Jumat, 07 Agustus 2015

Syair Dusta

Aku menyusun frasa untuk memukau semua dialektika, yaa!
Ku buat penuh hikmah dalam makna,
Meski nyatanya aku ini dilema...

Menyelam ke lautan bebas,
Gali tiap pengetahuan tanpa batas...
Bentangkan analisa dengan tangkas,
Meraup ibrah dari setiap problema yg ku retas...
Aku seolah bersembunyi dari kenyataan,
Dengan berbagai ucapan yg ku lontarkan...
Dialektika panjang menebarkan alasan,
Semakin menutupi serentet permasalahan yg ku rasa sengaja ku lupakan...

Dusta.....
Ku rasa aku tengah berdusta,
Menipu diriku sendiri dengan seutas cita...
Yg nyatanya bukan mengantarkan aku pada tahta,
Namun malah menyusun skenario untuk menjatuhkan diri sendiri dengan dusta...
Bernaung dalam perjalanan panjang ini,
Memang membangun utamanya satu hal yg pasti...

Bagaimana tidak,
Aku tak mungkin mengelak...

Kesadaran itu layaknya rumput di pinggir pesawahan,
Tumbuh subur seiring bulir padi berjatuhan...
Seperti halnya hujan dan basah,
Keniscayaan ini membuatku terperangah...
Tertunduk dan bungkam tanpa rasa,
Pejamkan mata tuk akui segala nista...

Tak ada air mata,
Seolah mata ini curiga hati sedang berdusta...
Dosa tak lagi menjadi tanya,
Bahkan tak khawatir akan datangnya siksa...
Bukan karena aku tak percaya pada semua,
Melainkan aku terjebak dalam dilema...

Betapa aku ingin mengatakan pada diriku sendiri,
Celakalah kau dengan kedustaan ini...

Musibah menjadi hal pasti dalam khayal,
Bencana akan menimpa tak henti oleh sesal...

Hancurlah aku...
Musnahlah aku...
Dan sirnalah perjalananku...

Jangan anggap ini sebuah pengakuan yg mengharukan,
Penyair ini akan celaka tanpa iman...
Bisa jadi ini bagian dari cara menarik simpati,
Maka pantaslah aku mendapat caci dan maki...

Lemparilah aku dengan teguran,
Karena itu mungkin menyegarkan...
Hantam aku dengan kritikan,
Semoga hatiku terbentur lalu hancur berceceran...

Jika sampai di satu masa dan aku masih berdiri di jurang kelam ini,
Maka lucuti jiwaku dengan kejujuran yg murni...
Hukum aku.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar