Di pekatnya malam tadi,
Aku mengadu tentang cacatnya imaji.....
Lemah hati hadapi tempaan yg bertubi,
Aku lunglai di atas sajadah yg ku bentangi.....
Bukan tanpa alasan,
Meski Dia lebih tahu apa yg harus aku lakukan.....
Namun dalam keterbatasan makhluk,
Aku yg bimbang dan ambigu memilih untuk duduk dan tunduk.....
Bercecer peluhku merintih dan meminta,
Tak bisa ku paksa menetesnya airmata.....
Tiadalah sandaran paling nyaman kecuali persahabatan,
Tiadalah kehangatan yg mendalam kecuali persaudaraan.....
Nafas ku berangsur tenang,
Resah pun mencair dan tergenang.....
Apalah yg ku ketahui,
Sementara pandangan mata seringkali di kelabuhi.....
Sungguh nestapa di jawab malam yg mulia,
Seolah jawaban tertumpah setelah bibirku kering membaca doa.....
Dengan jalan istimewa,
Lewat cara yg berbeda.....
"Subhanallah..."
Rintihku menyadari segala nista dari jiwa yg hina.....
Betapa Tuhan selalu punya estetika yg mempesona,
Tak mampu di terka, di capai, apalagi sampai di prediksi dalam logika.....
Sesudahnya hanya pujian yg ku lantunkan,
Hanya ampunan yg ku mohonkan.....
Ku pahami kearifan selalu terbuka dalam ruang,
Meski seringkali ego menyeruak dan jadi penghalang.....
Selanjutnya adalah bagaimana aku bersyukur,
Berjuang sepenuh tenaga,
Jgn buat harapan terkontaminasi lalu hancur.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar