi.....

Bukan Cinta yg membuat jalan ini menjadi istimewa,
Apalagi sekelumit realita yg menjelma diatas dunia.....

Tanpa dirimu,
duniaku hanya akan menjadi hari yg berat,
 kelam dan melelahkan.....
Tanpa diriku,
Duniamu akan menjadi hari yg membosankan,
seram hingga bahkan menakutkan.....

Bukan tentang realita,
Juga bukan tentang Cinta.....

Ini tentang kita wahai Kasih yg bernaung dalam rahasia,
Tentang sepasang manusia yg meraih harmoni tuk lalui dinamika dunia.....

Ridhwan Endri. Y (Juna), 29 Agustus 2014