Berfikir adalah hal paling menyenangkan. Kenapa...? Karena Gratis tentunya, dan kita gak perlu ngambil alat bantu atau peralatan untuk berfikir.
Kita cuma harus membuka cakrawala pemikiran (sudut), memperluas pemahaman (sisi)dan mempertajam pertimbangan (segi).
Itu semua, sudah jadi satu paket dalam akal manusia. Ibarat lampu pararel yg kilaunya warna-warni, kita cukup klik satu saklar untuk hidupin semuanya. Dan mereka semua akan menari penuh kerlap-kerlip secara otomatis.
Indah kan...?
Gimana coba kalo akal kita ini berfikir tanpa tiga hal tersebut (monoton)....?
Kita akan merasa asing dengan pemikiran-pemikiran oranglain, bahkan cenderung anti (menolak) terhadap hal-hal yang berada di luar nalar dan pemikiran kita sendiri.
Yang timbul setelah itu adalah rasa was-was, dari ketidak nyamanan kita terhadap kehadiran warna pemikiran lain tersebut. Yang mengakibatkan kita sibuk untuk menjauhkan diri hingga mencari cara untuk memusnahkan warna pemikiran tersebut.
Gak kebayang kalo seandainya semua orang anti dengan pemikiran oranglainnya...?? Bisa-bisa saban hari bakal ada pertumpahan darah, akan terjadi pembunuhan besar-besar, bahkan setiap orang cuma akan sibuk dengan memerangi orang lain (lihat kan komplotan ISIS dan Rombongan Teror al-Qaeda, dll yang di biayai Wahabi Saudi...?)
Ini disebut Fanatisme, yang akibatnya melahirkan berbagai sikap yang ekstrim dan primitif terhadap hal-hal yang berada di luar dirinya (pemikiran).
Sebaiknya kita berhati-hati dan lebih terbuka ketika ada sebuah perbedaan cara berfikir yang datang dari oranglain. Kenali lebih jauh dan ketahui lebih dalam. Karena menurut Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib.Kwh, "Fantisme berasal dari Kebodohan."
Jadi untuk menghindar dari sikap fanatis tersebut, sudah jelas kita di haruskan memiliki kecerdasan, pengetahuan yang luas dan juga pemikiran yang bijak dalam menyikapi perbedaan.
Lebih jauh Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib.Kwh berkata, "Sungguh! Tidak akan ada perpecahan dan perselisihan, jika Orang-orang bodoh diam."
Perkataan tersebut senada dengan Hadits Rasulullah.Saw, "Berkatalah dengan perkataan yang baik. Atau Diam" (Kira-kira seperti itu Redaksinya, saya agak lupa).
Perkataan yang buruk akan menimbulkan perpecahan, perselisihan bahkan konflik. Jadi, dari pada berbicara lantas menghasilkan perselisihan. Maka lebih baik diam dan membangun persatuan. Karena Rasulullah.Saw bersabda, "Sesungguhnya semua Muslim itu bersaudara, barangsiapa membunuh seorang Muslim maka (seolah-olah) ia telah membunuh Muslim seluruhnya."
Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib.Kwh pun berkata mengenai Persatuan dan Persaudaraan, "Mereka yang bukan saudaramu dalam Iman, adalah saudaramu dalam Kemanusiaan." (Ada redaksi lain yang menyatakan bahwa perkataan ini juga di ungkapkan oleh Rasulullah.Saw dalam suatu kesempatan).
Dalam konteks ini, dua Sosok terpandang dan mulia di dunia dan di akhirat ini. Dengan tingkat kecerdasaan dan pemikiran yang tidak di ragukan lagi, secara jelas dan nyata menyerukan persatuan dan kesatuan Umat Manusia seluruhnya (tidak terbatasi Agama, Ras, Suku, Bangsa, dll).
Menariknya kata "Muslim" itu bukan sekedar penyematan terhadap orang-orang yang beragama Islam. Tetapi lebih jauh dari itu, "Muslim" bermakna sebuah Identitas dan Realitas dari seorang manusia yang di liputi oleh Keselamatan (Silm) dan juga menebarkan Keselamatan.
Salaam Penuh Maaf dan Doa...~~
Foto dari Ahmad Helmi Ali Reza
Tidak ada komentar:
Posting Komentar