Nampaknya karat itu seringkali salah tempat, bukan hati yang di tambat tapi akal yang akhirnya di sumbat. Bahaya timbul seiring laju pemikiran yang tertahan. Sinisme, diskriminasi, intimidasi dan juga pembatasan terhadap ilmu pengetahuan yang di kaji. Dengan tuduhan penuh doktrin, tanpa asas pembuktian dan pembelaan bagi si tertuduh. Jangankan fakta nyata atas pembelaan, sekecil apapun tertolak hingga hanya sebuah perkataan. Kenyataan negeri yang katanya demokrasi, sejak Pendiri Negeri ini di habisi dengan berbagai alibi. Kala itu tiap pembelaan atas tuduhan pun terhimpit, tak diberi jalan dan terus di jepit. Doktrin dari segerombol manusia yang punya kepentingan, mencari pembenaran terhadap sbuah pertengkaran dan pelanggaran. Yang di tuduh gak sepenuhnya jadi korban, karena nyatanya pada muda-mudi itu aku merasa kasihan. Pundak-pundak yang lugu, dengan warna-warni jas mereka yang di pakai slalu. Tradisi itu berlanjut, hingga berlarut, membuat makin semrawut, meski jiwa-jiwa pemberani tertuduh mulai tumbuh dari balik kabut dan tumbuh dari rumput.
Pemuda dalam Bingkai Dunia adalah ujung tombak perubahan dan pergerakkan. Bukan dengan membanggakan status aktivis, akademis dan borjuis, tapi lebih menerapkan prinsip Sosialis yang berjuang mencapai cita-cita Revolusionis.
Minggu, 03 Januari 2016
Karat [2]
Saya seorang pelajar Sejarah peradaban, meski tidak menjadi seorang Mahasiswa di Fakultas. Saya pernah beberapa kali di anggap sebagai seorang Sarjana karena luasnya Pengetahuan dan Kecerdasan saya dalam berdialog.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar