Beriring dengan datangnya kegelisahan ku tentang dirimu. Aku mulai menjalani rencana pembenahan diri, mulai dari merapihkan kamarku. Ya! Kata teman-teman, "Begini ya kamar orang kreatif??"
Dari situ aku menyadari lagi betapa pentingnya memperbaiki diri untuk meraih sesuatu yang kita impikan. Baik itu karir, persahabatan, hubungan masyarakat, kekeluargaan yang erat, juga masalah percintaan.
Malam ini aku tertegun, memulai aktivitas sebelum tidur dengan renungan. Dimana sering aku berharap, bahwa suatu hari nanti akan melalui renungan dan evaluasi ini bersamamu. Itu pasti menyenangkan...?!
Ku petakan kotak-kotak berbagai problema, melintang dan membujur. Ya! Peta Problema yg tengah ku hadapi, dimana nalarku yg menjadi penanya dan langkahku adalah aplikasi dari kompas yg harus di tembak. Koreksi sana-sini, rombak ini dan itu. Betapa hidupku rumit untuk di gambarkan, seperti tiap serabut topografi yg menyajikan penjelasan penuh cabang dan ambiguitas. Namun, perjalanannya seringkali tak serumit apa yg terlihat dan kurasa.
Karena aku percaya tak ada hal rumit yg mustahil di selesaikan, apapun itu. Beberapa temanku selalu berkata, "Gak ada ujungnya kalo bahas Politik." Meski sebenarnya Politik tak serumit itu, Justru pola fikir manusia yg enggan berfikir dan bernalar lah yg membuatnya rumit.
Atau seperti Filsafat yg di pandang sebelah mata oleh kaum pandir, "Filsafat itu ribet, bikin stres. Kalo gak kuat bisa gila!" Nah loh?! Hebat banget dong, orang gila adalah tanda seorang menjadi ahli filsafat...? Sebenarnya gak begitu bukan...??
Kembali kepada kamu, ya! Kamu...!
Kamu itu loh, yg suka pake seragam cokelat.
Sebenarnya kamu itu jauh lebih rumit dari Politik, dan jauh lebih musingin dari Filsafat. Tau gak kenapa....?
Ya itulah kamu. Di tegur "huhh..", jawabnya "heeh..". Di tanyain soal rencana kita bulan oktober itu gimana, malah di anggurin...? Duh, padahal aku lebih suka rujak. Kenapa gak di rujakin aja??
Terlepas dari kesibukkan mu di dunia nyata, tanyaku mulai ambigu menyertai statusmu. Yg melulu tentang penantian, tentang dia yg beruntung meraih perhatianmu.
Sudahlah, aku kan hanya satu dari sekian teman mayamu yg mungkin berniat jahat. Menjahatimu dgn mencuri foto-fotomu dari album upload di sosmed. Silahkan pilih, mau di santet atau di pelet. :p
Hahaha..!! Aku tak segila itu, karena aku bukan ahli filsafat yg di katakan kaum pandir itu.
Sekuat apapun usahaku hari ini untuk memperbaiki diri, adalah upaya untuk menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya untuk dan berdasarkan diri sendiri. Bukan untuk kamu...? Kamu itu Ibarat Puncak Gunung dalam sebuah pendakian. Karena dalam prinsipku, Puncak adalah bonus. Begitu juga dengan kamu.
Intinya adalah proses pembenahan diri yg aku jalani, kamu lah yg menjadi titik pengalihan fokusku. Karena manusia selalu terjebak dalam ruang kausalitas, maka dari itu kamu dan pembenahan diri ini menjadi sebuah titik temu yg cukup serasi.
Kopi...?! Kamu tak suka kopi? Maaf...!
pelet aja tapi jangan lupa gunakan pelet ikan berkualitas
BalasHapusohh lu komentar, gue baru engeh... hehehehe
Hapusapa kabar...?,