Tampilkan postingan dengan label Kemuliaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kemuliaan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Februari 2016

Gerbang Iman

Detak jam menyapa di tengah kebisuan,
Tercecer realita di sela kantuk yang melenakan...
Detik-detik makin berharga dalam perjalanan,
Menemui secercah cahaya di dalam tatanan perbaikan...

Malam di rajut nada pilu pengakuan dosa,
Terbesit harapan sebuah Keagungan yang mengampuni kita...

Lewat kunci-kunci Kemuliaan,
Lewat pintu-pintu Keselamatan...

Jasad membatasi kita lewat ruang,
Dan hijab melindungi kita atas hawa dingin yang menerjang...
Tapi kita senada dalam harapan,
Seirama dalam tangisan dan permohonan,
Juga sejalur dalam usaha dan pencapaian tujuan...

Langit memendam rahasia tentang jawaban,
Awan kelabu bisikan keberkahan lewat hujan...
Alam jadi saksi tentang kisah dan harapan dua insan,
Yang tersungkur di mihrab bertawasul penuh kecemasan...

Mengharap di limpahi pertolongan dari dunia yang melenakan,
Berusaha membunuh waktu yang terus berlalu penuh keraguan...
Nafas terasa makin berat menahan sesenggukan,
Retina makin sensitif di rangsang oleh kelembutan...
Tumpahlah airmata di antara semua kejujuran yang terucap,
Melelehlah hati di cairkan oleh kegelisahan yang tersingkap...

Kita coba berlindung dari tempaan panasnya dunia,
Menutup diri agar asa tak hangus di makan nafsu yang menjelma...

Serak suaramu mengeja namaku dalam doa,
Dan basah keringat tubuhku jadi saksi nyata tumpuan harapan kita...

Menjemput bahagia,
Menyusun pondasi-pondasi kesucian bagi jiwa-jiwa baru yang merdeka...
Kita merintangi dinamika bersama,
Menjunjung tinggi Kemuliaan dan Cinta,
Menghormati Rindu sampai terucap ikrar setia dalam ritual sakral yang sederhana...

Ridhwan Kulaniy, Depok.

Minggu, 14 Desember 2014

Keajaiban yg Terjadi Setelah Imam Husein.as terbunuh

“Ketika Al-Husain as terbunuh, di sudut-sudut
langit terlihat warna-warna kemerahan. Warna
merah itu menandakan bahwa langit tengah
menangis. Sewaktu pasukan musuh membagi-
bagikan sejenis tumbuhan berwarna kuning milik
Al-Husain as, tumbuhan itu berubah menjadi
abu. Dan sewaktu mereka menyembelih seekor
unta yang dirampas dari kemah Al-Husain as,
mereka menemukan sejenis kayu di
dagingnya” (Maqtalu Al-Husain 2 hal. 90,
Tarikhu Al-Islam 2 hal. 348, Siyaru A’lami Al-
Nubala’ 3 hal. 311, Tafsir Ibnu Katsir 9 hal. 162,
Tahdzibu Al-Tahdzib 2 hal. 353, Tarikhu
Dimasyq 4 hal. 339, Al-Mahasinu wa Al-Masawi
hal. 62, Tarikhu Al-Khulafa’ hal. 80 dan Ihqaqu
Al-Haq 11 hal. 467-469).
“Kepala suci Al-Husain as. yang berada di ujung
tombak berbicara dengan membawakan ayat-
ayat suci Al-Quran dan lainnya” (Miftahu Al-Naja
fi Manaqib Aali Al-’Aba hal. 145, Al-Khashaishu
Al-Kubra 2 hal. 127, Al-Kawakibu Al-Durruiyyah
hal. 57, Is’afu Al-Raghibin hal. 218, Nuuru Al-
Abshar hal. 125, dan Ihqaqu Al-Haq 11 hal.
452-453).
“Pada hari Al-Husain as terbunuh, langit
meneteskan hujan darah sehingga semua orang
pada keesokan harinya mendapati apa yang
mereka miliki telah dipenuhi oleh darah. Darah
itu membekas pada baju-baju mereka beberapa
waktu lamanya, hingga akhirnya terkoyak-koyak.
Warna merah darah terlihat di langit pada hari
itu. Peristiwa tersebut hanya pernah terjadi saat
itu saja” (Maqtalu Al-Husain 2 hal. 89, Dzakhairu
Al-’Uqba hal. 144, 145 dan 150, Tarikh Dimasyq
-seperti yang disebutkan di muntakhab
(ringkasan)-nya- 4 hal. 339, Al-Shawaiqu Al-
Muhriqah hal. 116 dan 192, Al-Khashaishu Al-
Kubra hal. 126, Wasilatu Al-Maal hal. 197,
Yanabi’u Al-Mawaddah hal. 320 dan 356, Nuuru
Al-Abshar hal. 123, Al-Ithaf bi Hubbi Al-Asyraf
hal. 12, Tarikhu Al-Islam 2 hal 349, Tadzkiratu
Al-Khawash hal. 284, Nadzmu Durari Al-
Simthain hal. 220 dan Ihqaqu Al-Haq 11 hal.
458-462).
“Ketika kepala Al-Husain as dibawa ke istana
Ubaidillah bin Ziyad, orang ramai melihat
dinding-dinding mengalirkan darah
segar” (Dzakahiru Al-’Uqba hal. 144, Tarikhu
Dimasyq seperti yang disebutkan dalam
muntakhab-nya 4 hal. 339, Al-Shawaiqu Al-
Muhriqah hal. 192, Wasilatu Al-Maal hal. 197,
Yanabi’u Al-Mawaddah hal. 322, dan Ihqaqu Al-
Haq 11 hal. 463).
“Di dinding sebuah gereja tertulis: Apakah umat
yang membantai Al-Husain mengharapkan
syafaat kakeknya di hari kiamat. Ketika pendeta
yang berada di sana ditanya tentang tulisan
tersebut dan siapakah yang menulisnya, ia
menjawab, “Bait syair ini telah tertulis di sini
sejak lima ratus tahun sebelum nabi kalian
diutus.” (Tarikhu Al-Islam wa Al-Rijal hal. 386,
Al-Akhbaru Al-Thiwal hal. 109, Hayatu Al-
Hayawan 1 hal. 60, Nuuru Al-Abshar hal. 122,
Kifayatu Al-Thalib hal. 290 dan Ihqaqu Al-Haq
11 hal. 567-568.
“Seorang penduduk Najran saat menggali tanah
menemukan sebuah kepingan emas yang
bertuliskan: Apakah umat yang telah membantai
Al-Husain mengharapkan syafaat kakeknya di
hari kiamat” (Miftahu Al-Naja hal. 135, Ihqaqu
Al-Haq 11 hal. 566).
“Sebuah tembok merekah lalu muncullah sebuah
telapak tangan yang bertuliskan: Apakah umat
yang telah membantai Al-Husain mengharapkan
syafaat kakeknya di hari kiamat.” (Tarikhu Al-
Khamis 2 hal. 299 dan Ihqaqu Al-Haq 11 hal.
567). “Sesaat setelah Al-Husain as terbunuh,
warna langit menghitam pekat sekali. Lalu
bintang-bintang bermunculan di siang hari,
sampai-sampai bintang kembar terlihat di waktu
sore. Segumpal tanah berwarna merah jatuh dari
atas. Langit terlihat berwarna merah bagai darah
selama tujuh hari tujuh malam” (Tarikhu
Dimasyq 4 hal. 339 dan Al-Shawaiqu Al-
Muhriqah hal. 116).
Http://donhasan.blogspot.com/2014/10/sejumlah-keajaiban-setelah-imam-husain.html?m=1

Sabtu, 13 Desember 2014

Tuhan Istimewa

Di pekatnya malam tadi,
Aku mengadu tentang cacatnya imaji.....
Lemah hati hadapi tempaan yg bertubi,
Aku lunglai di atas sajadah yg ku bentangi.....
Bukan tanpa alasan,
Meski Dia lebih tahu apa yg harus aku lakukan.....
Namun dalam keterbatasan makhluk,
Aku yg bimbang dan ambigu memilih untuk duduk dan tunduk.....
Bercecer peluhku merintih dan meminta,
Tak bisa ku paksa menetesnya airmata.....

Tiadalah sandaran paling nyaman kecuali persahabatan,
Tiadalah kehangatan yg mendalam kecuali persaudaraan.....
Nafas ku berangsur tenang,
Resah pun mencair dan tergenang.....
Apalah yg ku ketahui,
Sementara pandangan mata seringkali di kelabuhi.....
Sungguh nestapa di jawab malam yg mulia,
Seolah jawaban tertumpah setelah bibirku kering membaca doa.....

Dengan jalan istimewa,
Lewat cara yg berbeda.....
"Subhanallah..."
Rintihku menyadari segala nista dari jiwa yg hina.....
Betapa Tuhan selalu punya estetika yg mempesona,
Tak mampu di terka, di capai, apalagi sampai di prediksi dalam logika.....
Sesudahnya hanya pujian yg ku lantunkan,
Hanya ampunan yg ku mohonkan.....
Ku pahami kearifan selalu terbuka dalam ruang,
Meski seringkali ego menyeruak dan jadi penghalang.....

Selanjutnya adalah bagaimana aku bersyukur,
Berjuang sepenuh tenaga,
Jgn buat harapan terkontaminasi lalu hancur.....

Duduk di Peraduan

Di serbu ketenangan malam ini,
di bawa ku tenggelam dalam Istikharah yg penuh imaji.....
Rasanya tak ada waktu lagi utk menunda,
berhentilah naluri dari getar dunia yg menggoda .....

Ku terduduk di bawah temaram lampu ruang sepi,
menyapa malakut tuk mengungkap dimensi yg tak bertepi.....

Merdu.....
Syahdu.....
Mengajak ku semakin dalam,
curahkan cinta yg terpendam,
pancarkan harapan yg terekam.....

Sore hari menjadi begitu hampa,
Siang dan malam nyanyian ku hanyalah harapan dan doa.....

Ijabah merekam retina,
Kesungguhan berkilau oleh bias cahaya bola mata.....

Cinta tak menghadirkan gundah,
Cinta tak membuat gelisah.....

Karena Cinta penuh kepastian,
dan Cinta adalah Luapan harapan dan Keyakinan.....

Di Mihrab ku Pasrahkan,
memohon ku lakukan, mengemis pun ku lakukan.....

Aku butuhkan Cahaya yg membuka kebodohan,
mengusir kegelisahan dan menghapus semua keresahan.....

Aku butuhkan Sentuhan,
Sentuhan yg menyadarkan ku dari keterpurukan,
menunjukkan aku jalan utk pulang dalam pelukan.....

Menjalani Cinta yg Murni di peraduan.....

Ooh Tuanku,
Pelipur Lara.....
Penghapus dosa dan nista.....
Penolong dalam duka dan nestapa.....
Pengobat rindu di kala hati membeku.....

Terimalah aku yg tersungkur di teras-Mu.....
Izinkan aku masuk dalam Naungan Rumah Cinta yg Mulia.....