Tampilkan postingan dengan label Ahlulbait. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahlulbait. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Februari 2016

Bersama dalam Rindu

Sepenggal kisah berjalan syahdu,
Beriring realita pilu dan semu...
Hidup penuh dengan anugerah rindu,
Mendamba Kekasih menuangkan madu...

Jejak langkah kadang ambigu,
Isyaratkan labilnya asa ku...
Secercah harapan pun menguak pintu,
Gerbang hati terhentak nampakkan seluruh cela ku...

Menangis bersama di malam utama itu,
Hadapi serentet noda dunia warnai baju...
Menggugah makna alunan rindu,
Merajut asa dengan tegas dan lembut yang saling berpadu...

Berdiriku di hadapan segenap kesadaran yang membara,
Membakar tiap alasan dari keterbatasan diri yang di penuhi dusta...
Menghunus dialektika yang selama ini menghadang jiwa,
Temui cela, dusta, dosa dan nestapa,
Pastikan hati tentang diri yang pantas meraih cita...

Senada ku rengkuh tangan Kekasih,
Mendekapnya erat dalam suci,
Biarkan aliran darah ku mendobrak ironi...
Butir-butir keringat mencuat bersama doa luapan hati,
Airmata pun mengalir dalam derasnya penyesalan terhadap diri...

Beranjak di mulut hari,
Berbenah hati dan mantapkan langkah diri,
Meraih Restu bersama dalam Ridho Sang Ilaahi...

Sabtu, 16 Januari 2016

Obrolan Malam Minggu [2]

Ridhwan: Kesetiaan itu berarti ketiadaan dualisme dalam niat.. dan satu dalam tujuan dan maksud..

Indah: Maksudnya..? Jangan pake bahasa filsafat.. Kurang ngerti..?

Ridhwan: kesetiaan itu berarti tidak adanya dua harapan dalam satu niat..
 Kesetiaan itu artinya tidak membagi-bagi..

Indah: Maaf nih agak bawa ke arah lain.. Misal soal poligami.. Apakah itu cinta yg terbagi..? atau bukan?

Ridhwan: tergantung.. di Iran.. Poligami itu hukumnya bagiku Mubah. Seorang Hujjatul-Islam akan kehilangan Status HI nya. Jika ia melakukan Poligami. Bahkan pernah seorang Menteri, karena kedapatan menikah lagi (poligami). Ia di panggil oleh Rahbar dan di copot jabatan Menterinya oleh Rahbar. Aku sendiri memandang Poligami adalah sesuatu hal yg Mubazir.. Tapi boleh di lakukan dalam keadaan2 tertentu. Itu menurutku..

Indah: Halal tapi mungkin akan sulit menjalani nya.. Karena harus adil.. Apa bisa dikatakan kalo poligami berarti tidak setia..?

Ridhwan: Nggak juga.. makanya tadi aku bilang, tergantung pada niat. Kalo niatnya beribadah, jgn mengharapkan sesuatu yg berlebihan. Contoh, mau poligami niatnya Ibadah. Tapi harapannya condong kepada wanita yg lebih cantik, lebih seksi dll. Dari isteri pertamanya.. itu namanya dualisme.. Dualisme dalam poligami artinya menginginkan hal yg lebih dari sesuatu (yg baru) dari sesuatu (yg lama). faham nggak..? kalo nggak biar aku sederhanaanin lgi bahasanya..

Indah: Iya.. Faham.. Bukan kah gak lebih baik kalau mau poligami.. Yg nyari istri untuk suaminya adalah istri pertama..?

Ridhwan: Kebanyakan manusia zaman sekarang kan begitu ya..? Dualisme niat dalam Poligami.. iya bener itu.. isteri pertama yg harus mencarikan..

Indah: Soalnya aku punya teman yg berpandangan seperti itu.. Rela di poligami asalkan dia yg mencarikan adek madu nya..

Ridhwan: itupun kalo isteri pertama ridho...

Indah: Iya harus ridho.. Tapi masih banyak juga yg poligami tanpa di ketahui oleh istri pertama..

Bahkan ada yg tidak di ridhoi..  Apakah akan jadi dosa hal tersebut..?

Ridhwan: mubazir... dalam kajian hukum, dosa pun di bagi menjadi beberapa bagian. Untuk poligami yg kamu maksud itu, masuk kedalam dosa sosial dan dosa etika.

Indah: Kecuali kalo semua nya saling ridho maka akan menjadi pahala..  Benar tidak? Lalu bgaimana soal cemburu nya wanita adlh kekufuran..

Ridhwan: benar.. 😊 kamu cerdas.. cemburunya wanita adalah kekufuran.. Mungkin lebih tepatnya cemburu buta yaaa..? Tapi.. bisa jadi di karenakan hilang atau mulai berkurangnya kepercayaan.

Indah: Itu kan kata-katanya Imam Ali.. Sering baca aja tulisan tersebut.. Tapi apa iya wanita gak bisa cemburu.. Susah seperti nya..

Ridhwan: makanya aku bilang mungkin yg di maksud adalah cemburu buta..

Indah: Atau karena pasangan nya selalu bikin sesuatu yg membuat sang wanita cemburu..

Ridhwan: iya aku tau itu kata2 Imam 'Ali..
Jika kecemburuan itu hingga melampaui batas kewajaran, maka bisa jadi disebut kekufuran. Karena suami itu kan Imam bagi Isteri dan keluarganya.

Kalau makmun sudah tidak lagi percaya pada Imam, menurutmu bagaimana..?

Contoh jika kita tidak lagi percaya pada Imam Zamaan.afs bagaimana..? Bagaimana status keimanan kita..?

Indah: Mungkin kalo di bandingkan dengan Imam Zaman terlalu jauh..  Gak semua suami bisa jadi imam yg baik.. Karena kata2 imam Ali ada sambungan nya.. Kalo cuma cemburu buta pasti temasuk kekufuran.. Tapi seharus nya sang suami juga jangan smpe memancing atau membuat istri nya menangis...

"Perempuan bisa menyembunyikan Cintanya hingga 40tahun, tetapi ia tidak bisa menyembunyikan kebencian meski cuma beberapa saat. Dan jika mata perempuan mengeluarkan airmata (menangis) karena seorang lelaki telah melukainya, maka para malaikat akan melaknatnya (lelaki itu) di setiap langkahnya."

Ridhwan: itu terjemahannya. sesuai dengan hadits dari al-Imam.as yg kamu kirim..

Aku punya satu kata2..

Jika, kecemburuan wanita terhadap suaminya adalah kekufuran. Maka kebohongan sekecil apapun dari mulut lelaki adalah jurang neraka bagi dirinya..

Indah: Iya begitu.. Misal wanita menangis karena cemburu.. Dan si suami tetap pada kelakuannya yg memancing si istri cemburu.. Apakah malaikat akan melaknat sang suami..?

Ridhwan: Sereem ahh di laknat sama malaikat...

Indah: Iya.. Jadi seharusnya kedua belah pihak harusnya bisa saling menjaga izzah dan iffah tersebut.. Sehingga kepercayaan itu akan tercipta..

Ridhwan: ihh kamu pinter banget sihh..?😊 Aku setuju sama pendapatmu..

Bersambung...

Obrolan Malam Minggu [1]

Ridhwan: menurutmu apa makna dan tujuan dari pernikahan..?

Lalu apa yg menjadi pertimbanganmu dalam menentukan calon Suamimu kelak...??

Indah: Tuk saat ini tujuannya untuk ibadah dan kalau bisa menambah keturunan yang bisa menjadi pecinta Ahlulbayt as juga... Yang pertama harus se-akidah dan bertanggung jawab, tau kewajiban dan hak nya.. Bisa menjaga izzah dan iffah nya.. Kalau dia bisa menjaga dirinya insyaAllah dia bisa menjaga istrinya.. Banyak kalau di uraikan.. Tapi mengarah nya ke soal hati dan keyakinan sihh.. Soal rezeki aku lebih suka kerja bareng-bareng.. maksudnya saling bahu membahu... Bukan menunggu salah satu berhasil dulu, tapi sama-sama membangun keberhasilan...

Ridhwan: kenapa kamu memilih Mazhab AB..? Beri aku penjelasan logis..?

Indah: Pertama karena tau cerita Karbala.. Bisa di bilang karena Imam Hussein.. Dengan berjalan nya waktu ternyata mencintai Rasulullah.Saww dan Ahlulbayt nya adalah fardhu.. Apa ada alasan lain untuk bisa mengikuti mazhab ini...? Karena ingin mencintai yg wajib di cintai..

Ridhwan: cinta itu cenderung un-logis, karena memabukkan.

Indah: Cinta yg bagaimana dlu..?

Ridhwan Kulany: memang Cinta itu ada berapa pembagian..? Sehingga mesti di jelaskan Cinta yg bagaimana..?

Indah: Maksud nya cinta kepada apa dulu..? Banyak toh kalo di list cinta sama apa dulu..? Maka memabukkan nya juga akan beda arti.. Coba gantian aku yg nanya.. menurutmu apa makna dan tujuan dari pernikahan..?

Lalu apa yg menjadi pertimbanganmu dalam menentukan calon istrimu kelak..?

Ridhwan: Bagiku Cinta itu hanya satu.. Karena Cinta itu kesetiaan.. Kalo ada banyak Cinta berarti telah berselingkuh dgn apapun itu..
Tujuan dari pernikahan itu mencapai kesempurnaan Iman, menggapai Cinta yg Hakiki, menata KEINDAHAN, menegakkan KEADILAN, dan membangun KUASA. Kepada-Nya..

Karena aku atau pun kamu, adalah wujud eksistensi-Nya, yg kelak kan menyatu dalam Cinta kepada-Nya (Pernikahan) di dalam Kuasa-Nya.

Aku butuh wanita yg menanamkan Kesetiaan dalam abdinya, dan mengembangkan Ketulusan dalam Baktinya. Cinta adalah Pengabdian kepada kepada Allah.Swt, lewat segala apapun yang kita lakukan di dunia ini. Terutama lewat pernikahan.. Karena pernikahan adalah separuh Iman.

Indah: Cinta apa tidak di bagi.. cinta antara dua insan yang menjdi muhrim karena pernikahan.. Cinta pada Yang Maha Esa.. Cinta kepada orang tua.. Keluarga.. Cinta pada Ahlulbayt.. Apakah itu semua tidak akan terbagi..? Kalau kesetiaan aku juga sangat menjunjung nya.. Bahkan berharap bisa dan mendapat yg seperti itu..

Ridhwan: Ada sebuah riwayat menceritakan, suatu Hari Sayyidah Zainab.as sedang duduk bersama Ayahandanya (Imam 'Ali.as). Sayyidah Zainab lantas bertanya kapada Ayahnya:
"Wahai Ayah, apakah engkau mencintai Ibu..?" tanya polos Zainab.as.

"Tentu Puteriku, Ayah sangat mencintai Ibu.." jawab singkat Imam 'Ali.as.

"Apakah Ayah  mencintai ku..?" tanyanya lagi.

"Tentu saja, tidak mungkin aku tidak mencintaimu puteriku.." sahut Imam 'Ali.as dgm senyum teduh penuh bahagia.

"Lalu apakah Ayah mencintai Allah..?"

Wajah Imam 'Ali.as penuh kasih sayang menatap kearah Putrinya.
"Ya! Tentu.."

"Ayah berbohong..? Bagaimana bisa Ayah mencintai Aku.. Sedangkan Ayah juga begitu mencintai Ibu..? Lalu bagaimana bisa Ayah mencintai Allah, sementara Ayah juga mencintai Ibu.." keluh Zainab.as polos.

Imam 'Ali.as berdiri dan menurunkan tubuhnya seraya memeluk Zainab.as putrinya.

"Ketahuilah Puteriku, Sesungguhnya Allah mencintai siapapun yg mencintai apa yg di cintai-Nya."

Ridhwan: kira-kira seperti itu riwayatnya. Kamu ngerti filsafat..? Relativisme Etika, Kausalitas, dan Hukum keterikatan materi..?

Indah: Kurang ngerti soal filsafat....  Tapi soal riwayat tersebut bisa di mengerti...

Ridhwan Kulany: Itu masuknya ke dalam, keterikatan materi...

Mencintai Istri adalah Perbuatan yg di cintai Allah.Swt.

Mencintai Anak adalah Perbuatan yg di cintai Allah.Swt.

Lalu di mana pembagian Cinta itu...??
Sedangkan semata-mata semua kecintaan itu adalah karena dan untuk Allah.. ?

Indah: Kalo bicara filsafat aku nyerah.... Cuma bisa jawab pake perasaan aja... Boleh aku tanya..? Kalo soal kesetiaan..  Bagaimana kah kesetiaan itu...?

Ridhwan : jangan anggap diskusi... kita ngobrol santai... hitung-hitung PDKT kalo kata anak remaja... hehehehe...

Indah: Cuma pingin tau apa yg di maksud kesetiaan..?  Kan tadi ada kata kesetiaan juga..?

Bersambung...

Sabtu, 21 Februari 2015

Asyura : Epik Cinta, Pengabdian dan Kesetian (2)

     Epik Imam Husein as, dikenal sebagai simbol konfrontasi kebenaran dengan kebatilan serta pengorbanan di jalan agama. Gerakan Imam Husein as bukan sekedar sebuah peristiwa, melainkan sebuah budaya yang hidup dan melahirkan berbagai gerakan baru. Sebuah budaya yang bangkit dari konteks Islam dan memainkan peran determinan dalam menjaga kelestarian nilai-nilai luhur agama. Yang pasti epik seperti ini, tidak akan pernah terhapus dari sejarah dan akan selalu menjadi motivasi dalam memerangi kezaliman bagi setiap generasi umat manusia.

      Pada hari kesepuluh bulan Muharram tahun 61 Hijriah, seruan adzan dikumandangkan oleh Ali Akbar, putra Imam Husein bin Ali as menandai subuh Asyura. Shalat ditunaikan. Seakan semua wujud mengikuti Husein as. Para sahabat pun menunaikan shalat penuh kecintaan mengikuti pemimpin mereka. Seusai shalat Subuh, para perindu syahadah itu bangkit. Seakan tidak satu pun di antara mereka yang merasa kehausan dan seakan tidak ada ancaman 30.000 pedang yang telah terhunus di seberang medan sana. Umar bin Saad, panglima pasukan musuh mengetahui bahwa Husein as dan para sahabatnya tidak akan menyerang dan telah siap berperan.

     Imam Husein as mengatur laskarnya yang hanya berjumlah puluhan dan menyerahkan panji kepada saudaranya yang setia Abbas bin Ali. Kemudian beliau maju ke depan dan memperkenalkan diri dengan harapan masih ada sekelumit kesadaran dalam hati pasukan musuh. Beliau berseru: "Wahai kaum, kitab Allah dan kakekku Rasulullah (Saw) yang akan memberikan keputusan di antara aku dan kalian. Wahai masyarakat, mengapa kalian menghalalkan darahku? Bukankah aku putra Nabi kalian? Apakah kalian tidak mendengar ucapan kakekku tentang diriku dan saudaraku yang mengatakan: Putraku Hasan dan Husein adalah pujangga para pemuda penghuni sorga?”

      Namun apa gunanya nasehat Imam Husein as, seakan hati mereka telah terkunci. Umar bin Saad menggerakkan pasukannya dan dengan suara keras dia berkata, “Saksikan wahai pasukan, katakan kepada penguasa Kufah bahwa aku adalah orang pertama yang melepaskan panah ke arah Husein.”

      Kemudian langit Karbala tertutupi dengan ribuan panah yang melesat ke arah pasukan Husein as. Kepada pasukannya Imam Husein as berkata, “Panah-panah ini adalah pesan perang. Bangkitlah, rahmat dan kasih sayang Allah (Swt) bersama kalian.”

      Para sahabat Imam Husein as berperang tanpa secuil rasa takut dan menampilkan cinta dan pengorbanan yang tak terbayangkan. Para sahabat saling berlomba mendahului untuk terjun ke medan perang. Mereka dengan penuh hormat meminta ijin dari Imam Husein as untuk terjun ke medan perang. Hati para sahabat telah diluapi kecintaan kepada Allah Swt dan Imam Husein as. Hakikat ini dapat disaksikan dengan jelas dalam pasukan Imam Husein as, bahwa para sahabat beliau terjun di medan pengorbanan dengan kesadaran, kecintaan dan keimanan penuh. Bagi Imam Husein as dan para sahabatnya, rasa sakit akibat kebodohan dan kejahilan masyarakat, lebih pedih dari luka pedang. Oleh karena itu, mereka berjuang bertekad melakukan tugas jihad terpenting yaitu memberantas kebodohan dalam pikiran masyarakat. Dalam sejarah Karbala disebutkan bahwa sebagian besar sahabat Imam Husein menyampaikan ucapan-ucapan bernilai tinggi untuk menyadarkan musuh. Di medan laga, para sahabat Imam Husein as melantunkan bait-bait syair epik memperkenalkan Imam Husein as dan keluarga Nabi, sebelum mereka menunjukkan heroisme di jantung barisan musuh. Ini menunjukkan bahwa musuh tidak berhenti berusaha merusak citra Ahlul Bait Nabi.

      Masing-masing sahabat Imam Husein as yang bergegas ke medan perang, mampu menggetarkan barisan musuh hanya dengan menunjukkan keagungan iman dan perjuangan mereka. Setelah itu mereka akan berperang dengan penuh keberanian hingga terjatuh dengan badan penuh luka. Imam Husein as mendatangi setiap sahabatnya di medan perang, menghibur mereka dan memuji kesetiaan mereka. Para sahabat yang tidak sanggup mengungkapkan kebahagiannya dengan pertemuan tersebut, akan menjawab seruan beliau dengan ucapan “labbaik ya Husein”.

      Para syuhada telah berjatuhan di medan perang, pasukan Imam Husein as hanya tinggal sangat sedikit. Imam Husein as memandang pasukan musuh dan berseru: “Apakah ada orang yang membantu kami demi Allah? Apakah ada orang yangmembela kehormatan Nabi dan menjauhkan kami dari musuh?”

      Sengat terik matahari padang Karbala merampas dahaga dan daya dari perkemahan Imam Husein. Anak-anak gelisah. Salah satu sahabat mengabarkan waktu shalat dzuhur. Imam Husein as menatap ke langit dan berkata, “Kau telah mengingat shalat; semoga Allah menempatkanmu di antara para penunai shalat. Iya telah tiba waktunya; mintalah mereka (musuh) untuk menangguhkan sejenak dan berhenti perang sehingga kita dapat shalat."

   Barisan shalat berjamaah telah tersusun. Jumlah jemaah shalat tidak mencapai 30 orang. Di cuaca panas Karbala dan di dalam kepungan tombak, pedang dan panah musuh, ditunaikan shalat dengan penuh kekhusyukan. Bukankah Imam Husein as berkata bahwa dia bangkit melawan demi menegakkan amr makruf dan nahi munkar? Shalat Imam Husein as dan para sahabat setianya mengindikasikan tujuan tersebut. Tiga sahabat Imam Husein as termasuk Said bin Abdullah, salah satu penjaga barisan shalat, telah menjadi perisai penuh dengan panah. Usai shalat, Said bin Abdullah telah berlumuran darah.

      Para sahabat telah pergi dan hanya para ksatria keluarga Imam Husein as dari Bani Hasyim yang tersisa. Ali Akbar, Abbas dan saudara-saudaranya, para putram Hasan bin Ali as dan putra-putra Aqil dan Zainab. Selama masih ada sahabat, Imam Husein as tidak mengijinkan seorang dari Bani Hasyim terjun ke medan perang. Sekarang adalah detik-detik perpisahan. Ali Akbar menyampaikan perpisahan dengan sang ayah menuju medan perang. Setelah itu, disusul Qasim bin Hasan, kemudian para putra Ali dan lainnya, sampai akhirnya sang pembawa panji laskar Imam Husein as yaitu Abbas bin Ali mengorbankan jiwanya.

     Sekarang hanya tinggal Husein bin Ali as, kesayangan Rasulullah Saw, terkepung musuh yang congkak dan hina. Imam Husein as untuk terakhir kalinya ingin menyempurnakan hujjah-nya kepada musuh. Beliau mengangkat putra bayinya yang kehausan Ali Asghar dan meminta air untuk anak tidak berdosa ini. Akan tetapi musuh menembakkan panah ke leher Ali Asghar. Imam Husein as dengan duka mendalam, memercikkan darah putranya ini ke langit dan memohon agar Allah Swt menerima pengorbanannya.

      Para sahabat dan keluarganya telah gugur syahid, Imam Husein as sendirian, namun berdiri tegak dan gagah di medan perang. Ke arah mana pun beliau bergegas, barisan musuh akan porak-poranda. Tidak ada yang berani bertarung menghadapi Imam Husein. as.

Umar bin Saad berteriak: “Sedang apa kalian? Ini adalah putra Ali, jiwa Ali ada di raganya, jangan kalian berduel dengannya.”

Setelah beberapa waktu berperang tidak imbang di padang yang panas menyengat dan dalam kondisi kehausan dan kelelahan, Imam Husein as terdesak. Beliau sejenak berdiri diam. Ketika itu salah seorang dari pasukan musuh melempar batu yang mengena dahi Imam Husein as hingga pecah dan mengucurkan darah. Aksi itu disusul dengan tembakan panah yang menusuk dada Imam Husein as dan beliau pun semakin bersimbah darah. Imam Husein as menengadahkan kepala ke langit dan berkata, “Ya Allah! Kau tahu pasukan ini, akan membunuh seseorang yang kecuali dia tidak ada lagi putra dari putri Nabi di muka bumi."

      Untuk beberapa saat Imam Husein as terbaring di atas tanah dengan badan penuh darah. Tidak ada yang berani mendekati beliau. Pada akhirnya, seorang dengan perangai kejam dan sadis mengayunkan pedangnya ke kepala Imam Husein as. Darah terpercik dari kepala beliau. Kemudian Imam Husein as dengan hati penuh kerinduan untuk segera bertemu dengan Allah Swt berkata: “Ya Allah! Aku ridho atas keridhoan-Mu dan berpasrah diri kepada-Mu. Wahai Tuhan yang akan mengadili seseorang sesuai dengan amalnya, adili antara aku dan masyarakat ini, karena Kau adalah sebaik-baiknya Hakim.”

Sanan bin Anas turun dari kudanya dan berdiri di atas Imam Husein as, kemudian mengayunkan pedangnya ke leher Imam Husein as. Langit pun gelap berkabut. Kebenaran telah tertancap di tombak. Husein as dengan bibir kehausan melantunkan ayat-ayat al-Quran dan epik Asyura pun mencapai puncaknya.

Salam Atasmu Wahai Sayyidusy-Syuhada.

Salam Atasmu Wahai  Para Syuhada Karbalaa.

Asyura : Epik Cinta, Pengabdian dan Kesetiaan (1).

      Gerakan Karbala sejak peristiwa historis besar ini terjadi lebih dari seribu tahun lalu hingga kini senantiasa menjadi sumber mata air yang jernih bagiorang-orang dahaga akan kebenaran. Tidak diragukan lagi spirit agung, motif dan tujuan mulia Asyura membawa khazanah kebudayaan yang kaya sekaligus menjadi inspirasi bagi gerakan besar dunia. Tujuh hari berlalu setelah Imam Husein dan pengikutnya memasuki tanah Karbala.  Tanggal sembilan Muharram tahun 61 Hijriah, blokade yang dilakukan pasukan musuh terhadap Imam Husein dan mengikutnya semakin ketat. Orang-orang Kufah menutup akses terhadap air bagi Imam Husein dan rombongannya di padang Karbala. Padahal di antar rombongan Imam Husein terdapat anak-anak dan balita. Tekanan ancaman pasukan Umar bin Sa'ad semakin besar terhadap Imam Husein dan pengikutnya  .Oleh karena itu, Imam Husein memerintahkan seluruh pengikutnya yang dikepung untuk siaga dengan keterbatasan perlengkapan perang seadanya yang mereka miliki.
      Abbas Bin Ali, saudara Imam Husein termasuk di antara pengikut Imam Husein yang paling kuat. Beliau senantiasa mendampingi Imam Husein. Beliau berada beberapa langkah di depan Imam Husein demi melindungi pemimpinnya itu dari ancaman serangan musuh. Pasukan Imam Husein bersiaga menghadapi serangan musuh. Di antara mereka terdapat para remaja. Para pengikut Imam Husein di padang Karbala adalah orang-orang yang berhati suci dan pencinta kebenaran. Diri mereka dipenuhi kecintaan yang sangat besar terhadap Imam Husein, yang datang ke Karbala untuk menegakkan agama Nabi Muhammad Saw yang mengalami penyimpangan oleh penguasa lalim Yazid bin Muawiyah.  Ketika itu suasana yang terlihat begitu kental dari para pengikut Imam Husein adalah persatuan dan solidaritas yang kokoh. Sebab, mereka diikat oleh Iman dan cinta ilahi.

      Karbala adalah manifestasi dari persatuan, persatuan dalam tujuan, persatuan dalam ucapan dan perilaku, serta persatuan dalam kepemimpinan yang menjadikan para pengikut Imam Husein senantiasa siap berkorban dan mengabdi demi kebenaran mekipun harus mati syahid.

      Sore hari tanggal 9 Muharram, Umar bin Saad dengan membawa 4.000 orang pasukan pemanah dan penombak bergerak ke arah perkemahan Imam Husein. Pasukan berkuda semakin mendekat. Imam Husein memanggil Abbas, "Saudaraku tunggangilah kuda, dan majulah mengikuti pikiran dan nuranimu !".

Lalu, Abbas menunggangi kuda dan bersama 18 orang pengikutnya mendekati pasukan musuh. Abbas menuju ke arah Umar bin Saad, setelah dekat ia berkata, "Apa yang terjadi dengan kalian, apa tujuan kalian berbuat seperti ini ?".

Umar Bin Saad menjawab pertanyaan Abbas bahwa dirinya diutus oleh penguasa Kufah, Abdullah bin Ziyad untuk mengambil baiat dari Imam Husein. Umar bin saad berkata, "Patuh atas perintah ini atau berperang!".

Abbas kembali menuju Imam Husein, dan menyampaikan apa yang ditelah dikemukakan oleh Umar Bin Saad. Imam Husein berkata,"Kembalilah, dan katakan kepada mereka beri waktu hingga besok. Biarkan malam ini aku bersama Tuhanku, shalat dan membaca al-Quran, sebab al-Quran, doa dan istighfar adalah yang terbaik bagi kehidupan kita"

      Di sela-sela ini, Habib bin Mazahir, salah seorang sahabat setia Imam Husein mengambil kesempatan ini untuk menasehati Umar bin Saad dan pasukan musuh. Habib bin Mazahir mengenalkan siapa sebenarnya Imam Husein yang memiliki kedudukan tinggi sebagai Ahlul Bait Rasulullah Saw, dan penghulu Ahli Surga sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw. Nasehat ini disampaikan Habib bin Mazahir untuk menyadarkan Umar bin Saad dan pasukannya, sehingga di antara mereka ada yang tergerak hatinya untuk sadar dan berbalik menerima kebenaran yang dibawa Imam Husein. Tapi tidak ada seorangpun yang menyambut seruannya.Imam Husein menyampaikan faktor penyebab mengapa Umar bin saad dan pasukannya tidak mau menerima kebenaran.

      Dalam sebuah khutbahnya, yang disampaikan di hadapan musuh, Imam Husein berkata, "Perut dan kantung-kantung saku kalian telah dipenuhi dengan suap dan barang-barang haram. Oleh karena itu, hati nurani dan telinga kalian telah tertutup, dan tidak ada seorangpun yang bisa menyadarkan diri kalian".

      Tanggal 9 Muharam, malam hari tiba. Imam Husein dan orang-orang yang bersamanya tengah sibuk beribadah shalat, berdoa dan bermunajat. Di sisi lain,pasukan musuh bersiap-siap untuk melakukan kejahatan anti kemanusiaan terburuk yang dicatat dalam sejarah. Mereka tertawa dengan pikiran yang dipenuhi segala macam khayalan tentang upah yang akan diterima ketika menyerang Imam Husein dan pasukannya dari Yazid dan penguasa Kufah waktu itu.

     Apakah mereka tidak tahu siapa Husein? Apakah empat ribu orang pasukan itu tidak temasuk orang yang pernah menulis surat kepada Imam Husein? Bukankah sebagian dari mereka pernah bertemu dengan Nabi Muhammad Saw, dan mendengar langsung dari Rasulullah yang bersabda, 'Husein adalah penghulu surga' ?

Tapi, harta, tahta dan kebodohan telah menjadikan mereka buta dan tuli untuk menerima kebenaran.

      Malam itu, dari kemah Imam Husein dan pengikutnya yang terdengar hanya suara munajat dan doa. Mereka tahu, malam itu adalah malam terakhir. Di antara pasukan Imam Husein ada Abbas bin Ali yang meninggalkan kemah karena bertugas menjaga kemah dari serangan musuh. Sesekali Abbas datang ke kemah untuk menenangkan anak-anak yang terbangun karena kehausan. Pada malam hari Tasua, Imam Husain mengumpulkan pengikut setia dan keluarganya. Imam Husein menyampaikan pidato di hadapan mereka, "Bismillahi rahmani rahim. Ya Allah, hanya Engkau-lah yang paling layak disembah. Aku bersyukur atas segala karunia-Nya, baik suka maupun duka. Aku bersyukur karena Engkau telah mengutus Rasul-Mu, mengajarkan al-Quran yang memperkaya kesadaran dan pemahamanku, sehingga mata dan hati dan telinga dirahmati-Mu,

Imam Husein menatap satu persatu para pengikut dan keluarganya, lalu beliau berkata “Aku tidak mengenal keluarga dan penolong yang lebih baik daripada kalian, dan karena besok adalah hari perang, maka aku tidak dapat menjamin kalian, aku menarik baiat dari kalian, oleh karenanya aku mengizinkan jikalau kalian akan memilih jalanmu di kegelapan malam dan pergilah,”.

Tapi mendengar perkataan Imam Husein ini, sahabat dan keluarganyasecara bergantian satu per satu berdiri menyatakan kesetiaannya kepada beliau.Mereka menegaskan komitmennya kepada baiat yang telah diberikan kepada pemimpinnya itu. Orang pertama yang melakukan hal itu adalah Abbas bin Ali. Putra Ali bin Abi Thalib ini berkata, "Pemimpinku, demi Allah, bagaimana mungkin kami hidup, jika engkau tiada. Celakalah aku jika berpikir demikian. Tidak, kita akan selalu bersama. Tanpamu malam yang indah menjadi getir".

Perkataan Abbas membangkitkan spirit pengorbanan di tengah pengikut Imam Husein lainnya. Kemudian para pemuda Ahlulbait menyatakan dukungannya dan akan selalu menyertai Imam Husain. Ketika itu, Imam Husain menoleh ke arah putra-putra Aqil dan berucap, “Wahai putra-putra Aqil! Cukuplah pengorbanan kalian dengan kematian Muslim, karena itu pergilah kalian, Aku mengizinkan kalian untuk pergi.”

Namun mereka menjawab,“Demi Tuhan! Aku tidak akan melakukan hal itu. Jiwa, hartadan keluarga kami menjadi tebusan bagimu, dan kami akan berperang bersamamu.”Para sahabat Imam Husein berkata, “Puji Tuhan, kami dikaruniai anugerah untuk menolongmu dan syahadah menjadi kemuliaan kami bersamamu. Wahai putra Rasulullah Saw! Apakah Anda tidak rela jika kami juga bersama denganmu berada dalam satu derajat di surga?”.

      Imam Sajjad meriwayatkan bahwa setelah orasi dan mendengarkan jawaban penuh semangat tersebut, Imam Husain pun mendoakan mereka. Pengorbanan pengikut Imam Husein dan keluarganya di Karbala lahir dari kecintaan ilahi. Kesyahidan Imam Husein dan pengikutnya di Karbala menjadi sejarah yang abadi hingga kini, karena ditulis dengan cinta, pengabdian dan kesetiaan.

Minggu, 14 Desember 2014

Keajaiban yg Terjadi Setelah Imam Husein.as terbunuh

“Ketika Al-Husain as terbunuh, di sudut-sudut
langit terlihat warna-warna kemerahan. Warna
merah itu menandakan bahwa langit tengah
menangis. Sewaktu pasukan musuh membagi-
bagikan sejenis tumbuhan berwarna kuning milik
Al-Husain as, tumbuhan itu berubah menjadi
abu. Dan sewaktu mereka menyembelih seekor
unta yang dirampas dari kemah Al-Husain as,
mereka menemukan sejenis kayu di
dagingnya” (Maqtalu Al-Husain 2 hal. 90,
Tarikhu Al-Islam 2 hal. 348, Siyaru A’lami Al-
Nubala’ 3 hal. 311, Tafsir Ibnu Katsir 9 hal. 162,
Tahdzibu Al-Tahdzib 2 hal. 353, Tarikhu
Dimasyq 4 hal. 339, Al-Mahasinu wa Al-Masawi
hal. 62, Tarikhu Al-Khulafa’ hal. 80 dan Ihqaqu
Al-Haq 11 hal. 467-469).
“Kepala suci Al-Husain as. yang berada di ujung
tombak berbicara dengan membawakan ayat-
ayat suci Al-Quran dan lainnya” (Miftahu Al-Naja
fi Manaqib Aali Al-’Aba hal. 145, Al-Khashaishu
Al-Kubra 2 hal. 127, Al-Kawakibu Al-Durruiyyah
hal. 57, Is’afu Al-Raghibin hal. 218, Nuuru Al-
Abshar hal. 125, dan Ihqaqu Al-Haq 11 hal.
452-453).
“Pada hari Al-Husain as terbunuh, langit
meneteskan hujan darah sehingga semua orang
pada keesokan harinya mendapati apa yang
mereka miliki telah dipenuhi oleh darah. Darah
itu membekas pada baju-baju mereka beberapa
waktu lamanya, hingga akhirnya terkoyak-koyak.
Warna merah darah terlihat di langit pada hari
itu. Peristiwa tersebut hanya pernah terjadi saat
itu saja” (Maqtalu Al-Husain 2 hal. 89, Dzakhairu
Al-’Uqba hal. 144, 145 dan 150, Tarikh Dimasyq
-seperti yang disebutkan di muntakhab
(ringkasan)-nya- 4 hal. 339, Al-Shawaiqu Al-
Muhriqah hal. 116 dan 192, Al-Khashaishu Al-
Kubra hal. 126, Wasilatu Al-Maal hal. 197,
Yanabi’u Al-Mawaddah hal. 320 dan 356, Nuuru
Al-Abshar hal. 123, Al-Ithaf bi Hubbi Al-Asyraf
hal. 12, Tarikhu Al-Islam 2 hal 349, Tadzkiratu
Al-Khawash hal. 284, Nadzmu Durari Al-
Simthain hal. 220 dan Ihqaqu Al-Haq 11 hal.
458-462).
“Ketika kepala Al-Husain as dibawa ke istana
Ubaidillah bin Ziyad, orang ramai melihat
dinding-dinding mengalirkan darah
segar” (Dzakahiru Al-’Uqba hal. 144, Tarikhu
Dimasyq seperti yang disebutkan dalam
muntakhab-nya 4 hal. 339, Al-Shawaiqu Al-
Muhriqah hal. 192, Wasilatu Al-Maal hal. 197,
Yanabi’u Al-Mawaddah hal. 322, dan Ihqaqu Al-
Haq 11 hal. 463).
“Di dinding sebuah gereja tertulis: Apakah umat
yang membantai Al-Husain mengharapkan
syafaat kakeknya di hari kiamat. Ketika pendeta
yang berada di sana ditanya tentang tulisan
tersebut dan siapakah yang menulisnya, ia
menjawab, “Bait syair ini telah tertulis di sini
sejak lima ratus tahun sebelum nabi kalian
diutus.” (Tarikhu Al-Islam wa Al-Rijal hal. 386,
Al-Akhbaru Al-Thiwal hal. 109, Hayatu Al-
Hayawan 1 hal. 60, Nuuru Al-Abshar hal. 122,
Kifayatu Al-Thalib hal. 290 dan Ihqaqu Al-Haq
11 hal. 567-568.
“Seorang penduduk Najran saat menggali tanah
menemukan sebuah kepingan emas yang
bertuliskan: Apakah umat yang telah membantai
Al-Husain mengharapkan syafaat kakeknya di
hari kiamat” (Miftahu Al-Naja hal. 135, Ihqaqu
Al-Haq 11 hal. 566).
“Sebuah tembok merekah lalu muncullah sebuah
telapak tangan yang bertuliskan: Apakah umat
yang telah membantai Al-Husain mengharapkan
syafaat kakeknya di hari kiamat.” (Tarikhu Al-
Khamis 2 hal. 299 dan Ihqaqu Al-Haq 11 hal.
567). “Sesaat setelah Al-Husain as terbunuh,
warna langit menghitam pekat sekali. Lalu
bintang-bintang bermunculan di siang hari,
sampai-sampai bintang kembar terlihat di waktu
sore. Segumpal tanah berwarna merah jatuh dari
atas. Langit terlihat berwarna merah bagai darah
selama tujuh hari tujuh malam” (Tarikhu
Dimasyq 4 hal. 339 dan Al-Shawaiqu Al-
Muhriqah hal. 116).
Http://donhasan.blogspot.com/2014/10/sejumlah-keajaiban-setelah-imam-husain.html?m=1

Sabtu, 13 Desember 2014

Gelisah Asyura ku

Bulir keringat membasahi keningku, baru saja berlalu gema adzan di balik memerahnya langit yg biru. Aroma Jahe, Sereh dan Pandan berpadu dalam rebusan kopi di dalam panci. Gemerincing gelas-gelas mendarat di meja-meja besar menyambut para tamu. Ku bersihkan wajahku, ku reguk teduhnya air wudhu. Mungkinkah aku berdiri dalam sholat sambil mengetik..?
Beriring kalam-kalam suci yg di baca dalam bisik, juga asma-asma agung yg bertahta dalam sunyi. Mataku meraba tiap lembar kitab yg berdebu, menghempasnya dengan nafasku yg menggebu.

Saat Syair-syair duka di lantunkan,
Ku harap kelembutan luntur dalam butiran. Menangislah mataku, aku ingin sekali menangis.....

Sesekali ku serap nuansa berbeda dalam getar tubuh yg bernada, ku pejamkan mataku dalam-dalam seraya meneriakkannya di dalam dada. Aku malu, ketika berhadapan dengan keramaian. Aku sungkan ketika harus mengakrabkan diri dalam obrolan. Ku tarik semburat logika yg masih berantakkan di kepala, Bayangku masih melambung jauh. Menerawangi jalan mana yg harus ku tempuh. Di saat seperti ini, selalu saja tergumam dalam nurani. "Andai saja ada Guruku saat ini..." aku butuh arahannya.
Aku butuh tuntunannya. Namun terlampau jauh aku meninggalkannya, bahkan begitu besar aku mengecewakannya. Aku tahu, Beliau tak pernah menutup pintunya. Begitupun untuk aku, aku yg masih lugu dengan langkah yg ambigu. Sekiranya ada beliau disini, mungkin aku bisa lebih tenang. Bahkan jauh lebih relaks dari ini, membaca syair dan doa yg di lantunkan dan di panjatkan.

Syiah Is....?

Jika anda seorang Syiah, perhatikan yg dikatakan tentang anda. Jika bukan, maka perhatikan apa yg dikatakan tentang Syiah.

Raja Abdul Aziz pernah berkata, "Suriah tidak perlu pemuda lagi. Karena para pemuda Syiah ialah orang2 yg tegar."

Fidel Castro berkata, "Orang2 Prancis bodoh karena memerdekakan sebuah negara yg bangsanya penganut Syiah yg tidak pernah mengeluh & lemah."

Saddam berkata, "Setiap tetes darah orang2 Syiah melahirkan pejuang."

Kissinger berkata, "Tidak ada & tidak pernah ada yg paling berani & paling tegar dari pemuda Syiah."

Al-Hajjaj berkata, "Jangan tertipu dengan kesabaran mereka & meremehkan kekuatan mereka. Karena jika mereka bangkit dengan bantuan seorang pemuda, mereka tidak akan meninggalkanny dengan mahkota di atas kepalanya (penuhkebanggaan). Oleh karena itulah mereka akan menang.

Merekalah sebaik2 tentara di atas bumi. Oleh karena itu waspadalah dengan 3 hal yg mereka miliki:

1.Para wanita mereka. Jangan sakiti mereka, niscaya mereka akan memakan kalian sebagaimana singa melahap buruannya.

2. Negeri mereka. Negeri mereka akan memerangi kalian walau dengan gunung sebagai rudalnya.

3. Agama mereka. Mereka akan membakar dunia kalian.
Filosof Jepang berkata,. "Syiah terbang dengan dua sayap. Sayap masa lalu, Karbala, & sayap masa depan, revolusi Al-Mahdi. Bagaimana mungkin mereka dikalahkan?!

Sosok Imam Husein dalam Kaca Mata Dunia

Mahatma Gandhi:
''Kami Telah Banyak Belajar Dari Husein Bagaimana Ketika Menjadi Orang Yang Di Zalimi Tapi Mendapatkan Kemenangan''

Aldomoro:
''Revolusi Husein Adalah Secercah Cahaya Bagi Kelompok Tertindas Dan Menyelamatkan Mereka Dari Kesesatan Serta Mengokohkan Jiwa Mereka Untuk Menempuh Jalan Kebenaran''

Abraham Lincoln:
''Al-Qur'an Muhammad Dan Husein Adalah 3 Simbol Kesucian Yang Wajib Di Lihat Dengan Penuh Kesucian Pula Karena Pada Ketiganya Terdapat Contoh Idealisme Penghormatan Terhadap Hak Asasi Manusia''

Mao Tse Tung:
''Kalian Datang Mengambil Pelajaran Dari Kami Padahal Revolusi Husein Yang Memiliki Pelajaran Penuh Nilai Ada Pada Kalian''

Che Guevara:
''Kepada Seluruh Kaum Revolusioner Dunia Agar Mengikuti Revolusi Luar Biasa Yang Di Pimpin Husein Yang Agung Dan Melangkah Di Jalannya Untuk Menghentikan Para Penguasa Buruk Dan Menggulingkan Pangkal Kebusukannya''

Dalai Lama:
''Jika Agama Kami Memiliki 2 Pribadi Agung Seperti Ali Bin Abi Thalib Dan Putranya Husein Serta Nahj Al-Balagha Dan Peristiwa Karbala Pasti Tak Akan Tersisa Di Dunia Ini Kecuali Menjadi Pemeluk Budha''

Hitler:
"Wahai Pahlawan-Pahlawan Perang Contohlah Husein Manusia Yang Dengan Ketekunan Mampu Mengguncang Pilar-Pilar Kekuatan Dan Setelah Itu Mengirim Mereka Kedalam Jurang Kehancuran Dan Itu Semua Di Lakukan Oleh Kelompok Kecil Yang Memiliki Keteguhan Dan Penuh Nilai Kepahlawanan''

Jawaharlal Nehru:
"Dari Darah Husein Yang Tumpah Di Karbala Telah Tumbuh Pepohonan Yang Menaungi Kaum Tertindas Dalam Rangka Menuntut Hak-Hak Mereka Yang Terampas Dari Tangan Pecinta Singgasana Dan Kekuasaan''

Franklin Delano Roesevelt:
''Sekalipun Kita Berperang Dengan Kebuasan Dan Membunuh Dengan Rasa Permusuhan Yang Memuncak Maka Kita Belum Dapat Menandingi Kebuasan Dan Permusuhan Para Pembunuh Yang Membunuh Seorang Putra Dari Putri Nabi Islam''

Ho Chi Minh:
"Wahai Prajurit-Prajuritku Yang Gagah Berani Lihatlah Husein Seorang Pejuang Dari Timur Yang Telah Mengguncangkan Bumi Para Penguasa Zalim''

Jamaluddin Al-Afghani:
''Tidak Ada Seorang Muslimpun Kecuali Kecintaan Pada Husein Terukir Dalam Hatinya Sebuah Pribadi Yang Telah Mengorbankan Seluruh Yang Di Milikinya Untuk Mendapatkan Hak-Haknya Serta Melawan Kedurjanaan Yang Hendak Memadamkan Cahaya Jalan Muhammad''

Joseph Stallin:
''Perangilah Karbala Karena Selama Karbala Itu Masih Ada Maka Problem Itu Tak Pernah Hilang Sebab Dengan Keberadaannya Akan Keluar Para Pejuang Gagah Berani Dan Menyebar Di Seluruh Penjuru''

Mohammed Abduh:
''Peristiwa Yang Di Alami Imam Husein Adalah Sebuah Peristiwa Besar Yang Mengguncangkan Dunia Islam Hingga Hari Ini karena Ia Telah Meletakkan Fondasi Keadilan Dan Menuntut Di kembalikannya Hak-Hak Kaum Tertindas Yang Selama Ini Terampas''.

Mustafa Kemal Attaturk:
''Sesungguhnya Husein Adalah Seorang Pemimpin Yang Mengajarkan Bagi Kita Pelajaran Kesetiaan Dalam Kepahlawanan dan Kebebasan Serta Mempertahankan Harga Diri Jika Mampu Mengambil Itu Semua Darinya Maka Tak Pelak Lagi Kita Akan Dapat Mengalahkan Seluruh Musuh-Musuh Kita''

Nietzsche:
"Sesungguhnya Gerakan Revolusi yang Di Pimpin Oleh Husein Telah Menginspirasi Setiap Generasi Baru Dunia Untuk Mengikuti Prinsip Serta Pikirannya''