Tampilkan postingan dengan label Psiko. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psiko. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Juni 2015

Nyanyian Malam

Apa yg tersisa di sepanjang jalan,
Ketika sepi berhembus temani kesepian.....
Bernyanyi dalam sunyi dan menyendiri.....

Apa yg bisa di lupakan,
Ketika semua berlandas pada harapan dan impian.....
Sementara imaji terendap di dasar hati.....

Apa yg patut di tinggalkan,
Ketika yg di harapkan hanya ketulusan.....
Ku kira Cinta telah membuat kita mengerti dan saling mengasihi.....

Tanya masih bersusun laksana ombak yg berderu,
Menginterogasi setiap alibi yg mencuat jadi ambigu.....
Selaksa realita tak mampu di sela,
Apalagi di hapus tuk menutupi fakta.....
Beginilah adanya,
Dimana kejadian tak bisa di terka.....
Dinamika selalu mengiringi setiap langkah kaki,
Halangan dan rintangan pun menjadi sesuatu yg mesti di hadapi.....
Di terima,
Dan di jalani.....

Lalu aku berlanjut menyelami kegelapan malam.....

Dalam keheningan yg ciptakan rentetan tuntutan dan keharusan,
Ku tuai jawaban dari surutnya kepastian.....
Tindakkan,
Kesusah payahan,
Dan sekelumit permasalahan yg mesti di selesaikan.....
Ini tentang tanggung jawab dalam kehidupan,
Dimana diam tak berarti bungkam.....
Dimana mengeluh bukan karena kelemahan,
Tetapi karena ingin dapatkan perhatian.....

Salahkah aku....?
Jika kisah di masa lalu yg kini membuatku merasa haus,
Haus akan perhatian dan pengertian yg khusus.....
Mungkin luput dari pandanganmu,
Atau bahkan tak sampai dalam imajimu.....
Karena kamu memiliki kebebasanmu sepenuhnya,
Meski pernah hampir kamu kehilangannya.....

Tapi aku....?
Huuhh.....
Rasanya tak ingin ku buka luka lama,
Namun perih dan cacatnya masih tersisa.....
Membekas di sanubari,
Menggores di lubuk nurani.....

Ini bukan luka hati yg tragis,
Tapi tekanan jiwa yg guncangkan psikologis.....

Rasanya mataku mulai perih dan berair,
Menelusuri lembaran kertas dan mata tinta yg bergulir.....
Sesal tak pernah terasa lagi,
Sesak di dada menepi dan bersembunyi.....
Bagaimana caraku lewati semua ini,
Adalah rahasia malam yg bernyanyi dalam sunyi.....
Dalam larutnya pekat malam,
Dan siksaan Insomnia yg seolah menghujam.....

Mata dan otakku.....
Kembali beralibi dalam Imaji.....

Oktober 2014

Sabtu, 30 Mei 2015

Mengenali Batas

Nampaknya setiap dari kita sudah jauh berjalan, melaju, meluncur bahkan sedemikian hebatnya kita berkembang melampaui potensi diri kita yg dahulu kita kenal sebagai seorang yg sama-sama belajar menjadi petualang. Menjelajahi mahligai hayati yg begitu kompleks dengan berbagai pemikiran(analisa dan pengamatan non-formal), perenungan atau yg sering kita sebut dengan pengkajian.

Betapa dahulu kita selalu bergelut dgn dinamika emosional yg terjadi lantaran sedikit sentuhan dari satu sama lain yg menimbulkan efek denyut di kepala, ya..! Terlepas dalam topik apapun itu, kita pernah mengalami dan melaluinya. Dan beginilah kita.

Analoginya seperti sebuah lintasan hutan yg sering di pijak oleh kaki para pendaki untuk dapat mencapai puncak. Semakin sering siklus lalu lalang, maka semakin jelas jejak-jejak yg tertinggal. Bahkan secara tidak sadar langkah para pendaki itu menciptakan batas-batas antara jalur menuju puncak dengan sedemikian luas membentang hamparan hutan, aliran sungai, deruan air terjun, curamnya jurang, gelapnya gua dan sunyinya lembah sepi yg penuh misteri. Kita terhanyut dalam langkah dan jejak-jejak tersebut hingga kita hanya terpaku pada satu ruang pandang, bahwa puncak adalah keindahan sejati.

Mungkin sebagian dari kita tidak menyadari ini, namun harusnya dalam setiap perjalanan kita selalu dapat meraih pelajaran yg tersingkap di dalamnya. Ya, begitu bersemangatnya kita dan tenggelam dalam khayalan betapa indahnya pemandang sejati di puncak tertinggi. Terlepas dari berbagai motivasi dan inovasi apapun yg berada di dalam hasrat dan naluri pencapaian itu. Aku hendak bertanya kepada kita, kepada diri-diri kami, kepada jiwa muda-mudi, kepada setiap hati yg juga berusaha menjawab panggilan diri untuk mengenali eksistensi diri.

Apa yg terlihat dari atas sana....?

Penuh Cinta dan Harapan.
Ridhwan Endri Yapan (al-Kulani).

Mengetahui Batas

Tulisan ini bukan untuk menggurui, atau mungkin merasa paling memiliki eksistensi dan potensi. Ini hanya seruan kerinduan yang terungkap dari hati.

Kita memahami, bahwa kita adalah corak keberagaman. Kita adalah bentuk dari keajaiban dan kita adalah wujud dari berbagai perbedaan. Tak pernah ada yang secara riil menyatukan kita dalam berbagai aspek, kecuali setelah mengalami perdebatan, atau bahkan benturan yang akhirnya melahirkan satu perbedaan lagi. Beginilah kita...?

Mungkin kita ingin langsung menjawab pertanyaan ini, atau bahkan sambil membacanya gumam hati dan bibir kita menyimpan semua jawabnya.

Satu-satunya yang sama dari diri kita yang menyatukan kira adalah bahwa kita manusia. Manusia yang memiliki harapan, manusia yang memiliki impian, manusia yang memiliki tujuan. Dan setiap dari kita kembali memiliki harapan yang berbeda dan impian yang tak sama, mesku tujuannya bisa jadi serupa.

Terserah bagaimana menyebut tujuan itu apa, namun yang pasti. Tujuan bukanlah sebuah pencapaian yang kecil meski sederhana, bukan juga sebuah tujuan yang luarbiasa meski istimewa.

Kembali dalam analogi, jika dalam suatu negara setiap rakyatnya memiliki satu potensi yg sama (dalam hal ini militer, misal) juga memiliki kualitas yang sama, satu impian yang sama, sehingga seolah-olah tidak ada perbedaan di dalamnya. Lalu mungkinkah dengan semua kesamaan itu, negara tersebut dapat maju dan berkembang di dunia global pada saat ini. Tanpa adanya peran bidang perekonomian, dalam hal ini sandang dan pangan. Juga tanpa adanya peran bidang pendidikan, dalam hal ini ilmu pengatahuan, teknologi dan lingkungan hidup. Apakah bisa negara itu berkembang di dalam persaingan dunia global saat ini...?
Jawabannya sudah tentu sulit untuk di bayangkan, dan mustahil bisa tercapai.

Sampai disini, kita serahkan semua goresan pena elektronik ini kepada khalayak. Khususnya penafsiran dan pemahamanya pada diri kita sendiri. Karena mungkin ini hanya sekedar frasa tak bermakna di kalangan pemuda, meski besar harapan kita bahwa ada makna dan guna yang dapat di gali oleh manusia. Ada tujuan besar yang bisa sama-sama kita perjuangkan, kita raih dan kita tebarkan.

Penuh Cinta dan Harapan.
Ridhwan Endri Yapan (al-Kulani).