Tampilkan postingan dengan label Maha Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Maha Cinta. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Februari 2016

Gerbang Iman

Detak jam menyapa di tengah kebisuan,
Tercecer realita di sela kantuk yang melenakan...
Detik-detik makin berharga dalam perjalanan,
Menemui secercah cahaya di dalam tatanan perbaikan...

Malam di rajut nada pilu pengakuan dosa,
Terbesit harapan sebuah Keagungan yang mengampuni kita...

Lewat kunci-kunci Kemuliaan,
Lewat pintu-pintu Keselamatan...

Jasad membatasi kita lewat ruang,
Dan hijab melindungi kita atas hawa dingin yang menerjang...
Tapi kita senada dalam harapan,
Seirama dalam tangisan dan permohonan,
Juga sejalur dalam usaha dan pencapaian tujuan...

Langit memendam rahasia tentang jawaban,
Awan kelabu bisikan keberkahan lewat hujan...
Alam jadi saksi tentang kisah dan harapan dua insan,
Yang tersungkur di mihrab bertawasul penuh kecemasan...

Mengharap di limpahi pertolongan dari dunia yang melenakan,
Berusaha membunuh waktu yang terus berlalu penuh keraguan...
Nafas terasa makin berat menahan sesenggukan,
Retina makin sensitif di rangsang oleh kelembutan...
Tumpahlah airmata di antara semua kejujuran yang terucap,
Melelehlah hati di cairkan oleh kegelisahan yang tersingkap...

Kita coba berlindung dari tempaan panasnya dunia,
Menutup diri agar asa tak hangus di makan nafsu yang menjelma...

Serak suaramu mengeja namaku dalam doa,
Dan basah keringat tubuhku jadi saksi nyata tumpuan harapan kita...

Menjemput bahagia,
Menyusun pondasi-pondasi kesucian bagi jiwa-jiwa baru yang merdeka...
Kita merintangi dinamika bersama,
Menjunjung tinggi Kemuliaan dan Cinta,
Menghormati Rindu sampai terucap ikrar setia dalam ritual sakral yang sederhana...

Ridhwan Kulaniy, Depok.

Rabu, 17 Februari 2016

Hakimi Diri

Andai ini zaman Qais yang disebut Majnun,
Mungkin aku akan berlaku gila di tengah rumpun...
Sayangnya ini era modern yang penuh gengsi,
Membuat aku harus bergelut debu harta duniawi...

Seorang sufi yang kehilangan guru,
Meraba suluk tuk mencapai sumbu...
Sembunyikan harapan dan rindu,
Karena indahnya sering terbentur oleh kelabu...

Terhuyung menjejaki medan juang,
Berharap temukan pekerjaan tuk meraup uang...
Andalkan tubuh muda tuk melawan dunia,
Waktu berlalu tanpa bisa mengerti keadaannya...

Tanpa seperangkat perkakas kayu,
Atau mungkin kaca mata dan buku-buku tebal catatan ilmu...
Hanya seorang yang menggila tanya,
Dimana tempat ia bisa bernanung dari nestapa...

Lemah dirinya menggugat setiap problema,
Lambat langkahnya mengejar cita tuk menderma...
Terseok menyisir tanah yang becek dan kotor,
Berbekal pakaian lusuh yang kerahnya mulai molor...

Ingin ku tatap wajah malam sang Rembulan,
Tapi ku takut cahyanya pudar dalam lautan...
Ingin ku nikmati fajar di ufuk timur,
Namun aku kan terlihat dengan jari-jari kaki yang penuh jamur...

Rembulan dan Fajar tahu,
Bahkan Gemintang pun menguping kisah si pemuda pilu...
Cahaya itu hampir tiap hari melengkapi hari,
Tak ada terkecuali cela dan hinanya diri di temui...

Meringkuk di balik reruntuhan bangunan tak berpenghuni,
Siang masih memenjaraku dalam gemetarnya tubuh ini...
Tersungkur di tanah becek yang terus terhujani,
Aku memendam Cinta dengan ratapan pilu di tengah badai yang menghakimi...

Selasa, 16 Februari 2016

Penyair Lugu

Bertalu langkah arungi waktu,
Mengalun realita hapuskan semu...
Dinamika mengundang hati berlabuh,
Merekam elegi tentang jalan yg di tempuh...

Apalah daya penyair lugu,
Tangannya masih kaku mengukir dan ambigu...
Bertabur debu berlumur peluh,
Lama waktu tubuhnya tak terbasuh...

Oleh Air yg menyegarkan,
Oleh Air yg melegakan,
Oleh Air yg membersihkan,
Oleh Air yg mensucikan,
Dan oleh Air yg menghidupkan...

Ia bernafas sesenggukkan,
Seolah kepedihan tak lagi tertahan...
Ia berjalan terseok mengarungi rerumputan,
Nampaknya lemah dan rapuh tanpa pegangan...

Bukan...
Bukan itu...

Ia mendapatkan udara segar tiap hari,
Ia dapatkan air yang jernih di sungai-sungai,
Ia juga mereguk hikmah dari berbagai fenomena yang memuai...

Lalu...?
Lihat kaki dan tanganya yang rapuh,
Bibirnya yang bergetar angkuh...

Ia seorang penyair dengan suara yang lantang,
Tiap kata terlontar bak hunusan pedang yang menantang...
Apapun mampu ia uraikan,
Segala siap ia tumpahkan...

Sayangnya...
Ia tak buta,
Tapi terbata...
Ia tak tuli,
Tapi tak mendengar seruan hati...

Tentang relita yg di tuntut hidup ini,
Juga tentang pembuktian segala potensi diri...

Bertemu sungai namun enggan untuk mandi,
Menghirup udara tapi menolak untuk bersyukur lewat bakti,
Dan meraih hikmah akhirnya ia tak pernah menguji diri lewat abdi...

Mihrabnya tercemari oleh sepi...
Mihrabnya di kotori nafsu diri...
Mihrabnya kosong dari Cinta dan Kelembutan hati...

Penyair lugu...
Menghunus Pedang kepada lawan,
tak berperisai dalam peperangan...
Mengungkap tabir tentang kehidupan,
Tapi tak menyelami tiap-tiap jalan dari kecintaan...

Kamis, 04 Februari 2016

Bersama dalam Rindu

Sepenggal kisah berjalan syahdu,
Beriring realita pilu dan semu...
Hidup penuh dengan anugerah rindu,
Mendamba Kekasih menuangkan madu...

Jejak langkah kadang ambigu,
Isyaratkan labilnya asa ku...
Secercah harapan pun menguak pintu,
Gerbang hati terhentak nampakkan seluruh cela ku...

Menangis bersama di malam utama itu,
Hadapi serentet noda dunia warnai baju...
Menggugah makna alunan rindu,
Merajut asa dengan tegas dan lembut yang saling berpadu...

Berdiriku di hadapan segenap kesadaran yang membara,
Membakar tiap alasan dari keterbatasan diri yang di penuhi dusta...
Menghunus dialektika yang selama ini menghadang jiwa,
Temui cela, dusta, dosa dan nestapa,
Pastikan hati tentang diri yang pantas meraih cita...

Senada ku rengkuh tangan Kekasih,
Mendekapnya erat dalam suci,
Biarkan aliran darah ku mendobrak ironi...
Butir-butir keringat mencuat bersama doa luapan hati,
Airmata pun mengalir dalam derasnya penyesalan terhadap diri...

Beranjak di mulut hari,
Berbenah hati dan mantapkan langkah diri,
Meraih Restu bersama dalam Ridho Sang Ilaahi...

Sabtu, 30 Mei 2015

Mengetahui Batas

Tulisan ini bukan untuk menggurui, atau mungkin merasa paling memiliki eksistensi dan potensi. Ini hanya seruan kerinduan yang terungkap dari hati.

Kita memahami, bahwa kita adalah corak keberagaman. Kita adalah bentuk dari keajaiban dan kita adalah wujud dari berbagai perbedaan. Tak pernah ada yang secara riil menyatukan kita dalam berbagai aspek, kecuali setelah mengalami perdebatan, atau bahkan benturan yang akhirnya melahirkan satu perbedaan lagi. Beginilah kita...?

Mungkin kita ingin langsung menjawab pertanyaan ini, atau bahkan sambil membacanya gumam hati dan bibir kita menyimpan semua jawabnya.

Satu-satunya yang sama dari diri kita yang menyatukan kira adalah bahwa kita manusia. Manusia yang memiliki harapan, manusia yang memiliki impian, manusia yang memiliki tujuan. Dan setiap dari kita kembali memiliki harapan yang berbeda dan impian yang tak sama, mesku tujuannya bisa jadi serupa.

Terserah bagaimana menyebut tujuan itu apa, namun yang pasti. Tujuan bukanlah sebuah pencapaian yang kecil meski sederhana, bukan juga sebuah tujuan yang luarbiasa meski istimewa.

Kembali dalam analogi, jika dalam suatu negara setiap rakyatnya memiliki satu potensi yg sama (dalam hal ini militer, misal) juga memiliki kualitas yang sama, satu impian yang sama, sehingga seolah-olah tidak ada perbedaan di dalamnya. Lalu mungkinkah dengan semua kesamaan itu, negara tersebut dapat maju dan berkembang di dunia global pada saat ini. Tanpa adanya peran bidang perekonomian, dalam hal ini sandang dan pangan. Juga tanpa adanya peran bidang pendidikan, dalam hal ini ilmu pengatahuan, teknologi dan lingkungan hidup. Apakah bisa negara itu berkembang di dalam persaingan dunia global saat ini...?
Jawabannya sudah tentu sulit untuk di bayangkan, dan mustahil bisa tercapai.

Sampai disini, kita serahkan semua goresan pena elektronik ini kepada khalayak. Khususnya penafsiran dan pemahamanya pada diri kita sendiri. Karena mungkin ini hanya sekedar frasa tak bermakna di kalangan pemuda, meski besar harapan kita bahwa ada makna dan guna yang dapat di gali oleh manusia. Ada tujuan besar yang bisa sama-sama kita perjuangkan, kita raih dan kita tebarkan.

Penuh Cinta dan Harapan.
Ridhwan Endri Yapan (al-Kulani).