Detak jam menyapa di tengah kebisuan,
Tercecer realita di sela kantuk yang melenakan...
Detik-detik makin berharga dalam perjalanan,
Menemui secercah cahaya di dalam tatanan perbaikan...
Malam di rajut nada pilu pengakuan dosa,
Terbesit harapan sebuah Keagungan yang mengampuni kita...
Lewat kunci-kunci Kemuliaan,
Lewat pintu-pintu Keselamatan...
Jasad membatasi kita lewat ruang,
Dan hijab melindungi kita atas hawa dingin yang menerjang...
Tapi kita senada dalam harapan,
Seirama dalam tangisan dan permohonan,
Juga sejalur dalam usaha dan pencapaian tujuan...
Langit memendam rahasia tentang jawaban,
Awan kelabu bisikan keberkahan lewat hujan...
Alam jadi saksi tentang kisah dan harapan dua insan,
Yang tersungkur di mihrab bertawasul penuh kecemasan...
Mengharap di limpahi pertolongan dari dunia yang melenakan,
Berusaha membunuh waktu yang terus berlalu penuh keraguan...
Nafas terasa makin berat menahan sesenggukan,
Retina makin sensitif di rangsang oleh kelembutan...
Tumpahlah airmata di antara semua kejujuran yang terucap,
Melelehlah hati di cairkan oleh kegelisahan yang tersingkap...
Kita coba berlindung dari tempaan panasnya dunia,
Menutup diri agar asa tak hangus di makan nafsu yang menjelma...
Serak suaramu mengeja namaku dalam doa,
Dan basah keringat tubuhku jadi saksi nyata tumpuan harapan kita...
Menjemput bahagia,
Menyusun pondasi-pondasi kesucian bagi jiwa-jiwa baru yang merdeka...
Kita merintangi dinamika bersama,
Menjunjung tinggi Kemuliaan dan Cinta,
Menghormati Rindu sampai terucap ikrar setia dalam ritual sakral yang sederhana...
Ridhwan Kulaniy, Depok.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar