Hujan turunlah,
Aku ingin menari bersama deraimu.....
Angin jamahlah jiwaku,
Bersyair dalam deruanmu yg ku rindu.....
Hendaknya sambutlah deruannya dengan keceriaan,
Berteriaklah bebas seperti gemuruh petir yg saling bersahutan.....
Lembut bulir hujan sapa kulit yg usang,
Sejuk angin sore menyapa daratan yg lama gersang.....
Setelah airnya lepas tak mengelayut di langit,
Mendadak sepi akan mengundang imaji untuk bangkit dan merakit.....
Menyusun bingkai alibi,
Menata Doa dan harapan di ujung menggigil tubuh ini.....
Hebat.....
Sensasinya menyentuh nadi,
Hingga ruhku terasa begitu tenang dalam harmoni.....
Lihatlah.....
Ia datang tanpa syarat,
Pergi pun tanpa banyak alasan yg terucap.....
Di balik keberkahan yg tercurah,
Ku sisakan semangat yg memerah.....
Ada dan tiadanya jalan dalam permasalahan,
Hanyalah persoalan ketangkasan dalam menciptakan perubahan.....
Kali ini,
Di hadapan semua keadaan dan kondisi yg merintangi.....
Aku berdiri menantang semua opini,
Bersiap tuk hadapi hari,
Meski kemustahilan seringkali meragui.....
Pemuda dalam Bingkai Dunia adalah ujung tombak perubahan dan pergerakkan. Bukan dengan membanggakan status aktivis, akademis dan borjuis, tapi lebih menerapkan prinsip Sosialis yang berjuang mencapai cita-cita Revolusionis.
Sabtu, 13 Desember 2014
Hujan Turunlah
Saya seorang pelajar Sejarah peradaban, meski tidak menjadi seorang Mahasiswa di Fakultas. Saya pernah beberapa kali di anggap sebagai seorang Sarjana karena luasnya Pengetahuan dan Kecerdasan saya dalam berdialog.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar